Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

[ Cover is not mine ]

a RivaEre Fanfiction Written by Heichouxi

SNIPER

Action, Mystery, Thriller, Romance

Rate: M

Warnings: AU, Yaoi/BL/BoyXBoy/MaleXMale, Deskripsi agak ngawur, EYD berantakan, Bahasa tidak baku, OOC, Alur cerita yang bergonta-ganti.

.

.

.

Don't Like? Don't Read, Don't Flame.

.

.

.

Enjoy Reading.

.

.

.


Semenjak kejadian di restoran tempo hari yang lalu, Eren tidak pernah lagi berbicara dengan Rivaille. Setiap kali mereka berdua bertemu atau berpapasan saat di ruangan tempat mereka bekerja, keduanya tidak pernah saling menegur atau menyapa satu sama lain. Hal tersebut tentu membuat Eren merasa tidak nyaman, karena walau bagaimanapun dirinya adalah seorang pimpinan tim sekaligus atasan Farlan dan Rivaille, yang secara tidak langsung mereka bertiga pasti akan sering terlibat dalam pekerjaan yang sama. Perubahan sikap Eren dan Rivaille yang semakin hari semakin terlihat berbeda itu, kerap kali membuat Farlan merasa curiga. Bagaimana tidak? Farlan akhir-akhir ini lebih sering jadi perantara di antara mereka berdua. Misal, Eren ingin memberi tahu sesuatu hal kepada Rivaille, tapi Eren meminta Farlan saja yang menyampaikannya. Kenapa tidak ngomong saja sendiri ke orangnya? Lama-kelamaan Farlan merasa jengah juga.

"Eren memintamu untuk menemuinya di gedung atap kantor." Farlan berbicara setengah berbisik kepada Rivaille.

Rivaille melirik sekilas. "Untuk apa?"

"Mana aku tahu!" Farlan mengedikan bahunya.

Rivaille kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.

"Tunggu apa lagi? Sudah temui saja sana!" Farlan menyikut sahabatnya itu. "Siapa tahu dia mau membicarakan hal yang penting."

Rivaille menghentikan perkerjaannya, lalu bangkit dari kursi tempat duduknya

"Ya. Bawel."

Farlan hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku sahabatnya itu.

Rivaille melangkahkan kakinya menuju ke gedung atap kantor. Selama Rivaille bekerja disini, dia belum pernah sekalipun pergi ke tempat itu. Jadi, Rivaille tidak tahu sama sekali apa tujuan Eren memintanya untuk menemuinya di tempat itu. Jika ingin berbicara, kenapa tidak berbicara langsung saja saat di ruangan kerja. Setelah sampai, Rivaille langsung menghentikan langkah kakinya. Di hadapannya sudah berdiri seorang pria manis yang menunggu kedatangannya. Eren melirik seseorang yang baru saja datang itu. Kali ini pria manis itu tidak tersenyum. Wajah Eren sangat tidak terlihat ramah sama sekali. Dengan tenang, Rivaille perlahan melangkahkan kakinya mendekati pria manis itu.

"Ada apa memanggilku?"

"Aku ingin berbicara padamu."

"Kenapa harus disini?"

"Karena ini satu-satunya tempat di NSS yang tidak dipasangi kamera CCTV."

"Kau ingin bicara apa?"

"Masalah kemarin."

"Masalah yang mana?"

Eren terlihat sangat geram dan kesal sekali dengan sikap Rivaille yang seperti itu. Tapi pria manis itu mencoba untuk meredam emosinya.

"Apa aku terlihat gampangan bagimu?" Mata Eren mulai terasa perih.

Rivaille dapat melihat dengan jelas perubahan di kedua mata Eren. Pria manis di hadapannya itu, mungkin sebentar lagi akan segera menangis.

Baru saja Rivaille ingin menjawab, Eren berbicara lagi.

"Atau, jangan-jangan... organisasi NSS hanya terlihat sebagai lelucon bagimu?"

"Eren, aku tidak bermaksud—"

"Apa kau sadar kalo perbuatanmu tempo hari yang lalu terhadapku sangat kurang ajar? Kau tidak menghargaiku sama sekali sebagai atasanmu, Rivaille!" Hati Eren terasa mencelos.

Kedua tangan Rivaille mengepal kuat. Dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk berbicara.

"Dan perlu kau thau, NSS tidak akan bertoleransi untuk masalah hubungan pribadi di antara para agen. Ingat itu!" Eren lalu melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan Rivaille.

Sudah puas bicaranya?

Sekarang giliran aku yang bicara!

Rivaille menggenggam kuat tangan Eren yang hendak pergi meninggalkannya. Eren menoleh kembali ke arah pria itu. "Apa lagi?"

"Dengarkan aku dulu..." Genggaman Rivaille di tangan Eren semakin kuat. "Sebelum aku selesai bicara, kau tidak boleh pergi."

Eren menatap kedua mata Rivaille. Memberi kesempatan untuk pria itu berbicara. "Bicara saja."

"Kau tahu kenapa aku bersedia bergabung dengan NSS? Jujur saja, aku tidak tahu apapun tentang organisasi ini. Sama halnya ketika aku berada di dalam pasukan khusus, mempertaruhkan hidupku hanya untuk menyelesaikan misi-misi yang diberikan. Aku memiliki pemikiran, mungkin saja ini adalah takdirku. Begitupula saat pertama kali aku bertemu denganmu, mungkin memang sudah takdirku terjebak disini, bersama denganmu. Dan aku tidak pernah sekalipun menganggapmu gampangan." Rivaille berhenti berbicara. Perlahan dia mulai melepaskan genggaman tangannya pada tangan Eren.

Air mata menetes di kedua pipi lembut Eren. Pria manis itu memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan air matanya. Eren tidak ingin Rivaille melihat kalo dia menangis. Tentu saja Rivaille sudah tahu kalo Eren menangis. Rivaille kemudian merengkuh pria manis itu ke dalam pelukannya, lalu memeluk kepalanya. Eren sangat terkejut dengan perlakuan Rivaille tersebut, akan tetapi Eren tidak mencoba melawan. Eren malah semakin menangis sejadi-jadinya di pelukan Rivaille.

"Setiap kali melihatmu menangis, aku ingin sekali menghajar diriku sendiri." Rivaille berbicara sangat pelan tapi mampu di dengar oleh telinga Eren.

Perlahan isakan tangis Eren mulai berhenti.

Rivaille merasa lega karena Eren mulai berhenti menangis. "Jangan cengeng."

"Aku sungguh tidak paham, kau itu manusia atau bukan." Eren mulai berani berbicara setelah tangisannya berhenti.

"Tentu saja aku manusia." Rivaille masih belum mau melepaskan pelukannya.

"Meskipun kau itu manusia, prinsipku masih belum berubah." Eren pasrah saja dipeluk begitu.

"Prinsip apa?"

"Aku tidak tertarik dengan tipe pria macho."

Kedua alis Rivaille saling bertaut. "Tch. Ya. Ya. Terserah kau saja."

.

.

.


Semenjak Farlan dan Rivaille tergabung dengan NSS, mereka berdua tidak lagi tinggal dan tidur bersama di asrama pengap dan sempit yang dulu pernah mereka tempati saat mereka masih menjalani pelatihan militer. Tempat tinggal yang mereka tempati sekarang adalah sebuah apartemen yang luas dan mewah dengan fasilitas yang sangat lengkap. Mereka mendapatkan apartemen tersebut secara cuma-cuma, mereka hanya perlu membayarnya dengan dipotong gaji saja setiap bulannya. Farlan terlihat sedang bersantai. Kakinya duduk berselonjor di atas sofa empuk sambil menonton acara televisi. Acara yang sedang di tontonnya adalah sebuah drama komedi tentang kisah para vampire yang mencari darah suci untuk bertahan hidup di tengah panasnya gurun pasir. Farlan terlihat tertawa tanpa henti sambil memegangi perutnya yang sakit saat melihat si vampire merana dan nelangsa sebab tidak kunjung mendapatkan mangsa untuk diminum. Tiba-tiba saja satu lemparan telak mengenai wajah tampan Farlan, sebuah kain lap berwarna putih mendarat mulus di atas wajahnya. Farlan mencari-cari siapa orang yang berani sekali mengganggu acara menonton televisinya dan dengan sangat kurang ajar melemparnya dengan kain lap. Siapa lagi kalo bukan Rivaille!

"Jangan tertawa keras-keras, suaramu terdengar sampai keluar pagar." Rivaille berkomentar, pria itu terlihat sedang sibuk membersihkan ruang tamu dengan mesin penyedot debu.

Farlan memainkan remot televisi yang dipegangnya. "Kau ini masih saja sempet-sempetnya bersih-bersih, seharusnya kau memanfaatkan waktu luang dengan menonton televisi, itu bisa menghilangkan penat."

"Kalo bukan aku yang membersihkan debu-debu ini, memangnya siapa lagi? Kau kan tidak becus kalo disuruh bersih-bersih!" Rivaille memaki.

"Aku ini kan bukan cleaning service." Farlan jadi sewot.

Rivaille tidak memperdulikan ucapan Farlan, dia masih sibuk membersihkan debu-debu di kolong lemari yang sulit sekali untuk di jangkau dengan tangannya. Baru saja Rivaille ingin membersihkan kolong lemari tersebut dengan mesin penyedot debu, tiba-tiba saja ponselnya bergetar.

Drrrt.

Drrrt.

Drrrt.

Satu panggilan masuk.

Rivaille lalu merogoh kantung celananya, dan mengangkatnya.

"Ya?"

"Segera datang ke kantor sekarang. Kalian mendapat sebuah misi darurat!"

Rivaille langsung melempar tatapannya ke arah Farlan. Sedangkan Farlan yang di tatap hanya melongo.

"Ya, aku dan Farlan akan segera kesana."

Rivaille langsung menutup telfonnya, kemudian berganti pakaian.

Farlan menatap bingung ke arah Rivaille. "Ada apa?"

"Misi pertama kita."

Rivaille langsung bergegas menyingkirkan alat penyedot debunya, dan berlari keluar apartemen. Farlan terdiam sebentar, lalu segera mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas lemari televisi, kemudian menyusul Rivaille keluar. Mereka berdua langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya masuk, mobil itu langsung meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke kantor pusat NSS.

Saat Farlan dan Rivaille tiba di kantor pusat NSS, mereke segera masuk ke dalam kantor tersebut dan langsung menuju ke dalam ruangan meeting, di dalam sana sudah dipenuhi banyak sekali orang. Farlan dan Rivaille kemudian di persilahkan untuk duduk dan bergabung. Di dalam ruangan meeting tersebut terdapat sebuah layar monitor besar yang berdiri didepan. Layar monitor tersebut digunakan untuk menampilkan beberapa gambar atau tulisan yang dapat dilihat oleh semua orang yang duduk di dalam ruangan tersebut. Erwin mulai menjelaskan detail-detail tentang keterangan foto seseorang yang muncul di layar monitor.

"Dia adalah Kitz Weilman. Pemerintah pernah menunjuk orang ini sebagai teroris. Siang ini, dia dijadwalkan akan memasuki negara kita. Dia akan tiba di bandara Tokyo International Airport Haneda, pada pukul 13:45. Ymir, tolong beri keterangan kepada kami tentang biodata lengkap orang ini." Erwin memberi perintah.

"Saya tidak mendapatkan catatan kelahiran yang akurat tentang Kitz Weilman, akan tetapi pria itu diperkirakan berusia sekitar 45 tahun. Dia adalah orang Jepang tetapi juga memegang kewarganegaraan Syira." Ucap Ymir.

"Jika Kitz Weilman adalah orang yang sangat berbahaya, kenapa dia bisa dengan mudah memasuki negara kita?" Farlan ikut berkomentar.

"Bukan itu masalahnya. Yang terpenting adalah kita harus tahu dia datang ke Jepang untuk tujuan apa. Jika tujuan dia datang ke Jepang adalah untuk melakukan sebuah teror, ini akan menjadi misi resmi kalian berdua yang pertama. Kalian harus bisa mencari tahu motif apa dia datang kesini, dengan siapa saja dia menjalin kontak, siapa saja orang-orang yang paling sering dia hubungi dan terus mengawasi gerak-geriknya yang mencurigakan. Ymir dan Nanaba akan ikut membantu kalian berdua dalam menyelesaikan misi ini." Erwin mejelaskan dengan panjang lebar.

Farlan dan Rivaille kemudian mengangguk mengerti.

Sekarang pukul 12:45 menit. Berarti masih tersisa waktu satu jam untuk mereka berdua pergi menuju ke bandara Tokyo International Airport Haneda. Farlan dan Rivaille kemudian bergegas meninggalkan ruangan meeting tersebut dan langsung menuju ke mobil mereka yang terpakir di depan. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Farlan langsung memacu mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.

Waktu menunjukkan pukul 13:30 menit. Farlan dan Rivaille berhasil tiba di bandara Tokyo International Airport Haneda dalam waktu jarak tempuh hanya 45 menit. Keduanya kemudian berpencar. Rivaille memilih untuk masuk ke dalam bandara dan menunggu sampai Kitz Weilman datang. Sedangkan Farlan tetap bersiaga di dalam mobil dan menunggu di luar bandara. Di kedua telinga mereka telah terpasang sebuah alat komunikasi menyerupai alat penyadap yang dapat menghubungkan mereka satu sama lain, termasuk Erwin, Ymir, dan Nanaba yang berada di kantor pusat.

"Target bergerak, menuju ke pintu keluar." Rivaille berjalan mengikuti Kitz Weilman yang baru saja turun dari pesawat dan menuju ke arah pintu keluar. Kemudian sebuah mobil datang menjemputnya. Pria tua itu langsung masuk ke dalam mobil.

"Farlan, kau dimana? Kalo kau lama, kita akan tertinggal jejaknya, bodoh!" Rivaille memaki.

Tidak lama setelah itu, Farlan datang memacu mobilnya dan berhenti di depan Rivaille yang berdiri di pinggir jalan. "Sabar dong. Gak usah marah-marah."

"Cih." Rivaille segera masuk ke dalam mobil. Mereka berdua langsung mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Kitz Weilman tadi.

Mobil tersebut ternyata berhenti di depan sebuah hotel. Kitz Weilman terlihat keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan memasuki hotel tersebut. Farlan dan Rivaille kemudian langsung memarkir mobil mereka dan ikut masuk ke dalam hotel. Kitz Weilman mendatangi meja resepsionis, tampaknya dia terlihat sedang memesan sebuah kamar. Tiba-tiba saja seorang pria manis berpakaian seperti seorang pelayan hotel, berjalan mendatangi Kitz Weilman. Pria manis itu tersenyum ramah kepada pria tua itu. Farlan dan Rivaille mendelik melihat pria manis yang berpakaian layaknya seorang pelayan hotel itu.

"Eren? Ngapain dia disitu?" Farlan terlihat sangat terkejut.

Rivaille sebenarnya sama terkejutnya dengan Farlan, tapi dia tetap berusaha bersikap tenang. "Bocah itu pandai berakting. Biarkan saja."

Eren memang sedang berakting. Dia terpaksa harus menyamar menjadi salah satu pelayan di hotel itu untuk dapat dengan leluasa memasang sebuah kamera tersembunyi dan alat penyadap di kamar yang akan digunakan oleh Kitz Weilman untuk menginap nanti. Eren menyadari kalo Farlan dan Rivaille sedang memperhatikan aktingnya. Eren melirik ke arah Farlan dan Rivaille, lalu melempar senyum.

Rivaille memalingkan wajahnya. "Pria penggoda."

Farlan mengangkat sebelah alisnya. "Siapa?"

"Bocah itu memiliki bakat jadi pria penggoda." Rivaille memperjelas ucapannya.

Eren memberikan senyuman termanisnya kepada Kitz Weilman. "Selamat datang di hotel kami. Biar saya bawakan barang-barang anda, tuan."

Kitz Weilman terlihat terpikat dengan pesona manis Eren, pria tua itu kemudian mengangguk dan tersenyum. Kitz Weilman bersedia dengan senang hati ketika Eren menawarkan diri untuk membawakan barang-barangnya. Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift. Sebelum pintu lift tertutup, Eren memberi isyarat kepada Farlan dan Rivaille untuk mengikutinya.

"Gila, Eren benar-benar bakalan ngikutin sampai ke kamar pria tua otak mesum itu?" Farlan mendelik.

Rivaille mengedikan bahunya. "Bisa jadi."

Kamar hotel bernomor 404. Kitz Weilman menghentikan langkah kakinya, merogoh kantung jasnya lalu mengeluarkan sebuah kunci. Kemudian membuka pintu kamar tersebut dengan kunci itu. Pria tua itu berjalan masuk duluan ke dalam kamar dan di ikuti oleh Eren yang berdiri di belakangnya.

"Letakkan saja disitu." Pria tua itu meminta Eren untuk meletakkan semua barang-barangnya di samping tempat tidur.

Eren mengangguk saja. Kedua mata Eren kemudian memperhatikan ke sekeliling ruangan, mencari tempat yang pas untuknya memasang kamera tersembunyi dan alat penyadap.

"Kau manis sekali, boleh aku menciummu?" Pria tua itu berjalan mendekati Eren.

Eren berusaha bersikap tetap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Tuan tidak mandi dulu? Biasanya para pengunjung hotel disini setelah tiba di kamarnya, mereka langsung mandi."

"Oh... Souka. Aku akan mandi dulu. Tapi kau jangan pergi kemana-mana." Kitz Weilman mengusap lembut pundak Eren.

Eren kemudian mengangguk. "Ya, saya akan menunggu tuan disini."

Kitz Weilman kemudian melangkahkan kakinya berjalan ke kamar mandi. Saat pria tua itu sudah masuk ke dalam dan pintu kamar mandi sudah tertutup rapat, Eren langsung memulai aksinya. Eren mengeluarkan kamera dan alat penyadap dari kantung celananya, kemudian memasangnya pada lokasi yang menurutnya pas dan dapat merekam semua yang dilakukan oleh pria tua itu. Eren sedikit kesulitan saat sedang memasang alat penyadap di bawah kolong meja, pria manis itu sampai tidak sadar kalo Kitz Weilman sudah berdiri tepat di belakangnya. Sejak tadi.

"Kau sedang apa?" Pria tua itu merasa curiga.

Eren langsung terkejut, kepalanya nyaris membentur langit-lanit meja. Eren perlahan memutar kepalanya menoleh ke belakang. Pria tua itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Eren perlahan berdiri lalu memutar badannya menatap ke arah pria tua itu. Eren tersenyum manis di hadapan pria tua itu. Tangannya bergerak-gerak berusaha menutupi alat penyadap yang belum sepenuhnya terpasang dengan benar.

"Ano... Aku sedang mencari sesuatu." Eren tersenyum manis.

"Kau fikir aku ini bodoh?" Sedetik kemudian, rambut Eren di jambak dengan keras.

"AAAAAK!" Eren memekik menahan sakit.

Farlan dan Rivaille yang masih berjaga di luar tidak jauh dari lokasi kamar tempat Kitz Weilman masuk tadi, mereka berdua dikagetkan dengan suara teriakan.

"Itu suara Eren?" Farlan menatap tajam ke arah Rivaille.

Kedua mata Rivaille terbelalak lebar. Firasat buruk langsung melintasi fikirannya, dia langsung berlari kencang menuju ke kamar pria tua itu. Farlan ikut menyusul di belakangnya.

Eren dicekik dan kepalanya di benturkan sangat keras ke dinding sampai berkali-kali oleh pria tua itu. Darah segar terlihat mengalir keluar dari pelipis kepala Eren.

"Ha-aakh..." Eren kesulitan untuk bernafas.

Kitz Weilman semakin mencengkram kuat leher Eren seperti ingin mematahkannya. Tangan Eren berusaha menggapai benda apapun disampingnya untuk memukul pria tua itu.

"A-aakh..." Eren merasakan sakit luar biasa di daerah sekitar lehernya, dia sudah tidak kuat lagi.

"Pria manis sepertimu ternyata seorang mata-mata. Menjijikkan sekali." Kitz Weilman kemudian mengeluarkan pisau lipat dari tangan kanannya. Kedua mata Eren mendelik. Pria tua itu menempelkan pisau lipat itu ke pipi mulus Eren.

Eren meringis ketika ujung pisau yang tajam itu menyayat kulit pipinya yang mulus.

"Ini hukumanmu karena sudah berani membodohiku." Pria tua itu bersiap untuk menusukan pisau lipat itu ke perut Eren.

Eren berusaha melawan dengan sekuat tenaga. Dia berhasil menendang kuat perut Kitz Weilman sampai pria tua itu jatuh terjengkang ke belakang. Eren berusaha merangkak menuju ke pintu keluar, akan tetapi pria tua itu langsung menarik kakinya. Eren ditarik dan diseret secara kasar lalu perutnya ditindih. Pria tua itu duduk di atas perutnya. Eren tidak bisa bernafas. Tangan pria tua itu lalu mencekik kuat leher Eren. "Mati kau!"

"Akk-haa-kk..." Eren mencakar kuat lengan pria itu.

Eren berusaha meronta. Kakinya terus bergerak menendangi apapun. Dia tidak bisa bernafas, lehernya terasa perih dan sakit sekali. Tenaganya mulai terkuras habis. Dia mulai menyerah.

"A-aa-kk..." Eren berusaha memekik tapi suaranya tidak keluar. Pandangan matanya perlahan mulai kabur. Air matanya menetes keluar.

BRAK!

Pintu kamar di dobrak oleh seseorang.

Kitz Weilman terkejut menatap ke arah pintu.

Rivaille mendelik melihat kondisi Eren di hadapannya.

"Keparat kau!" Rivaille langsung menyerang pria tua itu dan melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Kitz Weilman sampai pria tua itu terpental ke belakang menghantam dinding lalu kemudian pingsan.

Rivaille merangkak menghampiri Eren dan memeluk pria manis itu.

"Eren? Hei... Eren?" Rivaille menepuk pelan pipi Eren. Kedua mata Rivaille sangat panik saat melihat kepala Eren mengeluarkan darah segar.

"EREN! EREN!" Rivaille memekik.

Kedua kelopak mata Eren bergerak, kemudian perlahan terbuka.

"Eren?" Rivaille memeluk erat tubuh lemah itu.

"Uhuk... Uhuk..." Eren terbatuk.

"Bertahanlah." Rivaille terlihat sangat khawatir.

Leher Eren terasa sakit sekali. "Ri...va...il...le?"

"Ya. Ini aku." Rivaille mengusap lembut pipi Eren.

Farlan tiba-tiba saja datang. Dia kaget bukan main melihat kondisi Eren yang sudah tidak berdaya seperti itu. "Rivaille! Eren kenapa?"

Rivaille diam saja tidak menjawab.

Kitz Weilman yang sempat pingsan setelah di pukul telak oleh Rivaille tadi, perlahan kesadarannya mulai pulih kembali. Pria tua itu lalu bangkit dan merangkak menuju pintu keluar. Dia hendak kabur!

Farlan dan Rivaille tidak menyadari hal tersebut. Tapi Eren melihatnya. Eren berusaha keras untuk berbicara.

"Di...di...a...di...dia...ka...ka...bur!" Eren menarik kuat lengan baju Rivaille sambil terus menunjuk ke arah belakang.

Farlan dan Rivaille langsung mengalihkan pandangannya ke arah jari telunjuk Eren. "Sial. Dia kabur!" Farlan memekik dan langsung mengejar Kitz Weilman yang sudah lebih dulu berlari memasuki lift. "Bedebah."

Farlan lalu mengejar pria tua itu menggunakan tangga darurat.

Rivaille masih belum mau meninggalkan Eren, meskipun Eren terus berusaha meminta Rivaille untuk pergi mengejar Kitz Weilman.

"Aku tidak mau meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Rivaille tetap keras kepala.

Eren kemudian mendorong kuat tubuh Rivaille. "Baka! dengarkan aku. Uhuk... Tidak ada yang lebih penting dari misi mu! Sekalipun aku harus mati, kau harus tetap mengutamakan misi mu, Rivaille!"

Rivaille berusaha ingin menyentuh Eren lagi, tapi pria manis itu menolak keras. "PERGI, RIVAILLE! CEPAT PERGI!"

Rivaille masih belum juga mau pergi. Eren semakin emosi. "PERGI, RIVAILLE! KEJAR DAN TANGKAP DIA!"

Rivaille kemudian langsung bangkit berdiri, dan segera berlari keluar kamar untuk menyusul Farlan. Rivaille langsung bergegas masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai paling dasar.

"Farlan, katakan dimana posisimu sekarang." Rivaille berusaha menghubungi Farlan menggunakan alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

"Target menuju ke pusat perbelanjaan. Aku kehilangan dia!" Suara Farlan terdengar panik.

"Cih. Cepat temukan dia! Aku akan segera menyusulmu kesana!"

Rivaille meninju dinding lift dengan kuat. Keparat!

Setelah Rivaille pergi meninggalkan Eren sendirian di kamar itu. Eren berusaha keras untuk bangkit dan berjalan keluar. Eren berhasil berdiri meskipun sedikit sempoyongan. Dia lalu mengambil ponselnya dari kantung celananya untuk menghubungi seseorang. Eren menekan tombol panggil.

Armin Arlert calling...

...

Armin Arlert calling..

...

Armin Arlert calling...

...

Panggilan kemudian di angkat. "Moshi, moshi. Eren?"

Baru saja Eren ingin berbicara. Kepalanya yang tadi di benturkan ke dinding oleh pria tua sialan itu, tiba-tiba saja terasa berdenyut hebat. Eren langsung jatuh limbung ke lantai, tidak sadarkan diri. Ponselnya ikut terjatuh. Darah segar terlihat mengalir keluar dari pelipis kepala Eren.

BRUK!

...

"Eren?"

...

"Eren? Kau kenapa?"

...

"Eren jawab aku!"

...

"Eren!"

...

Tut tut tut. Sambungan telfon terputus.

.

.

.


Farlan masih terus berusaha mengejar Kitz Weilman sampai ke pusat perbelanjaan. Ramainya orang serta bisingnya tempat itu membuat Farlan kehilangan jejak pria tua itu. Matanya terus menerus bergerak melihat ke arah sekeliling. Berusaha menemukan dimana pria tua itu bersembunyi. Namun Farlan benar-benar tidak dapat menemukan dimana Kitz Weilman.

"Situasi darurat! Situasi darurat! Ymir, tolong aktifkan pencarian dengan menggunakan satelit, posisi terkini berada pada W345-E234. Kitz Weilman menyelinap masuk ke dalam ke pusat perbelanjaan!" Farlan berbicara dengan alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

"Jaringan W345-E234 pelacakan dimodifikasi dan diaktifkan. Memantau dari semua sudut dan sisi bangunan dalam jarak radius 5 kilometer. Lokasi umum di temukan. Target terdeteksi! Target terdeteksi! Target menuju ke samping bangunan pusat perbelanjaan."

Farlan segera melangkahkan kakinya mengarah ke lokasi tempat yang diucapkan oleh Ymir tersebut. Benar saja! Dia menemukan Kitz Weilman sedang berlari dengan jarak yang lumayan jauh di depannya. Farlan semakin mempercepat langkah kakinya mengejar pria tua itu.

"Farlan, dengarkan instruksi dariku. Di depanmu ada sebuah jalan sempit. Di sebelah kananmu ada sebuah tangga. Belok ke kiri. Disana terdapat sebuah gang kecil menuju ke tempat pertokoan. Target masuk ke dalam sebuah toko!"

Farlan langsung mengikuti apapun yang diucapkan oleh Ymir. Dia menyelinap masuk ke dalam sebuah toko mainan, menerobos masuk ke dalam lalu keluar lagi lewat pintu belakang. Kitz Weilman masih terus berlari di depannya.

"Target baru saja keluar dari pintu belakang toko, menuju ke arah utara melalui jalan sempit. Target menaiki sebuah sepeda motor dan menuju ke arah stasiun kereta!"

Farlan tertinggal sangat jauh. Kitz Weilman berhasil kabur menggunakan sepeda motor milik salah satu pengunjung di toko mainan tersebut.

"Sial. Aku tertinggal!" Farlan memaki.

Farlan kemudian memutuskan untuk kembali lagi menuju ke hotel. Dia ingin mengambil mobilnya dan mengejar Kitz Weilman dengan menggunakan mobil. Setelah Farlan sampai di hotel dan menemukan dimana lokasi mobilnya terparkir, Farlan langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya menuju ke stasiun kereta.

"Rivaille? Rivaille? Laporkan dimana posisimu sekarang! Apa kau mendengarku sejak tadi?" Ymir mencoba untuk menghubungi Rivaille.

"Ya. Aku mendengarmu daritadi." Ucap Rivaille.

"Farlan kehilangan target! Posisi target sekarang menuju ke arah stasiun kereta. Laporkan dimana posisimu sekarang?" Suara Ymir terdengar panik.

"Aku ada di dekat stasiun kereta." Rivaille menjawab sambil terus melihat ke arah sekelilingnya.

"Oke. Aku menemukan dimana posisimu sekarang! Lihat ke arah samping. Target berada di dekat pintu keluar di samping bangunan di dekat stasiun. Target terlihat turun dari sepeda motornya."

Rivaille lalu mengarahkan pandangannya ke arah samping. Obsidian hitam pekatnya langsung menemukan sosok yang dicarinya. Rivaille langsung berlari kencang mengejar pria tua itu.

"Target memasuki sebuah toko makanan kue. Jaraknya kurang dari 50 meter dari lokasi tempatmu berdiri!" Suara Ymir terdengar memekik.

"Jangan sampai kehilangan dia, Rivaille." Kali ini Erwin yang bersuara.

"Yes, Sir." Rivaille lalu mempercepat langkah kakinya. Dia berlari menyebrangi jalan raya besar tanpa menunggu lampu rambu lalu lintas berubah warna. Mobil-mobil dengan kecepatan tinggi hampir ingin menabraknya kalo saja Rivaille tidak segera menghindar. Rivaille langsung melangkahkan kakinya berlari masuk ke dalam toko kue yang dikatakan oleh Ymir tadi.

"Target baru saja keluar dari dalam toko kue! Target menuju ke dalam stasiun kereta! Target memasuki stasiun kereta!"

Selang beberapa menit setelah Kitz Weilman masuk ke dalam stasiun kereta, Farlan datang dan menghentikan mobilnya, lalu segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam stasiun. Rivaille kemudian menyusul di belakangnya ikut masuk ke dalam stasiun.

"Dimana dia?" Farlan bertanya kepada Rivaille.

Rivaille tidak menjawab. Nafasnya terlihat memburu. Farlan dan Rivaille terus mengedarkan arah pandangan mata mereka ke arah sekeliling. Berusaha untuk menemukan dimana pria tua itu bersembunyi dari sekian banyak orang yang berlalu-lalang di stasiun. Kitz Weilman terlihat berbaur dengan para pengunjung stasiun yang lain.

"Sial. Ramai sekali." Rivaille memaki. Nafasnya masih belum stabil. Berlari puluhan kilometer hanya untuk menangkap seorang pria tua saja dia sampai ngos-ngosan begitu. Mata Rivaille kemudian berkilat, dia melihat Kitz Weilman.

"Aku menemukannya!" Rivaille langsung berlari cepat. Hampir saja dia menabrak seorang pengunjung wanita di stasiun itu. Farlan langsung mengikuti Rivaille di belakangnya.

Kitz Weilman masuk ke dalam salah satu gerbong kereta yang sebentar lagi akan segera berangkat. Rivaille langsung melangkahkan kakinya ikut masuk ke dalam kereta tersebut melalui gerbong belakang. Farlan berhasil menyusul di belakangnya. Sesaat kemudian, pintu kereta tertutup secara otomatis. Farlan dan Rivaille mulai menyelinap diantara para penumpang yang lain di kereta itu. Mereka berdua berdesak-desakan untuk bisa menyusul Kitz Weilman sampai ke gerbong depan. Saat kereta hendak berjalan, tiba-tiba saja seluruh penumpang di dalam kereta itu menjerit.

"AAAAAAAAA! ADA YANG MATI!"

Farlan dan Rivaille segera mendekat ke lokasi tempat para penumpang berkumpul. Mereka berdua terkejut bukan main saat melihat apa yang terjadi di hadapan mereka. Kitz Weilman jatuh tersungkur dan kepalanya bersimbah darah. Pria tua itu langsung tewas di tempat. Farlan dan Rivaille lalu berpandangan, keduanya nampak bingung. Rivaille berjalan mendekati mayat pria tua itu dan memeriksa bagian belakang kepalanya.

"Ada seseorang yang baru saja menembaknya." Rivaille melihat luka di balik kepala pria tua itu. "Sepertinya dia di tembak bukan menggunakan senapan biasa."

Rivaille lalu berdiri dan melihat ke arah sekeliling. Matanya terus mencari-cari orang yang dengan sengaja membunuh Kitz Weilman. Matanya kemudian menemukan sosok pria berpakaian jas berwarna hitam. Pria itu sangat misterius, dia berdiri di luar kereta. Rivaille tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria itu. Sesaat kemudian, kereta muali berangkat. Kereta melaju dengan kecepatan tinggi. Rivaille masih terus memandangi pria berpakaian jas berwarna hitam yang masih berdiri diam disana.

"Apa yang kau lihat?" Farlan menatap ke arah Rivaille.

Rivaille hanya menggeleng. "Bukan apa-apa."

Di lihat dari situasinya, sepertinya Farlan tidak menyadari keberadaan pria berpakaian jas berwarna hitam tadi. Tapi Rivaille yakin betul, pasti pria itu yang sudah membunuh Kitz Weilman. Akan tetapi, itu baru intuisinya saja. Rivaille tetap tidak memiliki bukti yang kuat untuk dapat membuktikan intuisinya tersebut.

"Target telah tewas. Dugaan sementara Kitz Weilman di tembak tepat di bagian tengkuk di bagian belakang kepala." Rivaille berbicara melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

"Bawa mayatnya ke kantor pusat sekarang!" Erwin memberi perintah.

"Yes, Sir."

.

.

.


Rivaille berlari tergesa-gesa melewati lorong koridor rumah sakit. Dia terpaksa harus menaiki tangga darurat karena lift di rumah sakit itu sedang dalam perbaikan dan tidak dapat dipergunakan. Kakinya melangkah cepat menapaki anak tangga satu per satu. Lantai demi lantai telah dilewatinya. Jantungnya terasa berdetak tidak karuan saat mendapat kabar bahwa Eren masuk ke rumah sakit. Rivaille langsung berfikir yang bukan-bukan.

Bodoh!

Seharusnya kemarin aku tidak meninggalkannya!

Seharusnya aku sempat membawanya ke rumah sakit!

Sekarang percuma saja!

Misi ku telah gagal dan aku juga tidak becus melindunginya!

Saat tiba di lantai tiga, langkah kaki Rivaille berhenti di depan sebuah kamar tempat Eren menginap. Rivaille langsung bergegas masuk ke dalam kamar itu. Di dalam kamar, terlihat Armin sedang duduk di tepi ranjang di samping Eren. Armin terkejut saat melihat kedatangan Rivaille. Pria manis berambut pirang itu lalu tersenyum manis ke arah Rivaille.

"Daijobu. Eren akan baik-baik saja." Armin tersenyum menatap Rivaille. Tatapannya seolah meminta Rivaille untuk jangan khawatir.

Eren terlihat tengah tertidur sangat pulas. Kepalanya di perban dengan kain berwarna putih. Bercak darah terlihat merembes melalui kain perban yang dililitkan di kepalanya itu. Wajahnya terlihat begitu pucat pasi.

"Bagaimana ceritanya?" Rivaille menatap ke arah Armin. Raut wajahnya meminta penjelasan kepada pria manis itu.

Armin tersenyum. "Aku tidak tau. Eren menghubungiku. Tapi saat aku mengangkat telfonnya, dia tidak menjawab. Sambungan telfonnya malah terputus. Kemudian aku langsung panik dan segera melacak lokasi keberadaannya melalui sinyal GPS. Dan saat aku tiba di kamar hotel itu, Eren sudah pingsan tidak sadarkan diri."

Rivaille menundukan kepalanya. Tangannya terlihat mengepal kuat. "Salahku. Ini salahku yang meninggalkannya saat itu."

Armin menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang perlu disalahkan. Semua memang ada resikonya. Eren juga sudah tau resikonya akan seperti ini. Segala kemungkinan terburuk dapat kapan saja terjadi. Kau pergi meninggalkannya saat itu pasti karena Eren yang meminta kan? Dia sudah siap untuk segala kemungkinan terburuk." Armin mengusap punggung tangan Eren yang terasa dingin sekali.

Rivaille berjalan mendekati Eren. Matanya terasa panas dan perih, tapi tetap saja pria itu tidak pernah bisa menangis mengeluarkan air matanya. Hatinya terasa seperti ditusuk oleh ratusan tombak melihat keadaan Eren yang tidak berdaya dan terlihat sangat lemah di hadapannya itu. Tangannya bergerak menyentuh puncak kepala Eren,mengusap dengan lembut rambutnya yang halus. Armin seolah mengerti dengan situasi yang ada di hadapannya, pria manis berambut pirang itu kemudian bangkit berdiri dari kursi tempat duduknya.

"Aku ingin keluar sebentar membelikan Eren beberapa buah." Armin tersenyum manis ke arah Rivaille.

Rivaille kemudian mengangguk. "Ya."

Armin lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kamar Eren.

Kini di dalam ruangan yang sangat dingin dan berbau obat menyengat itu hanya ada Eren dan Rivaille berdua. Rivaille masih terus diam memandangi Eren yang belum juga mau membuka kedua matanya. Eren terlihat sedang tidur sangat pulas. Rivaille memberanikan diri mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi lembut Eren. Sentuhan lembut dari tangan Rivaille, membangunkan Eren dari tidurnya. Kedua kelopak mata Eren tiba-tiba saja bergerak, perlahan terbuka. Eren terkejut melihat sosok pria tampan yang sangat dikenalnya sedang duduk disampingnya. Eren menatap bingung ke arah Rivaille.

"Aku membangunkanmu?" Tanya Rivaille.

Eren masih terus menatap ke arah Rivaille. "Kau sudah lama duduk disitu? Armin mana?" Eren mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sahabatnya.

"Tidak. Aku baru disini. Armin keluar. Beli buah." Rivaille menjawab.

"Oh..." Eren mengangguk.

"Bagaimana keadaanmu? Masih sakit?" Rivaille menatap Eren khawatir.

"Sedikit. Aku baik-baik saja. Jangan sok perhatian."

"Cih. Dasar tidak tau diri." Rivaille membuang tatapannya ke arah luar jendela.

Eren mengernyitkan kening. "Kau bilang apa barusan?"

Rivaille cuek saja pura-pura tidak mendengar.

"Aku ini sedang sakit loh, masih saja kau membuat kesal orang yang sedang sakit." Eren melirik sebal ke arah Rivaille.

"Masa bodoh. Kau duluan yang membuatku kesal. Bukan salahku."

Eren mendelik. Kemudian berbalik memunggungi Rivaille. "Pergi sana! Aku mau tidur! Ada kau disini bikin udara jadi tidak segar."

"Apa kau bilang?" Rivaille merasa tersinggung.

Eren diam saja tidak mau menjawab. Selimutnya kemudian ditarik sampai menutupi kepalanya.

"Tch. Baik aku pergi. Lekas sembuh!" Rivaille berjalan menuju pintu. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti dan dia menoleh lagi ke belakang.

"Eren, aku khawatir sekali padamu. Tolong jangan berbuat hal nekat yang membahayakan nyawamu sendiri. Mulai sekarang aku tidak akan mengizinkanmu untuk terlibat ke dalam misi yang berbahaya." Rivaille membuka pintu kamar tersebut, lalu berjalan keluar meninggalkan kamar Eren.

Setelah Rivaille sudah benar-benar pergi, Eren menurunkan selimutnya. Dia menatap ke arah pintu.

"Seharusnya kau jangan pergi, dan tetap menemaniku disini." Eren berbicara sendirian.

.

.

.


Dot Pixis melepas kacamatanya. Pria paruh baya itu memijit pelipisnya. Di hadapannya berserakan banyak sekali dokumen-dokumen dan foto-foto hasil penyelidikan seputar Kitz Weilman tempo hari yang lalu. Erwin terlihat sedikit gugup berdiri di depan Wakil Direktur NSS itu. Ekspresi wajahnya terlihat sangat tertekan.

"Menurut dugaan, Kitz Weilman pergi ke stasiun adalah untuk bertemu dengan kaki tangannya. Tapi kaki tangannya tersebut ternyata tahu kalo Kitz Weilman sedang di kejar-kejar untuk ditangkap. Untuk mengantisipasi bila seandainya Kitz Weilman tertangkap dan dapat membocorkan semua informasi, akhirnya kaki tangannya tersebut memilih untuk membunuh Kitz Weilman kemudian menghilang." Erwin menjelaskan.

Pixis menatap Erwin. "Dengan adanya pertemuan Kitz Weilman dengan kaki tangannya itu, aku berkesimpulan bahwa Kitz Weilman datang ke negara ini dengan tujuan terorisme. Kau sudah berhasil menemukan apa yang mereka rencanakan?"

Erwin menggelengkan kepalanya. "Belum."

"Temukan segera! Sebelum semuanya terlambat!" Ucap Pixis.

"Yes. Sir."

.

.

.


Eren sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kondisinya sudah terlihat jauh lebih baik. Meskipun perban di kepalanya belum diperbolehkan untuk dilepas. Eren sudah kembali masuk ke kantor dan bekerja seperti biasa lagi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi tentang kondisinya, dia sudah benar-benar merasa sembuh dan siap untuk bekerja lagi. Eren merasa bosan sepanjang hari kerjaannya hanya tidur saja, punggungnya malah jadi terasa pegal.

"Selamat pagi." Nanaba menepuk pelan pundak Eren. "Sudah merasa lebih baik?"

Eren menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum. "Ya. Selamat pagi, senpai. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang."

"Syukurlah. Jangan terlalu memaksakan diri jika kondisimu masih belum pulih benar, Eren." Nanaba tersenyum.

Eren menganggukkan kepalanya lagi. "Ya. Aku mengerti."

"Setelah ini tolong menuju ke ruangan meeting ya. Ada yang ingin dibicarakan disana." Nanaba kemudian berjalan pergi mendahului Eren.

"Ya. aku segera kesana." Eren lalu tersenyum.

Eren kemudian berjalan menuju ke ruangan meeting. Di dalam ruangan itu ternyata sudah ada Farlan dan Rivaille, mereka berdua sudah duduk disana. Rivaille sedikit terkejut saat melihat Eren berjalan memasuki ruangan meeting. Eren kemudian duduk di kursinya. Setelah semua orang berkumpul, Erwin akhirnya datang berjalan memasuki ruangan meeting. Erwin kemudian duduk di kursinya dan mulai memimpin pembicaraan.

"Sasaran teroris semakin meluas. Bahkan bukan hanya Presiden dan Kedutaan besar Amerika saja yang menjadi target sasaran mereka. Jepang sudah mulai menyiarkan bahaya ke kantor pusat Presiden untuk mengantisipasi. Tapi sampai detik ini, masih belum dapat ditemukan apa tujuan utama mereka datang ke negara ini." Erwin terlihat putus asa.

Rivaille lalu angkat bicara. "Aku memiliki sebuah firasat kalo kedatangan mereka ke negara ini adalah untuk membunuh calon Presiden yang akan datang."

Semua orang di ruangan meeting tersebut terkejut mendengar ucapan Rivaille.

"Apa buktinya?" Nanaba menjawab.

Rivaille mengedikan bahunya. "Aku tidak punya bukti. Intuisiku saja."

Nanaba terpancing emosi. "MEMANGNYA KAU FIKIR KITA AKAN MELAKUKAN SEBUAH PENYELIDIKAN HANYA BERDASARKAN INTUISIMU SAJA?"

Erwin memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

"Mungkin maksud Rivaille adalah, karena sekarang sedang maraknya para calon kandidat Presiden baru mencalonkan diri mereka, siapa nanti calon kandidat yang akan terpilih, dia lah yang akan menjadi sasaran teroris tersebut." Farlan mencoba meluruskan.

"Sudah cukup! Kalian berdua dikeluarkan dari misi karena telah gagal!" Nanaba menunjuk Farlan dan Rivaille, lalu menatap tajam ke arah mereka berdua.

Eren kemudian angkat bicara. "Maaf senpai, tapi aku lah atasan Farlan dan Rivaille. Hanya aku yang berhak memutuskan mereka keluar dari misi ini atau tidak."

Eren melempar tatapannya ke arah Rivaille, tapi yang ditatap malah bersikap masa bodoh. "Aku minta maaf atas sikap Rivaille barusan."

"Hei. Hei. Kalian! Kalo mau ribut di luar!" Erwin menggertak. "Eren, aku serahkan sisanya padamu. Kau urus saja Farlan dan Rivaille." Erwin lalu pergi meninggalkan ruangan meeting. Disusul oleh anggota yang lain.

Di dalam ruangan meeting tersebut hanya tersisa Eren, Farlan, dan Rivaille. Mereka bertiga terlihat sedang berfikir.

"Ada-ada saja kau, Rivaille." Farlan bergumam pelan. Dia kemudian melempar pandangan matanya ke arah Eren. "Kita akan benar-benar di keluarkan?"

Eren bukannya menjawab pertanyaan Farlan itu, malah ngeloyor pergi.

"Orang yang bodoh bisa melakukan hal yang sangat bodoh." Sudut mata Farlan melirik tajam ke arah Rivaille di sampingnya.

Rivaille tiba-tiba saja bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan meeting.

Farlan terlihat bingung. "Hei. Kau mau kemana?" Percuma saja, Rivaille sudah terlanjur pergi.

Rivaille berjalan mendekati meja kerja milik Ymir. Gadis itu terlihat sedang asyik dengan komputernya. Ymir kaget karena tiba-tiba saja Rivaille mendatanginya.

"Ada apa?"

"Bisa kau berikan padaku daftar kampanye calon Presiden?"

"Daftar kampanye?"

"Ya."

"Untuk apa?"

"Berikan saja padaku!"

"Tunggu sebentar."

Ymir lalu membuka laci mejanya, dan menyerahkan beberapa dokumen kepada Rivaille. "Ini. Bisa kau baca sendiri."

Rivaille mengangguk kemudian berjalan pergi.

Ymir hanya memandang bingung dan mengedikan bahunya.

Rivaille berjalan menuju ke meja kerjanya. Dia duduk di atas kursinya. Membaca dengan cermat dokumen yang diberikan oleh Ymir tadi. Matanya langsung tertuju pada tulisan besar yang di cetak tebal pada dokumen tersebut.

"PUKUL 13:30, DARIUS ZACLY AKAN MENGADAKAN KAMPANYE BESAR-BESARAN DI PUSAT KOTA TOKYO, JEPANG. KARENA DIA TELAH BERHASIL MENJADI CALON PRESIDEN NOMOR 1 YANG MEMPEROLEH SUARA TERBANYAK!"

Rivaille melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 13:00 menit. Sial, sebentar lagi!

Farlan yang duduk di samping meja kerja Rivaille, hanya memandang bingung melihat tingkah laku aneh sahabatnya itu.

"Farlan, kau ikut aku sekarang!" Rivaille kemudian bergegas berjalan keluar.

Farlan hanya melongo saja. "Kenapa lagi sih dia?" Dengan malas Farlan bangkit dari kursi tempat duduknya dan pergi menyusul Rivaille.

Keduanya lalu masuk ke dalam mobil. Kali ini Rivaille yang menyetir mobil tersebut. Farlan masih belum mengerti apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya itu.

"Kita mau kemana?" Farlan melirik ke arah Rivaille.

"Jalan-jalan." Jawab Rivaille singkat.

Farlan mendelik. "Kau gila ya? Kita baru saja terkena masalah, tapi kau malah mau jalan-jalan? Yang benar saja!"

Rivaille tidak menanggapi ucapan Farlan tersebut. Dia lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke pusat kota Tokyo. Farlan hanya geleng-geleng kepala saja. Sesampainya mereka disana, keduanya langsung turun dari dalam mobil. Disana telah ramai sekali orang yang sedang melakukan kampanye.

"Kita ngapain dateng ke tempat seperti ini?" Farlan masih belum paham.

"Cuma mau liat-liat saja." Ucap Rivaille.

Farlan memaki. "Dasar gila kau ya?"

Rivaille diam saja. Kedua matanya terlihat sibuk melihat ke arah sekeliling. Matanya terus memandang ke arah atap gedung yang berdiri kokoh di sekitar lokasi tempat itu.

"Oi, Farlan. Jika kau adalah seorang sniper dan targetmu adalah Darius Zackly, dari tempat sebelah mana kau akan menembaknya?" Mata Rivaille masih terus berputar memandangi seluruh gedung tinggi yang berdiri memutari alun-alun tempat kampanye berlangsung.

Farlan mengernyitkan keningnya, lalu jari tangannya menunjuk ke arah gedung tinggi sebelah barat. "Disana! Aku akan menembak Darius Zackly dari tempat itu. Posisinya sangat strategis dan memudahkan peluru tepat mengenai sasaran."

"Datangi tempat itu sekarang!" Rivaille memberi perintah.

Farlan menatap Rivaille bingung. "Apa maksudmu?"

"Aku mempunyai firasat, ada seorang sniper di sekitar tempat ini yang sedang bersiap untuk menarik pelatuknya. Jika tempat yang kau tunjuk adalah tempat yang tepat, sniper itu pasti sudah bersiaga disana." Rivaille memperjelas ucapannya.

Farlan terdiam sejenak. Dia lalu paham maksud dari ucapan Rivaille tersebut. Farlan langsung menghubungi Ymir dengan alat komunikasi yang terpasang di telinganya. "Ymir, bisa tolong bantu aku?"

"Bantu apa?" Suara Ymir menjawab dari seberang sana.

"Tolong lihat dengan menggunakan satelit, di atas sebuah atap gedung di dekat pusat kota Tokyo apakah ada seorang sniper yang membawa senapan?" Ucap Farlan.

Rivaille hanya diam saja mendengarkan, kedua matanya masih terus bersiaga melihat ke sekeliling.

"Oke. Pelacakan diaktifkan. Memantau ke daerah di sekitar gedung pusat kota Tokyo. Tunggu sebentar." Ymir menjeda ucapannya.

Farlan masih menunggu laporan selanjutnya dari Ymir.

"Farlan! Di gedung sebelah barat terdapat seseorang membawa sebuah senapan!" Ymir memekik.

Farlan menatap Rivaille disampingnya. "BENAR FIRASATMU, RIVAILLE!"

Rivaille langsung terkejut karena firasatnya ternyata benar. "Sekarang berpencar! Kau menuju ke gedung barat itu. Habisi sniper itu. Dan aku akan berusaha melindungi Darius Zackly!" Rivaille memberi perintah.

Tanpa pikir panjang lagi, Rivaille langsung berlari menyelinap masuk di antara kerumunan orang-orang yang sedang berkampanye, berjalan menuju ke alun-alun tempat Darius Zackly melangsungkan pidatonya. Sedangkan Farlan, dia segera berlari masuk ke dalam gedung dan menuju ke atap. Beberapa menit kemudian, Farlan akhirnya berhasil tiba di atap gedung. Di dobraknya pintu atap gedung tersebut hingga terbuka lebar. Dugaannya ternyata benar, tempat ini ternyata menjadi tempat strategis yang digunakan oleh seorang sniper untuk menembak sasarannya. Belum sempat sniper itu menarik pelatuknya untuk menembak Darius Zackly, Farlan sudah lebih dulu melubangi kepalanya dengan pistol yang di bawanya. Tembakannya tepat mengenai sasaran. Sniper itu langsung tewas di tempat.

"Rivaille, aku berhasil melumpuhkannya!" Farlan berbicara lewat alat komunikasi yang terpasang di telinganya.

Rivaille sedikit merasa lega mendengar ucapan Farlan tersebut. Kedua mata Rivaille masih terus melihat ke arah sekeliling, dia masih memiliki firasat kalo masih ada sniper lain disini.

Tidak mungkin hanya ada satu sniper.

Paling tidak ada dua.

Tapi yang satu lagi kira-kira dimana?

Rivaille terus memutar arah pandangannya melihat ke sekeliling. Darius Zackly masih berdiri tegak di alun-alun, menyampaikan pidatonya. Pandangan mata Rivaille lalu tertuju pada sebuah kaca jendela apartemen di dekat gedung sebelah utara. Dari balik kaca jendela apartemen itu, ada seorang sniper yang telah bersiap menarik pelatuknya. Rivaille mendelik.

Gawat!

Tidak mungkin sempat!

Dia mungkin akan segera menembak!

Rivaille lalu berjalan semakin maju untuk mendekati Darius Zackly. Tidak perduli berapa banyak orang yang sudah dia dorongnya hingga terjatuh. Dia harus berhasil tiba di tempat Darius Zackly berdiri sebelum sniper itu menarik pelatuknya.

"FARLAN! DI SEBELAH UTARA! DI DEKAT JENDELA APARTEMEN! TEMBAK DIA!" Rivaille memekik.

Farlan terkejut. "Masih ada satu sniper lagi? Sial. Kau nekat Rivaille!"

Farlan langsung mengalihkan arah pandangannya ke arah utara. Dia melihat dengan jelas sosok sniper yang dikatakan oleh Rivaille tadi. Farlan lalu mengarahkan ujung pistolnya ke arah sniper itu. Tangannya bergetar hebat.

Sial.

Farlan.

Tenang.

Kenapa kau gugup?

Rivaille mengandalkanmu sekarang.

Kau harus bisa menembaknya,

atau akan ada nyawa seseorang yang mungkin menjadi korban disini.

Atau kalo kau tidak berhasil,

Rivaille mungkin bisa tertembak!

Tenaglah Farlan.

Tenang.

Kau pasti bisa.

Tidak, kau harus bisa!

Fokus!

Farlan terus meyakinkan dirinya sendiri.

KLIK!

Bunyi suara pelatuk ditarik.

3...

2...

1...

Tembak!

...

BANG!

BANG!

...

Sial. Sniper itu sudah menembak!

Dua buah peluru di tembakkan secara bersamaan. Satu peluru milik Farlan dan satu peluru lagi milik sniper itu!

CTAK!

Sniper itu tewas di tempat. Farlan berhasil menembaknya. Akan tetapi...

CTAR!

"RIVAILLE!"

"AAAAAAAAAAAAA!"

Seluruh orang yang sedang melakukan kampanye berteriak histeris lalu merunduk secara serempak saat tiba-tiba saja terdengar suara letusan pistol. Rivaille masih terus berusaha untuk mendekati Darius Zackly. Saat jarak mereka semakin dekat, Rivaille langsung melompat ke atas alun-alun tempat Darius Zackly berdiri, lalu mendorong Darius Zackly sampai jatuh tersungkur ke tanah.

"MERUNDUK!" Rivaille memekik.

Semua orang merunduk.

Satu peluru melesat melewati sisi punggung bagian belakang Rivaille. Nyaris saja peluru itu hampir menyerempet perutnya jika saja Rivaille tidak segera merunduk. Peluru melesak menembus kain spanduk besar di belakang. Darius Zackly terlihat sangat terkejut dengan peristiwa tersebut. Beliau kaget dan sempat shock. Rivaille kemudian segera bangun dari posisinya.

"Anda tidak apa-apa? Anda bisa bangun?" Rivaille membantu Darius Zackly untuk berdiri kembali.

"Ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak." Ucap Darius Zackly.

Rivaille kemudian mengangguk.

Baru saja Rivaille ingin berjalan turun dari atas alun-alun, tiba-tiba saja dia melihat sosok pria berpakaian jas berwarna hitam yang waktu itu pernah dilihatnya saat Kitz Weilman di tembak di dalam kereta.

Orang itu!

Pria berpakaian jas berwarna hitam yang waktu itu aku lihat!

Kenapa dia muncul lagi disini?

Ini pasti bukan sebuah kebetulan!

Siapa orang itu sebenarnya?

Pria berpakaian jas berwarna hitam itu kemudian berjalan pergi dan menyelinap di antara kerumunan orang. Baru saja Rivaille ingin mengikuti kemana pria itu pergi, dia sudah lebih dulu menghilang. Rivaille semakin merasa curiga dengan pria itu.

.

.

.


Another Place —

Suara musik berdentum keras. Aroma minuman beralkohol tercium sangat menyengat. Asap nikotin mengepul menyelimuti langit-langit ruangan yang minim cahaya lampu itu. Hanya penerangan dari sebuah lampu disko yang terus-menerus berkedap-kedip membuat sakit mata. Beberapa wanita cantik berpakaian seksi mengumbar dada dan perut mereka. Menari dan bergelayut mesra pada leher para laki-laki. Berpangkuan, berpelukan, merangkul, dan bercumbu tidak tahu malu. Tidak ada yang melarang. Semuanya bebas melakukan apapun yang mereka suka.

Jean terlihat duduk tenang di atas sebuah sofa panjang. Pria itu tidak tertarik untuk berbaur dengan para wanita-wanita yang cantik dan seksi di tempat itu. Dia lebih memilih menghisap asap nikotin dari rokoknya sambil menonton para wanita-wanita yang cantik dan seksi itu menggoyangkan pinggul mereka mengikuti dentuman musik. Seorang pria berkepala botak tiba-tiba datang menghampirinya. Pria berkepala botak itu kemudian menyodorkan sebuah kamera. Di dalam kamera itu terdapat sebuah video.

"Take a look." Ucap pria berkepala botak itu.

Tombol Play di tekan.

Video itu memperlihatkan kejadian saat calon Presiden nomor 1 di Jepang, Darius Zackly. Hampir saja mati tertembak. Namun berhasil di selamatkan nyawanya oleh seorang pria yang tiba-tiba datang mendorongnya sampai terjatuh. Wajah seorang pria yang menjadi penyelamat Darius Zackly, terekam jelas di dalam video tersebut.

Jean kemudian melempar kamera itu menghantam ke dinding sampai kamera itu hancur menjadi berkeping-keping. Pandangan matanya menatap bengis ke arah kamera yang sudah hancur itu. Pria berkepala botak yang masih berdiri di sampingnya tiba-tiba saja mendapat sebuah panggilan telfon dari orang yang misterius.

Pria berkepala botak itu kemudian mengangkatnya. "Yes?"

Suara seorang pria terdengar dari seberang sana, berbicara dengan logat Amerika yang sangat kental.

Pria berkepala botak itu kemudian mengangguk. "Yes, Sir."

Lalu menyerahkan telfon itu kepada Jean.

Jean melemparkan tatapan bingung.

"Mr. Black." Ucap pria berkepala botak itu.

Jean lalu menerima telfon tersebut.

Kepalanya terlihat mengangguk.

Matanya melirik tajam ke arah kamera yang di lemparnya tadi.

"Okay. You got it. I'm on my way."


Setelah peristiwa mengejutkan yang menghebohkan seluruh penjuru kota Jepang. Rivaille dan Farlan mendapat undangan istimewa untuk datang ke kediaman Istana Presiden. Keduanya senang bukan main. Ini pertama kalinya dalam hidup mereka mendapatkan undangan yang istimewa seperti itu. Bahkan saat mereka menuju ke kediaman Istana Presiden, mereka di jemput dengan mobil khusus dan di kawal oleh banyak polisi. Di dalam mobil, Farlan tidak bosan-bosannya merapikan jas yang dikenakannya. Farlan terlihat sedikit gugup. Darius Zackly adalah calon presiden nomor 1 di jepang, beliau mendapatkan suara terbanyak dan terpilih secara resmi menjadi seorang Presiden. Dan berkat pertolongan Farlan dan Rivaille tempo hari lalu, Darius Zackly merasa telah berhutang nyawa. Sehingga Farlan dan Rivaille diperkenankan untuk memenuhi undangan istimewa dari Presiden.

"Hei, aku sudah tampan belum?" Farlan merapikan dasinya.

Rivaille melirik. "Lumayan."

"Kau tidak merasa gugup?" Farlan menyikut sahabatnya itu.

"Biasa saja." Rivaille memasang wajah datar.

"Aku masih tidak percaya kita telah menjadi penyelamat Presiden. Terkadang intuisimu itu bisa tepat juga, Rivaille."

"Ya. Dari dulu. Intuisiku memang selalu tepat." Rivaille melempar pandangan matanya ke luar jendela mobil. "Hanya saja aku tidak pernah bisa membuat orang lain percaya bila tanpa bukti."

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Farlan dan Rivaille akhirnya tiba di kediaman Istana Presiden. Keduanya kemudian turun dari dalam mobil. Farlan dan Rivaille dipersilahkan untuk masuk dan menunggu di dalam Istana. Ruangan yang mereka masuki sangat megah dan luas, mereka berdua kemudian duduk di atas sofa ruangan tersebut. Farlan menyomot beberapa makanan yang disediakan di atas meja. Sedangkan Rivaille mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan tersebut. Pandangan mata Rivaille lalu tertuju pada sebuah lukisan besar yang di tempel di dinding. Rivaille lalu berjalan bangkit mendekati lukisan besar itu. Farlan menatap bingung ke arah sahabatnya itu.

"Kau mau kemana?" Farlan memperhatikan gerak-gerik sahabatnya yang mendadak jadi aneh begitu.

Rivaille lalu berdiri tepat di depan lukisan besar itu.

Pandangan matanya menatap lekat ke lukisan besar itu.

Rivaille teringat sesuatu.

Tapi dia tidak bisa mengingat sesuatu itu dengan jelas.

Sebuah ingatan tentang masa kecilnya.

Kepalanya seakan memutar memori-memorinya yang telah hilang.

Lukisan itu pernah dilihatnya.

Bersama dengan kedua orang tuanya.

Rivaille pernah berdiri di tempat ini.

Berdiri tepat di depan lukisan ini.

Tapi kapan?

Dan sedang apa dia ketika itu?

Dan orang tuanya...

Orang tuanya...

Wajah ayah dan ibunya...

Rivaille tidak mampu mengingat wajah orang tuanya!

"Akh!" Rivaille memegang kepalanya yang terasa berdenyut.

"Rivaille, kau baik-baik saja?" Farlan menepuk pundaknya.

Rivaille terlihat ling-lung. Kedua tangannya masih terus memegangi kepalanya.

"Hei... Kau sakit?" Farlan menatap.

"Farlan..." Rivaille memanggil sahabatnya itu.

"Ya?" Kedua alis Farlan bertaut.

"Aku... Aku..." Ucapan Rivaille terdengar terputus-putus.

Farlan semakin bingung. "Kau kenapa?"

"Aku... Aku pernah ke tempat ini sebelumnya. Tapi..." Kalimatnya terputus lagi.

"Tapi apa?" Farlan terlihat penasaran. "Kalo bicara yang jelas!"

Rivaille memegangi kepalanya dengan kuat.

"Ya. Tidak salah lagi. Aku pernah ke tempat ini sebelumnya!" Rivaille memekik.

"Kapan? Baru kali ini kan kita datang kesini?" Farlan semakin bingung.

Rivaille menggelengkan kepalanya kuat.

"Tidak. Saat aku masih kecil. Aku pernah kesini! Bersama orang tuaku!"

Farlan terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Rivaille.

.

.

.

To be continued.


A/N: Ceritanya kok jadi seperti ini ya? Gak tau lah ya, saya sendiri juga bingung (?) /dibuang

Saya mohon maaf sekali jika di dalam fanfic ini masih terdapat banyak kesalahan kata atau beberapa kalimat yang tidak jelas. Saya juga mohon maaf bila alur ceritanya jadi agak sedikit ngawur atau berbelit-belit (?)

Kritik dan saran selalu saya terima dengan senang hati.

Terimakasih banyak karena sudah membaca.

Heichouxi-


Kampanye : adalah sebuah tindakan dan usaha yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok. Kampanye biasa juga dilakukan guna memengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian. Dalam sistem politik demokrasi, kampanye politis berdaya mengacu pada kampanye elektoral pencapaian dukungan, di mana wakil terpilih atau referenda diputuskan.