Mr. Snake

Author : ˜°✰Amaniah Sani✰°˜

Title : Mr. Snake

Disclaimer : Naruto ©Masashi Khisimoto

Pairing : Sasu Saku

Genre : romance, tragedy

Casts : Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Haruno Kizashi, Haruno Mebuki, Ino Yamanaka, Kabuto, Tsunade.

Rating :T

Category : AU

Story by : "⋆Harunia – chan⋆ "

Twitter : Amaniahsani_03

Blog :

Chapter 7

Semilir angin berhembus damai, semakin banyak daun-daun kering yang berjatuhan. Tampak sunyi, gelap, hanya bermodal penerangan dari bulan saja. Sangat berbeda dengan keadaan hutan saat siang hari, kini hutan itu benar-benar terlihat menyeramkan, suara jangkrik menambah kesan angker. Tapi.. tak ada sedikitpun rasa takut pada gadis bersurai pink itu.

"apa tidak apa-apa kau pulang malam begini?" Tanya Sasuke yang tengah berdiri didepan rumahnya.

"tidak… aku hanya tinggal beri alasan bahwa aku tengah mencari tanaman obat" jawab Sakura yang berdiri didepan Sasuke.

Terang bulan purnama memang terlihat damai, itulah yang Sakura rasakan. Emerald nya terus menatap anugrah Tuhan yang hanya mucul pada malam hari itu, bibirnya tak henti-hentinya membuat sebuah lengkungan.

"Sasuke…" panggil Sakura lembut, namun pandangannya masih kearah langit nan hitam kelam itu.

"ya?" Sasuke memajukan langkahnya mendekati Sakura, dipandangnya dengan seksama rambut merah muda itu.

"rasanya aku ingin kembali pada masa kecilku dulu.." gumamnya pelan.

"..menjadi seorang gadis kecil yang sangat mengagumi ibunya, mempunyai seorang teman aneh.." terdengar Sakura tertawa kecil.

"aneh? Siapa?" Sasuke akhirnya terbawa situasi.

Sakura menarik nafas panjang, dan mengeluarkannya dengan lembut, senyuman itu pun mucul.

"seorang anak laki-laki yang selalu tiba-tiba muncul saat ku terjatuh…"

Nampak Sasuke menaikkan sebelah alisnya "apa anehnya?"

"ya jelas aneh… dia baru menghampiriku saat ku terjatuh" emerald itu menjadi cermin apa yang dilihatnya, sebuah bulan.

"aaa eto…" ya ampun ternyata Sasuke menjadi gugup. Sakura menatapnya, memiringkan kepalanya kekanan.

"dulu aku malu… jadi aku hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan, saat kau terjatuh, tak tau kenapa tiba-tiba aku merasa cemas dan langsung menghampirimu" jelas Sasuke.

Sakura pun hanya tertawa kecil mendengar cerita Sasuke, mata emeraldnya yang sudah tenggelam akibat tawanya, kini dia terkesan sangat bahagia. Sekalipun Sasuke tak pernah melihatnya bersedih, tentu saja itu yang selalu diharapkannya.

"kenapa tertawa?" Tanya Sasuke yang nampak heran, lantaran sama sekali tak ada lelucon yang dikatakannya barusan.

Sejenak Sakura menghentikan tawanya, namun masih meninggalkan senyuman.

"wajahmu lucu sekali, baru kali ini aku melihatmu sangat gugup.." lagi-lagi Sakura kembali tertawa, dan itu membuat Sasuke kesal.

"menurutku aku lebih baik darimu yang ceroboh.." ledek Sasuke, merasa tak terima ia pun membalas Sakura.

Nampak empat sudut siku-siku tercentak didahi Sakura, sepertinya Sakura sudah terbawa pembalasan Sasuke "ceroboh katamu?"

"yap! Dari kecil sampai sekarang, kau selalu saja terjatuh…" ucapnya tenang, namun sebaliknya… Sakura sekarang merasa kesal, sebelah matanya pun tak hentinnya berdenyut.

"hey jangan salahkan aku, tapi salahkan ranting-ranting itu yang menghalangi jalanku.." Sakura berteriak didepan wajah Sasuke, wajah anehnya pun terlihat. Itu membuat Sasuke memundurkan langkahnya.

Ocehan Sakura yang benar-benar memecahkan keheningan itu semakin berlanjut, namun Sasuke tak terlihat risih, malah sebaliknya, ia terus saja menggodanya, membuat pipi indah Sakura blushing terus menerus.

Malam semakin larut, perlahan awan-awan hitam menghalangi sinar bulan, kini benar-benar gelap, namun itu sama sekali tak menghalangi niat Sakura untuk pulang, Sasuke sudah melarangnya dan agar ia pulang besok pagi saja, tapi Sakura bersih kukuh tetap ingin pulang. Sakura bukan gadis penakut, bahkan ia perpikir bahwa dialah gadis pemberani disekolahnya.

"kalau begitu aku antar kau pulang.."

"ah tidak usah Sasuke, aku kan berani.." ucap Sakura percaya diri, kini ia tengah membereskan barang-barangnya, nampak beberapa tanaman obat yang dimasukkan kedalam tasnya.

"aku akan kembali besok" Sakura mengaitkan tali tasnya ke bahu.

"baiklah… hati-hati"

Sakura perlahan meninggalkan Sasuke, berjalan menelusuri hutan yang gelap, disisi lain ada seseorang yang ternyata sudah menguping pembicaraan mereka berdua, orang itu berada di balik pohon.

"jadi begitu ya.." ucap seorang laki-laki. Melihat Sakura telah pergi, ia pun meninggalkan tempat itu.

.

Benar-benar gelap!, sangat sunyi, hanya terdengar suara serangga-serangga kecil dan juga gesekan sepatu dengan daun-daun kering. Pelan-pelan Sakura berjalan, ya itu agar ia tak salah jalan, mengingat cahaya bulan sudah menghilang ditambah ia tak membawa senter.. ah! Benar-benar suatu kecerobohan.

Terdengar suara langkah kaki! Daun-daun kering Nampak berbunyi seperti ada seseorang yang menginjaknya. Sakura menghentikan langkahnya, emeraldnya menelusuri sekelilingnya, melihat siapa yang ada disana, sayangnya suasana sangat gelap, itu membuat Sakura melihatnya tak jelas.

'siapa itu?' ujar inner Sakura. Suara langkah kaki semaki jelas, sepertinya menuju kearah Sakura. Sakura terus mebolak-balikkan badan mengencek apa yang terjadi.

Suara itu… sepertinya sudah tak terdengar, nampak Sakura bernafas lega, ia pun membalikkan badannya dan berniat melanjutkan perjalanannya. Namun saat Sakura berbalik, betapa terkejutnnya ada sosok yang berdiri dihadapannya, seperti sosok manusia yang lebih tinggi darinya, wajahnya tak jelas, tapi seperti seorang laki-laki yang terlihat dari postur tubuhnya.

Perlahan Sakura memundurkan langkahnya, dengan wajah cemas Sakura mencoba menerka-nerka, siapa dia? Mau apa dia?. Sepertinya dia mencoba mendekati Sakura, Sakura semakin melangkahkan kakinya mundur, dan berbalik, mencoba lari, namun naas! tangan kekar laki-laki itu menahan bahunya. Laki-laki itu mendekap Sakura, kedua tangan Sakura dikunci kebelakang, sangat susah untuk berteriak.

"mmfmmpp…" Sakura terus saja menjerit didalam dekapan tangan orang itu, mencoba berontak, namun nihil, laki-laki itu sangat erat mencengkram kedua tangan Sakura.

Tak ada suara yang dikeluarkan oleh orang itu. Sakura mencoba tenang, memikirkan bagaimana cara terlepan dari orang itu. Yap! Sakura mendapatkan ide, dengan sangat kencang Sakura menggigit tangan laki-laki misterius itu, terdengar suara jeritan dai laki-laki itu. Tak mau membuang kesempatan, Sakura langsung menginjak kaki laki-laki itu sekuat tenaga, dan akhirnya Sakura terbebas, ia pun langsung berlari secepatnya.

Buughh!

Lagi-lagi Sakura terjatuh, tak seharusnya kecerobohan itu terjadi pada situasi gawat begini. "err.. ranting sialan!" rutuk Sakura yang mencoba bangun. Lagi dan lagi kesialan mengampiri Sakura. Tiba-tiba saja kaki Sakura ada yang mencengkramnya, dan itu membuat Sakura terjatuh lagi.

Tanpa menengok siapa yang mencengram kakinya, Sakura berusaha melepaskan tangan itu, menarik kakinya agar terbebas. Namun rasa sakit tiba-tiba saja datang, seperti ada yang menusukkan benda tanjam ke kaki Sakura. Nampak Sakura meringis.

"kena kau..!" suara itu, ternyata laki-laki itu berhasil mengikutinya, tapi bukan itu yang membuat Sakura terkejut, tapi suara laki-laki itu adalah suara yang sangat tak asing baginya. Sakura mencoba mengingat suara itu, namun tak sempat berfikir, kini Sakura merasa pusing, pandangannya kabur, perlahan Sakura tak sadarkan diri, dan alhasil Sakura pingsan.

.

.

Sementara dikediaman rumah Haruno, Nampak seorang wanita tengah berjalan kesana kemari, raut wajahnya juga terlihat cemas, memainkan jari-jemarinya.

"sudahlah tenang Mebuki, tak biasanya kau cemas begini.." ucap seorang laki-laki yang sedang duduk di sofa, dan terus memperhatikan istrinya yang sedari tadi mondar mandir.

"tapi Sakura tak minta izin dulu kan.."

"mungkin dia sedang berjalan-jalan, dan menemukan tanaman obat, diapun lupa untuk pulang… sebelumnya kau juga tak khawatir saat dia tidak pulang dua hari?"

Wanita yang ternyata ibu Sakura itu pun akhirnya berhenti, ia menduduki dirinya tepat disebelah Kizashi, mencoba memikirkan kata-kata yang diucapkan suaminya barusan.

"benarkah? Sakura itu…" terlihat Mebuki kesal.

"kalau sudah mengenai tanaman obat, dia selalu saja lupa diri.." rutuk Mebuki yang terus saja dilanda kekhawatiran.

"sudah lah.. kau juga yang mengajarinya kan?"

Sejenak Mebuki mengheli nafas.. "kau benar"

» Ĥăřůňĭą «

Terik matahari pagi sepertinya mengganggu seorang gadis yang tengah tertidur.. tunggu dulu! Sepertinya dia tak sedang tidur. Dilihat dengan posisinya duduk bersender pohon, dan kedua tangannya terikat kebelakang, ah..! ini seperti sebuah penculikan.

Perlahan Sakura membuka lebar kedua matanya, dirasakannya nyeri dikepalanya, kedua tangannya juga terasa sakit, sepertinya orang itu mengikatnya tidak dengan perasaan.

Dengan wajah pucat Sakura mencoba mengingat apa yang terjadi, apa dan siapa yang membuat dirinya seperti ini..

"dia itu…" gumamnya pelan sambil menahan sakit dikepalanya.

Orang yang mendekapnya semalam, ditempat ini, kini dia tahu, Sakura tahu siapa orang itu.

Orang itu.. laki-laki itu kini berdiri tepat dihadapan Sakura, Sakura yang menunduk perlahan mengangkat kepalanya, melihat siapa yang ada didepannya.

Ternyata laki-laki yang dihadapannya adalah orang yang melakukan ini pada Sakura, namun Sakura tak terlihat terkejut, ditatapnya tajam orang itu. Laki-laki itu hanya membalasnya dengan seringai kekejaman.

"sudah bangun ya?" Tanyanya, terasa mata Sakura tersorot cahaya matahari yang terpantul pada kaca mata laki-laki itu.

"Kabuto sensei? Sudah kuduga.." ucap Sakura yang terus menatapnya tajam.

Kabuto, ternyata dialah dalang dari semua ini, laki-laki yang selama ini meneror penduduk desa, Kabuto! Guru dari Sakura sendiri.

Iapun berjongkok mensejajarkan Sakura, didekatkannya wajah jahat itu ke Sakura. "inilah akibatnya bila orang melanggar aturan!" bisik Kabuto.

'cihh' Sakura mendecih "aturan katamu? Aturan yang kau buat-buat! Aku akan memberitahukan ini pada semua penduduk desa.." Nampak Sakura meiringis menahan rasa sakitnya akibat teriakannya tadi.

"jangan gegabah dulu, obat bius yang ku suntikkan pada kakimu semalam, masih bekerja, sebaiknya kau istirahat saja disini—"

"dan sebaiknya kau gagalkan saja niatmu.." seringai menjijikan menurut Sakura itu ditunjukkan lagi.

Menggagalkan? Menggagalkan suatu kebenaran? Itu tak akan terjadi. Sakura harus benar-benar menyelesaikan semua ini, melaporkan Kabuto dan membuat keadaan seperti semula. Dan Sasuke… ini juga deminya, ia tak ingin membuat penduduk desa membencinya.

.

Rasa sakit dikepalanya masih terasa, wajah Kabuto yang ada dihadapannya juga mulai samar. Namun meski begitu, Sakura masih tetap antusias membuka ikatan ditangannya, dan bicara pada penjahat yang ada dihadapannya.

Sakura tersenyum kecut "tak akan! Malah aku yang akan menggagalkan semua rencanamu Sensei!" ucap Sakura dengan menekan kata 'sensei'.

Terdengar Kabuto tertawa merendahkan, ditatapnya wajah Sakura yang pucat itu "bagaimana bisa? Kau saja masih disini, dan tak bisa apa-apa"

"dan . . soal laki-laki itu—" Kabuto pun berdiri, memandang jauh kelangit.

Sambil memperbaiki posisi kaca matanya ia pun bicara "aku sudah tahu . . . ternyata memang ada manusia ular dihutan ini ya?. Ini benar-benar membuat rencanaku berjalan mulus.."

"TIDAK! Jangan kau libatkan Sasuke! Dia tak ada hubungannya dengan semua ini!" Sakura semakin mengkeraskan suaranya, dan itu membuat nyeri dikepalanya semakin menjadi.

"tentu ada. Dia itu manusia ular, dan akan menjadi ancaman bagi penduduk desa bukan?"

"tcih! Yang menjadi ancaman adalah KAU Kabuto!... aww" teriak Sakura kesakitan.

"sebaiknya kau jangan banyak bicara…" ujar Kabuto yang langsung pergi dan hilang entah kemana.

Rasa kesal menyelimuti hati Sakura, ditambah ini akan melibatkan Sasuke. Sakura melakukan ini untuk membebaskan Sasuke, membebaskannya dari fitnah para penduduk desa, namun yang terjadi malah sebaliknya, Sasuke akan masuk dalam masalah ini.

» Ĥăřůňĭą «

tbc