-Ieyasu POV-
Amat nyata langit yang tadi hitam berubah agak abu. Sayup-sayup ku dengar angin menderai dahan. Sinar bulan yang menghangat masih ada, namun perlahan mulai hilang seiring senyum mentari.
Fajar 'ya? sudah lama aku tak peduli.
Sejak cermin ini memenjarakanku, terkadang aku bertanya pada Tian atas kepastian Genmei-huanghou. Permaisuri istana yang menjadi ibuku, entah kapan terakhir kalinya aku melihat batang hidung wanita cantik itu.
Apa kabarmu Huanghou? Bagaimana dengan keadaan Huangdi? Oh Tian, sungguh aku sangat merindukan mereka.
Entah pula berapa lama sudah aku terisolasi. Nara berakhir, bergulir meruntuhkan jembatan kekaisaran Genmei-huanghou. Zaman berputar, bumi berevolusi mengganti tahun, pun berotasi hingga aku tak tahu sudah berapa abad ku lalui.
Angin masih berhela, mencoba masuk dari balik jendela jeruji di atas kami. Ya, aku dan Mitsunari. Aku terjaga, sementara bocah itu terlelap amat pulas.
Kulihat angin kecil membelai helai putih Mitsunari. Amat damai wajah bocah itu terlelap seraya menyungging senyum. Napasnya terdengar teratur, matanya menyembunyikan iris emas indah yang tadi antusias menatapku.
Perlahan tanganku bergerak mengetuk cermin yang membatasi kami. Oh Tian, sungguh aku lupa kapan terakhir kali aku terlelap menyambut mimpi, kapan terakhir kali aku bernapas merasakan oksigen menggelitik tenggorokan. Sungguh aku rindu dengan bunyi detak jantung dan darah yang mendesir. Namun apa daya, aku sudah lama mati, dan semua itu harusnya tak kupedulikan lagi.
Aku berjalan lebih dalam pada bagian cermin. Menyembunyikan diriku dari jangkauan Mitsunari yang mungkin terjaga tiba-tiba. Aku tak mau terlihat olehnya kini.
"Oh, Tian…" aku berujar lirih.
"Haruskah aku menghianati Mitsunari?"
Air mataku perlahan melantur. Kucoba menahan, namun malah terisak.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ya sesuatu ketika seorang pemberontak mengatakan hal gila padaku. Kira-kira begini,
"Kau hanya akan keluar jika menemukan tubuh baru, akantetapi itu harus cukup kuat jika kau ingin memimpin kekaisaran."
Lalu membantah si pemberontak, "Kau tidak perlu melanturkan mantra itu padaku sampai sebegininya. Toh, Genmei-huanghou sudah menganggap aku mati,"
Kemudian si pemberontak itu berkata lagi, "Jadi begitu, ternyata Huanghou-mu orang yang sangat mementingkan dirinya sendiri,"
Kala itu perasaanku tertohok atas ucapannya. Namun aku tak marah, toh, selama aku hidup di dunia ini, aku merasa hanya aku satu-satunya anak yang memanggil ibu sendiri dengan panggilan "Permaisuri".
"Ieyasu, jika kau sudah mendapat target tubuh barumu kau harus cepat-cepat mengambilnya."
"Memangnya kenapa?"
"Jika tidak cepat, dalam tujuh hari rohmu akan terbebas. Itu tergantung kamu, mau bebas atau mau hidup kembali membangun kekaisaran Nara,"
Dan saat itu pikiranku kacau. Aku diberi dua pilihan untuk hidup kembali atau mati seutuhnya.
Jujur aku ingin sekali membangun Jepang seperti yang diinginkan Genmei-huanghou, aku bahkan telah janji. Bahkan Huanghou sendiri menyatakan pada masyarakat aku adalah penerusnya.
Sejak saat itulah aku mulai mencari seseorang dari balik cermin ini. Akantetapi semua orang selalu lari ketika melihat wujudku yang terkurung dalam cermin.
Orang-orang lalu memindahkan cerminku ke sebuah hutan. Konon hutan itu adalah hutan kematian. Sekitar sepuluh tahun aku sendirian di balik cermin ini. Hari-hariku mulai diwarnai ketidakpastian, yang kulakukan hanya menangis setiap hari.
Hingga suatu saat ada bergadir tiba untuk bersembunyi dalam hutan ini. Saat itu aku mencoba mencari siapa yang pantas untuk jadi inangku. Namun hal yang sama seperti dulu kembali kudapati.
Aku disebut-sebut sebagai iblis, setan, roh penunggu hutan, dan sebagainya. Sejak saat itu rumor hutan kematian semakin menjadi. Mereka membuatkanku sebuah menara tegak dengan tujuan menempatkan cerminku di tempat yang pantas agar aku tak mengusik mereka.
Mulai hari itu, aku terlupakan. Terabaikan dalam sebuah menara tegak di tengah hutan.
Aku tak marah, karena sudah kuputuskan kalau aku tetap di sini. Mewarnai hidupku dengan hitam, karena seutas cahaya yang redup entah ke mana.
Tapi melihat Mitsunari harapanku untuk hidup kembali sepertinya akan terwujud.
Namun… apa nantinya aku akan dibilang penghianat? Oh, Tian, melihat senyum antusias dari wajah lugu anak itu saja membuatku tak kuasa untuk berucap kasar padanya.
Jadi, apa aku akan membiarkan rohku terbebas? Sepertinya itu lebih baik, aku masih punya tujuh hari terakhirku di dunia ini.
-Ieyasu POV off-
-o0o-
The Curse of Mirror
-o-o-o-
Disclaimer: SenBasa punya Capcom
Warning: AU, OOC, typo(s), Bad EYD –Oh YEAH!-, GaJe, de-el-el
Words helper: Tian = Tuhan, Huanghou = permaisuri, Huangdi = kaisar, Koto = alat musik tradisional Jepang, sejenis kecapi kalau di Indonesia.
-o0o-
-Mitsunari POV-
"Ieyasu…?"
Subuh telah usai, pagi menjelang membangunkan aku. Tipis sinar sang surya mulai merajai hingga akhirnya mengokoh siang. Surya berdiri, seraya memanas bumi. Riuh suara gesek daun terdengar jauh, namun masih bisa sedikit kudengar.
"Ieyasu…?" panggilku, di hadapan cermin usang itu, entah sudah yang ke berapa kali.
Aku memiringkan kepalaku sedikit. Menatap pantulanku yang disinari kokohnya sinar matahari.
Oh, Kami-sama, tolong katakan padaku yang kemarin kulihat bukan ilusi maupun mimpi. Tolong beri aku bukti agar kupercayai aku tak gila. Aku sungguhan melihat seorang inasani di dalam cermin ini.
"Ieyasu…" aku mulai berlirih. Setengah menyerah, kulihat bayanganku tengah cemberut dengan alis bertaut.
"Jika kau temanku, ayo segera muncul! Kita main sama-sama!" ujarku, masih mempertahankan intonasi lirih.
Kepalaku bersandar pada cermin. Mengutuk dalam rasa frustasi nan ketidakpercayaan hari kemarin.
Ayah, kau benar! Seorang pewaris tahta tidak boleh punya teman.
Tanganku mencoba meraih pantulan jemariku. Kemarin padahal jelas kulihat aku tengah menggapai jemari Ieyasu. Mungkinkah hal itu masih termasuk ilusi? Oh, Kami-sama, kefanaan macam apa ini?
Menyerah, akhirnya aku menjauhi cermin tersebut. Melangkah untuk mengambil buku yang tergeletak di meja di sudut ruangan.
Dalam diam kutatap cermin usang itu. Lekat sekali berharap peluangku melihat Ieyasu masih tersisa, meski itu hanya tiga atau dua bahkan satu.
Petang hampir menjamu terlihat dari langit yang keoranyean. Aku tak mau menghitung berapa lama aku berdiri di depan cermin layaknya orang gila. Kurasa aku akan lebih cepat mencoret tanggalan hari ini.
'Srek!' tiba-tiba selembar kertas terjatuh dari selipan buku. Kuambil kertas jatuh itu di atas kakiku. Sejenak kubaca, aku ingat ini tulisan Hanbei-sama, isinya syair sebuah lagu.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah koto yang ikut terasing di pojok ruang. Ah, bodohnya aku! bagaimana bisa aku lupa?
Diam-diam aku senang belajar memetik senar koto bersama Hanbei-sama setiap malam saat di Istana. Dia yang meninggalkan koto miliknya itu padaku sebelum berangkat bersama pasukan ayah.
Ingin mendengar permainanku?
-o0o-
Suatu hari, di kala aku terduduk seraya memandang langit, kuteringat akan hari itu.
Di saat aku duduk di tengak malam, memetik indah senar koto. Seraya berucap akan hari yang indah itu.
Indah buatku, karena hari itu pertama kalinya kusadari dunia ini indah.
Sinar bulan terbias tipis dari jendela. Dari sini aku teringat akan genggaman seseorang. Seseorang yang menganggap aku istimewa. Seseorang yang pertama kalinya menerima apa adanya diriku.
Kusadari air mataku jatuh tepat membasahi koto. Ketika dia memanggilku teman.
"Lagu yang bagus, Mitsunari!"
Deg!
Nyanyianku terhenti, permainanku berhenti.
Aku menoleh tepat pada cermin usang yang ditimpa cahaya petang.
Oh, Kami-sama…
Darahku kembali mendesir menghangatkan tubuhku. Air mataku serasa mau tumpah. Ketika mendapati sesuatu yang amat kurindukan.
Teman, teman pertamaku, Ieyasu.
"Ieyasu!" panggilku, sembari berlari meninggalkan permainanku seutuhnya.
Ieyasu tersenyum, matanya terpejam. Saat itu juga tak kuasa aku menahan air mata yang tiba-tiba ingin keluar.
"Permainan koto-mu bagus, aku suka! Terdengar menenangkan," pujinya, namun tak kuindahkan karena nyatanya aku menangis.
"Kau ke mana saja?" tanyaku, dengan ketidakpercayaan atas kehadirannya.
Ia nampak terheran dengan pertanyaan dariku. Lalu menjawab seakan tak bersalah, "Tidak ke mana-mana."
"Tapi mengapa tidak muncul ketika aku panggil?"
Terhenyaklah ia atas pertanyaanku. Wajahnya langsung murung. Matanya yang berbinar bagai kerlap bintang meredup seketika.
"Katakan saja padaku! Kita kan teman," ujarku, menerka apa yang terjadi padanya, setengah menenangkan perasaannya dengan intonasi damai.
"Aku hanya merindukan seseorang, Huanghou-ku,"
"Bohong!"
Hening, aku tambah terisak. "Aku tidak suka Ieyasu bohong padaku!"
"Oh, Tian! Aku bahkan tak suka Mitsunari ingin tahu segalanya tentang aku!"
Aku terbelalak, ku lihat wajah Ieyasu berubah. Matanya menyiratkan kemarahan. Sampai aku merasa ditampar secara fana olehnya.
"Hiks… Hueeee…." Tangisku menjadi.
"E-eh! Jangan menangis begitu! A-aku… aku kan tidak sengaja!"
"Ieyasu jahat! Aku… kan hanya ingin jadi teman yang baik…" kataku, menangis memperlihatkan betapa lemahnya aku saat ini.
"Kamu cengeng ah! Aku tidak mau punya teman cengeng seperti kamu," Ieyasu berujar lagi. ku lihat dengan angkuh dia melipat kedua tangannya di depan dada.
Aku kembali menjerit atas ucapannya.
"Ahahaha, nangis saja sana sampai air matamu kering! Selama kamu cengeng aku tidak mau jadi temanmu!"
Tangisku kembali pecah. Hatiku seakan tersakiti ketika ia mengucap kata-kata seperti itu. Namun, yang dia lakukan malah tertawa terbahak-bahak di hadapanku.
"Begini saja, kuberi tahu satu hal tentang lagu yang kau mainkan tadi. Asal, jangan menangis!"
"Apa?"
"Aku tidak akan beri tahu kalau kamu masih menangis, sekalipun itu hanya isakan!"
Punggung tanganku sontak bergerak menghapus air mata yang masih ada. Kuupayakan diriku menahan tangis yang ingin keluar.
"Nah, begitu lebih baik!"
"Jadi, apa yang ingin kamu beritahu?"
Ia tersenyum, namun senyum keangkuhan, masih melipat tangan di depan dadanya. Lalu berujar, "Akulah pencpita lagu yang tadi kamu mainkan. Padahal tadinya aku membuat lagu itu dalam bahasa mandarin. Ternyata seiring zaman sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang."
Tangisku berhenti total, digantikan ketidakpercayaan atas ucapannya barusan.
Kurasakan mataku berbinar. Hebat, selain seorang pewaris tahta ternyata Ieyasu juga seorang penyair.
"Ngomong-ngomong Mitsunari, siapa yang mengajarimu bermain koto?" tanyanya lagi.
"Hanbei-sama," jawabku spontan, membayangkan betapa sabar laki-laki itu mengajari aku ini dan itu.
"Kaisarmu?"
Aku menggeleng, "Dia penasehat ayah,"
Wajah Ieyasu nampak terbelalak karena ucapanku. "Penasehat bisa bermain koto? Ku kira penasehat hanyalah orang cerewet yang cuma bisa marah-marah,"
Aku tertawa pelan, menatap Ieyasu yang memandang tidak percaya jawabanku.
"Oh ya, Ieyasu, tadi kamu bilang kamu yang menciptakan lagu itu. Berarti kamu bisa memainkan koto?" tanyaku penasaran.
Lagi-lagi wajah angkuhnya muncul. Senyuman yang amat dalam itu mengatakan seakan ia adalah orang terhebat sedunia. "Tentu saja!" ujarnya.
"Boleh aku mendengarnya?"
Ia nampak terkejut. Lalu wajahnya kembali murung. "Kalau cermin ini tidak membatasi, boleh saja!"
Ah benar juga, bodohnya aku sampai lupa dia terperangkap dalam cermin.
"Begini saja, bagaimana kalau kita menulis sebuah lagu?" tawarnya, padaku yang langsung menganga tak percaya.
Aku membuat lagu? Bersama teman pertamaku?
"Kamu jangan menyebut aku tidak berbakat ya! kalau aku pulang ke Cina, aku sering disambut para penggemar karena kebolehanku memainkan koto!" angkuhnya, membuat aku tertawa. Lalu menyimpulkan, ternyata Ieyasu bisa sangat sombong kalau soal bermain koto 'ya?
"Sombong! Hanbei-sama bilang padaku kita tidak boleh sombong!" ujarku, mengingat ajaran Hanbei-sama.
"Hahaha, baiklah Kaisar kecil, mari kita menulis sebuah lagu! Um, tapi apa ya tema yang bagus?"
Aku langsung menjawab, "Tentang teman pertamaku!"
Matanya membulat mendengar ucapanku. Hening sebentar, tak terasa petang mulai menjadi biru.
"Ah, bagus juga! Kalau begitu ayo ambil koto-mu kemari! Biar aku yang pilih nada-nada bagus,"
"Uhm!" aku mengiyakan dengan amat antusias. Langsung berlarilah aku menuju koto yang tergeletak begitu saja.
Terima kasih Kami-sama, untuk pertama kalinya aku sebahagia ini bersama orang lain. Dan ku mohon, jadikanlah dia sebagai temanku selamanya, dan hanya waktu yang boleh memisahkan kami. Tidak sanggahan dari ayah, ataupun mati saat peperangan.
-Mitsunari POV off-
-o0o-
-Ieyasu POV-
Aku terhenyak beberapa kali menyaksikan Mitsunari yang sangat antusias. Ternyata dia sangat mudah melupakan kesedihannya. Terlihat dari bagaimana ia mengusap air matanya dengan cepat.
Hihihi, lucu juga mengerjai dia untuk meneteskan air mata.
Tertawalah, wahai temanku!
Mari kita buat malam ini menjadi salah satu malam yang indah. Sebelum tepat hari ke tujuh, aku harus mengucap perpisahan denganmu.
Oh, Tian, ku mohon beri aku waktu yang paling berharga! Jadikanlah tujuh hari terakhirku bermakna, bersama teman pertama dan terakhirku kelak.
Dan harapku, semoga tiada tangis tepat di hari ke tujuh nanti.
-Ieyasu POV off-
.
.
Continue?
An: Argh, ini jelek banget! Alurnya gk jalan! Dasar Nial Payah! Nial odong! #getok kepala.
Mitsunari: Ecieee ada yang review
Ieyasu: Padahal ini cerita iseng-iseng berhadiah (?)
Me: Bahkan saya sampai bingung mau balas apa. Jadi maaf saya gk bisa balas review kalian. #ditendang
Terima kasih sebesar-besarnya sudah menyempatkan membaca, me-review, fav, bahkan sampai di-follow.
Saya terharuuuuuu… ;D
Oh ya, satu yang penting di chapter ini atau mungkin di chap depan, saya kepingin bikin Ieyasu di sini punya keturunan Cina, -karena saya baca sejarahnya zaman Nara, kaisar-nya pendatang dari Cina. Kalau soal main alat musik koto atau lagunya itu murni khayalan saya. Jadi mohon dimaafkan kalau jadinya malah ancur nan GaJe.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sudah membaca chap ini. Saya sangat antusias kalau ada yang menunggu atau bahkan membenahi tulisan amberegul saya.
.
.
Salam Manusia Bulan, NialCoffee X)
