"Sayang, kau tidak boleh sembarangan menyentuh lukisan itu ya? Nanti lukisannya bisa terjatuh."
.
"Pintar sekali, siapa namamu?"
.
"Rivaille."
.
"Kau ingin menjadi apa ketika besar nanti?"
.
"Pembela kebenaran seperti Superman!"
.
"Sebagai ahli ilmu Fisika serta memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai nuklir, kalian berdua memegang kunci untuk menuju ke panggung final dalam pengembangan teknologi senjata nuklir."
.
"Orang tua anak itu adalah lulusan terbaik universitas MIT dengan pengetahuan yang sangat sempurna mengenai pengembangan teknologi senjata nuklir, mereka berdua harus mati."
.
"Rivaille, Oka-san dan Otou-san menyayangimu~"
.
"Jangan tembak Oka-san dan Otou-san!"
.
"Dia hanya seorang anak kecil, biarkan saja dia hidup."
.
.
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
[ Cover is not mine ]
a RivaEre Fanfiction Written by Heichouxi
SNIPER
Action, Mystery, Thriller, Romance
Rate: M
Warnings: AU, Yaoi/BL/BoyXBoy/MaleXMale, Deskripsi agak ngawur, EYD berantakan, Bahasa tidak baku, OOC, Alur cerita yang bergonta-ganti.
.
.
.
Don't Like? Don't Read, Don't Flame.
.
.
.
Enjoy Reading.
.
.
.
Kedua tangan Rivaille memegang kepalanya kuat. Matanya terpejam rapat. Tangannya gemetar. Memori ingatannya bagaikan sebuah kaset kusut yang terus berputar berulang-ulang tidak karuan di dalam kepalanya. Tidak memiliki alur. Semuanya tidak jelas. Tidak ada yang mampu dia ingat. Lukisan besar itu. Wajah kedua orang tuanya. Dan tempat ini. Semuanya bagaikan sebuah peristiwa yang dulu pernah dia alami. Tapi kenapa dia tidak mampu mengingat apapun tentang peristiwa itu? Kenapa semuanya terasa sulit sekali untuk dia ingat? Hanya bercak darah. Suara tembakan pistol. Pelukan hangat ibunya. Kecelakaan maut. Sampai akhirnya semuanya menjadi gelap. Dan Rivaille tidak bisa melihat apapun.
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Farlan mengguncang kuat pundak sahabatnya itu. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
Rivaille membuka matanya. Kedua telinganya terasa berdengung hebat. Rivaille tidak mampu mendengar apapun. Kecuali suara nafas dan detak jantungnya sendiri. Keringat mengalir deras turun dari pelipisnya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Jangan bercanda! Kau ini kenapa?" Farlan setengah memekik.
Rivaille menelan ludah. Jakunnya bergerak. Rasanya seperti tercekik. Suaranya seakan tercekat tidak mau keluar. Sulit sekali rasanya untuk bicara.
"Aku... tidak apa-apa, Farlan." Suaranya sangat pelan, nyaris tidak terdengar.
Farlan tahu telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya.
CEKLEK!
Pintu ruangan besar itu terbuka.
Farlan dan Rivaille mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu besar itu.
Seorang wanita berjalan masuk ke dalam ruangan.
Wanita itu sangat cantik. Memakai pakaian yang rapi dan sopan. Kedua rambutnya pendek sebahu. Mengenakan kacamata. Wanita itu berjalan mendekati Farlan dan Rivaille. Langkah kakinya berhenti tepat di hadapan mereka berdua.
"Namaku Rico Brzenska, aku adalah Skretaris Presiden." Wanita itu tersenyum.
Senyuman di bibir wanita itu seketika memudar, digantikan dengan ekspresi wajah bingung ketika wanita itu melihat keadaan Rivaille yang sudah seperti orang sakit, wajahnya pucat sekali.
"Ada apa dengan Rivaille?" Wanita itu nampak khawatir.
Rivaille yang ditanya hanya diam saja.
Farlan bingung harus menjawab apa. Farlan berusaha berfikir keras mencari sebuah jawaban.
"Ah, Rivaille baik-baik saja! Dia hanya... hanya... hanya sedikit gugup! Ya." Cuma kalimat itu yang terlintas di kepalanya.
"Oh. Rileks saja. Jangan terlalu gugup. Presiden sedang dalam perjalanan menuju kemari." Wanita itu tersenyum.
Tidak lama kemudian, bunyi derap langkah kaki seseorang bergema di seluruh penjuru ruangan. Darius Zackly terlihat muncul dari balik pintu. Beliau berjalan memasuki ruangan, di dampingi oleh seorang Penasihat di sampingnya. Farlan dan Rivaille berdiri dan membungkuk hormat di hadapan beliau. Darius Zackly tersenyum ramah lalu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
"Selamat datang di Istana Presiden. Silahkan duduk."
Farlan dan Rivaille kemudian duduk.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian berdua, karena berkat pertolongan kalian berdua, aku dapat berdiri disini."
"Ah, kami hanya melakukan pekerjaan kami." Farlan tersenyum.
"Kalian ini dari mana? Saya telah menghubungi Secreat Service tapi mereka bilang tidak ada agen mereka yang bernama Farlan Church dan Rivaille. Apakah kalian dari Guard National?"
Farlan dan Rivaille saling berpandangan.
"Kami sebenarnya bagian dari NSS." Farlan menjawab.
Darius Zackly terlihat bingung mendengar jawaban Farlan tersebut. "Apa itu NSS?"
Seluruh orang di dalam ruangan itu terdiam. Farlan dan Rivaille ikut bingung dengan ucapan Presiden barusan. Kenapa Presiden malah balik bertanya? Apakah Presiden tidak tahu menahu soal NSS?
Nile Dawk selaku seorang Penasihat yang sejak awal berdiri di samping Darius Zackly sambil ikut mendengarkan pembicaraan, tiba-tiba saja berjalan mendekat dan berbicara sesuatu di telinga Presiden. Nada bicaranya sangat pelan, tapi mampu di dengar oleh Farlan dan Rivaille.
"Saya akan jelaskan kepada anda nanti mengenai NSS." Ucap Nile.
Darius Zackly kemudian mengangguk. "Baiklah."
Setelah mengobrol cukup lama dengan Presiden, akhirnya Farlan dan Rivaille di persilahkan untuk kembali. Mereka berdua kemudian di antarkan pulang dengan menggunakan mobil yang sama saat mengantar mereka datang kemari tadi, dan di kawal dengan beberapa polisi. Saat di dalam mobil, Rivaille sama sekali tidak bersuara. Rivaille masih kepikiran dengan ingatan tentang masa lalunya.
"Kok bisa ya Presiden tidak tahu soal NSS?" Farlan terlihat heran.
Rivaille tidak menjawab. Dia terlihat sedang melamun.
"Kau mendengarku tidak sih?" Farlan menyikut sahabatnya itu.
Rivaille masih saja diam.
"Hei, Rivaille?" Farlan menepuk pelan pundak Rivaille.
Rivaille tersadar. Dia kemudian menoleh menatap Farlan. "Apa?"
"Kau melamun ya? Apa yang kau fikirkan?"
"Tidak ada." Rivaille membuang tatapannya keluar jendela.
"Kau ini..." Farlan mendengus sebal.
.
.
.
.
di Kediaman Istana Presiden
Darius Zackly terlihat sedang duduk di atas kursinya, ditemani oleh seorang Penasihat. Sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Nile tadi pada saat Farlan dan Rivaille berkunjung kemari, dia bersedia akan menjelaskan kepada Presiden mengenai NSS.
"Ini pertama kalinya aku mendengar tentang NSS." Darius Zackly memulai pembicaraannya.
"Ya. Itu memang benar. Aku hanya tahu sedikit. Aku mempelajari dan mencari tahu tentang NSS baru-baru ini." Nile menjawab.
"Jelaskan kepadaku apa saja yang kau tahu."
"Pada masa pemerintahaan ketika itu, Intelijen Pusat berwenang dalam semua masalah yang bersifat rahasia. Ada dua agen yang bekerja dengan kedua Intelijen kami dan CIA di Amerika. Mereka memasang sebuah kamera pengintai di kediaman Istana Presiden, tujuannya adalah untuk memonitori dan mengamati. Apakah anda tahu tentang proyek Presiden terdahulu, yaitu mengenai pengembangan teknologi senjata nuklir?"
"Ya. Aku tahu."
"Tentu saja negara membutuhkan sebuah organisasi yang dapat menjauhkannya dari mata-mata pemerintah Amerika. Oleh sebab itu, NSS didirikan. Pengembangan teknologi senjata nuklir ada di bawah pimpinan NSS. Bahkan setelah perubahan Administrasi Negara, NSS bukan hanya melindungi Presiden, tapi NSS juga melindungi kemanan dan rahasia-rahasia milik negara." Nile menjelaskan.
"Aku adalah anggota kongres yang bekerja dengan Intelijen Nasional kurang lebih selama 12 tahun. Jadi untuk orang sepertiku yang tidak pernah mendengar tentang NSS, apakah itu masuk akal?"
"NSS adalah organisasi rahasia, bahkan dari pantauan Intelijen Domestik sekalipun. Di luar sana tidak banyak yang tahu bahwa NSS adalah organisasi rahasia. Baik Amerika maupun Jepang. Tidak ada yang tahu keberadaan organisasi itu."
"Apa menurutmu NSS adalah organisasi yang tetap harus dipertahankan?"
"Saya tidak dapat memberi kepastian apa-apa, tapi saya yakin sekali NSS akan membuktikan kepada anda bahwa organisasi itu sangat bermanfaat untuk anda dan dapat membantu Administrasi Negara."
Darius Zackly menganggukan kepalanya. "Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi."
Nile membungkuk hormat dan segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu. Kemudian menutup kembali pintu ruangan itu dengan rapat. Di luar ruangan telah berdiri Rico yang memasang ekspresi wajah seperti ingin tahu.
"Bagaimana?" Rico berbicara setengah berbisik.
Nile menggelengkan kepalanya.
Rico terlihat bingung dan tidak mengerti dengan maksud jawaban Nile tersebut.
"Apakah Presiden ingin supaya NSS di bubarkan?" Rico bertanya lagi.
"Bukan begitu maksudku. Seseorang seperti beliau membutuhkan waktu lebih untuk membuat keputusan." Nile kemudian berlalu berjalan pergi meninggalkan Rico.
Rico mengerti dengan maksud dari ucapan Nile tersebut, wanita itu kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
.
.
.
Rivaille terlihat sedang duduk melamun di dalam sebuah restoran. Di atas mejanya terdapat banyak sekali botol-botol minuman kosong. Rivaille tidak memesan makanan di restoran itu, dia hanya memesan minuman saja. Rivaille tidak nafsu makan. Beban fikirannya yang berat membuatnya kehilangan nafsu makan. Restoran itu sangat ramai, namun keramaian di tempat itu tidak mampu merayap masuk ke dalam telinganya. Rivaille sibuk melamun. Masih terus memikirkan tentang ingatan masa lalunya.
Eren berjalan masuk ke dalam restoran tersebut. Mata indahnya bergerak dan berputar memperhatikan setiap sudut di tempat itu untuk mencari seseorang. Eren kemudian tersenyum saat menemukan orang yang sedang dicarinya.
"Kau disini rupanya." Eren lalu duduk di hadapan Rivaille. Matanya mendelik saat melihat banyak sekali botol-botol minuman kosong tergeletak di atas meja.
"Rivaille, kau mabuk?" Eren menatap lekat pria tampan di hadapannya.
Rivaille hanya diam saja. Dia masih melamun. Bahkan dia tidak sadar kalo Eren duduk di hadapannya.
Eren lalu mengulurkan tangannya menyentuh kening Rivaille, memeriksa apakah suhu badan Rivaille masih normal. "Rivaille, kau sakit?"
Rivaille langsung tesadar dari lamunannya saat keningnya di sentuh oleh Eren. Rivaille mengerjapkan kedua matanya. Sedikit kaget melihat Eren yang berada tepat di hadapannya.
"Eren?"
Eren menatap Rivaille heran. "Ya, ini aku. Kau kenapa?"
"Aku tidak apa-apa. Sejak kapan kau disini?"
"Sudah daritadi. Dan kau mengacuhkanku. Kejam sekali." Eren mencibir.
"Aku tidak ngeh." Jawab Rivaille.
"Apa semua minuman ini kau yang memesan?"
"Ya. Kenapa?"
"Jangan terlalu sering meminum alkohol. Itu buruk untuk kesehatanmu."
"Sejak kapan kau perduli dengan kesehatanku?"
"Tidak. Bukannya apa-apa. Kau itu kan masih tanggung jawabku, jadi aku tidak mau ikut jadi repot nantinya." Eren menjawab asal.
"Kau baru jadi atasanku saja sudah sok ngasih perhatian."
Hati Eren terasa mencelos mendengar ucapan Rivaille barusan.
"Kau sibuk hari ini?" Rivaille bertanya kepada Eren.
"Tidak. Kebetulan aku sedang tidak ada kesibukan. Memangnya kenapa?"
"Kau bersedia menemaniku pergi ke suatu tempat?"
Eren mengangkat sebelah alisnya. "Kemana?"
Rivaille berdiri dari kursi tempat duduknya, mengulurkan tangannya ke hadapan Eren yang masih duduk diam di kursinya. Eren menatap uluran tangan Rivaille dengan tatapan bingung.
"Mencari udara segar." Ucapa Rivaille.
Eren ikut berdiri dari kursi tempat duduknya, dan meraih uluran tangan Rivaille. "Oke, aku temani." Eren tersenyum manis.
Rivaille menarik tangan Eren berjalan keluar restoran. Eren pasrah saja tangannya ditarik seperti itu. Tanpa memperdulikan tatapan aneh dari para pengunjung lain di restoran itu. Rivaille kemudian berhenti di depan mobilnya yang terparkir di depan restoran. Rivaille membukakan pintu mobilnya untuk Eren dan menyuruh Eren untuk masuk ke dalam. Setelah Eren masuk ke dalam, Rivaille kemudian ikut masuk. Setelah keduanya memasang belt sabuk pengaman, Rivaille langsung memacu mobilnya menuju ke suatu tempat.
Rivaille menghentikan laju mobilnya di depan sebuah Gereja. Eren terlihat bingung kenapa Rivaille membawanya ke tempat seperti ini.
"Untuk apa kita kesini?" Eren menatap Rivaille yang duduk disampingnya.
"Aku dulu besar disini." Jawab Rivaille.
"Kau dibesarkan di Katedral?"
"Disana, di panti asuhan itu." Rivaille menunjuk ke arah sebuah panti asuhan yang bersebelahan dengan Gereja tersebut.
"Oh..." Eren mengangguk.
"Bukankah kau adalah ahli profil? Kau seharusnya tahu kan tentang latar belakangku?" Rivaille menatap Eren di sampingnya.
"Aku memang mencari tahu apapun tentang dirimu, tapi itu setelah kau terdaftar sebagai anggota pasukan khusus. Aku tidak pernah mencari tahu tentang latar belakangmu. Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Wakil Direktur, tetapi beliau mengatakan aku tidak perlu tahu soal itu. Tapi jujur saja, aku pernah berfikir kalo itu sedikit aneh." Eren berusaha memberi pengertian.
Rivaille kemudian turun dari dalam mobilnya. Membukakan pintu mobilnya untuk Eren. Mempersilahkan pria manis itu untuk turun. Rivaille lalu berjalan menuju ke panti asuhan itu. Eren ikut berjalan di sampingnya.
"Aku datang ke tempat ini ketika umurku 7 tahun. Aku tinggal di tempat ini sampai aku SMP. Saat aku SMA dan kuliah, aku tinggal di asrama bersama dengan Farlan." Ucap Rivaille.
"Bagaimana dengan tempat tinggalmu yang sebelumnya?" Eren bertanya seolah dia ingin tahu lebih banyak lagi.
"Aku tidak tahu. Aku tidak ingat. Itulah sebabnya aku datang kemari untuk mengetahuinya."
Langkah kaki Rivaille kemudian berhenti di depan sebuah pintu. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok! Tok! Tok—
CEKLEK!
Pintu dibuka.
Seorang laki-laki tua muncul dari balik pintu itu.
Laki-laki tua itu terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Rivaille.
"Rivaille? Kau kah itu?" Ucap laki-laki tua itu.
"Ya. Otou-san. Ini aku."
Laki-laki tua itu nampak bahagia sekali melihat kedatangan Rivaille. Dia mengusap pundak Rivaille. "Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatmu. Silahkan masuk."
Laki-laki tua itu kemudian meminta Eren dan Rivaille untuk masuk ke dalam panti asuhan itu dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. Keduanya lalu masuk. Laki-laki tua itu kemudian berjalan pergi ke dapur, lalu kembali membawakan dua gelas minuman untuk mereka berdua.
Eren kemudian meraih minuman tersebut. "Arigatou, oji-san."
Laki-laki tua itu mengangguk dan tersenyum ke arah Eren. Kemudian kembali menatap Rivaille. "Ada apa kau datang kemari? Aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangmu, jadi aku berfikir kau sudah melupakanku."
"Setelah mendapat pekerjaan, aku sedikit sibuk. Aku jadi tidak memiliki kesempatan untuk berkunjung kemari." Ucap Rivaille.
"Lalu, siapa pria manis yang kau bawa ini?" Laki-laki tua itu tersenyum menatap Eren yang sedang menyeruput minumannya.
"Dia adalah temanku di tempat kerja."
Eren menghentikan acara minumnya, lalu tersenyum manis kepada laki-laki tua itu. "Namaku Eren Jaeger, hajimemashite."
"Dia manis sekali." Laki-laki tua itu nampaknya suka dengan sikap Eren.
Eren yang dipuji begitu, hanya menunduk malu menutupi wajahnya yang bersemu merah.
"Otou-san, aku ingin berbicara sesuatu." Ucap Rivaille.
Laki-laki tua itu menatap heran. "Kalo begitu, kita bicara di dalam saja."
Rivaille menoleh menatap Eren yang duduk di sampingnya. "Aku ingin berbicara sebentar dengan otou-san di dalam, kau mau kan menungguku sebentar saja disini?"
Eren mengangguk. "Ya, jangan khawatir."
Rivaille mengusap lembut kepala Eren, lalu berdiri dari tempat duduknya. "Jangan kemana-mana."
Eren tersenyum menatap Rivaille. "Ya."
Kemudian Rivaille berjalan masuk ke dalam bersama dengan laki-laki tua itu. Keduanya langsung menuju ke ruang tengah di rumah itu. Eren terlihat duduk manis bersender di senderan kursinya sambil memainkan ponselnya.
Di ruang tengah, Rivaille duduk berhadapan dengan laki-laki tua itu. Keduanya saling menatap. Rivaille tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana.
"Kau suka dengan perusahaan tempatmu bekerja?" Laki-laki tua itu lebih dulu membuka pembicaraan.
"Ya. Aku datang kemari karena ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu." Ucap Rivaille. Tanpa basa-basi.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bagaimana pertama kali aku datang ke tempat ini? Dan seperti apa wajah kedua orang tuaku? Jika kau tahu apapun, tolong beritahu aku."
Laki-laki tua itu terlihat terkejut dengan pertanyaan Rivaille tersebut.
"Kau tidak pernah bertanya tentang masalah ini sebelumnya. Kenapa kau sangat ingin tahu tentang itu sekarang?"
"Aku memang tidak pernah memikirkan tentang hal ini. Aku sendiri juga tidak tahu apakah aku pernah mencoba untuk mengubur tentang masalah ini di dalam fikiranku sendiri. Semua itu terjadi kepadaku sebelum aku datang kemari. Jika tidak ada suatu ingatan yang tiba-tiba muncul di dalam fikiranku, mungkin aku tidak akan seperti ini. Aku merasa seperti memiliki Amnesia. Aku tidak dapat mengingat apapun tentang masa kecilku. Dan aku merasa aneh ketika aku besar. Menurutmu, kenapa aku bisa seperti ini? Siapa kedua orang tuaku yang sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" Rivaille berbicara panjang lebar.
Laki-laki tua itu menggelangkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat tidak tahu-menahu tentang apa yang tengah dicari oleh Rivaille.
"Orang yang membawamu kemari adalah seorang pegawai swasta biasa. Dia menemukanmu di pinggir jalan saat dia kembali dari perusahaan tempatnya bekerja. Tidak ada keterangan apapun tentang dirimu siapa dan latar belakangmu bagaimana. Pertama kali kau datang kemari, kau seolah-olah seperti telah mengalami trauma dengan sesuatu. Kau tidak mau berbicara dan diajak bicara. Itu berlangsung hampir satu tahun. Dan setelah itu, kau mulai terbiasa untuk tinggal di tempat ini." Ucap laki-laki tua itu.
Rivaille merasa kecewa sekali karena tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh laki-laki tua itu. Kenapa seolah-olah dia seperti dipersulit untuk mengetahui tentang siapa kedua orang tuanya? Apa salahnya sampai dia di buang dan di temukan oleh orang lain di pinggir jalan? Rivaille yakin sekali kedua orang tuanya tidak akan mungkin sekejam itu padanya. Takdir seakan sedang mempermainkannya saat ini.
"Aku minta maaf sekali. Aku tidak bisa memberimu petunjuk apapun." Laki-laki tua itu tampak mengiba.
"Tidak apa-apa. Kalo begitu, aku ingin pamit pergi." Rivaille membungkuk di hadapan laki-laki tua itu.
"Jangan sungkan untuk datang kembali kemari, Rivaille. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu. Bagaimanapun juga, kau sudah aku anggap sebagai putraku sendiri." Laki-laki tua itu tersenyum.
Rivaille hanya mengangguk. Kemudian berjalan pergi menuju ke ruang depan di rumah itu. Di lihatnya Eren sedang tertidur pulas di atas kursinya. Tangannya terlihat masih menggenggam ponsel.
Rivaille menghampiri Eren dan mengambil ponselnya.
"Oi, kalo mau tidur jangan di rumah orang."
Rivaille menendang pelan tungkai kaki Eren. Mencoba untuk membangunkannya. Tapi Eren tidak mau bangun.
Tch. Pulas banget apa tidurnya?
Rivaille menepuk pelan pipi pria manis itu. "Eren?"
Eren masih saja tidak mau bangun.
"Merepotkan saja."
Rivaille kemudian berjongkok di hadapan Eren, dan meletakan tubuh Eren agar bersandar di punggungnya. Rivaille mengendong Eren dengan gaya piggy back. Kedua lengan tangan Eren memeluk leher Rivaille. Pipi Eren menempel di pundak Rivaille. Eren masih belum juga membuka kedua matanya meskipun sudah di gendong seperti itu. Rivaille lalu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan panti asuhan itu. Langkah kakinya melangkah menuju tempat mobilnya terparkir. Sinar matahari yang terik sekali, menerpa kulit wajah Eren. Tidurnya menjadi sedikit terusik dan perlahan Eren membuka kedua matanya. Betapa Eren sangat terkejut melihat dirinya yang ada di gendongan Rivaille.
"Sudah puas tidurnya?" Rivaille berbicara tanpa menatap pria manis yang masih berada di gendongannya.
"Jangan sampai iler mu itu menetes dan mengotori bajuku."
Eren mendelik sebal. "Aku tidak ngiler kok."
"Bagus kalo begitu."
Eren mencibir. Ingin sekali rasanya menjambak rambut pria bodoh yang sedang menggendongnya sekarang.
"Jalannya cepetan dong. Panas banget nih. Nanti kulitku bisa jadi hitam." Eren memekik.
"Bawel. Kau fikir tubuhmu tidak berat?"
"Memangnya aku berat ya?"
"Lumayan."
"Masa segini aja berat sih? Katanya pria macho?"
"Berisik! Turun saja dan jalan sendiri."
Eren mengeratkan pelukannya di leher Rivaille. "Tidak mau. Tanggung. Mobilnya sudah ada di depan."
"Cih. Bocah sialan."
Eren menahan diri untuk tidak tertawa. Puas sekali rasanya karena sudah membuat Rivaille kesal. Setelah sampai di depan mobil, Eren kemudian turun dari gendongan Rivaille dan segera masuk ke dalam mobil. Rivaille juga ikut masuk.
"Tadi bagaimana? Kau sudah tahu tentang latar belakangmu?" Eren menatap Rivaille yang duduk di sampingnya.
Rivaille menggelengkan kepala. "Dia bilang tidak ada keterangan apapun tentang latar belakangku."
"Aneh sekali. NSS juga tidak memiliki informasi apapun tentang dirimu. Di tempat ini juga tidak mendapatkan petunjuk apapun. Kalau begitu, mungkin saja kau jatuh dari langit?" Eren mencoba mengajak Rivaille bercanda.
"Kau ini..." Rivaille lalu menyalakan mesin mobilnya. "Kalo aku ini benar jatuh dari langit, itu tandanya aku ini bukan manusia."
Eren menatap heran. "Lalu, kau siapa?"
"Seorang dewa."
Pfft. Eren benar-benar tidak tahan lagi menahan diri ingin tertawa.
.
.
.
Dot Pixis terlihat sedang duduk di sebuah kursi di dalam ruangannya. Pria paruh baya itu nampak sedang menerima sebuah telfon dari seseorang. Setelah selesai, dia langsung menutup telfonnya. Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangannya di ketuk dari luar. Erwin meminta izin untuk masuk ke dalam.
"Silahkan masuk, Erwin."
Erwin kemudian membuka pintu ruangan tersebut. Lalu menutupnya kembali dengan rapat. Dia berjalan menghampiri Wakil Direktur dan membungkuk memberi hormat kepadanya.
"Ada apa kau datang kemari?"
"Apakah anda sudah mendengar kabar?"
"Kabar apa?"
Pixis malah balik bertanya. Sepertinya Wakil Direktur belum mendengar kabar apapun.
"Presiden meminta anda untuk menemui beliau." Ucap Erwin.
Pixis terlihat terkejut mendengar kabar tersebut. Tapi dia tetap berusaha untuk bersikap tenang.
"Baiklah. Siapkan mobil. Aku akan segera pergi kesana."
Erwin mengangguk dan segera pergi keluar meninggalkan ruangan itu. Pixis kemudian berdiri dari kursinya dan ikut keluar dari dalam ruangannya. Setelah mobil yang akan mengantarnya telah siap, Pixis langsung masuk ke dalam mobil itu dan berangkat menuju ke kediaman Istana Presiden.
Setelah sampai di kediaman Istana Presiden, Pixis di persilahkan untuk masuk ke dalam. Sementara supir yang mengantarnya hanya di perbolehkan untuk menunggu di luar saja. Tanpa rasa ragu dan tetap tenang, Pixis melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Istana tersebut. Di dalam ruangan itu telah berdiri Darius Zackly yang menunggu kedatangannya.
"Selamat datang. Silahkan duduk."
Pixis lalu duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut. "Ada kepentingan apa anda memanggil saya kemari?"
"Aku ingin bertanya banyak hal mengenai NSS. Itulah sebabnya aku memanggilmu untuk datang kemari."
"Apa yang anda ingin tanyakan?"
"Kau adalah Wakil Direktur NSS, benar begitu?"
"Ya. Benar."
"Aku sedikit ragu, apakah kita masih membutuhkan organisasi rahasia semacam itu. Bagaimana menurutmu? Apakah menurutmu kita masih membutuhkannya?"
Pixis nampak sedang berfikir. Mencari sebuah jawaban yang tepat.
"Aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa membuat keputusan seperti itu. NSS hanya menerima perintah dari Presiden, walaupun kita harus mempertaruhkan hidup kita. NSS tidak pernah membuat keputusan apapun dalam isu-isu politik."
"Biar aku tanya beberapa pertanyaan terakhir. Aku dengar selama Administrasi Negara pemerintahan Presiden terdahulu, teknologi senjata nuklir dikembangkan. Seberapa jauh kita mendapatkan teknologi itu? Yang aku tahu, teknologi senjata nuklir di kembangkan hanya untuk tujuan penyelesaian. Benar begitu?"
"Ya. Itu benar."
"Ketika Administrasi Negara dirubah dan mulai diberlakukan, banyak di antara mereka yang ingin memenangkan kebaikan hati pemerintah Amerika, lalu kemudian mereka menyerahkan pengembangan teknologi senjata nuklir secara sukarela. Benar begitu?"
"Ya. Benar.
"Dimana Informasi untuk mengembangkan teknologi senjata nuklir sebagai penyelesaian? Tempat untuk mengembangkan teknologi senjata nuklir mungkin sudah di tinggalkan, tapi ilmu pengetahan tidak akan pernah bisa hilang."
Pixis nampaknya mulai kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Presiden tersebut.
"Saya minta maaf. Itu bukan merupakan tanggung jawabku. Jadi aku sama sekali tidak tahu."
"Souka." Darius Zackly menghela nafas.
Setelah tidak ada lagi hal yang perlu di bicarakan kembali. Presiden akhirnya memperbolehkan Pixis untuk pergi. Dengan tenang, Pixis membungkuk hormat di hadapan Presiden dan berjalan pergi meninggalkan kediaman Istana Presiden tersebut. Di dalam ruangan Istana itu, Darius Zackly masih nampak sedang berfikir.
.
.
.
— Another Place —
Jean terlihat sedang mengangkat sebuah telfon dari seseorang sambil memandangi sebuah foto yang ada di tangannya. Wajah di dalam foto itu adalah target yang harus dia bunuh dan dia habisi nyawanya. Sebelumnya, dia harus merampas sesuatu terlebih dahulu dari orang itu. Sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang berisi data-data rahasia. Barang itu sekarang ada pada tangan orang itu. Setelah Jean menghabisinya, dia akan merebut barang tersebut untuk di berikan kepada seseorang. Dan tentu saja dia tidak boleh gagal. Pekerjaannya sebagai penembak bayaran bukanlah sebuah pekerjaan biasa yang bisa dianggap remeh. Dia belum pernah sekalipun gagal dalam menjalankan misinya. Sudah tidak terhitung ada berapa banyak orang yang telah dihabisi nyawanya olehnya.
"I have confirmed. Yes, I will begin immediately."
.
.
.
Pagi itu Farlan dan Rivaille tidak pergi ke kantor. Mereka berdua mendapatkan jatah libur selama seminggu dari Erwin karena telah berhasil menyelesaikan misi pertama mereka. Farlan sedang seru menonton televisi di ruang tengah. Sedangkan Rivaille masih tidur di atas kasurnya. Sebenarnya Rivaille tidak tidur, dia mendengar daritadi suara Farlan yang tertawa sangat keras dari ruang tamu. Hanya saja Rivaille malas sekali untuk bangun dari kasurnya. Tiba-tiba saja, ponselnya yang di letakkan diatas meja disamping tempat tidurnya bergetar. Dengan mata masih terpejam, Rivaille mencoba mengambil ponselnya itu, tangannya bergerak meraba-raba meja di samping tempat tidurnya.
Drrrt.
Drrrt.
Drrrt.
Satu panggilan masuk. Eren Jaeger.
Rivaille menyipitkan matanya saat melihat kontak nama yang menelponnya pagi-pagi sekali begini.
Tch.
Rivaille mengangkat telfon itu dan meletakan ponselnya di telinganya. Tapi dia hanya diam saja tidak mau menjawab.
Pria manis dari seberang sana bersuara.
"Rivaille, ohayou..."
...
"Rivaille? Belum bangun kah?"
...
"Cepat bangun, ini sudah siang. Pemalas!"
...
"Rivaille? Jawab aku!"
...
"Yasudah. Aku tutup saja ya telfonnya? Jaa—"
"Apa?"
Rivaille akhirnya bersuara saat Eren mengancam ingin menutup telfonnya.
"Bangun! Mentang-mentang libur bangunnya siang."
"Aku sudah bangun."
Bohong. Kenyataannya Rivaille masih tidur diatas kasurnya.
"Benarkah? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, tapi hanya berdua saja. Makanya cepat bangun! Nanti siang kita berangkat."
Kedua alis Rivaille bertaut. Dia langsung bangun dari kasurnya.
"Jalan-jalan kemana?"
"Prefektur Akita."
"Akita?"
"Ya. Disana banyak sekali saljunya. Kita akan berendam di air panas, bermain ski, dan membuat bola-bola salju yang besar."
"Seperti anak kecil saja."
"Kau tidak mau? Yasudah kalo tidak mau."
"Aku mau."
"Benarkah?"
"Ya. Aku mandi sekarang."
"Iya, mandi yang bersih."
Rivaille mengerutkan keningnya. "Yasudah tutup telfonnya. Kapan aku mandinya kalo kau masih menelfon?"
Terdengar suara Eren tertawa di seberang sana.
"Ya. Ya. Aku tutup telfonnya."
"Hm."
"Bye."
...
Tut. Tut. Tut. Sambungan telfon terputus.
Rivaille lalu meletakkan kembali ponselnya diatas meja disamping tempat tidurnya. Kemudian bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
.
.
.
Eren dan Rivaille telah bersiap dengan pakaian hangat mereka. Eren mengenakan sweater tebal yang dilapisi dengan mantel berbulu serta sarung tangan di kedua tangannya. Sedangkan Rivaille, dia hanya memakai setelan jaket biasa dan sarung tangan saja. Menurutnya, itu sudah cukup hangat. Eren membeli banyak sekali snack yang memang sudah dipersiapkan olehnya dari jauh-jauh hari. Sepertinya, Eren memang sudah lama memiliki rencana untuk mengajak Rivaille pergi jalan-jalan berdua, akan tetapi dia menunggu moment yang tepat. Eren terlihat sedikit kesulitan membawa semua makanannya ke dalam mobil. Kedua tangannya yang mungil tidak sanggup jika harus mengangkatnya sendirian.
"Sudah belum?" Rivaille berteriak, bersiap untuk menutup pintu bagasi mobilnya.
"Iya. Sebentar." Eren memasang wajah kecut.
Rivaille menoleh ke arah Eren, dan berjalan menghampirinya. "Itu semua makanan?"
Eren mengangguk.
"Siapa yang mau makan makanan sebanyak itu?"
"Aku."
"Memangnya perutmu itu sebesar apa?"
Eren merengut. "Daripada banyak bertanya, lebih baik kau bantu aku membawanya."
"Cih. Minggir." Rivaille meminta Eren untuk menyingkir.
"Memangnya kau kuat?" Eren sedikit menggeser badannya menjauh.
"Kuat." Rivaille membawa semua snack itu tanpa perlu bersusah payah. Lalu memasukannya ke dalam bagasi mobilnya.
Eren melongo saja.
"Mau sampai kapan kau berdiam diri disitu? Kalo tidak cepat berangkat, kita bisa kemalaman." Rivaille kemudian berjalan memasuki mobilnya.
Eren berlari menyusul, ikut masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka berdua masuk dan memasang belt sabuk pengaman. Rivaille langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera berangkat menuju ke Akita.
Akita, Jepang.
Akita adalah Prefektur atau Provinsi yang terletak di Jepang bagian Utara pulau Honshu, tepatnya di wilayah Tohoku (wilaya di bawah pulau Hokkaido). Akita berbatasan dengan Prefektur Aomori, Iwate dan Yamagata. Oleh sebab itu, wilayah Tohoku, termasuk Akita dengan ibu kota Akita City merupakan wilayah yang memiliki iklim lebih dingin daripada wilaya-wilayah Jepang di bawahnya, meskipun tidak sedingin Hokkaido. Namun demikian, Akita dan wilayah Tohoku mengalami musim dingin yang lebih panjang dari musim lainnya. Kira-kira bila dihitung, hawa dingin mulai menerpa Akita dimulai pada bulan November dan berakhir pada pertengahan April. Maka nyaris setengah tahun Akita dan wilayah Tohoku dilanda musim dingin! Karena wilayah yang dingin ini, maka volume salju yang turun pun melimpah-ruah. Salju turun terparah di bulan Januari hingga Februari. Pemerintah dan masyarakat Akita tidak serta-merta memandang salju sebagai musibah. Di sisi lain salju di pandang oleh masyarakat Jepang, khususnya masyarakat Akita sebagai sebuah berkah. Mengapa demikian? sebab salju yang melimpah ternyata dapat menghasilkan kualitas air yang bagus, sehingga air yang bagus membuat tanah menjadi subur, kemudian tanah yang subur menghasilkan padi yang berkualitas bagus.
Eren membuka snack yang di bawanya tadi. Kemudian memakannya di dalam mobil. Rivaille hanya melirik sekilas dan tetap fokus menyetir.
Eren menyodorkan keripik ke mulut Rivaille. "Kau tidak lapar? Tadi sebelum berangkat sempat makan dulu?"
Rivaille memakan kripik yang di sodorkan oleh Eren tersebut. "Tidak sempat."
"Pola makanmu buruk sekali ya?"
"Jangan banyak mengomentari pola hidupku."
"Bagaimana nanti kalo seandainya kau memiliki pendamping hidup? Kau pasti akan sangat merepotkan." Eren mengunyah kripiknya.
"Itu beda ceritanya."
Eren menoleh. "Beda bagaimana?"
"Jika aku memiliki pendamping hidup nanti, aku tidak akan berbuat semauku. Mungkin pola hidupku akan lebih terurus."
"Jadi solusinya adalah sekarang kau harus cepat menemukan pendamping hidup." Eren menatap.
"Kau fikir melakukan itu mudah? Aku sedang berusaha mendapatkan hatinya sekarang."
"Ternyata ada yang sedang kau taksir ya?" Eren merengut. Pandangan matanya menatap lurus ke jalanan.
"Bukankah dari awal kau sudah tahu, ketika aku pertama kali bertemu denganmu saat di kampus, aku sudah menyukaimu." Rivaille memelankan laju mobilnya. Jalanan sedikit licin karena salju mulai turun.
"Tapi kau menolakku, karena kau tidak suka dengan pria macho." Rivaille melanjutkan ucapannya.
Eren menoleh. "Aku tidak menolakmu."
"Lalu ucapanmu waktu itu maksudnya apa? Jelas sekali kau bilang kalo aku ini bukan tipe-mu."
Eren menunduk. "Itu... Aku... Hanya sedikit merasa kesal. Makanya berbicaranya asal saja."
"Aku sakit hati karena ucapanmu loh, Eren."
"Aku... Tidak bermaksud membuatmu... Sakit hati." Raut wajah Eren terlihat seperti ingin menangis.
Rivaille melirik Eren disampingnya. Kemudian satu tangannya bergerak mengusap lembut rambut pria manis itu. "Jangan menangis. Aku tidak punya permen."
Eren sedikit malu di usap rambutnya seperti anak kecil. Dia lalu menyingkirkan tangan Rivaille yang masih mengusap kepalanya.
"Hentikan. Aku bukan anak kecil."
"Tapi kau kekanak-kanakan."
Eren mebuang tatapannya keluar jendela. Dia sedikit terkejut melihat salju yang semakin banyak turun.
"Rivaille, kita harus cepat mencari tempat penginapan. Saljunya mulai banyak!" Eren menoleh.
"Ya. Aku sudah tahu. Sekitar 5 kilometer lagi kita akan sampai ke tempat penginapan." Rivaille mempercepat laju mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang. Akhirnya Eren dan Rivaille sampai di sebuah tempat penginapan. Tempat penginapan yang mereka datangi ternyata sudah hampir penuh, dan hanya tersisa satu kamar kosong saja. Eren ngotot sekali meminta untuk mencari tempat penginapan yang lain. Tapi Rivaille tidak menyetujuinya.
"Tidak mau. Cari penginapan yang lain saja!" Eren merengek.
"Hari sudah hampir malam, Eren. Berbahaya. Lagipula juga saljunya turun semakin banyak." Rivaille menolak.
"Yang benar saja. Masa satu kamar berdua?"
"Memangnya kenapa?"
Eren tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya agar Rivaille bisa mengerti.
"Kita ini kan sesama jenis. Yang berbeda jenis saja banyak yang menginap satu kamar berdua."
"Justru itu yang bikin jadi berbahaya."
"Kalo kau mau cari tempat penginapan lain, cari saja sendiri."
Rivaille lalu mengeluarkan semua barang-barang dari dalam bagasi mobilnya.
Eren hanya diam saja memandangi. "Yasudah, tidak jadi."
Eren kemudian ikut membantu Rivaille membawakan barang-barang. Kamar yang mereka sewa memang ukurannya cukup luas untuk dua orang. Fasilitas di kamar itu juga sangat lengkap. Tapi hanya ada satu kasur saja. Sekali lagi, hanya ada satu kasur. Dan itu artinya Eren dan Rivaille harus tidur satu kasur berdua? Eren menelan ludahnya. Lokasi kamar mereka juga lumayan strategis, memiliki pemandangan yang cukup indah. Hamparan padang salju dan gunung-gunung yang berselimut es terlihat sangat mengagumkan sekali dari jendela kamar mereka. Eren berdecak kagum saat tiba di kamarnya dan membuka jendela. Rivaille yang terlalu lelah, langsung melempar tubuhnya ke atas kasur.
"Rivaille! Liat deh, indah sekali pemandangannya." Eren terlihat sangat takjub.
Rivaille hanya diam saja tidak tertarik.
Eren menoleh ke belakang. Dan mendapati Rivaille yang sudah tidur telungkup di atas kasur. Eren mendengus sebal, lalu menghampiri Rivaille dan memukul keras punggungnya.
PLOK!
Kedua mata Rivaille yang mulanya terpejam, mendadak terbuka dan melirik pria manis yang memukulnya.
"Apa lagi?"
"Mandi dulu kalo mau tidur."
Mendengar kata mandi, Rivaille langsung bangun. "Mandi berdua?"
Eren mendelik. "Ha? Jadi itu isi kepalamu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Eren, Rivaille malah kembali tidur lagi.
Eren makin sebal. "Rivaille, mandi dulu!"
"Nanti ah. Bawel."
Eren merengut. Kemudian ikut tidur di samping Rivaille. Eren menatap lekat wajah Rivaille yang tidur di sampingnya. Kedua mata Rivaille terpejam rapat. "Besok kita ke tempat pemandian air panas yuk?"
"Hm." Rivaille hanya bergumam.
Eren tersenyum. Kemudian ikut memejamkan matanya juga. Keduanya lalu ketiduran tanpa sempat mandi dulu.
.
.
.
Keesokan harinya, Eren dan Rivaille sudah bersiap untuk pergi mencari tempat pemandian air panas atau biasa disebut onsen. Kabarnya, di dekat Danau Tazawa, ada cukup banyak tempat pemandian air panas yang di datangi oleh para pelancong dari seluruh Jepang. Selain itu, ada banyak pula matsuri yang menawarkan kebudayaan yang telah berlangsung dari Jepang kuno.
Rivaille berjalan lebih dulu memasuki mobilnya. Eren masih tertinggal di belakang karena sedikit kesulitan mengikat tali sepatu. Setelah tali sepatunya terikat dengan sempurna, Eren langsung berlari menyusul Rivaille masuk ke dalam mobil.
"Memangnya kau tahu dimana lokasi tempatnya?" Rivaille berbicara sambil memasang belt sabuk pengaman.
"Tidak tahu sih. Tapi dari rute denah yang aku dapat, lokasinya lumayan jauh dari tempat penginapan ini." Eren menunjuk rute denah yang di pegangnya.
Rivaille menyalakan mesin mobilnya. "Nanti coba kita tanya ke penduduk setempat."
"Ya." Eren mengangguk.
Rivaille lalu memacu mobilnya meninggalkan tempat penginapan itu. Mereka berjalan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada rute denah yang dibacakan oleh Eren. Jalanan yang mereka lewati sedikit curam dan berkelok-kelok. Untung saja Rivaille sudah ahli dalam mengemudikan mobil. Di kanan dan kiri jalan terdapat banyak sekali gundukan salju, hampir semuanya tertutup salju. Ingin sekali rasanya Eren tiduran dan berguling-guling disana. Tapi Rivaille pasti tidak akan mengizinkan.
"Rivaille, aku ingin main salju." Eren merengek.
"Tidak usah."
"Sebentar saja."
"Aku bilang tidak usah ya tidak usah."
Eren merengut. "Dasar pelit."
"Satu-satu, Eren. Sekarang ke tempat pemandian air panas dulu. Setelah itu baru boleh melakukan hal yang lain. Tidak bisa sekaligus."
Eren menoleh. "Benar boleh?"
"Daripada kau merengek terus seperti anak kecil."
Eren mencubit keras lengan tangan Rivaille. "Aku bukan anak kecil."
Rivaille memekik kesakitan. "Oi, bocah! Aku sedang menyetir. Nanti kalo menabrak bukan salahku."
Eren mencibir. "Masa bodoh."
Saat mobil mereka melewati persimpangan jalan, mereka kehilangan arah. Di hadapannya ada dua belokan ke arah kanan dan ke arah kiri. Rivaille bingung harus belok ke arah mana. Eren juga tidak tahu lokasi tempat mereka berada sekarang.
"Bagaimana ini?" Eren nampak bingung.
"Putar balik saja. Kita kembali ke tempat penginapan." Ucap Rivaille.
"Tunggu dulu! Di depan sana ada anak-anak sekolah, coba tanya dulu kepada mereka. Mungkin saja mereka tahu."
Rivaille lalu menjalankan mobilnya menghampiri segerombolan anak-anak sekolah itu. Eren lalu membuka kaca jendela mobilnya dan tersenyum manis ke arah mereka. Salah seorang gadis kecil berambut merah nampak terpana melihat wajah tampan Rivaille saat Eren membuka kaca jendela mobilnya.
"Konnichiwa. Kami mendengar ada tempat pemandian air panas yang terkenal di dekat sini. Apa kau bisa memberitahu kami bagaimana cara kami untuk pergi kesana?" Eren berbicara dengan sangat manis kepada gadis kecil itu.
"Disana. Belok ke arah kiri. Lalu lurus saja mengikuti arah jalur. Nanti di penghujung jalan ada rumah. Lokasinya di dekat rumah itu." Gadis kecil itu tersenyum. Kedua matanya menatap lekat ke arah Rivaille.
"Arigatou." Eren lalu tersenyum kepada gadis kecil tu.
Rivaille yang sadar sedari tadi diperhatikan terus oleh gadis kecil itu, kemudian tersenyum sebagai tanda terimakasih. Gadis kecil itu hanya diam terpaku saat melihat Rivaille tersenyum. Rivaille kemudian menjalankan mobilnya menuju ke arah yang diucapkan oleh gadis kecil itu.
"Kakkoi." Gadis kecil itu bergumam sendirian sambil terus memandangi mobil Rivaille yang terus berjalan menjauh.
Setelah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh gadis kecil tadi, akhirnya Eren dan Rivaille tiba di tempat pemandian air panas yang mereka cari. Eren bahagia sekali rasanya. Eren langsung keluar dari dalam mobil, dia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat mandi di tempat pemandian air panas itu. Saking tidak sabarnya, Eren sampai menarik tangan Rivaille supaya pria itu cepat keluar juga dari dalam mobilnya.
"Cepat turun!" Eren menarik lengan jaket Rivaille.
Rivaille sedikit memekik saat tangannya ditarik paksa.
Setelah Rivaille turun dari dalam mobilnya, mereka berdua lalu berjalan bersama menelusuri rumah-rumah penduduk. Eren nampak kedinginan dan telapak tangannya sedikit gemetar. Eren lupa memakai sarung tangan gara-gara tadi berangkat terburu-buru. Kedua tangan Eren hampir membeku. Eren terus mengososk-gosokan telapak tangannya sambil meniupnya sesekali. Rivaille menyadari kalo pria manis disampingnya sedang mati-matian menahan hawa dingin. Rivaille lalu melepas sebelah sarung tangannya dan memakaikannya di salah satu tangan Eren, dan tangan Eren yang satunya lagi digenggam erat olehnya dan dimasukan ke dalam saku jaketnya. Eren sedikit terkejut dengan perlakuan Rivaille tersebut. Akan tetapi Eren tidak menolak. Tangannya terasa hangat sekali.
"Aku hanya tidak mau kau sakit." Rivaille berbicara tanpa menatap Eren di sampingnya.
Eren sedikit tersipu malu, wajahnya terlihat besemu merah. "Hum."
Keduanya lalu tiba di depan sebuah rumah. Penghuni rumah itu langsung keluar dari dalam dan mengucapkan selamat datang. Eren dan Rivaille dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Ternyata tempat pemandian air panasnya ada di belakang rumah itu. Keduanya langsung berganti pakaian. Setelah selesai mengganti pakaian mereka, Eren dan Rivaille langsung menuju ke kolam pemandian air panas. Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat orang-orang yang mandi di kolam itu. Pemandian air panas itu ternyata untuk umum, laki-laki dan perempuan mandi bersama!
"Ini serius?" Rivaille mendelik.
"Kenapa? Kau senang kan bisa melihat gadis-gadis cantik mandi?"
Rivaille hanya diam saja.
Eren kemudian berjalan ke pinggiran kolam. Duduk di pinggiran kolam, sambil merendam kakinya.
Rivaille berjalan menghampiri Eren dan duduk di samping pria manis itu, ikut merendam kakinya juga.
"Kau tidak mandi?" Rivaille menatap Eren di sampingnya.
"Tidak. Merendamkan kaki saja."
"Padahal aku tertarik ingin melihatmu mandi. Daripada melihat gadis-gadis telanjang, aku lebih suka melihatmu telanjang."
Eren mendelik. "Rivaille, ucapanmu tidak sopan sekali."
Rivaille hanya mengedikan bahu. "Aku serius."
Eren sangat geram. Ingin sekali rasanya mendorong pria bodoh yang duduk di sampingnya itu sampai tercebur ke dalam kolam.
Baru saja Eren ingin mendorong Rivaille supaya terjatuh ke dalam kolam, tiba-tiba saja gadis kecil berambut merah yang mereka temui di pinggir jalan tadi, datang menghampiri Eren dan Rivaille sambil membawakan sake. Eren dan Rivaille sedikit terkejut bertemu dengan gadis kecil itu lagi. Ternyata gadis kecil itu adalah anak dari pemilik tempat pemandian air panas ini.
"Siapa namamu?" Eren bertanya kepada gadis kecil itu.
"Namaku Isabel, hajimemashite. Silahkan diminum minumannya." Gadis kecil itu menyodorkan minuman yang dibawanya.
"Arigatou, Isabel." Rivaille mengusap lembut pipi gadis kecil itu.
Wajah Isabel langsung bersemu merah. Dia langsung berlari pergi meninggalkan Eren dan Rivaille. Isabel mengintip dari balik pintu. Dia menyentuh pipinya sendiri yang tadi habis diusap oleh Rivaille. Gadis kecil itu kemudian tersenyum.
Setelah Eren merasa puas bermain air di tempat pemandian air panas itu, dia lalu meminta Rivaille untuk kembali ke tempat penginapan. Rivaille setuju saja. Saat keduanya sudah berganti pakaian, mereka berdua langsung berjalan menuju ke mobil. Salju yang turun tidak terlalu banyak. Tapi gundukan salju masih terlihat memenuhi hampir di semua sisi jalan. Eren tiba-tiba menarik tangan Rivaille yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Aku ingin bermain salju sebentar."
Rivaille tidak diperbolehkan untuk menolak. Belum sempat menjawab, tangannya sudah ditarik paksa. Begitulah Eren, jika sudah punya keinginan harus terpenuhi. Sekarang siapa yang lebih merepotkan? Rivaille yang pola hidupnya sangat tidak teratur atau Eren yang segala keinginannya bersifat absolute? Silahkan tentukan sendiri.
Rivaille sedikit kesulitan untuk berjalan. Tebalnya salju mencapai ketinggian di bawah lutut kakinya. Eren sudah hampir beberapa kali terjatuh. Tapi Eren tetap saja terlihat senang. Eren sangat menyukai salju.
"Wah. Ini adalah tanah salju yang sebenarnya. Kita seperti sedang berada di dalam cerita sebuah novel karangan Kawabata Yasunari." Eren terlihat takjub.
"Kapanpun aku melihat salju, hal itu selalu membuatku menggertakan gigi." Rivaille berjalan mendahului Eren di depan.
Sebuah fikiran jahil terlintas di kepala Eren. "Kau tahu bagaimana caranya mencairkan suasana hati seseorang?"
Rivaille menghentikan langkahnya. "Tidak tahu."
Eren mengambil beberapa salju dengan tangannya, dan membentuknya menjadi seperti bola. Lalu melemparkan bola salju itu tepat ke kepala Rivaille.
Bola salju itu langsung mengenai sasaran. Rambut Rivaille di penuhi oleh banyak sekali salju.
Eren kemudian tertawa. "Begitu caranya mencairkan susana hati seseorang."
Rivaille menoleh. Dia mengambil salju dengan tangannya. Dan membentuknya menjadi seperti bola. Kali ini lebih besar dari bola salju yang Eren buat tadi. Kemudian melemparnya tepat ke kepala Eren.
"KYAAAA!" Eren memekik. Rambutnya penuh dengan salju.
Eren terlihat ingin balas dendam.
"Rivaille, mati kau!"
Eren lalu berlari mendorong Rivaille sampai jatuh terjengkang ke belakang jatuh tepat di atas tanah salju. Eren menindih Rivaille tepat di atasnya. Keduanya saling bertatapan. Jarak kedua wajah mereka sangat dekat sekali.
"Bukan begini caramu jika ingin menyerangku, Eren." Rivaille sedikit kesulitan untuk bernafas. Perutnya ditindih oleh Eren.
Eren tidak perduli. Dia tetap pada posisinya. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
Rivaille menatap Eren di hadapannya. "Apa?"
"Kenapa waktu itu kau tiba-tiba menciumku?"
Rivaille terlihat berfikir sebentar. "Itu bukan sebuah ciuman biasa."
"Bukan ciuman biasa?" Eren nampak bingung.
"Ya. Karena waktu itu kau terus mengoceh mengucapkan kata-kata kasar yang melukai hatiku. Aku hanya tidak ingin dari bibir indahmu itu, keluar kata-kata seperti itu. Jadi aku menciummu."
"Kau menciumku supaya aku berhenti berbicara kasar?"
"Ya."
"Tapi kenapa kau menciumku lama sekali?"
"Kelepasan."
"Kau juga tidak mau melepasnya."
"Ketagihan."
"Kalo begitu, mulai sekarang aku akan lebih sering berbicara kasar padamu."
Rivaille menatap bingung. "Untuk apa?"
"Supaya kau lebih sering menciumku." Eren lalu mengecup bibir Rivaille. Singkat. Tapi terasa.
Rivaille yang di kecup hanya diam menatap. Kedua matanya tidak berkedip. Eren tersenyum manis menatap Rivaille dan meletakan kepalanya di atas dada Rivaille, memeluk tubuh Rivaille sangat erat. Rivaille sedikit terkejut dengan perlakuan Eren yang tiba-tiba begitu. Ditambah lagi, Eren malah memeluknya dengan sangat erat. Benar-benar tidak sadar diri kalo tubuhnya itu berat. Tapi Rivaille tidak menolak. Rivaille membalas pelukan Eren, dan mengusap kepalanya.
"Rivaille..."
"Hm."
"Jika hal buruk terjadi padamu saat kau sedang menjalankan misi yang berbahaya. Bagaimana dengan nasibku?"
"Kau ini bicara apa?"
Eren menggeleng. "Tidak. Aku hanya merasa takut saja."
Rivaille memeluk Eren semakin erat.
"Tidak akan terjadi hal buruk apapun padaku. Aku berjanji akan kembali dengan selamat di setiap misi yang aku jalani, demi dirimu..."
Rivaille mencium puncak kepala Eren.
"...jadi jangan pernah berhenti menungguku, sampai aku kembali." Rivaille melanjutkan ucapannya.
Eren semakin mengeratkan pelukannya. Dia hanya mengangguk saja. Tidak ingin berbicara apapun lagi. Kalimat yang diucapkan oleh Rivaille barusan, seakan menjadi sebuah pertanda buruk yang mungkin saja bisa terjadi.
Kenapa dirimu ditakdirkan untuk menjadi seorang agen pasukan khusus?
Mempertaruhkan hidupmu demi misi berbahaya yang mungkin saja dapat membunuhmu.
Dan diriku sama sekali tidak mampu untuk melakukan apapun.
Selain hanya berharap semoga saja semua hal yang sangat aku takutkan itu tidak akan pernah terjadi.
Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika seandainya diriku kehilanganmu.
Disaat aku sudah benar-benar menyukaimu.
Aku sangat benci ketika aku harus kehilangan seseorang yang sangat berarti untukku tanpa bisa berbuat apapun.
.
.
.
Suasana malam hari di Akita cukup bagus. Lampu-lampu terlihat mulai menyala menyinari di sepanjang jalan. Terutama di lokasi-lokasi yang sangat ramai di kunjungi oleh orang-orang seperti sebuah tempat pertokoan atau tempat menjual berbagai makanan kuliner khas daerah tempat itu. Kiritanpo dan milk yaki adalah kuliner khas Akita yang sangat lezat. Kiritanpo adalah makanan yang berasal dari beras kemudian ditumbuk dan dibentuk menjadi silinder lalu dipanggang diatas tungku api yang disekelilingnya ada keju chedar yang ditusuk hingga menyerupai sate. Kiritanpo ini dapat dimakan bersama dengan miso manis. Sedangkan milk yaki sebenarnya adalah kue susu. Walaupun dinamakan kue susu namun kudapan ini sama sekali tidak dibuat dengan susu. Masyarakat lokal Akita menamakannya kue susu karena warna kue ini yang putih seperti susu.
Rencana awal mereka untuk kembali ke tempat penginapan ternyata terpaksa di batalkan karena Eren mengatakan bahwa perutnya sangat lapar sekali dan dia ingin makan dulu sampai kenyang sebelum kembali ke tempat penginapan. Apa boleh buat? Rivaille tentunya tidak ingin melihat Eren merengek terus karena menahan rasa lapar. Rivaille terpaksa harus memutar arah melewati jalur yang berbeda dari rute yang tadi mereka lewati saat menuju ke tempat pemandian air panas, mobilnya berputar-putar mencari tempat yang menjual makanan kuliner khas daerah tempat itu. Hari semakin gelap. Setelah lama mencari, akhirnya mereka menemukan tempat untuk mengisi perut. Sebuah restoran kecil dengan nuansa sangat tradisional, tapi ramai sekali pengunjungnya. Rivaille menghentikan laju mobilnya di depan restoran itu. Eren sudah lebih dulu turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam. Rivaille kemudian ikut turun dari mobilnya dan menyusul Eren masuk ke dalam. Mereka kemudian duduk di sebuah meja yang terletak di dekat sudut ruangan. Eren dan Rivaille memesan makanan khas daerah tempat itu, dan menyantapnya dengan lahap. Rasanya benar-benar enak sekali. Restoran yang mereka datangi itu sedikit berbeda dari yang lain, pengunjung yang makan disana ternyata diperbolehkan untuk berfoto dan hasil fotonya bisa langsung jadi. Setelah itu, foto mereka yang sudah jadi di tempel di dinding restoran sebagai sebuah kenang-kenangan. Pengunjung juga diperbolehkan menulis pesan dan kesan di foto tersebut. Eren merasa tertarik untuk ikut berfoto juga.
"Rivaille, kita foto dulu ya?" Eren merajuk.
Rivaille hanya diam saja. Dia tetap fokus dengan makanannya.
"Ayolah, Rivaille. Sebentar saja." Eren menarik lengan baju Rivaille.
Rivaille menoleh. "Aku tidak suka foto."
"Kan untuk kenang-kenangan. Sekali ini saja, aku ingin berfoto denganmu."
Rivaille tidak kuasa menolak permintaan Eren. Pria manis itu mengeluarkan jurus puppy eyes nya yang membuat Rivaille tidak bisa menolak.
"Satu kali saja." Ucap Rivaille.
Kedua mata Eren membulat bahagia. "Benar?"
"Ya."
Eren lalu melambaikan tangannya ke arah pelayan di restoran itu. Seorang wanita yang sudah berumur berjalan menghampiri Eren dan Rivaille sambil membawa sebuah kamera.
"Oba-san, bisa tolong foto kami berdua?" Ucap Eren sambil tersenyum.
Wanita itu lalu mengangguk dan mulai menyalakan kameranya. Jari telunjuknya yang sedikit keriput itu mulai bersiap untuk mengambil gambar. Rivaille tidak tahu harus berpose seperti apa. Meski ingin di foto begitu, dia tetap saja tidak mau tersenyum. Eren memberikan senyum termanisnya ke arah kamera, jari tangannya bergerak membentuk huruf V.
"Freeze."
Cahaya blitz dari kamera kemudian menyala. Wanita itu sudah selesai mengambil foto mereka berdua. Kemudian memberikan hasil foto itu kepada Eren.
"Arigatou, Oba-san." Eren mengangguk.
Wanita itu kemudian tersenyum lalu berjalan pergi.
Eren mengambil sebuah pulpen dan menuliskan sesuatu pada foto itu.
"Foto kenang-kenangan Eren dan Rivaille saat berlibur di Akita."
Kemudian Eren memberikan simbol tanda berbentuk 'LOVE' di akhir kalimatnya dan sebuah emoticon smile.
Rivaille hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Eren.
"Dasar bocah."
Eren menoleh. "Nande?"
"Sifatmu itu kekanak-kanakan sekali."
Eren tidak memperdulikan ucapan Rivaille, dia sibuk menempel foto mereka di dinding restoran itu. Setelah foto itu terpasang dengan sempurna, Eren tampak tersenyum puas.
"Kau tampan sekali di foto itu, Rivaille."
Rivaille melirik ke arah foto itu. "Ya. Kau juga manis sekali di foto itu."
Eren sedikit menahan malu mendengar ucapan Rivaille barusan. Kemudian kembali duduk menikmati makanannya.
"Oh. Aku ingin keluar sebentar. Ada yang ingin aku beli." Rivaille menatap Eren yang duduk di sampingnya.
Eren balas menatap. "Apa yang ingin kau beli?"
Rivaille tidak menjawab pertanyaan Eren tersebut. "Kau tunggu saja disini. Jangan kemana-mana."
Baru saja Eren hendak ikut, Rivaille sudah lebih dulu ngeloyor pergi keluar restoran itu. Eren mendengus sebal. Yang benar saja, masa dia ditinggalin sendirian disini? Eren lalu meneruskan acara makannya sambil menunggu Rivaille kembali.
Setengah jam kemudian, Rivaille kembali ke restoran itu sambil membawa sebuah bungkusan. Eren terus menatap ke arah bungkusan itu.
Kira-kira apa yang baru saja dibeli oleh Rivaille ya?
Barang apa yang ada di dalam bungkusan itu?
Jangan-jangan Rivaille sengaja membelikanku sebuah cokelat sebagai sebuah hadiah?
Eren senyum-senyum sendiri memikirkan hal itu.
"Berikan padaku." Eren meminta bungkusan yang di bawa Rivaille.
Rivaille terlihat bingung. "Apa?"
"Bungkusan itu. Kau membelikannya untukku kan?"
Rivaille mendelik. "Kata siapa?"
"Kataku barusan."
"Aku tidak membelikannya untukmu."
"Kenapa sih harus malu-malu? Bungkusan itu pasti isinya hadiah kan untukku?"
Rivaille menahan diri untuk tidak tertawa. Dia sama sekali tidak habis pikir kalo Eren bisa berfikir sampai se-pede itu. Rivaille lalu merogoh isi di dalam bungkusan itu, dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya...
Sebuah celana dalam pria.
Zonk.
Eren sangat terkejut saat melihat isi di dalam bungkusan itu.
"Aku membeli celana dalam. Kau mau memakainya sebagai hadiah? Nih pakai saja kalo kau mau." Rivaille menyodorkan bungkusan itu kepada Eren.
Eren ngambek. Sangat kesal sekali. Dia tidak percaya ternyata tebakannya salah. Rivaille ternyata bukan tipe pria romantis seperti yang dibayangkannya.
"Kau ngambek?" Rivaille menatap wajah Eren.
Eren yang ditatap hanya buang muka.
"Kau beneran ngambek?" Rivaille mencoba memeluk Eren, tapi ditolak mentah-mentah oleh Eren.
"Tch." Rivaille memijit pelipisnya. Bingung harus bagaiman caranya membujuk anak kecil kalo sudah ngambek begitu.
"Eren..." Rivaille berusaha membuat Eren agar mau menatapnya, tapi Eren malah menggeser posisi duduknya sedikit menjauh.
"Kau mau cokelat? Aku belikan sekarang." Rivaille sudah tidak tahu lagi harus bagaimana supaya Eren tidak benar-benar membencinya.
Eren hanya diam saja. Tidak mau menjawab pertanyaan Rivaille.
Rivaille kemudian berdiri dari kursi tempat duduknya. "Aku belikan sekarang juga untukmu."
Rivaille serius dengan ucapannya. Dia benar-benar berjalan pergi keluar restoran itu. Eren merasa sangat bersalah sekali. Kenapa sikapnya menjadi seperti anak kecil begini? Padahal Rivaille sudah susah payah menemaninya seharian ini pergi mengunjungi berbagai tempat. Menemaninya ke tempat pamandian air panas. Bermain salju. Mencari tempat makan. Tapi kenapa masih saja dirinya bersikap keras kepala seperti ini?
"Baka."
Sudah hampir satu jam Rivaille belum juga kembali. Eren sangat khawatir sekali. Eren kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan restoran itu. Siapa tahu Rivaille belum pergi terlalu jauh. Eren ingin menyusulnya. Saat Eren berjalan melangkahkan kakinya keluar pintu restoran, hawa dingin langsung menerpa tubuhnya. Rasanya dingin sekali. Matanya melihat ke arah sekeliling, berharap dapat menemukan Rivaille. Tapi Eren tidak menemukannya. Dimana Rivaille? Dia tidak merasa kedinginan? Kenapa perginya lama sekali? Eren mulai merasa gelisah. Kedua tangannya terasa gemetar.
Tiba-tiba dari sebuah gang sempit di dekat sebuah pertokoan, muncul seseorang berjalan menuju ke tempat Eren berdiri. Orang itu adalah Rivaille. Eren bahagia sekali rasanya. Ternyata Rivaille baik-baik saja. Eren melihat ke arah kedua tangan Rivaille.
Dia tidak membawa bungkusan apapun?
Bukannya tadi dia pergi ingin membelikanku sebuah cokelat?
Rivaille memperlambat langkah kakinya ketika hampir mendekati Eren.
"Mana cokelatnya?" Eren menagih.
Rivaille hanya diam saja. Kedua tangannya benar-benar kosong tidak membawa apapun.
Eren berani bersumpah kali ini dirinya benar-benar merasa kesal sekali.
"Bagus sekali kau, Rivaille. Membuatku menunggu lama sekali disini sampai aku hampir membeku kedinginan. Membuatku khawatir setengah mati. Dan sekarang kau kembali dengan tangan kosong. Kau benar-benar ingin membuatku kesal. Aku benci sekali padamu!" Eren lalu berjalan pergi meninggalkan Rivaille.
Sedetik sebelum Eren melangkahkan kakinya untuk pergi, Rivaille menarik tangan Eren hingga pria manis itu berbalik menatapnya.
"Kau mau ap—"
Baru saja Eren ingin mengeluarkan kata-kata makian, kedua tangan Rivaille langsung menangkup kedua pipi Eren, mendekatkan bibirnya dan menciumnya. Kedua bibir Eren dipaksa dibuka. Setelah bibir Eren terbuka, Rivaille lalu memberikan sebuah coklat yang ada di dalam mulutnya masuk ke dalam mulut Eren. Kedua mata Eren terbuka lebar. Eren hampir saja tersedak. Rivaille kemudian melepas ciumannya setelah cokelat itu berhasil masuk ke dalam mulut Eren.
"Sudah puas?"
Eren mendelik. Dia sama sekali tidak menyangka kalo sejak tadi Rivaille menyimpan cokelat itu di dalam mulutnya. Pantas saja tadi saat ditanya, dia tidak mau menjawab. Kedua pipi Eren benar-benar bersemu merah sekali. Dia ingin tertawa rasanya melihat aksi nekat Rivaille barusan. Eren kemudian memeluk leher Rivaille dan mengecupnya bibirnya. Lalu memeluk Rivaille sangat erat.
"Baka." Eren berbicara setengah tertawa.
Rivaille membalas pelukan Eren.
"Kau benar ingin membenciku?"
Eren menggeleng. "Tidak. Mana mungkin aku bisa membencimu?"
"Hm." Rivaille mengusap lembut kepala Eren.
"Rivaille..."
"Apa?"
Eren mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu."
Rivaille tersenyum.
Eren mungkin tidak dapat melihat Rivaille tersenyum.
Tapi kali itu, Rivaille benar-benar tersenyum.
Rivaille memeluk Eren semakin erat, seakan tidak mau melepaskannya.
"Ya. Aku juga mencintaimu."
.
.
.
To be continued.
A/N : Sebenarnya, ini bukan fanfic genre Angst, tapi kenapa saya ngetiknya rada ngilu ya (?) nih, di chapter ini saya banyakin riren momentnya—sesuai dengan permintaan reviewer xD semoga hubungan mereka berdua kedepannya makin langgeng terus deh ya. /iyain aja
Saya mohon maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam penulisan, maklumi sajalah saya hanya manusia biasa. :')
Kalo ada yang kurang jelas, atau ada yang bingung mungkin sama plot ceritanya? Bisa ditanyakan saja kepada saya, nanti akan saya jelaskan sampai jelas (?)
Kritik dan saran selalu saya terima dengan senang hati supaya bisa memperbaiki kesalahan saya.
Terimakasih banyak karena sudah mau membaca.
Heichouxi-
MIT : Kepanjangan dari Institut Teknologi Massachusetts (Massachusetts Institute of Technology) sebuah universitas yang terletak di kota Cambridge, Massachusetts tepatnya di seberang Sungai Charles dari distrik Back Bay di Boston, Amerika Serikat. Didirikan tahun 1861 sebagai respon atas kemajuan teknologi dan industri di Amerika pada saat itu, universitas ini mengadopsi universitas riset ala Eropa. Reaktor Nuklir MIT Laboratorium (MIT-NRL) adalah sebuah laboratorium universitas yang melakukan penelitian interdisipliner (lintas bidang keilmuan) antara lain di bidang bahan bakar dan sistem energi nuklir, ilmu nuklir, kedokteran nuklir, dan ilmu pengetahuan dan teknologi radiasi. 5 MW Reaktor Nuklir MIT (MITR) dilengkapi dengan fasilitas eksperimental yang dapat digunakan baik di dalam dan di luar MIT.
Katedral : adalah bangunan gereja yang dipimpin oleh seorang uskup sehingga sekaligus menjadi pusat keuskupan.
Administrasi Negara : adalah seluruh proses yang dilakukan organisasi maupun perseorangan yang berkaitan dengan penerapan atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang dikeluarkan oleh badan legislatif, eksekutif serta peradilan, terutama proses bagaimana kebijakan itu diimplementasikan.
Kongres : adalah kumpulan orang, terutama untuk tujuan politik.
Intelijen : adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detail dan keakuratannya, berbeda dengan data yang berupa informasi yang akurat, atau fakta yang merupakan informasi yang telah diverifikasi. Intelijen kadang disebut data aktif atau intelijen aktif, informasi ini biasanya mengenai rencana, keputusan, dan kegiatan suatu pihak, yang penting untuk ditindak-lanjuti atau dianggap berharga dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen.
Amnesia : adalah kondisi terganggunya daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif) dan yang terparah bisa juga disebabkan oleh operasi transplantasi sum-sum tulang belakang. Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego.
Teknologi nuklir : adalah teknologi yang melibatkan reaksi dari inti atom. Teknologi nuklir dapat ditemukan pada berbagai aplikasi, dari yang sederhana seperti detektor asap hingga sesuatu yang besar seperti reaktor nuklir.
