terimakasih kritik dan sarannya :)

yoossh, jadi lebih semangat nulis nih. tapi buat capter selanjutnya kayaknya bakal agak lama, soalnya author mau ujian. jadi butuh waktu buat belajar dulu, maaf bila masih banyak kesalahan. semoga pembaca tidak kecewa. terimakasih :)

Aku ingin berhenti, dan berlari pergi.

Setelah melihat ponsel sasuke pergi meninggalkanku. Ya, meninggalkanku dengan semua tugas hukuman yang seharusnya kami kerjakan berdua.

"kau datang juga keh, anak ingusan"

"hn"

"Cih ... bocah ini, sombong sekali dia"

"Jangan banyak bicara, kalian ber-3 majulah," kata sasuke memancing emosi ketiga pemuda yang lebih tua darinya. Perkelahian pun tak dapat di hindari.

Setelah adu kekuatan cukup lama, sasuke berhasil mengalahkan ke-3 pemuda tadi. Tentunya dengan beberapa luka memar di wajahnya sebagai hadiah.

"Kau hebat juga bocah"

"..."

"mungkin kali ini kami kalah, tapi ingat kami akan membalasmu. Jika tidak bisa membalasmu dengan cara ini, mungkin dengan sedikit bermain dengan kekasihmu itu akan berhasil"acam ketiga pemuda tadi sambil berlari pergi

"Pengecut! Kembali!" teriak sasuke kesal

"Hinata" gumam Sasuke khawatir.

KHS sudah bubar satu jam yang lalu dan aku baru selesai membersihkan seluruh halaman, sendirian. Ku dudukan badanku yang terasa lelah di bawah salah satu pohon rindang yang ada di halaman KHS ini. mencoba menikmati suasana damai dan asri, sampai ku lihat dia datang dengan wajah memar.

"Kau kenapa sasuke?" tanyaku ketika dia sudah duduk di sampingku.

"..." Bukannya menjawab di malah menyandarkan kepalanya di pundakku

"Kau lelah?" Tanyanya dengan suara serak

"Aku sangat lelah hinata!" Sahut sasuke sebelum aku sempat menjawab, aku kesal padanya. Tentu saja kesal, tetapi melihatnya seperti ini rasa kesalku menghilang.

Mungkin sudah setenngah jam lebih sasuke bersandar pada pundakku, hari terlihat mulai agak gelap dan aku merasa sangat pegal. Ingin rasanya aku mendorongnya menjauh dariku, tepi entah kenapa aku tidak melakuhkannya. Bodoh.

"Sasuke ..." panggilku memastikan,

"..."

"sudah sore, bahkan hampir menjelang malam. Kau tidak pulang sasuke" bisikku ragu, tapi jika tidak membangunkannya sekarang dan membiarkannya lebih lama lagi. Aku yakin, orang tuaku bahkan kak Neiji akan melapor ke polisi untuk mencariku karena khawatir.

Tanpa ku duga dia terbangun tanpa menatapku bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun padaku. Ya, lagi – lagi dia pergi tak menghiraukanku. Aku hanya dapat menatap punggungnya menjauh, aku rasa aku harus marah padanya tetapi kenyataannya aku tidak bisa.

Aku berjalan sendirian keluar area KHS, biasanya aku tidak pernah pulang selarut ini sendirian. Ini menakutkan. Baru beberapa meter berjalan dari KHS, ada tiga pemuda bertampang sangar berdiri menghalangi jalanku. Aku menundukkan kepala takut,

"hai sayang"

"Mau apa kalian" tanyaku ketakutan

"Jangan takut, kami hanya ingin bermain - main dengan kekasih seorang uchiha sasuke"

"kalian, jangan ganggu aku" tubuhku semakin bergetar takut karena mereka mengelilingiku, aku hanya dapat berdoa tuhan mengirim malaikatnya untukku.

"Oi, mencariku heh?" terdengar suara serak yang tidak asing bagiku. Ya, aku tahu sekarang sasuke ada di belakangku. Dia yang tadi menghilang entah kemana datang menyelamatkanku.

"Sa-sasuke, haha ... jangan bercanda. Kami hanya ingin berkenalan dengan kekasih barumu ini, seperti kata kami tadi" kata salah satu pemuda tadi. Aku tidak mengerti apa maksud mereka, bahkan aku tidak tahu mereka musuh atau teman sasuke. Sasuke hanya mendecih pelan.

"kekasihku katamu keh ?"jangan bergurau," kata sasuke sinis, dan itu sukses mambuatku terbelalak kaget. Sakit, kata – kata sasuke tadi seperti meremas jantungku, menusuk ke ulu hatiku. Aku berbalik menatapnya tidak percaya.

"jangankan mencintainya, menyukainya pun tidak pernah"katanya sambil menatapku sinis, dia terlihat seperti orang yang tidak punya hati. menertawakanku karena terperangkap permainan bodohnya, Begitu mudahkah aku di permainkan . mengenaskan.

Dia berjalan acuh melewatiku, aku masih terbelalak tidak percaya. Merutuki kebodohanku dan menertawai diriku sendiri.

"Jadi kau bukan kekasihnya"

"Sudah ku duga, kalian memang berbeda"

"benar juga, gadis lugu sepertimu mana mungkin bersama pembuat onar seperti dia"

"itu mungkin saja terjadi, bila kau sudah gila. Atau dia mengancammu agar mau jadi kekasihnya. Hahaha…."komentar – komentar ketiga pemuda itu tak aku hiraukan, aku masih terlalu terluka. Aku benci mengakuinya, aku terlanjur jatuh cinta padanya.

"Ya ... benar, aku bukan kekasihnya. Dan aku tidak perduli dengannya" teriakku dengan suara bergetar menahan amarah, aku sengaja mengeraskan suaraku agar dia mendengarku dan aku tau sekuat apapun aku menyembunyikan perasaanku. Bagiku aku tetap terlihat menyedihkan,

Aku berjalan pergi, menerobos ke tiga pemuda tadi dengan kasar berusaha mendahului sasuke.

"menyedihkan"kataku sinis melewati sasuke. Aku tahu dia melirikku dengan ekor matanya, dan itu membuatku semakin berkaca – kaca. Aku berlari pergi tidak ingin semakin terlihat menyedihkan bila menangis di sana , di depan orang yang baru saja mencampakkanku.

Semalaman aku menangis dan tidak keluar kamar, aku hanya bilang ingin belajar keras agar kakak dan ayah tidak mengkhawatirkanku. Ya, belajar keras melupakan uchiha sasuke, belajar keras menerima kenyataannya, dan belajar keras untuk tidak perduli padanya.

Sejak dulu pikiranku selalu menyuruhku menghindarinya, berlari darinya dan jangan sampai berurusan dengannya. Ini salahku yang tidak menghiraukan pikiranku dan lebih memilih hatiku, sekarang aku membiarkan diriku hancur. Tetapi besok, aku akan berhenti. Aku akan pergi darinya, menganggap tidak pernah mengenalnya. tekatku.

thanks sudah membaca, tunggu lanjutannya ya...