"Kau mengerti kalau Vongola Nonno sedang marah bukan?"

Seseorang tampak berbicara dengan beberapa orang lainnya yang berada di kokpit pesawat belakang. Semua yang ada disana mengangguk bersamaan dan yang berbicara pertama tampak terdiam sebelum seringai terlihat di wajahnya.

"Apapun yang terjadi—kita harus melaksanakan rencana yang sudah kupersiapkan," orang itu, Reborn tampak menaikkan topinya sedikit sambil menatap semua orang disana—para Guardian Vongola, Dino, dan juga Mochida serta Kyoko dan Haru selain Tsuna, "—ini juga untuk kebaikan mereka, sebelum Nonno turun tangan untuk ini."

"Tetapi bagaimana jika Juudaime marah?"

"Maka kita harus mengatakannya jika Nonno sangat marah dengan kelakuan semua 'teman'nya di sekolah."

.

Class Trip Vongola Style

Genre : Friendship/Family

Pairing : 6927, D18, 8059, XS, B26, dkk dsb dll

Warning : Shounen Ai, Typo, Gaje, OOC, Good!Mochida, dkk

Disclaimed : KHR © Amano Akira

.

Chapter 2, First Night at Vongola Manse

.

"Mm…" Tsuna tampak membuka mata, mengerjap sambil melihat sekeliling. Ia tertidur karena beberapa laporan yang harus ia selesaikan sebelum pergi ke study tour ini. Menyadari ia menyandar pada sesuatu yang empuk dan nyaman, ia menoleh untuk mencari tahu apa yang ia sandarkan itu.

"Oya, kau sudah bangun Tsunayoshi~?"

"M—Mukuro?" Tsuna tampak menjauh saat menyadari kalau ia bersandar pada bahu Mukuro. Mukuro sendiri tampaknya tidak sama sekali keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Tsuna—bahkan tampak terlihat menikmati, "—maaf sepertinya aku tertidur."

"Sama sekali tidak masalah, bayi itu mengatakan kau bisa tidur karena setelah sampai di Italia—kau akan mengerjakan beberapa laporan," Tsuna tampak sweatdrop dan menatap Mukuro yang tampak mengatakan itu dengan wajah tidak bersalah, "tenang saja—jika malam kau mengantuk. Aku bisa membuatmu bangun lagi~"

"Ti—tidak perlu!" Tsuna tampak meninggikan suaranya sambil berbisik. Wajahnya memerah karena tahu apa yang dimaksud oleh Mukuro, "apakah kita masih lama sampai?"

"Tidak, mungkin hanya 1-2 jam lagi dan kita akan mendarat," jawab Mukuro menggelengkan kepalanya. Baru saja akan menanyakan yang lainnya saat seorang pramugari menghampiri dan tersenyum ramah padanya.

"Primo, Mukuro-sama, apakah anda ingin makan atau minum sesuatu?"

"Aku ingin juice saja," Tsuna tampak memesan sesuatu dan Mukuro hanya menggeleng saja. Sang pramugari segera menyiapkan pesanan yang kemudian diberikan pada Tsuna, "—terima kasih, kalian sudah bekerja sangat keras!"

Dan senyuman itu cukup untuk membuat sang pramugari tersipu dengan wajah memerah. Namun segera berhenti menatap sang boss dengan tatapan 'buas' saat melihat aura membunuh yang keluar dari sang Mist Guardian.

"Are?" Sementara Tsuna yang tidak tahu menahu hanya tersenyum bingung saat sang pramugari membungkuk cepat dan segera meninggalkan tempat itu.

"Tsunayoshi—seharusnya kau tidak dengan mudah tersenyum seperti itu pada orang lain," Tsuna menoleh pada Mukuro yang tampak terlihat kesal karena hal yang tidak ia mengerti.

"Tersenyum seperti apa?"

"Senyuman yang bisa membuat seseorang merebutmu dariku tentu saja," Mukuro tampak tertawa dan menatap kearah Tsuna yang terdiam sebelum akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Mukuro.

"A—aku tidak melakukannya dengan sengaja!"

"Aku tahu itu, itulah sebabnya aku menyukaimu—" Mukuro tersenyum dan menepuk kepala Tsuna yang wajahnya sudah memerah dan hanya menunduk kesal.

"—aku penasaran sedang apa Hayato dan Takeshi serta Kyouya dan yang lainnya…"

"Kufufu~ melakukan pekerjaan mereka tentu saja," dan Mukuro merebahkan dirinya di pangkuan Tsuna, "dan sekarang, biarkan aku tidur hingga sampai di Italia. Aku masih mengalami jetlag saat sampai di Jepang dari Alaska."

"Te—tetapi bagaimana kalau ada orang yang melihat?"

"Biarkan saja, ayolah—kau sudah tidur dengan nyaman di bahuku bukan? Sekarang giliranku," Mukuro tersenyum lebar dan Tsuna hanya bisa diam sebelum mengangguk.

.

Hibari Kyouya, seorang Cloud Guardian yang selalu sendirian dan tidak bergantung pada orang lain. Menghadapi beberapa tumpukan laporan yang ada di depannya. Tsuna memang selalu bisa membungkamnya dan menyuruhnya untuk mengerjakan laporan dari kerusakan yang ia perbuat—jika ia dalam mode 'f*ck-you-I'm-your-boss'nya.

Tentu ini tidak berlaku hanya padanya, tetapi pada Gokudera Hayato, Rokudo Mukuro, dan juga yang lainnya.

"Kyouya," suara itu tidak membuatnya berpaling dari laporan itu. Lagipula ia tahu benar siapa pemilik suara itu meskipun tidak menoleh padanya. Namun, yang membuatnya terganggu setelahnya adalah saat pemuda itu merebahkan dirinya di pangkuan pemuda itu.

Dan sebuah tonfa melayang telak mengenai wajah pria itu.

"OW, untuk apa itu Kyouya!"

"Untuk mengganggu pekerjaanku Ahouma," Hibari kembali menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa sparring bersama dengan Tsuna yang menggunakan HDWMnya. Saat ia melirik kearah Dino Cavallone, matanya membulat. Transformasi Dino dari guru bule biasa berkacamata menjadi boss mafia tampaknya cukup jauh berbeda.

"Hm, ada apa Kyouya?"

"…tidak," dan ia segera memalingkan wajahnya, dan—oh, apakah itu semburat merah yang terlihat di wajah datar pemuda itu?

"Kenapa kau mengganti penampilanmu…"

"Oh, karena aku tidak mungkin menunjukkan penampilanku yang di Jepang saat sampai di Italia bukan? Reborn akan membunuhku, dan Tsuna juga akan memakai pakaian bossnya," Dino tampak membenahi kerah pakaian dan juga kancing lengan pakaiannya.

"Hn…"

"Kyouya, kau juga harus bersiap—" Dino memperhatikan dengan seksama wajah pemuda itu saat baru menyadari semburat merah yang ada di pipinya. Mulutnya yang sedang berbicara berhenti bergerak dan ia hanya diam sebelum mendekatkan wajahnya.

"Ada apa Hane—"

CUP!

Dan sebelum Hibari menyelesaikan perkataannya, sebuah kecupan ringan di bibir diberikan oleh Dino. Tentu untuk menjaga privasi, ia menutupinya dengan sebuah buku panduan yang ia ambil dari depannya. Meskipun sebenarnya, posisi mereka yang berada di belakang sekali sudah cukup untuk membuat semua orang tidak melihat terutama karena yang ada disana adalah—Hibari Kyouya.

"AH!" Dino yang sepertinya kehilangan akal tadi tampak menutup mulutnya, "—Kyo—"

DHUAK!

Dan sebuah guncangan yang keras membangunkan siswa siswi yang tertidur dan membuat semua orang berteriak ketakutan karena membuat pesawat berguncang sangat keras. Tentu tidak perlu diberitahu bukan siapa yang melakukan itu—saat Dino yang sudah tergeletak tak berdaya, dan salah satu bodi pesawat yang tampak sedikit bengkok.

[ "Perhatian, ini pilot pesawat berbicara. Para penumpang diharapkan untuk tidak panik dengan guncangan yang terjadi. Badan pesawat dirancang oleh para teknisi handal dari Vongola yang membuat badan pesawat ini tidak akan hancur bahkan oleh bom sekalipun. Keadaan sudah terkendali, dan maafkan atas kelancangan saya—tetapi, saya harap Hibari Kyouya-sama tidak mengulangi hal ini lagi. Terima kasih atas perhatiannya." ]

Beberapa siswi yang tidak tahu guncangan itu terjadi karena apa tampak memucat mendengar nama Hibari Kyouya disebut.

"A-pa yang kau lakukan…" Hibari menatap Dino dengan tatapan membunuh level baru yang membuat sang pria didepannya bergidik ngeri. Sepertinya hilangnya akal seorang Dino Cavallone membuat hidupnya berkurang 100 tahun lamanya.

"Ma—maaf Kyouya, aku tidak sadar melakukan itu! Wa—wajahmu sangat manis saat tersipu jadi aku tanpa sadar ingin menciummu!" Dino mengibaskan tangannya dan mencoba untuk menenangkan Hibari, "aku janji itu tidak akan terjadi lagi!"

"Kau tidak akan bisa melakukan itu padaku walaupun kau berjanji," Hibari masih menatap Dino dengan tajam, "—menjauh dariku 10 meter atau lebih, atau kau akan mati."

Ah malangnya Dino, yang hanya bisa mengangguk sambil menangisi dirinya sendiri.

.

"Wow, guncangan yang sangat hebat!"

Yamamoto tampak kaget dan menatap kearah dimana Hibari berada. Menemukan Dino yang sudah berpindah tempat duduk, dan tampak memojok dengan aura yang aneh. Sementara Gokudera yang (terpaksa) duduk di sampingnya tampak tidak perduli dan hanya menatap pada kursi Tsuna.

"Che, aku tidak perduli dengan itu yakyuu-bakka! Aku ingin mengusir kepala nanas itu dan duduk di samping boss!"

"Eeeeh! Sebaiknya kau tidak mengganggu mereka Hayato, sangat jarang mereka berdua mendapatkan waktu bersama bukan?" Tentu walaupun Tsuna dan Mukuro mengatakan hubungan mereka adalah rahasia, itu adalah rahasia umum untuk semua orang yang mengenal mereka berdua, "—bukankah kau sebaiknya kita menikmati waktu kita berdua juga Hayato?"

"Jangan bercanda, aku ini terpaksa duduk di sebelahmu tahu!"

"Tetapi bukankah kau bisa mencari tempat duduk lainnya? Atau kau bisa mengusirku saat ini dan aku duduk di kursi lainnya," dan Gokudera terdiam tidak menatap kearah Yamamoto dan hanya membelakanginya. Namun saat Yamamoto melihat telinga Gokudera, ia menyadari jika warna telinga Gokudera tampak sangat memerah.

"Te—tetapi aku tidak mengatakan kalau aku tidak suka duduk disini atau kau duduk disini bukan?!"

...

"Hei Hayato," Gokudera masih tidak menatap Yamamoto dan hanya menunduk saja. Tidak ada kelanjutan perkataan darinya, namun membuat Gokudera melirik dari sudut bahunya, dan menemukan Yamamoto yang tampak menutup mulutnya dengan wajah yang sama merahnya.

"Ja—jangan mengatakan hal yang manis seperti itu tiba-tiba, kau bisa membuatku serangan jantung...!"

"Wha—aku tidak mengatakan hal yang manis!"

"Ya, bagaimana kau bisa se-Tsundere itu, kau tahu kalau itu membuatku ingin menyerangmu saat ini juga bukan?!"

Tentu percakapan itu mereka lakukan dengan nada berbisik. Dan beruntung sepertinya semua murid di barisan sedikit depan tampaknya kebanyakan tertidur dan hanya ada beberapa pramugari dan maid yang mengecek keadaan.

"Menye—yakyuu-bakka!" Dan sebuah dinamit sudah berada di sela tangan Gokudera yang siap untuk diledakkan—tidak perduli dengan sekitar (toh pesawat ini tidak akan hancur hanya karena dinamit ini). Beberapa pramugari yang lewat tampak panik saat melihat dinamit itu dan mencoba mengamankan diri dan sebagian mencoba untuk menghentikan Gokudera.

Namun sebelum mereka melakukan itu, Yamamoto segera menarik Gokudera dan membungkam gerakan serta mulutnya dalam dekapan dan juga ciuman yang membuat beberapa pramugari (yang ternyata adalah fujoshi terselubung) menahan teriakannya.

Oh, dan apakah yang dilihat disana benar? Haru dan Kyoko yang tampak memotret kejadian itu, dan Chrome yang tampak merekamnya, meninggalkan Enma yang sweatdrop dibuatnya.

Dasar Fujoshi.

"Ya—YAKYUU BAKKA!"

DHUAR!

Dan sebuah dinamit meledak—meskipun itu hanyalah dinamit yang mengeluarkan asap (Tsuna melarang Gokudera untuk membawa dinamit sungguhan saat berada di dalam pesawat) dan juga suara yang sangat keras.

[ "Perhatian, disini pilot pesawat kembali berbicara. Guncangan yang tadi terjadi tidak membahayakan. Dimohon untuk semua penumpang tidak panik dan tetap duduk di kursi anda masing-masing. Dan maaf atas kelancangan saya Gokudera-sama, saya mohon untuk tidak meledakkan dinamit disini, karena ini adalah penerbangan bebas asap. Terima kasih." ]

Dan ini resmi menjadi perjalanan yang 'tidak akan pernah dilupakan' oleh murid-murid itu.

.

.

[ "Kita sudah tiba di tujuan akhir kita—akan ada jemputan dari Vongola yang akan mengantarkan anda sekalian sampai di Mansion. Kuharap perjalanan anda menyenangkan, dan sampai jumpa 2 minggu dari sekarang." ]

Dan itu adalah pengumuman yang terdengar saat pesawat dengan segera mendarat dan pintu diluar terbuka. Semua siswa dan siswi dengan tidak sabar tampak akan turun dari pesawat itu—begitu juga dengan Tsuna dan juga Mukuro serta yang lainnya.

"Apa yang kau lakukan dame-Tsuna—" tendangan dari balita coretmaniscoret sadis itu tampak menjadi pembuka Tsuna berada di Italia. Memegangi pipinya yang tampak memerah, ia menatap Reborn yang ada di depannya.

"Harusnya aku yang mengatakan itu—apa yang kau kenakan itu? Aku sudah menyiapkan pakaianmu di bawah kursi," Tsuna tampak menatap apa yang ada di bawah kursi. Satu stel jas hitam yang biasa ia kenakan saat berada di markas, dan juga jubah yang mirip seperti yang dikenakan oleh Vongola Primo.

"HIEEE! Tetapi aku tidak mungkin memakai ini didepan teman-temanku!"

"Pakai, atau aku akan memaksamu," Reborn tampak mengacungkan pistol kearah Tsuna yang tampak bergidik ngeri. Tidak mau mencari masalah lagi karena beberapa pasang mata yang sudah melotot menunggu Tsuna turun, pada akhirnya ia menghela nafas dan membawa pakaian ganti itu.

"Tsunayoshi, kau ingin kubantu memakainya?"

"Ti—tidak perlu!"

.

Semua siswa sudah berada didepan pesawat, baru saja keluar dari pesawat dan entah kenapa ditahan disana untuk menunggu jemputan yang akan membawa mereka.

"Mochida, kenapa kau pakai pakaian seperti itu?" salah satu geng 'bully' Tsuna tampak menatap Mochida yang memakai kemeja putih dengan rompi hitam. Terlihat terlalu resmi untuk liburan mereka.

"Ah, tidak—hanya ingin memakainya saja," Mochida tampak menggaruk kepala belakangnya. Sangat susah untuk tetap bersikap seperti pembully Tsuna didepan para pengawal dan juga anggota Vongola. Salah perkataan sedikit, dan ia akan benar-benar dilubangi kepalanya oleh mereka.

"Tetapi ngomong-ngomong kemana Dame-Tsuna? Apa lagi-lagi ia terlambat?"

'Paling hanya dipaksa Reborn-san untuk memakai pakaiannya…' Mochida memutar bola matanya dan menatap kearah pesawat dimana Dino tampak turun dan menghampiri mereka semua yang ada disana.

"Kalian sudah siap semua? Kita akan berangkat sebentar lagi—" Dino dengan mode bossnya, sepertinya cukup untuk membuat semua siswa dan siswi terdiam menatapnya. Dino yang tidak mengerti hanya bisa tersenyum kaku, "ada apa?"

"Dino-sensei?"

"Ya?"

"T—tunggu, jadi anda benar-benar Dino-sensei?" Salah satu siswi yang tampaknya masih tidak percaya dengan perubahan itu tampak menanyakannya sekali lagi.

"Tentu saja, ada apa dengan kalian?" Dino mengerutkan dahinya sebelum beberapa orang tampak menghampiri Dino. Beberapa siswi lainnya menyadari kalau salah satu dari mereka sering terlihat bersama dengan sang guru.

"Mereka baru pertama melihat anda seperti ini boss…"

"Oh benar juga apa yang kau katakan Romario!" Dino tampak menepuk tangannya dengan kepalan tangannya yang lain. Senyum ganteng diberikan pada Dino kearah para murid didepannya dengan entah bagaimana—aura blink blink sudah berada disekelilingnya.

"Karena ini adalah daerah teritoriku juga, aku akan memperkenalkan diriku lagi disini," beberapa murid tampak bergumam tidak jelas, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dino, "—kalian mengenalku sebagai Dino, guru dan juga wali kelas kalian. Tetapi disini, sepertinya aku harus mengatakan tentangku yang lainnya."

Dino menggaruk dagunya mendapatkan lemparan batu entah dari siapa—meskipun Dino tahu kalau ada bayi sadis yang melakukan itu.

"Namaku adalah Dino Cavallone, boss kesepuluh dari perusahaan multi talenta Cavallone—senang berkenalan (lagi) dengan kalian," Dino tampak mengedipkan matanya.

"HAAAA?!" semua murid tampak menatap Dino tidak percaya. Guru bule biasa yang sebenarnya sudah mereka tahu cukup misterius, guru yang ceroboh dan punya kura-kura yang beberapa kali terlihat bersama dengannya. Siapa yang mengira kalau dia adalah pemimpin perusahaan terbesar ketiga setelah Vongola dan Millefiore?

'Setelah ini apa? Dame-Tsuna adalah boss dari Vongola?!' oh, pemikiran yang sangat tepat dari semua murid yang ada disana. Ironi adalah saat pemikiran yang menurut mereka mustahil terjadi sebenarnya adalah kenyataan.

Disaat semuanya sedang kaget karena identitas dari Dino, Tsuna tampak turun dari mobil, dan semua anak buah bahkan pilot dan juga pramugari membungkuk padanya. Tentu saja dengan segera Tsuna menyuruh mereka untuk bersikap biasa dan tidak membungkuk padanya sebelum semuanya kembali menoleh sekeliling.

'Seharusnya sambutan Primo-sama lebih daripada ini,' semuanya yang menyambut tampak berfikir sama dan menatap Tsuna yang tersenyum pada mereka sambil bergumam terima kasih. Salah satu dari mereka tampak berjalan ke depan, dan menyambut para murid disana.

"Selamat datang para murid SMA Namimori," semuanya menoleh pada pria berambut pirang pucat yang tampak tersenyum pada mereka, "nama saya adalah Loyd—saya adalah kepala butler Vongola yang akan mengantarkan anda sekalian ke markas pusat dari Vongola."

.

Setelah Tsuna menolak untuk menggunakan Limo dan ikut bersama dengan bus lainnya, bus segera berangkat ke markas Vongola. Semua siswa tampak bersemangat, melihat kesana kemari selama perjalanan bahkan tidak sadar saat memasuki kawasan jalanan pribadi milik Vongola yang berisi beberapa hanggar pesawat pribadi milik kelompok itu.

"Loyd-san, sedaritadi kami tidak melihat pertokoan lagi—apakah memang jalanan ini dikhususkan untuk orang-orang tertentu?"

"Ya, dan sebenarnyapun ini adalah kawasan dari markas Vongola sejak pemeriksaan pertama yang kita lakukan tadi—bisa dikatakan ini adalah 'halaman' dari markas Vongola," semua orang tampak terkagum-kagum mendengar itu selain Tsuna dan juga yang lainnya—yang tentus aja pernah dan sering berada disini.

"Kalau seperti ini, rasanya seperti akan ada hewan buas yang muncul kalau kita berada di hutan kecil itu..."

"Memang kami membiarkan beberapa hewan buas berada di hutan-hutan ini," Loyd tersenyum seolah itu adalah hal yang biasa, "Tutor dari Neo Vongola Primo sering menyuruh muridnya untuk berlatih menggunakan hewan-hewan disini. Kurasa, itu juga berlaku pada Don Cavallone yang ada bersama dengan kita?"

"Ahaha..." Dino hanya tertawa datar mendengar itu. Oke, Reborn memang sering menyuruhnya untuk berlatih melawan hewan-hewan buas yang ada disini. Dan beberapa kali juga ia dibuat tersesat hanya untuk mengetes kemampuannya.

Oh, Tsuna juga merasakannya—jadi ia tidak bisa mengatakan apapun.

'Latihan seperti apa yang dilakukan Dino-sensei?!' dan semua anak tampak bergidik ngeri membayangkan itu.

"Jangan sampai tersesat disini dame-Tsuna, pihak Vongola sudah sangat berbaik hati untuk mengantarkanmu menggunakan Limo!"

"Hahaha, mungkin saja kalau dame-Tsuna tersesat disini ia akan dimakan oleh beruang!"

"Mungkin ia sudah terkencing-kencing dan berlari meminta bantuan kalau ia bertemu dengan beruang."

Dan sebuah tatapan tajam diberikan oleh Loyd mendengar hal itu. Tsuna yang tahu bahwa akan mendapatkan perkataan itu dan semua yang ada di Italia tidak akan mungkin senang dengan hal itu segera menahan tangan Loyd yang sudah akan melemparkan beberapa pisau kearah orang-orang yang mengatainya tadi.

"Primo—"

"Tidak," Tsuna tersenyum—sekali lagi terlalu manis—dan Loyd tampaknya mengerti arti senyuman itu dan segera memasukkan kembali pisau di tangannya, "—terima kasih sudah menahan diri Loyd..."

'Primo-sama benar-benar baik...'

.

"Kita sudah sampai—selamat datang di mansion Vongola," semua anak tampak menganga sambil menatap kearah depan. Sebuah bangunan gaya eropa kuno yang lebih mirip istana itu berdiri megah didepannya, "—ini adalah mansion Vongola yang berdiri sejak 1 abad yang lalu semenjak Vongola Primo membangun kelompok Vongola. Dan hingga saat ini, ini adalah markas dimana boss dan juga keenam guardiannya tinggal bersama beberapa anak buah mereka."

"Maaf, tetapi apa itu Guardian?"

"Bisa dikatakan, Guardian adalah orang-orang kepercayaan dari boss Vongola—seperti seorang manajer yang terbagi menjadi enam bagian. Rain, Storm, Cloud, Thunder, Sun, dan Mist—satu orang pada masing-masing bagian, tetapi untuk Neo Vongola Primo terdapat pengecualian."

"Neo Vongola Primo?" Semua orang menoleh pada Loyd yang mengangguk.

"Saat ini Vongola dipimpin oleh Vongola Nonno atau yang jika di Jepang dinamakan Kyuudaime. Dan seharusnya Vongola diteruskan oleh Vongola Decimo atau Juudaime—namun ada beberapa sistem yang diubah oleh boss baru yang disetujui oleh boss sebelumnya. Dan karena itu, Vongola akan berubah nama menjadi Neo Vongola," semuanya mengangguk-angguk mendengarnya dan terlihat kagum.

"Aku sudah tahu, ibuku bekerja di Vongola Corp sebagai salah satu manajer utamanya," semuanya menoleh pada Osamu yang membanggakan dirinya, "ia mengatakan jika boss Vongola selanjutnya masih sangat muda."

"Begitulah, beliau seusia dengan kalian—" Loyd seolah menekankan dan memberikan petunjuk jika salah satu dari mereka adalah boss selanjutnya perusahaan dan juga kelompok mafia terbesar di dunia, "begitu juga dengan para guardiannya."

"Eeeeeh!"

"Kita akan berjalan dari sini menuju ke tempat kalian—berhati-hatilah jangan sampai tersesat," Loyd membuka pintu belakang menuju ke hutan kecil yang ada di belakang mansion Vongola.

"Kukira kita akan berada di bangunan ini..."

"Tidak, Vongola Nonno sudah menyiapkan tempat khusus untuk kalian," entah kenapa Tsuna merasakan sesuatu yang direncanakan entah oleh siapa. Tamu yang datang tidak pernah diberikan tempat di tempat yang akan ia tuju saat ini—dan tentu ia tahu kemana.

.

"Masih melihat Tsunayoshi dari sana?"

Di tempat lainnya—yang berada diantara nyata dan juga mimpi tampak pemuda berambut kuning yang tersenyum sambil melihat flame berwarna kuning yang keluar dari cincinnya dan merefleksikan gambaran apa yang ada di tempat Tsuna.

Ia tersenyum dan menoleh pada pemuda berambut pi—merah disampingnya yang mengajaknya berbicara.

"Begitulah, karena hari ini Tsunayoshi datang ke mansion Vongola bersama dengan 'teman-teman'nya," pemuda berambut merah—G tampak bergidik ngeri melihat sahabatnya yang tampak terlihat menatap tajam kepada semua murid yang ada disana, "kuharap Sky Arcobaleno dan juga Kawahira sama sekali tidak keberatan untuk membantuku~"

"Kau tahu, terkadang aku merasa kekasihmu itu menularkan sedikit sifatnya padamu. Apakah sex bisa mempengaruhi sifat orang ya? Aku tidak ingin tertular otak bodoh Ugetsu," G yang tampak blak-blakan membuat Giotto—pemuda berambut kuning—itu tersedak ludah sendiri dan menatap wajah G, "apa?"

"Tidak—kenapa kalian berdua benar-benar mirip sih," Giotto menghela nafas dan menatap kembali kearah Tsuna yang ada disana dan tersenyum, "lihat saja, aku akan membiarkan yang lainnya melakukan pekerjaan mereka terlebih dahulu, sebelum aku yang turun tangan sendiri."

Entah bagaimana G seolah mendengar suara nfufufu~ dari Giotto yang membuatnya semakin yakin jika ia harus menghindarkan sang boss dari kekasih sekaligus mist guardiannya itu.

.

Di tempat Tsuna dan juga yang lainnya—semua murid kecuali Mochida, Dino, dan juga Tsuna, guardiannya, Kyoko, Haru, dan juga Hana tampak bergidik seolah merasakan apa yang dilakukan oleh Giotto sementara Tsuna tampak bingung melihat wajah semua 'teman'nya yang tampak memucat.

"Kita sudah sampai," sebuah bangunan seperti sebuah rumah yang cukup luas walaupun tidak bisa dibandingkan dengan markas besar Vongola berdiri didepan mereka, "ini adalah rumah yang khusus dipinjamkan untuk kalian selama berada disini. Ini adalah bangunan baru yang belum tersentuh, jadi mungkin barang-barangnya tidak banyak yang berada disini."

Mulut semua murid menganga melihat bangunan bertingkat tiga yang ada didepan mereka.

"Ada 20 kamar yang bisa digunakan disini, di setiap kamar sudah disiapkan telpon dan juga televisi, dan ada dapur kecil di bagian bawah meskipun kalian juga akan diundang untuk makan pagi, siang, dan malam diluar ataupun di markas utama Vongola. Setiap kamar juga memiliki kamar mandi, jadi kalian tidak perlu susah untuk mencarinya," Loyd membuka pintu rumah itu, "mungkin ini bisa disebut asrama kalian selama disini."

'Ini lebih bagus bahkan dari hotel bintang 4...' semuanya tampak berfikir hal yang sama. Saat semuanya melangkah, mereka melihat kearah sekeliling yang ada disana.

"Sebenarnya ini akan jadi tempat apa?"

"Ini akan menjadi tempat tinggal khusus untuk Vongola Primo dan juga guardiannya serta tamu kehormatannya," Loyd tersenyum, menatap kearah Tsuna yang terkejut karena tidak pernah diberitahu tentang rencana itu, "baiklah, sepertinya saya harus undur diri sebentar—Don Cavallone, jika anda ingin menggunakan kamar anda yang biasa, saya sudah menyiapkannya."

"Tidak perlu, aku akan disini untuk menemani murid-muridku," Dino tersenyum pada Loyd yang tampak membungkuk dan menatap kearah Tsuna.

"Primo, anda memiliki kamar tersendiri begitu juga dengan guardian anda. Apakah ingin saya tunjukkan dan bawakan tas anda?" Tsuna tampak melihat kearah Loyd dan menggeleng dengan cepat.

"Ti—tidak perlu Loyd-san, aku bisa membawanya sendiri. Tetapi apakah kau bisa tidak memisahkanku dengan yang lainnya?"

"Reborn-san mengatakan jika saya melakukan itu tidak akan ada tempat untuk laporan yang harus anda kerjakan," Tsuna ingin membenturkan kepalanya mendengar itu. Dan ia hanya menghela nafas mendengar jawaban dari Loyd, "saya akan mengirimkan salah satu maid untuk mengantarkan anda dan guardian anda ke kamar masing-masing."

"Baiklah, terima kasih Loyd-san," dan senyuman (manis) dari Tsuna sukses membuat wajah Loyd sedikit bersemu sebelum ia tersentak karena melihat Mukuro dibelakangnya sudah siap mengulitinya hidup-hidup jika menatap Tsuna dengan tatapan aneh.

Saat Tsuna menoleh ke belakang setelah Loyd pergi, ia segera sadar kalau semua siswa tampak menatapnya dengan tatapan kaget.

"Hei, kau dengar dame-Tsuna berbicara bahasa Italia dengan lancar."

"Dunia pasti sudah kiamat."

"OI KALIAN INI!" Gokudera tampak mengamuk dan menatap semua orang yang mengejek Tsuna. Sementara Tsuna sendiri tampak panik karena lupa tentang teman-temannya itu.

"A—aku hanya mencoba berbicara, dan Loyd-san mengatakan banyak sekali yang harus kupelajari karena ia tidak mengerti bahasa Italia yang kusebutkan!" Tsuna mencoba untuk mencari alasan, "ti—tidak mungkin kalau aku bisa menggunakan bahasa Italia bukan?"

"Kami akan mengantarkan kalian ke tempat masing-masing," beberapa maid muncul dan tampak mengantarkan satu per satu murid yang ada disana, hingga menyisakan Tsuna dan guardiannya."

"Primo," Tsuna menoleh pada perempuan yang tampaknya sudah berusia 60-an tahun yang menatapnya dengan senyuman lembut, "namaku adalah Maria, dan aku adalah kepala maid di markas Vongola. Saya ditugaskan Loyd untuk mengantarkan anda dan para guardian ke kamar kalian."

"A—ah terima kasih... ba—bagaimana dengan Kensuke-senpai, Haru, Kyoko-chan, dan juga Hana?"

"Saya sudah mendapatkan informasi dari para maid lainnya, mereka ingin berbaur dengan murid lainnya untuk mengurangi kecurigaan," Tsuna ingin menepuk jidatnya dengan keras saat ini. Bagaimana bisa Reborn menghancurkan semua yang menjadi kesenangannya sekarang, "baiklah, mari saya antarkan..."

.

"Ugh, melihatnya saja sudah membuatku mual..."

Tsuna melihat kearah tumpukan laporan yang ada didepannya sebelum mempersilahkan semua pelayan yang mengantarkannya untuk keluar dari kamar. Segera duduk di kursi mahogani yang ada didepannya, melihat satu per satu kertas yang ada didepannya.

"Primo, makan malam sudah disiapkan—yang lain sudah menunggu anda," Tsuna menatap kearah pelayan yang membungkuk didepan pintu. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan apa yang dilakukan meskipun ia tahu kalau suatu saat ia akan menjadi pemimpin di tempat ini.

"Bi—bisakah kau bersikap biasa didepanku? Aku benar-benar canggung jika kau melakukannya..."

"Apa yang bisa saya lakukan Primo?"

"Pa—panggil saja aku Tsuna seperti yang lainnya?" Tsuna, entah sudah kesekian kalinya mencoba untuk meminta hal itu, namun tentu yang menjadi jawabannya adalah.

"Maaf Primo, itu terlalu lancang untuk saya."

Ya, itu.

"Baiklah, aku akan pergi sebentar lagi—kau bisa pergi terlebih dahulu."

Dan sang pelayan segera membungkuk dan berbalik keluar dari kamar Tsuna. Tsuna menghela nafas, dan pada akhirnya berjalan kearah lemari. Memegang knopnya, namun entah kenapa hyper intuitionnya mengatakan kalau ada sesuatu yang tidak ia sukai.

'Ini pasti ulah Reborn,' Tsuna membuka lemarinya, menemukan pakaian yang ia gunakan berganti menjadi pakaian resminya. Kaus dan juga celana pendek tidak ada—berganti kemeja resmi yang meskipun memiliki warna hitam, putih, dan abu-abu namun seolah meneriakkan berapa angka nol yang tertera pada label harganya.

"Sudah kuduga... tidak mungkin aku menggunakannya—tetapi apa yang bisa kugunakan," Tsuna tampak kewalahan memikirkan caranya. Namun sekali lagi, kopornya hilang entah kemana dan tidak ada sama sekali yang bisa digunakan selain yang ada di lemari.

...

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa disaat seperti ini Mukuro tidak ada..."

.

"Sebelah sini?"

"Bukan, aku yakin kalau tadi maid disini menunjukkan kalau kita harus berbelok kemari."

"Tetapi kurasa jalan itu sudah kita lewati tadi."

Dan tentu mengingat bagaimana luasnya bagian markas utama Vongola, bahkan Tsuna sendiri awalnya selalu tersesat di dalam sana. Dan sebenarnya ia juga masih senang tersesat disana, terutama jika malam hari dan ia sedang sendiri.

Salah satu kelompok murid yang tampak berisikan 5 orang perempuan dan 5 orang laki-laki tampak berjalan tak tentu arah di hutan yang akan menghubungkan mereka ke markas utama Vongola.

"Hei, ada seseorang!" salah satu siswi disana, sebut saja Hanada—tampak menoleh pada jalanan yang cukup gelap mengingat hari sudah malam. Seseorang yang membelakangi mereka, dengan rambut yang familiar.

"Ah itu dame-Tsuna, ini benar-benar tidak akan membantu. Oi dame-Tsuna!" orang itu menoleh, menatap semuanya dengan mata kuningnya yang tampak kosong.

...

Mata kuning?

"Kau juga pasti tersesat. Tetapi bagaimana kau bisa sangat bodoh untuk berdiri melamun ditengah hutan sendirian seperti itu?" 'Tsuna' yang diajak berbicara tampak hanya diam dan menatap semuanya masih dengan tatapan kosongnya.

'Hei, apakah kau fikir ada yang aneh dengan dame-Tsuna?' salah satu dari siswi disana tampak berbisik pada yang ada di dekatnya.

'Ya, apakah kau tidak berfikir kalau ia terlihat lebih... keren saat ini?'

'Hei, bukan itu! Aku tidak tahu apakah ini karena suasananya gelap atau perasaanku saja, tetapi warna mata dan juga rambutnya berbeda!'

'Kalau kau mengatakan itu... bagaimana menurutmu Hide—hei, ada apa?'

'O—orang ini bukan dame-Tsuna! D—dan kau lihat, ia tidak punya bayangan!' disaat lima orang lainnya tampak mencoba berbicara pada 'Tsuna', lima orang di belakangnya tampak menoleh dan menemukan bahwa orang didepannya itu benar-benar tidak memiliki bayangan.

Yang artinya, hanya satu yang mereka fikirkan.

'HANTU!' mereka ingin kabur, tetapi tidak bisa berbuat banyak dan hanya mematung melihat kelima temannya lainnya masih mencoba berbicara pada 'Tsuna'.

"Kenapa kau hanya diam saja? Kau tiba-tiba bisu karena ketakutan?"

"Tidak," 'Tsuna' tersenyum dan menatap kelimanya, "aku tahu jalan pintas yang mudah untuk pergi ke bangunan utama. Tetapi aku ceroboh meninggalkan barangku di kamar asrama. Jadi, aku harus kembali."

"Jalan pintas?"

"Loyd-san mengatakan kalau kalian bisa pergi berjalan lurus kesana," menunjuk kearah hutan disana yang cukup gelap, "memang sedikit gelap, tetapi jalannya lebih mudah untuk dilewati."

"Hah?"

"Atau... kalian cukup takut untuk melewatinya?" dengan senyuman yang biasa tampak di wajah 'Tsuna', namun murid yang berbicara dengannya cukup kesal karena itu.

"Dame-Tsuna bisa melewatinya, tentu saja aku bisa!" Dan empat lainnya tampak mengangguk setuju, "ayo, kita pergi—ada apa dengan kalian?"

Lima orang di depan baru menyadari jika yang lainnya tampak membisu dan memucat karena apa yang ada di depan mereka.

"Hei, kenapa?"

"Ti—tidak, aku baru menyadari kalau ada sesuatu juga yang tertinggal di kamar. A—aku akan kembali ke bangunan..."

"A—aku juga, aku harus menghubungi ibuku dan handphoneku tertinggal."

Dan lima orang itu tampak memaksakan tawanya, menatap kearah 'Tsuna' yang menatap kearah mereka dengan tatapan kosong dan dingin. Membuatnya bergidik ngeri.

"Kalian aneh, kalau begitu ayo!" Dan lima orang yang tidak menyadari keanehan 'Tsuna' tampak berjalan kearah jalanan yang ditunjukkan 'Tsuna'.

"Oh," 'Tsuna' menghentikan perjalanan lima orang yang akan pergi ke tengah hutan, "berhati-hatilah, kudengar markas Vongola adalah bangunan yang sangat tua—tidak heran jika ada beberapa 'penghuni' yang menampakkan diri bukan?"

Dan dengan senyuman dinginnya, 'Tsuna' sukses membuat kelima orang yang sudah berjalan itu tampak sedikit ragu meskipun pada akhirnya harga diri mereka didahulukan. Mereka sedikit takut—tetapi berfikir kalau 'dame-Tsuna' bisa melakukannya, tentu mereka juga.

Saat 'Tsuna' melihat lima orang lainnya yang mengetahui keanehan dirinya, ia melihat kelimanya akan berjalan menjauh menuju ke bangunan tempat mereka menginap.

"Kalian benar-benar tertinggal barang di sana?" 'Tsuna' berbicara dengan nada datar dan membuat kelimanya berhenti berjalan dan memaksakan diri untuk tertawa. Menoleh pada 'Tsuna' yang entah sejak kapan ada di belakang mereka, mereka hanya mengangguk.

"Te—tentu, kami juga sedang tidak lapar."

"Be—benar da—T—Tsuna, aku tidak lapar."

"A—aku sedang dalam program diet, jadi aku tidak makan malam haha..."

"Aku masih jetlag dan tidak selera makan..."

"Begitu juga denganku, jadi—permisi!" Mereka berlari MENCOBA meninggalkan 'Tsuna', namun entah kenapa saat mereka berlari, 'Tsuna' bisa mengejarnya dan berbisik di telinga mereka dari belakang.

"Apakah benar? Ataukah—" mereka berlima memberanikan diri untuk menoleh ke belakang dari tempat mereka berdiri, untuk menemukan sosok 'Tsuna' yang perlahan tampak transparan dan menghilang sambil menyeringai kearah mereka, "—ataukah kalian sudah tahu...?"

...

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

"Giotto-dono, Vongola Nonno ingin bertemu dengan—huh, kemana dia?"

Ugetsu yang berada di sebuah tempat—entah dimana, jangan tanyakan—dimana ia bisa bertemu dengan Giotto dan yang lainnya seperti G bertemu dengan Giotto tampak menemukan tempat itu kosong. Hanya ada G yang sedang duduk dan membaca dengan kacamatanya.

"Memulai rencana awal, ia sudah bertemu dengan Vongola Nonno tadi."

"Yang lainnya?"

"Aku tidak tahu dimana Alaude, tetapi jika Daemon sedang menemani Giotto, Knuckle berlatih dengan Sun Guardian Decimo, dan jangan tanya dimana Lampo padaku," G menghela nafas dan kembali membaca. Ugetsu menoleh pada sang Storm Guardian, sebelum berjalan ke belakangnya dan melepaskan kacamata pemuda itu, "—hei!"

Dan saat ia mendongak ke atas, Ugetsu menahan kedua pipinya dan mengecup bibir pemuda itu, membuatnya terkejut.

"Kalau begitu kita hanya berdua disini bukan?" Dan rambut G kalah merah dengan wajahnya saat ini, "aku ingin berdua denganmu~"

Dan Ugetsu kembali akan mencium G sebelum pemuda itu menahannya dengan sebelah tangan.

"Tu—tunggu!" G menatap Ugetsu yang mengerucutkan bibirnya, "—aku tidak ingin melakukan sex denganmu dulu!"

"EEEH!"

"Aku tidak ingin bodohmu menular," karena G masih memikirkan bagaimana sikap sadis Daemon yang menular pada Giotto dan ia menduga disebabkan oleh—sex, "kalau kau masih memaksa, aku akan melarangmu tidur denganku selama 3 bulan."

Dan Ugetsu hanya bisa memojok, meratapi nasibnya.

.

.

"Suara teriakan apa tadi?"

Lima orang bodoh yang tampaknya sengaja disesatkan oleh Giotto tampak menoleh ke belakang karena mendengar suara teriakan kelima orang murid lainnya. Mereka berjalan di tengah hutan, dan gelap hanya ada penerangan dari handphone yang dibawa mereka.

"Entahlah, tetapi itu tidak penting. Kenapa kita tidak sampai-sampai?"

"Apakah dame-Tsuna menipu kita?"

"Kurasa tidak, lihat—ada cahaya disana!" cahaya redup yang lebih terlihat seperti lilin menerangi salah satu tempat disana. Mereka bisa melihat seseorang berdiri disana, dan yang mereka tahu—itu bukan Tsuna.

"Maaf, kami ingin bertanya sesuatu—" mereka berhenti berjalan dan berbicara saat menyadari tidak ada sumber cahaya yang wajar saat itu. Namun, hanya beberapa api yang tampak melayang di sekitar sosok itu.

Wajah mereka satu per satu memucat, saat sosok di depan mereka yang berambut putih panjang tampak berbalik perlahan, menunjukkan wajahnya yang tertutupi oleh rambut putih panjang yang tidak rapi itu.

"Jangan menggangguku..." suaranya yang serak sudah cukup untuk membuat mereka bergidik ngeri. Ingin berteriak, tetapi kelimanya seolah tercekat oleh sebuah benda tak kasat mata di tenggorokan mereka. Dan yang bisa mereka lakukan hanyalah...

KABUR!

.

.

"A—apa-apaan ini, kita bahkan belum sampai ke bangunan besar itu dan sekarang kita tidak bisa kembali ke bangunan tempat kita menginap!"

Salah satu murid yang kabur dari siapapun yang tadi mereka temui di tengah hutan—yang berambut putih panjang dan tampak dikelilingi api misterius mencoba mengambil nafas dan menyenderkan tangannya pada sesuatu yang ada di hutan itu.

"Jangan sembarangan memegangnya scum!"

"A—ah maafkan a...ku," anak itu menoleh, dan melihat sesuatu yang ia senderkan tadi. Seekor harimau albino yang menatapnya dengan mata merah rubynya, bersama dengan seorang pria berambut hitam dengan bekas luka di pipi yang samar terlihat karena kegelapan itu. Matanya tampak membuka, menampakkan mata merah ruby yang tampak menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Kau mau aku menyuruhnya untuk memakanmu hah? Pergi dari sini sampah!"

Dan sebuah auman harimau itu cukup membuat mereka terkencing-kencing dan membatu sejenak. Sebelum mengambil keputusan terbaik saat itu—

"AAAAAAAAAAAH!"

—kabur dengan sekuat tenaga.

.

.

"Daritadi aku seperti mendengar suara teriakan."

Tsuna menoleh pada jendela yang ada di belakangnya. Ia sudah berada di mansion utama, bersama dengan Mukuro yang bertemu dengannya di pintu depan markas. Mukuro mengetahui kalau itu adalah tanda kalau seseorang sudah memulai rencana untuk mengerjai pembully Tsuna tampak hanya tersenyum.

"Hanya perasaanmu saja~"

"Benarkah? Kuharap itu memang benar hanya perasaanku," Tsuna menghela nafas dan berjalan kembali dengan Mukuro disampingnya.

"Mungkin kau berhalusinasi karena akan meneriakkan namaku malam nanti di kamarmu? Kufufufu~"

"M—MUKURO!" Wajah Tsuna merah SANGAT padam mendengar Mukuro berbicara seperti itu dan pemuda itu hanya berkufufufu ria kembali.

"Oya, aku lupa memberitahukanmu sesuatu—malam ini, kudengar Varia akan tiba di markas Vongola karena Vongola Nonno meminta mereka datang menyambut," dan Tsuna berhenti berjalan mendengar itu. Dan wajahnya perlahan menjadi pucat.

"HIEEEEEEE!"

.

.

"Me, benar-benar takut dengan senpai..."

Anak kecil berambut hijau dengan topi berbentuk apel tampak menatap pemuda berambut putih panjang yang ada disana yang segera menatapnya dengan tatapan kesal.

"VOOOOI! Kau tahu kalau api ini juga ilusimu bukan?"

"Tetapi me hanya membuat itu, yang menunjukkan wajah menyeramkan kan senpai," anak kecil bernama Fran itu tampak masih berbicara dengan wajah datar. Meskipun sebuah pedang tampak segera menusuk topinya, "—ittai..."

PRANG!

"VOOOI! Jangan main lempar sembarangan boss!"

"Diamlah sampah, ayo pergi ke markas utama. Kakek tua itu sudah berjanji padaku untuk memberikan daging steak kualitas terbaik dengan anggur langka itu," jawab boss Varia itu sambil berdecih dan berjalan kearah bangunan utama bersama macan albino miliknya.

"Padahal kau sendiri juga ingin membalaskan dendam pada orang-orang itu," Squallo tampak menyeringai dan membuat Xanxus terdiam menoleh padanya dari sudut bahu dengan tatapan tajam.

"Jangan harap kau bisa tidur malam ini sampah."

Dan satu buah kalimat cukup membuat Squallo terdiam dan memucat. Ah, sepertinya akan ada dua orang yang tidak akan bisa bangun dengan tenang besok.

[ To Be Continue ]

Et dah, kepanjangan :')) keasikan ngetik malah jadinya 5000 lebih, maaf kalau kepanjangan. Dan fanservice disini lebih banyak daripada keusilan mereka, walaupun Giotto udah mulai duluan.

Jadi, kalau yang ga ngerti—'Tsuna' yang ada di tengah hutan itu Giotto yang muncul buat nakut-nakutin murid yang ada disana XD

Dan ada U02 nyempil, dan mention buat DaeGio juga.

Varia juga muncul buat nakutin dengan munculin mention XS juga :3

Para seme KHR emang mechum semua yah XD /plak BTW D18 masih ngegantung alias belum jadian, kalau 8059 sudah—tapi Goku emang Tsuntsun :3 XS ga usah ditanya –w-

Makasih buat yang fave dan follow ^^ buat yang review juga makasih banyak yah ;w;

BTW FB Yun Que saya entah kenapa ga bisa Login jadi, yang me add make FB me yang baru minta tolong di APP ya ^^ dan yang mau nge-add mungkin, bisa cari yang pake nama [ Tres Spade ] atau kasih nama FB kalian di review :'D yang grup FB Fujoshi KHR, bisa minta tolong masukin nama saya lagi? Sekali lagi [ Tres Spade ya :'D yang gambarnya orang megane rambut cokelat.

Chiharu Nao TomatoOrange memang, makanya saya bilang 'belum ada yang bener-bener bikin' maksudnya semuanya setop di chap 1 aja ._. /sayajugahampirsih semoga menurut anda temanya berbeda ^^

Ageha nina Waaah, 6927 adegannya banyak yang suka ya XD makasih :3

Nuruhime-chan19 oke ^o^

Hikage Natsu D18 masih gantung hubungannya XD poor Dino, tapi karena Kyouya itu terlalu Tsundere jadi ga berani bikin langsung jadi couple, tapi ntar jadian kok /mungkin.

Seijuurou Eisha Makasih ^^

Kazue Ichimaru sudah muncul 8059nya, dan extra U02 juga /chu /NAK

Reisuke Celestine iya, kebanyakan 6927 itu angst ya ;_; /malahcurcol maaf lama, ini sudah update :D

TsunaMoe 6918? Maksudnya 6927? O.o susah kalau mau seminggu sekali ;-; tapi saya usahakan secepatnya mulai sekarang ^^;

Snow Dragneel iya dong 6927 kalau dibuat fluffy emang manis XD walaupun Mukuro rada (memang) mesum banget XD

Raawrr Muku kan emang begitu orangnya =3= /diilusi tentu balas dendam karena Tuna-chan di bully /smirk yep, mereka panggil Tsuna primo karena dia 'Neo Vongola Primo' bukan 'Vongola Decimo' :3