DOUBT―

.

A HunKai Drabble

-o0o-

Menghabiskan waktu dengan menonton orang pacaran ternyata memang sangat, sangat, sangat, sangat tidak enak. Menjadi orang ketiga diantara mereka, mengikuti mereka kemanapun dari belakang, menguping acara mesra-mesraan mereka. Hah, tiba-tiba Jongin merasa gerah sendiri.

"Lakukan hal menggelikan itu di tempat lain, kalian berdua," keluhnya dengan nada bosan. Ekspresinya cemberut akut dengan bibir yang maju beberapa senti pertanda kesal. Berbanding terbalik dengan pasangan di depannya, yang benar-benar terlihat sangat bahagia sambil saling suap-menyuapi dengan tak tahu malunya. Ya, mereka sedang makan siang sekarang, di salah satu foodcourt di pusat perbelanjaan setelah puas berkeliling.

"Hehe," bukannya melakukan yang diminta, kedua orang ini malah terkekeh dan kembali melanjutkan aksi mesra-mesraan menggelikan mereka. Membuat Jongin yang tadi protes memutar bola matanya bosan sembari mengaduk makanan didepannya dengan tak bersemangat. "Tahu begini lebih baik aku tidur di rumah," keluhnya lagi. Memang benar, sepertinya itu akan lebih baik dibanding harus menjadi penguntit mereka begini. Ha, ia merasa seperti obat nyamuk.

"Kau kan sudah berjanji untuk menemaniku sepulang sekolah, Kai," ujar namja manis di depannya, yang kini tersenyum ke arahnya. Senyum yang selalu bisa membuatnya lupa betapa liciknya kawannya satu itu. Byun Baekhyun.

"Iya," balas Jongin, pemuda berkulit itu sambil menopang dagunya dengan tangan, bosan, "Tapi kau tidak bilang akan membawa si tiang listrik itu," yang dimaksud tiang listrik itu adalah namja satu lagi, Chanyeol―kekasih Baekhyun. ("Hei! Aku ini bukan tiang listrik!") Peduli amat dengan protesan itu. "Kau kalau sudah bersatu dengannya memang selalu mengabaikanku," keluh Jongin itu lagi, setengah ngambek. Ia tak suka menjadi pihak yang diabaikan, tahu. Memang siapa yang suka?

Baekhyun memamerkan senyumnya yang lebih cemerlang dari sinar matahari, jika Chanyeol bilang, memasang tampang anjing terbuang yang memelas tetapi terkesan tidak berdosa sama sekali. "Hehe, aku kan sudah bilang kalau aku lupa," katanya membela diri.

"Pembohong," tuding Jongin cepat, ketus. "Bilang saja kau hanya ingin menjadikanku alasan agar tak ketahuan eomma-mu kalian pergi kencan." Jongin memutar matanya saat melihat Baekhyun menatapnya dengan pandangan 'itu kau tahu' miliknya. Baekhyun memang sedang menjalani kucing-kucingan dengan kedua orang tuanya yang belum memperbolehkannya pacaran.

"Makanya, cari pacar dong supaya kita bisa doubble date!"

Duk!

Dengan kesal Jongin memukul kepala Chanyeol dengan sebelah tangan, "Aku masih punya Sehun, tahu," lanjutnya tak terima. Dia itu punya pacar. Ya! Punya pacar! Sayangnya pacarnya yang brengsek itu kini sedang memiliki sesuatu-yang-lebih-penting-dari-dirinya sehingga tidak bisa ia temui. Setidaknya selama dua minggu ke belakang. Memikirkannya saja membuat mod Jongin turun beberapa derajat dari semula.

"Dia yang kau harapkan? Pria begitu lebih baik kau putuskan," ujar Chanyeol, "Dia tak pernah menghubungimu lagi kan? Aku yakin ia sudah punya orang lain di belakangmu."

Duk!

Sekali kali Jongin memukul kepala Chanyeol, kali ini dengan sendok di tangannya.

"Aduh! Kenapa kau senang sekali memukulku, sih?" ringis Chanyeol, ia menatap Baekhyun, mengadu. TapiBaekhyun hanya tertawa saja melihat kekasihnya kesakitan.

Jongin mengabaikan pasangan ajaib itu dan kembali mengaduk makanannya, kali ini dengan lebih bersemangat. Terimakasih pada Chanyeol yang telah membuat dia benar-benar kesal sekarang. "Kenapa kalian selalu saja menyuruhku putus dengan Sehun, sih?" kesal Jongin. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kalimat yang sama dari orang-orang di dekatnya.

Baekhyun mengangkat bahunya, "Kami ini kasihan padamu, Kai. Kau pantas mendapat yang lebih baik dari si Sehun-bodoh itu," Baekhyun mengambil orange juice-nya dan berkata lagi sambil menggeleng tidak habis pikir, "Lagipula, bagaimana kau bisa tahan dengan mister dingin, cuek, egois dan irit bicara macam dia?" herannya.

Jongin menghela nafas. "Dia tidak seburuk itu, Baek. Kau terlalu berlebihan."

Alis Baekhyun terangkat tinggi, "Benarkah?"

Jongin diam dan mengatupkan bibirnya. Ia bahkan terlihat ragu untuk yakin dengan apa yang telah ia ucapkan barusan. "Sepertinya―" Jeda sebentar, Alisnya mengerut tak yakin, "―iya."

"Pfff―" Chanyeol menahan tawanya dengan sebelah tangan mendengar jawaban tak meyakinkan itu, Jongin yang melihatnya sudah bersiap untuk melepas sepatunya untuk menimpuki kepala Chanyeol saking kesalnya.

"Kau yang pacarnya saja tidak yakin apalagi kami." Baekhyun berujar santai. "Dia itu seorang model. Kau tahu sendiri pekerjaannya seperti apa, 'kan? Dia sibuk dan sama sekali tidak punya waktu untukmu. Katakan jika aku keliru."

Jongin merengut masam, dalam hati merutuk keahlian Baekhyun dalam hal seperti ini. Helaan nafas lagi terdengar sebelum Jongin berujar pasrah. "Kau benar, Baek. Kau selalu benar…" Jongin menidurkan kepalanya di meja dengan sangat tidak bersemangat. "Jadi sekarang, beritahu aku, apa yang kau sarankan padaku."

"Putus. Dan cari pacar baru."

Jongin membenamkan wajahnya pada meja kayu, "Kumohon jangan yang satu itu lagi…" ucapan Jongin teredam. Tapi Baekhyun dan Chanyeol masih bisa mendengarnya dengan samar-samar.

Baekhyun menatap Chanyeol yang mengangkat bahunya sebelum kembali beralih menatap Jongin, "Sekarang aku tanya. Kapan terakhir kali kalian bertemu?"

Jongin mengangkat wajahnya, "Dua minggu lalu. Saat istirahat tapi―"

"Terakhir kali telepon?"

"Tiga hari yang la―"

"Siapa yang menelpon duluan? Dia?"

Jongin menggeleng pelan.

"Kutebak, itu bahkan tidak sampai semenit kalian bicara?"

Jongin mengangguk dan menatap Baekhyun takjub. Bagaimana ia bisa tahu? Pikirnya.

"Apa isi sms terakhirnya?"

Jongin tampak berfikir, "Aku tidak yakin. Tapi kalau tidak salah isinya adalah 'Sebentar. Kuhubungi nanti'―"

"Kapan ia mengirim sms itu?"

"Setelah aku menelponnya berkali-kali tiga hari yang lalu―"

"Apa ia sudah menghubungimu lagi setelah itu?"

"Belum."

"Kau tahu kabarnya sekarang?"

"Aku mengiriminya sms tapi dia tidak membalasku. Mungkin karena sedang si―"

Wajah Baekhyun keruh. "Kapan terakhir kali kalian ciuman?"

Jongin melotot, "Pertanyaan macam apa itu?!" protesnya.

"Jawab saja!"

"Itu―" Jongin menyerah, wajahnya memerah, "―aku… tidak ingat."

"Wow―"

Baekhyun menghela nafasnya dengan lebih berat kali ini, dengan cepat menutup mulut Chanyeol yang akan mengeluarkan kata-kata, yang hanya akan memperburuk suasana, dengan sebelah tangannya. Ia benar-benar frustasi dengan kawannya itu sekarang.."Kau benar-benar harus putus dengannya, Kai." putusnya final.

"APA?"

Chanyeol menyingkirkan tangan Baekhyun dari mulutnya, "Aku tahu Sehun memang cuek. Tapi aku sama sekali tidak menyangka akan separah itu."

"Kau bisa memacari Kris, Kai. Kau tahu jelas ia tertarik padamu," Baekhyun mengangkat tangannya saat melihat tatapan Jongin. "Oh, santai. Aku hanya memberi saran―"

Aura hitam muncul di sekitar Jongin, "Apa maksudmu?" desisnya penuh horror.

"Itu yang terbaik. Sehun sudah benar-benar keterlaluan." Baekhyun mendesis.

"Kau hanya tidak mengenalnya, Baek!" kata Jongin.

Baekhyun melirik judes Jongin yang kini membela pacar tidak bermoralnya itu, "Dengar, Kai. Orang yang benar-benar menyayangimu pasti akan membutuhkanmu. Karena ia membutuhkanmu maka ia akan merindukanmu. Karena merindukanmu maka ia akan menghubungimu."

Jongin memasang tampang cuek, dengan tangan di depan dada. "Lalu?"

Baekhyun menggeram, "Kau bodoh, ya? Dia tidak menghubungimu, itu menunjukkan dia tidak merindukan. Dia tidak merindukanmu makanya ia tidak membutuhkanmu. Apalagi menyayangimu!"

Jongin tertegun.

Ia menatap Baekhyun lama. Sebelum beralih menatap Chanyeol yang memberinya anggukan juga. Jongin menggigit bibirnya. Semua ucapan Baekhyun… terdengar masuk akal. "Aku―"

.

.

.

.

.

.

-o0o-

Jongin membuka pintu rumahnya dan hanya bisa menghembuskan nafas pelan.

Ia membuka sepatunya dan masuk ke dalam. Langsung menuju sofa yang kini ditempati oleh satu sosok lain selain dirinya, yang sedang menonton film.

"Sudah pulang? Darimana saja?" sebuah suara menyapanya.

"Pemotretannya sudah selesai?"

Sosok itu mengangguk, "Maaf tidak bisa menemanimu tadi. Kenapa larut sekali baru pulang?"

Jongin langsung memeluk sosok itu, tidak menjawab dan malah bertanya, "Kenapa semua orang ingin kita putus sih?" tanya Kai tidak mengerti.

"Apa ini? Baekhyun berkata sesuatu yang aneh-aneh lagi?"

Jongin mengangguk. "Dia berkata jika kau terlalu cuek dan aku lebih baik putus denganmu kemudian memacari Kris."

Dan Sehun, sosok satu lagi, hanya bisa tertawa keras.

'Usaha yang bagus, Byun.' Pikir Sehun sambil menyeringai, ia mengelus rambut hitam Jongin lembut, 'Sayangnya kau hanya tidak tahu, bahwa Kai tidak akan pernah bisa memutuskanku. Karena kami memang tidak pacaran. Lebih dari itu―

.

.

.

.

―kami sudah menikah.'

-FIN-

Hai-hai
Terimakasih sudah membaca. Hahaha. Maaf atas ketidakjelasan isinya ya? Harap maklum

Special thanks to:

LulluBee; Guest; oracle88; NAP217; etinprawati; dumbsekai; nhaonk; RanHwa19; hunjong; yheny lusiana; Park CinYeol; saya.orchestra; Jongin48; LM90; ichigo song; jonginisa; nuranibyun; qip; adilia.taruni.7; Yuki Edogawa; GaemGyu92.

Yang sudah menyempatkan waktu untuk meriview chapter kemarin. Terimakasih juga untuk semua yang sudah nge-fav-follow-allert. Gamsahamnida~ /bows/

Eh, btw, siapa yang lagi kena demam OVERDOSE di sini? Haha.

See ya―

-o0o-

.

.

.

Kapan terakhir kali kalian bertemu?

Dua minggu lalu. Saat istirahat tapi―(aku bertemu dengannya setiap hari di rumah, saat bangun tidur ataupun sebelumnya)

Terakhir kali telepon?

Tiga hari yang la―(lu saat aku menyuruhnya untuk menjemputku dari tempat les tari. Aku tidak perlu telepon karena aku bisa bertanya ataupun meminta semuanya langsung pada Sehun saat kami bertemu di rumah)

Siapa yang menelpon duluan? Dia?

Jongin menggeleng pelan.(Tentu saja aku. Sehun tidak suka berbicara di telepon. Dia berkata jika begitu ia tidak bisa melihat wajahku.)

Kutebak, itu bahkan tidak sampai semenit kalian bicara?

Jongin mengangguk dan menatap Baekhyun takjub. Bagaimana ia bisa tahu? Pikirnya.(Memang tidak sampai semenit, karena Sehun bahkan sudah ada di depanku sebelum aku menutup teleponnya)

Apa isi sms terakhirnya?

Jongin tampak berfikir, Aku tidak yakin. Tapi kalau tidak salah isinya adalah 'Sebentar. Kuhubungi nanti'―(dia bilang mau membelikan pesanan ayam goreng dulu dan tidak bisa mengangkat telepon)

Kapan ia mengirim sms itu?

Setelah aku menelponnya berkali-kali tiga hari yang lalu―(untuk memintanya membelikanku ayam goreng karena aku sangat lapar meski itu tengah malam)

Apa ia sudah menghubungimu lagi setelah itu?

Belum.

Kau tahu kabarnya sekarang?

Aku mengiriminya sms tapi dia tidak membalasku. Mungkin karena sedang si―(buk. Tapi dia memang agak sedikit flu tadi pagi)

Wajah Baekhyun keruh. Kapan terakhir kali kalian ciuman?

Jongin melotot, Pertanyaan macam apa itu?! protesnya.

Jawab saja!

Itu― Jongin menyerah, wajahnya memerah, ―aku… tidak ingat (karena aku dan Sehun sudah terlalu sering melakukannya dan tidak menjadikannya istimewa untuk diingat kapan waktunya. Tapi kalau kau bertanya,

Mungkin itu―tadi pagi.)

-o0o-