Berlari Pulang
.
Just a HunKai drabble
.
Lari adalah sebutan untuk aktifitas menggerakkan kaki secara cepat. Dan demi apapun, Oh Sehun tidak menggemarinya. Bahkan bisa dibilang, membencinya. Benci sekali. Baginya, lari itu terbukti ampuh membuat lelah. Efektif menghasilkan peluh. Dan sukses membuat kaki pegal.
Sebut ia manja. Sebut ia tidak gentle. Sebut ia kurang laki. Atau sebut dia apapun yang kalian ingin mengatai dia. Itu takkan merubah apapun. Toh pemuda berkulit pucat itu takkan ambil pusing. Baginya, keselamatan kulitnya yang mulus–semulus pantat bayi–itu lebih urgent. Lebih dari apapun.
Salahkan orang tuanya yang terlampau kehabisan ide untuk membelanjakan uang mereka dan berakhir dengan membeli beberapa buah mobil dan motor yang senantiasa terparkir cantik di garasi rumahnya. Membuatnya jadi jarang menggunakan kakinya untuk melakukan aktifitas itu.
Ah, jangankan berlari, berjalanpun terkadang enggan.
Waktu yang tepat untuk melihat Sehun berlari adalah saat jam pelajaran olahraga. Dan itu waktu yang langka karena ia lebih suka bolos.
Ia anak rumahan, yang lebih suka dengan kegiatan yang tidak memerlukan banyak energi dan bisa dilakukan dalam ruangan. Berbeda dengan Jongin. Sehun percaya jika sahabatnya itu adalah anak hutan. Positif. Lihat saja kulit kecoklatan terbakar mataharinya.
'Kau pasti benar-benar keturunan vampire, Hun. Aku yakin.' Adalah kalimat yang pasti ia dengar saat dirinya mulai mengeluh tentang siang hari di musim panas, saat matahari bersinar begitu kejam. (Iya. Dia bahkan sudah bosan dengan ucapan sahabat karibnya itu, hingga hafal di luar kepala.)
Tidak heran sih. Ia memang tampan sekali. Bisa dibilang sebelas duabelas dengan Edward Cullen. Terlebih kulitnya pucat, dan sensitif. Tidak bisa terlalu lama terkena sinar matahari. Tidak boleh sedikit saja terhias peluh. Tidak boleh. Karena jika iya, maka kulitnya itu akan berubah kemerahan, iritasi, dan berakhir dengan dia yang jadi tidak tampan lagi. Mana mau?
"Aku tahu kau akan mau juga pada akhirnya," goda Kai.
"Hm."
"Ayolah, maafkan aku. Lagipula ini akan menyenangkan. Jangan diam terus, Hun," ujar Jongin sambil menarik lengan kemeja seragamnya.
Sehun tidak tahu kenapa Jongin akhir-akhir menjadi begitu sering merengek padanya. "Hm," balas Sehun datar sambil terus berjalan perlahan. Ini baru beberapa menit dia berjalan dan kakinya sudah pegal. Ia mendongak dan sinar langsung menerpa kulit wajahnya. Beruntung ia memakai topi. Matahari di jam seperti ini sangat tidak baik untuk kesehatan kulit.
"Ya, aku kan hanya ingin memberimu pengalaman baru," kata Jongin. Mencoba menghibur.
Dengusan kasar terdengar. "Jika yang kau maksud pengalaman baru itu adalah 'menemanimu berjalan pulang karena mobilmu yang tiba-tiba mogok di tengah jalan' sepertinya lebih baik tidak usah," ketus Sehun, sama sekali tidak merasa terhibur. Ia menyesal menyetujui ajakan pemuda itu untuk pergi bersama hingga ia tidak bawa mobil. Dan berakhir dengan berjalan pulang menuju halte bus terdekat. Yang ternyata tidak sedekat itu. Sehun hanya merutuki kenapa ponselnya dan ponsel Jongin harus sama-sama mati di saat begini.
"Jangan salahkan aku. Aku tidak tahu mobilku akan mogok," elaknya.
Dan Sehun memilih tak peduli.
"Hun…"
"…"
Jongin mencoba menarik lengan kemeja Sehun. "Sehun. Setidaknya katakan sesuatu."
"Hm."
Jongin menghentikan langkahnya dan memandang Sehun yang terus berjalan dengan kesal. Ia sudah minta maaf berkali-kali dan pemuda itu terus mengacuhkannya. "Sehun!" panggilnya. Tapi pemuda itu tidak berbalik dan terus berjalan seakan tidak mendengarkan apapun.
Kesal.
Jongin mencibir dan pandangannya jatuh pada batu kerikil yang berada diantara sepatunya. Ia memungut satu, yang paling besar. Ia melemparnya dengan kekuatan penuh dan ia yakini akurasi tepat ke depan dengan penuh kekesalah. Ia tersenyum, menjulurkan lidahnya keluar dengan tidak sabar karena yakin jika lemparannya pasti akan mengenai Sehun dan membuat sosok itu berhenti. Tapi, tepat saat batu itu akan menimpuk kepalanya, Sehun refleks berjongkok untuk mengikat sepatunya. Membuat batu kerikil itu melewati kepalanya dan melayang lebih jauh. Hingga―
Wuiiinggg~
Puk
Mata Jongin melebar. "Ups," katanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"KIM JONGINNNNNNNN, KAU BENAR-BENAR BODOOOHHH!"
"AKU TIDAK BODOH, SEHUUUUUNNNNN!"
"KALAU TIDAK BODOH KENAPA KAU BISA MELEMPAR KERIKIL SEMBARANGAN, HA?"
"AKU TIDAK SENGAJA!"
"KAU BODOH! BODOH! YAAAAA!"
"UWAAAA!"
"AWAS!"
DUAK!
Jongin dan Sehun berhenti tepat di depan tumpukan kotak-kotak yang sukses mereka dorong dengan tangan hingga isinya berhamburan. Mereka berdua menatap kekacauan itu dengan horror sebelum menoleh ke belakang dan mendapati orang-orang itu masih mengejar mereka.
Mereka saling pandang kemudian dan berteriak bersamaan,"TERUS LARIIIIII!"
"UAAAAAAA!"
Suasana jalanan yang dipenuhi pedagang kaki lima dan para pejalan kaki yang menikmati sore mereka terusik dengan teriakan-teriakan itu. Tak sedikit dari mereka menghentikan sejenak pekerjaan dan menonton dengan antusias dan penasaran berlebih adegan itu. Menatap dua anak sekolah menengah atas tengah lari terbirit-birit dengan beberapa orang yang mengikutinya.
"BERHENTI KALIAN BOCAH! KEMARI!"
Bukannya menurut, langkah mereka malah semakin cepat. Siapa pula yang mau berhenti dan berhadapan langsung dengan sekumpulan preman dengan batang kayu yang siap melayang di tangan mereka. Ugh, tidak terimakasih. Mereka lebih memilih berlari lebih cepat dan menyelamatkan nyawa mereka. Sehun hanya bisa mengumpati Jongin yang kenapa bisa dengan ceroboh melempari pemimpin preman dengan kerikil.
"Kanan-kanan-kanan!"
Keduanya berlari mengambil arah kanan dari belokan. Lengan keduanya tertaut, membuat mereka tidak bisa lari ke arah yang berbeda.
"INI JALAN BUNTU, KAI!" umpat Sehun, mendapati jalan mereka terhadang pagar besar berduri. Tak ada jalan lain.
Panik. Panik. Panik.
"Kita harus kembali kesana!"
Jongin sudah akan kembali berlari saat Sehun menahan tangannya dan menariknya pada salah satu sudut gelap di balik tumpukan plastik yang menutupi mereka. Nafas keduanya sudah hampir habis.
"Bagaimana kalau kita tertangkap Sehun?!"
"KEMARI KALIAAAAAAAN!"
Sehun merapatkan tubuh mereka pada dinding dan tumpukan plastik itu. Sebisa mungkin menjadi tidak terlihat.
"Diam, Kai!"
"Tapi mereka semakin dekat!"
"Tenang sedikit! Jangan teriak-teriak!"
"KAU YANG BERTERIAK, BOD―HMPPP HMPPPHH!"
Dan Jongin tidak pernah menyelesaikan kalimatnya itu karena Sehun sudah menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari itu mereka selamat―dengan kondisi mengenaskan, tentu saja.
Sehun harus mendatangi dokter kulit karena iritasi keesokan harinya dan bersumpah tidak mau 'berlari pulang' lagi bersama Jongin apapun alasannya. Sementara Jongin harus rela menjadi slave Sehun untuk waktu yang tak ditentukan untuk sekedar mendapat sebuah kata 'maaf' darinya.
Ya. Begitulah.
FIN~
Thanks to:
Xiuxiu Lu, putrifibrianti96, thiefhanie. fhaa, luhansgirlorz, ChoYeongie, myungkai, Jongin48, LM90, Kiyomi Fujoshi, GaemGyu92, maia. vierr, askasufa, saya. orchestra, Woles, QIP
