MILIKKU―
.
.
A HunKai's Drabble!
-Ai. Crack pair.
.
.
"Cut! Kerja bagus semuanya. Cukup untuk hari ini."
"Terimakasih atas kerjasamanya."
Semua member Exo mendesah lega sambil menghambur ke arah yang berbeda, membungkuk sambil mengucapkan terimakasih pada semua kru yang sudah bersusah payah. Hari ini hari yang panjang. Setelah pengambilan gambar yang cukup melelahkan di bawah terik matahari untuk drama video klip musik mereka, akhirnya mereka bisa beristirahat juga.
"Caaaapek."
"Setelah ini aku akan tidur hingga esok pagi. Mukaku pasti jelek sekali sekarang karena kelelahan. Aku butuh tidur..."
"Bukannya mukamu memang begitu ya? Hahaha."
"Kurang ajar kau!"
"HAHAHAHAH!"
"Aku lapar, hyung~"
Perbincangan mememani perjalanan mereka menuju ruang ganti. Terkesan ramai dengan celotehan tak penting dari beberapa orang. Sementara yang lainnya, yang merasa tidak cukup muda untuk bergurau begitu, hanya bisa geleng-geleng kepala dan tak mengatakan apapun. Semua bergerak cepat untuk mengganti pakaian mereka dan kembali berkumpul untuk makan bersama.
"Ayo, Kai!"
Kai mengangguk, tapi berteriak, "Duluan saja, hyung." Ia masih sibuk mengenakan gelang miliknya. Lagipula, ia ingin menata rambutnya dulu sebentar di depan cermin. Dengan sebelah tangannya ia menata rambutnya. Bukan dengan merapikannya, sebaliknya, malah mengacak-acaknya. "Iyap! Sudah." Jongin menyeringai menatapi dirinya yang sudah tampan dan berbalik, hendak menyusul yang lain. Tapi, ia tersentak mundur―
"S-sehun?" herannya. Ia melihat maknae grup mereka duduk di pojokan. Dalam diam. Menatapnya. Tajam.
Oow.
Jongin merasakan firasat buruk.
"Bagaimana? Menikmati peranmu, eh?" Sehun bangkit dari duduknya dan berbicara dengan nada menyindir yang terkesan dingin. "Pasti menyenangkan bisa dekat-dekat dan mencium pipi gadis itu 'kan?" Tangannya terlipat di depan dada. Dan pandangannya masih setajam tadi. Ah tidak-tidak. Ini bahkan lebih mengerikan. Jongin bisa melihat kilatan marah di sana.
"Sama sekali tidak." Tapi bukan Jongin namanya jika menampilkan kekhawatirannya begitu saja. Ia malah terdengar tenang, mencoba tenang. Ia tak takut dengan Sehun, hanya saja Sehun yang seperti ini terkadang membuatnya gugup.
Sehun berjalan mendekat. "Begitu?" tanyanya.
Jongin mengangguk cepat sebagai respon. Mencoba terus memberi jarak dirinya dengan Sehun yang terus melangkah ke arahnya. Hingga―duk!. Langkahnya terhenti akibat dinding di belakangnya. Sudah tidak ada jalan untuk menghindar. Karena kedua tangan Sehun memerangkapnya dengan dinding.
Meski jantungnya bertalu-talu di dalam sana. Dengan berani ia mendongak dan bertanya, "Apa?"
Sehun mendekatkan wajahnya ke sisi kiri wajah Jongin. Bernafas di sana, membuat Jongin merinding merasakan sensasinya. "Jangan main-main denganku, Kai." Ujar Sehun memberi peringatan. Dengan nada sedikit mengancam.
"Apa maksudmu?" Jongin merutuk suaranya yang sedikit gemetaran saat mengatakan itu.
"Kau milikku, tahu." Tegas Sehun. "Dan sekarang aku jadi harus repot membersihkan mulutmu yang sepenuhnya milikku itu."
"Oh, ya?" tantang Jongin.
"Iya."
Jongin menyeringai, mulai mengerti. "Siapa bilang?" tantangnya.
"Aku."
Sehun mengangkat wajahnya dari tempat semula dan menatap Jongin. Wajah mereka terlalu dekat. Dengan dahi dan hidung menempel, serta bibir yang hanya terpisah beberapa centi. Mereka bahkan bisa merasakan nafas panas dari yag lain saat itu.
Jongin menarik keluar seringai maut miliknya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun. Menarik sosok itu untuk lebih merapat pada dirinya. "Kau percaya diri sekali tuan Oh."
"Memang."
"Sepertinya aku berhasil mengajarimu ya?" Jongin tertawa nyaring.
Sehun mengabaikan itu. Mendengar tawa Jongin yang seperti itu terasa menyenangkan baginya.
Dan setelah itu jarak diantara kedunya benar-benar lenyap. Terpangkas sempurna dengan tubuh keduanya semakin merapat. Satu sentuhan anggota tubuh itu mengawali segalanya. Sensasi menyenangkan mulai mereka rasakan. Entah siapa yang berinisiatif untuk melakukannya pertama kali. Yang jelas keduanya terlalu menikmati. Jongin tersenyum di sela ciuman mereka untuk mengambil nafas.
"Kau mencium gadis itu berulang-ulang. Kau sengaja?" selidik Sehun dengan nada menuduh. Ia kesal. Tentu saja. Dan Sehun kemballi mencium bibir itu dengan penuh minat. Memberikan hisapan pada bagian atas dan bawah secara bergantian.
Jongin malah tertawa dan mendorong Sehun pelan. "Kau imut saat cemburu," godanya.
"Kau bercanda?" Sehun menyangkal, meremehkan perkataan Jongin. Ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jongin dan menghisapnya layaknya vampire. Memanfaatkan fungsi lidahnya dengan maksimal. Menyapu perlahan setiap inci kulit itu dengan senang hati, menarik keluhan erangan yang terdengar begitu menghiburnya dari sosok dalam rengkuhannya. "Kau yang imut. Saat kau dengan wajah merah dan mengerang di bawahku―Aduh!"
Jongin memukul kepala Sehun tanpa perasaan. "Aku engga imut! Aku sexy!"
Sehun mengusap kepalanya yang sakit sambil terbahak.
Jongin menyipitkan matanya, memandang Sehun kesal. Tapi setelah sedetik, ia pun langsung mengganti ekspresinya dan ikut terkekeh. Mereka ini memang aneh. Jongin menaikkan sebelah tangannya untuk melingkari leher Sehun. "Aku grogi, tahu." jujurnya. Jongin memajukan wajahnya dan mengajak Sehun untuk ciuman yang lain. "Seandainya saja aku disuruh menciummu."
Sehun mendengus begitu ciuman mereka terlepas. "Kau tahu, Kai? Kadang aku menyesal menjadi seorang artis. Masa aku harus rela melihat pacarku mencium gadis lain di depan publik begitu?" ketusnya. Ia memainkan rambut Jongin saat mengatakannya.
Jongin menyeringai mendegar penuturan jujur Sehun. "Kalau kau tak menjadi artis, mungkin kau malah akan menjadi fansku."
Sehun menatapnya tajam tapi berujar, "Mungkin iya."
"Aku tahu aku ini terlalu tampan!" Jongin bersmirk riang.
Sehun tertawa melihat ekspresi lucu itu hingga matanya menutup membentuk lengkungan garis.
Membuatnya sedikit lengah dan―
Seeeet
Membuat Jongin memiliki kesempatan untuk kabur dari kekangan Sehun dan berjalan ke pintu.
Sehun melotot. "HEEEII!"
Jongin berbalik dan menyeringai seksi. "Sekali-kali tidak apa-apa 'kan? Toh kau bahkan bisa mendapatkan lebih dari itu setiap malam." Dan Jongin pergi dengan cepat. Kabur.
.
.
.
.
.
.
Meninggalkan Sehun, yang menyeringai senang.
"Kau benar, Kai."
Dengan segala pemikiran mesumnya untuk malam ini.
"Kau memang hanya milikku."
.
.
.
.
.."CEPAT SEDIKIT, SEHUN!"Itu ajakan untuk makan atau...?
FIN~
