PELUK―
.
.
.
―Just Hunkai's Drabble.
.
.
.
Ada apa dengan hari ini?
Jongin sama sekali tak tahu ada apa dengannya hari ini. Yang ia tahu kesialan seakan membuntutinya sejak awal, sejak ia membuka matanya di pagi hari hingga saat ini. Bukan salah harinya. Ia sepenuhnya sadar jika semua kesialan yang terjadi pada dirinya adalah kesalahan dari perbuatannya sendiri. Hanya saja... ia butuh sesuatu sebagai pelampiasan untuk menyalurkan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Ya! Kau bisa melihat tidak!" ketusnya begitu merasa dirinya tersenggol oleh orang lain yang berjalan berarah berlawanan darinya saat melewati koridor. Padahal orang itu tak berbuat kesalahan yang besar―terkesan sepele dan bahkan ia sudah meminta maaf―tapi justru harus turut menjadi tempat pelampiasan kemarahan Jongin secara tidak sengaja. Semua hal, semua orang yang ditemuinya menjadi pelampiasan Jongin hari ini, asal tahu saja.
Mari aku beritahu kesialan apa saja yang tengah dialaminya.
Bermula dengan dia yang mengerjakan tugas hingga larut malam (tugas ini memang harusnya dikerjakan seminggu yang lalu) hingga ia ketiduran saat tugasnya belum selesai dan mengakibatkan ia harus bangun setengah jam lebih lambat dari biasanya (entahlah, alarmnya tiba-tiba mati atau ia yang tidur terlalu pulas) dan berakhir dengan ia yang mendapat ceramah pagi dari sang ibu―Oh, benar-benar ibu yang perhatian, sinis Jongin.
Tidak sampai di situ saja. Sepertinya semua hal sama sekali tak membantu Jongin, karena kemacetan itu membuatnya semakin terlambat. Dan baru saja ia menambah kecepatannya saat melewati tikungan―BANG!―motornya terjatuh dengan begitu mulus mengkuti gravitasi. Alhasil, kaki kirinya sukses mendapat hiasan baru. Luka lecet.
Sampai di sekolahpun kesialan itu sepertinya belum mau pergi. Ia telat―beruntung karena insiden jatuhnya ia membuatnya tak jadi menerima hukuman. Tapi... ternyata ia memang ditakdirkan dihukum hari ini. Karena tugas yang semalaman ia kerjakan hingga bergadang sama sekali tak ada dalam tasnya. Nihil.
Dengusan kasar kembali meluncur dari bibirnya. Ia melanjutkan jalannya tanpa mempedulikan wajah orang yang ia tabrak. Kakinya sakit, ia bahkan jalan terpincang-pincang. Kekesalannya semakin bertambah saat ia mengingat surat panggilan dari wali kelasnya untuk sang ibu. Ia tahu... ia akan digantung ibunya begitu sampai di rumah.
Jongin mengabaikan semua orang dan mendudukkan diri di pojokan ruang latihan tari klub dance itu, tepat di samping beberapa orang yang tengah membuat kerumunan kecil. Beberapa orang dalam ruangan itu memandanginya dengan heran begitu mendengar suara gedebuk keras kala ia menghempaskan dirinya di lantai.
"Kenapa de―?"
"Diam dan hanya abaikan aku," potong Jongin cepat. Membuang muka. Dengusan-dengusan kasar terdengar lagi.
Chanyeol, si penanya langsung bungkam. Ekspresi Jongin tadi benar-benar mengerikan. Dan berhubung ia tak sekelas dengan Jongin, ia tak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya itu sesuatu yang buruk melihat bagaimana cara Jongin berjalan dan luka di kakinya―yang hendak ia tanyakan tadi.
Luhan, salah satu dari mereka memilih menghela nafas saja. Ia mengerti itu tandanya Jongin tak mau diganggu. Dan ia cukup sadar untuk tak―
"YA, AMPUN! Kau kenapa, Kai? Ada apa dengan kakimu? Kau jatuh?" Baekhyun yang baru beberapa saat tiba bersama Kyungsoo langsung menembakkan pertanyaan beruntun sambil mendudukkan dirinya di hadapan Jongin dan memegang bekas lukanya. Luhan meringis, ingin sekali membekap mulut bawel Baekhyun dan membawanya menjauh. "Ini pasti sakit sekali... Kenapa bisa begini, sih? Harusnya kau lebih berhati-hati, Kai."
"...Baek."
"Kau tahu jika kontes menari kita sebentar lagi, bagaimana bisa kau malah terluka begini?" Baekhyun menggelengkan kepalanya dan memandang Jongin tajam, "Kau harus menjaga dirinya. Dan tidak boleh ceroboh, Kai. Kau tahu kan seberapa pentingnya fungsi kaki bagi seorang dancer―"
"...Baekhyun..."
"Aku rasa kau harus pergi ke dokter untuk diperiksa, Kai. Lukamu sepertinya par―LIHAT! ITU BERDARAH. Kai! Kau benar-benar ha―"
"BYUN BAEKHYUN! BISAKAH KAU DIAM?"
Baekhyun tersentak, begitupun dengan semua orang di sana.
Hening...
Jongin nampak memerah, menahan marahnya. "AKU SEDANG KESAL DAN KAU MEMBUATKU SEMAKIN KESAL! KAU TIDAK TAHU SEBERAPA BURUK HARI INI UNTUKKU JADI TUTUP MULUTMU DAN LAKUKANLAH SESUATU YANG LAIN. BERHENTI BICARA DAN JANGAN GANGGU A―"
Srrreeeet―GREP!
.
.
.
.
.
.
Seketika Jongin merasa suaranya menghilang begitu mengetahui seseorang menarik tubuhnya ke arah samping dan membawanya ke dalam sebuah pelukan tiba-tiba.
"...Kau yang harus berhenti marah-marah, Kai...," ujar sosok itu pelan. Tepat di telinganya.
"..."
.
.
.
.
.
.
Hening...
.
.
.
.
.
.
Jongin menghela napasnya.
Ia tak bisa melihat apapun. Karena sekarang wajahnya sudah sepenuhnya menelesak pada dada orang yang memeluknya.
...tapi setidaknya ia kenal aroma ini. Ini...
.
.
.
.
.
.
[ "Kau tahu? Berpelukan efektif menurunkan tekanan darah sekaligus risiko terkena penyakit jantung. Dapat menghilangkan stress dan rileksasi pikiran yang bagus untuk melatih kesabaran. Selain itu sebuah pelukan juga bisa mengubah suasana hati―sama halnya seperti cokelat. Tubuh akan menghasilkan hormon oksitosin. Ketika hormon oksitoksin ini dilepaskan ke otak maka akan menimbulkan rasa kepuasan, pengurangan kecemasan dan umumnya menjadi tenang―dan itu yang sedang kau butuhkan saat ini, Kai." ]
.
.
.
.
.
.
Ini...
...Oh Sehun.
.
.
FIN~
