Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
[ Cover is not mine ]
a RivaEre Fanfiction Written by Heichouxi
SNIPER
Action, Mystery, Thriller, Romance
Rate: M
Warnings: AU, Yaoi/BL/BoyXBoy/MaleXMale, Deskripsi agak ngawur, EYD berantakan, Bahasa tidak baku, OOC, Alur cerita yang bergonta-ganti.
.
.
.
Pada chapter ini, saya ingin memberi penekanan bahwa keterangan tempat mungkin akan lebih sering bergonta-ganti, tolong perhatikan setiap nama atau tulisan yang dicetak tebal.
.
.
.
Don't Like? Don't Read, Don't Flame.
.
.
.
Enjoy Reading.
.
.
.
KRING...
KRING...
KRING...
Bunyi suara dering telepon terdengar sangat nyaring memecah kesunyian di dalam sebuah kamar yang sangat gelap dan minim suara itu. Sepasang suami istri terlihat sedang tertidur sangat pulas meringkuk di balik kain selimut berlapis tebal yang menutupi hampir disekujur tubuh mereka.
KRING...
KRING...
KRING...
Dering telepon terdengar berbunyi kembali.
Kedua kelopak mata cantik milik seorang wanita tua bergerak perlahan terbuka. Tangannya yang berwarna putih pucat dan nampak terlihat sudah mulai mengeriput mencoba untuk menggapai gagang telepon yang terletak tidak terlalu jauh di samping tempat tidurnya. Wanita tua itu lalu menempelkan gagang telepon tersebut pada salah satu telinga miliknya.
"Ya?"
...
Wanita tua itu berusaha menajamkan pendengarannya yang sudah mulai memburuk karena faktor usia. Suara parau terdengar dari seberang sana.
"Ah baik, tunggu sebentar."
Wanita tua itu lalu menoleh ke arah samping hendak membangunkan suaminya yang masih tertidur lelap.
"Sayang... bangun." Digoyangkannya pelan tubuh suaminya itu, hingga kedua kelopak mata milik suaminya perlahan mulai terbuka dan menatap lekat ke arah istrinya.
"Kenapa?"
"Ada panggilan darurat dari kantor. Mereka bilang ingin berbicara denganmu." Wanita tua itu kemudian menyerahkan gagang telepon yang dipegangnya kepada suaminya. Lalu kembali melanjutkan tidurnya tanpa rasa curiga sama sekali.
Pixis menempelkan gagang telepon tersebut pada salah satu telinga miliknya.
"Ada apa?"
"Situasi sangat darurat, Sir. Anda diminta untuk segera datang ke kantor pusat sekarang juga." Suara Nanaba terdengar sangat panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Anda akan segera mengetahuinya sendiri setelah tiba disini."
"Baik. Aku akan segera kesana."
Sambungan telepon kemudian terputus.
Tanpa pikir panjang lagi, Pixis segera bangkit dari tempat tidurnya. Menatap sejenak wajah istrinya yang telah kembali tertidur lelap. Menarik sebuah selimut hingga menutupi tubuh istrinya itu agar tetap hangat. Pixis kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan dan segera pergi menuju ke kantor pusat.
Sesampainya di kantor pusat, Pixis segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Suasana di dalam kantor nampak lain dari biasanya. Beberapa pegawai terlihat lebih sibuk. Bahkan di antara mereka sampai ada yang tidak menyadari kedatangan Wakil Direktur dihadapan mereka. Pixis langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruangan meeting. Di dalam ruangan itu sudah di penuhi oleh banyak sekali orang. Hanya tinggal tersisa satu kursi kosong saja, yaitu kursi miliknya. Semua orang di dalam ruangan itu seketika langsung berdiri dan memberi hormat saat melihat Pixis berjalan memasuki ruangan. Semuanya lalu kembali duduk pada kursinya masing-masing, dan mulai membicarakan situasi darurat apa yang sebenarnya terjadi.
Layar monitor besar yang terpasang di tengah ruangan itu kemudian menyala. Memunculkan sebuah foto seseorang. "Orang ini bernama Nack Tius." Ucap Erwin.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu langsung mengarahkan pandangan mata mereka menatap lurus ke arah layar monitor, memperhatikan dengan jelas wajah seseorang yang muncul di layar monitor tersebut.
"Nack Tius merupakan salah seorang kepala peneliti dalam bidang nuklir yang berasal dari Korea Utara, dia ingin meminta dukungan politik dari masyarakat Jepang. Nack Tius tergabung dalam anggota partai buruh nomor 24. Seperti yang telah kita semua ketahui, program senjata nuklir ada di bawah kekuasaan partai buruh nomor 24. Dengan kata lain, dia merupakan salah seorang pemegang kunci untuk program pengembangan teknologi senjata nuklir." Erwin menjelaskan.
"Apa maksudmu dengan salah seorang pemegang kunci?" Pixis masih belum paham dengan ucapan Erwin.
"Nack Tius adalah seorang ahli ilmu teknologi nuklir dalam pengembangan senjata. Maka dari itu, dia merupakan salah satu orang penting yang mungkin akan menjadi target utama sasaran teroris selanjutnya." Ucap Erwin.
Semua orang di dalam ruangan itu saling berpandangan.
"Lantas, untuk tujuan apa dia meminta dukungan politik dari masyarakat Jepang? Bukankah itu berarti dia akan dianggap sebagai penghianat oleh negaranya sendiri?" Kali ini Nanaba yang bersuara.
"Semua ini terjadi secara tiba-tiba, sehingga kita tidak memiliki cukup waktu untuk menyelidiki maksud dari tujuannya tersebut." Tukas Erwin.
"Lalu dimana dia sekarang?" Pixis kembali bersuara.
"Dari hasil pelacakan yang telah dilakukan oleh Ymir, keberadaannya saat ini masih berada di Ukraina. Tapi dia akan segera melakukan penerbangan menuju ke Hungaria. " Jelas Erwin.
"Hungaria?"
Erwin mengangguk.
"Segera hubungi Eren, Farlan, dan Rivaille untuk kembali dari masa liburan mereka. Katakan bahwa mereka mendapatkan sebuah misi darurat!" Pixis memberi penekanan pada nada bicaranya.
"Kami telah berhasil menghubungi Farlan, dia bersedia akan melakukan misi darurat ini." Ucap Nanaba.
"Bagaimana dengan Eren dan Rivaille?" Pixis menatap ke arah Nanaba yang duduk di sampingnya.
Nanaba menggeleng. "Maaf, Sir. Kami sudah berusaha mencoba menghubungi mereka berdua berulang kali, tapi ponsel mereka tidak aktif."
BRAK!
Pixis memukul sangat keras meja besar yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat geram dan marah sekali. Semua orang di dalam ruangan itu nampak terkejut.
"CEPAT HUBUNGI EREN DAN RIVAILLE! APA YANG SEBENARNYA SEDANG MEREKA LAKUKAN SEKARANG SAMPAI PONSELNYA TIDAK AKTIF?"
Nanaba sangat panik dan tidak tahu lagi harus menjawab apa. Erwin menyadari atas hal itu.
"Saya yang akan mencoba menghubungi mereka berdua. Jika situasinya tidak memungkinkan, saya akan tetap berusaha agar misi darurat ini tetap dapat terselesaikan. Sekali lagi, saya meminta maaf atas kecerobohan mereka berdua." Ucap Erwin sambil menundukan kepalanya.
Pixis tidak berbicara sepatah katapun. Pria paruh baya itu malah bangkit berdiri dari kursi tempat duduknya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan meeting tersebut. Semua orang di dalam ruangan itu hanya bisa diam dan tidak ada yang berani berbicara.
Setelah Wakil Direktur sudah benar-benar pergi, Nanaba mulai dapat bernafas lega sambil mengusap dadanya sendiri. "Yang barusan itu... hampir saja."
"Kau benar-benar tidak bisa menghubungi Eren dan Rivaille?" Erwin bersuara.
"Tidak bisa. Aku tidak tahu lagi harus menghubungi mereka berdua dengan cara apalagi." Ucap Nanaba.
Erwin memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Kenapa mereka berdua masih saja sempat berulah disaat darurat seperti ini? Katakan kepada Farlan, suruh dia segera datang kemari untuk menemuiku secepatnya."
"Yes, Sir."
.
.
.
Akita, Jepang
Cahaya mentari pagi mulai memancarkan sinarnya yang menyilaukan mata. Menelusup masuk melewati celah lubang jendela yang tertutup kain berwarna putih. Silaunya mampu menembus kain berwarna putih itu dan membuat seisi ruangan di dalam kamar menjadi cukup terang.
Rivaille perlahan membuka kelopak matanya yang semula terpejam rapat. Matanya sedikit menyipit karena terlalu banyak cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Ekor matanya melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Pantas saja sudah seterang ini. Kepalanya menoleh ke arah samping dan mendapati Eren yang masih tertidur sangat pulas. Kedua mata cantik milik pria manis itu masih terpejam sangat rapat. Wajahnya terlihat semakin manis sekali ketika sedang tidur. Ya, mereka berdua baru dapat kembali ke penginapan lewat pukul tengah malam setelah kemarin seharian melakukan perjalanan mengunjungi banyak sekali tempat indah di Akita. Fasilitas kamar yang mereka sewa memang hanya menyediakan satu buah tempat tidur saja, tapi cukup lebar kalo hanya untuk ditiduri oleh dua orang.
Sebuah ide usil terlintas di dalam kepala Rivaille. Pria tampan itu perlahan bangun dan merangkak mendekati Eren yang masih tertidur sangat pulas disampingnya. Rivaille perlahan bergerak naik ke atas tubuh pria manis itu lalu menindih perutnya. Eren tidak bereaksi apa-apa, seolah tidak merasa bahwa dirinya sedang ditindih oleh seseorang. Mata Rivaille menatap lekat ke arah wajah pria manis itu. Tatapan matanya langsung tertuju pada bibir milik Eren. Pikiran kotor mulai menguasai seluruh isi sel otaknya. Perlahan Rivaille mulai memberanikan diri mendekatkan bibirnya ingin mencium bibir itu. Akan tetapi, sedetik sebelum Rivaille berhasil melancarkan aksi mesumnya itu, tiba-tiba saja kedua kelopak mata cantik milik Eren terbuka dan langsung menatap lurus ke arah kedua mata Rivaille. Keduanya sempat terdiam dan saling berpandangan untuk beberapa saat. Rivaille kemudian segera turun dari posisinya—yang menindih tubuh Eren—dan berpindah tidur di sebelah kiri pria manis itu. Eren nampak kebingungan dan menatap Rivaille dengan tatapan polosnya.
"Kau sedang apa? Kenapa pindah jadi tidur di sebelah kiriku?" Eren masih terus menatap heran ke arah Rivaille.
Yang ditatap hanya bersikap masa bodoh dan terlihat sibuk menyamankan posisi tidurnya. "Tempat tidur ini kan luas, salah jika aku pindah tidur ke sebelah kirimu?"
"Tidak salah sih, hanya sedikit aneh saja. Terus tadi kau di atas tubuhku barusan itu, mau ngapain?" Eren masih mencecar Rivaille dengan banyak pertanyaan.
"Ya tadi itu aku mau pindah ke sebelah sini." Rivaille berbohong.
Eren mengangguk saja. "Oh, Souka..." Lalu kembali memejamkan matanya.
Rivaille masih terus memperhatikan Eren, sambil menahan diri untuk tidak tertawa. Tangan kanannya perlahan bergerak mengusap lembut puncak kepala Eren. Matanya menatap lekat ke wajah pria manis yang tidur di sampingnya itu.
Eren merasakan kepalanya diusap lembut oleh seseorang, pria manis itu kemudian membuka lagi matanya dan balas menatap Rivaille. "Apa?"
"Letakan kepalamu diatas lenganku." Ucap Rivaille.
"Untuk apa?"
"Letakan saja."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Kepalaku berat, nanti lenganmu sakit."
"Tidak akan."
"Tidak mau."
"Cepat."
Eren mendengus sebal. Tapi kemudian pria manis itu bersedia menuruti perkataan Rivaille.
"Sudah puas sekarang?"
"Hm..."
"Berat kan?"
"Tidak."
"Benarkah?"
"Ya."
Eren tiba-tiba saja tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" Rivaille menatap heran.
Eren menggeleng, dia hanya diam saja tidak mau menjawab. Eren malah memiringkan posisi tidurnya menjadi menyamping, lalu memeluk pinggang Rivaille yang tidur di sampingnya. Membenamkan wajahnya di dada milik pria tampan itu.
"Kau ini..." Rivaille ikut menyamankan posisi tidurnya dan membalas pelukan Eren. Mencium puncak kepala pria manis itu dan mengusap rambutnya dengan sangat lembut.
"Aku mencintaimu..." Eren berbicara dengan volume suara yang sangat pelan sekali tapi masih dapat di dengar oleh telinga Rivaille.
"Hm..." Rivaille hanya bergumam pelan, lalu mencium lembut kedua kelopak mata milik Eren.
"Aku mencintaimu..." Eren mengulang kembali kalimatnya, kali ini volume suaranya lebih keras.
"Ya, Eren. Aku belum tuli." Rivaille mencubit pipi Eren dengan gemas.
"Habisnya responmu cuma begitu." Eren merengut sebal.
"Kau ingin respon dariku yang seperti apa?" Rivaille menatap lekat kedua mata cantik milik pria manis itu.
"Bilang cinta juga padaku atau apalah itu... yang romantis sedikit." Eren menjawab dengan ketus.
"Kau ingin aku mengatakannya?"
Eren mengangguk. "Ya."
"Beri aku ciuman... baru aku akan mengatakannya."
"Ciuman?"
"Ya... di bibir." Ucap Rivaille.
Rivaille awalnya tidak serius dengan ucapannya, tapi Eren malah menganggap ucapan Rivaille yang barusan itu serius. Pria manis itu perlahan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir pucat milik Rivaille. Mengecup dengan lembut bibir tipis itu sampai berkali-kali. Rivaille dapat merasakan kecupan lembut dari bibir Eren, dia lalu membalas mengecupnya dan mengulumnya untuk beberapa saat.
Eren memejamkan kedua matanya menikmati ciuman lembut dari Rivaille.
Rivaille kemudian melepaskan ciumannya, lalu mengecup hidung mancung milik Eren dengan sangat lembut. "Aku mencintaimu, Eren."
Eren merasa ada sesuatu yang terbang di dalam perutnya, rasanya senang sekali mendengar ucapan Rivaille barusan. Eren memeluk Rivaille kembali, kali ini pelukannya lebih erat.
"Mau sampai kapan kau akan memeluku seperti ini? Cacing di dalam perutku sudah ramai sekali ingin meminta jatah makan." Rivaille berbicara setengah berbisik tepat di telinga kanan milik Eren.
Eren perlahan melepaskan pelukannya dan melihat ke arah jam dinding.
"Kenapa tidak bilang daritadi kalo sudah siang?" Eren mendelik.
"Kenapa juga aku harus bilang? Bukannya sudah jelas terlihat dari jendela kalo diluar sudah terang?"
Eren melongo saja menatap ke arah jendela. Kemudian segera beringsut merangkak turun dari atas tempat tidur.
"Kau mau kemana?" Rivaille meraih tangan Eren, menggenggam tangan pria manis itu dengan kuat, seakan tidak ingin Eren pergi meninggalkannya.
"Aku ingin mandi. Setelah itu baru menyiapkan sarapan untukmu. Katanya perutmu lapar?"
"Hm..." Rivaille lalu melepaskan genggamannya pada tangan Eren dan kembali memejamkan mata, melanjutkan tidur.
Eren hanya geleng-geleng kepala saja. "Cepat bangun. Jangan tidur lagi."
Pria manis itu kemudian bergegas berjalan menuju ke kamar mandi. Mengambil sebuah handuk yang tergantung tidak jauh di dekat pintu kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi itu dan menguncinya rapat dari dalam.
Tidak lama setelah Eren masuk ke dalam kamar mandi, Rivaille langsung beranjak bangun dari tempat tidurnya. Dia lalu duduk di tepi ranjang. Melihat sekilas pantulan wajahnya di depan cermin, rambutnya kusut tidak karuan—tapi wajahnya masih tetap saja tampan. Matanya bergerak mencari sesuatu. Dia menemukan ponsel miliknya tergeletak di atas meja di samping tempat tidur. Ponsel itu mati. Kehabisan Daya. "Cih..."
Rivaille kemudian mencari dimana dia menaruh tas miliknya. Berusaha untuk mencari charger. Dia berharap semoga saja masih sempat memasukan benda itu ke dalam tasnya sesaat sebelum berangkat menuju kemari. Dia mencarinya dimanapun, tapi tidak berhasil menemukannya. "Sial, apa aku lupa membawanya?"
Dua puluh menit berlalu, Eren baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Pria manis itu berjalan mendekati Rivaille dari arah belakang, memandang dengan heran melihat Rivaille yang sedang sibuk mencari sesuatu.
"Sedang mencari apa?"
"Mencari charger."
"Kau lupa membawanya?"
"Sepertinya."
Eren menaikan sebelah alisnya. "Untuk apa memangnya?"
"Ponselku kehabisan daya."
"Coba pakai charger punyaku."
"Tidak bisa. Ponselku memakai charger khusus."
"Oh, begitu. Salah sendiri tidak bawa." Eren lalu sibuk mengeringkan air yang masih terus menetes dari ujung rambutnya yang basah.
"Kau tidak mendapatkan pesan apapun?" Ucap Rivaille.
"Pesan dari siapa?"
"NSS."
Eren menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut. Kemudian memeriksa layar ponselnya. "Tidak ada. Sejak berada disini, ponselku sulit sekali mendapatkan sinyal. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa." Rivaille melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. "Buatkan aku makanan yang enak."
"Kau mau aku buatkan makanan apa?"
"Apapun itu asal masakanmu, pasti aku makan." Pintu kamar mandi kemudian tertutup rapat dan terkunci dari dalam.
Eren tersenyum, lalu berjalan menuju ke sebuah lemari pendingin yang terletak di sebelah sudut ruangan. Diambilnya 4 buah butir telur, daging sapi cincang, 2 buah sosis yang sudah dipotong-potong, buncis yang sudah di iris tipis, wortel, serta keju. Eren membawa semua bahan-bahan itu menuju ke dapur. Semua bahan-bahan itu kemudian diletakkan dan dipisahkan berdasarkan jenisnya ke dalam beberapa wadah kecil. Eren terdiam sejenak memandangi, dia bingung ingin membuatkan makanan apa untuk Rivaille.
"Aku tidak pandai memasak. Tapi aku bisa membuat omelet."
Eren mulai bersiap untuk memasak. Dia mencuci terlebih dahulu semua bahan-bahan yang akan digunakannya agar terhindar dari kotoran atau zat kimia yang berbahaya. Setelah itu dia memanaskan mentega diatas wajan lalu memasukan bawang bombay yang sudah di iris tipis, menumisnya sampai tercium bau harum. Lalu kemudian memasukan buncis, wortel, serta daging cincang. Eren terus menumisnya sampai semua sayuran itu menjadi layu dan dagingnya menjadi matang. Setelah itu, Eren menyiapkan telur pada sebuah wadah untuk dicampur dengan daun bawang, garam, merica bubuk, dan bawang goreng. Kemudian mengaduknya sampai semua bahan tercampur dan merata.
"Oke, sekarang saatnya membuat omlete!"
Eren lalu memanaskan sedikit mentega pada sebuah wajan dan menuangkan adonan telur ke dalamnya dengan sangat hati-hati. Dia juga menuangkan bahan isian yang sudah dibuatnya tadi. Sebelumnya, diatas telur ia taburi keju terlebih dahulu secukupnya. Setelah semuanya selesai, tinggal menunggu sampai telurnya matang. Setelah dirasa sudah cukup matang, Eren lalu menggulung omelet dan membaliknya agar semua sisinya juga ikut matang. Dan bagian terakhir, tinggal memberi mayonaise atau saus sambal.
"Ta-da! This is it. Omelet ala chef Eren!" Eren mencium aroma harum dari masakan buatannya sendiri. "It's so yummy."
Rivaille melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi. Handuk masih melilit di bagian pinggangnya menutupi bagian bawah tubuhnya yang polos. Dadanya yang terbentuk dengan otot tubuh yang terpahat sempurna terekspose tanpa tertutup apapun. Bulir-bulir air masih terus menetes dari ujung rambutnya yang masih basah. Indra penciumannya yang tajam mencium aroma makanan yang berasal dari arah dapur ruangan itu. Rancana awal untuk segera berpakaian diurungkannya sejenak. Kakinya perlahan melangkah menuju ke arah dapur mengikuti aroma makanan itu berasal. Dilihatnya Eren sedang asik menata sayuran di pinggiran piring dengan sangat rapi.
"Kau sedang membuat apa? Baunya tercium sampai keluar." Ucap Rivaille.
Eren terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Rivaille yang bertelanjang dada membuatnya semakin shock lalu pria manis itu memutar badannya kembali dengan cepat—memunggungi Rivaille—dan pura-pura sibuk dengan kegiatannya menata sayuran di pinggiran piring.
"Kenapa tidak memakai baju?"
"Memangnya kenapa? Tidak ada wanita disini."
"Lantas kalo tidak ada wanita kau bisa bebas bertelanjang dada seperti itu? Tidak malu dilihat olehku?"
"Kenapa aku harus malu?"
Eren mengela nafas. "Jangan sampai membuat kesabaranku habis dan kau kulempar dengan pisau."
"Kau ingin membunuhku?"
"Siapa yang bilang?"
"Barusan kau bilang ingin melemparku dengan pisau."
"Makanya jangan membuat kesabaranku habis!"
"Aku tidak melakukan apapun daritadi."
Cukup.
Sudah cukup adu mulutnya.
Eren sudah tahu kalo dia tidak akan menang.
"Baik, jika itu maumu."
"Apa?"
"Aku hitung satu sampai tiga. Kalo kau belum juga memakai baju—" Eren memutus kalimatnya.
"Kalo aku belum juga memakai baju?" Rivaille mengangkat sebelah alisnya, menunggu Eren melanjutkan kalimatnya sampai selesai.
"Aku serius, Rivaille." Eren mulai geram.
"Baiklah, aku menyerah. Kau buruk sekali dalam menutupi rona merah di wajahmu itu, Eren. Sangat jelas sekali dapat aku lihat." Rivaille lalu berjalan ngeloyor pergi meninggalkan dapur.
Eren menggenggam kuat sendok yang ada di tangannya seperti ingin membengkokannya kalo saja dia memiliki cukup tenaga untuk melakukan hal itu. "Sial."
Setelah makanan yang dibuat Eren sudah siap untuk dihidangkan. Pria manis itu dengan sangat hati-hati membawa makanan itu menuju ke meja makan. Rivaille sudah duduk pada salah satu kursi di meja makan itu sambil menopang dagunya dengan satu tangan, menunggu Eren membawakan makanan untuknya.
"Lama sekali." Desisnya.
Eren tidak menghiraukan ucapan Rivaille tersebut, dia lalu menarik sebuah bangku untuk dirinya sendiri, kemudian duduk berhadapan dengan Rivaille. Eren menyodorkan sepiring omelet untuk pria tampan yang duduk di hadapannya.
"Silahkan dinikmati." Eren tersenyum sangat manis.
"Omelet?"
"Ya. Katanya kau akan memakan apapun yang aku masak."
"Daritadi lama sekali ternyata hanya membuat ini?"
"Kau fikir membuat ini mudah?"
"Mudah saja. Hanya tinggal memasak telur lalu dicampur dengan sayuran."
"Tidak semudah itu. Perlu beberapa trik khusus!"
"Trik khusus?"
"Ya."
"Trik apa?"
"Rahasia." Eren menjulurkan lidahnya di hadapan Rivaille.
"Tch... Awas saja kalo rasanya tidak enak."
"Pasti enak kok. Hukum aku kalo rasanya tidak enak."
"Hukuman seperti apa yang kau inginkan?"
"Apapun itu, terserah saja."
Rivaille lalu menyendokan beberapa potongan kecil omelet ke dalam mulutnya. Rasanya memang enak sih.
"Enak?"
"Lumayan."
"Lumayan itu berarti enak?"
"Aku tidak bilang enak."
"Berarti tidak enak?"
"Bukan juga."
"Lalu apa?"
"Biasa saja."
"Ah masa sih?"
Eren lalu menyendokan beberapa potongan kecil omelet ke dalam mulutnya juga. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok, Eren memakannya dengan sangat lahap. Rivaille berhenti makan, pria tampan itu malah sibuk meperhatikan Eren makan.
Eren yang sadar sedang diperhatikan, lalu menghentikan makannya dan menatap ke arah Rivaille. "Rasanya enak kok."
Rivaille diam saja tidak menjawab.
Eren lalu melanjutkan acara makannya lagi. Rivaille masih saja terus memperhatikannya.
"Apa lihat-lihat?" Tanya Eren ketus.
"Tidak apa."
"Kenapa daritadi memperhatikanku?"
"Sengaja."
"Sengaja apa maksudmu?"
"Sengaja ingin membuat wajahmu blushing ketika sedang makan."
"Ha-hah? Untuk apa memangnya?"
"Karena aku suka melihat wajahmu yang seperti itu."
"Su-suka?" Rona merah mulai muncul di wajah Eren. Belum pernah sekalipun Eren mendengar Rivaille secara terang-terangan memujinya seperti ini.
Rivaille semakin lekat menatap wajah Eren. "Ya. Suka sekali."
Eren membuang mukanya ke arah samping. Berusaha agar Rivaille tidak dapat melihat wajahnya sekarang.
"Sudah aku bilang, kau tidak pandai menyembunyikannya. Jadi tidak usah disembunyikan segala. Wajahmu malah semakin merah nanti." Rivaille menyendokan omelet ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya lembut.
Eren mendengus sebal, menatap tajam ke arah Rivaille.
"Rivaille..."
"Hm?"
"Kau baru pertama kali ya melihat pria manis blushing ketika sedang makan?"
"Ya. Baru pertama kali ini."
"Bagaimana bisa kau berbicara hal seperti itu di hadapanku dengan wajah yang datar?"
"Tidak tahu."
Eren merasa geram sekali, dia lalu meletakan sendoknya dengan kasar di atas piring. Tidak mau lagi melanjutkan acara makannya. "Aku sudah selesai."
"Habiskan."
"Sudah kenyang."
"Aku bilang habiskan, Eren."
"Tidak mau."
"Apa perlu aku suapi?"
"Tidak usah."
"Kalo begitu cepat habiskan."
"Tidak. Aku sudah kenyang!"
"Kau ingin aku suapi dengan mulut?"
Eren mendelik. "Si-siapa yang minta disuapi dengan mulut?"
"Kalo kau tetap tidak mau menghabiskan makananmu, aku akan benar-benar menyuapimu dengan mulut. Tidak perduli kau akan menikmatinya atau tidak."
Eren mulai berfikir yang bukan-bukan. "Hah? Ba-baik! Akan aku habiskan! Jadi kau tidak perlu melakukan hal semacam itu."
"Bagus. Cepat habiskan."
Eren lalu melahap semua sisa omelet yang ada di piringnya sampai tidak tersisa. Mulutnya penuh terisi hingga ia kesulitan untuk berbicara. Eren hampir mati karena tersedak kalo saja dia tidak segera meminum air.
Rivaille menatap dengan rasa jijik. "Jorok sekali kau, Eren."
.
.
.
Batalion, Hungaria
Farlan ditugaskan untuk pergi sendirian berangkat menuju ke Hungaria, menjalani misi darurat ini. Eren dan Rivaille masih belum juga dapat di hubungi. Mau atau tidak mau, Farlan harus tetap menjalankan misinya meskipun hanya sendirian. Inilah resiko yang memang harus ia hadapi sebagai salah satu anggota pasukan khusus. Awalnya Farlan merasa tidak yakin kalo ia akan mampu untuk melakukan misi ini atau tidak, dan Farlan juga sempat berfikir kalo kemungkinan dia berhasil akan sangatlah kecil. Tapi Erwin mengatakan telah mengatur segalanya, dan meyakinkan Farlan bahwa misinya kali ini tidak akan terlalu sulit. Farlan hanya perlu membawa Nack Tius kembali ke Jepang dengan selamat. Mungkin kelihatannya memang sepele, tapi Farlan tetap harus berhati-hati karena jika dirinya sampai tertangkap, itu akan menjadi sebuah masalah besar yang akan membahayakan keselamatan nyawanya sendiri. Jika Farlan sampai gagal melakukannya, kemungkinan besar dia akan mati terbunuh.
"Come on, you can do it. Okay? Calm down."
Farlan berusaha mati-matian untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Nack Tius sedang berada di sebuah ruangan khusus di dalam gedung. Ada banyak sekali penjaga di dalam gedung itu. Tidak sembarang orang dapat menerobos masuk ke dalam. Di setiap sisi pintu masuk dan pintu keluar terdapat dua sampai tiga orang bodyguard yang bersenjata api. Tentu saja ini akan menjadi hal yang tidak mudah untuk Farlan. Dia perlu melakukan penyamaran agar dapat mempermudah aksinya dan tidak dicurigai. Jujur saja, ini merupakan kali pertama baginya melakukan sebuah penyamaran.
Farlan menyamar menjadi seorang room service yang bertugas untuk mengantarkan makanan. Dengan setelan jas berwarna hitam dan penampilan yang sudah sesuai peran, dia melakukan tugasnya. Dengan sangat yakin dan tetap waspada, Farlan berjalan masuk ke dalam ruangan di dalam gedung itu sambil membawa sebuah nampan berisi makanan di tangannya. Dengan sangat mudah, Farlan dapat melewati beberapa orang penjaga yang berdiri di depan pintu tanpa dicurigai. Penyamarannya ternyata berhasil. Farlan bergegas berjalan menuju ke sebuah ruangan yang diyakininya sebagai lokasi tempat Nack Tius berada. Saat Farlan membuka pintu ruangan tersebut, ternyata di dalamnya ada banyak sekali bodyguard dari Eropa yang sedang asik mengobrol sambil bermain kartu, mereka semua berjumlah kurang lebih sekitar tujuh orang.
"Sial." Umpatnya.
Farlan tetap berusaha untuk bersikap tenang. Perlahan dia memutar gagang pintu ruangan itu sambil tetap membawa sebuah nampan yang berisi makanan di tangannya. Saat pintu ruangan itu terbuka, Farlan mulai masuk ke dalam. Seluruh bodyguard yang ada di dalam ruangan itu langsung mengalihkan pandangan mereka dan menatap ke arah Farlan dengan tatapan curiga.
Apa yang mereka lihat?
Apa mereka mencurigaiku?
Oh Ayolah, Aku belum ingin membunuh orang sekarang.
Salah seorang bodyguard berdiri dari kursi tempat duduknya dan berjalan menghampiri Farlan. Matanya memperhatikan Farlan secara intens dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Kemudian perhatiannya tertuju pada sebuah nampan yang sedang dibawa Farlan. Dibukanya tutup nampan itu, dan dilihatnya dengan jelas isi di dalam nampan tersebut. Secara kasat mata, mungkin nampan itu memang hanya berisi sebuah cake biasa. Tapi siapa yang akan mengira kalo ternyata cake itu adalah umpan yang memang sudah dirancang dan dipersiapkan dari awal? Nampan yang di bawa oleh Farlan memang bukanlah nampan berisi cake biasa. Nampan itu berisi sebuah cake dengan topping strawberry khusus. Hanji telah mendesain sebuah topping strawberry khusus yang dapat meledak dan mengeluarkan asap beracun. Siapapun yang menghirup asap itu, akan mengalami sesak nafas, keracunan, lalu kemudian mati. Saat tutup nampan itu dibuka oleh salah seorang bodyguard, topping strawberry itu langsung meledak dan menyemburkan asap beracun. Farlan sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Oleh sebab itu, Hanji memintanya untuk membawa dua buah masker berisi tabung oksigen agar Farlan tetap bisa bernafas tanpa harus menghirup asap beracun tersebut. Satu per satu para bodyguard mati karena keracunan. Farlan segera memanfaatkan situasi tersebut untuk dapat menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar tempat Nack Tius berada. Di dobraknya pintu kamar itu hingga terbuka lebar. Dan di dapatinya Nack Tius yang menatap ke arahnya dengan ekspresi wajah yang penuh ketakutan.
"Siapa kau?" Ucapnya.
"Saya Farlan Church, anggota pasukan khusus dari Jepang yang ditugaskan untuk membawa anda."
"Benarkah?" Nack Tius masih belum percaya.
Farlan mengangguk. "Kita tidak memiliki banyak waktu. Anda harus segera saya bawa keluar dari tempat ini sebelum para penjaga yang lain berdatangan."
Nack Tius akhirnya percaya saja dengan ucapan Farlan.
"Pakai ini." Farlan menyerahkan masker berisi tabung oksigen. "Agar anda tetap bisa bernafas dan tidak terkena asap beracun."
Nack Tius hanya mengangguk dan menuruti semua perkataan Farlan.
Beberapa penjaga mulai berdatangan. Dua orang penjaga bersenjata api terlihat bersiaga berdiri di depan pintu ruangan tempat Farlan dan Nack Tius berada. Dua orang penjaga itu bersiaga berdiri di luar siap untuk menembak. Farlan mengetahui akan hal itu. Otaknya kemudian berfikir mencari cara agar ia tetap bisa membawa Nack Tius keluar dari ruangan ini tanpa harus terbunuh oleh dua orang penjaga bersenjata api yang berdiri di luar pintu. Matanya lalu tertuju pada topping strawberry yang masih terus mengeluarkan asap beracun. Farlan melepas jas yang dikenakannya dan menggunakan jas itu untuk menutupi bagian atas dari topping strawberry tersebut. Asap beracun perlahan mulai keluar dari sela-sela jas. Farlan secara hati-hati memutar gagang pintu dan membukanya perlahan. Asap beracun yang masih terus keluar dari sela-sela jas, mulai melewati celah di bagian bawah pintu yang sedikit terbuka. Dua orang penjaga yang masih bersiaga berdiri di luar sedikit terkecoh dengan kemunculan asap misterius dari bawah pintu. Farlan memanfaatkan situasi tersebut untuk mengarahkan ujung pistolnya ke arah dua penjaga itu.
KLIK.
Bunyi suara pelatuk ditarik.
CTAR!
CTAR!
Dua orang penjaga itu kemudian jatuh tersungkur ke lantai dengan lubang di dada dan perut mereka. Keduanya langsung tewas seketika.
Farlan lalu bergegas menarik tangan Nack Tius keluar dari dalam ruangan itu. Mereka berdua berlari menuruni tangga. Tujuan mereka adalah harus berhasil sampai ke lantai dasar, kemudian keluar melalui pintu sebelah utara gedung ini. Farlan dan Nack Tius melepas masker oksigen yang mereka gunakan, karena mereka sudah tidak memerlukan masker oksigen itu lagi. Beberapa orang penjaga terlihat terus berdatangan dari lantai paling dasar. Para penjaga itu mulai berjalan menaiki tangga. Farlan menghentikan langkah kakinya dan tetap bersiaga di atas.
"Bagaimana ini? Mereka semua mulai naik." Nack Tius tampak cemas.
"Mereka berjumlah sekitar enam orang dan semuanya membawa pistol. Anda bisa bela diri?"
"Aku sudah terlalu tua untuk berkelahi."
"Aku yang akan mengatasi mereka semua. Mungkin anda hanya perlu menendang mereka jika salah satu dari mereka mulai mengeroyokiku."
"Kau yakin tidak akan apa-apa?"
"Tidak yakin sih."
Nack Tius menatap tajam ke arah Farlan. "Apa maksudmu?"
"Haha—tenang saja. Kalo aku berhasil, kita akan selamat. Kalo aku gagal, ya—mungkin kita akan mati." Farlan nyengir saja di hadapan pria itu.
Para penjaga masih terus berjalan menaiki tangga. Satu per satu dari mereka perlahan mulai mendekat. Saat para penjaga berada tepat di bawah tangga tempat Farlan dan Nack Tius bersiaga, Farlan segera melompat dari atas, dan menindih dua orang penjaga di bawah. Empat orang penjaga yang lain langsung bergerak menyerang Farlan dengan tinjuan dan pukulan.
KRAK.
Farlan mematahkan leher salah seorang penjaga bertubuh gempal, menyikut dengan sangat keras tengkuk lehernya sampai penjaga itu jatuh tersungkur.
SREK.
Kaki Farlan secara tiba-tiba ditarik oleh penjaga yang lain. Farlan diseret dan dilempar menghantam dinding.
BRAK!
Kepalanya terasa berdenyut hebat, sungguh rasanya sakit sekali. Untung saja Farlan tidak sampai pingsan. Dia kuat untuk bangkit dan berdiri lagi. Farlan langsung melayangkan tinjuan mautnya ke arah wajah seorang penjaga yang sudah dengan tidak manusiawi menyeret kakinya tadi. Tinjuan maut itu dia pelajari dari sahabatnya—Rivaille. Mungkin kalo Rivaille yang melakukannya, efeknya akan lebih luar biasa. Tapi tinjuan Farlan tidak buruk, penjaga itu langsung jatuh terpental dan menggilinding ke bawah dari atas tangga.
"Sial, sakit juga ternyata ya..."
Sisa tiga orang penjaga lagi. Nack Tius perlahan mulai memberanikan diri ingin membantu Farlan. Salah seorang penjaga terlihat ingin mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas miliknya, dan ingin menembak Farlan dari arah belakang. Farlan tidak mengetahui hal tersebut karena dia sedang sibuk menghabisi nyawa dua orang penjaga yang lain—akan tetapi, Nack Tius melihatnya. Baru saja penjaga itu ingin menarik pelatuk pistol miliknya, Nack Tius tiba-tiba saja datang dan memukul kepala penjaga itu dengan sangat keras dari arah belakang, sehingga peluru yang akan di tembakannya meleset!
CTAR!
Peluru tersebut melesat ke arah sebelah kiri telinga Farlan, lalu menghantam mengenai dinding kaca sampai terdengar suara pecahan.
PRANG!
Farlan spontan menoleh ke arah belakang dan dengan cepat mengarahkan ujung pistolnya ke arah penjaga itu.
CTAR!
SLAK.
Satu peluru tepat menembus dada penjaga itu.
Darah mengalir deras dari balik jas yang dikenakannnya, penjaga itu langsung tewas di tempat.
"Kita harus secepatnya keluar dari tempat ini." Ucap Farlan.
Keduanya langsung berlari menuruni tangga. Setelah mereka berhasil sampai ke lantai paling dasar. Farlan segera menarik tangan Nack Tius menuju ke arah pintu sebelah utara di gedung itu. Mereka akan keluar darisana. Saat langkah kaki mereka hampir mencapai pintu, beberapa penjaga terlihat mulai bermunculan lagi dari segala penjuru gedung. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Farlan dan Nack Tius semakin memepercepat langkah kaki mereka. Keduanya akhirnya berhasil keluar dari dalam gedung itu melalui pintu samping. Pandangan mata Farlan langsung tertuju pada sebuah sepeda motor yang terpakir tidak jauh dari lokasi pintu keluar. Tanpa pikir panjang lagi, Farlan langsung menaiki sepeda motor tersebut dan meminta Nack Tius untuk ikut naik. Keduanya lalu memasang helm pengaman di kepala mereka. Setelah itu, Farlan langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan gedung. Beberapa penjaga terlihat berlarian keluar dari gedung, mereka tidak berhenti sampai disitu. Salah seorang penjaga terlihat mengeluarkan sebuah mobil dari dalam bagasi. Para penjaga yang lain segera ikut masuk ke dalam mobil dan mulai mengejar dengan menggunakan mobil itu.
Farlan terus memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Nack Tius terlihat ketakutan dan terus berpegangan kuat ke pinggang Farlan agar tidak terjatuh. Farlan mengendarai sepeda motor itu dengan kecepatan penuh, melewati banyak tikungan dan menyalip diantara pengendara yang lain. Mobil milik para penjaga itu masih terus melaju sangat kencang mengikuti dari arah belakang. Farlan dapat melihatnya dengan jelas melalui kaca spion. Kaca jendela mobil itu tiba-tiba saja terbuka, salah seorang penjaga terlihat mengeluarkan pistolnya, berusaha untuk menembak ke arah ban sepeda motor milik Farlan. Satu pelatuk ditarik!
KLIK.
CTAK!
Peluru meleset!
Sangat sulit sekali membidik target yang terus bergerak.
Farlan mengetahui bahwa kondisinya saat ini sedang tidak aman. Farlan kemudian membanting stir ke arah luar jalanan. Dia menerobos pembatas jalan dan memacu sepeda motornya melaju di atas trotoar tempat pejalan kaki. Untungnya kondisi jalanan saat itu masih sangat sepi. Farlan menyelinap di balik semak-semak pepohonan sambil terus menambah laju kecepatan sepeda motornya. Hal tersebut tentu saja menyulitkan penjaga itu untuk menembakan pistolnya ke arah ban sepeda motor milik Farlan. Beberapa peluru terus meleset dan malah mengenai batang pohon. Farlan tampak tersenyum puas dan semakin menambah laju kecepatannya menuju ke arah pelabuhan. Farlan telah menyiapkan sebuah kapal kecil di pinggiran pelabuhan itu untuk mereka melarikan diri. Setelah sampai di pelabuhan, Farlan langsung menghentikan laju sepeda motornya dan bergegas turun. Nack Tius ikut turun. Keduanya langsung berlari menuju ke arah kapal kecil yang ada di pinggiran pelabuhan, mereka segera masuk ke dalam kapal kecil itu. Para penjaga mulai bermunculan, masih terus mengejar. Dengan cepat Farlan segera menyalakan mesin kapal dan mengendarainya menuju ke tengah laut. Kapal kecil yang dikemudikan oleh Farlan perlahan mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. Para penjaga berhenti mengejar, mereka tidak memiliki kapal untuk terus mengikuti jejak Farlan dan Nack Tius pergi.
Salah seorang penjaga terlihat sangat kesal dan mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Nack Tius dibawa kabur oleh seorang pria misterius. Pria itu membawanya kabur dengan menggunakan sebuah kapal kecil di pinggiran pelabuhan. Kami tidak dapat mengejarnya. Banyak pula orang dari pihak kami yang mati terbunuh."
"Bodoh! Dasar kalian semua tidak berguna!"
Sambungan telepon kemudian diputus secara sepihak.
.
.
.
Jean melangkahkan kakinya berjalan memasuki gedung itu. Tangan kirinya bersiaga sambil memegang sebuah pistol. Ekor matanya terus bergerak melihat ke segala penjuru di tempat itu. Tidak ada satupun orang yang ditemuinya di dalam. Aneh sekali. Padahal tempat ini seharusnya dijaga dengan sangat ketat. Jean masih terus melangkahkan kakinya hingga mendekati tangga utama di tempat itu. Matanya langsung terbuka lebar melihat dihadapannya ada banyak sekali mayat-mayat para penjaga yang berserakan di lantai. Tidak ada satupun dari mereka yang tersisa hidup-hidup.
Jean segera melangkahkan kakinya menaiki tangga. Menendangi tubuh mayat-mayat para penjaga yang menghalangi jalannya. Saat dia tiba di depan pintu sebuah ruangan yang dicarinya, ditendangnya dengan sangat kuat pintu ruangan itu hingga terbuka. Di dalam ruangan itu dipenuhi oleh banyak sekali asap beracun. Mayat-mayat para penjaga yang lain juga ditemukan tidak bernyawa dengan mulut mereka yang mengeluarkan busa, mereka semua mati karena keracunan. Jean melangkahkan kakinya mundur dari dalam ruangan itu, dia tidak ingin ikut terkena asap beracun. Dia tahu betul telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan tempat ini. Seseorang pasti telah lebih dulu mengambil target sasaran yang akan dihabisinya. Siapa orang itu? Ada berapa jumlahnya? Mereka sanggup menghabisi hampir seluruh penjaga di tempat ini?
Jean kemudian merogoh kantung celananya, mengeluarkan sebuah ponsel. Dia lalu menekan beberapa digit angka di layar ponselnya, dan mulai menghubungi seseorng.
Sambungan telepon terhubung.
"There's nothing here. This place is clear. All the bodyguard has been dead. The target might be running away."
.
.
.
Akita, Jepang
Cuaca di Akita hari itu lumayan cerah. Tidak banyak salju yang turun. Eren meminta Rivaille untuk menemaninya bermain ski. Awalnya Rivaille menolak karena tidak begitu menyukai permainan itu. Tapi karena Eren terus memaksa, apa boleh buat? Rivaille akhirnya mau menuruti permintaan pria manis itu. Dengan setelan pakaian hangat yang lengkap, mereka berdua langsung pergi menuju ke resor tempat bermain ski. Biaya paket ski adalah sekitar 6.000 yen per orang, itu sudah termasuk biaya sewa peralatan ski juga. Eren dan Rivaille sama-sama belum pernah mempunyai pengalaman dalam bermain ski, mereka hanya bermodalkan nekat saja. Tanpa menyewa seorang instruktur ski, keduanya mulai mencoba skill mereka. Eren berkali-kali jatuh, karena dia belum tahu bagaimana caranya berhenti dengan benar. Terkadang Eren sengaja menabrakan dirinya ke dinding pagar supaya dia dapat berhenti meskipun harus terjatuh. Atau kalau tidak ada dinding pagar, Eren sengaja menjatuhkan diri sebagai satu-satunya cara agar dia dapat berhenti.
"Bocah bodoh." Umpat Rivaille yang tidak habis fikir melihat Eren yang sejak tadi terus-terusan jatuh.
"Sakit." Rintihnya.
"Sudahan saja!" Rivaille menarik tangan Eren dan membantu pria manis itu bangun.
"Akh..." Eren terlihat memegangi lutut kakinya yang terasa nyeri.
"Kau terluka?" Rivaille nampak cemas.
Eren menggeleng. "Tidak. Aku tidak apa-apa."
"Kau yakin? Sini coba aku lihat lutut kakimu."
"Tidak! Tidak usah."
"Kenapa?"
"Aku benar tidak apa-apa."
"Awas kalo nanti kau minta gendong karena tidak bisa jalan."
"Aku bisa kok!" Eren lalu berjalan memutari Rivaille dengan menggunakan peralatan ski miliknya. "Lihat kan? Aku baik-baik saja."
"Hm..."
Setelah terus mencoba bermain hampir satu jam, akhirnya Eren sudah tahu bagaimana cara untuk mempercepat dan memperlambat laju kecepatannya, kemudian bagaimana cara belok ke kiri atau ke kanan. Ternyata bermain ski itu awalnya memang tidak mudah, tapi dengan jatuh bangun beberapa kali, akhirnya jadi terasa mudah.
"Sudah cukup. Wajahmu mulai terlihat pucat karena kedinginan." Ucap Rivaille sambil melepaskan peralatan ski yang digunakannya.
"Aku masih mau main!" Eren masih merasa belum puas.
"Aku tidak mau kau sakit, Eren." Rivaille lalu berjalan menuju ke pondok tempat peristirahatan di dekat pinggiran lokasi bermain ski dan duduk disana.
Eren kemudian berjalan mengekor di belakang, lalu duduk di samping Rivaille dengan ekspresi wajah yang cemberut. Segelas cokelat hangat sengaja diberikan oleh salah seorang ibu penjaga di pondok itu, untuk membantu mereka menghangatkan tubuh setelah berjam-jam bermain diatas es yang membeku. Eren meraih segelas cokelat hangat itu, menempelkan telapak tangannya yang terasa sangat dingin, sambil terus meniupi uap panas yang mengepul keluar dari dalam gelas. Rivaille hanya diam saja mengamati.
"Pokoknya setelah ini kau harus menemaniku pergi ke satu tempat lagi." Ucap Eren dengan nada bicara yang ketus.
"Kemana?"
"Akuarium Oga."
"Untuk apa pergi kesana?" Rivaille meneguk segelas cokelat hangat miliknya.
"Tentu saja untuk melihat banyak binatang laut. Tempat itu sangat indah. Kapan lagi kita memiliki kesempatan untuk pergi kesana?"
Rivaille hanya diam saja tidak menjawab.
"Kau mau kan?" Eren menatap lekat ke wajah Rivaille, sambil mengeluarkan jurus puppy eyes terbaik miliknya.
Rivaille melirik sekilas. "Tch... Ya. Ya."
Eren tersenyum puas mendengar jawaban Rivaille tersebut. Lalu dengan cepat menghabiskan segelas cokelat hangat miliknya. Meneguknya sampai tidak tersisa.
"Kita berangkat sekarang saja, supaya tidak pulang terlalu larut malam seperti kemarin." Ucap Rivaille.
Eren hanya mengangguk saja.
Keduanya lalu berjalan bersama, pergi meninggalkan resor tempat bermain ski. Mereka secara bersamaan melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil, duduk dan memasang belt sabuk pengaman. Rivaille terlihat terdiam untuk beberapa saat, tatapannya kosong. Eren yang duduk di sampingnya, terlihat bingung dengan sikap Rivaille yang tiba-tiba saja jadi melamun seperti itu.
"Ada apa?" Eren menepuk dengan pelan pundak Rivaille. Tidak ingin membuatnya terkejut. Kedua matanya menatap pria tampan itu dengan sangat khawatir.
Rivaille tersadar dan balas menatap. "Perasaanku tidak enak."
"Tidak enak kenapa?"
"Aku merasa telah terjadi sesuatu yang tidak beres dengan NSS."
Eren menaikan sebelah alisnya, terlihat tidak mengerti dengan apa yang sedang Rivaille bicarakan. "Bukannya masih ada Farlan?"
"Justru itu, aku khawatir padanya sekarang."
Eren mengangguk, lalu mengusap dengan lembut pundak Rivaille. Seolah ingin membuat hati pria tampan itu menjadi tenang kembali.
"Tidak akan terjadi hal buruk apapun. Percayalah padaku, Rivaille."
Rivaille menatap lekat kedua mata cantik milik Eren. Tidak ada satupun kebohongan disana. Eren sangat yakin betul kalo semuanya memang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu untuk di khawatirkan.
Rivaille hanya mengangguk, kemudian menyalakan mesin mobilnya. Dia mamacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke lokasi tempat yang diinginkan oleh Eren tadi.
"Aku tidak tahu arah jalan menuju ke lokasi tempat itu. Gunakan google maps atau apalah itu—agar kita tidak tersesat di jalan."
Eren mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya yang canggih dari dalam kantung celana. "Sinyal ponselku lamban sekali seperti keong."
Rivaille hanya melirik sekilas dan kembali fokus menyetir.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua jam lamanya, dengan hanya bergantung pada alat penunjuk arah yang tidak banyak membantu akibat buruknya satelit pelacak GPS di tempat ini. Berulang kali Eren harus bertanya kepada hampir setiap orang yang mereka jumpai dipinggiran jalan. Ingat kata pepatah jaman dahulu Malu Bertanya, Sesat di Jalan. Tentu saja Eren tidak mau kalo nantinya mereka berdua benar-benar tersesat di jalan. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil, mereka berdua dapat tiba di lokasi tempat yang dituju. Di sepanjang perjalanan yang mereka lewati terhampar pemandangan laut yang luar biasa indah sekali dan hal tersebut membuat rasa kesal akibat terlalu lama mencari lokasi tempat yang dituju hilanglah sudah.
"Sughe! Bagus sekali pemandangannya."
Eren membuka kaca jendela mobilnya. Berdecak sangat kagum. Hamparan laut yang sangat luas terbentang dihadapan matanya sekarang. Hembusan angin laut langsung menerpa kulit lembut wajahnya. Rivaille ikut menyaksikan sambil tetap fokus menyetir.
Akuarium Oga merupakan sebuah tempat rekreasi sejenis akuarium raksasa yang terletak di Kota Oga, di daerah Prefektur Akita. Di dalam akuarium tersebut terdapat 400 macam dari 10.000 jenis mahkluk hidup yang tinggal di dalam laut. Pengunjung dapat melihat ikan langka maupun beruang kutub. Pengunjung juga dapat bertemu dengan pinguin. Setiap tahunnya, pinguin melahirkan anak-anak dan kadang-kadang pengunjung juga diperbolehkan melihat pinguin-pinguin kecil. Ada juga banyak macam ubur-ubur dan sea angels (binatang laut sebangsa ubur-ubur) yang juga terkenal. Di Akuarium Oga juga terdapat restoran dimana pengunjung dapat melihat laut Oga dengan jelas, dan ada pula beberapa toko tempat menjual oleh-oleh. Pengunjung dapat menikmati acara-acara yang diadakan sambil melihat binatang-binatang diberi makan.
Stelah membeli tiket seharga 500 yen, Eren dan Rivaille dipersilahkan untuk masuk ke dalam gedung akuarium tersebut. Beragam jenis ikan, dan bioata lautnya lainnya seakan menyambut kedatangan mereka, terpanjang dengan sangat menarik. Kehidupan di bawah laut yang biru rasanya sungguh sangat cantik dan indah sekali. Ini pertama kalinya Eren datang mengunjungi tempat seperti ini, apalagi sekarang dia datang kemari bersama dengan Rivaille. Rasa bahagia seakan tidak pernah berhenti menyelimuti hatinya sekarang. Mereka berdua berjalan bersama menelusuri track yang tersedia, terpampang luas kawasan beruang putih. Ketika melihat keluar, terdapat dua ekor beruang, ibu dan anak serta satu beruang jantan di dalam gedung. Dua ekor beruang dengan sangat lucu dan gembiranya memainkan sebuah bola layaknya seorang ibu yang sedang mengajak anaknya untuk bermain. Sungguh sangat lucu sekali. Eren tidak berhenti tertawa melihat tingkah menggemaskan dari anak beruang itu. Rivaille hanya melirik sekilas dengan ekspresi wajah yang tidak pernah berubah—tetap saja datar. Di dalam sebuah ruang pameran terlihat ada seekor beruang raksasa yang diawetkan, dan Eren merengek ingin meminta berfoto dengan beruang raksasa itu.
"Tolong fotokan aku." Eren kemudian berjalan mendekati beruang raksasa itu, lalu berpose sangat lucu. "Beruangnya ikut di foto juga yah!"
"Mundur sedikit. Kepalamu terpotong." Ucap Rivaille.
"Tapi ini sudah mentok, Rivaille. Kau saja yang mundur."
Rivaille kemudian mundur dua langkah. "Posemu buruk sekali. Ganti dengan pose lain!"
Eren merengut sebal. "Suruh pose yang seperti apa?"
"Senyum saja."
"Tadi sudah senyum."
"Senyum lebih manis lagi."
"Kau kenapa jadi seperti kameko begini sih. Mengomentari setiap gayaku berfoto."
Eren kemudian memberikan senyuman termanisnya ke arah kamera.
KLIK.
Blitz kamera terlihat menyala. Satu gambar berhasil di abadikan oleh kamera canggih di ponsel milik Eren.
"Satu kali lagi." Eren merajuk.
"Hah?"
Belum sempat Rivaille menyetujui permintaan pria manis itu, Eren sudah terlebih dahulu berganti pose. Salah satunya tangannya diangkat membentuk huruf V disamping pipinya.
KLIK.
Satu gambar lagi berhasil di abadikan.
"Sudah. Merepotkan saja." Ucap Rivaille dengan sedikit ketus.
Eren meraih ponsel miliknya dan melihat hasil bidikan Rivaille tadi. Dua fotonya terlihat sangat bagus.
"Terimakasih sudah mau repot-repot memotretku." Ucap Eren sambil tersenyum manis menatap pria tampan kesayangannya itu.
Yang ditatap malah ngeloyor pergi duluan.
Eren merengut sebal.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menelusuri tempat di dalam akuarium itu sambil terus bergandengan tangan. Eren melihat sekelompok penguin yang asik bermain dan juga seekor anjing laut yang nampak terlihat sedang bermalas-malasan. Di dekat pintu keluar ada sebuah pemandangan yang menarik yaitu Hata-hata, sejenis ikan migrasi yang melewati Akita pada sekitar bulan Desember setiap tahunnya. Dan pada saat itu, jumlah ikan ini akan sangat berlimpah. Akhirnya perjalanan mengelilingi akuarium raksasa pun telah selasai dan mereka berdua segera menuju arah pintu keluar untuk melihat berbagai macam souvenir sambil membeli cone ice cream. Saat Rivaille sedang mengantri untuk membayar cone ice cream yang dibelinya, Eren duduk menunggu di sebuah bangku yang memang disediakan untuk para pengunjung beristirahat.
Drrrt.
Drrrt.
Drrrt.
Tiba-tiba saja ponsel Eren bergetar.
"Tumben sekali ponselku mendapat sinyal penuh."
Eren segera memeriksa layar ponselnya. Tiga belas panggilan tidak terjawab, dan semuanya dari Nanaba senpai.
Ada apa?
Dan ada dua buah pesan dari kotak suara. Eren menaikan sebelah alisnya. Tanpa pikir panjang lagi, Eren langsung mendengarkan pesan suara tersebut.
Pesan suara yang pertama dari Nanaba senpai:
"Eren dan Rivaille, kalian berdua mendapat sebuah misi darurat! Kenapa ponsel kalian sulit sekali untuk dihubungi? Kenapa ponselnya tidak aktif? Kalian diminta untuk segera kembali dari masa liburan kalian secepatnya! Ini perintah dari Wakil Direktur."
Mendengar kata 'Perintah dari Wakil Direktur' jantung Eren terasa berdetak sangat cepat.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pesan suara yang kedua dari Sir Erwin:
"Eren, kenapa ponsel Rivaille tidak dapat dihubungi? Kalian berdua harus melakukan sebuah misi darurat. Farlan terpaksa akan aku minta untuk melakukan misi darurat ini sendirian jika kalian masih belum dapat dihubungi juga. Waktu yang kita miliki sangatlah terbatas."
Eren terdiam menatap layar ponselnya.
Misi darurat?
Misi darurat apa?
Farlan melakukan misi darurat itu sendirian?
Sedangkan aku dan Rivaille malah asik bersenang-senang disini?
"Eren?" Rivaille menguncang pelan pundak pria manis itu.
Eren sedikit terkejut, lalu menatap Rivaille dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat panik. "Rivaille..." Suaranya parau, nyaris tidak terdengar.
"Ya?" Rivaille balas menatap, pria tampan itu kemudian berjongkok di hadapan Eren. "Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat. Apa kau terlalu lama menungguku?"
Eren menggeleng. "Tidak! Bukan itu."
"Lalu?" Rivaille melihat tangan Eren yang sedikit gemetar menggenggam ponselnya.
"Kita harus... kita harus..." Eren sulit sekali rasanya berbicara dengan benar.
"Harus apa?" Rivaille mengusap lembut pipi pria manis itu. "Tenanglah, Eren. Aku disini. Bicaralah pelan-pelan."
"Kita harus... kita harus segera kembali ke Tokyo. Telah... telah terjadi sesuatu hal yang... yang buruk sekali disana." Kedua mata Eren mulai berarir.
Rivaille sangat terkejut mendengar ucapan Eren tersebut. Tapi dirinya tetap berusaha untuk bersikap tenang. Rivaille tidak ingin membuat Eren menjadi semakin panik.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Eren kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, secara perlahan dia mulai menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"NSS terus mencoba menghubungi kita sampai berkali-kali, tapi ponselku tidak mendapatkan sinyal, dan ponselmu juga mati karena kehabisan daya. Kita berdua tidak dapat dihubungi. Padahal seharusnya kita mendapat sebuah misi darurat. Aku tidak tahu misi seperti apa itu. Tapi Sir Erwin bilang, jika kita masih belum dapat dihubungi juga, maka Farlan yang akan ditugaskan untuk melakukan misi darurat itu sendirian." Eren berhenti berbicara. Bibirnya bergetar. Air matanya terlihat turun mengalir membasahi pipinya yang lembut.
"Kenapa kau menangis?" Tangan Rivaille bergerak menyentuh dagu Eren dan mengangkat wajah pria manis itu yang sedari tadi terus saja menunduk. Menatap lekat kedua matanya. Mengusap lembut pipinya yang basah karena air mata.
"Maafkan aku... gara-gara aku yang terus memaksamu untuk menemaniku pergi ke berbagai tempat, kita jadi—"
Jari telunjuk Rivaille diletakkan tepat didepan bibir milik Eren, mengunci bibir itu agar berhenti berbicara. "Dengarkan aku, ini bukan kesalahanmu. Ponselku mati karena kehabisan daya, dan ponselmu juga tidak mendapatkan sinyal."
"Tapi..." Eren memutus kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Tapi kau sejak awal sudah mempunyai firasat buruk kan? Dan aku malah dengan seenaknya berkata kalo semuanya baik-baik saja. Padahal..." Eren mulai menangis lagi.
Rivaille merubah posisinya—yang semula berlutut dihadapan Eren menjadi berdiri—lalu tangannya mengusap kepala Eren. "Jangan menangis. Aku tidak pernah bisa melihatmu menangis seperti ini."
Eren hanya duduk terdiam, Rivaille masih tetap berdiri di hadapannya. Rasanya Eren malu sekali jika menangis seperti ini dihadapan orang yang tidak suka melihatnya menangis. Eren lalu memeluk pinggang Rivaille, membenamkan wajahnya di perut pria tampan itu. Eren tidak ingin para pengunjung lain yang lewat dihadapan mereka melihat Eren menangis. Rivaille menyadari akan hal itu. Dibiarkannya Eren memeluknya seperti itu.
"Jangan sampai ingusmu itu mengotori bajuku, Eren."
"Memang sudah mengotori."
"Kau jorok sekali."
Eren diam saja tidak menjawab. Pria manis itu malah semakin memeluk pinggang Rivaille lebih erat.
"Aku sulit bernafas, Eren."
"Tidak perduli."
"Jangan cengeng." Rivaille memeluk kepala Eren.
Eren lalu menatap ke atas, melihat ke arah kedua mata Rivaille. "Jangan bilang pada siapapun kalo aku menangis di tempat umum seperti ini."
"Ya. Aku tidak akan bilang pada siapapun. Jadi berhentilah menangis." Rivaille mengusap kedua pipi Eren.
Perlahan tangisan Eren mulai berhenti. Eren kemudian melepaskan pelukannya di pinggang Rivaille.
"Kita kembali ke penginapan sekarang. Merapikan semua barang, lalu segera kembali ke Tokyo." Ucap Rivaille.
Eren mengangguk, kemudian bangun dari duduknya. Rivaille meraih tangan pria manis itu, menggenggamnya dengan kuat.
Keduanya lalu berjalan bersama pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
— Another Place —
Seorang wanita berparas sangat cantik, dengan warna rambut pirang sebahu, berpakaian jas rapi berwarna hitam, terlihat berjalan sendirian menelusuri lorong yang menuntunnya menuju ke sebuah ruangan. Lorong itu lumayan panjang, di ujung lorong terdapat sebuah ruangan yang menjadi tempat tujuannya datang kemari. Di depan ruangan itu sudah berdiri dua orang penjaga yang berpakaian sama seperti wanita itu. Kedua penjaga itu langsung membungkuk hormat saat wanita itu menghentikan langkah kakinya di depan ruangan—tepat di hadapan mereka.
"Apakah kepala pimpinan ada di dalam?" Wanita cantik itu bertanya kepada salah seorang penjaga yang berdiri di depan pintu.
Penjaga itu mengangguk dan membukakan pintu untuk wanita itu. "Anda sudah di tunggu olehnya di dalam."
Wanita itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan itu, sudah ada seorang pria yang memang sejak tadi duduk menunggu kedatangannya..
"Kau lama sekali, Petra." Ucap pria itu.
"Maafkan aku, Reiner. Aku baru saja selesai mengurus semuanya."
"Jelaskan padaku apa saja yang kau tahu."
"Dari hasil informasi yang berhasil aku kumpukan, aku mendapat laporan bahwa ada salah seorang anggota pasukan khusus dari Jepang, yang ditugaskan untuk membawa kabur Nack Tius."
"Salah seorang anggota pasukan khusus?"
"Ya."
"Hanya seorang katamu?"
"Benar. Identitasnya belum dapat diketahui. Dia menyamar sebagai service room lalu menyelinap masuk ke dalam gedung dan melancarkan aksinya dengan sangat mudah. Barang bukti yang ditemukan di lokasi tempat kejadian adalah dua buah masker oksigen dan di dalam ruangan tempat Nack Tius berada juga terdapat sebuah asap beracun."
"Asap beracun?"
"Ya. Asap beracun itu disinyalir berasal dari sebuah topping strawberry yang memang sudah dirancang khusus menyerupai sebuah cake."
"Yang hanya dapat merancang benda seperti itu hanyalah orang yang memang sudah profesional. Benar bukan?"
"Benar."
Kedua tangan Reiner mengepal dengan sangat kuat.
"Lalu apa perintahmu selanjutnya?" Petra menatap ke arah pria itu.
"Tetaplah bersiaga. Aku akan memikirkannya."
"Baik." Wanita itu lalu berbalik badan dan melangkahkan kakinya pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Tokyo, Jepang
Eren dan Rivaille baru saja tiba di Tokyo siang hari itu. Keduanya langsung bergegas pergi menuju ke kantor pusat NSS untuk mencari keberadaan Erwin. Saat mereka berjalan memasuki kantor itu, para pegawai langsung menatap ke arah kedatangan mereka. Ymir menyadari kedatangan mereka berdua, dan segera bangkit dari kursi tempat duduknya.
"Eren!" Ymir setengah berteriak.
Eren menoleh, lalu berjalan mendekati gadis itu. "Dimana Sir Erwin?"
"Dia ada di ruangannya."
Eren dan Rivaille segera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan tempat Erwin berada. Eren memberanikan diri mengetuk pintu ruangan itu dari luar. Tidak lama setelah pintu ruangan itu diketuk, terdengar suara dari dalam memberikan mereka izin untuk masuk. Dengan perlahan, Eren membuka pintu ruangan itu. Erwin nampak sangat terkejut melihat kedatangan mereka berdua. Erwin segera bangkit dari kursi tempat duduknya, dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Eren masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Rivaille dibelakang. Keduanya lalu berdiri dihadapan Erwin sambil menundukkan kepala mereka.
Kedua tangan Erwin tampak mengepal kuat menahan emosi.
"APA YANG SEBENARNYA ADA DI KEPALA KALIAN BERDUA? BERANI SEKALI KALIAN MELANGGAR ATURAN! BERAPA KALI AKU HARUS BILANG KALO PONSEL KALIAN ITU HARUS SELALU AKTIF SELAMA 24 JAM! MISI DARURAT BISA DATANG KAPAN SAJA! TIDAK PERDULI DALAM KONDISI APAPUN DAN BAGAIMANAPUN KALIAN TIDAK DIPERBOLEHKAN UNTUK MENINGGALKAN GARIS DARURAT!" Erwin tidak bisa lagi menahan emosinya yang sudah benar-benar memuncak.
"Kami minta maaf karena ponsel kami berdua tidak dapat dihubungi." Ucap Eren.
Erwin memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Kalian berdua pergi berlibur kemana?"
Keduanya hanya diam saja tidak mau menjawab.
"Kenapa diam saja? Apa kalian sengaja mematikan ponsel kalian?"
Eren menggelengkan kepalanya kuat.
Rivaille sudah tidak tahan lagi untuk terus diam tutup mulut seperti itu, tapi Eren yang memintanya untuk jangan berbicara apapun dan biarkan Eren saja yang menjelaskan semuanya.
"Ponselku kehabisan daya." Rivaille akhirnya buka mulut.
"Memang kau tidak punya charger?"
"Tidak bawa."
"Dasar bodoh!"
"Memangnya aku sengaja?"
Eren melirik tajam ke arah Rivaille. Sorotan matanya seakan meminta Rivaille untuk jangan berbicara lagi.
Erwin kemudian mengeluarkan dua buah tiket pesawat menuju ke Hongaria. Diletakkannya dua buah tiket itu diatas meja—tepat dihadapan Eren dan Rivaille.
Eren dan Rivaille menatap dua buah tiket itu dengan tatapan bingung.
"Berangkatlah menuju ke Hongaria. Farlan sudah lebih dulu tiba disana. Misi kalian adalah melindungi seorang ahli ilmu teknologi nuklir bernama Nack Tius. Segala sesuatunya telah dipersiapkan. Kalian hanya perlu melindunginya dan jangan sampai dia terbunuh. Kalian mengerti?" Erwin menatap tajam ke arah wajah mereka berdua.
Keduanya lalu menangguk.
"Berangkat sekarang!"
"Yes, Sir."
Eren dan Rivaille langsung melangkahkan kaki mereka pergi meninggalkan ruangan itu. Keduanya segera berangkat menuju ke Hongaria.
Erwin masih terus menatap kepergian mereka berdua dari sisi kaca ruangannya.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka..."
.
.
.
To be continued.
A/N : halo, saya kembali merilis chapter kelima. Saya minta maaf karena chapter ini dirilisnya lumayan ngaret ya? ada mungkin sekitar kurang lebih sebulan. Sebenarnya ceritanya sudah dari jauh-jauh hari saya ketik, tapi saya ragu untuk mempostingnya sebab ada beberapa kendala (?) Dan saya juga berfikir kalo plot cerita memang lumayan berat ya? Jadi saya beranggapan kalo yang baca mungkin bakalan banyak yang bingung. Atau malah gak ngerti? Hahahaha xD
Tapi karena semangat dan dorongan yang diberikan dari sahabat saya tersayang—cielah—akhirnya saya memilih untuk mempostingnya. /joget
Mungkin ada yang gak ngerti setelah baca chapter ini? Bisa kok ditanyakan langsung ke saya. Nanti bakalan di jawab :3
Kritik serta saran selalu saya terima dengan senang hati yaaa. Buat yang mau mengkritik atau memberikan saran ayo silahkan ajaaa, gak bakalan saya gigit (?)
Terimakasih banyak karena sudah mau membaca.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya~ (semoga saya gak baper buat ngelanjutin /jduk)
Salam manis.
Heichouxi-
