Catatan Hati Seorang Author:
Maafkan Oh, minna-san yang tak dapat publish cepat. Dikarenakan sakit, Oh jadi tidak bersemangat untuk menulis. Ditambah tidak adanya jaringan internet di rumah Oh.. ^^ jadilah Oh tidak dapat mempublish cepat. Tapi walau begitu Oh akan usahakan untuk selanjutnya publish dengan cepat. ^v^
Dan terima kasih yang sebesar-besarnya buat yang sudah mampir dan mereview fic Oh.
Oke! Tanpa banyak curcol. Selamat menikmati bagi yang mampir dan membacanya. ^o^
Monggo~
.
.
.
.
Habis sudah kesabaran Ichigo. Gadis dihadapannya ini benar-benar. Bagaimana bisa gadis itu tidak mengerti niat terselubungnya? Hei, siapapun akan langsung mengerti jika sudah menyangkut dengan sebuah cincin! Tapi, kenapa, gadis ini, justru—?
Ah, Sudahlah!
Ichigo lelah memikirkannya.
Berhadapan dengan Rukia lebih melelahkan ketimbang berhadapan dengan pelanggan-pelanggan setianya yang terkadang rewel ataupun berdesakan untuk sekadar mendekati dirinya. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga Rukia. Membuat dirinya kesal bukan main ataupun kelimpungan dengan cara berpikir gadis itu sudah hal wajar yang ia hadapi. Padahal mereka sudah tidak bertemu selama kurang lebih enam tahun, yang tentunya rentang waktu yang cukup banyak itu pasti meninggalkan sebuah bekas perubahan terhadap sikap ataupun cara berpikirnya. Tapi, lagi-lagi, sepertinya hal itu terkecuali untuk gadis dihadapannya.
Alhasil Ichigo melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda—yang sebelumnya ia sempat mendesah lelah—, membiarkan gadis dihadapannya yang sesekali berdecak kagum atas cincin pemberiannya—ehem, ralat—cincin lamarannya.
Yah~ tak apalah. Yang terpenting sekarang, Rukia senang.
Masalah penjelasan—itu bisa diatur kembali olehnya. Intinya sekarang, Rukia sudah menjadi miliknya. Tinggal masalah tanggal yang akan ia tentukan untuk melangsungkan resepsi pernikahannya.
Mungkin untuk urusan kali ini Rukia akan turut andil. Ia ingin tahu seperti apa reaksi gadis itu nantinya.
.
.
Ah, Sudahlah! © Oh-MinMin
BleachTite Kubo
Genre : Romance/Humor
Rated : T
.
.
Dan—disinilah Rukia. Bersama dengan teman-teman setokonya yang sedang menyudutkannya dengan menginterogasi dirinya di dalam dapur. Mengingat pelanggan mereka sedang tidak ada untuk saat ini. Dengan dirinya yang terduduk paksa di bangku yang sudah mereka sediakan. Sedangkan yang lainnya berdiri mengelilingi dirinya bagaikan kelinci kecil yang tertangkap oleh harimau buas.
"Jadi—Rukia~"
Itu suara Rangiku—yang memulai. Wajah cantiknya semakin mendekati wajah Rukia yang mau tak mau membuat gadis itu menahan napas sesak. Dari tadi yang paling mencurigakan memang Rangiku. Pasalnya wanita itu terus mengekori dirinya dengan kedua mata tajamnya. Rukia sendiri merasakan perasaan tidak enak. Walau teman-teman setokonya melakukan kegiatan seperti biasanya, tapi ntah kenapa hawanya begitu dingin dan menusuk. Dan—sekarang, kecurigaannya terbukti benar. Ketika toko mereka lengang dari pengunjung dipukul dua siang ini, segera dirinya ditarik paksa oleh Rangiku, diikuti dengan teman-teman lainnya—Momo, Ikkaku, Renji, Yumichika, Izuru—
"Kau berhutang penjelasan kepada kami semua."
Suaranya begitu menuntut. Membuat Rukia menelan ludah dengan susah payah. Wanita cantik itu benar-benar menyeramkan jika sudah menyangkut dengan rasa penasarannya. Tapi, hei, apa yang harus ia jelaskan?!
"Penjelasan?"
Rangiku semakin mendekati gadis itu dengan wajah yang tersenyum menyeramkan, sedangkan tangan kanannya memegang dagu Rukia yang sesekali mengelus-elus pelan dagu gadis itu.
"Kau jangan pura-pura bodoh, Rukia, dan berharap dapat membodohi kami."
Nah, loh? Memangnya siapa yang membodohi siapa? Rukia jadi bingung sendiri.
"Jika seperti itu caramu, Rangiku, Rukia-chan tidak akan mau menjawabnya. Bersikaplah lebih manis dan lembut."
Itu suara Izuru—memperingati. Berharap wanita seksi itu tidak menggagalkan rencana mereka menuntut jawaban dari gadis Kuchiki itu, walau sebenarnya mereka semua sudah dibuat mati penasaran oleh gadis itu. Terlebih Renji. Wajahnya sedari-tadi sudah merah padam menahan kesal—membuat teman-teman setokonya paham bahwa bukan dirinyalah pelakunya. Ntah pria mana yang mampu mendahuluinya mengambil hati gadis pujaannya. Ouch!
Alis Rukia mengkerut kesal. Sedari tadi tak ada satupun yang menjelaskan kepadanya maksud dari arah pembicaraan mereka yang sebenarnya. Sungguh, Rukia tidak tahu! Jika tahu pun, pasti dirinya sudah menjawabnya sedari-tadi dan menghilangkan semua rasa penasaran mereka yang membuatnya juga ikut-ikutan penasaran.
Rangiku mendesah pasrah. Wanita itu memberi jarak pada gadis kecil didepannya, namun tidak berarti gadis itu sudah lepas dari cengkraman interogasinya. Kedua tangan wanita itu bersidekap. Menatap tajam dengan senyuman yang menyeramkan, walau tak menghilangkan wajah cantiknya.
"Jadi, Rukia-chan. Siapa yang memberimu cincin itu?" tanya wanita itu dengan menunjukkan dagunya kearah jari kanan manis gadis itu, yang membuat Rukia mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Cincin?"
"Iya, Rukia-chan. Kami sedari tadi penasaran, pria mana yang telah memberimu cincin di jari kanan manismu?"
Itu suara antusias Momo—yang tentu membuat Renji kesal bukan main. Bukan karena pertanyaan dari gadis Hinamori itu, melainkan dari kenyataan bahwa ia sudah didahului oleh pria tak kasat mata yang keberadaannya entah dimana.
Rukia lantas mengikuti instruksi Momo dan mendapati jari kanan manisnya yang telah tersemat oleh sebuah cincin yang sangat unyuk dimatanya.
Oh, cincin ini~
Gadis Kuchiki itu tersenyum senang, yang membuat semua orang yang berada di dalam dapur itu meneguk ludahnya masing-masing sembari menahan rasa penasarannya yang sudah berkobar ria.
"Cincin ini—"
"Aku yang memberinya!"
Ho! Ho! Tamu tak diundang pun datang, membuat seluruh pasang mata menatap pada makhluk orange yang tengah berdiri mantap dibelakang semua insan di dalam dapur tersebut. Yang mau tak mau membuat mereka segera membenahi posisi mereka masing-masing dan memberi salam hormat kepada atasan mereka. Tak terkecuali Rukia.
Segera pria itu menghampiri gadis bersurai raven itu dan merangkul gadis itu sembari mengecup pelan puncak kepala gadis itu. "Akulah yang memberinya."
Yang membuat seluruh insan di dalam ruangan itu terbelalak lebar dengan mulut yang menganga lebar. Tak luput Rukia. Jantungnya bertalu-talu dengan cepat dan wajahnya memerah semerah tomat.
I-Ichigo menciumku?!
Segera gadis itu melepaskan dirinya dari rangkulan pria bersurai orange itu dan membuat jarak, yang tentunya mengundang tanya bagi Ichigo dan teman-teman lainnya.
"Kau—! Apa yang kau lakukan! Walaupun kau atasanku tapi kau tidak bisa seenaknya menciumku!"
Ichigo heran. Apalagi teman-temannya.
"Kenapa?" hanya itu pertanyaan yang terlontar dari mulut Ichigo yang membuat Rukia geram setengah mati akibat perbuatan seenak jidat atasannya itu. "Kau adalah tunanganku, Rukia. Calon istriku."
Gantian Rukia yang terheran dan terpatung terkejut. Sementara teman-teman yang lainnya manggut-manggut setuju, terkecuali Renji. Pria itu sudah menahan kepalan tangannya yang sewaktu-waktu mampu terlontar ke pria bersurai orange itu.
"T-tunangan?! C-calon istri?!" tanya Rukia terbata-bata bingung.
"Ya." Sedangkan Ichigo hanya menjawab enteng dengan ekspresi yang begitu polos.
"S-siapa yang menjadi tunanganmu dan calon istrimu?!" tanya Rukia kembali yang semakin tidak mengerti arah jalan pikiran pemuda didepannya.
"Kau." Jawab Ichigo yang lagi-lagi entengnya nggak ketulungan. Yang sontak membuat semua karyawannya yang disana hanya menjadi penonton budiman dorama dadakan antara bosnya dan bawahannya.
"Aku?"
"Ya."
"Kau yakin?"
"Iya, Rukia."
"Bagaimana bisa?"
Ampun deh! Gadis ini~
Ichigo menepuk wajahnya pelan. Menahan kesal yang hampir tak terbendung.
"Kau menerima cincinku, kan, Rukia?" tanya Ichigo sepelan dan semanis mungkin, berharap gadis itu tidak akan marah-marah kembali kepadanya.
"Ya." Rukia menjawab dan mengangguk setuju. Pria itu benar, ia menerima cincin itu karena benar-benar unyuk dan menarik hatinya. Apalagi ketika ia kenakan di jari kanan manisnya. Sungguh, membuatnya bertambah menyukainya. Entah kenapa tangannya ikut-ikutan menjadi unyuk yang alias manis.
"Nah, kalau begitu sudah jelas bahwa kau menerima lamaranku." Ichigo akhirnya menjelaskan.
"Lamaran?" sedangkan Rukia membeo terkejut.
"Ya. Lamaran."
"Aku?" tanya Rukia ambigu yang mengundang tanya di kepala Ichigo.
"Ya. Kau benar. Itu adalah cincin lamaran. Kau menerimanya, berarti kau resmi menjadi tunanganku dan calon istriku. Kebetulan, aku kemari ingin menemuimu untuk membahas masalah cincin itu dan tanggal berapa kita akan melangsungkan resepsi pernikahannya."
"HEEEEEEEEEEEEEEE?!"
Dan semua insan yang berada di ruangan itu menjerit histeris, terkecuali Rukia dan Ichigo. Gadis itu terkejut bukan main dengan kedua mata yang membelalak lebar dan mulutnya yang terbuka kecil, seperti orang yang terkena serangan jantung. Sementara itu, Ichigo hanya tersenyum puas dan senang, karena sesuatu yang mengganjal hatinya sejak kemarin telah terbayar sudah yang tentunya dengan bantuan karyawannya yang lainnya dengan pertanyaan mereka tentang cincin lamarannya.
Mungkin, liburan ke pantai adalah hadiah yang sepadan untuk mereka karena telah melancarkan rencana penjelasan cincin yang diberinya kepada Rukia.
Ide yang bagus!
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAAAKKKK!
"Kau—Rukia. Kenapa kau tidak mengatakan dari awal kepada kami semua?"
Oke! Lagi-lagi dan lagi, Rukia ditarik paksa oleh teman-temannya kedalam kedai ramen yang letaknya tak cukup jauh dari toko roti mereka. Alasannya satu—mereka menuntut kembali penjelasan kepadanya tentang kejadian siang tadi. Dan tentunya, Rangikulah yang menjadi orang pertama yang menginterogasinya ini dan itu. Sedangkan teman-temannya hanya menjadi pendengar yang budiman yang sesekali juga ikut nimbrung pertanyaan dan pernyataan.
"Tentang apa?"
Rukia pun jadi gelagapan dengan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita seksi itu. Pasalnya, semua tudingan yang diberikan wanita itu kepadanya tidaklah seperti yang wanita itu pikirkan. Seperti bagaimana jalan asmara dirinya bersama Ichigo atau acara lamaran yang dilakukan pemuda itu berlangsung.
Hei! Mereka terlalu melebih-lebihkan!
"Aku tidak menyangka, Rukia-chan ternyata terlibat asmara dengan bos."
Itu suara Momo yang menginterupsi.
"Pertengkaran mereka yang selalu terjadi ternyata bukti dari kasih sayang mereka."
Itu suara Izuru yang ikut menimpali.
"Jangan begitu. Kalian tahu, disini ada seseorang yang sedang kepanasan."
Dan suara terakhir dari Ikkaku menghentikan semua kegiatan mereka yang lantas memandang Ikkaku dengan penuh tanya. Sementara Ikkaku yang dilihat seperti itu hanya mendesah malas kemudian melirik pada pria disebelah kanannya yang kini tengah menunduk dalam diam.
"Renji. Tenanglah. Wanita tidak hanya satu. Rukia tidak bisa kau dapatkan, wanita lain bisa kau ambil."
Dan kalimat dari Ikkaku sukses membuat semuanya mengerti mengangguk, kecuali Rukia yang terkejut bukan main. Sementara Renji masih dalam posisi semulanya—menunduk dalam diam.
"R-renji?"
"Kami mengerti padamu, Rukia-chan. Kau tidaklah bersalah. Tapi Renji. Dia terlalu lambat hingga Kurosaki itu berhasil mendapatkanmu duluan."
Oke! Jika menyangkut perasaan, Rukia adalah nomor satunya. Bukannya apa, laki-laki itu—Renji—jasa dan kebaikannya tak akan dilupakannya sampai kapanpun hingga kiamat menjelang. Rasa suka tentu terselip dihatinya. Bukan suka terhadap seorang pria, melainkan suka terhadap seorang saudara. Renji—laki-laki itu—sudah dianggapnya seperti saudaranya sendiri. Berada dekat dengannya benar-benar membuatnya nyaman dan aman. Bahkan keselamatannya terjamin. Laki-laki itu memperlakukannya secara wajar dan layak. Tapi, tak pernah sedikitpun terpikirkan olehnya bahwa laki-laki itu memiliki perasaan lain terhadapnya.
Apakah benar Renji memiliki perasaan seperti itu kepadanya? Bagaimana bisa? Bukankah selama ini dia kelihatan—cuek atau tidak peduli menyangkut perasaan dan rasa?
"Maaf. Aku pulang duluan. Kalian dapat melanjutkan acara makannya tanpa aku."
Dan dengan berakhirnya kalimat yang terlontar dari pria bersurai merah itu, pria itu meninggalkan mereka yang masih berkutat dalam pikiran mereka masing-masing.
"Renji yang malang. Seharusnya kau menjelaskan kepadanya, Rukia-chan, agar dia tidak berharap lebih kepadamu."
Itu suara Rangiku yang selalu berbicara blak-blakkan.
"Kita tidak bisa menyalahkan Rukia-chan, Rangiku-san. Bagaimanapun juga dia tidak mengetahui jika Renji-san memiliki perasaan suka terhadap Rukia-chan. Dan lagi, sekarang Rukia-chan adalah tunangan bos Kurosaki-san. Pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Lebih baik kita tidak membahas hal lain selain resepsi pernikahan mereka yang akan segera berlangsung."
Momo benar. Mereka tak seharusnya menguak tentang perasaan Renji di depan Rukia yang akan segera menikah. Alhasil mereka meminta maaf kepada Rukia dan melanjutkan acara makan mereka sembari sesekali bertukar pengalaman tentang asmara mereka.
Oh, Renji~ Bagaimana bisa? Kenapa kau tidak mengatakannya sedari awal?
...
Rukia jadi ingat itu sekitar kurang lebih setahun yang lalu. Kepindahannya kembali ke Karakura menghantarkannya kepada pertemuannya dengan pria Abarai itu. Kakak perempuannya sudah meninggal dunia yang merupakan kerabatnya satu-satunya. Tetap tinggal dalam keluarga Kuchiki yang merupakan besannya bukanlah hal yang bagus untuk dipilihnya, alhasil membuatnya untuk kembali ke Karakura tempat mereka dulu menetap, mengingat di kota kelahirannya ini cukup banyak yang dikenal dirinya, walau sampai sekarang tak dapat ia temukan satupun.
Renji lah penolongnya. Bertegur sapa ramah kepada dirinya. Yang berlanjut dalam obrolan ringan yang membuatnya tertolong untuk urusan tempat tinggalnya.
"Jadi, kau belum tahu akan kemana sekarang?" tanya pria itu melirik pada gadis disamping kirinya.
Keduanya sedang berteduh di halte dari guyuran hujan yang memborbadir kota Karakura.
"Ya. Lebih tepatnya aku tidak tahu apartemen mana yang bisa aku tempati dengan bulanan sewa yang murah. Kau tahu, aku tak cukup banyak membawa uang. Dan lagi, ini hari pertama kepindahanku." Jawab Rukia dengan suara bimbang akan tujuannya. Salahnya yang tidak memikirkan matang kepindahannya.
Sementara Renji, hanya memperhatikan simpati kepada gadis itu yang tengah menenteng kesana-kemari barang-barangnya ditengah keramaian kota Karakura, yang sekarang berakhir dalam penantian panjang di halte dengan guyuran hujan yang tak kunjung reda juga.
"Aku tahu, apartemen dengan biaya bulanan sewa yang murah." Ucap laki-laki itu memecah kesunyian, yang membuat harapan besar muncul pada diri Rukia.
"Benarkah? Dimana?" tanya Rukia antusias, mengingat dirinya tak perlu bermalam di taman kota ataupun dimana yang berakhir tidur diluar dengan cuaca yang sangat dingin.
"Apartemen Todare. Tempat dimana aku tinggal juga. Ruangan apartemennya bagus dan untuk biaya sewa kau tidak perlu khawatir. Jika mau, kau bisa ikut denganku dan menjumpai resepsionisnya."
Keberuntungan tidak datang berkali-kali, itulah yang Rukia tahu. Maka dengan antusias dan mantap Rukia mengangguk menyetujui dan menjawab dengan lantang. "Aku mau!"
Renji tersenyum melihat respon gadis itu. Yang menurutnya benar-benar lucu dan menarik.
"Baiklah, setelah dari sini kita akan pulang ke rumah."
Canda Renji yang mengundang tawa renyah dari Rukia.
"Kau sudah menyebutnya rumah kepadaku, padahal aku belum menempatinya."
"Belum bukan berarti tidak, bukan? Berarti sebentar lagi dia akan menjadi rumahmu."
"Hahaha... Kau bisa saja, Abarai-san."
Renji tersenyum melihat gadis itu tertawa lepas. Karena sebelum-sebelumnya, gadis itu hanya menampilkan senyum pasrah dan lelah kepadanya.
"Renji, saja. Kau bisa menyebutku Renji."
Rukia menghentikan tawanya dan menatap pada pria disamping kanannya.
"Baiklah, Renji. Panggil aku Rukia. Rukia saja atau Rukia-chaaaaan~"
Renji terkekeh kecil mendengar candaan Rukia. Gadis ini benar-benar menyenangkan dan menarik minatnya. Untuk sekadar jauh-jauh dari gadis ini sungguh disayangkan.
"Kau terlalu mengharapkannya."
"Aku tidak mengharapkannya. Orang-orang disekitarku selalu menyapaku seperti itu. Rukia-chaaann~ Rukia-chaaaannn~"
Dan obrolan mereka berlanjut hingga hujan mereda, dengan keduanya melanjutkan perjalanan mereka ke apartemen Todare yang mereka jadikan sebagai rumah mereka.
.
.
Tbc.
.
.
BALASAN REVIEW:
Azura Kuchiki : Makasih atas kunjungannya dan reviewnya Azura-san.. ^^ Ini sudah rilis chapter barunya.
Yamano Amane : Oh sendiri juga belum tahu kemana jalan cerita ini berlanjut,, :v
Baby niz 137 : Ini sudah update, tapi maaf ya Oh gk bisa update kilat,,, ^^"
Shirayuki Akaringo : Salam kenal juga Akaringo-san... ^^ ,, ini sudah update, walau gk bisa cepat. dan terima kasih semangatnya,, ^o^
darries : tentang lamarannya di terima, itu sudah pasti...
Chan : Eh? benarkah? wahh~ kebetulan fiksi dan fakta yg sungguh mencengangkan,,, Oh sendiri aja buat cerita ini benar-benar gk kepikiran klw memang ada di kehidupan nyata ttg lamarannya,, klw begitu selamat buat Chan-san yg sudah dilamar,,, ^^
zircon : iya, masih tbc, ini udah dilanjutin...
