PINJAM
A HunKai's Drabble
.
.
.
Jangan mencoba untuk menganggu Sehun―itu peraturannya.
Sebagai pemberitahuan, si pemuda yang merupakan satu-satunya pewaris keluarga Oh itu memang tak suka dirinya diganggu. Kita perjelas di sini. Sehun, memang tak suka diganggu, apalagi saat dirinya berada di kelas, sedang belajar, berusaha berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru di depan sana tentang persamaan kuadrat dan akar-akar persamaannya. Ah, Matematika.
Mengganggu Sehun saat pelajaran favoritnya berlangsung itu sama saja dengan kau melemparkan dirimu secara suka rela ke kawanan buaya muara. Alias; cari mati, dan semua orang tahu. Tak heran jika mereka selalu melakukan hal apapun yang kiranya takkan menganggu si pemuda berkulit pucat itu. Diam, lebih tepatnya. Yah... semua orang tahu, kecuali satu orang―
"Sehun, aku liat dong. Aku ga bawa buku paketnya."
Sehun dengan enggan menggeser buku paket Matematika yang terbuka di depannya dengan acuh. Masih mencoba berkonsentrasi. Gurunya menyuruh mengerjakan soal di papan tulis. Sehun dengan semangat menyalinnya ke dalam buku tulisnya.
x2 + 8x2 + 15―
"Sehun pinjam penghapus."
Sehun mengambil karet penghapusnya dan menaruh lebih dekat dengan teman sebangkunya itu. Kembali akan menyelesaikan soalnya.
"Sehun aku pinjam pensil. Pensilku patah..."
Alisnya berkerut tak suka, merasa cukup terganggu, meski begitu ia memberi pensil yang ada digenggaman tangannya. Baru saja ia hendak mengambil pensil lain dari tempat pensilnya―
"Pinjam pensil yang lain, Sehun. Ini tumpul," keluh sosok itu.
Gzzz. Sehun mengalihkan ke arah teman sebangkunya, tatapannya tajam sekali. Ia menaruh rautan pensil miliknya di meja dengan sedikit bantingan. "Raut sendiri," ketusnya kembali mengalihkan pandang. Kembali pada buku dan soalnya yang belum selesai. Ini gampang, Sehun bahkan bisa menyelesaikannya dalam sekali kedip. Yah, seandainya saja teman sebangkunya itu tak menganggunya terus.
( x + 5 )( x + 3 ) = 0
x = -5 dan x = -3
Sehun tersenyum puas.
"Pinjam penghapus."
Semenit kemudian.
"Ahh... bukan begini harusnya... pinjam penghapus lagi, Sehun." Dan ia mengambilnya benda itu tanpa persetujuan Sehun. Menghapus pekerjaannya yang sepertinya salah.
"...Sehun, ini bagaimana? Aku tidak mengerti. Pinjam milikmu."
Tanpa bicara Sehun menggeser buku tulisnya. Sang guru sudah menerangkan lagi di depan dan Sehun mencoba memperhatikan dengan serius.
"Pinjam penghapus."
"..."
"Sehun, aku pinjam pensil yang ini ya?" dan sosok itu mengambil pensil yang berada di tangan Sehun begitu saja.
Snut―
"Rautan, Hun. Aku pinjam rautan."
"Benda itu ada di sampingmu." Sosok itu nyengir dan kembali me
Snut, snut―
Bodoh, ketus Sehun dalam hati.
"Pinjam penamu."
"Hun, pinjam penggaris."
"Hun? Boleh tidak?"
"Penghapus mana, Hun? Aku pinjam."
"Hun? Kau dengar aku? Aku pinjam penggaris lagi, ya?"
"..."
Sehun memejamkan matanya dengan alis berkerut tanda menahan kesal.
Hening sejenak.
"..."
"..."
Sosok itu berbalik menghadap Sehun dengan ragu-ragu. "Hun, aku mau pinjam―"
Sehun menyodorkan kotak pensilnya cepat, matanya berkilat-kilat tajam. "Ambil sendiri, Kai. Dan diamlah," potong Sehun cepat dengan nada ketus, cukup kesal dengan gangguan teman sebangkunya yang tak henti memanggil namanya sambil meminjam ini dan itu.
Sehun memang tak suka diganggu dan semua orang tahu, kecuali satu orang. Dan orang itu adalah orang ini. Teman sebangkunya yang terkadang bisa sangat menyebalkan. Kim Jongin. Kai.
"...eum, sebenarnya bukan itu yang mau aku pinjam..." tolak Jongin.
Sehun menautkan alis dan memandang Jongin yang kini nampak gugup. Kenapa? batinnya tak mengerti. "Lalu?"
Hening...
Sehun menunggu, larut dalam penasaran. Kini ia bahkan sudah tak mendengarkan penjelasan sang guru di depan sana. Terfokus pada orang di sampingnya. "Kai?" tanyanya.
"..."
Hening...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku ingin pinjam waktumu sepulang sekolah, Hun," jawabnya sambil membuang muka. Dan Sehun merasa jika matanya bermasalah karena melihat wajah teman sebangkunya itu terhiasi sapuan merah muda samar saat mengatakannya. "Aku punya dua tiket bioskop pemberian noona dan aku ingin mengajakmu."
Sehun termangu sedetik. Ia menatap Jongin tanpa berkedip.
"Itupun jika kau tak keberatan...," tambahnya cepat sambil menunduk, merasakan tatapan Sehun pada dirinya. Ayolah, bersikap cool, Kim Jongin! Jongin merutuk dalam hati.
Dan detik kemudian Sehun merasa dirinya tersenyum geli dalam diam.
[ Diganggu Jongin saat pelajaran Matematika ternyata... tidak buruk juga.]
Dia mengajakku kencan, huh?―batin Sehun tak percaya.
.
.
.
.
.
.
Hei, jantung, santailah sedikit. Ini hanya ajakan kencan!
.
FIN ~
.
Ini... pendek. Dan ini... absurd banget DX Sekali lagi, daripada ide terbang entah kemana mending diketik ehehe :3 Niatnya ini memang bakalan dibuat jadi kumpulan drabble AU! HunKai super pendek dan gaje macam gini. Ide spontan, ngetikpun spontan.
Membuat drabble itu ternyata menyenangkan XD
Tak berharap banyak. Yang bersedia ninggalin review silahkan, beritahu pendapat kalian! Aku bakalan seneng. Tapi kalo engga pun ga papa. Its up you guys
