Just Let Me Go

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Rate : M for reason

Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)

Balasan review :

Sami haruci 2 : bagian awalannya emang saya ambil dari Sleep with The Devil. Tapi kesananya, ceritanya bakalan beda. Oh iya, Amaya belum pernah membaca novel terjemahan.

Guest : Insha Allah chapter depan bakal usahain lebih panjang.

Suket alang alang : mirip chapter awalnya kok. Ceritanya pasti bakal jauh beda sama Sleep with The Devil.

ToruPeri : penasaran ya? mau tahu? Ini chapter 2 udah ada.

Hanazono yuri : ini udah lanjut.

II : Astagfirulloh! Ini bukan hasil jiplakan. Lihat saja cerita selanjutnya akan jauh berbeda dengan novel yang pernah senpai baca.

GaemSJ : Iya sayang. Ini udah lanjut. Cie dibilang sayang.

Chapter 2

Saat pria berambut kuning jabrik itu memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang kupikir lebih mirip gedung, pria brengsek ini menarikku keluar dengan kasar. Aku terus memberontak pada Sasuke saat dia akan menarikku ke dalam rumahnya. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan iblis ini?

Aku terus meronta agar ada keajaiban lepas dari cengkraman Sasuke. Lalu kuinjak kakinya. Reflex dia melepaskanku. Berhasil! Ini kesempatanku untuk kabur.

Namun tidak sesuai dengan harapan karena Sasuke kembali berhasil menarik rambutku.

"Kau ini harus dijinakkan."

'Dug'

Aku merasakan sakit pada tengkukku. Lalu semuanya menjadi gelap.

"Tou-san, Kaa-san! Hiks..hiks…!"

"Nee-san! tou-san dan kaa-san…. Mereka…"

"Haahhh…."

Aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Lagi-lagi mimpi itu. mimpi saat kematian orang tuaku. Air mataku kembali tergenang mengingat kenangan pahit selama hidupku. Pria itu, harus membayar semuanya. Dia yang membunuh kedua orang tuaku dengan menembaki mereka.

Ngomong-ngomong, ini bukan kamarku. Ruangan ini begitu luas. Kasurnya pun sangat besar. Aku baru ingat, ini pasti kamar bajingan itu. aku diculik dan di bawa ke rumah ini.

Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Tapi tidak bisa dibuka. Sepertinya dikunci dari luar. Lalu kubuka jendela, sama saja, tidak bisa dibuka karena telah dipasang semacam anti maling mungkin. Kuso! Aku diculik dan disekap di kamar mewah ini. Setelah ini, apalagi yang akan dilakukan iblis itu? apa dia akan membiarkan aku mati membusuk di sini.

'Ceklek'

Pintu terbuka dengan cepatnya. Pelakunya adalah pria iblis itu. lihatlah! Saat masuk, dia memasang wajah datar dan menatapku tajam. Selanjutnya, dia berjalan kearahku sambil menyeringai. Dasar iblis!

"Mau apa kau?" tanyaku sinis.

"Tidak ada. Hanya ingin melihatmu saja di sini."

Lagi-lagi dia memandangku dari bawah ke atas dengan tatapan meremehkan. Lalu dia mengambil tanganku dan ditariknya aku keluar kamar.

"Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!" aku terus meronta.

"Ikut saja!"

Setelah sampai di ruang tengah, dia menghempaskanku dengan kasar. Perasaanku mulai tidak enak soal ini. Kucoba untuk terlihat tegar walau sebenarnya aku ketakutan.

"Masih mencoba terlihat berani padahal kau takut padaku, eh?"

Seringaiannya semakin lebar. Iblis ini mencoba menyudutkanku ke tembok sehingga membuatku semakin ketakutan.

"Tenanglah sayang! Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." Katanya sambil membelai wajahku. "Kuharap kau tidak akan mencoba kabur dari rumah ini." Dia menjauhkan tubuhnya dariku, lalu mengambil gelas yang berisi air dan meminumnya. "Atau kau akan berakhir seperti ini."

'PRRAANG'

Dengan sekali remasan, Sasuke memecahkan gelasnya. Tidak terlihat sama sekali darah akibat perbuatannya itu. Tubuhku semakin gemetar melihatnya. Remasan Sasuke begitu kuat sampai membuat gelas itu pecah. Tapi pelakunya tetap memasang wajah tenang sambil berbalik membelakangiku.

"Turuti semua perintahku. Dan kuingatkan sekali lagi. Jangan pernah mencoba untuk kabur atau kau akan menyesal."

Sekali pun aku disekap di sini, aku harus keluar dari rumah ini dan bertemu Shion agar dapat menemukan rencana lain untuk membunuh Uchiha Sasuke. Walaupun tangan dan kakiku telah dilumpuhkan sekali pun.

Tidak terasa aku sudah dikurung selama 2 hari di sini. Saat ini hari sudah larut malam. Pintu kamar memang tidak dikunci, tapi di luar sana ada banyak penjaga yang mengawasi. Duh, bagaimana aku bisa kabur? Aku harus mengecoh penjaga di luar.

Aku mencoba berjalan keluar. Seperti yang sudah kuduga. 2 orang penjaga bertubuh besar itu sudah menghalangiku.

"Tuan-tuan, aku lapar dan haus! Jika aku tidak diizinkan untuk keluar, bisakah kalian mengambilkannya untukku?" ucapku.

Kedua orang itu tampak berpikir sejenak dan saling pandang.

"Baiklah! Kami akan mengambilkan sepiring nasi dan lauk pauk juga segelas air. Tunggulah sebentar." Kata salah satu dari mereka.

Yosh! Aku berhasil membuat mereka pergi. Bodohnya mereka pergi tanpa pikir panjang dan meninggalkan aku yang berada di luar kamar. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum mereka kembali.

Kulangkahkan kakiku tanpa suara sambil sedikit bersembunyi takut jika ada seseorang yang melihatku. Ngomong-ngomong, di mana pria iblis itu? dia tidak terlihat sama sekali. Masa bodoh! Yang penting aku bisa kabur dari rumah besar ini.

Berhasil! Sebentar lagi aku akan mencapai pintu. Aku bisa bebas dari sini. Namun saat aku membuka pintu…

DEG

"Mau kemana kau?" tanya seorang pria yang sudah berdiri di depanku.

Kuso! Aku ketahuan! Bagaimana bisa dia ada di sini? Aku kira dia sudah tidur.

"Ano…."

Sasuke memandangku dengan tatapan tajam. Kemarahan terpancar jelas di wajahnya. Di belakangnya pria berambut pirang jabrik yang waktu menatapku dengan pandangan khawatir. Dengan cepat, Sasuke menarik tanganku. Sudah dipastikan aku akan di kembalikan ke kamarku. Dan yang lebih parahnya, apa dia akan menyiksaku? Perasaanku mulai tidak enak.

Tak lama kemudian, datanglah dua orang pengawal tadi. Ekspresinya menggambarkan ketakutan dan kecemasan.

"Padahal baru saja aku keluar sebentar. Tapi kalian sudah ceroboh."

'DUAK'

Tangan Sasuke langsung melayang di wajah salah satu pengawal itu. yang satunya lagi telah terkena tendangan kaki Sasuke di perutnya. Mereka terus dihajar habis-habisan tanpa berani melawan. Aku mulai menangis melihat ini. Dan yang membuatku semakin takut adalah saat Sasuke mengeluarkan benda dan mengulurkannya pada mereka dan siap menarik pelatuknya.

"TIDAK!" teriakku sambil menahan tangan Sasuke. "Jangan Sasuke, kumohon! Jangan lakukan itu!"

Sasuke melirikku sebentar lalu memasukan pistol itu ke sakunya.

"Baiklah. Kuharap kau mengerti." Dia memegang daguku untuk memaksakan aku untuk menatapnya. "Lihatlah! Sudah kubilang untuk tidak mencoba kabur dariku. Inilah yang akan aku lakukan jika kau melanggar perintahku. Jika kau lakukan lagi, aku akan melakukan yang lebih parah dari ini. Bahkan jika aku harus membunuhmu."

Setelah itu, Sasuke pergi meninggalkanku yang tengah gemetar ketakutan. Tubuhku merosot. Aku menangis. Kami-sama, kenapa hal ini harus terjadi padaku?

Di cermin itu, bayangan diriku terpantul. Aku terlihat menyedihkan. Tapi aku tidak peduli. Aku terus menangis merenungi semua perbuatanku. Gara-gara niat balas dendamku, aku jadi terkurung di sini. Aku meninggalkan adikku bersama Shion. Dan aku tidak bisa pergi dari sini. Jika aku bisa meminta pada Sasuke, aku ingin menemui adikku sebentar untuk melihat keadaannya dan mengatakan kalau dia tidak perlu mengkhawatirkanku.

'Ceklek'

"Boleh aku masuk?" tanya seorang perempuan berambut indigo panjang.

"Iya. masuklah!" jawabku.

Perempuan itu masuk ke kamarku dan menutup pintu lalu duduk di sampingku.

"Apa aku mengganggumu?" tanyanya dengan nada lembut.

Aku menggeleng.

"Tadi aku mendengar suara rebut di depan. Saat aku bertanya, dia bilang tidak boleh ikut campur."

Aku tersenyum padanya. Perempuan ini terlihat sangat baik. Tapi, siapa dia?

"Oh iya, kita belum berkenalan. Namaku Hyuuga Hinata." Dia mengulurkan tangannya padaku.

"Aku Haruno Sakura. Senang berkenalan denganmu." Aku membalasnya. "Kau siapa? Kenapa bisa ada sini?" tanyaku.

"Oh, apa kau tahu lelaki pirang yang selalu bersama Sasuke?"

"Ya. Dia yang yang mempunyai 3 pasang kumis kucing di wajahnya."

"Dia adalah Naruto, asisten Sasuke. Pria itu adalah suamiku."

Nani? Perempuan ini adalah istri dari asisten pria iblis itu.

"Orang tua Naruto meninggal saat dia lahir. Keluarga Uchiha memutuskan untuk merawat Naruto karena permintaan dari Okaasan Naruto yang merupakan sahabat Mikoto-baasan, Okaasan Sasuke. Namun, saat remaja, orang tua Sasuke dibunuh bersama dengan Itachi-niisan. Naruto tidak mungkin meninggalkan Sasuke yang sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Hanya Naruto yang dia punya. Sehingga mereka tidak terpisahkan hingga kini. Tapi sayangnya Sasuke belum berniat untuk menikah. Jadi, orang lain banyak yang mengira mereka gay karena selalu terlihat bersama-sama sebelum Naruto menikah denganku."

Mendengar cerita Hinata, hatikut sedikit tersentuh. Ternyata Sasuke juga mempunyai masa lalu yang kelam. Walaupun kedua orang tuaku sudah tidak ada, aku masih mempunyai Oneesan dan Otouto. Sedangkan Sasuke sendirian dan hanya mempunyai Naruto yang merupakan saudara angkatnya.

"Siapa yang telah membunuh keluarga Sasuke? Dan kenapa itu bisa terjadi?" tanyaku.

Tubuh Hinata tampak menegang mendengar pertanyaanku.

"Sebaiknya kau tanyakan sendiri pada Sasuke. Aku tidak berhak untuk mengatakan itu."

Menanyakan hal itu pada Sasuke? Jangan konyol! Aku tidak ingin melihat pria itu. lagi pula, kenapa aku jadi peduli padanya? Walau bagaimana pun, dia juga telah membunuh orang tuaku.

"Aku pergi dulu, Haruno-san!" katanya.

"Sakura saja, Hyuuga-san."

"Ya Sakura. Kau juga panggil aku Hinata saja."

"Baiklah Hinata."

Hinata menegakkan tubuhnya dan segera beranjak dariku.

"Oh iya, kau mempunyai Aneesan yang bernama Shion?" tanyanya.

Aku mengangkat sebelah alisku. Kenapa dia tau?

"Ya. memangnya kenapa?'

Dia menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja."

Pintu tertutup menyisakan berjuta pertanyaan dibenakku.

To be continue

Author note :

Amaya udah bilang, kalau Amaya tidak akan mengambil hak cipta orang lain. Awalnya saja sama pedah tempatnya di diskotik dan juga karakter perempuannya yang menyamar sebagai pelayan berbaju terbuka. Juga Sakura ingin meracuni Sasuke. Tapi yang datang bersama Sasuke itu bukan pengawal yang banyak, tapi Naruto yang merupakan asisten Sasuke. Nanti bakal ada penjelasan juga tentang Naruto. Jujur aja, Amaya emang ngambil cerita yang sama Cuma di chapter 1 aja. Chapter 2 pasti akan berbeda. Lihat aja, Amaya bakal buktiin kalau cerita ini berbeda.

By the way, makasih buat yang suka sama fanfiction ini. Maaf kalau kata-kata Amaya tadi ada yang menyinggung para reader. Amaya emang orangnya blak-blakan dan emosional atau dalam sundanya mah 'pundungan'. Tapi, Amaya gak bakal berlarut-larut atau memperpanjang masalah. Kalau Amaya tersinggung, Amaya suka tahan marah sambil baca istigfar.

Sekian dan terima kasih. Salam manis dari Amaya Katsumi ;) :*