TIDAK JELAS―

.

A HunKai's Drabble

.

Entah apa maksud dari dua kata itu, yang pasti bermakna negatif karena mengandung tidak. Pasti? Lalu apa itu pasti? Sama sekali tidak jelas.

"Sehun kamu bengong?"

Sosok yang dipanggil menoleh. Dia diam, meski tebakan orang itu tepat sekali kalau ia sedang terbengong. Bukan sepenuhnya bengong, berfikir lebih tepatnya. Memikirkan segala ketidakjelasan yang ada di sekitarnya. Di sekitar mereka.

"Kamu mikirin apa?" tanya sosok yang sama, ia sedang melakukan hal tak jelas di lantai. Tertawa-tawa sambil memegang ponsel sebelum kemudian menatap Sehun yang juga duduk, tapi di atas kursi. "Mikirin aku?" godanya.

Sehun mendengus. Itu juga termasuk, batinnya. Jongin―nama pemuda tadi―memang salah satu ketidakjelasan yang membebani pikiran Sehun sedari entah sejak kapan. Entahlah, ia sendiri benci dirinya yang menjadi lebih banyak berfikir mengenai hal-hal yang tak bisa ia jelaskan seperti ini. Tidak jelas sekali. "Bodoh," katanya.

Dan hening ruangan itu mengisi setelahnya, ditemani cengiran Jongin yang kini kembali bermain dengan ponselnya.

Apa yang sedang ia kerjakan Sehun tidak tahu. Tidak jelas. Tapi ia penasaran. "Kamu lagi apa?" Dengan nada cuek ia bertanya, tangannya sudah terlipat manis di depan dada dengan badan menyender sepenuhnya ke sandaran kursi.

"Smsan."

"Sama?"

"Krystal."

Sehun menggeram pelan. Lupakan, harusnya ia memang tak usah bertanya. 'Kan? Perasaan tak jelas kembali mengisi hatinya. Apa ini sebenarnya? Seperti cubitan tak kasat mata pada ulu hatinya. Nyeri. Dan tak jelas. "Oh."

Sehun mengambil ponselnya sendiri dan mengabaikan Jongin yang sebenarnya sedang menatapnya sekarang. Dengan pandangan yang tidak jelas apa maksudnya.

"Jangan cemburu gitu," kekeh Jongin sambil berjalan mendekat dan mendekati Sehun. Menempelkan bibir mereka sedetik. Berlutut di depan Sehun dengan cengiran lebarnya. "Krystal cuma nanya tugas. Aku ketawa gara-gara sms Chanyeol, tahu."

"Terus?" balas Sehun tidak jelas. Padahal dalam hati ia merasa perasaan tak jelas tadi hilang. Digantikan perasaan tak jelas lain. Yang kini terasa lebih menggelitik perutnya.

Jongin menggeleng, kecewa dengan respon Sehun yang terkesan tak peduli. "Kamu kayak yang marah."

Sehun menaikan alisnya. "Kenapa harus marah?" tanyanya sambil mendengus.

Jongin diam. Sadar sepenuhnya jika memang tak ada alasan yang mengharuskan Sehun marah sebenarnya, hanya karena hal tidak jelas begini. Dia bukan siapa-siapa Sehun. Kecuali sahabatnya sejak kecil. Dan menyadari hal itu, sekarang gantian Jongin yang merasa suatu perasaan tak jelas memenuhi hatinya. Serupa dengan yang Sehun rasakan tadi.

"Aku ga berhak marah 'kan?" tanya Sehun pelan. Sehun dengan sengaja membungkukkan badannya dan menempelkan bibirnya dengan milik Jongin yang masih diam. Cukup lama. Sebuah senyuman melengkung di bibirnya saat kembali ke posisinya yang sebelumnya. "Sekarang gantian kamu yang marah," goda Sehun.

Jongin yang sadar dirinya tengah digoda dengan cepat menjauhkan diri dengan wajah merah. "Sialan!" gumamnya.

Sehun tertawa nyaring dalam ketidakjelasan. Ah, ia dan Jongin memang tidak jelas. Hubungan mereka sama sekali tidak jelas. Dan apa yang mereka lakukan bersamapun terkadang tidak ada satupun yang jelas. Seperti ciuman tadi yang entah apa maksudnya.

"Siapa yang marah? Aku ga marah," kata Jongin cepat. Membela diri. Ia sudah membaringkan dirinya di ranjang Sehun, dengan kedua kaki menjuntai di samping ranjang. Matanya terfokus pada langit-langit kamar Sehun yang terwarna cat warna krem. "Aku cuma berfikir jika benar, kamu memang tak harus marah." Jujurnya dengan tidak jelas. Meski tak bisa dipungkiri ia kecewa. Entah karena apa. "Kita tak ada hubungan apa-apa, 'kan?" lirihnya. Tangannya terangkat, mencoba menghalau cahaya dari lampu di atas sana. "Dan saat aku sadar, aku hanya merasa... aneh."

Tidak jelas. Semuanya tidak ada yang jelas.

Meski begitu Sehun merasa dirinya mengerti benar. Ia bangkit dan membaringkan dirinya di samping Jongin dan meraih tangannya yang tadi terangkat, mengalihkan tubuh Jongin untuk menyamping, menatap ke arahnya. "Kita sahabat, Kai," katanya. Tangannya tergerak untuk mengelus pipi pemuda di depannya. Hal yang paling ia sukai, meski dengan alasan tak jelas.

Jongin diam. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium Sehun lagi, yang disambut Sehun. "Sahabat tidak berciuman seperti ini," desahnya. Ia lelah. Dan larut dalam kemengertian.

Sehun juga diam. Membenarkan dalam hati saat Jongin kembali mencium bibirnya.

"Kita bahkan sudah terlalu sering melakukannya," gumam Jongin sambil beringsut mendekat dan memeluk Sehun. Melingkarkan tangannya pada pinggang Sehun dan menelesakan wajahnya.

Sehun tersenyum, memeluk balik. "Mungkin... kita memang sudah lebih dari itu, Kai," gumamnya.

Dan semuanya tetap tidak jelas. Dan itulah yang menganggu Sehun sejak tadi.

Ketidakjelasan.

.

.

FIN~

.

Sebenarnya itu jugalah yang sedang kurasakan saat ini. Ketidakjelasan hubungan /ehcurhat/ Hasil setelah baca satu fic nih. Seperti biasa―absurd-_-v

Ahhh dan untuk Dioummanyafarhan, maaf jika keberadaan ini membuatmu tidak nyaman. Karena ini dibuat sepenuhnya hanya untuk kesenanganku semata. Oke, ini salahku juga yang tidak memberikan warning 'DLDR' di awal. Tapi... bisakah kamu abaikan saja jika tak suka?

Jujur kata-kata kamu yang '...Liat judulnya aja mau muntah' cukup―banyak―bikin aku nyelekit, berhubung HunKai adalah OTP aku :(( Tapi its oke, aku ga akan benci kamu karena apa yang kamu suka atau kamu ga suka. Semua orang punya hak memilih dan ini hanya tentang selera ;))