Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

[ Cover is not mine ]

a RivaEre Fanfiction Written by Heichouxi

SNIPER

Action, Mystery, Thriller, Romance

Rate: M

Warnings: AU, Yaoi/BL/BoyXBoy/MaleXMale, Deskripsi agak ngawur, EYD berantakan, Bahasa tidak baku, OOC, Alur cerita yang bergonta-ganti.

.

.

.

Don't Like? Don't Read, Don't Flame.

.

.

.

Enjoy Reading.

.

.

.


Di dalam sebuah ruangan yang gelap dan pengap. Rivaille terlihat terduduk lemas di atas sebuah kursi. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Penglihatannya sedikit kabur. Kedua kelopak matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Kepalanya berdenyut kuat dan badannya masih terlalu lemah untuk dapat digerakkan. Rivaille berusah dengan keras membuka kedua kelopak matanya. Memfokuskan penglihatannya. Mengerjapkan kedua matanya dan melihat ke sekeliling.

Dimana aku?

Tempat apa ini?

Kenapa aku bisa ada disini?

Kenapa tidak ada seorangpun?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus berputar di dalam otaknya.

Rivaille berada di dalam sebuah ruangan yang sempit dan gelap. Di sekeliling ruangan itu dilapisi oleh dinding kaca satu arah. Dengan kata lain, dinding kaca tersebut merupakan sebuah perantara atau media pemisah antara ruangan yang satu dengan ruangan yang lain, yang tentu saja hanya dapat dilihat melalui satu arah saja. Rivaille menyadari akan hal tersebut. Rivaille tau kalo di balik dinding kaca satu arah itu, mungkin saja terdapat banyak sekali orang yang tengah asyik menontonnya bagaikan sebuah pertunjukan hiburan.

Cih! Brengsek!

Sesaat kemudian, Rivaille teringat sesuatu.

Farlan! Dimana dia? Aku harus segera menemukannya!

Rivaille mencoba bangun dari kursi tempat duduknya. Akan tetapi, dia tidak bisa! Ternyata kedua tangan dan kakinya di ikat kuat dengan menggunakan sebuah tali yang terhubung pada kursi tersebut.

Sial! Mereka mengikatku?

Ikatan di tangan dan kakinya begitu kuat. Sedangkan tubuh Rivaille saat ini sudah benar-benar sama sekali tidak mempunyai tenaga. Jangankan untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut, untuk bangun saja Rivaille tidak yakin dia akan sanggup.

Bedebah!

Rivaille menyenderkan kepalanya ke senderan kursi. Kepalanya menengadah ke atas menatap langit-langit di ruangan yang gelap itu. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Kedua kelopak matanya terpejam kembali. Dia tengah berfikir keras tentang bagaimana caranya agar dia bisa kabur dari tempat busuk ini.

CEKLEK!

Suara pintu ruangan itu dibuka.

Rivaille membuka kembali kedua matanya. Obsidian hitam pekatnya menatap lurus ke arah pintu masuk. Dari pintu masuk itu muncul seorang wanita berpakaian layaknya seorang dokter. Hanya saja, wanita itu tidak menggantungkan Stethoscope pada lehernya. Wanita itu menggunakan kacamata, pakaian serba putih, jas putih, masker putih, dan sarung tangan yang juga berwarna putih. Wanita itu berjalan mendekati Rivaille, kemudian berdiri di sampingnya. Wanita itu lalu merogoh kantung jasnya dan terlihat mengeluarkan sesuatu.

Kedua mata Rivaille mendelik melihat apa yang baru saja dikeluarkan oleh wanita itu. Wanita itu mengeluarkan sebuah suntikan. Suntikan itu berisi sebuah cairan yang Rivaille sendiri tidak tau pasti cairan apa itu. Dari ujung jarum suntik itu, cairan terlihat menetes keluar. Jantung Rivaille berdetak sangat kencang. Wanita itu secara perlahan mulai melangkahkan kakinya berjalan mendekati Rivaille. Selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Semakin mendekat! Wanita itu telah bersiap untuk menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuh Rivaille.

"STOP DISITU! JANGAN MENDEKAT!"

Rivaille memekik.

Akan tetapi, wanita itu justru malah semakin cepat melangkahkan kakinya mendekati Rivaille. Lalu...

GREP!

Lengan kiri Rivaille di cengkram kuat oleh wanita itu.

"BEDEBAH! APA YANG INGIN KAU LAKUKAN, HAH?!"

Rivaille mendelik menatap dokter shinting itu.

Tentu saja wanita itu tidak mau menjawab pertanyaan Rivaille tersebut.

Rivaille berusaha meronta sekuat tenaga. Akan tetapi, tangan dan kakinya yang di ikat membuatnya tidak bisa melawan!

Suntikan itu semakin didekatkan pada lengan kirinya.

Ujung jarumnya perlahan mulai menembus kulit pucat Rivaille.

Menyobek dan menyayat bagian terluar kulit epidermisnya dan masuk menembus pembuluh darahnya.

Cairan di dalam suntikan itu mulai mengalir masuk ke dalam tubuh Rivaille lalu menyebar ke seluruh tubuhnya dengan cepat.

Bagaikan sebuah racun mematikan yang dapat melumpuhkan sistem saraf.

"AAAKKH!"

Rivaille memekik kesakitan.

Badannya terasa seperti di cabik-cabik. Panas. Perih. Terbakar. Seluruh ototnya terlihat menyembul keluar. Tubuhnya mengejang kuat. Merasakan rasa sakit yang luar biasa. Paru-parunya terasa seperti mengecil. Rivaille sangat kesulitan untuk dapat bernafas!

"Cairan TTS berhasil di suntikan, dia mulai mengalami kontraksi otot dan kesulitan untuk bernafas." Wanita itu berbicara dengan seseorang melalu alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

Rivaille masih setengah sadar. Dia dapat mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan oleh wanita itu.

Speaker suara yang terdapat di pojok kanan atas ruangan tersebut, tiba-tiba saja berbunyi.

"Rivaille, kau dapat mendengarku?"

Rivaille terkejut.

Matanya bergerak mencari dimana asal sumber suara itu.

Kemudian pendengarannya terfokus pada suara yang keluar dari speaker.

Suara itu terdengar sangat jelas dari speaker. Namun Rivaille tidak mampu mengenali suara milik siapa itu. Lehernya benar-benar terasa seperti tercekik. Nafasnya tercekat di pangkal tenggorokkan dan rasanya sudah seperti ingin mati saja. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak.

"Rivaille, sekarang jawab saja pertanyaan apapun yang aku tanya."

Rivaille mengerjapkan kedua matanya. Pandangan matanya sedikit kabur.

"Rivaille, Katakan padaku detail dari sasaran berikutnya dalam misimu."

Rivaille terlihat bingung.

Misi apa?

Detail dari sasaran dalam misi ku?

Apa yang sedang dia bicarakan?

Rivaille hanya diam saja dan tidak mau menjawab.


Another Side

Di balik dinding kaca satu arah di hadapan Rivaille ternyata terdapat banyak sekali orang. Orang-orang itu yang memang sengaja menyiksa Rivaille. Orang-orang itu pula yang telah merencanakan semuanya dari awal. Mereka membawa Farlan dan Rivaille ke tempat seperti itu, lalu kemudian menyiksa mereka berdua. Akan tetapi, Rivaille tidak dapat melihat orang-orang di balik dinding kaca satu arah di hadapannya itu. Sebab, kaca itu hanya dapat di lihat dari satu arah saja. Di balik dinding kaca satu arah itu, berdiri seorang pria manis. Kedua mata cantiknya menatap lurus ke depan, ke arah Rivaille. Akan tetapi sayang sekali, Rivaille tidak dapat melihat apapun di hadapannya selain sebuah dinding kaca berwarna hitam.

"Katakan padaku apa kemajuannya?" Ucap Erwin.

Eren kemudian menyerahkan hasil laporannya tentang keadaan fisik Rivaille kepada Erwin. Dengan cermat, Erwin membaca semua isi laporan yang di berikan oleh Eren tersebut.

"Fisiknya sangat bagus, dia bisa tahan dengan reaksi dari suntikan tersebut." Eren menjelaskan.

Erwin menganggukkan kepalanya.

"Hanji, setelah satu jam, suntikkan Pentothal padanya." Erwin berbicara melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya, memberi perintah kepada seorang dokter wanita yang sedang bersama dengan Rivaille di ruang penyiksaan itu.

Eren mendelik mendengarnya, "Maaf, sir. Tapi Pentothal bisa membuatnya—" ucapan Eren terputus.

"Hanya dengan cara itu kita bisa tau sejauh apa fisiknya dapat melawan." Erwin langsung menimpali ucapan Eren.

"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rivaille?" Eren masih belum dapat menyetujuinya.

"Aku ini adalah atasanmu, jadi patuhi saja perintahku!" Erwin sedikit membentak pada nada bicaranya.

Eren hanya menunduk. Kedua tangannya mengepal. "Maafkan saya, Sir."

Armin yang duduk di samping Eren, merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.

"Kau kenapa, Eren? Bukannya sudah biasa bagimu melihat orang disiksa seperti itu? Kenapa kali ini kau terlihat khawatir sekali?" Armin melempar tatapan anehnya ke arah sahabatnya itu.

Eren menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa. Kata siapa aku khawatir?"

"Dari wajahmu terlihat sekali kalo kau khawatir."

"Tidak. Aku biasa saja."

"Kau berbohong." Armin masih terus memojokkan sahabatnya itu.

"Aku berbicara jujur, Armin." Eren mendelik menatap Armin.

Pandangan mata Eren kembali menghadap lurus ke depan, menatap ke arah Rivaille di hadapannya. Matanya terasa panas dan perih sekali.

Tentu saja barusan itu Eren berbohong.

Pria manis itu benar-benar merasa khawatir sekarang.

Eren takut, tubuh Rivaille tidak akan mampu menahan efek mengerikan dari Pentothal.


Keringat mengalir deras dari pelipis pria itu. Tubuhnya terasa semakin panas saja bagaikan terbakar. Jantungnya berdetak sangat cepat dan dengan tempo yang tidak teratur. Rivaille tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya.

"Rivaille, terus ingat bahwa siksaanmu yang sebenarnya masih belum dimulai."

Suara dari speaker itu terdengar kembali.

Sudah hampir satu jam setelah penyiksaan pertama. Wanita berpakaian serba putih layaknya seorang dokter yang berdiri di samping Rivaille itu, mulai menyiapkan sebuah suntikan lagi. Rivaille mendelik melihatnya. Wanita itu terlihat bersiap ingin menyuntik Rivaille kembali. Kali ini bukan dengan cairan suntikan biasa. Nafas Rivaille terasa tercekat kembali. Sudah tidak mungkin lagi baginya untuk dapat melawan. Ujung jarum suntikan itu perlahan mulai menembus kulit pucat Rivaille.

"Ini mungkin akan sedikit terasa amat sangat menyakitkan." Wanita berpakaian seperti dokter itu berbicara setengah berbisik.

Suara wanita itu sangat pelan, tapi Rivaille masih dapat mendengarnya.

"Akkh..." Rivaille merintih.

Kedua tangannya mengepal kuat menahan rasa sakit.

Urat di leher dan kepalanya mengalami kontraksi sangat hebat.

Keringat mengalir deras membasahi tubuhnya.

Jantungnya berdetak sangat lemah.

Paru-parunya perlahan mulai sulit digunakan untuk bernafas.

Kedua mata Rivaille terpejam rapat.

Nafasnya perlahan mulai melemah.

"Pentothal telah di suntik." Ucap wanita berpakaian seperti dokter itu. "Sepertinya berhasil, fisiknya mulai melemah dan dia tidak mampu lagi membuka kelopak matanya. Apakah tugasku sudah selesai?" Hanji kemudian meletakkan kembali suntikannya ke atas meja tempat peralatan.

Baru saja Hanji hendak ingin melepaskan sarung tangannya, tiba-tiba saja Rivaille perlahan membuka kedua matanya kembali.

Hanji kaget bukan main.

Dia masih bisa sadar?

Setelah disuntik dengan Pentothal?

Bagaimana mungkin!

Wanita itu langsung menekan tombol pada alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

"ERWIN, DIA MAMPU MEMBUKA MATANYA!" Hanji berteriak.

Rivaille benar-benar mampu membuka kedua matanya, lalu menatap lurus ke depan. Pandangan matanya seakan mampu menembus dinding kaca satu arah di hadapannya.


Another Side —

Erwin tercengang.

Ekspresi wajah pria tampan itu terlihat kaget bukan main.

Semua orang di balik dinding kaca satu arah itu semuanya ikut kaget.

"Tidak mungkin!" Ucap Erwin.

"Sekali Pentothal bereaksi, korban akan sulit untuk membuka kedua matanya sekalipun!" Armin bersuara. "Ini kejadian yang sangat langka. Farlan saja tidak berdaya setelah di suntik dengan Pentothal."

"Tolong periksa EGG dan pembaca deteksi kebohongan!" Perintah Erwin.

"Semua hasilnya berada pada jarak normal. Pikirannya sudah lengkap mengendalikan emosinya." Eren menimpali.

"Dengan kata lain, Rivaille kebal terhadap Pentothal. Begitu maksudmu?" Erwin menatap tajam ke kedua mata cantik milik pria manis yang berdiri di sampingnya itu.

Eren menganggukkan kepalanya. "Yes, Sir."

"Hanji, suntikkan Pentothal yang kedua." Erwin berbicara melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

"Sir, tapi itu berbahaya! Rivaille bisa mati!" Eren setengah berteriak.

"DIAM EREN!" Erwin membentak pria manis itu, "Jangan membantah."

Eren sempat kaget karena secara tiba-tiba dibentak sangat keras seperti itu. Pria manis itu kemudian melempar tatapannya ke arah lain. Bukan hanya matanya saja yang terasa perih, tapi hatinya juga.

Rivaile...


Hanji sedikit merasa shock mendengar ucapan Erwin barusan yang memintanya untuk menyuntikkan Pentothal yang kedua.

Pria itu gila atau bagaimana sih?

Wanita itu memejamkan kedua matanya. Memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Baru kali ini dia mendapati seorang pasien seperti Rivaille. Dirinya sendiri sebenarnya ragu untuk melakukan hal itu. Akan tetapi itu merupakan sebuah perintah. Sudah menjadi kewajiban baginya untuk patuh terhadap perintah.

Tapi apa dia yakin Rivaille akan baik-baik saja?

Bagaimana kalo pria ini mati?

Aku terlibat dalam kasus pembunuhan dong?

Hanji bingung harus bagaimana.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hanji mengisi kembali jarum suntiknya.

"Sungguh, ini pertama kalinya dalam hidupku bertemu dengan orang yang kebal terhadap Pentothal." Sorotan mata wanita itu terlihat bercahaya.

Suntikan kembali terisi penuh.

Rivaille melirik ke arah Hanji yang hendak menyuntiknya kembali.

"Maafkan aku, Rivaille. Mungkin kali ini rasa sakitnya akan lebih-lebih menyakitkan." Hanji memejamkan kedua matanya karena merasa tidak tega.

Lain dari reaksi Rivaille yang sebelumnya. Saat suntikkan itu mulai menancap di kulit pucatnya, Rivaille sama sekali tidak melawan ataupun meronta. Dia hanya memejamkan kedua matanya sambil memekik kesakitan.

Tubuhku mati rasa.

Tidak tau lagi apa itu rasanya sakit.

Menyakitkan sekali rasanya sampai aku tidak bisa merasakan apa-apa.

Bohong sekali jika Rivaille tidak merasakan sakit. Tubuhnya hampir mencapai batasnya. Semakin dia mencoba untuk melawan, rasa menyakitkan itu semakin terasa sangat sakit. Sekuat apapun dia mampu bertahan, dia tetap manusia biasa yang memiliki batas.

Suara dari speaker mulai terdengar kembali.

"Rivaille, akan aku tanya sekali lagi. Tugas apa yang kau terima dalam misi mu?"

Rivaille masih tidak mau menjawab.

Kedua matanya terpejam rapat dan tangannya mengepal kuat menahan rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit itu mulai menjalar ke seluruh badan dan saraf otaknya. Jika manusia biasa, mungkin tidak akan mampu menahan rasa sakit seperti itu.

"Berhenti menentang, Rivaille."

Suara dari speaker terdengar semakin keras.

"Semakin kau menentang, semakin kau tersiksa."

Suara dari speaker itu masih saja memaksa Rivaille untuk bicara.

"Jika kau masih saja melawan, itu bisa mendorong limitmu, dan kau bisa mati."

Rivaille membuka kedua kelopak matanya.

Tatapan matanya terlihat penuh emosi.

Pandangan matanya menatap lurus ke depan.

Seakan Rivaille mampu melihat siapa orang yang ada di balik dinding kaca satu arah di hadapannya itu. Orang itu yang secara tidak manusiawi telah tega menyiksanya seperti ini.

Apa katamu tadi?

Aku bisa mati?

Kau fikir kau bisa membunuhku hanya dengan sebuah suntikan?

Rivaille mencengkram kuat ikatan tali yang mengikat kedua tangannya. Kemudian menarik tali tersebut dengan sekuat tenaga.

CRASH!

Tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Rivaille terputus!

Rivaille menatap lurus ke dinding kaca satu arah di hadapannya. Tatapan matanya bagaikan seperti tatapan mata hewan buas yang sangat marah karena ketenangannya di usik oleh pengganggu.

Hanji nampak ketakutan dan dia mundur selangkah ke belakang.

"ERWIN, APA YANG HARUS AKU LAKUKAN? RIVAILLE BERHASIL LEPAS DARI IKATANNYA!" Wanita itu terlihat panik sekali.

"Beri dia suntikan penenang!" Ucap Erwin dari balik alat komunikasi yang terpasang di telinga wanita itu.

"KAU GILA! BAGAIMANA CARAKU MENYUNTIKKANNYA?" Hanji semakin panik.

"Cepat lakukan!" Erwin memutuskan komunikasinya.

"Sialan!" Hanji memaki.

Wanita itu memberanikan diri. Dia sibuk mencari-cari dimana dia menyimpan suntikan penenangnya. Ketemu!

Dengan sangat hati-hati, Hanji berjalan mendekati Rivaille dari belakang. Wanita itu berharap Rivaille tidak menyadari tindakannya itu. Setelah jaraknya sudah semakin dekat, Hanji lalu bersiap menancapkan suntikannya itu di tengkuk leher Rivaille. Akan tetapi, sedetik sebelum Hanji berhasil melakukan aksinya itu, Rivaille sudah terlebih dulu berbalik badan dan merebut suntikan itu dari tangan Hanji. Kemudian berbalik menyuntikkannya ke leher wanita itu. Hanji langsung jatuh tersungkur ke lantai, tidak sadarkan diri.

Rivaille lalu berjalan ke depan, menuju ke dinding kaca satu arah di hadapannya. Pandangan matanya sedikit kabur dan tidak fokus. Rivaille sempat jatuh limbung ke lantai, namun dia mampu bangkit kembali. Tangannya meraih palang besi di sudut ruangan tersebut, kemudian memukulkan palang besi itu ke arah dinding kaca satu arah di hadapannya. Sial. Dinding kaca itu ternyata telah di lapisis oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa pecah. Rivaille masih terus berusaha keras memukuli dinding kaca itu dengan sekuat tenaga.


Another Side —

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Suara palang besi yang di hantamkan pada dinding kaca satu arah itu membuat seluruh orang di ruangan itu merasa panik ketakutan.

Semua orang berdiri dan mundur ke belakang.

Eren adalah satu-satunya orang yang masih tenang menatap ke dinding kaca satu arah di hadapannya tanpa rasa panik sedikitpun. Kedua matanya menatap lurus ke depan, melihat dengan jelas tindakan mengerikan Rivaille yang terus-menerus memukuli dinding kaca di hadapannya itu.

Rivaille, aku mohon hentikan!

Apa kau dapat melihatku?

Apa kau sangat marah padaku?

Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu!

Kalimat itu hanya terucap di dalam hatinya.

Kedua mata Eren mulai berair. Pria manis itu menangis.

"Eren! Kenapa kau menangis? Jangan takut! Dinding kaca ini sudah dilapisi oleh sesuatu yang membuatnya tidak akan bisa pecah." Armin sedikit khawatir melihat sahabatnya itu menangis.

"Siapa yang menangis? Aku cuma kelilipan." Eren berbohong.

"Kau sekarang sudah mulai pintar berbohong." Armin tampak tidak mempercayai ucapan Eren tersebut.

Eren hanya diam saja. Kedua matanya hanya menatap lurus ke depan.

"Hebat sekali Rivaille, meskipun sudah disuntik Pentothal sebanyak dua kali, dia masih bisa mengamuk seperti itu." Armin menggelengkan kepalanya.

"Segel ruangan itu dan lepaskan gas saraf penenang!" Erwin memekik.

Baru saja Eren ingin protes, tiba-tiba...

"BIARKAN SAJA DIA!"

semua orang di dalam ruangan itu langsung mengalihkan pandangan mereka menuju ke arah sumber suara.

Dot Pixis tiba-tiba muncul dari belakang. "Dia akan berhenti sendiri jika tenaganya terkuras habis."

"Tapi Sir... Keadaan mentalnya tidak stabil, dia sangat berbahaya." Erwin tetap ngotot.

"Aku ingin melihat laporan fisiknya." Pixis melemparkan arah pandangan matanya menatap Eren yang berdiri di sampingnya.

Eren segera memberikan hasil laporan fisik Rivaille kepada pria paruh baya itu.

Pixis membaca dengan cermat isi laporan tersebut.

"Bawa Farlan dan Rivaille bertemu denganku." Pixis kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.

Semua orang di dalam ruangan itu saling berpandangan.

"Beliau selalu memiliki jalan pemikiran yang sangat sulit untuk di tebak." Ucap Erwin.


Rivaille mulai kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa lemas dan nafasnya mulai habis. Energinya benar-benar terasa terkuras. Percuma saja baginya memukuli dinding kaca satu arah itu. Dinding kaca itu telah dilapisi oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa pecah.

Cih... Sial!

Rivaille terduduk lemas sambil berusaha mengatur nafasnya kembali. Sesaat kemudian dia teringat sesuatu.

Farlan!

Rivaille langsung bangkit dan berjalan keluar ruangan tersebut.

Tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih membuatnya tidak bisa berjalan dengan benar. Rivaille menabrak meja peralatan sampai seluruh peralatan yang di letakkan di atas meja itu berguling berjatuhan ke lantai. Sesekali Rivaille tersandung lalu jatuh tersungkur, tapi kemudian dia bangkit kembali. Blok demi blok dilewatinya. Dia yakin sekali Farlan pasti berada pada tempat yang tidak jauh dari ruangan penyiksaannya.

Tadi pertama kali aku mendengar suara Farlan disini!

Rivaille menghentikan langkah kakinya. Dia menemukan sebuah ruangan yang pintunya tidak terkunci. Tanpa pikir panjang lagi, Rivaille langsung menerobos masuk ke dalan ruangan tersebut.

Benar dugaannya. Farlan ada di ruangan itu!

"FARLAN!"

Seorang penjaga yang sedang menjaga Farlan di ruangan itu langsung menyerang Rivaille. Dengan sekali tendangan, Rivaille mampu membuat penjaga itu jatuh pingsan. Rivaille lalu berjalan menghampiri Farlan yang terlihat terduduk lemas tidak berdaya di atas kursinya. Tangan dan kakinya masih terikat. Rivaille segera melepaskan ikatan yang mengiat tangan dan kaki Farlan. Mengguncangkan tubuhnya. Menepuk keras pipinya.

"FARLAN! KAU DAPAT MENDENGARKU? BANGUN, BODOH!"

Rivaille mengguncang badan Farlan sedikit lebih keras lagi.

"FARLAN! CEPAT BANGUN!"

Perlahan Farlan membuka kedua matanya.

Rivaille sedikit merasa lega.

"Kau tidak apa-apa? Bertahanlah! Kita akan pergi dari sini!"

Rivaille bersiap ingin memapah sahabatnya itu.

Akan tetapi, Farlan menggelengkan kepalanya.

"Rivaille..." Farlan bersuara sangat lemah.

"Apa?" Rivaille menatap sahabatnya itu.

"Kau saja yang pergi. Tinggalkan aku disini. Kita hanya akan tertangkap kalo kau pergi bersamaku." Farlan berbicara dengan suara sangat pelan.

"Apa maksudmu?" Rivaille mendelik.

"Aku tidak kuat berjalan..." Farlan tersenyum getir menatap sahabatnya itu.

"Bodoh. Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini. Percayalah padaku, Farlan." Rivaille kemudian memapah tubuh lemah Farlan pelan-pelan.

Keduanya kemudian berjalan bersama keluar ruangan itu. Farlan masih terus memegangi perutnya yang terasa sakit, rasanya mual sekali ingin muntah. Saat mereka berdua tiba di lorong sebelah utara, mereka di hadang oleh banyak sekali penjaga. Untung saja para penjaga itu tidak membawa senjata apapun. Rivaille lalu melepaskan tangan Farlan yang terangkul di lehernya, menyenderkan Farlan ke dinding. Menyuruh sahabatnya itu untuk duduk diam saja disitu. Kemudian Rivaille maju selangkah berdiri di hadapan Farlan.

"Maju kalian semua." Ucap Rivaille.

Salah seorang dari penjaga mulai menyerang terlebih dulu. Tangannya langsung ditarik dan diputar kebelakang badan oleh Rivaille sampai patah.

BRAK!

Penjaga itu jatuh tersungkur terjerembab ke lantai.

"Selanjutnya." Ucap Rivaille.

Penjaga yang lain saling berpandangan. Seolah bertanya Siapa yang berani maju duluan?

"Cih. Maju saja kalian semua sekaligus!" Rivaille mulai geram.

Para penjaga itu kemudian menyerang Rivaille secara bersamaan. Rivaille menendang, memukul, menonjok mereka semua satu persatu. Dua di antara mereka pingsan karena terpental dan menghantam dinding. Tiga di antaranya patah tulang kaki dan tangannya. Rivaille sendiri hanya mendapat satu pukulan telak di pipi dan membuat bibirnya sedikit mengeluarkan darah.

"Tch!" Rivaille meludahkan darah dari mulutnya.

Farlan tampak kagum pada sahabatnya itu. "Bravo. 8 lawan 1. Kau memang preman, Rivaille."

Rivaille hanya memasang wajah datar. Luka memar di pipinya sama sekali tidak keren dan mengurangi nilai plus pada wajah tampannya.

"Kau seharusnya membantuku, bukannya enak-enakan menonton." Rivaille memaki.

"Loh, kan kau sendiri tadi yang menyuruhku untuk duduk diam saja." Farlan terkekeh.

Rivaille memapah Farlan kembali. Kemudian melanjutkan berjalan menelusuri blok-blok yang lain. Setelah susah payah mereka berjalan dan menempuh lorong yang sangat panjang itu, akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah pintu besar. Tidak salah lagi, itu pasti merupakan pintu utama di markas ini. Farlan dan Rivaille saling berpandangan, kedua sorot mata mereka terlihat senang bukan main. Mereka berdua langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke pintu besar itu.

KREK! KREK!

KREK! KREK!

Rivaile berusah membuka pintu tersebut namun tidak bisa.

"Sial. Pintu ini pakai kode rahasia." Rivaille baru ingat. Dia terlihat frustasi dan membenturkan kepalanya ke pintu besar itu.

Farlan ikutan bingung. "Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Rivaille diam saja. Kedua matanya terpejam. Dia sedang berfikir.

"JANGAN BERGERAK!"

Tiba-tiba suara menginterupsi mereka dari belakang.

Farlan dan Rivaille berbalik badan ke belakang.

Di lihatnya tiga orang penjaga menodongkan pistol ke arah mereka.

"JANGAN MELAWAN ATAU KALIAN KAMI TEMBAK!"

Farlan langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. Berbeda dengan Rivaille yang tidak sudi menuruti ucapan tiga orang penjaga itu.

"Hei, kau mau mati di tembak ya?" Farlan berbisik namun sangat keras.

KLIK!

Suara pelatuk ditarik!

"ANGKAT TANGAN ATAU KAMI TEMBAK!"

Rivaille dengan malas mengangkat kedua tangannya ke atas.

"IKUT KAMI DAN JANGAN MELAWAN!"

Salah seorang penjaga menempelkan ujung pistolnya ke kepala Rivaille.

"...atau kepalamu aku ledakkan."

"Cih..." Rivaille akhirnya menurut saja dengan ucapan mereka.

Kemudian tiga orang penjaga bersenjata tersebut membawa Rivaille dan Farlan menuju ke sebuah ruangan.

Ruangan itu berbeda dari ruangan tempat penyiksaan mereka sebelumnya. Kali ini ruangan yang mereka masuki adalah sebuah ruangan sempit yang gelap dan hanya diterangi oleh satu cahaya lampu. Di dalam ruangan tersebut terdapat satu buah meja besar dengan dua buah kursi. Farlan dan Rivaille diminta untuk duduk di kursi tersebut. Tanpa banyak bertanya, mereka berdua langsung duduk di kursi tersebut. Keduanya saling berpandangan dan kemudian menundukkan kepala. Tidak ada salah satu dari mereka yang berani bicara. Rivaille menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, sedangkan Farlan memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

CEKLEK!

Suara pintu dibuka.

Farlan dan Rivaille langsung mengarahkan kedua pandangan mata mereka menuju ke arah pintu besar di ruangan tersebut. Seseorang menggunakan jas berwarna hitam, berjalan memasuki ruangan yang sempit dan gelap itu. Garis pada wajah orang itu memperlihatkan bahwa usianya sudah tidak muda lagi. Pria itu kemudian menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Farlan dan Rivaille.

"Selamat datang di NSS." Pria itu tersenyum ramah kepada Farlan dan Rivaille. "Aku adalah Wakil Direktur disini. Namaku Dot Pixis." Pria itu melanjutkan.

Farlan dan Rivaille saling berpandangan, keduanya terlihat bingung.

"NSS?" Farlan menaikkan sebelah alisnya.

"National Security System." Pixis memberi penjelasan.

"Tempat apa ini?" Farlan masih belum puas dengan jawaban yang dia dapat.

"Bukankah barusan aku sudah bilang kalo ini adalah NSS? Orang-orang biasa menyebutnya sebagai tempat Administrasi Keamanan Nasional. Katakan saja ini merupakan sebuah organisasi yang mengalahkan musuh-musuh yang dapat mengancam negara kita. Tidak ada bedanya dengan pelatihan pasukan militer yang pernah kalian masuki. Hanya saja, keberadaan NSS tidak di ketahui oleh orang luar." Pixis berbicara sambil berjalan memutari tempat duduk Farlan dan Rivaille.

"Kenapa kau lakukan ini kepada kami?" Rivaille membuka mulut.

"Rasa sakitmu selama waktu penyiksaan tadi mungkin memang cukup ekstrim. Anggap saja itu merupakan sebuah tes untuk menjadi anggota NSS."

Farlan mendelik. "Penyiksaan tadi itu hanya sebagai tes? Haha. Gila, aku tadi hampir saja mati!"

"Itu bukan merupakan tes biasa. Semua tes yang telah kalian jalani dari awal adalah untuk melatih fisik dan mental kalian. Penyiksaan yang kalian lewati tadi merupakan sebuah tes untuk mengetahui bagaimana kekuatan fisik kalian mampu bertahan apabila kalian tiba-tiba tertangkap dan disiksa seperti itu oleh musuh. Saat kalian tertangkap oleh musuh, tentu saja mereka akan mengorek informasi tentang misi yang kalian dapat."

Farlan dan Rivaille lalu terdiam.

"Negara sudah memilih kalian, tapi kalian tetap memiliki hak untuk menolak. Jika kalian ingin menolak, kalian bisa kembali. NSS sudah lama mengevaluasi kemampuan pertempuran kalian. Hasil yang kami dapat menunjukkan bahwa kalian memenuhi semua syarat yang di perlukan. Dan kalian baru saja lulus tes terakhir. Jika kalian berdua memutuskan untuk tetap tinggal, mulai sekarang kalian akan memulai latihan khusus selama 6 bulan. Dalam rangka untuk dapat menempatkan kalian ke dalam sebuah misi di lapangan. Pertimbangkan itu secara baik-baik dan buatlah sebuah keputusan." Pixis mengakhiri dialognya.

Pria paruh baya itu kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut, di ikuti oleh para penjaga yang berdiri di belakangnya.

Sekarang hanya tinggal Farlan dan Rivaille yang ada di dalam ruangan tersebut. Mereka berdua saling berpandangan.

"Bagaimana menurutmu, Rivaille?" Farlan melemparkan pandangannya ke arah Rivaille yang duduk di sampingnya.

Rivaille hanya diam saja tidak menjawab. Dia malah melemparkan pandangannya ke arah lain.

Farlan paham kalo sahabatnya itu sama bingungnya dengan dirinya, "Kalo kau memutuskan untuk ikut. Aku akan ikut. Kalo tidak, maka aku juga tidak."

Rivaille melirik Farlan di sampingnya. "Dasar tidak punya pendirian."

Farlan terkekeh. "Bukan begitu. Aku sudah menganggap kita ini keluarga, dan aku tidak mau berpisah dengan keluargaku."

Rivaille terdiam mendengar ucapan Farlan tersebut.

"Aku akan ikut."

Farlan terkejut mendengarnya, "Kau yakin?"

"Ya."

.

.

.


6 bulan kemudian...

Hari ini adalah hari pertama Farlan dan Rivaille datang ke kantor pusat NSS yang letaknya ada di bawah tanah pusat kota Tokyo. Alasan utama mengapa letak kantor tersebut berada di bawah tanah adalah karena itu merupakan satu-satunya lokasi yang tidak mudah untuk dapat diketahui oleh orang luar. NSS adalah sebuah organisasi rahasia anti-teroris yang bertugas penting untuk mencegah ancaman asing dan melindungi kepentingan negara melalui operasi rahasia, termasuk pembunuhan siapa saja yang bisa menjadi ancaman bagi keamanan Nasional. Keberadaan NSS tetap menjadi rahasia negara termasuk Presiden. Hanya orang yang bersangkutan saja lah yang tau dan dapat masuk ke dalam kantor pusat tersebut. Kantor pusat NSS ini memiliki pengawasan yang cukup ketat. Bahkan jika ingin naik lift saja, di dalam lift tersebut terdapat sebuah sensor pendeteksi untuk mengetahui identitas orang yang sedang berada di dalam lift. Jika identitas orang itu tidak sesuai, makan pintu masuk lift tidak akan mau terbuka dan orang itu tidak akan bisa masuk ke dalam.

Seorang penjaga berpakain berwarna hitam meminta Farlan dan Rivaille untuk masuk ke dalam lift. Setelah pintu lift terbuka, keduanya dipersilahkan masuk ke dalam. Kemudian penjaga itu berdiri di belakang mereka. Sensor pendeteksi yang terpasang di dalam lift itu berbunyi. Sinar sensor itu memeriksa Farlan dan Rivaille dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Setelah identitas mereka terbukti sesuai, pintu lift kemudian secara otomatis terbuka. Keduanya langsung berjalan keluar dari dalam lift. Penjaga yang semula berdiri di belakang mereka, berjalan lebih dulu di hadapan mereka, menunjukkan jalan yang harus mereka lewati.

Jadi ini markas besar NSS?

Besar banget!

Keren!

Setidaknya seperti itulah isi kepala Farlan. Dia tidak bosan-bosannya melihat ke arah kanan dan kirinya. Para pekerja yang lain terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Kebanyakan di antara mereka bekerja sambil duduk di hadapan komputer dengan menggunakan berbagai alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka. Sebagian lagi terlihat sibuk mengepak dokumen dan membawanya kesana dan kemari, mereka terlihat sibuk mondar-mandir. Semua pekerja disana bekerja secara serius. Farlan berdecak kagum.

"Oi, mau sampai kapan kau senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras?" Rivaille menyikut sahabatnya itu.

Farlan mengaduh karena secara tiba-tiba pinggangnya disikut keras seperti itu. Farlan langsung menundukkan kepalanya malu dan berjalan lebih cepat mengikuti Rivaille yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.

"Gak usah pake nyikut bisa kali." Farlan berbicara setengah berbisik.

Penjaga yang mengantar mereka tadi, menghentikan langkah kakinya di depan sebuah ruangan yang di penuhi dengan meja dan kursi. Farlan dan Rivaille dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di kursi itu.

"Mohon tunggu sebentar." Petugas itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.

Farlan dan Rivaille kemudian duduk di salah satu kursi di dalam ruangan itu. Kedua mata mereka terus menerus bergerak menatap ke seluruh sudut ruangan.

"Lumayan bersih." Ucap Rivaille.

Farlan menoleh. "Jangan samakan tempat ini dengan asrama tempat tinggal kita saat masih di pelatihan."

Rivaille hanya mengedikan bahunya.

Setelah hampir dua puluh menit mereka berdua duduk menunggu, tiba-tiba dari pintu masuk ruangan tersebut muncul banyak sekali orang. Rivaille mengalihkan pandangan matanya menuju ke arah pintu masuk, lalu melihat dengan jelas siapa saja orang-orang yang baru masuk itu. Kedua mata sipit Rivaille mendadak terbuka lebar. Dia sangat terkejut saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya. Bukan! Orang itu yang tiba-tiba muncul di dalam kehidupannya, lalu tanpa tanggung jawab tiba-tiba pergi menghilang begitu saja dari kehidupannya. Orang yang selama ini dicari-cari olehnya!

Eren?

Kondisi Farlan juga tidak jauh berbeda dengan Rivaille. Farlan juga sama terkejutnya. Bagaimana tidak? Teman lamanya yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri ternyata adalah bagian dari NSS juga!

Erwin?

Meskipun sebenarnya Farlan juga sempat kaget sih melihat pria manis berambut brunette yang sedang berdiri di samping Erwin itu. Farlan sama sekali tidak pernah menyangka kalo dia bisa bertemu lagi dengan pria manis itu disini.

"Aku adalah ketua anti-teroris NSS. Pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat datang di NSS." Erwin membuka percakapan. "Nanaba dan Ymir, silahkan perkenalkan diri kalian."

"Namaku Ymir, yoroshiku onegaishimasu."

"Namaku Nanaba, yoroshiku onegaishimasu."

Ymir dan Nanaba menunduk memberi hormat secara bersamaan dan tersenyum ke arah Farlan dan Rivaille.

"Ymir adalah salah satu hacker hebat. Dia akan membantu kalian dalam pekerjaan yang berhubungan dengan komputer. Sedangkan Nanaba, dia akan banyak membantu kalian di markas besar selama kalian menjalani misi." Erwin melanjutkan bicaranya.

"Nanaba dan Ymir, kalian boleh kembali bekerja." Erwin memerintahkan mereka berdua untuk kembali. Keduanya lalu menurut dan berjalan pergi meninggalkan ruangan.

"Dan pria manis yang berdiri di sampingku ini adalah Eren Jaeger. Dia adalah pimpinan tim sekaligus atasan kalian nanti. Dia adalah ahli profile. Karena kalian berdua akan mulai terbiasa di NSS, kalian akan butuh banyak bantuannya." Erwin menatap Farlan dan Rivaille secara bergantian.

"Aku ingin pergi, ada yang ingin kau bicarakan dengan mereka berdua?" Erwin bertanya kepada Eren yang berdiri di sampingnya.

"Ada." Eren menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.

"Baiklah. Oh, jangan lupa nanti setelah itu ajak mereka berdua minum bersama di restoran." Erwin menepuk pundak Eren, kemudian berlalu pergi.

Eren tersenyum dan mengangguk mengerti.

Kini di dalam ruangan tersebut hanya ada Farlan, Rivaille, dan Eren. Baru saja Eren hendak memulai pembicaraan, tiba-tiba saja Farlan menahannya.

"Tunggu sebentar, aku ingin bicara dengan Erwin. Boleh aku keluar?" Farlan meminta izin kepada Eren. Pria manis itu kemudian mengnggukkan kepala.

"Siahkan."

Farlan langsung bergegas mengejar Erwin keluar.


Another Place —

Farlan menarik kasar lengan baju Erwin.

Erwin nampak terkejut melihat perlakuan Farlan yang tiba-tiba itu.

Farlan menyeret Erwin menuju ke toilet umum, kemudian menarik kuat kerah baju pria itu.

"APA MAKSUDMU? JADI SELAMA INI KAU ADALAH ANGGOTA NSS? DAN KAU SENGAJA MENJEBAKKU MASUK KESINI?"

Farlan tidak bisa lagi menahan emosinya.

"Farlan, tenanglah. Perbuatanmu ini bisa tertangkap kamera CCTV. Di NSS tidak ada tempat yang tidak ada kamera CCTV nya." Erwin melirik ke arah kamera CCTV di sudut kiri atas mereka.

Farlan ikut melirik. Kemudian melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju pria itu.

Erwin membenarkan kembali kerah bajunya yang sedikit berantakan, "Aku minta maaf. Aku sebenarnya ingin sekali bicara semuanya padamu, hanya saja aku tidak pernah mendapatkan kesempatan yang tepat."

Farlan mendelik, "Tapi aku hampir mati saat tes penyiksaan itu!"

"Aku tau! Aku pun pernah mengalami hal yang sama saat pertama kali masuk kesini. Aku mengerti bagaimana rasanya. Aku minta maaf karena tidak pernah mengatakan apapun padamu tentang ini." Erwin menatap Farlan penuh rasa bersalah.

Rasa kesal mungkin masih ada di dalam diri Farlan, akan tetapi dia tidak pernah bisa membenci Erwin sama sekali. Dia sudah menganggap pria itu sebagai kakaknya sendiri.

Farlan kemudian mengagguk, "Ya. Sudah aku maafkan."


Setelah Farlan meminta izin pergi keluar sebentar untuk berbicara dengan Erwin, kini di dalam ruangan itu hanya tersisa Eren dan Rivaille.

Mereka berdua duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja besar di depan mereka. Eren terlihat pura-pura sibuk merapikan berberapa dokumen. Rivaille terus memperhatiakan Eren.

"Pertemuan pertama kita di kampus adalah bagian dari rencanamu kan?" Rivaille membuka mulut.

Eren menatap pria tampan di hadapannya itu, kemudian tersenyum. "Ya, benar."

"Apa maksudmu melakukan itu?"

"Aku adalah ahli profile. Tentu saja aku melakukan hal itu untuk mendapatkan apapun yang kucari tentangmu."

"Kenapa kau tidak jadi aktor saja? Akting mu itu bagus sekali. Aku bersedia jadi manager mu. Aku bertaruh, kau akan mendapatkan uang yang banyak."

Eren tersenyum. "Aku bisa menjadi aktor kapan pun aku mau jika itu termasuk ke dalam bagian dari misi ku."

"Kau tau? Aku mencarimu kemana-mana." Rivaille berkata jujur.

Eren menatap pria tampan itu lagi. "Oh ya? Lalu apa yang kau dapat?"

"Tidak ada."

Eren menahan diri ingin tertawa. "Kasihan sekali."

Beberapa saat kemudian, Farlan tiba-tiba muncul. "Maaf, membuat kalian menunggu." Pria itu cuma nyengir saja, lalu duduk di samping Rivaille.

Eren mengangguk, "Baik. Aku hanya akan menjelaskan tugas kalian selama menjadi anggota NSS. Mungkin kalian sudah mengetahuinya selama pelatihan. Aku tidak tau pasti kapan kalian akan diberikan sebuah misi. Jadi yang terpenting adalah kalian harus mampu mempersiapkan diri kalian selama 24 jam. Ada pertanyaan?"

Farlan dan Rivaille diam saja. Keduanya malah asyik melamun memandangi Eren yang sedang berbicara di hadapan mereka.

"Ehm..." Farlan dan Rivaille langsung tersadar dari lamunannnya. "Kalo tidak ada pertanyaan, kalian ikut aku sebentar." Eren lalu berjalan ke luar ruangan.

Farlan dan Rivaille berpandangan sejenak. Kemudian bangkit dari tempat duduk mereka dan berjalan mengikuti Eren di belakang.

Eren menghentikan langkah kakinya di depan sebuah ruang otopsi mayat. Farlan dan Rivaille terlihat bingung kenapa mereka di ajak ke tempat seperti itu. Eren kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Farlan dan Rivaille mengekor di belakang pria manis itu. Di dalam ruangan itu penuh sekali dengan peralatan yang biasa digunakan untuk melakukan otopsi pada mayat. Di atas sebuah meja ada sebuah mayat yang tertutup kain berwarna putih. Farlan sedikit merinding.

"Ini adalah tempat dimana kita melakukan otopsi yang berhubungan dengan misi." Eren memberi penjelasan.

Pria manis itu kemudian berjalan mendekati mayat yang tertutup oleh kain berwarna putih di atas meja, lalu berbicara dengan suara pelan. "Sensei, tolong perkenalkan. Mereka adalah anggota baru NSS."

Mayat yang tertutup oleh kain berwarna putih itu tiba-tiba saja bangun!

"WOAAAAAAAA!" Farlan menjerit karena kaget.

Rivaille tetap saja dengan wajah datarnya.

Ternyata sesuatu yang tertutup kain berwarna putih itu bukanlah mayat. Dia adalah dokter wanita yang waktu itu menyuntik Rivaille berkali-kali.

"Kau..." Rivaille menunjuk dokter wanita shinting itu.

"HOOAAAAAAAMM~!" Dokter wanita itu menguap sangat lebar.

Kemudian wanita itu tersenyum. "Oh, halo. Kita bertemu lagi ya disini. Perkenalkan namaku adalah Hanji Zoe. Maaf ya karena waktu itu aku menyuntikmu berkali-kali. Sebenarnya sih aku tidak tega. Cuma ya terpaksa. Selamat datang di NSS." Wanita itu kemudian senyum-senyum sendiri.

Rivaille menghela nafas. "Ya."

Hanji lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rivaille, wanita itu menatap Rivaille sangat lekat tanpa berkedip. Farlan dan Eren berpandangan dan terlihat bingung melihat sikap Hanji yang menatap Rivaille seperti itu. Rivaille yang ditatap hanya memasang wajah datar.

"Seorang pria yang bertarung melawan Monster, harus berhati-hati untuk tidak menjadi seorang Monster. Ingat itu, Rivaille." Wanita itu kemudian kembali tidur dan menutup wajahnya lagi dengan selimut.

"Kalian pergi sana! Aku mau tidur lagi!" Ucap Hanji.

Eren hanya mengedikkan bahunya lalu meminta Farlan dan Rivaille untuk meninggalkan ruangan itu. "Terimakasih banyak, sensei. Maaf sudah mengganggu." Eren berbicara sangat sopan sebelum pria manis itu pergi.

Farlan dan Rivaille segera menyusul Eren keluar. Rivaille terlihat masih kepikiran dengan kata-kata Hanji padanya tadi.

Eren yang berjalan di depan, tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. Pria manis itu teringat sesuatu. "Oh iya, kalian berdua mendapat undangan dari ketua untuk minum bersama di sebuah restoran. Setelah pekerjaan selesai, aku harap kalian bersedia untuk memenuhi undangan tersebut."

Farlan dan Rivaille mengangguk.

"Urusan kalian denganku sudah selesai. Kalian boleh kembali bekerja." Pria manis itu kemudian tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Farlan terlihat senyum-senyum sendiri. "Eren itu lebih muda dari kita, tapi dia malah jadi atasan kita. Muka manisnya itu sulit sekali membuatku takut. Iya kan, Rivaille?"

Rivaille membuang tatapannya ke arah lain, malas meladeni ucapan Farlan. Dia malah ngeloyor pergi.

Farlan mendelik tidak percaya dirinya dicuekkin. "Sialan..."

.

.

.


Farlan dan Rivaille menghadiri undangan untuk minum bersama di sebuah restoran. Restoran yang mereka datangi bernuansa sangat romantis. Mereka berdua datang sedikit terlambat, sebab saat dalam perjalanan menuju kemari, mereka sempat tersesat saat mencari lokasi restoran tersebut. Saat Farlan dan Rivaille memasuki restoran itu, di dalam sana sudah ada Erwin dan Eren yang duduk di sebuah meja menunggu kedatangan mereka berdua. Erwin melambaikan tangannya ke arah Farlan dan Rivaille yang terlihat baru datang. Eren melemparkan arah pandangannya ke arah dua pria tampan itu. Eren lalu tersenyum manis ke arah mereka berdua. Farlan dan Rivaille kemudian berjalan mendekati meja tempat Erwin dan Eren duduk. Keduanya lalu ikut bergabung dengan mereka. Eren sedikit menggeser tempat duduknya dan meminta Rivaille untuk duduk disampingnya. Pria tampan itu menurut saja. Meja mereka sudah penuh dengan berbagai macam minuman beralkohol serta beberapa makanan kecil. Erwin sengaja memesan semua minuman itu sebelum Farlan dan Rivaille datang. Farlan kemudian menuang minumannya ke dalam gelas. Erwin juga ikut menuang minumannya ke dalam gelas. Mereka berdua kemudian bersulang.

"Kapan kita akan mendapatkan misi pertama kita?" Rivaille bersuara.

Erwin dan Farlan yang baru saja ingin meminum minuman mereka, tiba-tiba saja berhenti mendengar pertanyaan Rivaille itu.

"Kenapa? Kau sudah tidak sabar? Tunggu saja." Erwin tertawa.

Drrrt.

Drrrt.

Drrrt.

Tiba-tiba saja ponsel Eren bergetar. Satu panggilan masuk. Eren melihat ponselnya sekilas lalu meminta izin untuk keluar sebentar.

"Aku angkat telfon dulu." Eren langsung bergegas pergi keluar restoran.

Farlan dan Erwin terlihat asyik kembali dengan minuman mereka. Entah kenapa Rivaille malah sibuk memperhatikan Eren yang sedang mengangkat telfon di luar. Matanya seakan tidak pernah bisa lepas dari pria manis itu.

"Sepertinya istri Wakil Direktur tidak tau tentang riwayat pekerjaan suaminya ya?" Farlan membuka pembicaraan.

"Karena pekerjaan suaminya itu sangat menakutkan. Jadi, tidak aneh kalo beliau merahasiakannya dari istrinya. Wakil Direktur sudah merahasiakan riwayat pekerjaannya itu dari istrinya selama 40 tahun. Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Namun demikian, beliau pantang menyerah." Erwin berbicara panjang lebar.

Setelah itu mereka bertiga kembali bersulang.

Rivaille nampak bosan dengan acara minumnya. Pandangan matanya malah terus saja melirik ke arah luar restoran, memperhatikan Eren yang masih saja mengangkat telfon di luar. Lama sekali dia telfonannya.

Rivaille kemudian berdiri dari kursi tempat duduknya dan menyusul Eren keluar restoran.

Erwin dan Farlan yang terlalu asyik minum berdua sampai tidak sadar kalo Rivaille pergi menyusul Eren keluar.

Saat Rivaille tiba di luar restoran, pria itu kemudian berdiri di belakang Eren.

Eren sama sekali tidak menyadari kalo Rivaille sedang berdiri di belakangnya, karena pria manis itu sedang sibuk mengangkat telfon. Rivaille hanya diam saja berdiri di belakang Eren.

"—baik, iya. Besok aku hubungi kembali ya. Terima kasih." Eren menutup telfonnya. Dia kemudian memutar badannya ke belakang dan terkejut melihat Rivaille sedang berdiri di belakangnya.

"Ada apa?" Eren kelihatan bingung.

Rivaille hanya diam saja dan malah terus menatap kedua mata pria manis di hadapannya itu. Rivaille malah semakin melangkahkan kakinya mendekati Eren.

Eren sedikit merasa takut, tapi pria manis itu tetap berusaha bersikap biasa saja. "Ada yang ingin kau bicarakan denganku?"

Eren mundur selangkah saat Rivaille melangkahkan kakinya lagi untuk mendekatinya.

"Jika kau main-main dengan hati seseorang, apa tidak seharusnya kau minta maaf? Karakter rendahan macam apa kau ini?" Rivaille membuka mulut.

Eren sangat tertohok sekali dengan ucapan Rivaille. "Jaga kata-katamu. Aku ini atasanmu!" Eren kemudian bersiap melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pria itu.

Baru saja Eren ingin melangkahkan kakinya, Rivaille tiba-tiba saja menarik dengan kuat lengan pria manis itu dan mendorongnya ke tembok. Rivaille lalu mengunci pergerakan tangan dan kaki Eren hingga pria manis itu tidak bisa lagi pergi kemana-mana.

Eren terkejut dengan perlakuan Rivaille yang kurang ajar sekali padanya itu. Pria manis itu berusaha mendorong dengan kuat badan Rivaille yang berdiri di hadapannya. Tangannya terus-menerus memukuli lengan kekar milik pria itu. Akan tetapi usahanya itu sia-sia saja. Tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Rivaille.

Eren merasa kesal sekali. "Kau mau apa?"

Rivaille mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. "Kau adalah ahli profile kan? Selama kau mencari tau apapun tentangku, apa yang berhasil kau dapat?"

Eren memalingkan wajahnya ke samping. Matanya yang cantik itu melirik tajam ke arah Rivaille.

"Silahkan saja jika kau memiliki kepribadian macho. Kau itu cuma macho di luar saja, tapi di dalam kau berusaha untuk menutupi masa lalumu!"

Rivaille sedikit tersinggung mendengar ucapan Eren tersebut.

"Dari awal kita bertemu, kau sudah jatuh cinta kan padaku?" Eren tersenyum sinis.

Rivaille merasa emosi saat Eren berbicara seperti itu, ingin rasanya Rivaille meluapkan emosinya saat itu juga.

"Tapi sayang, hubungan antara sesama agen NSS itu dilarang. Dan kalaupun mereka mengijinkannya, aku paling benci tipe pria sepertimu!" Eren sedikit membentak saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

Rivaille masih saja bungkam.

Eren masih belum merasa puas. "Dan satu hal lagi, aku ini atasanmu. Jika kau bersikap seperti ini terhadapku, maka aku akan—"

Eren berhenti berbicara ketika dengan tiba-tiba Rivaille mencium bibirnya.

Kedua mata Eren terbuka lebar. Pria manis itu sangat terkejut. Eren mencoba melawan, meronta, dan mendorong Rivaille sekuat tenaganya. Akan tetapi Rivaille malah semakin memperdalam ciumannya.

Ciuman yang tiba-tiba itu membuat Eren tidak bisa menghindar saat dengan cepat lidah Rivaille langsung bergerak masuk menjilati rongga atas mulutnya. Mengulum dan melumat bibirnya. Menjlatinya seperti sebuah eskrim.

"Nghh..." Eren mulai menikmati ciuman itu. Kedua matanya terpejam. Tangannya yang semula melawan dan terus memukuli dada Rivaille, kini berpegang kuat pada lengan pria itu. Mencengkramnya seakan tidak ingin Rivaille melepaskan ciumannya. Rivaille menekan tengkuk leher Eren untuk semakin memperdalam ciumannya.

Sesaat kemudian, Rivaille mulai melepaskan ciumannya.

Eren masih menutup kedua matanya, wajahnya benar-benar memerah. Perlahan Eren membuka kedua matanya, menatap lurus kedua mata Rivaille. Mata Eren terlihat berair. Pria manis itu menangis. Eren lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya. Rivaille memeluk kepala pria manis itu, meletakkannya di pundaknya. Terdengar di pendengaran Rivaille, suara isakan tangis Eren. Rivaille membelai lembut rambut pria manis itu. Hatinya terasa teriris mendengar Eren menangis.

"Kenapa... hiks... kau menciumku?" Eren berbicara dengan suara sangat pelan tapi mampu di dengar oleh Rivaille.

"Maaf." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.

Eren lalu mendorong Rivaille dengan kuat sampai pria itu mundur ke belakang.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Rivaille.

Eren kemudian pergi meninggalkan Rivaille.

Rivaille masih berdiri di tempatnya.

Pipinya terasa panas dan perih sekali.

Kalo Rivaille bisa menangis, mungkin dia ingin sekali menangis.

Kenapa dia tidak mampu bergerak saat Eren menamparnya tadi?

Kenapa dia hanya diam saja membiarkan Eren pergi?

Setelah sikap kurang ajarnya yang telah berani menciumnya tadi.

Dan membuatnya menangis.

"Dasar Brengsek kau, Rivaille."

Rivaille kemudian meninju tembok yang ada di hadapannya hingga buku-buku jari tangannya mengeluarkan darah.

.

.

.

To be continued.


A/N: halo, Saya merilis chapter keduanya. Karena takut ceritanya terlalu panjang, jadi saya stop dulu disini saja ya, nanti di kesempatan mendatang mungkin akan saya lanjutkan kembali. Saya mohon maaf sekali jika dalam penulisan fanfic ini masih banyak kalimat yang kurang jelas atau alur ceritanya yang membingungkan. Saya tidak pandai merangkai kata-kata jadinya ya seperti ini.

Saya juga mohon maaf jika dalam pengetikan masih ada beberapa kata/kalimat yang salah. Saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila fanfic ini terkesan aneh atau gak jelas. /sungkem

Saya akan sangat menerima dengan senang hati kritik dan saran kalian semua untuk bisa memperbaiki kesalahan saya.

Terima kasih banyak karena sudah mau membaca.

Heichouxi-


Pentothal : merupakan zat yang sering digunakan sebagai obat penenang selama masa eksekusi penjara, dapat pula digunakan dalam dosis ringan sebagai serum kejujuran. Walau bagaimanapun, zat ini tidak membuat seseorang berkata jujur, hanya membuat pengguna lebih merasa senang untuk mengatakan hal-hal yang sebenarnya.

Stethoscope : merupakan sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh. Biasanya banyak digunakan untuk mendengarkan suara detak jantung dan pernapasan, dapat juga digunakan untuk mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan vein.

Hacker : orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer, baik untuk keuntungan atau dimotivasi oleh tantangan.

Otopsi : merupakan sebuah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.