Balasan review :

Guest : Iya sabar. Nanti tiba waktunya buat nyiksa Sasuke :

Sami haruchi 2 : iya deh. Tapi kayaknya Sasuke tersinggung pas dibilang istrinya kemungkinan sudah mati. Haha.

ToruPerri : nanti bakalan terjawab kok

Dianarndraha : nanti juga Shion bakal kena balasannya. Soal Sasuke, kita lihat aja nanti.

hanazono yuri & sakura uchiha stivani : iya terima kasih sudah menunggu.

.

.

.

Secara tiba-tiba, Sasuke membanting Sakura ke ranjang. Dia langsung menindih dan mengunci tubuhnya dalam kurungannya.

"Apa maumu, bajingan?" Sakura terus meronta sambil menatapnya tajam.

"Tadi kau takut padaku, dan sekarang kau berani padaku, heh? Kau memang menarik, Haruno!"

Sakura terus memberontak minta dilepaskan. "Lepaskan aku, brengsek!"

"DIAM!"

'PLAK'

Lagi-lagi bentakan dan tamparan Sasuke membuatnya diam. Hatinya menjerit mendapat semua perilaku buruknya selama ini. Sakura hanya bisa menangis dalam hati.

"Biarkan aku saja yang melakukannya. Akan kuajari bagaimana cara untuk memuaskanku."

Sakura sudah tahu apa yang akan terjadi selajutnya. Dibiarkannya dia melakukan apapun padanya. Sakura hanya bisa pasrah pada pria iblis di atasnya. Bagaikan elang yang telah menangkap kelinci untuk dimangsanya. Mau tidak mau, dia harus menikmati persetubuhan ini.

Just Let Me Go

Chapter 5

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Rate : M for reason

Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)

Sinar itu sangat menyilaukan matanya. Kedua kelopak mata itu terbuka bagaikan bunga yang mekar saat terkena paparan sinar matahari.

Rasa pegal dan sakit saat tubuhnya digerakan, terutama di bagian selangkangan. Masih terbekas dalam ingatannya betapa ganasnya pria iblis itu menggaulinya. Nafsunya tidak ditahan-tahan lagi. Beronde-ronde telah dilewati bersamanya di malam yang panas tadi.

Bicara tentang pria itu, di mana dia sekarang? apa dia kembali ke kamarnya atau sudah pergi bekerja? Masa bodoh dengan itu semua! Kenapa pula aku harus peduli dengan iblis yang telah membunuh orang tuanya dan merebut paksa kegadisannya?

Dilihat sekeliling ruangan ini. Tampak berantakan. Tidak seperti dirinya yang biasanya selalu rapi dan bersih. Baju, celana, dan pakaian dalam berceceran di mana-mana. Bahkan ada asbak bekas rokok di sini. Sudah dipastikan ini bekas Sasuke. Bungkusnya pun masih ada dan telah kosong.

Padahal Sakura sering melihat Sasuke berkali-kali berolahrga. Bermain basket, voli, badminton, sepak bola, berenang, bahkan sampai karate, pedang, panahan. Tidak jarang Sakura menemukan Sasuke sedang latihan menembak dengan pistolnya. Saking besarnya rumah ini, ada taman yang berfungsi sebagai tempat olahraga dan juga ruangan untuk menembak. Apa semua itu hanya hobi? Karena setelahnya, Sasuke pasti merokok. bahkan Naruto mengatakan Sasuke memang begitu. Dia merokok sudah seperti kereta api. Hal itu dilakukannya jika ada kesempatan. Bukan hanya Sasuke yang akan terkena dampaknya, tapi orang di sekitarnya juga akan ikut kena. Lalu kenapa juga Sakura harus repot-repot merencanakan pembunuhan padanya? toh, dia akan mati perlahan akibat kebiasaannya sendiri.

Mengingat tentang pembunuhan, Shion lah penyebab dari semua ini. Dia yang membuat Sakura dan Sasuke saling membenci. Sakura sudah tidak mempercayainya lagi. Meskipun dia kakak kandungnya, Sakura tidak mau peduli padanya lagi. Biarlah dia sendiri yang membunuh Sasuke. Sakura bukan boneka yang bisa dimanfaatkan lagi olehnya.

Tiba-tiba dia teringat Yotta. Bagaimana keadaan adiknya itu? astaga, dia baru ingat! Dia sedang bersama Shion. Semoga saja dia baik-baik saja di sana. Sejahat-jahatnya Shion, dia tidak akan tega menyakiti anak kecil. Sakura mengenal Shion selama 22 tahun. Dia sangat menyukai anak kecil. Bahkan dia sendiri berambisi untuk mengadopsi anak.

Sebenarnya Sakura juga meninggalkan sesuatu semenjak dia di sini. Ayahnya meninggalkan perusahaan padanya. sekarang dia tahu kenapa tidak menyerahkan itu kepada Shion yang notebatenya adalah anak sulung. Shion pasti menginginkan posisi jabatan sebagai CEO. Tapi wanita itu terlalu serakah. Namun sekarang pasti dialah yang memimpin perusahaan itu sementara. Jika Shion ingin jabatan itu, dia harus mendapatkan tanda tangan Sakura terlebih dahulu.

Uchiha Group juga sebenarnya bekerjasama dengan perusahaannya dan masih berjalan sampai sekarang. uchiha menyimpan investasi dan saham pada Haruno Corp. perusahaan itu bagaikan harta karun yang tidak akan habis. pantas saja Shion mengincar Sasuke.

Sudah cukup melamunkan itu semua! Sekarang Sakura telah berusaha melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan susah payah. Perutnya sudah keroncongan minta diisi dari tadi. Mengingat ini sudah siang, pasti Hinata sudah banyak memasak.

Sakura memakan makanannya dengan lesu. Mulutnya masih diisi dengan makanan yang tidak dikunyah atau ditelan, tangannya terus memutar-mutar sendok, juga dirinya yang malah melamun.

"Sakura-chan?" Hinata mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Sakura. "Kau baik-baik saja?"

"Ah… ano… aku tidak apa-apa. Kurasa, aku sudah kenyang."

Hinata hanya tersenyum kecut pada Sakura. Dia mengambil baskom yang berisi handuk lalu menempelkannya pada pipi Sakura.

"Arrrghhh!" rintihnya sakit.

"Untunglah hanya sedikit memarnya. Tidak separah waktu itu. Saat itu pipimu membiru sempurna dan bibirmu berdarah."

Wanita itu menempelkan kain yang berisi es batu pada pipi Sakura.

"Arigatou Hinata."

"Gomen, aku dan Naruto-kun tidak bisa membantumu saat dia berbuat kasar padamu. Kuharap Sasuke berbuat lembut padamu."

"Tidak apa-apa Hinata. Aku baik-baik saja. jangan khawatirkan aku. Setidaknya, kau selalu membantuku selama ini."

Sakura tersenyum. tanpa sepengetahuannya, Hinata memandang sedih pada Sakura. Dia tahu kalau senyumannya itu palsu.

"Papa!"

Saat sedang santai di bangku panjangnya, Naruto tersentak saat ada sepasang tangan mungil diiringi dengan panggilan pada dirinya. Dibukanya kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.

"Hei, Bolt! Bagaimana kau bisa sampai di sini? Di mana mama?" ujarnya sambil menggedong bocah yang baru belajar berjalan itu.

"Mama!" Ujarnya sambil menunduk kearah wanita yang berjalan kearah mereka.

Hinata memberikan dot susu kepada Bolt lalu menggendongnya.

'BYUUURRRR'

Sasuke melompat ke kolam renang. Alhasil, airnya membasahi Naruto.

"Arrrghhh, Teme! Apa yang kau lakukan? Padahal aku baru saja mandi dan bersantai." Ucapnya kesal.

Sedangkan sang pelaku malah asyik berseluncur ke dalam air. Sakura baru saja datang dan menatap bingung kepada Hinata yang tengah tertawa pelan.

Dengan kesal, Naruto berjalan masuk ke dalam diikuti oleh Hinata di belakangnya. Sakura yang ditinggalkan, kemudian duduk di kursi sambil menatap Sasuke yang baru saja keluar dari kolam dan duduk di bangku panjang yang tadi Naruto tempati. Pria itu meminum jus tomatnya tanpa mempedulikan Sakura yang ada di dekatnya.

Beberapa menit berada di sana, akhirnya Sasuke bergerak melangkah masuk ke dalam rumah. bahkan setelah perlakuannya semalam pun, pria itu masih saja mengacuhkan Sakura. Tidakkah dia sedikit bertanggung jawab? Lihatlah luka di wajahnya! Bukan Cuma itu. hatinya pun merasakan hal yang sama.

Suara khas dari jari-jemari yang bersentuhan dengan laptopnya terdengar menggema. Dengan lincah, jari-jari itu menari-nari seperti mesin. Mata dari pria itu tidak luput dari layar lebar alat canggih itu. meski dia tahu hal ini sebenarnya kurang baik untuknya, pria yang umurnya sudah mencapai 25 tahun lebih itu tetap mempertahankan julukan workaholic yang diberikan asisten sekaligus sahabatnya.

Tiba-tiba tangannya mencekram dadanya yang terasa sesak. Tanpa basa-basi lagi, dia mengambil botol yang mengeluarkan kapsul obat dari dalamnya. Setelah itu, dia memasukan obat itu ke dalam mulutnya dan meminum segelas air.

Berbagai perasaan berkecambung di hati dan pikirannya. Lalu dia memperhatikan botol obat itu dan mengangkatnya. Rasa sesak itu sudah hilang. Tapi dia tahu kalau hal itu akan terus datang. Ini hanya mengantisipasi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Walaupun dia tahu kalau itu hanya sia-sia.

Mata hitam elangnya teralihkan untuk menatap seorang wanita yang mendekatinya dengan membawakan secangkir kopi. Setelah menaruhnya di atas meja, dia duduk berhadapan dengannya. Tapi pria ini sepertinya tidak tertarik dan tetap bersikeras untuk focus pada laptopnya.

"Sasuke-kun, ada hal yang ingin aku bicarakan." Ujarnya. "Ini tentang Sakura-chan." Lanjutnya.

"Sudah kubilang kan, untuk tidak ikut campur dalam hal ini, Hinata."

"Tapi, bukan hanya Sakura-chan saja yang tersiksa. Kau juga menyakiti dirimu sendiri."

Kemudian Sasuke menatap istri dari sahabatnya itu dingin.

"Lalu apa pedulimu? Toh, yang mati pun itu aku."

"Aku peduli padamu. Naruto-kun juga ingin sekali membicarakan hal ini padamu. Kau sudah seperti saudara kandung bagi suamiku. Kami tidak akan membiarkan saudara kami menderita karena jatuh ke jurang. Apalagi kau sedang sakit parah. Jangan menyakiti dirimu sendiri, Sasuke-kun." Ujarnya tegas. "Sakura-chan tidak bersalah atas konflik yang terjadi dengan keluargamu. Setidaknya, bersikaplah sedikit lebih lembut padanya. aku tahu sebenarnya kau menyukainya, Sasuke-kun."

'TAP'

Sejenak Sasuke menghentikan acara mengetiknya lalu menyimpan laptopnya. Dia memijit keningnya yang terasa pening. Pikirannya terbayang-bayang oleh wajah perempuan berambut pink.

"Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa. Setiap aku melihatnya, ada semacam hasrat ingin memilikinya. Hanya saja, aku terlalu payah dalam mengungkapkan perasaan. Saat aku mendekatinya, Sakura menatapku dengan pandangan benci. Tatapan itu yang tidak kusukai. Setiap kali aku ditolak, aku jadi teringat kematian orang tuaku dan juga Kakakku."

Hinata mengerti. Sebenarnya Sasuke mengungkapkan perasaanya pada Sakura. Hanya saja Sakura selalu menyambutnya dengan kebencian. Mungkin Sakura juga tidak terima karena Sasuke membunuh kedua orang tua Sakura tepat di depan matanya. Pria itu juga yang merenggut keperawanan Sakura. Namun, jika Sakura tahu apa yang terjadi pada Sasuke, seperti apakah reaksinya?

Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan yang berjatuhan dari pohonnya. Wanita itu berdiri di balkon. Iris klorofilnya hanya memandangi langit hitam legam. Helaian merah mudanya melambai-lambai mengikuti arah angin.

"Tou-san, Kaa-san, bagaimana kabar kalian? Apakah kalian melihatku sekarang? maaf karena membuat kalian khawatir. Namun, harus kukatakan kalau aku baik-baik saja di sini."

Wanita itu menyimpan gelas yang isinya sudah tandas.

"Aku merindukan kalian. Aku tahu belum saatnya aku menyusul kalian. Tapi, apakah aku bisa mendengarkan suara kalian walau hanya satu kalimat? Dapatkah aku melihat wajah kalian walau hanya satu menit?"

Aliran air bening mulai menuruni wajahnya.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Sudah dalam beberapa hari ini, Sasuke berada di rumah. Narutolah yang selalu pergi sendirian ke kantor. Tubuhnya kurang fit selama ini. Dia hanya ingin beristirahat sejenak untuk memulihkan fisik dan psikisnya.

Selama ini pun Sakura menghidari kontak dengannya. Mungkin karena dia juga yang jarang keluar dari kamarnya. Seharian dia berbaring di kamarnya. Jika tidak, Sasuke sedikit mengerjakan tugas kantornya dari laptopnya. Membuka Email untuk memberitahukan kepada Naruto apa saja yang harus dikerjakan.

Setelah hampir seminggu bolos, akhirnya Sasuke kembali sarapan di meja makan dengan memakai baju kantornya. Terlihat sangat sehat setelah beberapa hari mengurung di kamar.

Sakura memperhatikan Sasuke dengan teliti. Terasa aneh jika seorang Uchiha Sasuke sakit. Dia baru lagi sarapan bersamanya sejak terakhir kali.

"Sakura, bersiaplah nanti malam."

Tersadar, namun pikirannya masih belum tersambung. Sakura menatap Sasuke dengan pandangan polos.

"Are?"

"Aku akan menjemputmu setelah matahari terbenam." Ucapnya datar sambil beranjak dari tempatnya lalu berjalan keluar.

"Eh, Sasuke! Matte! Nande?"

Sakura mencoba mengejar Sasuke. Namun sungguh sayang karena langkah Sasuke telah sampai di dalam mobilnya. Kini Sakura hanya bisa menatap mobil Sasuke yang melesat pergi melewati gerbang.

"What the hell Sasuke?"

Dengan sedikit kesal, Sakura kembali ke meja makan.

"Huuuaaahhhh…. Ohayou!" sapa pria berambut pirang jabrik dari belakang Sakura sambil menguap.

"Naruto-kun, sikat gigi terlebih dahulu!" Ujar Hinata.

"Wakatta. Aku kemari karena aku mencium bau masakan yang terasa enak. Dan aku tahu bau khas masakan istri tercintaku." Ucap Naruto sambil memeluk Hinata dari belakang yang duduk di kursi.

Sakura yang memperhatikan hanya memutar bola matanya. Bagaimana bisa Sasuke memiliki asisten seperti Naruto yang terlihat bodoh?

"Ekhem, aku masih di sini. Jika kalian ingin bermesraan, silahkan lanjutkan di kamar kalian. Lagi pula, masih ada anak kalian yang menatap kalian sedih karena diabaikan."

Sepasang manusia itu langsung menatap anak mereka yang memasang wajah innocent. Kedua matanya sudah berlinangan air mata.

"Lebih baik aku ajak dia bermain. Kalian boleh lanjutkan yang barusan." Ujar Sakura sambil menggendong anak dari pasangan NaruHina itu.

Beruntung anak ini lahir dari cinta dan kasih sayang orang tuanya. Keluarganya akan bahagia sampai nanti. Sakura berani bertaruh, tidak lama lagi Bolt akan memiliki adik. Mungkin seperti inilah rasanya jika dia sudah berkeluarga. Kalau hanya menatap orang lain, hatinya malah sakit. Kini dia dapat merasakan apa yang Sasuke rasakan.

Setelah berlama-lama bermain dengan bocah laki-laki yang belum genap setahun, Sakura menerima paket yang diberikan satpam.

"Ini kiriman dari Sasuke-sama untuk anda, Sakura-sama." Ujarnya.

Tumben sekali pria itu memberika sesuatu padanya. jangan-jangan, ini adalah benda tak layak dilihat! Aneh sekali Uchiha itu.

Setelah berada di kamarnya, Sakura membuka bingkisan itu. terlihatlah sebuah gaun berwarna merah dengan sepatunya.

"Kawaii!"

Kalau diingat-ingat, tadi Sasuke menyuruhnya untuk bersiap-siap. Mungkin inilah maksudnya. Memangnya ada acara apa sih?

Sakura bergegas berjalan keluar kamarnya. Baju yang dikatakannya cantik tadi, dia biarkan tergeletak di atas ranjang. Saat berada di ruang keluarga, terlihatlah Naruto yang sedang bermain dengan Bolt.

Tersadar ada seseorang yang berdiri di dekatnya, Naruto menoleh.

"Oh, Sakura-chan! Kenapa kau tinggalkan Bolt sendirian tadi di depan?"

"Eh, eto…" Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan telunjuknya. "Gomen!"

"Ah, sudahlah! Untung saja vas besar milik Mikoto-baasan tidak pecah karena sedari tadi dia berjalan menyamping."

"Hehe." Sakura malah memasang wajah tanpa dosa.

Lalu dia teringat tujuannya kemari.

"Naruto, ada acara apa nanti malam?"

"Maksudmu Sasuke?"

Sakura mengangguk.

"Oh, ada pesta pertemuan para kolega bisnis se-Konoha. Seluruh direktur perusahaan besar hadir di sana."

Souka? Lalu apa niat Sasuke mengajaknya ke sana? Sebagai apa Sakura dikenalkan di sana?

Tepat setelah matahari terbenam, Sakura duduk di depan cermin. Dia masih menunggu untuk dijemput oleh Sasuke.

Riasannya tampak sederhana. Polesan make up tipis, rambut dicepol dengan ponytail sehingga menampilkan leher jenjangnya. Gaun dan sepatu yang diberikan Sasuke pun tampak pas dan indah ditubuhnya menambah kesan elegan. Tidak terlalu terbuka dan haknya tidak terlalu tinggi. Sepertinya Sasuke adalah orang yang faishonable. Walaupun gaunnya terlihat sederhana, tampaknya ini sangat mahal terlihat dari mereknya.

'Ceklek'

Pintu terbuka dengan sendirinya tanpa seizing pemilik di dalamnya. Tanpa menoleh pun, Sakura sudah tahu siapa yang melakukan ini. Siapa lagi kalau bukan Sasuke sang Tuan rumah?

Mata hitam Sasuke menatap Sakura dari bawah sampai atas yang telah berdiri di depannya. Matanya tidak berkedip. Terpesona, eh?

Pria itu berjalan mendekati Sakura sambil mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah lalu membukanya. Sedangkan Sakura terkesima melihat apa itu.

"Pakai ini!"

Sasuke memakaikan kalung berliontin merah. Dia menatap dirinya di cermin dengan Sasuke yang sedang memakaikannya kalung yang menurutnya indah itu. setelah itu, Sasuke memakaikannya cincin emas di jari manisnya. Sungguh perlakuan Sasuke ini tampak seperti seorang suami yang sedang memberikan hadiah kepada istrinya.

Tapi sayangnya mereka bukan sepasang pengantin yang saling mencintai.

"Ayo berangkat!" ujar Sasuke.

Bukan hanya gedungnya yang sangat luas, tapi pestanya pun terlihat sangat mewah. Seperti acara bergaya Eropa klasik. Orang-orangnya pun begitu terlihat berkelas. Sakura belum pernah menghadiri yang seperti ini.

Sakura tampak tidak nyaman dalam genggaman Sasuke. Selain terasa aneh Karena Sasuke pertama kali bersikap seperti ini, sedari tadi orang-orang memperhatikannya sinis, terutama kaum perempuan. Ia akui, Sasuke terlihat tampan hari ini. Mungkin para wanita itu iri karena pangerannya sudah ada yang memiliki.

Heh, yang kalian lihat ini adalah iblis bertopeng malaikat! Parasnya memang rupawan bagaikan Adonis. Tapi sikapnya begitu kejam bagaikan iblis.

Sakura membungkuk mengikuti Sasuke saat berhadapan dengan seseorang.

"Konbanwa, Uchiha-san! Maukah kau memperkenalkan wanita cantik yang kau bawa ini?" tanya seorang gadis pirang diikat.

"Konbanwa, Yamanak-san, Sai-san! Dia adalah Haruno Sakura, tunanganku."

Sakura terkesiap dengan ucapan Sasuke barusan. Lalu dia menatap wajah Sasuke yang selalu tanpa ekspresi itu. apa katanya? Tunangan?

"Haruno-san ya? bukankah kau direktur perusahaan Haruno itu? ternyata kau bersama Uchiha. Tapi menurut direktur perusahaan sementara di sana, kau sedang mengerjakan sesuatu sehingga tugas perusahaanmu digantikan sementara."

Benar juga! Sekarang apa alasan yang akan dia berikan? Sebenarnya dia menghilang karena ingin membunuh Sasuke tapi gagal kemudian disekap olehnya. Tidak mungkin kan Sakura terlalu jujur seperti itu?

"A-ano…"

Ucapan Sakura terpotong oleh Sasuke yang menggenggam erat tangannya.

"Ya itu benar. karena Sakura sibuk menyiapkan pernikahan kami. Dia memutuskan untuk istirahat sejenak di rumahku agar tidak terlihat lelah saat kami menikah nanti. Sementara Haruno Corp digantikan oleh saudaranya. Setelah itu, kami akan menggabungkan perusahaan kami. Bukan begitu, sayang?" Jelas Sasuke.

"Souka? Apakah ini pernikahan bisnis? Tapi kalian terlihat sangat serasi dan saling mencintai." Ujar Sai.

Mencintai? Benarkah itu? apa sandiwara mereka berhasil sehingga dapat menipu orang-orang?

"Hai, sambil menyelam minum air. Meskipun pernikahan ini adalah perjodohan bisnis, tapi kami saling mencintai. Benarkan, sayang?" lanjut Sasuke.

"Ehh… i..iyyaa, sayang." Jawab Sakura.

"Wah, wajahmu memerah. Sepertinya kau malu-malu." Ujar Ino.

Setelah beberapa lama mereka berbincang-bincang, akhirnya Sakura memutuskan untuk mengambil beberapa makanan dan minuman yang telah disediakan.

"Sandiwaramu begitu hebat, sayang." Bisik Sasuke.

"Sepertinya kau memang telah merencanakan ini, Sasuke. Kau memang licik. Menggunakanku untuk menyempurnakan pamormu, sayang." Balas Sakura.

"Heh, kau terlalu berlebihan! Aku bosan dengan wanita-wanita yang terus menggodaku. Tidak mungkin kan aku membawa si dobe itu ke sini. Sepertinya aku menemukan wanita yang cocok yang telah membuatku ketagihan selama ini."

Sakura terdecih sambil tersenyum meremehkan. Dia tidak menyangka Sasuke akan mengeluarkan kata seperti itu. dasar devil man!

Setelah berselang beberapa lama, pesta meriah itu tampak terasa membosankan. Dari luar bangunan, dari kejauhan, tampak seseorang tak jelas rupa itu menyodorkan senapan yang telah dipasang alat perendam suara. Jika dilihat kembali ke dalam bangunan, tampak seorang pria paruh baya yang tengah tersenyum meminum winenya. Di dahinya terdapat titik merah.

'SLARP'

"Arrrghhhh!"

Tersadar dari keadaan pria itu, orang-orang tampak histeris melihat kejadian yang tidak terduga. Pria itu tewas dengan kepala berlubang. Gelas yang tadi di pegangnya, telah pecah.

"KYAAAA!"

'PRRAAAANG'

Tiba-tiba ada benda terlempar lewat pecahan kaca. Benda itu mengeluarkan asap yang membuat pandangan di sana terhalangi.

Semua orang mulai panic. Perlahan ruangan tertutup dengan sendirinya. Pesta mewah yang meriah, telah berubah menjadi bencana. Semua orang di sana terjebak.

"Tenanglah! Asap ini tidak berbahaya." Teriak seseorang.

Melihat Sakura yang mulai bergetar ketakutan, Sasuke memeluknya lalu membawanya untuk bersembunyi di bawah meja. Ini dilakukan untuk mengantisipasti jika terjadi ledakan dari atas.

'DOR DOR DOR'

Dua orang pria dan seorang wanita tewas seketika terkena tembakan mendadak. Semua orang semakin panic dengan hal itu. yang terbunuh adalah para konglomerat sukses di Konoha. Mereka yang masih hidup takut jika mareka target selanjutnya.

'SLARP'

Seorang wanita lagi-lagi terbunuh dengan luka tembak di dadanya.

Perlahan pintu dan jendela kembali terbuka. Semua orang berhamburan keluar dari sana. Menggunkan kesempatan yang ada, Sasuke menarik Sakura untuk berlari. Tapi, karena semua orang terlalu panic dan berdesakan, mereka akhirnya terpisah.

Setelah berada di luar, Sasuke mobil polisi dan patrol berdatangan dan langsung menyebar ke seluruh penjuru bangunan gedung itu. seketika orang-orang langsung pergi dari sekitar pesta itu. keadaan di sana menjadi tampak sedikit lebih sepi.

Sakura mencari-cari Sasuke ke sana kemari. Tidak bisa dibohongi kalau sekarang dia panic.

"Sasuke!"

Ekspresi bahagia terpacar di wajahnya setelah dikira ada seseorang yang menarik tangannya. Namun matanya membulat melihat ternyata orang itu bukanlah orang yang dicarinya.

"Hmmppp!"

Untuk mencegah Sakura berteriak, secara cepat orang itu membekap mulutnya lalu menyeretnya ke suatu tempat.

Di waktu yang sama, Sasuke kalang kabut mencari keberadaan Sakura. Padahal keadaan di sini sudah semakin sepi. Tapi Sakura sangat sulit ditemukan.

Kemana sih dia? Apakah dia berniat untuk kabur?

Itu tidak mungkin! Sakura sedang ketakutan. Lagi pula dia mau kabur kemana setelah Sasuke memberitahukan tentang kakaknya.

Kuso! Sakura tidak ada di mana pun. Kekhawatirannya semakin bertambah saja. sakura, di mana kau?

'Krek krek'

Tiba-tiba kakinya seperti menginjak sesuatu. Setelah mengangkat kakinya, kekhawatirannya semakin menjadi saat melihat benda yang dia injak itu adalah kalung berliontin batu permata merah. Sasuke menggenggam kalung itu dengan sangat erat. Emosinya sudah meluap namun dia tahan.

"Jernihkan pikiranmu, Sasuke! Jangan pakai emosi jika ingin menyelesaikan masalah!" Ujar Sasuke bergumam untuk menenangkan dirinya.

Kata itu adalah kata yang sering diucapkan kakaknya waktu dulu. Sewaktu kecil, Sasuke adalah anak yang temperamental. Ayahnya sering sekali melatih mentalnya, dan kakaknya lah yang menenangkannya. Tidak lupa dengan ibunya yang selalu memberinya pelukan. Pandangan Sakura jika sedang tersenyum, mirip sekali dengan ibunya.

"Naruto, cepatlah ke sini sekarang! Nanti aku jelaskan." Ucapnya lewat ponsel.

Perasaannya tidak mungkin salah. Dia sudah dilatih oleh ayahnya tentang insting ini. Ini sungguh benar-benar gawat! Sakura diculik!

To be continue

Author Note :

Akhirnya chapter ini beres juga. Masih pendek kah? Bagaimana dengan chapter ini, reader? Maaf karena lama updatenya. Laptop Amaya ngedrop, ditambah chargernya rusak. Sungguh sial! Amaya harus mengumpulkan dulu uang buat beli chargernya. Dan Alhamdulillah, sekarang udah bisa update lagi walaupun dengan charger local.

Dari awal bikin fanfic ini, Amaya udah nemu klimaksnya. Tapi masih bingung gimana nyambunginnya. Tapi sekarang, Amaya udah punya imajinasi buat bikin cerita sampe ke klimaksnya.

Udah lihat Naruto Gaiden chapter 10? Itu chapter terakhir atau apa? Atau masih ada kelanjutannya kah?

Minta reviewnya ya teman! ;)