Jongin menggerutu. Ia baru saja mendapat insiden tabrakan dengan sosok tak dikenal. Bukan salahnya, karena jelas-jelas ia sedang berdiri menunggu lampu berubah untuk menyebrang. Orang itu yang salah karena terlalu sibuk dengan ponsel dan cup minuman di tangannya sehingga menabraknya dari belakang.
Sial, bajunya basah.
"Hei!" desisnya kesal, siap membuka mulut untuk memaki siapapun orang itu. Jongin mendongak, "Kau punya mat―"
"…"
Sosok itu menatapnya dengan bingung. Dia sendiri bingung kenapa dia malah jadi terbengong begini?
Tangan sosok itu terulur menyodorkan sebuah sapu tangan. "Maafkan aku," katanya. Tahu-tahu sudah melemparkan senyum saja.
Jongin menerima sapu tangan itu kaku, "A-ah, iya…"
.
Selingkuh?
Just HunKai Drabble
.
Brak.
Pintu terayun keras. Jongin menyandarkan punggungnya di daun pintu yang tertutup dan tiba-tiba saja tersenyum seperti orang bodoh. Ia menaruh tasnya di atas meja dan masih tersenyum bodoh. Ia berjalan ke kasur dan merebahkan diripun masih dengan senyum bodohnya.
Ya ampun. Ada apa dengan Jongin?
"Kau kenapa sih?"
Jongin tersentak bangun dengan cepat dan menoleh mendapati orang lain di ruangan itu. "Sehun!" Ia memasang tampang terkejut bercampur heran yang berlebihan. "Sedang apa kau di kamarku!?"
Sehun yang sudah heran menjadi semakin heran saja, "Apasih?" Sehun duduk di kursi depan meja belajar dan memutar kursinya untuk menghadap Jongin, yang masih menatapnya dengan ekspresi terkejut berlebihannya, "Apa? Kenapa menatapku begitu?"
"Ck." Jongin kembali rebahan, ia jelas sedikit kesal, "Mana bisa kau masuk ke kamarku tanpa izin seperti ini, ha?"
"Biasanya juga begitu 'kan?"
Memang benar. Tapi entah kenapa untuk kali ini Jongin merasa kesal. Jadi dia hanya mendengus.
Sehun mengangkat bahu.
"Kau pergi ke mana?" Sehun menatapnya penuh selidik, sedikit tatapan intimidasi plus nada curiga yang sampai dengan begitu baik ke telinga Jongin, "Kukira kau pulang karena kau bilang pada Kyungsoo-hyung kurang enak badan tadi."
"Iya, kok," balas Jongin cuek, sibuk memainkan ponsel. Terlihat sekali tidak mau terlibat perbincangan lebih jauh. Dia membalik tubuhnya memunggungi Sehun. Dan mulai tersenyum bodoh lagi saat sebuah pesan sampai di ponselnya.
Sementara itu Sehun merasa cukup kesal karena diabaikan. Tapi dia tidak bicara lagi, mulai menggumam beberapa kalimat gerutuan yang gatal ingin keluar dari mulutnya.
Rasanya aneh. Biasanya keduanya tidak akan tahan saling berdiam diri barang semenit. Mereka akan lebih banyak berdebat dan saling berteriak mengenai sesuatu yang tidak penting. Tapi itu bahkan lebih baik dari saling berdiam diri begini.
"Aku pergi beli kaset game dulu tadi," kata Jongin, memberikan jawaban setelah sekian lama diam. Sehun menoleh, melihat Jongin duduk lalu turun dari kasurnya. "Tumben kau nanya," lanjut Jongin dengan nada sinis. Berlalu ke arah kamar mandi, jelas sekali jika dia menutup pintu itu dengan sedikit lebih keras.
Sehun membeku.
"Bagaimana kabar Tao-ge? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Jongin saat keluar kamar mandi. Jongin memandang Sehun dengan ekspresi jahil dan sebuah seringai. "Kalian semakin dekat ya, akhir-akhir ini." Itu sarkasme. Jelas.
Sehun menatapnya setengah jengah, setengah memelas. "Kai, ayolah…" Ia benar-benar agar Jongin tidak usah acara ngambek terselubungnya ini. Ini membuatnya sedikit frustasi, kalo boleh jujur.
"Omong-omong, kau tidak menemaninya latihan lagi? Tumben." Jongin berujar tenang. Berjalan melewati Sehun menuju rak komik koleksinya dan menarik satu secara asal. Dia tidak benar-benar ingin membaca sekarang, hanya butuh sesuatu untuk mengalihkannya dari berbicara, menatap atau bahkan memaki Sehun jika ia sudah tidak bisa menahan kekesalannya nanti. Akhir-akhir ini perbincangan mereka memang selalu berakhir dengan pertengkaran.
Mata Sehun mengikuti setiap gerak-gerik Jongin hingga pemuda itu duduk di lantai menyandar ke ranjang, "Kukira bahasan ini sudah selesai."
"Apa? Bahasan apa maksudmu?" Jongin pura-pura tidak peduli dan terlihat sibuk membaca, tapi sayang sepertinya dia tidak bakat berakting. Dia sedang kesal dan Sehun bisa melihat itu dengan pasti. "Bahasan tentang kau selingkuh dengan Tao-ge, maksudmu?"
Mendengar kalimat itu membuat Sehun merasa sesuatu menendang ulu hatinya dengan telak. Dan keras. Ya, ampun. Rasa bersalah bahkan lebih buruk dari semua hal yang ia takuti di dunia ini, pikirnya. Jongin sedang mulai lagi dengannya dan ini yang tidak ia suka. Memang siapa yang suka jika harus merasa dipojokkan begini? Apalagi jika yang dibahas adalah hal yang paling ingin kalian lupakan. Sehun menghela nafasnya, ekspresi dinginnya berubah memelas tapi Kai tidak melihatnya. "Kai, aku sudah minta maaf tentang itu, oke?"
"Hm. Anggap saja aku juga sudah memaafkanmu," balas Jongin cuek.
Sebuah persimpangan siku muncul di dahi Sehun.
Asdfghjkl. Apa maksudnya 'anggap'? Jadi… status Sehun masih dipertanyakan disini?
Oke, ini bukan pertanda baik karena ini bahkan sudah lewat dua minggu dan Jongin sepertinya masih senang sekali mengungkitnya. Aduh, Sehun merasa sakit kepala. Dia bahkan mulai memaki-maki dirinya sendiri di dalam hati betapa brengseknya dirinya. "Kai, aku benar-benar menyesal―"
"Hm."
"―aku tidak akan mengulanginya la―"
"Dulu juga kau bilang begitu."
"Hah?" Sehun memasang tampang bodoh yang tidak tampan, "Apa mak―"
Jongin menoleh, menuding Sehun dengan telunjuknya, "Saat kau selingkuh dengan Luhan-hyung juga kau bilang begitu."
Telak. Kau kena telak, Oh Sehun.
"A-ah. Itu―"
"Dan jangan lupakan juga Yixing-hyung. Kau juga pernah berselingkuh dengannya 'kan? Kau bahkan menciumnya di depan semua orang," potong Jongin cepat, berbaik hati mengingatkan. Yang sayangnya kenapa harus tepat sasaran dan tanpa basa basi begitu.
"Kai…." Sehun meringis, merasakan keringat dingin turun dari dahinya. God. Dia merasa sudah ditembak mati di tempat. Baik, bunuh saja dia sekarang. Sehun turun dari kursi dan duduk di tepat di samping Jongin. "Aku menyesal oke? Maafkan aku. Kali ini aku benar-benar tidak akan mengulanginya lag―"
"Hm." Jongin kembali mengacuhkan Sehun dan mulai membaca komiknya lagi.
Sehun tidak berbicara lagi dan mulai berfikiran untuk terjun bebas saja dari lantai 50 jika sampai Jongin tidak mau memaafkannya. Oke, ia tahu ia salah. Ini kesalahannya yang bahkan ketiga kalinya―err, empat sebenarnya―karena alasan yang sama. Berselingkuh. Ugh, jangan salahkan dirinya. Sehun hanya sedang khilaf saat itu dan tidak benar-benar serius. Karena ia yakin ia tak bisa kehilangan Jongin. Hanya saja… namanya juga anak muda. You know lah… Just for fun.
Kai menutup komiknya dan kembali memainkan ponsel, tersenyum bodoh lagi. Sehun yang melihat itu merasa curiga dan mencoba mengintip. Tapi Kai sadar dan menyembunyikan ponselnya itu di dada.
"Apa?"
"Sms dari siapa?"
"Kenapa?"
"Hanya ingin tahu,"
"Itu urusanku,"
Sehun cemberut. Ia tidak senang tentu saja, rasanya sangat tidak enak jika kekasihmu menyembunyikan sesuatu secara terang-terangan darimu. Ah, ini seakan menamparnya telak sekaligus menyadarkannya. Karena mungkin itu jugalah yang dirasakan Jongin saat dirinya mulai berprilaku aneh dan membuatnya curiga. Dan parahnya bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Sehun semakin merasa bersalah.
"Kai… kenapa kau masih mau memaafkanku? Setelah semua yang aku lakukan―maksudku…" Sehun tak tahu apa yang mendorongnya berkata begini, terlalu melankolis. "Kau bisa memutuskanku. Bahkan kau bisa balas berselingkuh lagi jika kau mau. Tapi… tidak."
Jujur Jongin sedikit tercenung saat mendengarnya. Genggaman tangannya pada ponsel menguat. Ia menghela nafas dan menatap Sehun, "Menurutmu kenapa?"
"Karena kau… mencintaiku?"
Jika ini dalam situasi biasa maka Jongin akan tertawa terbahak mendengar itu. Tapi melihat Sehun yang serius begitu membuatnya ikut serius. Suasananya begitu awkward tapi Jongin mengangguk kecil, itu salah satu alasannya. Belum tepat dikatakan cinta, mungkin perasaan membutuhkan akan lebih tepat. Dia sudah terbiasa dengan keberadaan Sehun di sekitarnya selama ini dan kehilangannya akan menjadi pilihan terakhir.
"Menurutmu hanya itu?"
Sehun menggeleng dan mengangkat bahu, tanda tidak tahu.
"Itu namanya komitmen, Sehun-pabbo," ejek Jongin, membuang muka kea rah lain. "Aku berusaha menjaganya dengan mencoba percaya padamu. Dan memberimu kesempatan lagi." Jongin memajukan bibirnya dan menatap Sehun garang, menudingnya dengan telunjuk. "Dan kau selalu menyia-nyiakan kesempatan itu." Jongin mengambil komiknya dan mulai membuka lembaran-lembarannya lagi. "Selingkuh itu mudah kan? Kau bisa berselingkuh bahkan sampai tiga kali di belakangku selama ini. Pertanyaannya sekarang, apa kau bisa melakukan hal yang lebih sulit dari itu?"
Sehun tampak berfikir, "…Lebih sulit? Dari selingkuh?"
Jongin mengangguk kecil. "…"
"…"
"…"
"…Beritahu aku."
"Hum? Kau ingin tahu?"
Sehun mengangguk. "Apa itu? …Yang lebih sulit dari selingkuh?
Jongin menatap Sehun dengan sebuah senyum kecil, "Setia." Jujur Jongin ingin sekali menertawai ekspresi Sehun yang melebarkan matanya kali ini, "Itulah yang lebih sulit."
"…"
Sehun tercenung.
Sekali lagi merasa ulu hatinya ditendang. Mendengar semua itu, matanya seakan terbuka sekarang. Sepertinya acara bersenang-senangnya akan benar-benar ia akhiri hingga di sini saja. Tiba-tiba saja Sehun merasa begitu semangat, "…Begitu…" gumamnya.
Sehun tersenyum tulus dan menatap Kai, "Baiklah, aku akan setia mulai sekar―"
"Memang bisa?" sangsi Kai. Ia sudah cukup muak dengan semua janji Sehun padanya. Dia lebih banyak melanggar janjinya dan hanya mengingat janji itu paling lama satu bulan. Lebih baik tidak usah berjanji saja 'kan?
Sehun duduk bersila menghadap Jongin dan mengangkat sebelah tangannya. "Aku serius."
Jongin meliriknya. Alis Jongin terangkat tinggi, "Yakin?"
"Hu'um." Sehun menutup matanya dan berkata dengan tegas. "Aku, Oh Sehun, bersumpah akan hanya mencintai Kim Jongin dengan sungguh-sungguh dan setia selama-lamannya padanya. Tidak akan pernah berselingkuh lagi."
"Jika tidak?"
"Jika tidak maka aku rela―"
"―berdosa seumur hidup―"
"―berdosa seumur hidupku dan―"
"―tidak akan mendapat pacar lagi―"
Alis Sehun mengerut, "―dan tidak akan bisa mendapat pacar lagi lalu―"
"―tersambar petir hingga menjadi abu―"
"―lalu tersambar petir hingga menjadi a―APA?"
Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah tawa Jongin yang keras memenuhi ruangan itu. Sebelum suara tawa itu lenyap karena Sehun membungkamnya dengan ciuman manis.
Jongin tidak bisa marah lagi, jika sudah begini. Cara Sehun bersumpah tadi membuatnya luluh.
Dasar… Sehun sialan.
Ia bahkan baru berniat untuk selingkuh.
.
.
Park Chanyeol.
Option = Delete Contact?
…Yes.
.
.
-o0o-
Kembali bawa drabble tidak jelas setelah lama tidak muncul Masih banyak yang harus dilanjut dan ada requestan yang terpenuhi. Mianhae. Lagi sibuk dan sulit cari waktu buat nulis nih, gara-gara tugas sama lebih sering keranjingan nonton film sampai lupa waktu sekarang hehe
Thank's to:
dumbsekai; suyanq; theAKTF; LM90; Keepbeef Chiken Chubu; Guest; GaemGyu92; Risa Jung; dhee; uthienz. keykimkibum; NAP217; GI24; RanHwa19; maia. vierr; ichigo song; saya. orchestra; Jongin48; miszshanty05; jonginisa; wasastudent.
