Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Warning : OOC, Typos, etc.

.

.

Apakah desas-desus Imayoshi bisa membaca pikiran orang itu benar? Sepertinya memang begitu, soalnya dia langsung pergi saat aku sengaja memperlambat adegan cuci tangan karena ada yang perlu kukatakan pada Satsuki. Kata-kataku semalam sedikit terlalu kasar, anak itu cengeng sih, bisa-bisa dia menangis semalaman atau mengadu pada Tetsu.

Aku menunggu di depan pintu kamar mandi wanita, mereka sangat berisik. Tidak jelas itu teriakkan marah atau membicarakan hal tidak penting tentang idola. Cih, lama benar sih Satsuki, apa dia sembelit?

"TIDAK! AKU TIDAK MAU!"

Brugh

Satsuki menabrakku, dia terjengkang ke belakang sehingga aku bisa melihat celana dalamnya yang pink. Dia buru-buru bangun. Rasanya ada yang aneh dengan Satsuki, gadis itu berlari di koridor seperti takut akan sesuatu, lantas aku mengejar. Bukan aku jika hanya mengejar Satsuki saja tidak bisa.

Perempuan mungkin adalah makhluk yang menganut paham 'Dilarang ribut di hadapan banyak orang' Karena itu dia tetap diam, meskipun aku meminta penjelasan pada Satsuki kenapa roknya yang sudah mini mendapat tambahan aksen sobek di samping.

"Oeh Satsuki, kau mau pamer celana dalam begitu ke kelas hah?" Dia tidak menjawab sepatahpun, menatap wajahku saja tidak. Kutekan sedikit pergelangan tangannya.

"Oi, kalau orang bicara itu lihat matanya! Kenapa sih kau ini!"

Saat irisnya bersinabrok denganku, tangis itu pecah, dia berteriak kuat sekali, menyentak tanganku dan berlari menerjang kerumunan.

"AHOMINE!"

Kepala-kepala yang mungkin sedang berspekulasi memandang dengan tatapan ingin tahu dan menuduh.

Bahuku disentuh seseorang; megane Imayoshi.

"Aomine, bukan begitu caranya bertanya pada wanita. Apa tidak malu jika kau berkata keras-keras begitu?"

Sekarang aku percaya bahwa Imayoshi adalah monster pembaca pikiran.

.

.

Jaring kawat bergetar, berkali-kali benda itu menjadi sasaran kaki dan amarahku. Harusnya Satsuki bisa bicara lebih jelas kenapa dia sekarang membenciku sekarang, tapi dia malah memilih diam. Ah, semua yang berhubungan dengan wanita memang lebih asik dalam bentuk gambar daripada aslinya.

Ulangan terakhir akhirnya selesai juga, tapi si Satsuki masih saja menganggapku tidak ada. Apa ada orang yang bisa memberitahuku tentang hal remeh tapi menjengkelkan layaknya kerikil di sepatu ini?!

Aku hanya perlu tahu dimana letak salahku selain bertanya tentang celana dalamnya hari ini, dan satu-satunya orang yang tahu hanya Satsuki sendiri. Jadi aku bergegas ke loker Satsuki dan mendapati dia sudah mengganti mini skirt yang tadi ditutupi sweater dengan celana olahraga. Tuduhan tentang anak itu sengaja pamer underwear otomatis dihapus.

"Satsuki, pulang bareng ya?" Dia tidak menolak, tidak juga menjawab ya. Ada yang terasa panas di dadaku.

Rutinitas yang berjalan selama ini ternyata sudah lama dimulai, aku sendiri tidak ingat kapan tepatnya Satsuki menjadi bayanganku. Aku baru sadar ketika hal itu berakhir kemarin. Rasanya janggal, seperti kelupaan sesuatu. Padahal baru dua hari Satsuki tidak pulang denganku. Diam-diam aku menertawakan diriku sendiri.

Satsuki diam menatap pantulan bayangan kami yang disinari matahari senja, masih saja dia belum bertumbuh; masih pendek! Kecuali untuk ukuran (ehm) dadanya yang mungkin hampir setara dengan Mai-chan.

Diam Satsuki itu tidak menyenangkan, lebih aneh lagi aku bisa merasa canggung hanya berjalan dengan dia yang selama ini mengekor padaku. Aku tidak suka Satsuki yang seperti ini, maksudku–dia memperlakukanku seperti orang asing.

Seseorang perlu memecah kebekuan ini, dan sepertinya akulah orang itu sekarang.

"Kalau mau marah jangan diam seperti itu, Satsuki! aku bukan Akashi yang bisa membaca pikiran!"

Kuhela napas perlahan, meresapi betapa memalukan bahwa aku merasa sedikit dikuliti dengan marahnya itu.

"Aku tidak suka, kau asing Satsuki."

Mata itu mulai menatap ke arahku. "Memang!"

"Hah? Apanya yang 'memang'?"

Tak mengelak aku sendiri merasa asing dengan nada antusias dan penasaran yang kusuarakan.

Dia menghentikan langkah, aku mengikutinya.

"Memang Dai-chan bukan Akashi-kun yang cerdas, bukan juga Kicchan yang banyak penggemarnya, bukan! Bukan!"

Satsuki berteriak tapi entah kenapa matanya malah berkaca-kaca, sedetik tadi aku berpikir untuk tertawa.

"Kau mau menghinaku atau bagaimana? Kenapa aku malah tidak mengerti bagian akhirnya, Satsuki?"

Tangisnya berderai , dia berusaha menghapusnya, dan aku pontang-panting mencari benda yang bisa menghapus air mata, sebelum apa yang dia katakan membuatku terkejut.

"Dai-chan! Pertama kau berkata keras sekali tentang celana dalamku di depan banyak orang, aku MALU Dai-chan! Lalu … lalu … kau memang tidak sepopuler Kicchan, lagian kau kan redup, tapi fansmu GILA! Mereka mendesakku untuk menjauhi Dai-chan, hiks …."

Hah? Fans? Fans yang mana?

"Ehm, Sa–"

Aku belum selesai berucap dia memotongku dengan perkataan tentang fans yang tadi membuatku sedikit tersanjung, tapi kemudian membuat tanganku gatal.

"Tadi di kamar mandi mereka mencoba menggunting skirt-ku, untung saja aku bisa kabur. Jadi, jika Dai-chan masih sayang padaku, dan karena aku juga masih sayang nyawaku … sebaiknya kita hanya berteman di rumah, Dai-chan … bisa kan? Hiks … onegai …."

"Ijime, Satsuki?"

Kata-kataku malah membuat wajah Satsuki takut. Seperti anak TK yang tidak mau disebut pengadu oleh temannya. Tapi mereka tidak tahu berurusan dengan siapa. Keh, tanpa bisa kucegah aku menunjukkan seringai terbaikku.

"Da-Dai-chan? Ja-jangan marah Dai-chan … memang wajar, hiks, Dai-chan punya penggemar … mungkin memang aku malah menjadi masalah karena terlalu dekat dengan Dai-chan sehingga Dai-chan tidak punya pacar sampai sekarang."

Tanganku refleks menyentuh kepala Satsuki, "Pacar huh? Pacarku Mai-chan saja, aku belum butuh pacar, Satsuki. Jadi, sampai ada yang menggantikanmu berteriak di telingaku, tetaplah seperti biasa."

"Dai-chan …." Senyuman Satsuki melegalkan perasaan legaku.

"Ngomong-ngomong, siapa yang menggunting rokmu?"

.

.

"Kalau mereka menggangguku lagi bagaimana?"

"Heh, coba saja kalau berani."

.

.

To be continue ….

a/n : sankyuu sankyuu buat yang sudah review kemaren. Saya ga ngarep banyak di chap ini karena bikin POV daiki jadi kesulitan sendiri bwt saya. Next chap will be fin.