Tiba-tiba kakinya seperti menginjak sesuatu. Sasuke mengangkat kakinya. Kekhawatirannya semakin menjadi saat melihat benda yang dia injak itu ternyata adalah kalung berliontin batu permata yang dia berikan kepada Sakura. Dia genggam kalung itu dan mengingat kembali wanita yang memakai kalung ini.

Sakura dalam bahaya!

"Naruto, cepatlah ke sini sekarang! akan aku jelaskan apa yang terjadi."Ucapnya lewat ponsel.

Perasaannya tidak mungkin salah! Dia sudah dilatih oleh ayahnya tentang insting ini. Ini sungguh benar-benar gawat! Sakura diculik!

.

.

.

Just Let Me Go

Chapter 6

By Amaya Katsumi

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst, Tragedy, Family, dll (maybe)

Warning : Typo, kata gak nyambung dan gak jelas.

.

.

.

Sakura meronta-ronta berharap ikatan yang melilit tangan dan kakinya dapat terlepas. Mulutnya ditutup oleh lakban besar sehingga sulit untuk mengeluarkan suara. Rambut di kepalanya telah lepas membuat surai pinknya tergerai bebas namun sedikit acak-acakan karena tidak sempat dirapihkan.

"Percuma saja kau lakukan itu, kulitmu malah terluka karena tergesek tali." Ucap seorang lelaki yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.

Sakura menatap pria itu dengan pandangan 'siapa kau?' atau 'apa maumu?'.

Sedangkang pria yang seluruh tubuhnya terbalut kain hitam, mulai membuka topeng yang menutupi wajahnya.

"Perkenalkan, namaku Hidan! Suatu keberuntungan aku bisa menculik seorang gadis cantik sepertimu, Haruno-sama." Ucapnya. "Kau pernah mendengar kelompok pembunuh bayaran yang bernama Akatsuki, kan?" tanyanya. "Aku adalah salah satu dari anggota itu. tapi aku dan rekanku hanya diperintahkan untuk membunuhmu dan Uchiha itu."

Mata Sakura terbelalak. Ternyata semua ini ada hubungannya dengan Sasuke. Tapi kenapa orang itu mengincar dirinya? Bukan hanya nyawanya saja yang dalam bahaya, tapi Sasuke juga yang merupakan target utamanya.

Pria berambut persis seperti pantat ayam itu membuat Naruto mengangkat sebelah alisnya. Naruto tahu kalau Sakura adalah seseorang yang berarti untuk Sasuke, dia juga tahu kalau Sasuke sebenarnya memang menyukai perempuan berambut mencolok itu. penyebab pria itu menyiksa Sakura adalah karena pria itu selalu terbayang-bayang kematian keluarganya setiap mengingat Sakura adalah adik dari mantan kekasihnya yang jahat. Namun, apa dia sudah mengakui kalau dia memang menyukai perempuan berambut pink tersebut? Ah, lebih tepatnya Sasuke memang sangat mencintai Sakura. Karena, jika dia membencinya, kenapa harus repot-repot mencari Sakura?

Lihat saja! Naruto sedari tadi mengikuti Sasuke untuk mengendap-ngendap di sebuah rumah kosong. Sasuke bilang dia sudah memasang alat pelacak di cincin dia sedang sibuk mengikuti arah yang ditunjukan oleh GPS. Jadi dia hanya mengikuti perintahnya saja.

"Naruto, kau tunggu di sini untuk berjaga-jaga. Aku akan masuk ke dalam sendiri." Ujar Sasuke.

Naruto hanya bisa mengangguk.

Lalu Sasuke masuk ke dalam rumah sendirian. Dengan ahli, lelaki itu mengendap-ngendap di dalam ruangan menghindari orang-orang yang lewat. Setelah dirasa menemukan ruang yang dicari, Sasuke mendobrak pintu itu hingga hancur.

Terlihat Sakura yang terus menggeliat mencoba mencari celah untuk lepas. Ada lebam dan sedikit luka berdarah di kakinya.

"Sakura!"

Saat Sasuke akan mendekati Sakura, tiba-tiba ada tangan yang menyelinap di lehernya dan menekankan sebuah pisau.

"Mundur, atau kau juga akan mati."

Pria yang berada di dekat Sakura itu mengeluarkan sebuah pisau dan mulai menempelkannya ke wajah Sakura. "Dia memang akan mati, Kakuzu." Ucap seseorang yang muncul dari belakang Sakura. "Uchiha, biarlah kau sendiri yang menyaksikan kematian kekasihmu sebelum kau. Sebenarnya aku ingin langsung menembak jantung dan kepalanya. Tapi, itu tidak akan menyenangkan karena tidak ada suara rintihan kesakitan dan darah yang menggenangi tubuh. Akan lebih menyenangkan jika kau mati perlahan saat kukuliti kulit cantik wajahmu, nona."

Cukup! Kesabaran Sasuke mulai habis! Tanpa sepengetahuan pria yang ada di belakangnya, Sasuke mulai mengeluarkan pistol dari dalam sakunya.

"Ucapkan salam pada kematianmu."

Saat Hidan sedikit lagi menggoreskan pisaunya pada wajah Sakura, dengan cepat Sasuke memukul perut Kakuzu dengan sikutnya lalu menembak kakinya sehingga dia terlepas dari cengkramannya.

'DOR DOR'

Peluru yang ditembakan Sasuke dengan cepat mengenai kedua tangan Hidan sehingga pisau terlepas.

"Kalian meremehkanku!" ujar Sasuke menyeringai.

"KAU!" geram Hidan.

Sasuke berjalan mendekati Sakura dan membuka terlebih dahulu lakban yang menutupi mulutnya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil membuka ikatan.

Sakura tidak masih bergetar ketakutan. Wajahnya sudah pucat seperti mayat. Sepertinya wanita itu trauma dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Polisi mulai berdatangan dan langsung membawa Hidan dan pun ikut datang menghampiri Sasuke dan Sakura.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Naruto.

Sasuke mengangguk. Dia membuka jaketnya dan memakaikannya pada tubuh Sakura dan mulai menggendong Sakura ala bridal style.

Naruto yang memperhatikan dua orang di depannya jelas sekali kalau Sasuke sangat mengkhawatirkan wanita yang telah di sakitinya. Posisi mereka sudah seperti sepasang pengantin yang baru menikah. Tapi sayangnya mereka adalah korban yang selamat dari percobaan pembunuhan.

Naruto mencuri-curi pandang kearah kursi penumpang lewat kaca spion di depannya. Pria di belakangnya tak henti-henti memandang wanita yang terlelap dalam pangkuannya. Tangannya terus mengelus-ngelus surai sewarna bunga musim semi kebanggan Jepang sang wanita.

Saat sudah sampai di rumah, semua orang yang ada di sana mulai bertanya-tanya apa yang terjadi pada tuannya. Keadaannya sungguh berantakan ditambah dengan seorang wanita dalam pelukannya tuannya yang sudah seperti sepasang pengantin.

"Ya ampun! Apa yang terjadi?" tanya Hinata menghampiri mereka.

"Ada percobaan pembunuhan para konglomerat. Tapi aku tidak mengerti kenapa Sakura juga ikut menjadi korban." Jelas Sasuke.

"Nanti akan kuceritakan. kita ke kamar sekarang!" ujar Naruto sambil menggandeng Hinata.

Sasuke membaringkan Sakura di melepaskan sepatu serta mengganti baju juga Sasuke yang mengganti itu, pria itu berjalan menuju , tiba-tiba ada yang menahan menoleh kepada wanita yang melakukannya itu.

"Sasuke, kumohon jangan pergi! Temani aku!" pinta Sakura.

Mendengar permohonan Sakura, akhirnya Sasuke luluh dan mengurungkan niatnya untuk tidur di luar dan meninggalkan Sakura di kamar miliknya sendiri. Pria itu mulai membaringkan tubuhnya di samping Sakura. Keduanya mulai menutup matanya sambil berpelukan. Biarlah kali ini mereka seperti ini dengan dewi malam yang membawanya kea lam mimpi.

"Percobaan pembunuhan para konglomerat Konoha secara massal, baru saja terjadi tadi malam. Baru saja polisi selesai memeriksa gedung tempat"

Siaran breaking news tiba-tiba dimatikan oleh Naruto.

"Aku sudah tahu akan terjadi hal seperti ini dan aku tidak mau mendengar kelanjutan beritanya."Lirih Naruto sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Ini kopinya, Naruto-kun!" Hinata datang menyimpan secangkir kopi di meja.

Naruto meminum kopinya setelah mengucapkan terima kasih kepada istrinya. Setelah itu, dia berjalan kearah jendela.

Dari atas, dia bisa melihat kerumunan orang-orang di depan rumah. untung saja rumah Sasuke memiliki pagar yang kokoh untuk menghalangi para wartawan itu menerobos ke dalam rumah dan menanyakan segala berita tentang kejadian tadi malam.

Dilihatnya lagi ke dalam kamar Sakura yang tidak pintu dengan perlahan agar tidak mengganggu orang di celah pintu, Naruto bisa melihat Sasuke yang masih tertidur pulas sambil memeluk Sakura dan juga Sakura yang memegang erat baju Sasuke seolah enggan melepaskan.

Naruto memutuskan untuk membiarkan mereka dalam keadaan seperti ini dan kembali menutup pintu kamar. Dia dan Sasuke tidak bisa keluar sama sekali karena kemungkinan para wartawan akan terus menunggu seseorang keluar dari rumah, dan tidak menutup kemungkinan mereka akan bermalam di depan rumah ini. dia bersyukur, Sasuke sedikit melunak sekarang. sifatnya yang dulu kembali lagi. Semoga saja seterusnya seperti itu.

Suara kicauan burung terdengar memasuki indera pendengaran kedua insan yang masih nyaman dibalik selimut. Kedua mata emerald sedikit terbuka dengan malas. Rasanya dia masih ingin tidur dan berharap waktu berhenti agar rasa damai ini tiada hentinya.

Namun, wanita itu tersentak karena objek pertama yang ditangkapnya adalah wajah pria tampan nan damai di depannya. Dia juga terkejut karena tangan pria itu melingkari tubuhnya. Yang paling membuatnya tidak percaya adalah tangannya juga memeluk balik pria itu.

Lalu wanita itu terbangun sambil melihat dirinya yang masih acak-acakan dan sudah tidak berbentuk karena baju yang semalam masih dia pakai, serta seluruh tubuhnya terlihat kotor.

Pandangannya beralih pada pria di sampingnya. Keadaan pria itu sama seperti dirinya. Sama-sama menampilkan wajah lelah dengan baju semalam yang tidak diganti. Baru Sakura sadari, Sasuke ternyata sangat tampan apalagi saat tertidur seperti ini. ketika seperti ini, wajah datar tanpa ekspresinya seakan lepas. Tanpa saat sadar Sakura mengelus wajah Sasuke dan melupakan rasa bencinya kepada pria ini saat mengingat perlakuannya kemarin.

"Sudah puas memandangku?"

Sakura tersentak saat suara dingin keluar dari mulut pria di depannya. Kedua bola mata hitam terbuka setelah Sakura menarik tangannya. wajahnya memerah, dan dia segera memalingkan wajahnya.

"Aku mau mandi!"

Saat Sakura akan berdiri, tiba-tiba dia terjatuh sambil merasakan sakit pada kakinya. Lalu dia melihat betisnya yang membiru dan ada darah kering di sana.

Sakura baru ingat, semalam kakinya dibuat misalah karena mencoba untuk memberontak saat baru ditangkap dengan dipukul memakai gagang pisau. Meski hanya luka seperti ini, tetap saja dia akan terus merasakan sakit setiap kali ia berjalan.

Melihat itu, Sasuke beranjak bangun dan memeriksa kaki Sakura. Tanpa aba-aba, pria itu mengangkat tubuh Sakura ke kamar mandi.

"Hei, apa yang kau lakukan?"

"Lebih baik kita mandi dan setelah itu aku akan memanggil dokter kemari."

'BRRAAK'

"Bagaimana bisa?" bentak orang itu setelah menggebrak meja.

Beberapa orang di depannya itu hanya menunduk tanpa mau menatap tuannya yang sedang murka.

"Maafkan kami. Saat kami kembali ke tempat Hidan dan Kakuzu, di sana sudah ada Uchiha Sasuke bersama para polisi."

"Tapi kami berhasil membunuh beberapa saingan bisnis anda dengan tuan." Bela mereka pada wanita yang sedang menatap mereka tajam.

"Ya rencana yang itu memang berhasil tapi tidak dengan membunuh Sakura." Ucapnya.

"Sudahlah, sayang!" tiba-tiba sebuah tangan berbalut sarung hitam melingkari bahunya. "Aku punya rencana lain. Dengan kejadian semalam, kita tahu kalau Uchiha itu bisa dipancing."Jelasnya menyeringai.

Wanita itu ikut menyeringai lalu berdiri menghadap pria yang memeluknya.

"Kau benar! aku akan ikuti rencanamu."

Tubuh wanita itu sedikit terangkat karena meraih wajah pria itu untuk itu pun membalas ciuman itu dengan penuh nafsu.

"Ah Shion!Aku sudah tidak tahan." Kembali dia melumat bibir Shion lalu beralih menciumi telinga dan lehernya.

Sedangkan orang-orang yang melihat itu segera pergi karena tidak ingin mengganggu kegiatan tuannya.

"Aww! Arrghhh! Ouch!"

Rintihan demi rintihan terdengar menggema di kamar pribadi milik Sasuke. Terlihat wanita dengan warna rambutnya yang mencolok tengah diurut oleh dokter Orthopedi yang tadi Sasuke panggil. Padahal sang dokter baru saja menyentuh kaki Sakura sedikit saja, tapi Sakura terus membuat suara yang membuat orang-orang mengangkat alis dan menghela nafas karena melihat tingkah Sakura yang kekanakan.

"Nona, sakitnya hanya sebentar saja. setelahnya mungkin hanya bengkak saja. lama kelamaan juga akan sembuh. Tolong kerjasamanya jika anda ingin kembali seperti sedia kala."Ucap dokter itu kesal.

"ARRRRGHHHH!"

Dalam sekali urut, Sakura merasakan sakit yang teramat sangat. perlahan sakit itu menghilang. dokter itu mengoleskan obat pada kakinya yang bengkak dan menutupi luka yang berdarah.

Di waktu yang sama, Sasuke tengah memperhatikannya tengah mengerang kesakitan. Di sampingnya ada Naruto yang ikut melihat.

"Teme, aku pikir kau tidak akan peduli padanya."

"Hn."

Gumaman khas seorang Sasuke membuat Naruto menghela nafasnya. Jika saja dirinya baru mengenal Sasuke, sudah dipastikan orang yang secerewet dirinya tidak akan tahan berbicara dengan Sasuke yang terus menjawab singkat.

"Sasuke, aku rasa kau harus membebaskan Sakura."

Ucapan Naruto membuat Sasuke ? Membiarkan Sakura dan membuatnya terbunuh lalu perusahaannya diambil oleh Shion? It's imposible! Selama ini dia memang sudah membuat rencana agar menyeret Sakura ke rumahnya dan bicara tentang semua kebenarannya selama ini.

"Maksudku bukan bebas yang seperti yang kupikirkan. di luar masih banyak wartawan yang menunggu kalian. Ah, bukan hanya kalian. Aku dan Hinata pun terjebak di sini karena pasti kami jadi sasaran juga."

"Lalu?"

"Suatu saat, biarkanlah Sakura keluar dan menemui keluarganya. kau juga tetap awasi dia dan menjaganya dari kejauhan."

Benar juga! Dari awal sebenarnya Sasuke ingin memulai pendekatan dengan cara baik-baik. Tapi melihat Sakura begitu dipenuhi hasutan dari Shion, Sasuke harus menggunakan cara kasar. Dan entah setan apa yang merasukinya yang ingin sekali membuat Sakura mengerti dirinya hingga Sasuke berbuat kasar padanya. setelah melakukan itu, Sasuke sebenarnya menyesal. Namun ego di dalam dirinya masih pada Sakura terus dipendamnya.

"Ini resep obatnya, dioles pada bagian yang bengkak 3 kali permisi."

Dokter itu pergi setelah memberikan secarik kertas pada Sasuke. Dilihatnya lagi Sakura yang sedang mencoba berdiri dengan menggunakan tongkatnya.

"Kau mau kemana?"

Yang dipanggil hanya melirik sebentar lalu berjalan dengan susah payah.

"Aku lapar."Jawabnya datar.

Dengan sigap Sasuke membawa kembali Sakura ke tempat tidurnya dan menyimpan tongkat yang sedang dipakai Sakura untuk membantunya berjalan.

"Tunggulah di akan mengambilkanmu makanan."

Sakura hanya mengendus kesal. Dengan keadaannya yang seperti ini, aktifitas yang biasa dilakukannya menjadi terhambat ditambah lagi sikap Sasuke kepadanya yang terkesan overprotective kepadanya.

Protective ya?

Sakura tersenyum kecut saat pikiran itu telintas di benaknya. Pria itu begitu sulit ditebak. pertama, pria itu sangat kasar sekarang Sasuke begitu Sasuke peduli padanya? kenapa sih dia sangat sulit ditebak? Sebenarnya apa yang dipikirkan pria brengsek itu? Sakura tidak mengerti pribadi Sasuke yang berubah-ubah.

Tidak lama kemudian, Sasuke kembali membawa nampan berisikan sepiring nasi dengan lauk pauk serta segelas air mineral. Pria itu kemudian membawa meja kecil lalu meletakan nampan itu di sana.

Sakura hanya menatap punggung lebar yang akan melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan saat Sasuke begitu baik padanya, pria itu tetap dingin padanya.

"Sasuke." Panggil Sakura yang membuat langkah orang yang dipanggilnya berhenti sejenak di lawang pintu. "Kenapa…?"

Sasuke menengok ke belakang.

"Kenapa kau lakukan ini?"

Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap melihat perempuan itu meremas bajunya.

"Apa maksudmu?"

"Kenapa saat pertama, kau begitu kasar kepadaku? Tapi sekarang, kau malah bersikap acuh tak acuh padaku." Air matanya sudah menetes ke baju yang dia remas. "Sebenarnya apa tujuanmu menyekapku? Jika kau membenciku, kenapa tidak biarkan aku mati diculik? Kenapa kau malah menolongku?" lirihnya yang berubah menjadi teriakan.

Perlahan Sakura berusaha bangkit mengabaikan kakinya yang tengah membengkak. Kedua tangannya meraih ujung kerah baju sasuke. Kedua mata emerald yang berkaca-kaca menatap tajam mata onyx pria di depannya. Perlahan dari sudut mata itu mengeluarkan air karena tidak puas dengan Sasuke hanya diam. Pria itu diam seperti patung.

"JAWAB AKU UCHIHA SASUKE!" bentaknya.

Tak kunjung bicara, tangis Sakura semakin pecah. Dia membenturkan kepalanya ke dada bidang lelaki itu, mengabaikan tangannya masih meremas ujung kerah Sasuke yang perlahan terlepas.

Saking sibuknya menangis, Sakura tidak menyadari kedua tangan Sasuke melingkari tubuhnya. Sebelah tangannya mengelus surai sewarna dengan Bunga kebanggaan Jepang tersebut. Lalu lelaki itu membawa Sakura untuk kembali ke tempat tidur.

"Suatu hari kau akan tahu." Gumam Sasuke.

Benturan suara sepatu hak terdengar menggema di berambut pirang itu tengah berjalan menuju meeting room yang diikuti oleh sekretarisnya. Sang direktur sementara itu memandang lurus ke depan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya. Begitu sampai di tempat tujuannya, wanita itu duduk di tempatnya.

Rapat dengan para dewan direksi tengah berlangsung di sana. Shion, sang direktur mempresentasikan perkembangan saham dengan begitu baik yang dibantu oleh sekretarisnya. Begitu selesai, dia melanjutkan pembicaraan yang lain.

"Shion-san, boleh saya bertanya di mana Sakura-san?" tanya seorang pria.

"Adikku sedang bersama kekasihnya. sudah jelas?"

"Tapi gossip itu mengatakan kalau Uchiha dan Haruno akan disatukan. Benarkah begitu?"

Shion menghela nafasnya.

"Sakura belum kembali, dan saya tidak tahu akan hal itu. dan sekarang sayalah direktur utama di sini."Jawab Shion tegas.

"Tapi kan Anda hanya direktur sementara dan belum mendapat tanda tangan Sakura-san dan juga persetujuan dari semua pihak untuk mengangkat jabatan Anda."

Tangan Shion menggeram marah setelah mendengar perkataan para dewan direksi yang benar adanya.

"Kalau begitu, kita buat kesepakatan. jika Sakura belum juga kembali sampai saat acara peresmian saham yang baru, berarti dia telah melalaikan tugasnya dan memilih bersama dengan kekasihnya. itu adalah bukti jika Sakura harus dipecat atau turun dari jabatannya sebagai presiden direktur."

Para dewan direksi tampak berpikir sejenak lalu saling berbicang-bincang tentang masalah ini. Shion tersenyum puas akan hal itu. sebentar lagi dia akan menguasai seluruh harta serta jabatan kepemimpinannya akan beralih padanya.

Ini sudah seminggu semenjak wartawan terus bergerumul mendatangi rumah dan kantor Sasuke. Kini mereka menyerah karena kerabat dari mana pun tidak ada yang mau membuka mulut termasuk Sasuke sendiri.

Malam membuat Konoha semakin gelap. Purnama telah menampakan seluruh tubuhnya dan menyinari malam itu. seorang wanita tengah bersandar pada balkon kamarnya, menatap sang ratu malam. Inilah kebiasaannya sekarang saat di rumah. bersandar di dinding balkon sambil meminum teh dan menatap sinar rembulan menikmati dinginnya angin malam.

"Saat kakimu sembuh, kau boleh keluar dari rumah ini. Jika ingin keluar, temuilah Naruto. Dia akan menjadi supir pribadimu. Tapi, tempat kau pulang tetaplah di sini."

Itulah perkataan lelaki Uchiha itu. Sakura merasa lega karena telah dibebaskan. Namun tetap saja tempat dia tinggal adalah di rumah ini.

Tidak mau ambil pusing, Sakura berjalan keluar kamarnya. Di tengah ruang, dia terkejut karena ada pemandangan yang tersaji di sana. Naruto dan Hinata sedang terus berciuman tanpa mempedulikan sekitarnya. Bolt tidak ada di sana, untungnya.

"Ekhem!"

Sakura berdehem cukup keras sampai membuat kedua sejoli itu menegang.

"Lanjutkanlah di kamar dan pesanku adalah jangan sampai kalian mengabaikan anak kalian atau kuambil dia." Ucap Sakura.

"Gomen, Sakura-chan!" ucap Naruto dengan wajah tanpa dosa.

Sedangkan Hinata terus menunduk untuk menyembunyikan wajah merah karena malu.

Lalu Sakura lebih memilih untuk kembali ke kamarnya karena dia ingin mengumpulkan tenaganya untuk esok hari sedangkan Hinata pun jadi ikut berjalan ke kamarnya meninggalkan Naruto yang mulai sibuk dengan dokumen dan laptopnya.

'Ceklek'

Suara pintu terbuka. Naruto melihat ke belakang saat Sasuke telah mencapai ruang tempat dia berada.

Wajah Sasuke terlihat kusut. Mungkin dia sedang sedih, pikir Naruto.

"Teme, kau dari mana?" tanya Naruto.

"Habis check up." Jawabnya singkat.

Kini Naruto tahu apa yang membuat Sasuke sedih. Mungkin sesuatu yang buruk sedang terjadi padanya.

Sedangkan Sasuke sendiri masih merenungkan perkataan dokter tadi.

"Sebenarnya saya cukup berat untuk mengatakan kebenaran ini. Penyakit yang Anda derita memang tidak menular, tapi sangat berbahaya dan cukup sulit untuk disembuhkan. Sel-sel parasitnya semakin mengganas. harapan hidup Anda sangat tidak memungkinkan untuk sembuh. jika mungkin saja waktu Anda memang tinggal sebentar lagi, saya sarankan untuk melakukan sesuatu."

Dan yang paling mencegangkan adalah perkataan dokter selanjutnya.

"Saya sarankan Anda untuk menikah."

Sama sekali tidak terpikirkan olehnya untuk menikah. Untuk presiden direktur sepertinya tentu sangat membutuhkan penerus. Saat keluarganya masih ada, Sasuke adalah lelaki yang sombong yang senang dengan dunia malam. sebelum bertemu dengan Shion dia adalah lelaki yang suka mempermainkan perempuan. Dan setelah tragedy yang dilakukan Shion pada keluarganya, sifat brengseknya semakin menjadi.

Saat membunuh Tuan dan Nyonya Haruno, sebenarnya Sasuke merasa bersalah ketika melihat Sakura yang menangis sambil memeluk adiknya. Dari sana, diam-diam Sasuke selalu memperhatikan gadis itu. namun saat dia bersama dengan kakaknya, amarahnya bergemuruh di dadanya. Ingin sekali dia menghancurkan kebahagiaan mereka karena mengingat fakta kalau Sakura adalah adik dari Shion.

Sudah cukup berlama-lama melamun di kamarnya, Sasuke berjalan keluar menuju kamar Sakura. Bibirnya menyunggingkan senyuman karena cukup senang Sakura tidak mengunci pintunya. Tanpa bersuara, dia berjalan memasuki kamar yang ditempati Sakura.

Sejenak dia pandang wajah damai Sakura yang tengah tertidur. Sejenak kedua tangannya membelai pipi wanita itu. lalu tanpa aba-aba, Sasuke mengangkat tubuh wanita itu dan membawa menuju kamarnya.

Dalam tidurnya Sakura bisa merasakan tubuhnya melayang. Saat dia membuka matanya, dirinya terkejut bukan main karena Sasuke sedang menggendongnya. Wanita itu merasakan tubuhnya mendarat di atas ranjang Sasuke ketika lelaki itu menurunkan tubuhnya pelan.

Tiba-tiba Sasuke menempelkan bibirnya di bibir Sakura dan segera menempatkan tubuhnya di atas tubuh Sakura. Tangan Sakura digunakan untuk mendorong dada Sasuke karena dirasanya akan kebutuhan oksigen. Dengan nafas yang terengah, Sakura dapat melihat mata Sasuke yang dipenuhi dengan nafsu.

"Sasuke, apa yang terjadi padamu?" tanya Sakura.

"Aku ingin bercinta denganmu. Aku harap kau tidak akan menolaknya."Jawabnya yang langsung menyerbu Sakura dengan ciuman.

Tangan Sasuke sudah meraba-raba tubuh Sakura yang membuat wanita itu menggeliat dan mengeluarkan desahan. Akhirnya, untuk pertama kali Sakura bercinta, bukan melakukan seks seperti biasanya.

To be continue

.

.

.

Amaya's note :

Arigatou untuk hiruka uchiha, Algheesa H, dan Himeko Utshumi yang udah mengingatkan Amaya atas kesalahan dari chapter ini. Maaf banget buat chapter ini yang banyak banget kesalahan karena teksnya yang acak-acakan sekali. Percaya atau nggak, ini kesalahan laptop Amaya yang error pas ngeupload document. Kesalahan dari Amaya adalah karena gak dicek ulang :D. Amaya benar-benar malu karena gak diedit lagi. Tapi, sekali lagi arigatou dan gomen!