Dalam tidurnya, Sakura merasakan tubuhnya melayang-layang. Saat membuka matanya, wanita berambut mencolok itu terkejut karena Sasuke dengan menggendongnya. Setelah berada di kamarnya, dia merasakan tubuhnya mendarat di atas ranjang setelah Sasuke menurunkan tubunya.
Tanpa aba-aba, Sasuke langsung menindihkan dan menempelka bibirnya di bibir Sakura. Tangan Sakura digunakan untuk mendorong dada Sasuke karena kebutuhan akan oksigen. Dengan nafas terengah, Sakura dapat melihat mata Sasuke sudah dipenuhi oleh nafsu.
"Sasuke, apa yang terjadi padamu?" tanya Sakura.
"Aku ingin bercinta denganmu. Aku harap kau tidak akan menolaknya." Jawabnya yang langsung menyerbu Sakura dengan ciuman.
Tangan Sasuke sudah meraba-raba tubuh Sakura yang membuat wanita itu menggeliat. Pria itu sangat senang karena Sakura tidak menolaknya. Dan ini pertama kalinya dia bercinta, bukan melakukan seks
.
.
.
Just Let Me Go
Chapter 7
By Amaya Katsumi
Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Tragedy, Family, dll (maybe)
Warning : Typo, kata gak nyambung dan gak jelas.
.
.
.
…
Pagi harinya Sasuke dan Sakura sebenarnya sudah membuka matanya. Namun keduanya masih enggan melepaskan selimut bahkan sampai menutup matanya kembali. Sasuke pun tidak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Sakura.
Tubuh keduanya masih polos dan terbalut selimut. Entah berapa ronde mereka melakukannya semalam. Sakura pun tidak ingat berapa kali dia dibuat lemas karena klimas dan berapa kali Sasuke menyeburkan benihnya di dalam Rahim Sakura. Sampai sekarang pun milik Sasuke masih tertancap di dalam milik Sakura. Semalam adalah percintaan yang pertama kalinya setelah beberapa kali mereka melakukan seks selama ini.
"Sakura."
Yang dipanggil membuka matanya dengan berat.
"Aku lupa memberitahumu kalau hari ini perusahaan milikmu sedang mengadakan peresmian saham."
Mata Sakura langsung terbelalak.
"Kenapa tidak bilang? Arrrghhh aku tidak tahu tentang itu. Shion benar-benar melakukannya." Lirihnya mengacak-ngacak rambutnya.
"Tenanglah! Acara itu dimulai sore nanti."
Sakura menghembuskan nafasnya lega.
"Aku dengar mereka akan membuatmu mundur dari posisimu sebagai drektur utama jika saat ini kau tidak juga datang."
Wanita itu memasang kembali ekspresi terkejut setelah mendengar ucapakan Sasuke.
"Itu semua gara-gara kau yang menculikku."
"Hn."
Sekali hentakan, Sasuke mengangkat tubuhnya dan menempatkan Sakura di bawahnya. Sakura dapat merasakan milik Sasuke kembali menegang yang masih berada di dalamnya.
"Sebelum itu, ayo kita lanjutkan yang semalam!"
Suara kecupan, desahan, dan hentakan kembali menggema di kamar Sasuke. Surga dunia ini menjadi tidak ada habis-habisnya.
…
"HUWAAAAA!"
Seorang pria berambut kuning langsung membuka pintu bergitu terdengar suara tangisan anaknya yang cukup keras. Pria itu lalu menggendong bocah itu ke dalam pelukannya.
"Cup cup cup. Anak papa sudah bangun ya! ayo kita ke ibumu."
"Hiks hiks!" masih terdengar suara isak tangis dari bocah itu meskipun sudah dalam dekapan ayahnya.
Naruto melirik jam dinding yang menunjukkan waktu bahwa jam kerja sudah dimulai. Dia menggeram kesal karena Sasuke belum juga keluar dari kamarnya.
"Sebenarnya di apa sih yang sedang dilakukan si Teme itu. kita sudah terlambat. Nanti sore akan ada undangan dari Haruno Corp." ucapnya kesal.
Sedangkan di sisi lain, orang yang dibicarakan tengah asyik di kamar mandinya. Menghiraukan tubuhnya yang dingin karena tersiram air shower, pria it uterus mencium wanita dalam dekapannya. Walaupun tubuh keduanya sudah bersih dari sabun sehabis berendam, mereka masih betah basah-basahan. Mereka sama sekali tidak merasakan dingin. justru tubuhnya merasa panas. Bahkan saat berendam tadi, mereka melakukan kegiatan itu sekali lagi.
Perlahan Sasuke menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. Matanya menatap wajah ayu Sakura.
"Ikutlah dulu bersamaku. Aku ingin membicarakan sesuatu sebelum kita pergi ke perusahaanmu."
…
Suasana di dalam aula sudah cukup ramai. Namun tidak sepadat semeriah saat pesta yang berakhir dengan tragedy. Hanya orang-orang yang bersangkutan dengan Haruno Corp sajalah yang ada di sana. Meja-meja beserta dengan kursi-kursinya sudah ditempati oleh orang-orang.
Tepat ketika pintu terbuka, wanita cantik berambut pirang dengan anggunnya berjalan di tengah ruangan menuju mimbar. Setelah sampainya di sana, wanita yang diketahui adalah seorang direktur itu berpidato yang dimulai dengan pembukaan.
"Saya selaku direktur Haruno Corp sangat senang hari ini. Lalu, dengan ini saya akan mengumumkan…"
Ucapannya terpotong dengan adanya terbukanya pintu. Seseorang yang baru saja memasuki acara itu membuat orang-orang di sekitarnya menjadi tercegang. Kedatangan wanita yang sungguh mereka tidak diduga.
"Itu kan…"
Ekspresi kesal sudah ditampilakn Shion. Dengan berat, dia kembali memasang topeng di depan banyak orang.
"Inilah presiden direktur, Haruno Sakura!" ucapnya lalu turun dari mimbar.
Seseorang yang dimaksud telah memasuki mimbar. Senyum kemenangan yang terpancar di wajahnya, berlawanan dengan hatinya. Di sisi lain, di sangat kesal dengan suatu hal. Dan satu sisi, dia sangat senang melihat ekspresi kesal Shion yang ditahan.
"Saya Haruno Sakura selaku presiden direktur Haruno Corp mengucapkan banyak terima kasih kepada Kakak saya yang telah menggantikan saya ketika cuti. Selama ini, saya menghilang dikarenakan ada suatu hal pribadi yang membuat saya meninggalkan perusahaan selama sementara. Setelah itu, saya mempersiapkan pernikahan saya dengan tunangan saya. Perkenalkanlah, Uchiha Sasuke. Presiden direktur Uchiha Group."
Semua bertepuk tangan saat seseorang yang dimaksud berada di pojok ruangan berdiri dan membungkuk.
"Uchiha dan Haruno sudah lama sekali bekerja sama dan menanamkan modal kepada masing-masing perusahaan. Bahkan semenjak orang tua saya masih hidup. Dan dengan ini, saya ingin mengumumkan kalau Haruno dan Uchiha akan disatukan seiring dengan bersatunya saya dengan Sasuke dalam ikatan yang suci."
Semua orang bertepuk tangan dengan meriahnya. Terkecuali dengan Shion yang mengepalkan tangannya kesal menahan amarah yang meledak. Padahal tinggal sedikit lagi dia akan menguasai perusahaan milik ayahnya dan menduduki kursi presiden direktur tetap.
…
Begitu acara selesai, semua orang berhamburan keluar. Namun masih ada yang mengobrol dengan Sakura. Mereka bertanya-tanya tentang kedatangannya yang tiba-tiba dan juga kemana saja dia selama ini.
Ketika sudah selesai, dia berjalan dengan Sasuke sambal berbincang-bincang. Dari luar mereka tampak seperti pasangan lainnya yang sedang dimabuk cinta. Padahal ini adalah rencana mereka untuk melindungi perusahaan.
"Sakura, kita perlu bicara!" tiba-tiba Shion datang dan menarik tangan Sakura. "Aku hanya perlu bicara berdua dengan adikku, Uchiha!" ucapnya saat Sasuke menahan tangan Sakura.
Akhirnya mereka memilih tempat di toilet umun yang sepi dari orang-orang. Namun mereka tidak menyadari bahwa Sasuke mengikutinya dan mendengar percakapan mereka dari balik pintu.
"Kenapa kau belum membunuh Uchiha Sasuke? Dan kenapa kau malah bilang bahwa dia adalah tunanganmu? Apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Shion.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau memanfaatkanku? Bukankah kau menginginkan harta Uchiha dan juga mengambil alih kedudukanku?" balas Sakura menyilangkan tangannya.
Shion membelalakan matanya, namun ekspresi terkejutnya dia ubah menjadi seringai. "Oh, jadi Uchiha itu sudah mengungkapkan kebenarannya padamu?" seringaiannya semakin lebar. "Aku ingin mengajukan negosiasi di sini. Karena kau bilang bahwa Uchiha akan digabungakan dengan Haruno, aku tidak perlu susah-susah mencari akal untuk merebut perusahaan itu. ingatlah, kalau Yotta masih bersamaku."
Ucapan Shion membuat Sakura terbelalak.
"Dan Sakura…. Kau memilih untuk membunuh Uchiha Sasuke dan menurunkan jabatanmu sebagai direktur, atau… keselamatan adik kecilmu itu?"
Shion tersenyum puas melihat ekspresi ketakutan Sakura. Lalu dia berbalik dan berjalan keluar meninggalkan Sakura yang masih mematung.
"Kuharap kau memikirkan itu sampai aku menemuimu lagi."
Dari dekat pintu, Shion masih tidak menyadari keberadaan Sasuke yang sudah mendengar semuanya. Bahkan ketika dia keluar dari toilet. Pria itu lalu kembali mendekati pintu dan mengintip Sakura dari kaca kecil. Wanita itu sedang menangis.
…
Sudah beberapa hari ini semenjak pertemuannya dengan Shion membuatnya cukup stress. Hubungannya dengan Sasuke sudah membaik. Tapi mengingat ucapan Shion, setiap dia melihat wajah Sasuke, rasanya dia ingin sekali menangis.
Kenapa dunia ini begitu tidak adil? Dulu dia bahkan tidak segan-segan mengacungkan pisau di depan wajah Sasuke. Namun sekarang, rasanya dia berat untuk mengingat kalau dia harus membunuh pria itu.
Sakura benar-benar tidak sanggup. Dan kini dia baru menyadari kalau ada perasaan tumbuh di dalam hatinya. Sakura mencintai pria itu. melupakan semua rasa bencinya kepada Sasuke. Dia benar-benar mencintainya.
Apakah seharusnya Sakura yang lebih baik menghilang? Tapi itu pun tidak akan menjamin bahwa Sasuke pun akan hidup.
Setelah selesai sarapan, Sakura pamit untuk kembali ke kamarnya. Naruto dan Hinata memandang Sakura dan Sasuke dengan aneh. Ada yang tidak biasa pada mereka. Sepertinya ada sesuatu yang menimpa mereka saat menjalankan rencana untuk menjatuhkan Shion. Kini kedua orang itu seperti saling menghindari. Sakura selalu menyisakan makanannya, lalu kembali mengurung dirinya di kamar. Begitu pula dengan Sasuke yang lebih dahulu berangkat ke kantor dari Naruto.
Kini Sasuke lah yang mengelola dua perusahaan besar itu. memang cukup berat. Tapi ada Naruto beserta Sakura pun ikut memantau dari rumah.
"Naruto, berjanjilah padaku." Ucap Sasuke saat hanya ada mereka berdua.
Naruto hanya mengangkat sebelah alisnya tanda bingun. Setelah Sasuke menjelaskannya, ekspresi Naruto berubah menjadi sedih. Kini Naruto mengerti. Sasuke dengan Sakura sedang mengalami konflik yang rumit. Keduanya sama-sama menjadi pihak yang tersakiti.
Setelah Naruto meninggalkan Sasuke di ruang kerjanya sendiri, diam-diam Sasuke menitihkan air matanya. Ini pertama kalinya dia terisak. Semua orang selalu mengatakan bahwa pria menangis adalah aib. Namun, ibunya selalu mengatakan kalau menangis adalah hal yang manusiawi.
Sasuke adalah pria brengsek berhati dingin. ini pertama kalinya dia menangis semenjeka kepergian keluarganya. Tidak tanggung-tanggung lagi dia meneteskan air mata dan terisak karena sekarang dia sedang sendirian.
…
Setiap pagi, Sakura selalu berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Rasanya ada perubahan dalam dirinya. Kini dia menjadi lebih sensitive dan juga tidak nafsu makan. Saat sikat gigi pun, pasti diakhiri dengan muntah. Haidnya pun sudah telat selama 3 bulan.
Awalnya dia mengira mungkin ini adalah factor stress. Namun lama-kelamaan hal ini semakin menjadi. Sasuke tidak pernah memakai pengaman dan selalu klimaks di dalam tubuhnya. Hal itu membuatnya curiga dan semakin takut.
Dari pada membuatnya bingung dan malah semakin stress, Sakura mengeluarkan testpack yang tidak sengaja dia temukan dalam kotak obat. Wanita itu sungguh terkejut bukan main setelah memakai benda kecil itu.
Benda kecil dan rapuh telah membuat Sakura ketakutan. Dua garis menunjukan bahwa wanita itu tengah hamil. Dia sedang mengandung anak Sasuke.
Sungguh tidak terpikirkan olehnya untuk mengandung, apalagi di luar pernikahan. Haruskah dia menggugurkan kandungannya? Tapi anak ini tidak bersalah.
Liquid bening mulai muncul di pelupuk matanya. Sebelah tangannya mengusap perut yang berisikan kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Sungguh dia tidak menyangka semuanya akan seperti ini. Apa ini hukuman untuknya?
…
"Ini laporannya, tuan!" ucap seorang wanita sambl memberikan sebuah map padanya.
Tak lama setelah sang sekretaris itu mundur, datanglah seorang pria ke hadapan Sasuke.
"Lama tak berjumpa, Sasuke!" ucapnya.
"Kau! Mau apa kemari?" ucap Sasuke ketus.
"Aku hanya ingin mengunjungi temanku. Bagaimana dengan Haruno itu?" pria itu dengan santainya duduk di kursi kantor sambil menyilangkan kakinya.
"Sasori, pergilah! Aku sedang sibuk."
"Oh, ayolah! Apa kau tidak merindukanku?"
Sasuke mendelik. "Cih, untuk apa aku memikirkan orang sepertimu? Kau orang yang telah membunuh keluargaku."
Kalau pria ini bukan orang yang telah membantu Uchiha Group, mungkin dari dulu Sasuke telah membunuhnya. Ya, Sasori adalah orang yang disuruh untuk membunuh orang tuanya beserta kakaknya oleh Shion. Ternyata mereka adalah komplotan yang ingin menguasai perusahaannya.
Baru Sasuke ketahui ternyata Sasori adalah seorang anggota akatsuki. Kelompok mafia yang sering disewa untuk membunuh orang-orang penting di Konoha. Mungkin saja pelaku pembunuhan massal waktu itu adalah mereka. Hanya saja tidak ada bukti yang kuat. Mereka jugalah yang telah merencakan penculikan Sakura.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi. Aku hanya ingin mengatakan kalau waktunya sudah tiba. Bekerja samalah, atau kalian akan hancur!" ucap Sasori tegas lalu pergi dari ruangan.
Sasori lah yang membuatnya mengenal dunia malam saat dia masih berpacaran dengan Shion. Dan ternyata Sasori juga telah merencanakan pembunuhan kepadanya saat itu. dia memberikan racun kepada minuman yang Sasuke minum. Memang berhasil dikeluarkan dari tubuhnya. Tapi dokter terlambat mengeluarkan racun dari paru-parunya. sehingga toxin itu berkembang menjadi sel-sel abnormal yang cukup ganas. Pada saat itu, Sasuke divonis menderita kanker paru-paru. Dan dia sendiri baru mengetahuinya setelah 2 tahun keluarganya meninggal.
Merasa tidak ada harapan hidup lagi, Sasuke sengaja merusak dirinya dengan merokok.
…
To be continue
…
Amaya's note :
Mungkin chapter ini terkesan pendek dan terburu-buru. Tapi Amaya gak punya waktu lagi. Sedangkan Amaya sendiri pengen banget fanfic ini cepet selesai.
Yap, inilah chapter 7 yang Amaya langsung publish. Konfliknya udah semakin menjadi.
Doain ya biar Amaya bisa cepet update lagi. Amaya lakukan ini juga demi kalian semua. Kritik, saran dan semangat selalu dibutuhkan. Review ya! ;)
