Hallo minna-san~!
Ketemu lagi dengan saya, Haruna Yumesaki aka Ran! Wah, Januari kemarin saya baru apdet, ya? Telat banget memang.
Readers tercintah(?), maafkan author yang terkadang malas dan terkena writer block ini (T^T) Kali ini saya apdet kok, sampai tamat deh! :v
Oke, saya ngomongnya nanti aja dibawah.
Selamat menikmati~
Coldest
By: Haruna Yumesaki
Warning: OOC, gaje, typo, EYD tidak benar, humor garing, bisa menyebabkan anda menjadi bosan dan sakit perut yang tidak berkelanjutan (?)
Rating: T
Pairing: GaaHinaSasu (On Progress Counting The Voting)
Disclaimer: Bukan punya saya, ini milik Om Masashi Kishimoto.
p.s: Untuk para readers, terus simak author note dibawah ya! Dan sampai chapter depan, voting masih terus berlanjut. Jadi voting terus yaa! *tebar kisu*
Enjoy~
Di dalam kediaman Hyuuga, tepatnya di ruang tamu yang luas itu, terdapat dua Hyuuga duduk di seberang seorang Sabaku, Uchiha dan Uzumaki. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7.15, itu artinya ketiga pemuda ini sudah terlambat dan sudah terkurung di ruangan ini selama 30 menit. Tamatlah riwayat Gaara, Sasuke dan Naruto!
"P-paman, sepertinya saya harus permisi, aku 'kan niatannya pergi ke sekolah, bukan untuk ngerumpi—" Naruto mencoba untuk ke dua puluh lima kalinya untuk pamit.
"Tutup mulutmu." Balas salah satu bodyguard yang ada di sana.
"Aku juga harus ke sekolah, Paman. Nanti kalau ketinggalan pelajaran, bagaimana?" Sasuke ikut meminta pamit, setelah tiga belas kali diberi death glare oleh Neji.
"Aku ingin segera menyelesaikan ini agar bisa pergi ke sekolah." Untuk pertama kalinya Gaara membuka mulut, dengan datar seperti biasa. Setelah apa yang terjadi (re: Gaara ngakak), Gaara merasa ia harus menguatkan imannya agar ia bisa tetap kelihatan seperti panda emo yang ia dambakan.
Hiashi menghela nafas. Tiga anak berandal ini memang nggak tahu kapan harus berhenti. Berhenti ngomong, berhenti memperebutkan anaknya (untuk Gaara dan Sasuke) dan berhenti bernafas—loh?
"Kalian ini benar-benar berniat untuk pergi ke sekolah?" Tanya Hiashi.
Ketiga orang berbeda warna rambut itu mengangguk dengan mantap. Walaupun sebenarnya mereka enggan, sih. Karena hari ini adalah jadwal Orochimaru-sensei piket—duh!
"Untuk apa kalian ke sekolah? Kalian sering membolos, 'kan?" kali ini Neji yang ikut bertanya.
"Buat belajar." Sasuke menjawab dengan tenang, walaupun sebenarnya ia ingin sekali ngacir.
"Takut ketinggalan pelajaran." Kali ini Gaara menjawab.
"Em," Keringat mengucur dari dahi Naruto. "Aku… Aku juga begitu, Paman."
'Keliatan banget, 'kan, si dobe nggak kepikiran alesan yang logis dan bagus.'
Hiashi terdiam sejenak. Setelah mempertimbangkan keputusan yang tepat, akhirnya Hiashi menyuarakannya.
"Baiklah. Kalian boleh pergi ke sekolah, tetapi setelah pulang sekolah kalian harus kembali kesini. Urusan kalian denganku belum selesai."
'YES!' dalam hati berteriak dengan girang. Walaupun harus jadi santapan Orochimaru, sih…
"Kecuali kau, Naruto." Hiashi menambahi. "Cukup dua orang saja yang membuat masalah, tidak usah banyak-banyak."
"Roger, disana ada gak?"
"Nggak. Di dekat ruangan seni ada gak?"
"Gak, disini clear!"
"Woke! Gue otw!"
Penasaran kenapa mereka meng-clear jalan yang biasa mereka lewati untuk ke kelas? Tentu saja karena Orochimaru sering mondar mandir cari mangsa. Contohnya, kalau ada murid yang lagi berkeliaran sana-sini, murid yang lagi di kantin, murid yang telat, dan lain-lain. Dengan catatan, murid itu harus COWOK. HARUS IKEMEN pula. Semua orang tahu kalau Orochimaru ini freak nomor 1 di Konoha High School. Dan kali ini Naruto, Gaara dan Sasuke sedang melakukan Plan A yang mereka susun di tengah jalan—eh, tengah perjalanan mereka maksudnya. /plak/
Naruto yang berada di sebelah timur member tanda kalau jalan sudah bebas dari si lekong aka Orochimaru. Kini Sasuke dan Gaara berlari dengan terburu-buru sambil berusaha untuk tidak membuat langkah kaki mereka terdengar—gimana caranya?
Kemudian, Sasuke yang beraksi. Di lab Biologi tidak ada, di lab Bahasa pun tidak ada. Jalan sudah clear lagi!
"Clear, cepetan jalan."
Gaara dan Naruto mengikuti komando Sasuke.
Tinggal melewati lab Kimia, Perpustakaan, WC dan Koperasi, mereka akan sampai di kelas! Itu artinya, tinggal menempuh kira-kira 300 meter lagi!
"Beruntung banget kita." Naruto menggumam.
"Ahh. Dewi Fortuna lagi di pihak kita, bro." Naruto kembali bersuara.
"Hn. Jangan ngomong terus, ntar ketauan." Sasuke dengan malas harus memperingati si pirang agar tidak berbicara.
"Dewi Fortuna memang lagi di pihak eike, cyin~!"
…
...
...
Apa mereka tidak salah dengar? Apa yang mereka dengar itu sungguhan? Ini real? Ah, ini pasti hoax, kan? PASTI ADA YANG JAILIN MEREKA, 'KAN? /ditabok/
"Saskey-kyun, Naru-kyun, Gaa-kyun~ Oro-chan udah cari-cariin dari tadi~ Ternyata kalian disini, pasti terlambat ya, para muridku tercintah~?"
"…Satu,"
"Dua…"
"—TIGA. RUN FOR YOUR LIFE!"
Dengan kecepatan cahaya, ketiga pemuda yang berusaha menyelamatkan nyawanya itu berlari; mencoba menghindari Orochimaru si pemangsa murid ikemen. Jarak 300 meter yang lumayan itu kini bisa ditempuh oleh tiga pemuda berbakat ini, hanya dengan satu menit. Mereka seperti punya insting untuk berlari cepat saat dikejar oleh musuh.
Karena musuh mereka ini sedang mengejar mangsanya dengan kecepatan yang hampir sama, tetapi Orochimaru harus merelakan sang mangsa lari lebih cepat karena Orochimaru berlari sambil dandan. (MANA BISA)
"Muridku, cintakuh, sayangkuh~! Tungguin dong, ih~"
Gubrak!
Gedebug!
Brak!
Suara ricuh dari luar kelas itu sontak mengejutkan seisi kelas XI-A itu, dan juga dengan Kakashi-sensei yang hampir ketiduran saat itu.
"Suara apaan tuh?!"
"TAWURAN TAWURAN!"
"ITU SUARA SEMANGAT MASA MUDA, YEY~"
"Ya, ya, semua jangan ricuh." Kakashi dengan malas bangkit dari posisi wuenaknya dan membuka pintu.
Betapa mengejutkannya melihat Gaara, Sasuke dan Naruto berdiri di depan pintu dan dengan gerak cepat mereka mencoba untuk masuk ke dalam kelas berdesakkan, alhasil mereka terhimpit di pintu(?).
"Wah, wah… Kukira kalian bolos. Ternyata terlambat." Dengan santainya Kakashi menyapa. "Kalian cepat duduk di tempat kalian masing-masing,"
"S-susah! Teme, mundur sana, badan elo kegedean tauk!"
"Nyadar body, dobe!"
"Berisik!"
Masih dengan kericuhan yang di abaikan oleh Kakashi, tiba-tiba terdengarlah suara cempreng yang kita semua ketahui milik siapa. Suara ini dikatakan bisa membuat para cowok tulen bergidik ngeri.
"SASKEY-KYUN~ NARU-KYUN~ GAA-KYUN~"
Wajah horror dari ketiga pemuda yang terhimpit itu seolah-olah sinyal untuk Kakashi dan para murid. Kakashi terbelalak dan akhirnya ia dengan inisiatif sendiri membantu menarik ketiga muridnya itu dengan bersamaan.
"Ayo, cepat!"
"GO SENSEII!"
Dalam slow motion bisa dilihat kalau Orochimaru-sensei sudah berada tiga meter dari ketiga pemuda tersebut, Kakashi masih berusaha menarik dengan sekuat tenaga dan Gaara dengan susah payah berusaha mengeluarkan dirinya dari kedua pemuda di sampingnya yang menghimpit badannya itu. Akhirnya, Orochimaru semakin dekat.
Gaara berhasil masuk ke kelas dengan selamat!
Begitupun dengan Sasuke dan Naruto. Orochimaru sudah satu meter dari pintu kelas, dan Kakashi segera menutup pintu.
Hening untuk sejenak.
"…Jangan terlambat lagi ya, Saskey-kyun, Naru-kyun dan Gaa-kyun~ Nanti akan aku bonusi kecupan manis~ Kakashi-kyun juga dapet kok~ Muach!"
"B-baiklah, kalian cepat duduk…" Kakashi yang masih was-was itu berjalan kembali ke depan kelas dan mencoba menyembunyikan kepanikannya.
Sasuke, Naruto dan Gaara pun duduk. Hinata yang duduk di bangku kedua terlihat sedang menundukkan kepalanya dan mengheningkan cipta—eh, maksudnya menggumamkan kata maaf.
"Sasuke, Naruto, Gaara. Jangan pernah sekalipun terlambat lagi. Jangan pernah."
Dengan begitu, pelajaran pun dimulai.
Setelah bel pulang terdengar, Hinata terlihat sedang membereskan meja dan memasukkan bukunya ke dalam tas. Teringat Sasuke, Naruto dan Gaara terlambat gara-gara dirinya membuatnya jadi sangat menyesal dan uneasy. Hinata beranjak dan ia menghampiri ketiga orang tadi.
"A-ano, Sasuke-kun, Naruto-kun, Gaara-kun.. G-gomenasai!" Hinata membungkukkan badannya dalam-dalam. Sedangkan tiga pemuda tersebut hanya bisa bengong melihat Hinata yang membungkuk seperti itu. Gak pegel tuh?
"Ah, Hinata! Jangan seperti itu, dong! Aku jadi nggak enak, nih." Naruto menggaruk belakang kepalanya sambil nyengir lebar.
"Hinata, berdirilah dengan tegak." Gaara bersuara. "Bukan salahmu kami terlambat."
"Hn. Tidak perlu membungkuk seperti itu, aku bukan presiden."
Mendengar respon dari para pemuda ketje tersebut, Hinata dengan ragu kembali berdiri dengan tegak. "Um… I-itu tetap salahku.."
'Ya ampun, ini anaknya Paman Hiashi kok imut banget, sih? Pengen gue nikahin, astaga!' batin Sasuke.
Sasuke terbatuk. "Ekhem. Tidak, itu bukan salahmu."
"Ya, benar! Bukan salahmu, Hinata. Jadi tenang saja, oke? Oh, ya. Hari ini aku akan langsung ke ramen Ichiraku. Kalian mau ikut?" ajak Naruto.
"Ogah, dobe."
"OH IYA. Kalian kan masih ada urusan, ya. Saran dari gue sih, kalian jangan keliatan kayak orang gak guna! Pokoknya elo berdua harus keliatan kayak orang sukses, yang punya masa depan!" Naruto berbisik pada si rambut merah dan si raven. Kemudian ia melambaikan tangan dan berjalan pergi.
"Hinata. Sekarang kamu pulang bareng aku aja, ya? Kebetulan aku juga mau mampir ke rumah kamu, nih." Sasuke meluncurkan jurusnya.
"Eh? Sasuke-kun mau mampir?" Hinata memiringkan kepalanya. "Um…"
"Aku juga mau mampir. Kita pulang sama-sama aja." Timbal Gaara.
Hinata mengangukkan kepalanya dan berjalan keluar, diikuti dengan Gaara dan Sasuke yang kerap men-deathglare satu sama lain. Di koridor, Gaara Lovers dan Sasuke Holic (?) sudah berkumpul untuk melihat sang pujaan hati lewat. Beberapa dari mereka tidak menyukai Hinata yang berjalan di depan Gaara dan Sasuke yang berusaha untuk berjalan di samping Hinata.
Apa susahnya Gaara jalan di sebelah kanan Hinata dan Sasuke di sebelah kirinya?
Hanya dengan lewat dan memperlihatkan batang hidungnya, kedua pemuda ini sudah mendapat sambutan meriah dari para fans sejati itu.
Hinata sendiri malah menjadi risih karena banyak pasang mata yang menatapnya dengan tidak suka.
Sesampainya di kediaman Hyuuga, Gaara dan Sasuke kali ini dibawa ke ruang kerja Neji. Hinata sendiri diperintahkan untuk tetap diam di kamarnya tanpa mengintip ujian yang akan dihadapi Gaara dan Sasuke. Dan jika mereka sudah selesai, barulah Hinata boleh keluar.
Ujian pertama yang diberikan Neji adalah ujian mata pelajaran seperti matematika, sejarah, biologi, kimia dan lain-lain. Yang seperti itu, sih, sudah pasti mudah. Apalagi mereka berdua otaknya encer, benar? Benar. Kalau author yang dikasih soal kayak gitu, author udah mati duluan.
"Kenapa kalian ngebet banget pengen sama Hinata?" Tanya Neji penasaran. Sebenarnya, nggak diragukan kalau banyak orang yang kecantol dengan Hinata. Wajar, Hinata kan cantik, anggun, imut pula. Neji pun pernah kesemsem dengan Hinata kecil yang imutnya melebihi batas normal itu.
"Hinata itu beda dari yang lain. Dia pantas dikejar." Sasuke menjawab dengan gaya cool-nya yang tak pernah pudar.
"Menurutku Hinata adalah wanita tercantik selain Ibuku, dan kau tahu aku ini sudah kenal dengannya cukup lama." Alasan Gaara selalu sama, dan Neji sudah mengetahuinya tanpa harus bertanya pada si rambut merah.
"Jadi kau hanya menyukai kecantikannya saja?"
"Nggak juga. Aku suka dia apa adanya, menurutku dia itu cantik luar dalam."
'Anjrit, kok alesannya bisa bagus gitu? Gue harus lebih sering nonton tv dan sinetron kayaknya.' Sasuke menggerutu dalam hati.
"Dan kau hanya ingin mengejarnya saja, Sasuke?"
"Aku ingin mendapatkannya."
"Hinata bukan hadiah yang bisa di dapetin dari kupon atau kuis." Gaara mengomentari tanpa melirik ke arah si pantat ayam.
"Tch, berisik panda."
"Kalau kalian mau debat, lakukan setelah kalian selesai." Neji menghela nafas dan berjalan keluar. "Ikut aku."
Uchiha dan Sabaku dibawa ke ruangan Hiashi. Disana, Hiashi sudah menunggu. Neji duduk di belakang Paman Hiashi, menghadap Gaara dan Sasuke yang kelihatan gugup itu.
"Ujian pertama sudah dilakukan?"
"Sudah."
"Baiklah."
Suasana di ruangan tersebut semakin menegangkan dan canggung. Baru pertama kali ini, Gaara dan Sasuke merasa sangat gugup dan takut. Rasanya menghirup oksigen saja sudah salah. Tatapan intens yang diberikan Hiashi pada kedua pemuda itu malah membuat mereka semakin tegang.
"Sasuke, beritahu aku rencanamu untuk kedepannya setelah lulus."
Sasuke menelan ludah. "Setelah lulus aku akan melanjutkan kuliah ke Amerika, tepatnya di Harvard. Dan setelahnya, aku akan menggantikan posisi Itachi-nii di perusahaan Otou-san. Aku yakin aku bisa menjadi ketua klan yang akan diakui kehebatannya suatu saat nanti."
Mendengar rencana Sasuke, Hiashi terlihat sedikit lega. Sepertinya anak dari Fugaku ini tidak main-main dengan keinginannya. Fugaku sendiri pernah memberitahu Hiashi kalau Sasuke akan mengikuti jejak kakaknya untuk berkuliah di Harvard.
"Kau yakin dengan itu, Sasuke? Menggantikan posisi Itachi memang mudah, bagaimana dengan melakukan pekerjaannya?"
"Aku akan melakukan yang terbaik, aku di didik untuk menjadi seorang pemimpin, Paman. Aku sangat yakin dengan kemampuanku."
Wah. Sasuke hebat juga, nih. Kelihatannya kegugupannya hilang berkat percaya dirinya.
"Bagaimana denganmu, Gaara?"
Wajah tanpa ekspresi Gaara menarik perhatian Hiashi. Hiashi tahu betul kalau Gaara memang dekat dengan Hinata, iapun sudah mengetahui Gaara akan menjadi penerus Ayahnya. Tetapi tetap saja, Hiashi ingin mendengarnya langsung dari sang pemuda yang dimaksud.
"Aku akan kuliah di Inggris, Oxford lebih tepatnya." Gaara memulai. "Dan aku akan menggantikan posisi Otou-san, karena Temari-nee tidak menginginkan pekerjaan itu, maka aku yang akan menjadi penerusnya."
Tidak banyak yang dikatakan Gaara, hanya garis besarnya saja. Hiashi terdiam sejenak. Kedua anak ini memang berpotensi, tetapi, yang mana yang lebih pantas untuk Hinata?
"Sasuke, Gaara."
Hiashi sudah membuat keputusan ini. Tidak bisa di undo, deh. Pokoknya fix.
"Aku izinkan kalian untuk mendekati putriku. Tetapi hanya salah satu dari kalian yang akan aku izinkan untuk meminang putriku."
Ya. Pertarungan mereka baru saja dimulai, kawan-kawan.
Tsuzuku.
Holaa~ Reader-tachi, gomen, kurang humornya, nih. Kali ini mereka harus serius menghadapi Paman Hiashi. Kalau nggak, ntar nggak akan ada yang kepilih, dong? /plak/
Oh ya. Hasil voting:
GaaHina (13)
SasuHina (9)
Wah, GaaHina memimpin, nih~! Ayo terus di vote, ya, minna! Walaupun saya tahu kalau saya ini lelet banget apdetnya—hiks. Gomen! Saya baru aja masuk ke SMA, jadi sekarang ini adalah masa-masa yang sulit untuk saya. /curhat
Oke, saya nggak mau banyak curhat—saya mau bales review saja, sebagian disini dan sebagian lagi di PM-kan oleh saya.
Sasuke: "Hn, kalo lagi stress nggak usah nulis nih fanfic. Makin gak jelas aja."
Gaara: "GaaHina memimpin. Terus voting kami ya." *angkat gambar GaaHina*
Sasuke: "GUE GAK TERIMA! Kenapa cuma 9!? ITU HARUSNYA 19 KAN!?"
Haruna: "Urusai ne~ Tiap review berisikan vote, ya dihitung satu dong!"
Gaara: "Terima kekalahanmu untuk sekarang dan nanti, Sasuke,"
Haruna: "Yap, untuk anggajulian35, terimakasih~! Huhuhu, ingin apdet cepat tapi si authornya sibuk, nih! Gomen!"
Sasuke: "Fuyumi3, ITU KEHITUNG 21! Si author nggak sampai segitu ngitungnya! Ayok kita demo!"
Haruna: "Name NM, terimakasih sudah vote! Kita lihat saja endingnya Hina-chan sama siapa, okay~"
Gaara: "shinji.R ini sudah apdet kilat, kan?"
Haruna: "Misseleus Femyni, gomen, chap kedepannya nanti Hina-chan dibanyakin kok! Tenang aja."
Sasuke: "Mbah…. Gue gak mau bales review ini,"
Haruna: "KENAPAAA?"
Sasuke: "Namanya mengingatkanku pada—you know who."
Haruna: "*glare* Huh. Mbah orochi-nyan. *gulp* Oke, ini apdet kilat ya~ vote sudah dihitung kok!"
Sasuke: "VOTE TERUS SASUHINA!"
Gaara: "cecanv, hm… memilih keduanya? Pilih satu, aja, GaaHina, oke?"
Haruna: "Okay! Pokoknya ini udah apdet kilat ya! *dikeroyok* Oh ya, apa segitu sudah cukup panjang?"
Gaara: "Si author suka bingung sama plotnya, makanya fanficnya pendek terus."
Sasuke: "Kalo ada yang punya ide, langsung aja bilang ke si author lewat review atau PM. Biar bisa dicerna sama author."
Haruna: "BENAR! Pokoknya terimakasih banyak untuk baca, review, vote, mengkritik dan lain-lain! Sangat berterimakasih! *bow*"
Gaara: "Vote GaaHina!"
Sasuke: "Vote SasuHina!"
Doumo arigatou, reader-tachi!
Silahkan terus vote ya! Dan sekali lagi, karena saya sering kena writer-block, kalau reader-tachi punya ide bisa langsung kasih tau saya kok! Lewat review, PM, atau lewat twitter ( choxopie) dan lain-lain bisa~
Btw, saya sendiri bingung lho mau buat ini fic jadi GaaHina atau SasuHina XD /plak/
Reader-tachi, Coldest updated. Please do review and vote!
Thank you for reading!
Haruna Yumesaki.
