Balasan Review :

Lightflower22 : aduh, gimana ya? nanti pasti ada penjelasannya. Ikutin terus aja ya! ;)

Uchiha Pioo : Itu Sasori yang nemuin, bukan Sasuke. Kan Sasori yang langsung nyosor masuk ke dalam ruangannya. Dan itu bukan perjanjian. Tapi mereka lagi perang. Sasori langi ngancem Sasuke itu teh. Soal Sakura, nanti terjawab kok di chapter ini karena sebentar lagi fanfic ini tamat. Panggil apa aja deh yang kamu suka :)

Hanozono yuri : Yap! Capcus :D

P serrulata : makasih udah nunggu :). Happy or sad ya? ayo tebak! Makasih juga semangatnya :)

PYUUU : kata-katamu udah kelewat batas, teman! Saya di sini masih belajar. Dan ingatlah bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna. Anda merasa lebih baik dari saya? Jika tidak suka, jangan baca fanfic saya dan buatlah fanfic sendiri. Jika ingin memberi komentar, berilah komenter yang membangun. Jangan disertai kata-kata yang tidak pantas. Gara-gara saya? Ini fanfic buatan saya kok.

: tenang aja! Nanti Sasuke juga tahu.

Uchiha Pioo : semuanya nanti bakal terjawab seiring berjalannya cerita. Hubungan Sasuke dengan Sasuke udah ada di chapter kemarin dan barusan sudah Amaya jelasin juga. Soal Sakura, aduh gimana ya jelasinnya. Jadi intinya, Yotta lagi ada dalam cengkraman Shion dan Sakura harus memilih antara keselamatan adiknya atau bunuh Sasuke. Kan Sasuke punya banyak trik buat tau segala hal tentang Sakura ^^

Dianarndraha : Insha Allah jika menurut kamu fanfic ini bakal sad ending :D. ikutin terus ya!

: Amaya usahain lebih panjang lagi. Aduh, sabar banget nunggu :D. tapi makasih udah nunggu. :)

.

.

.

Pria yang telah berumur setengah abad itu memandang putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Putri kesayangannya yang warna rambutnya merupakan perpaduan dirinya dengan sang istri tercinta. Anak perempuan yang tengah bersandar pada dadanya. Tangan mungilnya menggenggam jemari sang ayah tanpa ada niat untuk melepaskannya.

"Ayah, aku selalu melihat kakak membawa laki-laki ke rumah. apa mereka pacar kakak? Tapi mereka selalu berbeda-beda."

Sang ayah hanya tersenyum sambil mengelus kepala anaknya.

"Mereka hanya teman. Tolong jangan ditiru ya! nanti kau juga akan mendapatkan pasangan saat kau sudah dewasa."

"Ibu pernah berbicara tentang jodoh. Dan jodoh ibu adalah ayah. Jodoh ayah adalah ibu. Jika bukan jodoh, aku tidak akan pernah ada di dunia ini. Kira-kira jodohku siapa, ayah?"

Pria itu hanya terkekeh mendengar pertanyaan polos anaknya. Umurnya masih 9 tahun, tapi sudah bertanya tentang hal itu. namun tidak ada salahnya anak seumurannya tahu tentang hal ini.

"Kelak nanti, kau akan tahu. Pria itu adalah orang yang mencintaimu tanpa alasan. Dan kau juga mencintainya. Meskipun ada yang lebih baik darinya, kau akan tetap mencintainya. Pria itu akan menjagamu saat ayah sudah tidak ada. Dia yang akan ayah dari anak-anakmu. Kira-kira seperti itulah."

.

.

.

Just Let Me Go

Chapter 8

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Rate : M for reason

Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)

.

.

.

"Arrghhh!"

Erangan frustasi begitu menggema di ruangan. Kertas-kertas yang tidak bersalah berhamburan kemana-mana menjadi korban amukan wanita berambut pirang itu.

Beralih untuk melihat dirinya yang kacau, wajah yang kusut itu tergambar jelas di dalam cermin. Semakin lama dia memandang gambaran dirinya sendiri, ekspresinya berubah menjadi seram. Wanita itu mengambil benda di dekatnya lalu melemparkannya ke cermin.

"KENAPA KAU KEMBALI?"

'PRAAANGG'

"DAN JUGA KAU UCHIHA! KENAPA MILIKKU MALAH ADA PADAMU? PERUSAHAAN YANG SEHARUSNYA JADI MILIKKU!

'PRAANG PRANG PRANG'

Cermin itu telah hancur setelah dilempar berkali-kali oleh barang. Puing-puing pecahan kaca berserakan ke seluruh isi ruangan. Beruntung tidak mengenai dirinya.

'BRRAAK'

"Kakak, ada apa denganmu?"

Pintu dibuka secara tiba-tiba oleh seorang bocah yang kira-kira umurnya akan memasuki anak remaja.

Shion melirik ke belakang dengan tatapan sinisnya. Dia lalu berbalik tanpa melepaskan pandangannya dari bocah itu.

'HAP'

Kedua tangan Shion meraih leher anak itu dan meremasnya sehingga bocah yang tidak bersalah itu merasa sesak.

"Yotta, gara-gara kakakmu itu dan juga kekasihnya yang datang tiba-tiba, aku jadi tidak bisa memiliki harta warisan milik ayah." Ucapnya.

"Kakak, tolong lepaskan!" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.

"Shion, lepaskan dia!" tiba-tiba datang seseorang menghentikan aksi Shion untuk membunuh Yotta.

Melihat sebentar pada sosok kekasihnya, lalu menghempaskan tubuh Yotta sampai terjatuh. Bocah itu sendiri masih berusahan mengambil nafasnya dan mengerang kesakitan terkena serpihan kaca yang mengenai tangan dan kakinya.

"Ingatlah kalau kita jangan membunuh anak itu."

"Tapi bagaimana, Sasori? Hanya Sakura yang mempan dengan ancaman itu. sedangkan kita tidak tahu bagaimana menyerang Sasuke."

Pria itu menyeringai. "Aku punya rencana bagus. Kita sudah tahu kelemahan Uchiha itu. dan bocah ini masihlah sangat berguna untuk umpan." Seringainya semakin menakutkan ditambah dengan dia memandang Yotta.

Tetesan shower menghujani tubuhnya. Baju one piece yang dipakainya telah basah beserta dengan surai merah mudanya yang indah. Tidak peduli seberapa dingin menyerang tubuhnya, yang penting kesedihan ini bisa merendamnya. Dan air matanya bisa ikut mengalih mengikuti arus air yang menerpa tubuhnya.

Di sisi lain, Sasuke memasuki kamar yang mempunyai wangi tubuh wanita berambut pink itu. pria itu tahu apa yang sedang dilakukan Sakura begitu mendengar suara tetesan shower dari dalam kamar mandi. Lalu kakinya membawanya untuk melangkah begitu matanya melihat objek yang menarik perhatiannya. Begitu mendekat, detak jantungnya memompa darahnya berkali-kali lipat karena tidak menyangka apa yang dia dapat.

Tangan besarnya meraih benda kecil dan tipis yang menampilkan dua garis merah. Pria itu memang tidak pernah menggunakan benda seperti ini. Tapi Hinata pernah menggunakannya. Naruto bersorak senang begitu melihat dua garis yang dihasilkan benda ini karena itu menandakan bahwa mereka akan segera memiliki anggota keluarga yang baru.

Namun entah apa yang sedang dirasakan Sasuke sekarang. haruskah ia senang karena dia akan segera memiliki anak? Atau kecewa karena telah menghamili wanita di luar pernikahan? Atau sedih karena mungkin Sasuke tidak akan bisa melihat anaknya lahir?

Ekspresi wajahnya masih tetap datar. Tapi dia tidak bisa menahan gejolak di hatinya. Sekarang, apa yang harus dilakukannya?

...

Sakura datang ke meja makan dengan keadaan lesu. Sedari tadi wanita itu memakan makanannya seperti tidak bernafsu. Wajahnya begitu pucat. Sasuke memperhatikannya dengan was-was takut terjadi sesuatu pada Sakura.

Dengan nasi yang habis setengahnya, Sakura beranjak dari kursinya. Wanita itu berjalan gontai tanpa melirik orang-orang di sekitarnya.

Sasuke ikut mengangkat tubuhnya menyusul Sakura. Perasaannya dari tadi sungguh tidak enak. Setelah menyentuh pundaknya, wanita itu berbalik. Wajahnya sungguh pucat, dan matanya begitu sayu.

"Sakura, ada apa denganmu?"

"Sa-su-ke…" lirihnya.

Perlahan kedua mata itu tertutup dan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Sasuke.

"Sakura! Bangunlah!"

Sasuke menepuk pipi Sakura berharap wanita itu segera sadar. Namun hasilnya nihil. Naruto dan Hinata ikut bangkit dan mendekati Sakura, bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada wanita itu. Sasuke segera menggendong tubuh Sakura ke mobil untuk membawanya ke rumah sakit.

Naruto dan Hinata ingin ikut membantu dan menemani, namun Sasuke menolak dan menyuruh mereka untuk menunggu saja di rumah. jika ada apa-apa, Sasuke akan menelfon Naruto. Hal itu membuat ayah beranak satu itu curiga pada pria berambut gelap itu. sepertinya ada yang Sasuke sembunyikan, pikirnya.

Sudah bermenit-menit pria itu menunggu di kursi yang sediakan rumah sakit untuk menunggu keluarga pasien di ruang UGD. Sasuke berharap cemas pada dokter yang tengah memeriksa Sakura untuk segera keluar dan segera memberitahu keadaan wanita itu.

'Ceklek'

Pucuk dicintai, ulam pun tiba. Wanita bejas putih itu keluar setelah memeriksa keadaan Sakura.

"Uchiha-san, keadaan Sakura-san masih lemah. Dia akan baik-baik saja selama di sini. Tapi Sakura-san harus menginap sampai besok."

Sasuke menghela nafas lega.

"Saya ucapkan selamat, Uchiha-san! Anda akan menjadi seorang ayah. Usia kandungan Sakura-san telah memasuki 2 bulan. Namun Anda harus berhati-hati. Karena Sakura-san sedang mengalami stress yang akan berdampak pada janinnya. Untung saja bayi Anda begitu tahan, dan kandungan Sakura-sama sangat kuat. Anda masih dapat berhubungan intim jika dilakukan dengan hati-hati dan tidak menyakiti Sakura-sama."

Ternyata sudah 2 bulan. Berarti waktu itu mereka sempat berhubungan badan sampai semalaman dan paginya kembali melakukan hubungan intim. Untung saja Sakura dengan janinnya sangat kuat sehingga tahan dengan serangan Sasuke yang begitu brutal.

Pria itu memasuki ruang rawat yang ditempati Sakura sendirian. Bau khas rumah sakit tercium olehnya. Selang infus tertancap di pergelangan tangan wanita yang sedang tertidur dengan pulas.

Sasuke duduk di samping seseorang yang tengah mengandung benihnya. Matanya memandang wajah Sakura yang sudah tidak pucat lagi. Terdengar suara dengkuran halus khas orang tertidur. Tangan besarnya mengelus perut Sakura yang berisi kehidupan.

"Tumbuh besarlah, nak! Maaf sudah menyakiti ibumu. Kau juga merasakannya juga, kan? Tidak peduli jika kau laki-laki atau perempuan. Yang penting kau harus melindungi ibumu karena ayah tahu umur ayah tidak memungkinkan untuk bersama kalian lebih lama lagi. Maaf karena ayah harus pergi."

'Cup'

Liquid bening menetes dari matanya. Bergantian Sasuke mengecup perut dan kening Sakura. Entahlah, Sasuke sendiri tidak mengerti untuk apa tangisannya. Apakah ia bahagia karena benar akan mempunyai keturunan, ataukah ia sedih karena ia tahu waktunya tinggal sebentar lagi.

"Kita lakukan malam ini?"

Itu adalah pertanyaan sekaligus pernyataan. Tanpa Sasori jawab pun, Shion sudah mendapatkan jawabannya.

Bocah yang menjadi korban itu duduk di kursi dengan pasrahnya. Tubuhnya diikat dan membuatnya tidak bisa bergerak lagi. Shion mendekatinya lalu menjambak rambut bocah malang itu. tanpa ada rasa kemanusiaan, wanita berambut pirang itu memandang adik laki-lakinya dengan tajam.

"Dengar! Jangan coba-coba untuk kaburl lagi atau kau akan menerima akibatnya."

"Kau jahat, kakak! Kau terlalu serakah! PERGILAH KE NERAKA!" balas Yotta.

'PLAK'

Dengan tiba-tiba Shion menampar Yotta sampai bocah itu terjatuh.

"Yotta, adikku yang manis! Berani sekali kau melawan kakakmu! Sekarang kau sudah mulai kurang ajar. Sampai mana kau akan bertahan dengan si pingky itu, hah?" Shion berkata dengan nada lembut namun sinis.

Dengan pasrah, bocah itu tidak bisa berbuat apa-apa. Kini Yotta hanya bisa berdoa semoga Kami-sama melindungi kakaknya

Hari ini Sakura sudah diizinkan pulang. Pakaiannya rumah sakitnya sudah diganti dengan baju dress sederhana. Namun wanita itu terus memunggungi Sasuke tanpa ada niat untuk bersiap keluar dari rumah sakit. Bahkan dia menolak makan. Hal itu membuat Sasuke khawatir. Apalagi Sakura sedang mengandung.

Wanita itu belum tahu kalau Sasuke sudah mengetahui perihal kehamilannya. Sakura tidak tahu umur janinnya. Sasuke melarang dokter untuk mengatakan pada siapapun segala tentang kehamilannya. Bahkan dia merahasiakannya dari Naruto yang kini sedang berada di luar. Belum saatnya semua orang tahu tentang ini.

'Drrrrttt drrrrrttt'

Pria itu mengangkat telfonnya begitu mendengar nada dering dari hp smartphone-nya. Begitu selesai, dia keluar untuk menemui Naruto.

"Naruto, tolong bujuk Sakura pulang. Aku mau ke kantor dulu sebentar. Ada masalah di sana. Jika sudah ada di rumah, hubungi aku."

Naruto mengangguk dan melihat punggung Sasuke yang semakin menjauh. Tiba-tiba pria blonde itu terlintas tentang janji Sasuke kepada Naruto jika dia sudah tidak ada. Dan juga ada hal yang harus Sasuke sampaikan kepada Sakura nanti.

Sebagai sahabat, sudah pasti Naruto merasakan empati. Mereka sama-sama merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan keluarga sendirian. Namun dirinya sudah bekeluarga, sedangkan Sasuke masih sendirian dan seperti tidak ada niat untuk membangun keluarga bersama Sakura. Kudeta yang dilakukan Shion dan Sasori telah membuat Sasuke melupakan segalanya.

'Krriiiieeet'

Terlebih dahulu Naruto mengintip apa dari balik celah. Namun pria blonde itu langsung membuka pintu dengan sekali hentakan begitu melihat apa yang sedang dilakukan seseorang di dalamnya.

Wanita itu, Sakura. Sedang mencoba mengiris pergelangannya menggunakan pisau rumah sakit.

"Sakura, hentikan! Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan, hah?" Naruto merebut pisau yang dipakai Sakura.

Sakura hanya menangis dan membiarkan Naruto membuang pisau itu ke sembarang arah. Lalu wanita itu menundukkan kepalanya tidak ingin melihat Naruto.

"Aku tidak bisa, Naruto...! aku tidak sanggup. Aku mencintainya!" lirihnya.

Naruto kembali menajamkan telinganya. Dia tidak salah dengarkan? Sakura baru saja mengucapkan suatu hal yang sacral.

"Hah? Apa maksud tadi?"

"AKU MENCINTAI UCHIHA SASUKE! Aku tidak bisa membunuhnya. Tapi, jika aku tidak membunuh pria itu, adikku yang akan terancam. Dia adalah keluargaku satu-satunya.." Sakura berteriak sambil menarik kerah Naruto.

Sedangkan pria yang mendengarkan perkataannya itu membelalakan matanya. Sungguh dia masih terkejut dan belum mempercayai apa perkataan wanita di depannya. Otaknya masih mencerna apa yang dikatakan Sakura. Setelah sadar, Naruto menarik tangan Sakura dari kerahnya.

"Dan sekarang… aku… aku…."

"Sakura, aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kalian pikirkan. Kalian sama-sama naif dengan perasaan kalian. Dengarkan aku! Tanpa kau membunuh Sasuke, nanti juga dia akan MATI!"

Raut muka Sakura berubah begitu mendengar kalimat terakhir Naruto.

"Sasuke? Apa maksudmu?"

"Ya, Sasuke sedang sakit parah. Itu semua ulah Shion dan Sasori. Sasuke divonis terkena kanker paru-paru. Dia sudah tahu kalau dia akan mati. Jadi, dia sengaja merusak dirinya dengan merokok. tapi, setelah melihat dirimu, dia harus melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum ajalnya tiba."

"A..ap…a...?" lirih Sakura sambil meneteskan air matanya.

"Aku beri saran untukmu. Aku ingin memberi pelajaran pada si Teme itu." Naruto mengeluarkan kunci mobil dan kartu ATM. Lalu dia melepaskan cincin dan kalung yang dipakai Sakura. "Ini. Sekarang kau pergi kemana pun kau mau. Pakai mobil dan ATM-ku. Sasuke tidak akan bisa melacakmu jika alat pelacaknya tidak kau pakai."

Sakura mengambil kunci beserta ATM yang Naruto berikan. Lalu dia berlari meninggalkan pria yang masih berdiri di tengah ruang rawat. Sedangkan Naruto hanya menatap Sakura yang menghilang di balik pintu.

Hari sudah malam. Angin tampak bertiup kencang. Laporan cuaca mengatakan bahwa malam ini akan turun hujan yang cukup deras namun tidak ada petir atau angin badai.

Deru mesin mobil terdengar memasuki gerbang rumah dan berhenti di halaman. Pria berambut emo menyembul dari balik pintu mobil yang terbuka. Kaki-kaki itu membawanya melangkah memasuki rumah. pikirannya agak kacau hari ini.

Begitu memasuki rumah, Sasuke mendapati keganjilan di sana. Dia tidak menemukan wanita berambut pink di mana pun. Saat Naruto lewat, pria itu mendekatinya.

"Dobe, di mana Sakura?"

"Aku membiarkan dia pergi dengan mobilku." Lalu Naruto menyerahkan cincin dan kalung Sakura yang waktu itu diberikannya.

Secara tiba-tiba, Sasuke menarik kerah Naruto. "Apa yang kau lakukan? Apa kau bersekongkol dengan orang-orang itu?" geram Sasuke.

"Aku hanya berpikir untuk memberi pelajaran padamu. Dia akan baik-baik saja di sana." Ucapnya tenang.

"Baik-baik katamu? Apa kau bodoh membiarkan Sakura dalam bahaya? Banyak orang yang mengincarnya dan menginginkan nyawanya."

"KALAU BEGITU CARI DAN SELAMATKAN DIA! Kau bilang kau mencintainya, tapi kau masih bersikap naif padanya. Kau akan menikahinya, kan? Kenapa kau tidak segera melamarnya?"

Sasuke melepaskan cengkramannya secara perlahan. Raut mukanya berubah kembali menjadi datar.

'PRRRAAAANNGGG'

Refleks Naruto dan Sasuke mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya begitu merasakan ada yang datang ke kaca di dekat mereka. Sasuke pun berlari dan mendekati jendela yang telah berlubang. Dari sana dia tidak melihat siapapun. Tapi jika melihat munculnya benda itu, datangnya dari atas.

"Sasuke lihatlah!" panggil Naruto yang telah membawa secarik kertas yang membungkus sebongkah batu.

Mata Sasuke terbelalak begitu membaca kertas yang berisi pesan ancaman.

"Nyawa Yotta berada di tangan kami. Datanglah ke hutan dekat sini. Jika tidak, adik tercintamu akan mati!"

Itulah isi dari kertas itu. Tulisannya seperti dibuat dengan darah asli.

Sakura dalam bahaya! Sasuke harus segera mencarinya atau mendatangi orang-orang itu untuk menyelamatkan keluarga Sakura satu-satunya.

"Naruto, aku pergi dulu! Aku harus menyelamatkan Sakura!"

Tanpa ada persetujuan dari Naruto, Sasuke melesat meninggalkan sahabat kuningnya yang terus memanggil-manggilnya.

Saat ini Sakura sedang berdiam diri di dalam mobil. Mulutnya tengah mengungah buah tomat segar yang dia pegang. Matanya masih memandang sepasang suami istri yang sedang memakan setusuk sate ikan bersama anak-anaknya. Ada perasaan rindu dalam hatinya pada pria berambut emo itu.

"Kau juga merindukannya, sayang?"

Sakura memang mencintai Sasuke. Tapi apakah pria itu mempunyai perasaan yang sama? Tidak peduli bagaimana Sasuke, pria itu adalah ayah dari anak yang tengah tumbuh di dalam dirinya. Sasuke harus mengetahui tentang kehamilannya dan mengatakan tentang perasaannya. Jawaban dari pria itulah yang akan menentukan apa yang akan dilakukan Sakura.

Tanpa berpikir dua kali, wanita hamil itu menyalakan mesin mobil dan segera berjalan menuju rumah kediaman Uchiha.

Pria berambut biru dongker itu berjalan tanpa menimbulkan suara yang akan menarik perhatian. Dia berjalan mengendap-endap. Memang seperti bukan dirinya karena berjalan seperti seorang pencuri buah. Tapi hutan ini adalah hutan yang tidak dimiliki oleh siapapun dan yang paling dekat dengan Konoha.

Ini aneh! Tidak ada siapapun. Rumah pun tidak ada di sana. Sasuke terus menajamkan seluruh inderanya jikalau ada orang mendekat.

Saat berbalik, Sasuke yang kurang sigap tidak dapat menghindari pukulan yang akan dilayangkan kepalanya sehingga tongkat baseball itu mendarat tepat ditengkuknya.

'DUG'

Pria itu pun jatuh tersungkur. Tangannya mencoba meraih rerumputan untuk membuatnya bangkit. Namun tongkat itu terus dilayangkan pada tubuhnya.

Tidak menyerah, Sasuke terus berusaha untuk bangun dan berdiri. Tapi, secara perlahan kesadarannya mulai menghilang.

"Kau cukup keras kepala juga ya!" ucap pria yang telah memukulnya.

'PRAAKKK'

"ARRRGHHH!" rintih Sasuke.

Sambil tetap menahan sakit di punggunnya yang diinjak, Sasuke tetap berusaha bangkit. Meski tubuhnya tidak sanggup lagi bangun, dan berkali-kali mulutnya mengeluarkan darah.

Apakah ini akhirnya? Apa dia akan mati di sini? Jika takdir memungkinkan, Sasuke tidak ingin dahulu mati sebelum dia mengatakan bahwa dia mencintai Sakura. Dia ingin melihat Sakura tersenyum untuknya, untuk terakhir kali. Sasuke harus bisa bertahan sedikit lagi. Namun apa daya semuanya menjadi gelap. Tubuhnya pun sudah tidak dapat digerakan lagi.

'Kami-sama, tolong jangan ambil nyawaku sekarang! Masih ada hal yang belum sempat kulakukan. Tapi, jika ini akhirnya, tolong jaga Sakura untukku!'

To be continue

.

.

.

Amaya's note :

Nah ini dia chapter 8! Masih pendek kah? Tinggal satu chapter lagi tamat. Terima kasih untuk semua yang telah membaca fanfic ini.

Amaya tahu kalau fanfic ini memiliki banyak sekali kekurangan. Tapi apakah harus dengan mengkritiknya dengan kata-kata kasar dan menghina Amaya dengan kata-kata yang tidak pantas? Maaf jika Amaya tidak sempurna. Namun Amaya masih tetap berusaha untuk memberikan hasil yan g maksimal.

Arigatou gozaimasu, minna-san! ^_^

See you in next chapter :*