Valentine―
―Just a HunKai drabble
.
.
Sehun merasa bodoh. Merasa menjadi orang bodoh yang paling menyesal di dunia.
Harusnya ia menutup rapat telinganya dan tak usah mendengarkan semua bujuk rayu tak mutu yang berisi omong kosong dari si berisik Baekhyun dan pacarnya yang tiang listrik itu. Harusnya ia teguh pada pendirian awalnya yang sudah jelas benar. Bukannya melakukan hal konyol macam ini…
"Apa yang aku lakukan di sini?" tanya Sehun pada innernya sendiri. Merasa sedikit frustasi.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengunjungi rumah Jongin di malam Minggu. Itu sudah biasa. Tapi yang menjadi masalahnya sekarang adalah; apa sebenarnya tujuannya berada di sini―tepat di depan pintu rumah Jongin―dengan setelan tuxedo dan buket bunga serta cokelat di tangannya?
APA YANG DIA LAKUKAN, DEMI TUHAN! ASDFGHJKL―
Oh, iya. Ini 'kan Valentine. Bukannya hal lumrah jika seorang pacar mengunjungi pacarnya, memberinya cokelat dan bunga sambil bertukar kata sayang di hari kasih sayang? Itu terdengar sangat romantis. Sayangnya hubungannya dan Jongin 'kan tidak normal. Sehingga seringkali hal romantis itu malah jadi hal yang terdengar menggelikan di telinga mereka.
Oh, sial. Sehun sakit kepala. Haruskah dia pulang sekarang?
Kalau bukan karena desakan dari Suho, Luhan, dan bahkan Kris yang mendukung usulan si happy virus couple. Dia tak akan mau melakukan hal konyol begini.
Jongin pasti akan menertawainya.
"Pffftt―"
Snut.
Alis Sehun berkedut.
Tebakannya memang selalu tepat sasaran, semacam prediksi seorang peramal professional. Pupus sudah semua niatnya untuk pulang dan melupakan semuanya. Karena Jongin kini sudah ada di hadapannya. Tadinya berbaik hati membukakan pintu, tapi berakhir dengan tangan menutupi mulut menahan tawa setelah melihatnya.
"Jangan ketawa," ketus Sehun. Wajahnya merah dan ia membuang mukanya ke samping. Ia merasa semakin bodoh. Apalagi saat Jongin sudah tidak tahan dan melepaskan tawanya yang begitu keras dan puas sambil memegangi perut.
"Hahahaha… Sehun, lihat tampilanmu. Hahahaha…"
Sudah dia bilang 'kan? Ide ini ide buruk. Sial. Sial. Sial.
"Kau… kau mau melamarku? Hahahaha…"
Sehun memang terlihat seperti seseorang yang akan melamar dengan tampilan formal begini. Tadinya ia juga tidak mau. Ini bukan style kesehariannya yang biasa memakai kaos oblong dan celana jeans. Tapi Baekhyun memaksanya. Dia sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya menurut. "Diam, atau aku akan memukulmu dengan sepatuku," ancam Sehun sadis.
"Wajahmu merah Sehun! Hahahahaha!" Tapi Kai masih terlalu memanggap hal ini lucu sehingga sulit berhenti dengan tawanya dan mengabaikan ancaman Sehun.
Sehun memutar bola matanya jengah. Tawa Jongin itu terdengar mengejeknya. "Dan wajahmu tidak putih, omong-omong." Sehun menyeringai saat mengatakannya. Ia berlalu melewati Jongin dan masuk ke dalam tanpa dipersilahkan.
Kai cemberut. Dia langsung menghentikan tawa dan menatap Sehun kesal, mencibirnya. Ia selalu sensitive dengan bahasan mengenai warna kulit. Sehun tahu pasti. Matanya terpicing, "Kau mau mulai denganku, Tuan Albino?"
"Kau yang memulainya, Tuan Kkam."
"Begitukah…" Kai menatap Sehun dan menyeringai, sengaja menggantungkan kalimatnya, "…Princess?"
Kali ini Sehun yang berbalik dan mendesis sebal. Ia tidak suka dengan sebutan itu! Jongin tahu dengan pasti.
Ya… Beginilah. Hubungan keduanya memang tidak akan jauh-jauh dengan segala macam tindak kekerasan dan saling ejek-mengejek yang tidak penting. Kado valentine sama sekali tidak masuk list 'kan?
Keduanya berpandangan tajam selama beberapa saat, sebelum menghentikannya karena sama-sama menganggap perdebatan tadi itu perdebatan yang konyol. Perdebatan konyol mereka yang entah sudah keberapa kalinya sejak mereka pacaran. Omong-omong, Sehun sendiri tidak ingat alasan kenapa dia bisa sampai pacaran dengan Jongin. Itu pasti terjadi saat ia sedang tidak sadar. Pasti.
"Kau mau mengajakku kemana dengan tampilan begitu? Dinner?" Jongin menggoda dengan menaikkan sebelah alisnya, "Aku yakin itu di sebuah restoran Francis dengan lilin-lilin di atas meja. Benar?"
Oh sial. Dari mana dia bisa tahu? Batin Sehun. Apa rencana yang Baekhyun buat untuknya begitu cliché dan semudah itu ditebak? Sehun merasa kehilangan muka, ingatkan dirinya untuk mencekik Baekhyun lain kali.
Tidak, tidak. Sehun harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan harga dirinya.
"Aku tahu ini Valentine, tapi aku tidak menyangka kau akan repot-repot memberiku cokelat dan bunga. Aku suka cokelat tapi aku bukan perempuan dan tidak suka bunga. Harusnya kau tahu," seru Jongin sambil mengambil dua benda itu dari tangan Sehun. Ia terdengar begitu senang. Senang karena bisa menggodai Sehun. "Kalau begitu aku harus ganti baju." Jongin berbalik dan hendak pergi.
"Jongin―"
Tapi sebelah tangannya dipegang Sehun, membuatnya berhenti dan berbalik.
Sehun mendekatkan wajahnya yang entah kenapa terlihat begitu serius kali ini. Sehun menatapnya dalam dan lama hingga membuat Jongin canggung. Perlahan… sedikit demi sedikit ia memajukan wajahnya hingga begitu dekat.
"Jongin…"
Jongin menutup matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau kegeeran. Aku tidak akan mengajakmu dinner, tapi pergi ke pesta keluargaku." Sehun menyeringai senang. Alasannya terdengar meyakinkan. "Lagipula cokelat dan bunga itu bukan untukmu―tapi untuk kedua noonamu."
Dan Sehun tidak bisa tidak merasa puas saat melihat ekspresi Jongin setelah itu. 1 – 0, untuk kemenangan Sehun.
Pada akhirnya memang tidak akan ada hal romantis yang terjadi di hari Valentine untuk mereka berdua. Tidak. Akan. Pernah. ada.
FIN~
Pendek dan tidak jelas hahaha~ Sekarang bahkan udah masuk Maret dan Valentine udah lewat lama, maaf gabisa update, karena lagi benar-benar banyak tugas
Thank's to:
GaemGyu92, Keepbeef Chiken Chubu, etinprawati, maia. vierr,Penghulu kaisoo, thiefhanie. fhaa, dumbsekai, ika. zordick, ichigo song, NAP217, ayumKim,liluluboo, Xiuxiu Lu, cha yoori, theAKTF, saya. orchestra, sehunnoonab arlen-chan, kim. chadel, QIP, LM90.
.
REVIEW?
