Disclaimer = Masashi Kishimoto
you're always there
Ketika aku berjalan pulang, aku melihat Sai berdiri di depan gerbang KHS tersenyum ke arahku. Aku menatapnya penuh Tanya.
"kau belum pulang ?" tanyaku berbasa – basi
"menunggumu" katanya sambil masih dengan tersenyum aneh
"kita pulang bersama ?"tanyanya, karena tidak ada alasan untuk menolak . aku pun menyetujuinya.
"jadi, kau tidak bersama Sasuke ?"tanyanya memecah keheningan, aku hanya menggeleng
"jadi, kalian sudah berpacaran ?"tanyanya lagi , sukses membuatku menjadi gugup
"itu-"aku menggantung kalimatku, aku tidak tahu harus menjawab apa. kami memang dekat, tetapi Sasuke belum pernah sekalipun bilang cinta secara lisan padaku.
"aku tidak tahu" kataku sambil tersenyum miris
"dia menyukaimu" sahut Sai , aku hanya tersenyum
"dan aku juga menyukaimu" lanjutnya membuatku tertegun
...
Kini ku berbaring di kasur empukku, perbincangan dengan Sai siang tadi benar – benar mengusikku. Aku dan Sasuke kini memang dekat, benar – benar dekat. Tetapi Sasuke tidak pernah sekalipun bilang menyukai atau bahkan mencintaiku. Entah kenapa terselip sedikit keraguan di hatiku.
"seperti apa posisiku di hatinya hemm?" entah kenapa pertanyaan itu hadir lagi di otakku
"seriuskah, main – mainkah ? sahabat ? pacar ? teman ?"
"sebenarnya seperti apa hubungan kita Sasuke ?" teriakku dalam hati sambil menjambak rambutku frustasi.
Aku berjalan lemah, entah kenapa hari ini jarak KHS dan rumah terasa lebih jauh dari kemarin.
Sejak mengenal Sasuke aku merasa hidupku berubah. Aku yang selalu mendapat catatan baik menjadi agak bad dengan adanya incident – incident kecil. Aku yang selalu tersenyum ramah menjadi berubah – ubah, kadang bersemangat kadang lesu. Aku yang selalu merasa tenang, sekarang terasa penuh kejutan.
"cup.." dan lagi lagi Sasuke membuatku terlonjak kaget dengan mengecup pipi kananku.
"Sasuke ! apa – apaan kau !"kataku geram, Sasuke tersenyum sambil berjalan mundur di depanku.
"hai, jangan seperti itu. Berjalanlah di sampingku, kau bisa menabrak orang tahu" omelku
"Hn" katanya sambil membalik badannya, menyamakan langkahnya denganku.
Kami berjalan dalam diam, dan pikiran itu pun mengusikku lagi. Tentang perasaan Sasuke padaku.
Tiba – tiba aku merasa Sasuke menarik tubuhku mendekat padanya,
"perhatikan langkahmu, kau ingin menabrak tiang heh" katanya membuat aku menyadari apa yang hampir saja menimpaku. Aku tersenyum tipis.
"ada apa ?" tanyanya lagi
"apa ?" tanyaku tidak mengerti, dia mengacak lembut puncak kepalaku
"apa yang kau pikirkan hime ?" katanya membuatku tersipu malu
"itu, bukan apa – apa" kataku gugup mengalihkan pandanganku dari wajahnya yang menggodaku
"jangan berfikir untuk lari dariku keh" godanya menyeringai kepadaku
"…" sejenak aku berfikir untuk bertanya langsung, tetapi ketakutan itu menyelimuti hatiku.
"Sasuke " panggilku. Sasuke pun menatapku tenang, bersiap mendengarkan apa yang ingin aku katakan.
"apa hubungan kita ?" tanyaku ragu, sejujurnya aku takut jawaban Sasuke akan melukaiku. Tapi aku juga butuh kepastian, dan aku harus berani menerimanya.
Dia menghentikan langkahku, meraih kedua tanganku. membuatku menatap matanya langsung.
"apa yang aku rasakan sama seperti apa yang kau rasakan" katanya lembut
"kau menyukaiku atau kau mencintaiku" tanyaku menuntut, dan dia hanya tersenyum. Aku melepaskan ke dua tanyannya kesal.
"lalu, kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku ? kenapa kau tidak menjadikanku pacarmu, dan kenapa kau berkata jahat padaku saat itu ?" cercaku meminta penjelasan
"karena aku belum pantas untukmu" katanya sambil berlari pergi dariku
"Sasukee !" teriakku geram
'karena aku belum pantas untukmu'
"apa maksudnya itu ? aku tidak pantas dengannya ? kami tidak cocok ? entah kenapa aku merasa sedikit kecewa mendengarnya"
...
Hari ini adalah hari minggu. Aku, Sakura, dan Ino baru saja pergi nonton bersama. Awalnya aku menolak ajakkan mereka, tetapi mereka terus memaksa hingga akhirnya aku tidak bisa berkata tidak.
Tapi aku tidak mengira kalau pergi bersama mereka akan membuatku pulang ke malaman seperti ini, dan parahnya. Handphoneku mati saat setelah berpisah dengan ke dua sahabatku itu.
Entah kenapa malam ini terasa sepi, sulit sekali mencari taksi. berjalan sendirian membuat rasa takut pun menyelimuti setiap langkahku. Aku berjalan tergesa - gesa menyusuri jalan sampai aku tidak sengaja melihat motor dengan kecepatan tinggi melewatiku. Mataku menangkap sesosok yang tak asing dariku.
"Sasuke… " teriakku sekuat tenaga. Dan di mengerem sepeda motornya yang melaju kencang hingga menimbulkan bekas gesekan kasar antara ban motor dan aspal. Dia berhenti beberapa meter dariku.
Aku tersenyum senang dan berlari kearahnya yang melepas helm dengan tergesa – gesa, melihatnya membuat hatiku pun merasa tenang. aman.
"Hinata Awas… !" teriaknya
"…"
"…."
Hangat.
Aku merasa tubuhku kini terasa hangat, aku mencoba memahami apa yang telah terjadi hingga aku mengenali aroma ini. bau yang khas, bau yang selalu mangingatkanku padanya.
"Sasuke..?" desisku melepas pelukannya, dia memelukku sangat erat. Aku mendongak menatap wajahnya untuk lebih memahami apa yang telah terjadi.
"kau tidak apa hinata ?"katanya lembut sambil tersenyum hangat,
"Y-ya "balasku sambil tersenyum, hingga tiba – tiba terlihat darah mengalir dari rambut Sasuke membuatku terkejut. Aku melepas pelukan Sasuke dan duduk di sampingnya yang masih terbaring.
Terlihat Sasuke terbering lemah, kepala bagian belakangnya mengeluarkan banyak darah karena membentur aspal, melindungiku dari benturan menggunakan tubuhnya. Air mataku pun tumpah,
"Sasuke… bangunlah, bertahanlah !,"kataku terisak
"tolong… tolong aku !" teriakku seperti orang gila
"tolong aku ! aku mohon !"aku terus berteriak sambil menggenggam erat tangan Sasuke. Motor yang tidak aku ketahui tadi ingin menabrakku menenangkanku dan menelfon ambulance.
"aku mohon Sasuke.." isakku, ketakutan menguasaiku
"H-hinata- "panggil Sasuke lemah, aku menggeleng cemas
"A-aku M-Mmencintaimu- Hime" kata Sasuke tersendat – sendat di ambulance
"jangan bicara lagi, kau harus bertahan Sasuke !" perintahku agak berteriak
Dia menghapus air mataku dengan jari – jarinya lemah,
"jangan ! jangan pergi lagi ! aku muak kau selalu mengacuhkanku, aku muak kau selalu meninggalkanku. Ku mohon kali ini, jangan pergi …"
"Maaf…"
"love u…"
Dan tangan itu pun terjatuh dari pipiku,
"Sasuke, ku mohon. Jangan acuhkanku lagi, untuk kali ini jangan pergi… " isakku menggenggam erat tangannya.
"jangan pergi …. Sasuke," isakku mengguncang pelang tubuh Sasuke
"ku mohon Sasuke…."
Sasuke POV
"oi …." Kata Sasuke pada gerombolan pembalap Liar dan musuh – musuhnya yang sedang berkumpul.
"apa maumu bocah tengik ?" sahut seorang pembalap
"kita akhiri.." kata Sasuke tegas, semua yang tidak suka pada Sasuke pun merapat
"Apa maksudmu ? ingin kami mengeroyokmu keh ?" sahut seseorang
"kita bermain seperti biasa" jawab Sasuke tenang
"apa tantanganmu ?" timpal pembalap liar itu
"kita balapan, jika aku menang. Kita anggap semua selesai, jangan ganggu aku dan orang – orang di sekitarku lagi" tantang Sasuke,
"jika kau kalah bocah tengik ?" tantang musuh Sasuke
"kalian bertiga, bukan. Maksudku siapa saja yang dendam padaku. Boleh memukulku dan aku tidak akan membalas" Sahut Sasuke mantab,
"baiklah, kami terima !" sahut pemimpin para geng itu
Balapan pun di mulai, awalnya Sasuke memimpin. hingga sesosok Hinata yang ingin menyabrang terlihat di depan mata. Merasa tempat itu tidak aman untuk Hinata apa lagi di belakangnya masih banyak motor lain yang melaju kencang, sementara posisi Hinata tepat di jalan itu. Sasuke pun menghentikan motornya.
Firasatnya pun tidak salah, tepat di belakang Hinata ada sebuah motor yang tidak bisa menghentikan lajunya dan Sasuke pun meraih Hinata dalam dekapannya. Melindungi tubuh Hinata dari benturan dengan tubuhnya.
"kau tidak apa Hinata ?"Tanyaku lembut sambil tersenyum hangat,
"Y-ya "balasnya sambil tersenyum, dan itu cukup untuk membuatku tenang. Sampai aku merasa darah mengalir hangat dari pelipisku.
"Hinata baik, itu saja sudah cukup untukku" pikirku merasa lega walau terselip rasa takut di hatiku, takut tidak bisa melihatnya. Melihat Hinataku lagi.
dan melihat air matanya itu membuatku terluka. Aku hanya ingin sekali saja pantas untuknya. Melindunginya, Hinataku. Bukan membuatnya terus menangis seperti itu.
"H-hinata- "panggilku , dia menggeleng cemas
"A-aku M-Mmencintaimu- Hime" kataku sekuat tenaga , tubuhku bergetar hebat.
"jangan bicara lagi, kau harus bertahan Sasuke !" kata Hinata setengah berteriak, ku coba untuk meraihnya. Menghapus air matanya.
"jangan ! jangan pergi lagi ! aku muak kau selalu mengacuhkanku, aku muak kau selalu meninggalkanku. Ku mohon kali ini, jangan pergi …"
"Maaf…" kataku menahan air mata, masih banyak yang ingin ku katakan. Aku masih ingin menggodanya, menjahilinya dan melihat wajah imutnya ketika kesal. Aku masih ingin bersamanya.
"love u…"kataku serak dan wajahnya pun memudar dari pandanganku.
Normal POV
Sudah 3 bulan sejak Sasuke pergi (meninggal), dan aku sudah terjatuh cukup dalam pada dunianya.
Aku tidak bisa lagi kembali pada kehidupanku seperti dulu, ketika berangkat sekolah aku selalu melihat kebelakang berharap hari itu terjadi lagi. di mana awal pertama kita bertemu, Sasuke.
END
gomen jika ending mengecewakan, hehe cium pipi boleh kan ? sebenernya engga rela kalo hinata sedih tapi lagi pengen buat yang sad ending. semoga tidak terlalu aneh...
