"Adikmu sudah ada di gedung, sebaiknya kau jemput dia."
'Klik'
Setelah menutup teleponnya, pemuda berambut raven itu segera memasuki mobilnya.
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pair:
SasufemNaru
GaaNaru
Seorang pemuda berambut pirang panjang terlihat memasuki gedung yang beberapa jam yang lalu akan digunakan sebagai tempat pernikahan dengan tergesa-gesa. Raut kekhawatiran tampak jelas diwajah tampannya. Matanya terbelalak saat dilihatnya seorang gadis dengan penampilan yang kacau tengah terduduk dilantai sambil menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lantai sambil menangis. Tanpa mengulur waktu, Deidara langsung berlari dan memeluk tubuh yang terlihat rapuh tersebut.
Tangan gadis dalam pelukannya tersebut mulai mencengkram erat kaos yang dikenakan Deidara, menenggelamkan wajahnya didada bidang sang kakak dan terus menangis hingga pakaian sang kakak basah karenanya.
"Sasuke. Dia, tak mau memberiku kesempatan lagi."
Sakit. Hati Deidara sungguh sakit saat mendengar suara serak dan terdengar menyakitkan dari mulut adik tercintanya. Tangannya mengepal keras saat terdengar suara isakan sang adik yang terdengar memilukan seraya memanggil nama Sasuke.
Mulut Deidara tertutup rapat, dia tak tahu apa yang harus dia katakan untuk menenangkan sang adik, hanya sebuah pelukan dan belaian dipunggung gadis itu yang bisa dia lakukan, berharap hal itu bisa megurangi setidaknya sedikit rasa sakit yang tengah dirasakannya.
"Ayo kita pulang, Naru." Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, Deidara segera membantu Naruto untuk berdiri. Namun tubuhnya kembali terduduk saat rasa nyeri mendera kakinya.
"Naru, kau kenapa?" Dilihatnya Naruto yang tengah meringis kesakitan dengan tatapan bingung. Namun matanya kembali terbelalak saat melihat darah yang keluar dari kaki Naruto yang lecet. Dengan kekhawatiran yang besar, Deidara langsung menggendong Naruto dipunggungnya dan segera membawanya ke rumah sakit.
Dirasakannya tangan yang melingkar dilehernya mengerat, tubuh dalam gendongannya kembali bergetar, isak tangisnya kembali terdengar, air mata yang beberapa detik lalu berhenti kembali mengalir, sebuah nama kembali dirapalkan. Sasuke. Mendengar nama itu, membuat kemarahan Deidara semakin besar pada Uchiha bungsu itu. Ringisan kesakitan Naruto membuat Deidara tersadar dari lamunannya, langkah yang sebelumnya melambat kembali dipercepat.
"Sabar Naru, aku akan segera membawamu ke rumah sakit," ujar Deidara.
XOXOXOXOXO
Seperti biasa, matahari selalu bersemangat untuk mengerahkan sinarnya untuk menghangat bumi dan membuat rasa dingin yang menyelimuti pada malam hari hilang tak bersisa.
'Ceklek'
Seorang wanita paruh baya terlihat memasuki sebuah kamar bernuansa orange dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih dan segelas susu. Namun tangannya mendadak lemas dan menjatuhkan nampan tersebut sehingga menimbulkan suara berisik.
Beberapa kaki terdengar berlari dengan cepat ke arah datangnya suara. Betapa kagetnya mereka saat dilihatnya pecahan mangkuk dan gelas yang berserakan serta bubur, air dan susu yang mengotori lantai dan membuatnya lengket. Namun mereka kembali kaget saat wanita berambut merah itu berlari ke arah mereka.
"Deidara, cepat cari adikmu!" ujar wanita tersebut seraya menggunang bahu sang anak.
"Kushina, tenangkan dirimu. Ada apa?" Tanya Minato seraya melepaskan cengkraman wanita itu pada bahu Deidara.
"Naru, tidak ada!" Mata kedua laki-laki itu melebar. Deidara yang tak percaya langsung kembali memeriksa kamar tersebut. Karena pencarian yang tak membuahkan hasil, Deidara langsung pergi untuk mencari sang adik. Sementara Minato berusaha menenangkan Kushina yang lemas saat mendapati putrinya tak ada di kamar.
XOXOXOXOXO
"Apa benar tak ada kesempatan untukku lagi?"
"Kau harus pulang. Aku yakin keluargamu pasti khawatir."
"Tidak mau." Ditepisnya tangan putih yang hendak membawanya pergi tersebut. "Aku berjanji tak akan mengacaukannya lagi," lanjutnya seraya menundukkan kepalanya berusaha menahan bulir air mata yang mulai menumpuk dimatanya.
"Itu sudag kesepakatan kita bersama."
"TAPI AKU MENCINTAIMU, UCHIHA SASUKE. TOLONG MENGERTI AKU."
"KAU YANG HARUSNYA MENGERTI AKU, NARUTO." Mata sapphire gadis berambut pirang itu melebar, cairan bening yang sedari tadi ditahannya mulai mengalir dipipinya. Baru kali ini dia dibentak oleh Sasuke. Selama ini, sebesar apa pun kesalahan yang dibuat Naruto, Sasuke tak pernah membentaknya, bahkan saat dia mengacaukan pernikahannya kemarin. "Sudah berkali-kali aku mengerti dan memafkan kesalahanmu. Tapi kali ini sudah cukup. Sudah dua kali pernikahan kita gagal karena kebodohanmu, harusnya kau menggunakan kesempatan terakhir itu dengan baik dan bukannya melakukan hal bodoh dan kembali merusak pernikahan kita. Kalau kau mencintaiku, harusnya kau tak membantah perkataanku, Naru. Ayo kuantar pulang," lanjutnya.
Tangan Sasuke kembali ditepis oleh Naruto. Merasa perjuangannya berakhir dengan sia-sia, Naruto segera berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan pekarangan rumah Sasuke.
XOXOXOXOXO
"Hosh.. hiks.. hiks.. kau.. jahhhat sekali padaku, Sasukkehhh."
'Brugh'
Tubuh rapuhnya pun terjatuh, rasa sakit menyerang telapak kakinya, darah segar kembali keluar dari luka dikakinya yang belum kering, membuat perban putih yang kotor karena Naruto berlari tanpa menggunakan alas kaki tersebut berubah menjadi merah karena darah. Perlahan-lahan kesadarannya mulai menghilang.
"Sa..su..ke.." matanya birunya mulai menutup seiring dengan hilangnya seluruh kesadaran sang gadis.
XOXOXOXOXO
"Engh.." mata yang sedari tadi tertutup itu mulai terbuka perlahan. Matanya terus mengerjap untuk menyesuaikan matanya dari sinar yang menusuk retinanya. Sebuah ruangan dengan nuansa putih dan hitam menjadi pemandangannya saat ini. Dia tahu ini bukan kamarnya maupun kamar Sasuke. Ah, Sasuke. Hatinya kembali sakit saat mengingat nama tersebut. Karena merasa asing dengan tempatnya berada, Naruto berusaha bangun untuk mencari tahu siapa pemilik kamar tersebut. Namun kepalanya seketika terasa sakit saat bangun dari tidurnya.
"Sudahlah, kau istirahat saja dulu," ujar seorang pemuda berambut merah seraya membantu Naruto untuk kembali beristirahat.
"A..ku..haushh."
"Ah, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan air untukmu."
Setelah beberapa menit berlalu, pemuda yang memiliki tattoo ai didahinya itu kembali kedalam kamar sambil membawa segelas air putih. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang, pemuda tersebut membantu Naruto untuk meminum air yang dibawanya. Rasa segar dirasakan gadis tersebut saat air tersebut membasahi kerongkongannya. Diletakkannya gelas tersebut dimeja kecil disamping tempat tidurnya dan kembali membantu Naruto untuk kembali mengistirahatkan dirinya. Digenggamnya tangan Naruto dengan sayang.
"Sudah merasa lebih baik?"
"Iya. Terima kasih, Gaara," ujarnya seraya tersenyum.
"Sama-sama." Diusapkanya kepala sang gadis seraya tersenyum.
"Uhmm.. kenapa aku bisa ada di sini?"
"Tadi aku melihatmu pingsan di jalan. Karena rumahku dekat, jadi kau kubawa ke sini. Aku juga sudah mengabari keluargamu. Kenapa kau kabur dari rumah, Naru?"
Senyum yang tadi sempat terulas tersebut kembali hilang. Kepalanya tertunduk dan matanya mulai memanas.
"Aku ke rumah Sasuke," ujarnya lirih. Entah kenapa air matanya kembali metes setiap mengingat nama Sasuke. Naruto benar-benar kacau saat ini. Sebuah tangan menariknya kedalam sebuah pelukan.
"Menangislah jika itu bisa membuang rasa sakitmu, Naru. Menagislah, tak perlu ditahan." Dekapan dan belaian lembut dari pemuda yang memeluknya membuat Naruto benar-benar tak dapat menahan tangisnya. Menagis, hanya itu yang bisa dilakukan Naruto. Tak pernah terbayangkan olehnya jika kini dia benar-benar harus kehilangan orang yang dicintainya. Isakannya mulai terdengar sangat jelas, membuat Gaara semakin mempererat pelukannya, mencoba berbagi kenyamanan dan mayakinkannya jika dia tak sendirian. Ya, dia tak sendirian, masih ada Gaara yang bersedia memberikan pundaknya untuk Naruto. Masih ada Gaara yang sudah tiga tahun berusaha mempunyai sebuah tempat special dihati yang dia yakini seluruhnya telah terisi oleh Sasuke. Membuat pemuda Sabaku itu harus mundur demi orang yang dicintainya bahagia dengan kekasih pilihannya. Namun kini Gaara menyesal. Menyesal akan keputusannya. Kalau saja dia mengetahui akan seperti ini jadinya, dia pasti akan berusaha lebih keras untuk menghancurkan hubungan mereka dan merebut Naruto dari Sasuke. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Kini dia bertekad untuk menjaga Naruto dan tak akan membiarkannya untuk mengingat Sasuke kembali, menghilangkan rasa sakit dihatinya dan menggantikan tempat Sasuke dengan dirinya.
Merasa tak ada ada isakan tangis dari tubuh yang didekapnya dan napas teratur yang dirasakannya, Gaara kembali membaringkan tubuh Naruto ditempat tidur dan menyelimutinya sebatas dada. Dibelai dan dikecupnya puncak kepala Naruto dengan lembut sebelum meninggalkan kamarnya untuk membiarkan Naruto beristirahat.
TBC
Hai minna-san, chira balik lagi^^
Huwaaaa… jangan bunuh chira karena ficnya pendek. Chap depan bakal aku perpanjang kok, meskipun ga janji *digetok* tapi beneran akan lebih panjang dari chap ini, tenang saja^^
Meg chan
Iya donk, biar begitu sasu juga setia. Tapi dia emang kejem XD
Makasih sudah mereiew^^
Huwaaaa.. maap yak, kalo chap ini kurang memuaskan T_T
O ya, makasih buat semua yang dukung chira(?) *hugs satu-satu*
Kritik? Saran?
~RnR please~
