'Tok tok tok'

"Nona, apa kau sudah bangun?" itu suara pelayan.

"Ya. Ada apa?"

"Nona dipanggil keruang tengah untuk sarapan."

"Ya. Aku akan segera ke sana."

.

Just Let Me Go

Chapter 3

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Rate : M for reason

Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)

.

Saat ini aku hanya menatap pantulan diriku di cermin. Rambut panjangku lepek karena masih basah. Semalam aku menangis dan hanya tertidur 3 jam. Akibatnya, mataku sembab da nada lingkaran hitam yang tampak mengerikan.

Ngomong-ngomong, apa yang menyuruh pelayan itu memanggilku adalah Sasuke? Tumben sekali dia mengajakku makan bersama. Apa aku juga harus ke sana?

"Nona, kau masih di sana?"

Panggilan itu membuyarkan lamunanku.

"Ya. Aku ke sana."

Aku segera beranjak keluar. Di ruang tengah sudah Naruto yang sedang memakan ramen dan juga Hinata yang sedang menyuapi seorang anak kecil yang penampilannya sama persis dengan Naruto. Anak kecil yang duduk di antara Naruto dan Hinata itu dengan lahap memakan bubur yang diberikan Hinata. Biar kutebak. Anak itu adalah hasil dari pasangan Naruto dan Hinata.

"Hei, Sakura! Ayo duduk!" panggil Naruto.

Aku pun duduk berhadapan dengan Hinata.

"Anak itu, apa anak kalian?" tanyaku.

"Ya. Dia anak kami." Jawab Hinata.

"Pantas dia mirip sekali denganmu, Naruto. Siapa namanya? Berapa umurnya?"

"Namanya Bolt. Umurnya baru akan 11 bulan."

"Wah, lucunya…..!"

Kemudian datanglah sosok pria berambut model pantat ayam mengambil tempat duduk berhadapan dengan Naruto. Ekspresinya begitu datar, gayanya terlihat angkuh, tidak ada ucapan jika tidak ditanya. Um, tipikal Uchiha sekali.

"Teme, kau mau pergi?" tanya Naruto.

"Hn."

Bahkan saat untuk bersuara pun, dia bicara seperlunya saja. Aku tidak tahu kenpa Naruto bisa tahan dengan sikapnya yang menyebalkannya itu.

"Apa aku perlu ikut?"

"Tidak. Aku hanya pergi sebentar saja."

Suasana pun jadi hening sejenak. Sasuke tengah menyantap sarapannya dengan gaya yang elegan, Naruto baru saja selesai dengan semangkuk ramen besarnya, sedangkan Hinata sepertinya tinggal sedikit lagi menghabiskan makannya setelah selesai menyuapi anaknya. Sedangkan aku hanya diam menatap keempat orang ini secara bergantian tanpa niat menyentuh piringku.

"Sakura-chan, kenapa tidak dimakan?" tanya Hinata.

"Ah, eto… aku hanya berpikir saja. Aku merasa terharu melihat kalian bertiga." Ucapku sambil menggaruk kepala.

Naruto tampak mengangkat sebelah alisnya.

"Maksudku kau Naruto dan Hinata serta Bolt. Kalian tampak bahagia."

Bukan terharu. Lebih tepatnya aku merasa senang sekaligus iri melihat kehangatan mereka. Lihat saja! Saat memakan ramen tadi, sekali-kali dia tersenyum pada Hinata dan menyuapi Bolt dengan ramen saat anak itu ingin meminta ingin mencicipinya pada ayahnya. Kalau dipikir-pikir, ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kan? Apa Sasuke tidak iri melihat ini? Dia kan sendirian dan belum ingin mempunyai pasangan.

Eh, kenapa aku juga jadi memikirkan si brengsek ini?

"Sakura-chan, apa kau sadar kalau kau menatap kami secara bergantian? Dan kau memandang Sasuke dengan ekspresi yang berbeda." Kata Naruto.

Double shit! Malunya aku ketahuan menatap mereka seperti itu. Dan juga, apa-apaan Naruto itu? Dia bisa menyadarinya.

Hinata terkekeh geli melihat ekspresi maluku yang memalingkan wajah. "Lebih baik kau habiskan sarapanmu, Sakura-chan."

Sasuke terlihat beranjak dari tempatnya dan langsung pergi sambil membawa kunci mobilnya.

"Ittekimasu."

"Itterasai, Sasuke-kun!"

Sebenarnya aku masih merasa canggung di sini. Tapi, melihat keramahan Naruto dan Hinata, aku merasa jika mereka adalah orang yang baik. Mungkin aku bisa akrab dengan mereka. Namun, bagaimana dengan Sasuke? Di sini aku adalah tawanannya. Ada suatu hal yang harus kuperbuat padanya.

Memikirkan apa yang harus aku lakukan, membuatku tidak sadar kalau makananku sudah habis. Hinata terlihat akan mengambil piring.

"Biar aku saja." ucapku.

"Tidak usah. Sakura-chan mengobrol dulu saja dengan Naruto-kun. Kau belum pernah berbicara dengannya kan?"

"Oh baiklah kalau begitu."

Hinata menghilang ke dapur meninggalkanku dengan Naruto yang sedang bermain dengan anaknya.

"Kita tidak perlu berkenalan kan?"

"Ya mungkin. Tapi aku ingin memulainya lagi."

"Baiklah. Namaku Uzumaki Naruto. Kau tidak perlu lagi memanggilku dengan nama margaku karena tadi kau sudah memanggil nama kecilku."

"Hihi, kau lucu Naruto! Namaku Haruno Sakura."

"Kurasa, Hinata sudah menceritakan sedikit tentangku dan Sasuke kan?"

"Ya. Hanya di bagian kau yang diadopsi keluarga Uchiha dan perihal kau tidak ingin berpisah dengan Sasuke."

"Begitulah. Aku menjadi asisten Sasuke yang membantunya di perusahaan. Tapi mungkin aku akan mencari tempat tinggal lain jika Sasuke sudah menikah. Dan kurasa, kau sangat cocok dengannya."

Wajahku berubah muram.

"Kupikir, itu sangat tidak mungkin. Dia adalah orang yang telah membunuh orang tuaku. Kau tahu kan kenapa aku bisa ada di sini?"

"Oh iya, aku ingat saat kau ingin meracuninya. Maafkan aku soal itu karena tidak bisa berbuat banyak. Dan juga maaf soal semalam. Aku tidak bisa membantu. Aku juga turut prihatin soal orang tuamu. Ternyata yang Sasuke bunuh adalah orang tuamu."

"Ya, tidak apa-apa."

Bolt mengulurkan tangannya dan Naruto meresponnya. Dia menggendong anaknya dan memposisikannya untuk duduk dipangkuannya.

"Ngomong-ngomong… kau adiknya Shion kan?"

"Ya benar. Tadi malam Hinata, sekarang kau? Memangnya ada apa sih? Apa hubungannya dengan kakakku?"

"Eto.. tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja."

Mereka membuatku curiga. Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka bisa tahu Shion? Apa mereka mengenalnya? Apa ada hubungannya dengan semua ini? Yang aku tahu Shion hanya mempunyai tujuan yang sama denganku. Kami sama-sama membenci Uchiha Sasuke yang telah membunuh orang tua kami. Dan juga, kenapa aku tidak pernah tahu apa motif dibalik pembunuhan orang tuaku yang dilakukan Sasuke? Aku harus mencari tahu.

Tapi pertama-tama, aku harus melakukan sesuatu.

"Naruto, boleh kupinjam ponselmu? Aku perlu menghubungi keluargaku."

"Oh tentu." Dia memberikan ponsel androidnya padaku

Aku langsung melesat pergi menuju kamarku. Setelah dirasa aman, aku langsung memijit-mijit nomor telp Shion. Terdengar suara khas telp jika telah tersambung sejenak.

"Moshi-moshi." Terdengar suara dari seberang sana.

"Shion, ini aku Sakura!" jawabku.

"Ya ampun Sakura! Apa kau baik-baik saja? aku sangat mengkhawatirkanmu. Sasuke berbuat sesuatu padamu?"

"Aku baik-baik saja. Dia mengurungku di sini. Aku sudah mencoba kabur tapi gagal."

"Syukurlah jika kau baik-baik saja di sana. Kenapa kau bisa menelfonku?"

"Sasuke sedang tidak ada di rumah. Apa kau dan Yotta baik-baik saja?"

"Kami baik-baik saja, Sakura. Saat ini Yotta sedang tertidur. Dia terus menanyakanmu."

"Tolong katakana padanya bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkanku."

"Baiklah."

Padahal aku ingin sekali berbicara sebentar dengan otouto ku yang cengeng itu. tapi mendengar dia sedang tertidur, kurasa aku tahu bahwa dia baik-baik saja.

"Sakura, aku mempunyai rencana yang bagus."

"Nande?"

"Kau tidak perlu keluar dari rumah itu. kau bisa membunuh Uchiha itu di sana. Tinggal kau memikirkan bagaimana caranya. Bunuhlah Uchiha Sasuke sebelum dia membunuhmu."

Membunuhnya di rumahnya sendiri? Apa aku bisa? Tapi aku harus melakukannya sebelum dia benar-benar akan membunuhku.

Telah kuputuskan. Akan kutuntaskan malam ini juga. Aku akan menemui pria itu sekarang juga. Aku tidak ingin menunda hal ini lebih lama. Jika hari ini gagal lagi, maka tamatlah riwayatku. Sudah dipastikan dia akan membunuhku dengan menguliti kulitku agar aku bisa merasakan sakitnya pisau yang menyayat lalu mencongkel semua organ tubuhku dan memutilasiku. Setelah dirasa aku benar-benar sudah mati, dia akan membuang mayatku secara terpisah.

Oke, itu terlalu berlebihan! Semua itu gara-gara aku sering menonton film horror yang menampilkan seorang psikopat.

Abaikan itu semua! Yang jelas, aku harus membunuh Uchiha Sasuke malam ini juga. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.

Di dalam lemari, sudah ada pakaian yang semuanya berukuran pas di tubuhku. Aku tidak tahu apakah Sasuke atau siapapun yang melakukannya, AKU TIDAK PEDULI! Dia telah menyekapku di sini. Tidak ada larangan untuk aku memakai pakaian yang ada di dalam lemari ini kan? Lagi pula Sasuke menyeretku ke sini tanpa persiapan apapun. Um, dia pria yang cukup bertanggung jawab juga. Aku terkesan!

Setelah aku selesai memakai gaun tidur, aku mengambil pisau lipat yang aku bawa di pakaian seragam pelayan waktu itu. Sasuke tidak menyadarinya. Sebenarnya aku membawa senjata tajam yang sebenarnya dipersiapkan untuknya juga.

Kusembunyikan benda itu di dalam bajuku. Lalu aku berjalan keluar kamar.

Tidak ada tanda-tanda pria itu di luar. Kemana dia? Ah, ada pelayan lewat. Kutanyakan saja padanya.

"Eum, sumimasen! Di mana Sasuke-sama sekarang? apa dia sedang pergi?" tanyaku.

"Oh, kulihat tadi ada di ruang kerjanya."

"Begitu ya? arigatou."

Langsung saja aku berjalan ke ruang kerja Uchiha Sasuke. Tinggal selama beberapa hari di rumah ini, membuatku mengetahui ruangan apa dan siapa di sini.

Kuketuk pintu yang bertuliskan ruang kerja.

'Tok tok tok'

"Masuk!"

Kubuka pintunya setelah mendapat izin untuk memasukinya. Kulihat Uchiha Sasuke sedang berkutat dengan laptopnya lalu melirikku tajam. Apa dia menyadari kalau aku menyembunyikan sesuatu di belakang sedari tadi ya?

"Ternyata kau! Ada apa menemuiku?" tanyanya dengan nada menusuk.

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menemuimu saja. Saat kau mengurungku di sini, kau tidak mengizinkanku untuk keluar sehingga aku tidak melakukan apapun selain sedikit membantu membereskan pekerjaan rumah dan membantu Hinata mengurus anaknya."

"Lalu apa maumu?" tanyanya tanpa melirikku melainkan memandang laptopnya.

"Melakukan ini!"

Langsung saja aku menerkam Sasuke. Menunjukkan pisauku dan siap menusuknya.

'CTAAK'

Dengan cekatan, Sasuke menghindarinya. Reflex yang bagus Uchiha! Dia menatapku tidak percaya. Aku menyeringai.

"Rasakan ini dasar kau pembunuh!"

Aku siap menerkam Sasuke lagi. Namun, hal itu lagi-lagi gagal karena Sasuke menahan tanganku. Aku menggertakan gigiku karena tanganku yang memegang pisau tengah dicengkram kuat olehnya. Lalu aku mencoba memukulnya dengan tangan dan kakiku.

'PLAK'

Lagi-lagi gagal! Walaupun aku pernah memegang sabuk hitam bela diri karate, tapi tetap saja aku tidak bisa melawan hukum alam yang mengatakan bahwa laki-laki lebih kuat dari perempuan. Dengan mudahnya dia menangkis semua seranganku. Aku melupakan julukan iblis yang diberikanku padanya. Kuso!

"Kau pikir kau bisa membunuhku, hah?"

Double shit! Lagi-lagi aku gagal membunuhnya. Dia melempar pisau lipatku ke sembarang arah. Tamatlah riwayatku! Perasaanku semakin tidak menentu saat Sasuke membawaku ke dalam kamarnya. Tubuhku di banting ke atas ranjangnya.

"Kau mau tahu kenapa aku mengurungmu di sini?" tanyanya.

Aku tidak menjawab dan hanya memandangnya dengan tatapan benci.

"Karena kau adalah adik dari pembunuh orang tuaku."

Kedua mataku membulat. Apa maksudnya?

"Heh, ternyata kau tidak tahu ya? kau telah dimanfaatkan oleh kakakmu sendiri." Dia menyeringai. "Dengarkan aku! Shion adalah mantan pacarku. Dia menggodaku untuk menidurinya. Dia adalah perempuan matre yang sengaja mendekatiku karena terpesona oleh ketampananku dan juga hartaku. Setelah aku memutuskan untuk meninggalkannya, dia tidak mau menerimanya. Sehingga dia berselingkuh dengan Kakakku dan membunuhnya saat tidur. Setelah itu, secara diam-diam, dia membunuh kedua orang tuaku saat aku sedang tidak ada di rumah."

Sungguh, aku tidak percaya! Shion tidak mungkin melakukan itu. menurutku, dia adalah orang yang baik. Pria ini pasti bohong.

"Bohong! Shion tidak mungkin orang yang seperti itu."

Terdengar suara meremehkan darinya. "Khukhukhu. Sakura, kau tidak tahu apa-apa. Mana mungkin aku berbohong. Aku yakin Naruto dan Hinata telah bertanya tentang apakah kau adiknya Shion kan? Karena Shion juga adalah mantan pacar Naruto, dan Hinata pernah menjadi salah satu teman dekatnya."

Bohong! Ini pasti bohong! Aku tidak percaya ini. Inilah sebabnya Naruto dan Hinata bertanya apakah aku adalah adiknya Shion. Karena memang semua ini ada hubungannya dengannya. Dan inilah sebabnya mengapa Shion menuntutku untuk membunuh Uchiha Sasuke.

"Ck, kau malah menangis! Dasar wanita sama saja! Jangan salahkan aku jika aku membunuhmu juga."

"Lalu kenapa tidak kau lakukan dari awal?"

Lagi-lagi dia menyeringai. "Aku belum puas menyiksamu. Masih terlalu cepat untukku membunuhmu." Katanya sambil membuka bajunya.

Sekarang apa yang akan dia lakukan? Tubuhnya terlihat atletis dan membuat wajahku bersemu merah. Tapi itu tidak bisa menutupi kalau aku ketakutan sekarang. Apalagi saat dia menarik dasinya dan mempelihatkannya padaku.

"Sakura, kau telah membuatku kesal dan ingin membunuhmu sekarang juga. Akan kubuat kau menerima hukuman dariku."

Aku semakin memundurkan tubuhku. Sial! Padahal aku tahu kalau ini diranjang dan akan sia-sia karena belakangnya akan membatasiku. Kini aku hanya bisa menangis meratapi nasibku yang sudah diujung tanduk. Memikirkan bagaimana nasibku setelah ini. Selanjutnya, apa yang akan Sasuke lakukan?

.

To be continue

Author note :

Masih pendek? Maafkan ya reader! Amaya kesulitan berpikir dan kurang menikmati dalam berimajinasi. Tetap bantu Amaya meneruskan ceritanya ya, minna-san! Ganbatte!

Balasan review :

II : Iya atuh nuhun pisan kritiknya . Terus, Amaya harus panggil siapa?

sami haruchi 2 : okelah kalau begitu ;)

SHL7810 : oh iya? Amaya gak tau loh itu bisa sama. Amaya Cuma berimajinasi tentang adegan kabur sama pas Hinatanya cerita. Amaya Cuma pengen cari cara buat pendekatan Sakura sama Hinata. Maapin atuh, Amaya gak sadar. Amaya bakal usahain biar beda dari yang lain.

Cherryma : iya makasih .

Suket alang alang : iya. di sini Shion itu kakaknya Sakura.

ToruPerri : masih dikit ya? nanti Amaya usahain cerita selanjutnya bakal lebih panjang.

Guest : Iya yah. Sasuke emang kejam. Huhuhu T_T. penasaran? Baca aja nih ;)

GaemSJ : sanes gonokeun, tapi begang. Hehe :D. kalau orang sunda pasti suka papatahan 'Teu kenging pundungan, bisi begang' yang artinya 'jangan mudah marah, nanti jadi kurus'. Iya deh Amaya bakal usahain biar lebih panjang lagi.

Dewazz : yap. Makasih udah nunggu

Akiyama Hara : Sipp. Tinggal cek PM aja. Tapi kalau gak ada, tandanya Amaya belum tahu caranya :D

Hanazono yuri : pendek ya? maapin atuh.

.

.

.

Udah pada liat Naruto Gaiden chapter 7? Jujur nih, Amaya sedikit kecewa. Sarada tes DNA dengan yang Karin hasilnya positif. Sedangkan Sasuke dan Sakura sama-sama mengaku suami istri. Di chapter 5 juga ada Sakura lagi hamil. Jadi gimana itu teh? Apa mungkin Amaya salah liat. Amaya masih percaya kalau Sarada anaknya Karin. Jadi agak membingungkan. Pusing pala Amaya :D. tapi, buat lebih jelasnya, kita tunggu aja cerita selanjutnya. Opini Amaya sih ada kesalahan waktu Suigetsu tes DNA. Waktu di chapter pertama, Amaya ngira Karin udah meninggal, tapi ternyata masih ada. Kalau itu emang bener, kenapa SasuSaku ngaku kalau mereka suami istri. Terus kenapa Sarada malah dirawat Sakura, bukan Karin kalau emang bener dia ibu kandungnya?

Jadi pusing pala Amaya nih. Untuk lebih jelasnya, kita tunggu aja cerita selanjutnya. Duh Masashi Kishimoto-sama, jangan bikin Amaya pusing dong :'(