Balasan review :

Mikannn : makasih kalau feelnya udah kerasa :) . nih chapter epilognya update buat bayarannya :D

Cherryana24 : belum kepikiran buat sekuelnya. Tapi bakal ada adegan pas Sarada lahir di chapter ini.

Lightflower22 : tenang aja. Di sini Sarada bakalan lahir.

P serrulata : ada kok keajaiban buat Sasuke :D

Yuki mura : nyentuh ya? makasih :) . amaya seneng karena ceritanya dibilang bagus. Mending baca epilognya dulu deh.

Savers295 : cup cup cup :* . nih epilognya :D

Dewazz : cup cup… jangan dulu nangis. Nih baca dulu chapter epilognya.

Hanazono yuri : nih epilognya :D

Uchiha Pioo : duh, aku juga gak nyangka bakalan happy ending :D

Dianarndraha : epilog update! ^^

.

.

.

Kedua sejoli itu saling memandang di tengah ruang putih tanpa ada apapun dan siapapun di sekitarnya. Pria berambut biru dongker itu hanya menatap wanita di depannya dengan senyuman. Wanita di hadapannya berlari dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. menangis tersendu-sendu melepas rindu.

Jika ini adalah mimpi, biarlah. Sejenak dia ingin bertemu dengan pria ini untuk yang terakhir kalinya. Semoga saja dia rela melepaskan orang ini untuk pergi dan menunggunya di alam selanjutnya.

"Sasuke, kenapa kau pergi begitu cepat? Hiks hiks…!"

Sang pria hanya membelai surai pink milik wanita yang ada dalam pelukannya.

"Maaf, Sakura! Aku hanya tidak bisa melawan takdir. Aku tidak akan pergi kemana pun." Jelasnya sambil menatap Sakura dan tangannya membelai wajah Sakura. "Aku akan selalu ada di hatimu. Dan jangan lupakan, ada sebagian diriku di dalammu."

Sakura mengerti maksud Sasuke. Janin yang dikandungnya adalah milik Sasuke juga. Tangan besar itu mengelus dan mencium perutnya. Wanita itu menangis haru melihat sikap pria itu pada calon anaknya.

"Aku tidak akan pernah bosan untuk menciumi anakku." Tubuhnya kembali bangkit. "Dan juga aku tidak akan pernah bosan mengatakan pada wanitaku." Sasuke mengecup bibir Sakura. "Bahwa aku sangat mencintainya. Aishiteru, Sakura!"

Bibir itu kembali bertemu. Mereka saling melepaskan rindu. Tidak ada nafsu, hanya ada cinta. Rasanya Sasuke tidak pernah bosan untuk menciumi Sakura.

"Sakura, jika anak kita laki-laki, terserah kau memberinya nama apa pun. Asal dia mempunyai arti yang bagus. Tapi jika anak kita perempuan, aku ingin menamainya Sarada."

"Kenapa?" tanyanya memandang Sasuke.

"Karena aku suka nama itu."

Sakura mengangguk. "Baiklah!"

"Jaga anak kita baik-baik. Didiklah dia dengan baik. Jangan sampai dia menjadi seperti ayahnya yang gagal. Jaga pergaulan anak kita. Janganlah sekali-kali kau melarangnya tanpa memberi alasan yang jelas. Jangan pernah kau melepaskan pengawasanmu padanya. apalagi dengan pergaulannya. Aku harap dia bisa menjadi anak yang dibanggakan."

"Dan aku ingin dia mempunyai paras rupawan sepertimu. Rambut sehitam langit malam, mata seindah batu pertama onyx, hidung mancung sepertimu, dan bibir tipis sepertimu. Juga tubuh yang tinggi sepertimu." Ucap Sakura.

"Aku tahu itu bukan hal yang mustahil. Karena dia anak kita. Dia akan menjadi seorang yang kuat dan tangguh sepertimu."

Tiba-tiba raut wajah Sakura berubah.

"Kau akan pergi lagi?"

Sasuke mengangguk.

"Kalau begitu tunggulah aku! Aku janji, aku tidak akan berpaling darimu."

"Kenapa? Bukankah kau bisa menikah lagi?"

"Karena kita adalah jodoh. Aku sudah terlanjur jatuh kepadamu. Aku adalah tulang rusukmu. Dan kau adalah ayah dari anakku."

Sasuke tersenyum lalu memeluk Sakura sebelum melepaskannya. Begitu lama, sampai Sasuke perlahan berjalan mundur menjauhi Sakura.

"Sayonara, Sakura! Aishiteru, istriku, Uchiha Sakura!"

Sosok itu semakin menjauh kemudian menghilang dibalik bayangan putih.

"Sayonara, Sasuke!"

Kini Sakura telah merelakan kepergian Sasuke. Dia tahu karena hidup ini tidak ada yang abadi, mereka pasti akan dipertemukan lagi.

...

.

.

.

Just Let Me Go

Epilog

By Amaya Katsumi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)

Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)

Rate : M for reason

Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)

.

.

.

Butiran salju telah menumpuk di jalanan. Dari balik jendela, wanita bermarga Uchiha itu menatap serpihan salju yang berjatuhan. Wanita yang tengah berbadan dua itu sedang menikmati segelas susu yang dipegang sebelah tangannya. Tangan yang satunya lagi mengelus permukaan perutnya yang semakin membesar itu.

Semalam dia bermimpi bertemu dengan suaminya yang telah meninggal berminggu-minggu yang lalu. Perasaan rindu muncul dalam hatinya.

"Sarada ya?"

Lalu Sakura menatap perutnya.

"Kau merindukannya juga? Tenang sayang, dia akan selalu bersama kita. Dia akan selalu ada di hati kita. Dari alam sana, ayahmu dapat melihat kita. Kita hanya perlu mendoakannya agar dia tenang di alam sana dan terima di sisi-Nya."

Angin tiba-tiba berhembus menerpa wajah Sakura. Rambutnya melambai-lambai seiring dengan tiupan angin musim dingin.

"Sasuke, aishiteru!"

.

.

.

Beberapa bulan kemudian…

Tetesan demi tetesan nitrogen telah mengaliri ke dalam tubuhnya. Namun, perlakuan dari jemari seorang perawat membuat air berhenti mengalir memasuki uratnya.

Sepasang bola mata onyx tak henti-hentinya menatap ke satu arah di depannya. Sebelah tangannya tidak bebas sedang memegang sebuah buku catatan. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman yang saking tipisnya, orang tidak akan menyadarinya.

Isi dari buku itu adalah seluruh curahan hati pemiliknya yang mungkin saja jika diterbitkan menjadi sebuah novel, semua orang akan tertarik untuk membacanya. Buku itu pertama kali dia lihat saat wanita berambut mencolok di rumahnya sedang serius menggoreskan tintanya di atas kertas itu. awalnya dirinya tidak mempedulikan itu. tapi setelah dia membacanya, hatinya terasa menghangat. Buku itu tidak sengaja ditemukannya saat dirinya diam-diam memasuki ruang kamar pemilik buku itu yang sedang tertidur sebelum nantinya akan memasuki ruang persalinan.

'Tok tok tok'

Tanpa mendapat jawaban, helaian rambut kuning menyembul dari balik pintu. Setelah mata itu memastikan keadaan di dalam sana, pria itu masuk begitu saja. suara langkah sepatu begitu menggema di ruang perawatan itu.

"Dobe, seperti biasa! Kau selalu masuk sembarangan jika pintu tidak dikunci." Ucap pria itu lalu menyimpan bukunya.

Yang disindiri seperti itu malahan tersenyum lebar sampai gigi taringnya terlihat. Dengan wajah tanpa dosa, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa kau meminta suster melepaskan infusanmu?"

"Hari ini dia akan melahirkan, bukan?" tanyanya.

Yang ditanya mengangguk.

"Hanya sebentar. Aku ingin menemaninya, sebentar saja. setelah itu, aku janji akan kembali lagi." Jelasnya.

Pria berambut blonde itu ingin sekali menolak mengingat kesehatan pria di depannya belum pulih total. Walaupun bisa berjalan, tidak ada yang menjami sewaktu-waktu dia akan pingsan, bukan? Lagi pula Naruto tidak bisa mencegah keinginan pria brengsek itu yang begitu antusias melihat anaknya yang akan segera lahir kemudian.

Satu-persatu dokter, suster, dan matri memasuki ruang bersalin. Wanita yang tengah berbaring dengan perutnya yang membuncit telah memasuki pembukaan terakhir. Semakin ke sini kontraksinya makin terasa, katanya.

Dokter telah menyuntikan obat perangsang untuk memudahkan proses ngeden wanita berhelaian pink ini. Lampu besar telah dinyalakan. Peralatan medis yang membuat wanita itu ketakutan telah disediakan di sana.

"Sakura-sama, mulailah mendorong sekarang!" ucap dokter.

Sakura mengangguk dan mulai menuruti perintah sang dokter. Tanpa disadarinya, seorang pria yang sedang menyamar menjadi mantri duduk di sampingnya sedari tadi sambil memegang tangannya.

'Jangan khawatir! Aku di sini!' gumamnya dalam hati.

Dokter terus memerintahkan Sakura mendorong bayinya. Kepalanya sudah terlihat. Para anggota medis segera membantu bayi itu keluar. Erangan kesakitan menggema di ruang itu. wanita yang sedang berjuang itu terus meremas tangan pria di sampingnya yang terus mengusap peluh di wajahnya.

Melihat wanita yang dicintainya begitu kesakitan membuat pria bersurai gelap itu tidak tega. Kini dia tahu bagaimana perjuangan ibunya saat melahirkannya. Sakura pun melakukan hal yang sama. Mengandung dan melahirkan anaknya. Perjuangan yang sangat hebat untuk seorang wanita. Mungkin saja jika dirinya yang melahirkan tidak akan tahan atau bahkan tidak akan mustahil jika dia mati. Wanita memang hebat!

Wanita itu semakin kesakitan. Tapi ia tidak peduli. Dia ingin ini cepat berakhir. Perjuangan seorang wanita itu besar. Berjuang untuk dua nyawa. Dirinya sendiri, dan anak yang sedang dilahirkan.

'Berjuanglah, Sakura! Aku tahu kau wanita yang kuat.' Ucapnya dalam hati.

Lelaki itu mengintip sedikit ke bawah melepaskan usapannya pada puncak kepala Sakura. Dia dapat melihat kepala bayi itu sudah keluar. Dokter di sana terus berusaha membantu mengeluarkan sang bayi dari dalam sana. Tinggal sedikit lagi anaknya akan melihat dunia.

"Arrrghhhh!"

"EAAA EAAA EAAA!"

Suara tangisan bayi mulai terdengar. Dokter mengatakan selamat karena bayinya perempuan. Sakura menitihkan air matanya begitu mendengar suara pertama anaknya. Sungguh dia tidak menyangka ini. Tapi, baru saja suster memberikan bayi yang masih merah itu, mata sang ibu yang berkunang-kunang perlahan tertutup. Masih beruntung dia bisa melihat anaknya sebelum dirinya tak sadarkan diri.

Sedangkan pria berambut dark blue itu membuka maskernya. Air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi. Sempat pria itu panic karena Sakura tidak sadarkan diri. Namun dokter mengatakan Sakura akan baik-baik saja. dia hanya pingsan karena kelelahan pasca melahirkan.

Pria yang telah menjadi ayah itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari sang anak. Noda darah dan lendir telah dibersihkan, tapi kulitnya masih merah. Sang ayah menggendong anaknya sambil mencoba untuk menenangkannya dengan mengajaknya mengobrol. Senyum bahagia terus terpancar di wajahnya. Bayi berjenis kelamin perempuan itu seperti duplikat dirinya. Mata hitam, rambut biru dongker, kulit putih pucat, dan bibirnya yang mungil. Hidungnya masih belum terbentuk. Namun sepertinya akan mirip dengan sang ayah. Wajahnya persis dengan ibunya. bentuk beserta bentuk mata.

Beberapa minggu kemudian…

Bayi yang telah berumur 2 bulan itu melepaskan isapannya pada asupan makanan dari sang ibu. Mata anak itu tertutup sempurna seiring terlelapnya terbawa angin malam. Tak ingin anaknya terganggu, tapi Sakura tidak tahan untuk mencium puncak kepala bayinya. Dengan hati-hati, ibu muda itu mencium surai gelap sang bayi tanpa membangunkannya. Setelah itu, Sakura perhatikan anak berjenis kelamin perempuan itu yang seperti jelemaan sang ayah. Dari mulai kulit, bibir, warna rambut sampai bola mata yang tertutup, sangat mirip Sasuke. Hanya bentuk mata dan wajah yang mirip Sakura.

Setiap melihat anaknya, Sakura selalu teringat mendiang suaminya. Entah kenapa hatinya masih mantap mengharapkan kehadiran pria itu. Sakura merasa, bahwa Sasuke masih hidup. Apakah dia terlalu tinggi berharap? Orang mati tidak mungkin hidup kembali, kan? Jiwa itu sudah menghilang dari raganya dan kembali pada-Nya. Namun, apakah masih ada kemungkinan kalau dirinya bisa bertemu langsung dengan suaminya walau hanya sebentar? Sakura berharap penuh di hari ulang tahunnya kali ini. Hatinya sungguh sangat merindukan suaminya.

"Sakura-chan, apa aku mengganggumu?" tanya suara lembut yang membuyarkan lamunan Sakura.

"Tidak sama sekali. Masuklah Hinata!"

Wanita itu masuk lalu memeluk Sakura.

"Sakura-chan, Otanjobi omedeto!"

"Arigatou, Hinata!"

Kedua wanita itu segera pergi keluar kamar untuk tidak mengganggu sang bayi yang telah tertidur lelap. Mereka memilih untuk berbicara di ruang makan. Di sana sudah ada Naruto dengan kotak bingkisan di atas meja.

"Otanjobi omedeto, Sakura-chan!" Naruto memeluk Sakura.

"Arigatou, Naruto!"

Sakura duduk di kursi yang melingkar itu berhadapan dengan Naruto dan Hinata yang duduk berdekatan. Wanita itu sedikit berpikir aneh karena meja ini sangat kosong di atasnya. Bukannya Sakura berharap ada hadiah atau pesta kue ulang tahun yang meriah. Tapi setidaknya ada sedikit makanan untuk mereka berbincang dan juga basa-basi.

"Sakura, aku tidak tahu ini hadiah atau apa. Tapi intinya aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Wanita bersurai pink itu mengangkat sebelah alisnya tanda tak mengerti ucapan Naruto. Saat akan bertanya, Hinata menyuruhnya perhatikan saja. setelah Naruto menepuk tangannya dan berbicara dengan nada memanggil, barulah Sakura mengerti.

Wanita yang baru saja menjadi ibu itu terkejut dengan sosok yang keluar dari dapur sambil membawa kue ulang tahun dengan lilinnya yang telah menyala. Pikirannya masih belum tersambung saat melihat pria bertubuh tinggi kurus dengan rambutnya yang lepek atau turun ke bawah. Tapi, Sakura sangat mengenal bola mata hitam itu. barulah dia tersadar kalau wajah itu masihlah sama dengan pria yang selama ini ditunggu-tunggunya.

"Sa..su..ke…!" lirihnya.

"Happy birthday, my lovely wife!" ucapnya.

Terlihat genangan air dari sudut mata Sakura. Saat lelaki itu menyimpan kue di atas meja, Sakura melompat dan memeluknya. Wajahnya dia benamkan di dada suaminya. Wangi tubuh ini adalah wangi yang sangat dirindukannya. Selama berbulan-bulan berpisah, Sakura banyak mengalami hal sulit karena tidak ada sosok suami yang menemaninya saat sedang mengandung. Dan kali ini suaminya muncul dengan sangat tiba-tiba membuat dirinya masih belum mempercayai apa yang ada di depannya kali ini.

Sasuke tersenyum lembut. "Nanti kujelaskan. Sekarang kau ucapkan permohonan, lalu tiup lilinnya."

Sakura mengangguk lalu menuruti perintah Sasuke. Kedua tangannya disatukan dan kepalkan sambil mengucapkan sebuah doa dalam hatinya. Setelah itu, api lilin mati dengan sekali tiupan.

"Apa doamu, Sakura-chan?" tanya Naruto.

"Rahasia. Hanya aku dan Kami-sama yang tahu."

Naruto hanya mengendus kesal sedangkan istrinya terkekeh melihatnya. Namun, pria itu tidak bisa menahan senyumnya karena melihat saudara angkatnya telah kembali. Kini mereka bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang bahagia.

"Sasuke, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sakura yang kini serius.

Pria itu menoleh menatap istrinya lalu menghembuskan nafasnya pelan.

"Maaf membuatmu menunggu. Aku yang meminta Naruto untuk mengganti nama jenazah yang dikuburkan dengan namaku jika aku masih hidup."

Masih dengan wajah bingung, Sakura mempertegas pertanyaannya. "Kalau begitu, jelaskan!"

"Dan suatu kebetulan namanya sama dengan di Teme ini. Hanya berbeda marga. Setelah penembakan itu, Sasuke membutuhkan banyak darah. cukup sulit mencari pendonor dengan golongan darah yang sama." jelas Naruto.

"Mungkin ini mukjizat, takdir, atau hanya keberuntungan. Yang penting aku sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup walau harus mengalami koma selama beberapa bulan. Aku sengaja menyuruh Naruto untuk merahasiakannya dan menjalankan skenario seolah aku memang sudah mati." Lanjut Sasuke.

"Kenapa kau merahasiakan hal itu dariku juga? Kau tahu aku masih berharap kalau kau memang masih hidup. Namun, setelah bertemu denganmu dalam mimpi ditambah menghadapi kenyataan bahwa ada namamu di makammu, aku ikhlas." Balas Sakura yang telah berlinang air mata.

Melihat itu, Sasuke meraih tubuh istrinya dan mendekapnya. "Maaf soal itu. aku punya alasan lain. Yang terpenting, aku dapat sehat kembali dan bisa berkumpul denganmu. By the way, aku juga sudah melihat Sarada yang baru saja lahir waktu itu."

"Maksudmu?" reflex Sakura mengkat kepalanya.

"Ingat orang yang berada di sampingmu dan menggenggam tanganmu saat melahirkan?"

Sakura sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini. Sekarang dia mengerti perasaan apa yang selama ini mengganggunya. Selama ini hatinya masih mengharapkan keajaiban pada Sasuke. Dan juga ada perasaan mengalir saat dia melahirkan. Tangan itu begitu sangat dikenalnya. Sakura kira itu karena dia sedang melahirkan. Tapi tertanya Sasuke memang berada di dekatnya. Mungkin ini karena mereka memang berjodoh.

"Aku sempat panic saat dokter mengatakan untuk melepaskan saja alat-alat yang ada pada Sasuke karena dia tidak juga bangun dari komanya. Padahal Sasuke sudah melakukan transfuse darah. Namun aku tidak akan menyerah untuk mengembalikan Sasuke pada keluarganya. Aku sampai marah pada dokter karena mengatakan harapan hidup Sasuke sudah semakin kecil." Jelas lagi Naruto. "Suatu hari, ada yang datang padaku. Orang itu mengatakan bahwa dia ingin melakukan transplansi paru-parunya pada Sasuke. Aku sempat ragu. Namun orang itu juga mengatakan bahwa dia ikhlas dan kasihan pada Sasuke yang masih mempunyai banyak urusan. Sedangkan orang itu merasa bahwa urusannya di dunia sudah selesai."

Sakura menangis haru mendengar semua itu. sungguh maha besar kuasa Tuhan atas segalanya. Dia masih memberi kesempatan padanya untuk berkumpul dengan laki-laki yang sangat dicintainya. Mungkin inilah takdir yang harus disyukurinya. Kami-sama masih memberi kesempatan makhluknya untuk memperbaiki diri. Kini Sakura dan Sasuke bisa berkumpul dan bersatu menjadi suatu keluarga yang bahagia. Ditambah dengan kehadiran sang putri di tengah-tengah cinta mereka.

"Tapi, itu semua belum berakhir, Sakura-chan. Sasuke juga belum mendengar ini. Beberapa jam setelah operasi, aku melihat tubuh Sasuke sudah ditutup semua. Dokter mengatakan bahwa tubuh Sasuke tidak merespon sehingga jantungnya berhenti berdetak. Namun, beberapa kemudian, aku melihat tangan Sasuke bergerak dan mulutnya mengeluarkan suara. Setelah dokter memeriksanya, Sasuke kembali bernapas dan jantungnya kembali berdetak." Tambah Naruto.

Kedua manusia itu memasang wajah terkejut setelah mendengar penjelasan Naruto yang terakhir itu. ini benar-benar Kuasa Tuhan yang patut disyukurinya. Hidup dan mati berada ditangannya. Sasuke yang dulunya adalah pria yang brengsek, bisa mengalami mati suri sampai 2 kali. Mungkin saja setelah mengalami kematian, pria itu bisa menjadi lebih baik lagi.

"Aku duluan, Sasuke, Sakura-chan!" pamit Naruto bersama Hinata untuk pergi ke kamarnya.

Namun, sebelum Naruto melangkah, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah tangan yang membalikkan badannya. Pria itu masih belum percaya saudara angkatnya tengah memeluknya.

"Arigatou, Naruto! Jika tidak ada kau, aku belum tentu bisa bertahan sampai sekarang. kau adalah sahabat terbaikku." Lirih Sasuke.

Naruto hanya tersenyum dan membalas pelukan pria yang selama ini menjadi saudara tanpa ada hubungan darah.

"Kita adalah sahabat. Sudah semestinya kita saling membantu. Hubungan kita sudah seperti saudara kandung. Sampai nanti pun, ikatan kita tidak akan pernah putus." Ucap Naruto.

Sedangkan kedua wanita yang berada di belakang mereka hanya tersenyum menyaksikan pertunjukan antar saudara yang masih berpelukan sambil menangis haru. Selama ini, Sasuke masih mau menampung Naruto walaupun pria itu telah menikah dan mempunya anak. Sedangkan Naruto selalu direpotkan oleh perintah Sasuke yang mutlak. Rumah itu telah menjadi saksi bisu antara dua pasang insan di dalamnya. Suka cita serta duka mengiringi kehidupan serta langkah yang mereka tempuh.

'Puk'

Naruto menepuk pundak Sasuke. "Aku duluan, Sasuke, Sakura-chan!" pamitnya bersama Hinata menuju kamarnya.

Kedua insan itu masih belum mau melepaskan tatapan rindu setelah lama tidak bertemu. Kemudian Sasuke menarik tangan Sakura. Menuntun wanitanya menuju kamar mereka. Pria itu sangat merindukan saat-saat seperti ini. Tak henti-hentinya tangannya mengelus surai pink istrinya. Dapat dia cium aroma yang sangat dirindukannya selama ini.

Matanya berbinar-binar saat melihat sosok kecil yang tertidur di dalam box bayi. Jari panjangnya dia gunakan untuk membelai pipi malaikat kecilnya yang gemil sebelum menggendongnya. Dalam dekapannya, kening bayi itu dikecupnya dengan penuh sayang. Tiba-tiba putri kecilnya menggeliat kecil dan kedua kelopak matanya terbuka perlahan. Sepertinya anak itu sedikit terganggu dalam tidurnya. Namun ajaibnya anak itu tidak menangis sama sekali. Bibir mungilnya malah membulat seperti khas bayi yang sedang menguap.

"Dia seperti gambaran dirimu tapi versi perempuan."

Ya, Sakura benar. namun Sasuke juga merasa melihat sosok Sakura dalam diri anaknya. Entah kenapa, perasaan mereka seolah terhubung lewat anak mereka. Apakah ini yang dinamakan takdir?

Sakura menatap takjub interaksi antara ayah dan anak itu. ini pertama kalinya Sasuke tersenyum lembut. Terakhir Sakura melihat pria itu tersenyum adalah pada saat menjelang kematiannya. Dan senyuman itu hanyalah senyuman pasrah. Biasanya pria itu tersenyum pada dirinya dengan senyuman sinis atau seringai yang begitu menyebalkan. Mungkin ikatan batin antara ayah dan anak itu begitu kuat. Perasaan mereka dapat terhubung lewat sang buah hati.

Ayah muda itu menatap istrinya dengan lembut. Kedua sejoli itu kemudian beralih untuk berbaring menuju ranjang mereka.

Mereka sangat bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Kisah hidup mereka menjadi pelajaran yang sangat berharga. Masa lalu yang kelam membuat mereka dipertemukan. Kini Sasuke seperti kembali dihidupkan setelah detik-detik menjelang kematiannya.

Pria itu mengakui, saat koma dirinya melayang-layang ke segala arah. Bahkan dia diperlihatkan api yang berkobar. Sasuke bahkan sangat ingat jika dirinya pernah mendatangi mimpi Sakura dan mengira kalau dirinya memang sudah mati. Tapi takdir telah berkata lain. Sasuke dapat melihat wajah khawatir saudara angkatnya saat dia membuka matanya. Naruto berkata sudah berbulan-bulan dirinya mengalami koma. Padahal Sasuke merasa dia merasa seperti tertidur hanya semalam saja. Saat terbangun, dokter mengatakan bahwa dia baru saja siuman setelah melakukan operasi.

Mendengar penjelasan Naruto tadi, pantas saja jika dirinya sendiri mengira kalau dia memang sudah mati. Neraka pun sudah diperlihatkannya. Mengalami mati suri memang sudah menyadarkan akan semua dosa-dosanya. Dahulu Sasuke tidak mempercayai adanya Tuhan. Dia tidak peduli jika dia akan dijebloskan ke dalam neraka. Semoga saja setelah semua yang dialaminya membuat Sasuke menjadi lebih baik lagi. Minimal untuk keluarga kecilnya dahulu.

Selama beberapa minggu kemudian, Sasuke melakukan penyembuhan yang membuatnya ingin segera pulang. Walaupun begitu, Sasuke sangat bersyukur karena dia masih bisa menemani Sakura melahirkan dan melihat putrinya lahir ke dunia untuk yang pertama kalinya. Dua bulan kemudian, Sasuke diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah sangat sehat.

Sepertinya kali ini Sasuke tidak boleh lagi menjitak kepala Naruto. Dia harus sering mentraktirnya ramen mengingat pria rubah itu telah banyak membantunya selama ini. Meski Naruto adalah orang yang bodoh dan ceroboh, dia yang banyak berkorban untuknya. Walau bagaimana pun, pria itu adalah saudara angkatnya, anak dari sahabat ibunya. Kebaikan yang telah dilakukannya tidak bisa Sasuke balas dengan mudah.

Semalaman Sasuke dan Sakura terus berbincang-bincang tentang segala hal. Tanpa sadar kalau mereka terus terlarut dalam kerinduan sampai mereka tertidur dengan Sarada di antara mereka. Akhirnya kini Sasuke dan Sakura membangun sebuah keluarga setelah lama kehilangan keluarga. Cinta mereka terhubung lewat buah hati yang telah lahir ke dunia. Bahkan jika kematian datang menghampiri, ikatan mereka tidak akan putus.

The End

.

.

.

Amaya note :

Moshi-moshi, minna-san! Amaya kembali lagi. Akhirnya fanfic ini beres juga. Apakah menurut reader ini sad ending? Gimana-gimana? Sudah cukup membuat reader penasaran? Maafkan jika cerita ini masih mempunyai banyak kekurangan. Tadinya mau bikin sad ending aja. Tapi Amaya gak tega sama reader yang terus minta buat happy ending. Chapter Ini sudah panjang sekali. Entah kenapa Amaya jadi ketularan film Bollywood yang selalu pengen bikin cerita mellow gitu. Tapi, setidaknya kemampuan Amaya sudah terlihat. Terima kasih buat segala dukungan dari para reader buat Amaya menyelesaikan fanfic ini. Ini adalah fanfic pertama Amaya yang udah complete. Semoga chapter ini gak mengecewakan. Sekali lagi, arigatou gozaimasu!