Rukia tak habis pikir dengan pria dihadapannya. Yang bagaimana dengan mudahnya mengatakan dirinya sebagai tunangannya dan—calon istrinya? Mengingatnya saja membuat Rukia menjerit histeris karena kebodohannya yang tidak menyadari maksud dari cincin pemberian makhluk orange itu. Salahkan dirinya yang begitu menginginkan aksesoris untuk menghiasi jari manisnya yang sudah sangat lama ingin ia hiasi agar kelihatan lebih manis. Yang sekarang malah berujung kepada sebuah—pelaminan? Gaun pernikahannya saja sekarang sedang dipilah-pilah agar pas dengan tubuh pendeknya, apalagi tanggal resepsi pernikahannya. Sudah menghitung hari! Menolakpun sudah tak mungkin ia lakukan, karena diluar dugaannya, pria itu selangkah—ralat, beribu langkah lebih cepat dari dirinya.

Setelah acara makan siang dan lamaran itu berakhir—yang tanpa diketahuinya sedikitpun bahwa laki-laki itu sedang melamarnya—, segera pria itu mengatakannya kepada keluarga pria itu bahwa ia telah melamar seorang gadis bernama Kuchiki Rukia yang telah diterima dengan suka cita oleh gadis itu. Yang tentu membuat Rukia terkejut bukan main. Pasalnya, ia disini tidaklah tahu-menahu soal lamaran. Dan diluar dari itu, keluarga sang pria benar-benar menerimanya dan menyambutnya sebagai calon menantunya dengan perasaan yang luar biasa senang bukan main, membuat Rukia heran sekaligus terkejut yang lantas membuatnya mengurung niat awalnya untuk meralat kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.

Tak enak juga menolak seseorang yang akan berdampak ke semua orang. Keluarga pria itu pun juga sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Mengingat pria itu acap kali membawanya ke rumah keluarga besar pria itu. Dan lagi sebenarnya—ini semua murni kecerobohannya dan kesalahannya.

Pria itu yang mengingatnya ketika ia menanya kenapa pria itu sampai melamarnya.

Yah~ itu berlangsung pada malam hari saat pria itu mengajaknya makan malam usai pulang dari pekerjaannya beberapa minggu yang lalu. Obrolan ringan berlangsung seperti biasanya, walau pertengkaran kecil tak luput dari keduanya yang sesekali mengundang tanya pada beberapa pelanggan di kedai ramen langganan karyawan toko roti Kurosaki itu. Dan kini bosnya ikut-ikutan untuk mencicipi makanan pinggir jalan kesukaan mereka.

Rukia sendiri juga kurang ingat secara terperincinya bagaimana? Tapi yang ia ingat tiba-tiba saja bos Kurosakinya itu menanyakan hal yang diluar pikirannya.

"Hei, pendek. Kau tidak ada kepikiran untuk menikah, gitu?"

Rukia tersedak kemudian tertawa terbahak mendengar pertanyaan—yang menurutnya konyol—itu terlontar dari mulut atasannya.

"Kenapa? Tidak biasanya kau menanyakan hal seperti itu, jeruk?"

Oke! Ini semua bermula dari Ichigo yang selalu memanggilnya dengan sebutan-sebutan anehnya yang membuatnya kesal setengah mati, alhasil ia juga ikut-ikutan memanggil pria itu dengan sebutannya yang tak kalah anehnya. Padahal pria itu berstatus sebagai atasannya, bukannya marah, pria itu justru menikmati panggilan yang ia lontarkan. Aneh, bukan?!

"Itu wajar dan hal yang biasa, Rukia. Lihat! Umurmu sekarang sudah dua puluh empat tahun. Mau sampai kapan kau sendirian begini terus? Dan setahuku kau tidaklah memiliki seorang kekasih atau teman kencan mengingat kau selalu berada didekatku." Ichigo menjelaskan.

Dan Rukia takjub bukan main.

"Wahh~ kau benar-benar mengetahui diriku, Ichigo. Kenapa? Kau ingin melamarku, gitu?" ucap Rukia menggoda dengan senyuman manis yang terkembang di bibir kecilnya.

"Ya. Aku memang ingin melamarmu."

Dan tanpa diketahui Rukia bahwa perkataan pria itu bukanlah balasan dari candaannya melainkan keinginannya yang sudah lama terselubung.

"Benarkah? Wahh~ Ichigo, kau benar-benar tak terduga." Balas Rukia.

"Jadi bagaimana? Kau mau menikah denganku?" tanya Ichigo yang didalam hatinya penuh harap.

"Baiklah~..."

Dan ia harus mengutuk perkataannya ataupun pikiran bodohnya yang dapat dengan mudahnya menganggap bahwa itu hanyalah sebuah lelucon yang tanpa disadarinya itu adalah hal yang dianggap serius oleh makhluk orange itu.

"Oke, selesai. Bagaimana, tuan Kurosaki? Mempelaimu benar-benar cantik, bukan?"

Ichigo harus menyetujui perkataan penata rias pengantin itu mengingat sekarang gadis dihadapannya benar-benar bagaikan bidadari yang jatuh dari langit yang membuat kedua matanya tidak mampu untuk berkedip barang sejenakpun.

"Tuan Kurosaki?" penata rias pengantin itu memanggil. Berharap sang empunya nama merespon panggilannya.

"Tidak perlu ditanya aku sudah tahu jawabannya. Ise-san, kau dapat pergi, aku bisa mengganti gaun ini sendirian." Ucap Rukia menahan kesal karena tidak dapat respon sama sekali dari pria itu.

Setelah Ise Nanao pergi, pria Kurosaki itu lantas menarik lengan Rukia dan membawa Rukia kedalam pelukan pria itu yang sontak membuat Rukia terkejut bukan main.

"A-apa yang kau lakukan, Ichigo?!" tanya Rukia gelagapan mengingat kini kedua tangan pria itu tengah bertengger nyaman dipinggangnya yang membuatnya mau tak mau memegang dada bidang pria itu sembari menahan napasnya sesak.

"Rukia." Bahkan suara parau pria itu benar-benar mampu menghipnotisnya untuk semakin dekat dengan pria itu.

Pria itu semakin dekat dengan wajahnya yang membuat kedua matanya memejam erat kala merasakan napas harum pria itu menerjang wajahnya yang membuat dadanya bertalu-talu dengan cepat.

"Kau benar-benar cantik."

Dan Rukia tak dapat menahan geli ditelinganya akibat bisikan parau yang dilontarkan pria itu kepadanya. Baru saja pria itu mengecup pipi kirinya dengan lembut, penata rias pengantin itu datang kembali menginterupsi kegiatan keduanya, yang membuat Rukia kelimpungan bukan main. Bahkan dirinya sampai terduduk dilantai akibat mendorong tubuh laki-laki itu dengan kuatnya yang justru menghantarkannya pada posisi yang memalukan. Sedangkan Ichigo, dirinya masih dalam posisi awalnya—berdiri tanpa terjatuh seperti gadis itu walau gadis itu mendorongnya dengan kuat—, sembari menekukkan kedua alisnya heran melihat reaksi gadis itu yang terlalu berlebihan.

Hei, wajar bukan jika sepasang kekasih yang akan menikah dalam waktu beberapa hari ini bermesraan disini? Yang terpenting dia kan tidak melewati batas.

Tapi Ichigo juga harus memaklumi kondisi Rukia. Gadis itu tidaklah terbiasa melakukan hal-hal mesra dimuka umum—menurut gadis itu—seperti ini. Mengingat gadis itu tidaklah pernah menjalin sebuah hubungan kasih dengan pria manapun. Bahkan dengannya, yang kini dengan tiba-tibanya segera melamar gadis itu dan melancarkan aksi yang sudah sangat lama ia pendam. Tapi sekali lagi. Ia harus ingat akan persyaratan yang sudah terjalin diantara mereka. Dan ia harus segera sadar dari keinginan nistanya yang tiba-tiba muncul tadi.

Maka dengan segera, Ichigo mengulurkan tangannya pada Rukia, agar gadis itu mudah untuk bangkit dari jatuhnya. Sedangkan wanita bernama Ise Nanao tadi sudah pergi terlebih dahulu karena malu tengah memergoki pelanggannya yang sedang bermesraan.

Bagaimana dengan Rukia?

Jangan ditanya lagi. Gadis itu sedang merapalkan mantranya guna menekan rasa malunya yang sudah kelewat batas.

Ah, Sudahlah! Ah, Sudahlah! Ah, Sudahlah! Ah, Sudahlah! Jangan dipikirkan lagi, Rukia~ Kumohon~

.

.

Ah, Sudahlah! © Oh-MinMin

BleachTite Kubo

Genre : Romance/Humor

Rated : T

.

.

Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan apartemen yang terletak di pinggiran barat kota Karakura, membuat si penumpang di sebelah pengemudi bergegas untuk keluar dari mobil tersebut. Sedangkan si pengemudi hanya diam dan mengamati si penumpang di sebelahnya—Rukia. Memandang wajah gadis itu lekat-lekat yang sedikitpun tak pernah bosan ia lakukan. Seperti keinginannya yang sudah lama terpendam, yang akhirnya kini terbalas sudah. Lantas bibir tipisnya pun mengukir sebuah senyum kecil.

"Kau yakin, tidak ingin kuantar sampai ke dalam?"

Untuk kesekian kalinya pria itu bertanya dengan topik yang sama sembari menyenderkan kepalanya pada setir kemudi, yang membuat gadis itu mendesah lelah. Segera gadis itu memalingkan wajahnya menghadap pria disamping kanannya yang tentunya membuat pria itu semakin tersenyum senang. Rukia untuk yang sekian kalinya tak habis pikir dengan arah jalan pikiran makhluk orange ini. Bagaimana bisa pria itu begitu keras kepalanya dan terlalu memaksakan diri hanya untuk dirinya?

Hei, apa yang sebenarnya Ichigo pikirkan tentang dirinya?

Rukia tidak berani mengambil kesimpulan bahwa pria itu menyukainya, karena memang sedari awal pria itu tak pernah mengatakan sejenis kalimat itu atau apalah yang membuatnya tahu dengan pasti bagaimana perasaan pria itu terhadap dirinya? Bahkan Rukia masih begitu ragu bahwa pria itu benar-benar melamarnya atau segera akan meminangnya. Ini terlalu aneh dan mengganjal di hati dan pikirannya. Selama ini mereka tidak pernah terlibat dalam sejenis hubungan asmara. Tapi, kenapa, sekarang, pria ini—?

Ah, Sudahlah!

Sampai kapan pun Rukia tidak akan mengetahui jawabannya jika pria itu sendiri tidak memberitahunya.

"Tidak. Dan jawaban ku akan tetap sama sampai berapa kali pun kau menanyakannya."

"Tapi, aku takut kau akan—"

BLETAK!

"Aww! Sakit cebol!"

"Itu balasan untuk orang yang terlalu keras kepala seperti mu." Ucap Rukia sembari bersidekap dan memandang angkuh kepada pria itu.

"Tapi tidak dengan memukul kepala ku juga, Rukia~ Tak bisakah kau lebih manis dan lembut kepada ku? Aku ini calon suami mu, Rukia~"

Rukia yang mendengar ucapan Ichigo itu hanya menjulurkan lidahnya keluar seraya tersenyum puas.

Setelahnya Rukia menuruni mobil itu dan bergegas masuk ke dalam bangunan apartemennya.

"Hei, Rukia." Namun, sebelum gadis itu melangkah lebih jauh, Ichigo memanggil gadis itu untuk mengatakan hal yang sedari tadi belum sempat ia ucapkan.

Rukia menoleh—menatap Ichigo yang masih berada di dalam mobilnya dengan kaca pintu yang terbuka.

"Mulai besok kau tak perlu bekerja lagi. Istirahat lah di rumah."

Dan kalimat terakhir dari pria itu mengundang seribu tanya di pikirannya. Yang membuatnya mau tak mau menanyakan alasannya pada pria itu.

"Kenapa?"

"Kenapa?" Ichigo mengulangi pertanyaan Rukia dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Jangan katakan kepada ku lagi, Rukia, bahwa kau tidak mengingatnya."

Dan pernyataan Ichigo itu disetujui oleh Rukia dengan anggukan kepalanya yang lagi-lagi membuat Ichigo menepuk pelan wajahnya.

Oh, Ichigo~ Sepertinya kau benar-benar harus bersabar menghadapi gadis ini jika kau ingin segera menikahinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pria itu masih membisu tanpa ada niatan sedikitpun untuk sekadar bertanya 'kemana gadis disebelahnya ini bepergian seharian ini sebelumnya?' Bahkan untuk menatap gadis itu barang sejenak pun tak ia lakukan. Kekecewaan dan kenyataan pahit itu masih belum mampu ia terima dengan lapang dada. Yang justru membuat gadis itu semakin merasa bersalah dan tertekan.

Sementara gadis itu sendiri, sedari tadi hanya mampu mengayun-ngayunkan kedua kakinya di udara dengan sesekali melirik takut pada pria disebelah kanannya.

Ini sudah setengah jam berlalu, tetapi keadaan mereka masih terus seperti ini. Pengabaian yang dilakukan pria itu beberapa hari ini kepadanya membuatnya tertekan batin. Walau pria itu terkesan cuek kepadanya, tetapi pria itu tidak pernah mengabaikannya sekali pun, sebelumnya.

"Kau... masih marah kepada ku?" tanya Rukia dengan cukup hati-hati.

Namun sayangnya, pertanyaannya tak kunjung di jawab yang membuatnya semakin mendesah lelah.

"Renji~" rengek Rukia dengan wajah yang memelas.

"Masuklah ke dalam, Rukia. Angin malam tak baik bagimu." Ucap Renji pada akhirnya yang membuat Rukia tersenyum senang.

"Tidak akan! Sebelum kau menjelaskan kemarahan mu kepada ku!" balas Rukia tak mau kalah. Ini adalah kesempatannya, jadi tidak akan ia sia-siakan. Untuk kedua kalinya, belum tentu pria itu mau berbicara lagi dengannya.

"Masuklah ke dalam, Rukia." Ucap pria itu kembali yang sebelumnya ia mendesah lelah.

Rukia memberengut kesal. Dengan langkah cepat ia meninggalkan taman belakang gedung apartemennya.

Susah payah ia menemui pria itu tetapi lagi-lagi yang didapatkannya hanyalah sebuah pengabaian dan sekarang—pengusiran? Walau seluruh tubuhnya sudah merasakan kelelahan yang sangat dikarenakan bepergian sepanjang hari bersama makhluk bersurai orange itu, tetapi kala melihat pria itu di taman belakang gedung ini, ia segera membelokkan dirinya menuju tempat pria itu berada dan mengurung niatnya untuk segera masuk ke dalam kamar apartemennya.

Namun hanya beberapa langkah saja, Rukia sudah menghentikannya. Gadis itu berbalik kembali kemudian menduduki sebuah ayunan—yang sebelumnya ia duduki—dengan membelakangi arah pandang pria di sebelah kirinya kini.

"Kau benar-benar menyebalkan, Renji!"

Pria itu tak merespon dan lebih memilih menolehkan wajahnya ke samping kanannya—untuk menghindari kontak mata dengan gadis itu.

"Di sini, aku tidak memiliki siapapun kecuali kau. Aku tidak mengenali siapapun kecuali kau. Kau yang bertegur sapa duluan kepada ku dan menawarkan tempat tinggal ini kepada ku. Membuatku menjadikan mu satu-satunya keluarga yang kumiliki."

Rukia menarik napasnya sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya kembali.

"Aku sudah tidak memiliki siapapun lagi disini. Kakakku sudah meninggalkanku. Besanku mengabaikanku, bahkan untuk sekadar menghubungi kakak iparku aku terlalu takut karena pengabaiannya terhadapku. Dan sekarang—kau... juga akan mengabaikanku dan meninggalkanku, Renji?"

Gadis itu menatap memelas kepada punggung yang tak merespon dirinya. Sakit hati ia rasakan, yang kini lagi-lagi sebuah pengabaian dan ditinggalkan kembali ia terima.

"Tak bisakah kau menjelaskannya kepada ku? Hikss... Renji~"

"Aku menyukaimu Rukia—"

Gadis itu menghentikan tangisannya. Membuatnya semakin menatap punggung Renji yang masih membelakanginya.

"—Sebagai seorang wanita."

Pria itu menarik napasnya sesaat guna mengontrol emosi dan detak jantungnya. "Aku tidak tahu kapan rasa ini muncul, tapi kau benar-benar membuatku mencintaimu tanpa dapat mengatakannya kepada mu. Perasaan ini membuatku bahagia dengan sendirinya, dan kebahagiaan itu hanya timbul sesaat setelah mengetahui kau sudah dilamar oleh pria lain. Dan pria lain itu adalah atasanku sendiri yang merupakan teman dekatku."

Rukia yang mendengar penuturan pria itu membuatnya menundukkan kepalanya dalam tanpa berani menatap pria itu kembali. Sementara Renji, kini menolehkan wajahnya kepada gadis disebelahnya tanpa sepengetahuan gadis itu.

"Tapi melihatmu menangis seperti ini membuat ku lebih sakit hati dari pada ditinggal cinta olehmu."

Rukia mengerjapkan kedua matanya. Mencerna dengan lambat kalimat yang dilontarkan oleh pria di sebelahnya. Dengan segera gadis itu menolehkan pandangannya ke samping dan mendapati pria itu tengah menatapnya dengan sebuah senyum yang tipis.

"Renji..."

Pria itu berdehem sebentar guna mencairkan suasana, kemudian mengangkat tangan kirinya guna mengelus-elus pelan puncak kepala gadis itu.

"Ehem! Rukia-chan... jangan menangis seperti tadi lagi, ya? Karena wajahmu sangat mengerikan ketika menangis~"

Rukia yang mendengarnya menggembungkan kedua pipinya kesal, kemudian mencubit pinggang pria itu kuat yang sukses membuat pria itu menghentikan elusan dan tawanya dengan mengaduh sakit keras.

"Kau menyakiti ku, Rukia~" rengek Renji sembari mengelus-elus pinggangnya yang sakit akibat cubitan gadis itu.

"Itu balasan untuk orang yang telah mengabaikanku beberapa hari ini!" balas Rukia dengan sesekali melontarkan tinju pada lengan kiri pria itu.

"Dengan cara menyakiti ku?" tanya Renji tak habis pikir.

"Ya."

Dan setelah jawaban itu terlontar dari gadis itu, segera gadis itu menuruni dirinya dari ayunan yang didudukinya dan mengambil posisi tepat dibelakang pria itu sebelum mendorong tubuh pria itu kuat-kuat kedepan hingga tersungkur kemudian meninggalkan pria itu yang masih terus mengaduh kesakitan dan memanggil-manggil nama gadis itu untuk meminta pembalasan.

...

Renji mengingatnya, dan semuanya juga murni kesalahannya. Jika dia tidak mengajukannya pada gadis pendek itu, gadis itu tidak akan mungkin bertemu dengan atasannya dan sebaliknya.

Yah~ itu setahun yang lalu sekitar dua hari setelah gadis itu tinggal di gedung apartemen yang sama dengan dirinya. Gadis itu tidak memiliki pekerjaan—yang artinya ia pengangguran, mengingat gadis itu baru tiba tiga hari di kota ini. Merasa kasihan dan prihatin terselip dihatinya yang membuat dirinya menawarkan pekerjaan pada gadis itu yang tentunya sangat diterima gadis itu dengan tawanya yang riang dan semangatnya yang berkobar ria.

"Aku mau! Dimana?!" tanya gadis itu antusias. Renji yang melihatnya hanya tersipu malu seraya gelagapan mengingat keberadaan gadis itu kini yang sangat dekat dengan dirinya.

"Ehm! Di toko roti tempatku bekerja." Jawab Renji setelah berhasil menormalkan detak jantungnya.

"Hee? Benarkah? Berarti aku selalu bisa berada dekat dengamu, Renji!"

Dan ucapan yang terlontar dari mulut Rukia justru membuat jantung pria itu semakin berdetak tidak normal.

K-kau kenapa, Renji?!

"Y-ya.. kau benar." Balas Renji sembari mengelus tengkuknya untuk menghilangkan rasa gugupnya.

"Yeaahh!"

Gadis itu benar-benar senang bukan main. Pasalnya keberuntungan benar-benar terus berdatangan kepadanya dikarenakan keberadaan pria didepannya ini. Jarang-jarang hal itu terjadi!

"Baiklah, besok pagi jam setengah delapan kau ikut denganku dan kau akan bertemu langsung dengan atasanku."

"Yes, sir!" balas gadis itu dengan meletakkan tangan kanannya di samping kepalanya—seperti prajurit hormat kepada komandannya—

.

.

Tbc.

.

.

Catatan Hati Seorang Author:

Hehehe... akhirnya kelar juga chapter 3... entah sampai chapter berapa cerita ini berlanjut...? ~,~

Dan sekali lagi Oh ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada yg telah mampir dan review fic gaje Oh ini... ^o^

.

BALASAN REVIEW :

Azura Kuchiki : Memang begitu mah Rukianya Oh buat,, masalah diterima lamarannya udah Oh jelaskan di chapter 3 ini.. ^^

Arya U Dragneel : Mungkin ada,, ntah dimana,, ^o^

Ruki Schiffer : Rukia hanya kurang vaham ama yg hal-hal begituan,,,, ^^

Chan : hai, ganbarimasu!