Selalu seperti itu
.
―HunKai Drabble
.
Pagi hari dan Jongin sama sekali tidak akur. Lebih tepatnya Jongin yang selalu cari masalah karena membiasakan bangun terlambat (setelah bergadang semalaman bermain PS). Pagi hari adalah musuh terbesar Jongin, apalagi jika itu adalah hari Senin, di mana anak-anak sekolah seusianya diminta datang lebih pagi lagi untuk upacara. Pagi dan senin itu kombinasi paling buruk. Penganggu ketenangan tidur paling ampuh. Apalagi jika sudah dilengkapi dengan omelan sang ibu.
"Jongin, cepat sedikit! Sehun sudah menunggumu dari tadi!" Itu adalah teriakan yang sudah ia dengar sepuluh kali pagi ini. Dari nyonya Kim, yang berada di lantai bawah, tapi menggeleggar hingga kamar Jongin yang ada di lantai dua.
"Sebentar lagi eomma!" Sementara itu adalah jawaban Jongin, yang sudah ia lontarkan sepuluh kali pagi ini. Dan mungkin bisa jadi lebih banyak karena dia tidak yakin 'sebentar lagi'-nya itu akan selama apa. Masalahnya ia lupa menaruh buku pelajarannya hari ini dan sedang sibuk mencarinya. Itu tidak akan mudah, mengingat kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.
"Jongin!"
"Sebentar!"
"Kau sudah mengatakan itu sebelas kali! Cepat turun atau akan eomma bakar semua kaset PS-mu itu!"
Itu alarm peringatan bahaya di telinga Jongin. Jongin mengedarkan pandangan dengan panik. "Ya, eomma! SEBENTAR LAGI!" Setelah memasukkan asal saja semua buku yang ia lihat dan bisa ia raih, Jongin turun dengan tergesa.
Bisa dia lihat wajah mengerikan ibunya, dengan centong di tangannya saat ia mendekat. Dan―Puk!―Jongin merasakan kepalanya berdenyut mendapat pukulan sayang sang ibu.
"Aku tidak punya anak malas sepertimu, Jongin!" ujar sang ibu sadis.
Ibunya pasti marah karena ia tidak sempat memakan sarapan yang telah ia siapkan. Dan Jongin merasa sedikit menyesal. Tapi itu ia abaikan. Membalas hanya akan membuat dia semakin terlambat. "Aku pergi, eomma!" pamit Jongin, hanya nyengir lalu mencium pipi ibunya sebelum secepat kilat menuju pintu. Setiap pagi, selalu seperti itu.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau suka sekali membuatku menunggumu, HA?"
Suara ketus itu sama sekali tidak membuat Jongin terkejut saat membuka pintu rumah. Mendengar suaranya yang khas itu saja, membuatnya bisa menebak dengan sangat yakin siapa itu. Sehun. Jongin sudah biasa dengan sapaan pagi seperti itu dari Sehun di depan rumahnya seperti ini.
"Lelet," ejek pemuda pucat itu. Wajah pucatnya sudah mengerut menahan kesal. Ia memperlihatkan jam di tangannya, "Kau membuatku menunggu setengah jam!"
Lalu kenapa tidak pergi duluan saja? Adalah pertanyaan yang selalu Jongin tanyakan dalam hati tentang Sehun. Pemuda itu selalu menunggunya di depan rumah tak peduli berapa lamapun Jongin terlambat, meski berakhir dengan mencak-mencak kesal. Ia ingat Sehun bahkan pernah menungguinya hingga akhirnya membolos karena tidak tahu Jongin demam dan tidak akan pergi sekolah pagi itu. Dan pada akhirnya Sehun malah datang dan merawat dan menungguinya seharian karena ia sendirian di rumah.
Dan Jongin hanya bisa memberikan senyum tanpa dosa dan tidak merasa bersalah lalu berlari mendekat, menempatkan diri di boncengan belakang sepeda Sehun dan memegang kedua bahunya.
"Selamat pagi juga, Hun," balasnya tidak nyambung.
Sehun berdecak dan mulai mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh untuk menyelamatkan pagi mereka. Selalu seperti itu.
.
.
.
.
.
.
CKIIIITTTT
HAP!
Jongin meloncat dari tempatnya berdiri di boncengan sepeda begitu sampai di sekolah. Kawasan itu sudah sepi, dan itu tandanya mereka terlambat. Atau terlambat sekali sepertinya.
"Kita terlambat, Hun," kata Jongin.
Dan coba tebak? Pengumuman tidak penting itu malaah membuat Sehun yang sedang berjongkok mengunci sepedanya berdecak kesal. Tentu saja. "Semua ini gara-gara kau, tahu," tuding Sehun cepat sambil berdiri begitu selesai dengan kegiatannya. "Ayo!" Ia menarik tangan Jongin untuk berlari bersamanya melewati halaman sekolah, otomatis membuat mereka berpegangan. Dalam hati Sehun berdoa agar tidak ada guru piket yang melihat dan memergoki mereka saat ini. Ia sudah cukup pengalaman mendapat hukuman tiap pagi gara-gara menunggui Jongin.
"Hehe." Dan Jongin hanya bisa terkekeh tanpa dosa begitu. "Maaf."
Sehun memutar mata bosan. Ini terjadi setiap hari seperti siklus. Sehun sendiri tidak tahu apa yang membuatnya merelakan diri untuk repot-repot seperti ini tiap paginya. Tidak mungkin hanya karena ingin berlari bersama Jongin ke kelas karena terlambat sambil bergenggaman tangan 'kan? Ya, itu tidak mungkin sekali. Tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin. "Ck. Aku tidak mau menungguimu lagi lain kali," ketus Sehun dengan serius tanpa menoleh. Sambil berjalan lebih cepat tanpa melepas tangan Jongin.
Tapi Jongin malah tersenyum lebar, dan berlari untuk berbalik menarik Sehun kali ini.
Ia tahu, meski Sehun bilang begitu, pemuda itu pasti masih akan menunggunya besok. Dan besoknya lagi. Selalu seperti itu.
.
.
.
.
.
.
Genggaman tangan terlepas begitu sampai di koridor kelas mereka. Jongin dan Sehun memang berbeda kelas. Membuat mereka harus berpisah begitu kelas Sehun terlewati.
"Kau harus membelikan aku bubble tea sepulang sekolah nanti karena membuatku terlambat lagi. Awas saja kau!" ancam Sehun sebelum masuk terlebih dulu dalam kelasnya.
Dan Jongin hanya bisa mengangguk, meski Sehun sudah hilang di balik pintu dan tidak melihat. Ia tersenyum lebar mendengar kalimat perpisahan Sehun. Meskipun kalimat itu diucapkan dengan nada ketus begitu, Jongin tahu dengan jelas makna dibaliknya.
Sehun hanya sedang mengajaknya untuk pulang bersama. Seperti kemarin. Dan kemarinnya lagi.
"Dasar…," gumam Jongin, sambil tersenyum.
Selalu seperti itu.
.
.
.
.
FIN~
Thanks to:
, Keepbeef Chiken Chubu, Sapphire Zells, NAP217, putrifibrianti96, Xiuxiu Lu, nadia, Deerraa, snowflakessi, theAKTF, saya. orchestra, GaemGyu92
\(n,n)/
