Just Let Me Go

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Rate : M for reason

Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)

Summary : Aku memang membencinya karena telah membunuh kedua orang tuaku. Kakakku pun menyarankanku untuk melakukan balas dendam padanya walau aku tidak berniat untuk melakukannya. Namun, semua rencana itu gagal saat aku malah terjebak dengan perasaanku sendiri. Walaupun aku mencintainya, aku harus membunuhnya apapun yang terjadi.

Chapter 4

Bocah yang kira-kira telah memasuki usia anak remaja itu keluar dari persembunyiannya. Menghampiri jasad berlumuran darah sambil menitikan genangan air yang telah menumpuk di pelupuk matanya. Sedangkan bocah laki-laki di belakangnya hanya diam dengan tubuh bergetar menatap semua itu.

"Tou-san… hiks hiks….!" Lirihnya.

"Sa-saku…ra… jagalah adikmu! Ingatlah kata-kata Tou-san! Kebencian dan dendam hanya akan membuatmu menyesal. Berjanjilah untuk tidak menyimpan dendam pada siapapun orang yang kau benci. Berhati-hatilah pada Oneesanmu itu. Dia bukan orang yang baik untukmu."

"Tou-san, jangan pergi!"

"Gomen ne, Sakura! Jagalah dirimu baik-baik! Tsuyokunaru!"

Seiring dengan ucapan terakhirnya, pria itu menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuhnya melemas, kedua matanya tertutup, bibirnya menyunggingkan senyuman, tubuhnya yang dipenuhi darah pun mulai memucat.

"Tidak! TOU-SAN!"

Suara teriakan memilukan terdengar setelah panggilannya terakhirnya disebutkan. Air mata tak henti-hentinya mengalir.

Kepulan asap rokok terpancar di langit-langit. Aku hanya bisa menangis setelah apa yang menimpa diriku. Semalaman aku tidak tidur. Kedua mataku telah bengkak akibatnya. Tubuhku yang polos hanya tertutupi oleh selimut telah dipenuhi bercak merah akibat perlakuan pria yang tengah merokok di samping ranjang.

Bodohnya aku terlalu percaya dengan kakakku sehingga dimanfaatkan olehnya. Aku baru mengingat perkataan terakhir Tou-san diambang kematiannya.

'Janganlah menyimpan dendam pada siapapun orang yang kau benci! Berhati-hatilah pada Shion karena dia bukan orang yang baik.'

Selama ini bukan sepenuhnya salah Sasuke. Mungkin aku pantas menerima ini. Aku telah terbujuk oleh hasutan kakakku sendiri. Tapi tetap saja! kenapa aku yang harus menerima ini? Apakah penderitaanku sudah setara dengan semua dosaku. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Setelah kesalahanku dengan rencana balas dendam dan pembunuhan, dosaku malah bertambah karena orang yang ingin kubunuh malah berbalik menodaiku.

Kami-sama! Apakah ini hukuman darimu juga?

Masih berbekas dalam ingatanku bagaimana dia mengikat kedua tanganku dengan dasinya. Seluruh tubuhku dipenuhi bercak-bercak merah bekas ciumannya. Dan betapa menjijikannya aku karena tubuhku menikmati semua perlakuannya itu. aku pun sampai dibuat mendesah karenanya. seakan-akan tubuhku menghianati diriku. Betapa tidak berdayanya aku berada ditindihannya tanpa bisa melawan. Aku hanya bisa menangis berharap dia mau melepaskanku walaupun aku tahu itu semua sia-sia saja.

Sekeras-kerasnya aku berteriak, tidak akan berpengaruh apapun. Aku malah mendapat tamparan di pipiku. Saat kesejatiannya memasuki diriku, saat itulah diriku hancur. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku. Kesucian yang sudah kujaga untuk suami yang kucintai kelak, telah diambil oleh pria yang kubenci. Diriku klimas dengan hujamannya yang semakin kasar. Dan Sasuke tidak hanya melakukannya sekali. Entah berapa kali dia menghujamkan kejantanannya dan mengeluarkan benih-benihnya di dalam diriku. Aku sampai tidak sadarkan diri karena terlalu lelah menerima perlakuannya itu.

Saat aku terbangun, ikatan pada pergelangan tanganku terlepas. Meninggalkan bekas kemerahan di sana. Aku hanya bisa menangis sambil menutup tubuhku dengan selimut sambil membelakangi Sasuke yang sedang menghembuskan asap nikotin yang sedang dinikmatinya. Aku tidak peduli seberapa basahnya bantal milik Sasuke.

"Harus kuakui. Kau sangat memuaskan sehingga aku tidak bisa menikmati tubuhmu sekali saja. kau harusnya bersyukur dan berterima kasih padaku karena aku tidak membunuhmu. Kau beruntung karena kau satu-satunya wanita yang memasuki kamarku selain ibuku dulu."

Aku tidak berniat membalas ucapannya. Mendengarnya saja aku sangat tidak ingin. Tapi tetap saja telingaku tidak bisa untuk tidak mendengarnya.

"Nona, ini makanan Anda."

Kuhiraukan pelayan yang masuk membawa makan siangku. Tubuhku tetap berhadapan dengan jendela. Pandanganku dari pemandangan di luar kamar. Sudah 2 hari ini aku tidak keluar kamar. Makan dan minum pun hanya sedikit. Diriku masih trauma untuk bertemu Sasuke.

'Krriieet'

"Ba-chan!"

Kualihkan pandangan ke pintu. Tampak seorang bocah berjalan sambil berpegangan ke sisi ruangan. Itu kan Bolt! Dia sudah bisa berjalan. Apa Hinata tahu dia masuk ke sini?

"Ba-chan!" gumamnya sambil merentangkan tangan kearahku.

Aku berlari kearahnya sebelum dia jatuh karena kulihat kakinya masih lemas.

'HAP'

Untung saja tepat waktu! Langsung kugendong anak ini.

"Hei, Bolt! Kenapa kau ke sini?" tanyaku mengajaknya bicara.

Dia hanya menjawab dengan ucapan entah apa karena tidak kumengerti.

"Bolt-kun!"

Ah, sepertinya sang ibu sedang mencarinya! Aku harus memberikan anak ini padanya.

"Eh, Bolt-kun! Ternyata kau di sini. Nakal ya sudah membuat Kaa-chan mencarimu."

Aku menurunkan Bolt untuk berjalan kearah Hinata.

"Hee, kau sudah bisa berjalan? Gomenasai Sakura-chan! Bolt-kun sudah masuk ke kamarmu." Ucapnya sambil menangkap Bolt yang akan terjatuh.

"Daijobu Hinata! Aku senang dia sudah bisa berjalan."

"Kaa-chan…. Cu…chu…" ucap Bolt dengan nada khas anak baru belajar. Tangannya memegang payudara Hinata sebagai tanda kalau dia ingin minum.

"Anak kaa-chan lapar ya?" Hinata segera menggodong Bolt.

"Sudah hampir setahun, kau masih saja minum ASI. Pantas saja makanmu lahap dan tubuhmu berat." Kataku sambil memandang Bolt.

Melihat pemandangan ini sungguh membuat hatiku menghangat. Apalagi saat Hinata sekali-kali mengecup Bolt. Anak itu seperti duplikat ayahnya saja. begitu mirip. Ya iyalah! Mereka kan ayah dan anak.

"Sakura-chan, aku ke kamar dulu!"

Aku pun mengangguk. Hinata langsung menghilang dari hadapanku. Kulihat sekeliling rumah tampak sepi. Hanya ada pekerja di rumah ini yang hilir mudik. Aku masuk ke kamar mengambil makan siangku lalu membawanya ke ruang makan. Bahkan aku melupakan apa yang sudah diajarkan oleh kaa-san soal jangan makan di kamar tidur.

Untung saja Sasuke sedang pergi. Aku jadi tidak perlu khawatir bertemu dengannya.

Setelah selesai, aku langsung mencuci piring. Walau ada pembantu di sini, aku sudah terbiasa mencuci piring sendiri sehabis makan. Sesudahnya, pergi lagi ke kamar dan keluar lagi sambil membawa sebuah buku dan pulpen.

Kugoreskan sebuah tulisan di buku itu. entah apa yang kutulis di sini, aku tidak tahu. Aku hanya ingin menulis sesuatu yang kudapat dalam pikiranku. Selama aku bercerita, kakiku tidak bisa diam. Aku duduk di sofa depan TV, lalu pergi ke kamar Hinata, kemudian ke taman yang diterdapat 2 buah bunga matahari, 1 tanaman bunga mawar, serta pohon bonsai. Setelah itu, aku pergi ke tempat yang terdapat kolam renang dan duduk di bangku santai. Biar kutebak, pasti Sasuke sering duduk di bangku ini. Selanjutnya aku berjalan ke ruang utama. Seketika itu juga aku mendengar pintu terbuka.

"Tadaima!"

Dua sosok pria masuk ke dalam rumah. oh, aku terlalu terhanyut ke dalam tulisanku sehingga tidak sadar kalau pria itu telah pulang.

"Hei, Sakura-chan!" Naruto melambaikan tangannya kepadaku.

Aku hanya tersenyum kepada Naruto. "Halo! Okaeri!"

Kulihat Sasuke memandangku tajam.

"Aku rasa, aku akan kembali ke kamarku."

Aku langsung berjalan dengan terburu-buru ke kamarku.

Kusimpan buku dan pulpen setelah selesai menulis. Beberapa menit lalu, aku bertatap muka dengan Sasuke. Lagi-lagi lelaki itu memandangku dengan begitu tajam. Itu sungguh sangat menggangguku. Mentalku juga masih belum siap untuk bertemu dengannya. Ingatan trauma saat kejadian itu masih terngiang dipikiranku.

Hingga tanpa sadar sudah sejam aku melamun di kamar ini sambil di depan jendela. Mataku terus memandang kearah kolam renang beserta taman yang terlihat dari jendela ini. Tanpa disadari pula, aku merasakan sepasang tangan melingkari perutku. Aku langsung terkesiap melihat siapa pelakunya.

"Kau? Sejak kapan kau masuk?"

Sasuke hanya mengangkat bahunya. "Baru saja."

Sepertinya pria ini baru saja selesai mandi. Terlihat rambutnya yang masih basah dan juga pakaiannya menjadi lebih santai seperti pakaian rumahan pada umumnya.

"Kenapa kau begitu tegang? Bukankah kita baru saja melakukannya? Kau begitu menikmati semua sentuhanku dan mendesah di bawahku."

Sialan kau Uchiha! Mulut kotormu membuatku ingin merobek bibir kisabelmu itu. langsung saja kuambil segelas air di atas meja lalu menyemburkannya tepat di wajah Sasuke.

"Mungkin tubuhku memang menikmatinya. Tapi hatiku menolak untuk kau sentuh. Bahkan aku jijik dengan itu semua. Jadi, jaga bicaramu, Uchiha!"

Pria itu menggeram. Tangannya mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. Lalu dia menatapku tajam dengan nafsu tersirat jelas.

"Souka! Baru saja aku mandi lalu kau siram lagi dengan segelas air. Sudah kucoba untuk berbuat baik padamu. Tapi kau telah memberikanku kode untuk terus menyiksamu, Haruno."

Secara tiba-tiba, Sasuke membantingku ke ranjang. Lalu dia langsung menindih dan mengunci tubuhku dengan kurungannya.

"Apa maumu, bajingan?" aku terus meronta sambil menatapnya tajam.

"Tadi kau takut padaku, dan sekarang kau berani padaku, heh? Kau memang menarik, Haruno!"

Aku terus memberontak minta dilepaskan. "Lepaskan aku, brengsek!"

"DIAM!"

'PLAK'

Lagi-lagi bentakan dan tamparan Sasuke membuatku diam. Hatiku menjerit mendapat semua perilaku buruknya selama ini. Aku hanya bisa menangis dalam hati.

"Biarkan aku saja yang melakukannya. Akan kuajari bagaimana cara untuk memuaskanku."

Aku sudah tahu apa yang akan terjadi selajutnya. Jadi kubiarkan dia melakukan apapun padaku. Aku hanya bisa pasrah pada pria iblis di atasku. Bagaikan elang yang telah menangkap kelinci untuk dimangsanya. Mau tidak mau, aku harus menikmati persetubuhan ini.

To be continue

...

Balasan review :

ToruPerri : Sasuke gak bakal bunuh Sakura kok. Iya ya, Sarada jadi kaya anak durhaka. Kalau emang bener Sakura bukan ibu kandungnya, Sarada harusnya sadar oleh siapa dia dibesarkan

Sami haruchi 2 : iya nih. Chapter yang itu sebenarnya cukup mengecewakan T_T. kenapa keluarga Uchiha jadi yang paling menderita?

GaemSJ : makasih udah nunggu

Herawaty659 : maaf ya kalau Amaya gak bisa update cepet-cepet soalnya Amaya update di warnet terus gak bisa bikin cerita yang panjang dalam sehari.

Guest : kan disitu udah ada penjelasannya. Makasih banyak ya

Author Note :

Apa kabar minna-san? Ketemu lagi dengan Amaya. Maaf kalau update-nya agak telat. Saat puasa, Amaya jadi kurang konsentrasi. Amaya suka bikin ceritanya pas udah buka puasa aja. Ditambah akhir-akhir ini Amaya udah mulai ngurusin kampus. Doakan Amaya supaya lulus test mental, test inggris, juga TPA. Disela waktu luang, Amaya bakal usahakan lanjutin fanfiction ini.

Maaf kalau chapter ini cukup mengecewakan. Tapi Amaya tetap butuh semangat dan kritik dari review reader.

Enjoy! ;)