-Ieyasu POV-
Oranye membiru, biru menghitam, hitam mengelam, kemudian kembali membiru. Petang, malam, fajar, kini mulai kupedulikan.
Dari balik cermin ini aku terduduk, menyaksikan Mitsunari tertidur pulas di atas futon yang sengaja ia tarik ke dekat cerminku.
Helai putihnya tersibak napas angin yang mencoba menggelitik dari jendela. Kelopak matanya terpejam menyembunyikan iris emasnya yang amat lugu. Samar-samar terdengar hela napasnya yang teratur. Semburat merah terlihat di pipinya, seraya tersungging sebuah senyum ketentraman di bibir mungilnya.
Deru hela angin masih asri berbisik bersama respirasi Mitsunari. Kesunyian berselang riuh gesek ranting pepohonan juga koak para nokturnal bernyanyi bersama menanti subuh. Langit yang fajar mulai ditinggal kerlap bintang, disusul bulan yang hendak berpulang.
Lusa kami baru bertemu, dia menatapku antusias. Kemarin bermain alat musik, membuat lagu hingga akhirnya aku menasehatinya untuk beristirahat. Hingga akhirnya tiba hari ini.
Kuhitung dengan jemariku, tujuh kurang tiga, empat hari kelak jika esok mentari kembali pulang. Hari ini sudah hari ke tiga aku muncul di hadapan Mitsunari.
Sudah! Aku tak mau tahu soal empat atau berapa hari lagi aku bisa melihat Mitsunari tertidur pulas dengan wajah lugunya. Sekarang, pikirkan saja apa yang harus kulakukan untuk berteman dengan anak itu.
Hm … apa yang hendak kami lakukan? Bosan sekali kalau hanya ada di menara ini.
'Tap! Tap! Tap!'
Tiba-tiba tentramnya suasana digubris oleh suara langkah kaki. Awalnya samar, namun semakin jelas dan menggema.
Matahari mulai muncul, namun kudiamkan. Aku kini terfokus pada suara langkah yang semakin memberat itu. Kemudian tanganku mengetuk cermin, berharap bisa keluar dan tahu siapa di sana.
'Tap! Tap!'
Gawat!
Kata itu langsung muncul di kepalaku. Hey, Mitsunari! Ada seseorang di sini! Ayo bangun! Bisa saja dia orang jahat!
Oh, Tian, apa yang baru saja aku pikirkan? Bisa saja itu dari pihak kekaisaran Toyotomi!
'Tap!'
Langkahnya terhenti, seperti seseorang di sana kelelahan menyusuri anak tangga. Jika aku masih bisa menghela napas, mungkin sudah kulakukan sekarang.
'Tap! Tap! Tap!'
Gawat!
Hey, hey! Apa-apaan pikiran yang berputar-putar di kepalaku saat ini? Mengapa aku takut jika yang datang malah pihak musuh?
Kutatap lekat Mitsunari yang masih damainya terpulas dalam mimpi. Senyumnya masih menjuntai, seakan berkata dia ada di suatu tempat fantasi yang menyenangkan saat ini.
Bagaimana cara membangunkannya 'ya? Sementara aku hanya bisa termangu di balik cermin.
'Tap! Tap!'
Semakin keras, semakin nyata. Hanya tinggal menunggu seseorang mendorong pintu usang yang membatasi ruang ini dan anak tangga.
Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain.
Oh, Tian, semoga di kediaman Mitsunari ada cermin lain yang bisa menampungku.
-Ieyasu POV off-
-o0o-
The Curse of Mirror
-o-o-o-
Disclaimer: SenBasa punya Capcom
Cover-nya bukan punya Nial
Words: Xiexie = terima kasih, Ichimatsu = boneka tradisional Jepang, -bisa searching sendiri bentuknya kayak apa. #digetok
Warning: AU, OOC, typo(s), Bad EYD –Oh YEAH!-, GaJe, de-el-el
-o0o-
-Normal POV-
'Krieet…' pintu usang yang membatasi anak tangga juga lokasi tertinggi menara hutan kematian itu berderit keras.
Ieyasu –tepatnya Mitsunari- memposisikan posisi bertarung sambil memegang sebuah katana. Anak bersurai putih itu menunggu seseorang yang mungkin melukainya nanti dengan sorot mata menantang.
Satu detik, dua detik, dan akhirnya cahaya memasuki ruangan tersebut bersamaan dengan seorang pria berhelai senada yang ditimpa cahaya mentari pagi.
Sebuah senyum terpasang di bibir pria berhelai gelombang cantik itu. Kelopak matanya yang terpejam bersama senyumnya kemudian terangkat perlahan, menampakan iris ungu yang tak kalah cantik dari helai putihnya.
"Mitsunari, ayo kita pulang!" ajak pria itu, bersikap sangat ramah pada Mitsunari.
Ieyasu yang memegang kendali tubuh Mitsunari mempererat genggam katana-nya. Wajahnya masih dipasang segarang mungkin, mencoba untuk menusuk pria itu secara fana.
"Siapa kau?" tanya Ieyasu tegas, dalam bahasa mandarin yang tak sadar ia lontarkan.
Sontak sang pria berparas ayu di ambang pintu terkejut mendengar sang Kaisar kecil berujar demikian.
Lalu membalas dengan nada keheranan, tak lupa dengan bahasa mandarin yang juga ia kuasai "Takenaka Hanbei, penasehat ayahmu."
Ieyasu terkejut, langsung ia turunkan katana di tangannya dan memasukannya kembali ke sarungnya.
Ieyasu ingat nama itu, Hanbei, dan pria itu menyebut dirinya sebagai penasehat ayah Mitsunari. Tak salah lagi, dia adalah orang yang mengajari sang Kaisar kecil bermain koto.
"Maaf, aku telah lancang, Hanbei … sama," ucap Ieyasu, bahasanya bercampur antara mandarin dan Jepang.
Hanbei tertawa, lalu menghampiri sang Kaisar kecil dengan senyum sumringah. Kemudian berujar, "Kau mengingat banyak ucapanku mengenai bahasa mandarin. Pertahankan! Nanti akan kutambahkan materi khusus tentang Cina,"
Ieyasu ternganga, ia hanya terpaku diam ketika tatapan lurus sang penasehat menatap bangga dirinya, -atau lebih tepatnya sosok Mitsunari.
"Xiesie," ucap Ieyasu canggung, dibalas tawa oleh Hanbei.
"Nah, ayo kita pulang!" ajak Hanbei lagi, sembari menggandeng tangan mungil Mitsunari.
"Um."
-Normal POV off-
-o0o-
-Ieyasu POV-
Persetan dengan keinginanku keluar dari menara.
Kalian tahu?
Mau aku atau penasehat yang duduk di belakangku ini, harus kuasa mengatup rahang rapat-rapat. Di atas kuda berkulit putih bersih ini, kami terlihat paling hidup di antara hawa kelam.
Usai keluar dari hutan kematian, kami kini sudah ada di tempat berpulang bagi Mitsunari. Tapi tak ada tanda kehidupan di sini. Yang ada hanya warna hitam bersama bau hangus bekas terbakar yang menguak ke udara.
Kupikir, Mitsunari tinggal di sebuah kastil megah yang kokoh nan elok. Namun mencium hiruk atmosfer yang tercipta di sekitar kami, aku harus membuang fantasiku jauh-jauh.
Aku tak ingin bertanya pada pria di belakangku. Takut-takut jika ia tersindir mendengarnya. Akantetapi saat ia menunggang kudanya guna meratapi setiap potongan jasad manusia yang terserak sana-sini, bisa kurasakan betapa geram hatinya kini.
"Bukan Joesaon 'ya?" ia bertanya pada dirinya.
Di hadapan kami berkibar sebuah bendera berwarna kuning cerah. Bisa kutebak itu dari pihak musuh yang berniat memanasi pasukan Toyotomi.
Perlahan Hanbei turun dari kuda yang kami tunggangi. Lalu mendekati bendera yang berkibar dengan angkuhnya.
'SREK!' tanpa kuduga ia merobek bendera tersebut dengan beringas. Kemudian mematahkan tiang kayu yang menjadi penyanggahnya.
Oh, Tian, mengapa aku sedikit memiliki cerita tersendiri melihat kondisi Hanbei? Mungkinkah ini yang dinamakan pemberontakan? Atau perebutan wilayah?
Dari atas kuda ini aku meratap api yang masih berkobar di beberapa sudut. Hitam arang mewarnai rerumputan. Langit bergemuruh, atmosfer mengatakan bahwa daratan ini baru saja dibinasahkan.
Sejurusnya aku mengendarai kuda milik Hanbei ini ke sebuah tumpukan jasad pasukan. Lalu turunlah aku dari mahluk berkulit putih ini, kemudian berlari kecil menghampiri seorang yang tengah sekarat.
"Kau ingat pelakunya?" tanyaku, seraya menggenggam tangan berbau anyir milik laki-laki malang di hadapanku.
"Maaf …." Hendak pria itu menjawab lebih, namun tanpa kuduga rahang bawahnya terpisah dari rahang atasnya, kutebak engsel rahangnya sudah tersayat hingga memisahkan dengan rangka kepalanya.
"Tidak, ini tidak mungkin! Hideyoshi!"
Aku menoleh mendengar teriakan frustasi Hanbei yang mengalun langsung ke telinga. Kurasakan mataku –mata Mitsunari, terangkat sepenuhnya menyadari sesuatu.
Sontak kubawa tubuh kecil ini berlari pada sang penasehat yang terduduk seraya meratapi seseorang yang dibawanya dalam pelukannya. Namun setelah langkah kaki ini terhenti, kuakui aku menyesal karena penasaranku.
"HIDEYOSHIIIII!" erang Hanbei.
Mata ini seakan menipuku. Sesosok pria –mungkin Kaisar penguasa zaman Sengoku harus ada di dalam dekapan sang penasehat. Jasadnya tidak lagi utuh, melainkan terpisah antara bagian perut hingga terbuai usus dan lambungnya.
Kurasakan mataku perih melukiskan hal yang sama ketika melihat Hanbei terisak sejadinya. Jantung di dada kiri tubuh ini terasa amat ngilu seperti teriris pedang. Perlahan ngilu ini mulai tertumpahkan lewat air mata yang tak sadar menghambur.
Mitsunari, apa jadinya jika kau yang melihat ini? aku yang bahkan orang luar dari pihak Toyotomi saja menangis merasakan kepedihan. Apalagi kamu sang pewaris tahta?
Sungguh mengapa tak dari dulu saja kubiarkan rohku pergi? Jika nantinya hal seperti ini kutemui.
-o0o-
Langit pun ikut berduka. Hujan turun sedemikian deras bersama koakan angin yang memburu. Aku dan Hanbei berteduh di sebuah rumah sederhana nan tua. Seorang wanita muda pemiliknya harus menjanda karena insiden tadi pagi. Lokasinya jauh di pedalaman hutan pohon cemara, memungkinkan untuk tidak terlalu dipedulikan pihak lawan –tebakku.
"Diminum dulu tehnya, Mitsunari-sama, Hanbei-sama!"
Aku menoleh mendengar permintaan wanita itu. Di bibirnya tersungging sebuah senyum yang sangat anggun seakan meminta kami untuk melupakan masalah tadi pagi sejenak.
"Xiexie," ucapku, malah membuat wanita itu terheran. Tiba-tiba aku menyadari kata –bahasa yang tak boleh kupakai saat ini.
"Ah, maksudku terima kasih, Matsu-san," kataku membenahi. Ia lalu menyodorkan sepiring kue dango padaku.
Aku mendekatkan bibir gelas pada bibir Mitsunari. Uap kecil dari teh panas yang tersisa kutiup pelan-pelan. Lalu tangan kecil ini kuupayakan membantu untuk menyesap teh beraroma melati itu.
'Glek!' ah, hangatnya ….
Kemudian dengan buru-buru aku meminum teh tersebut. Terlebih karena kerinduanku pada cita rasa yang menggelitik kerongkongan.
"Kau tidak minum, Hanbei-sama?" tawarku, mendapati si penasehat yang hanya menatap kosong ke luar jendela. Sebagai jawaban ia hanya menggeleng pelan.
"Maafkan saya yang tak tahu apapun tentang penyerangan dadakan pagi tadi," Matsu mulai membuka topik perbincangan, mungkin berniat mengajak Hanbei bicara walau hanya sepatah kata.
"Tidak masalah, salahku juga yang terlalu lama di hutan kematian," kata Hanbei, intonasinya lesu tak berniat mengobrol.
"Setidaknya hargai Matsu-san yang sudah meminjami kita kamar mandinya juga pakaian yang cukup untukmu dan aku! Minumlah, Hanbei-sama!" tegasku, mengupayakan agar pria ini tidak bertingkah kekanakan. Lagipula apa-apaan orang yang menolak ajakan minum teh? Kalau dia hidup di zaman Nara pasti diomeli habis-habisan oleh penyuguhnya!
Akhirnya ia menyesap teh suguhan Matsu pelan-pelan. Tatapan matanya masih kosong berbeda saat pertama kali aku menatapnya. Oh, ayolah! Beginikah sifat orang zaman Sengoku saat frustasi?
"Begini Hanbei-sama, saya sungguh beruntung mendapati Anda hadir di rumah saya. Sebenarnya sudah lama saya ingin melaporkan hal ini pada pihak istana, namun belum tersempatkan," Matsu bicara lagi.
"Ya?" jawab Hanbei, acuh tak acuh.
"Saya dan suami saya yang tewas saat penaklukan Joeson, diam-diam mengadopsi anak-anak yang kehilangan orang tuanya," kata Matsu, agak lirih.
Aku sontak menoleh pada Matsu. Tatapan mata wanita itu kemudian menjadi sendu, matanya mulai berlinang air mata. Mendengar penuturannya barusan, aku tersadar akan kebaikan hati wanita ini.
"Oh," jawab Hanbei, masih acuh tak acuh. –sepertinya ia tidak peduli setiap kata yang diucapkan Matsu. Ugh! Dasar penasehat aneh! Petinggi istana macam apa sih dia?
"Mendengar kehancuran Toyotomi, saya turut berduka. Akantetapi bagaimana nasib anak-anak yang selama ini saya adopsi? Apa rencanamu?" kata Matsu, cenderung menagih tanggung jawab petinggi istana yang tersisa.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi kita akan mati,"
Aku mendengus mendengar jawabannya. Begitupula Matsu yang terbelalak.
Oh, Tian, izinkan aku menampar orang ini!
"Kau saja yang mati! Tidak kami dan Okaa-san!"
"'You're right Maeda!"
Lagi-lagi aku menoleh pada Matsu –tepatnya pada para pemilik suara cempreng yang tiba-tiba terdengar.
Oh, Tian, betapa terkejutnya aku mendapati anak-anak manis yang memasang tampang sebal pada Hanbei. Sedikit bertanya pada diri sendiri, apa mereka anak adopsian Matsu?
"Aku setuju sama Dokunganryuu!"
"Aku juga sependapat dengan Mouri-dono!"
"Sanada benar! Kau saja yang mati! Kami masih mau hidup tauk! Week!"
Matsu nampak terkejut mendapati anak-anak adopsiannya bisa berada di belakang dirinya kini. Hendak ia memarahi, namun sepertinya tak kuasa ketika mendapati mereka menggembungkan pipinya dengan rona merah begitu.
"Maeda, Masamune-sama, Mouri, Sanada, Chosokabe …." Lerai anak lainnya.
"Kamu gimana sih Kojuuro! Harusnya kamu mendukung kami!"
"Good answer, Sarutobi! Masa depan kan ada di tangan kita!"
Aku terkekeh pelan mendengar perdebatan kecil anak-anak itu. Sepertinya anak bernama Kojuuro itu berbakat jadi penasehat, melihat hanya dirinya yang tak terima ejekan teman-temannya. –ah, lagi-lagi fantasiku terbang ke sana ke mari.
"Dan kau! Kau pasti anaknya Hideyoshi-sama 'kan?" tegur anak yang dipanggil Dokunganryuu. Telunjuknya mengacung padaku –tepatnya Mitsunari.
"Kau adalah kaisar kami sekarang! Seharusnya kau perintahkan penasehat dungu itu untuk menggunakan otak cerdasnya!" lanjut anak lainnya, helai rambutnya putih acak-acakan.
"Motochika benar! Kamu jangan hanya isap jempol saja dong! Ayo perintahkan sesuatu pada penasehat menyebalkan itu!" sahut anak berkuncir ekor kuda. Diikuti anggukan dari yang lainnya, ketercuali Kojuuro.
Aku menatap Hanbei yang mulai kembali pada sikap awalnya yang protektif. Matanya mulai terisi kembali dengan cahaya kehidupan usai mendapati cacian dari anak-anak kecil di hadapan kami. –itu baru yang namanya penasehat!
Tanpa kusadari, ia menoleh padaku. Tak kuduga pula ia menundukan kepalanya dengan posisi terduduknya. Lalu bibirnya berucap, "Perintahkan aku, Mitsunari-sama!"
Sejurusnya terdengar sorak-sorai dari para anak di belakang Matsu.
Aku lantas terbelalak. Mana bisa aku memberikan sebuah perintah sementara permintaan Hanbei bukan ditunjukkan buatku. Aku langsung gelagapan tingkah tatkala mendapati semua pasang mata tertuju padaku.
Oh tidak, ini tidak bagus! Mana mungkin mereka percaya dengan ceritaku!
"Bisa aku minta sebuah cermin?" ujarku canggung bukan main. Dan entah mengapa malah itu yang terlontar dari mulut ini. Lagipula, kalau aku bohong malah akan mempersulit 'kan?
"Um, kayaknya kemarin Masamune memecahkannya saat duel dengan Yukimura,"
"That's right, Mouri! Aku yang memecahkannya,"
"Kok bisa?"
"Entahlah, Masamune-dono menyenggolnya tanpa sengaja. Lalu karena takut dimarahi Okaa-san aku menyuruh Sasuke membuang serpihannya."
"Yukimura! Kamu tidak bisa jaga rahasia nih,"
Matsu tertawa mendengar penuturan anak berpipi gembul yang dipanggil Yukimura itu. Lalu anak-anak yang lain mulai berdebat lagi.
"Maaf Mitsunari-sama," kata Matsu.
Maaf sih maaf, tapi kan ….
"Kalau boneka kayu?" tanyaku lagi.
"Harus kayu? Sepertinya kami tidak punya, tapi kalau boneka kain kami ada, tepatnya sih boneka ichimatsu," jelas Matsu, membuat aku mulai frustasi.
"Bisa aku memintanya?"
"Tentu Mitsunari-sama, Keiji!"
Oh, baguslah. Matsu mulai memanggil sekaligus menenangkan perdebatan anak-anak itu dengan memanggil salah satunya.
"Apa?" tanya seorang anak berkuncir ekor kuda.
"Bisa tolong bawakan boneka ichimatsu-mu? Ini untuk Mitsunari-sama,"
"Baiklah!" ujar Keiji mengiyakan, ia langsung menghambur sekaligus mengundang tawa dari anak-anak yang lain.
Dan apa aku tidak salah dengar? Boneka Ichimatsu? Anak laki-laki?
"Memangnya untuk apa?" tiba-tiba Hanbei mengajukan pertanyaan untukku.
"Tolong maafkan aku, aku sebenarnya bukan Mitsunari," jawabku, mencoba mendapat pengertian darinya.
"Maksudnya?" sontak Hanbei tak mengerti. Aku mengupayakan senyum di bibir Mitsunari. Tak berapa lama Keiji kembali dengan sebuah boneka ichimatsu berpakaian kimono apik berwarna merah jambu.
Aku merinding seketika. Anak-anak yang lain mulai tertawa terbahak-bahak.
"Ih kalian bilang saja iri padaku! Ini kan pemberian terakhir dari ibu kandungku!" marah Keiji.
"Dari ibu atau dari siapa hayoo?" ledek anak yang berhelai putih.
"Ih, Motochika!"
Melihat akan ada perdebatan, aku langsung berdiri dan berjalan mendekatinya. "Baiklah, sekarang boleh kuminta bonekanya?"
Keiji menoleh padaku. Lalu memeluk boneka itu dengan erat kemudian memohon dengan manisnya, "Tapi jangan dirusak ya?"
"Tidak akan, aku hanya akan menggunakannya sampai aku mendapatkan tubuh baru. Kalau begitu aku pinjam dulu ya?"
Dengan berat hati Keiji menyodorkan boneka itu padaku. Aku mengucap terima kasih untuk menyenangkan hatinya.
Nah, Ieyasu, kau harus pindah sekarang! Lagipula kau belum minta persetujuan Mitsunari juga 'kan?
Kututup mata Mitsunari perlahan, kemudian mencoba melakukan hal yang kulakukan pada tubuh Mitsunari pagi tadi.
'Bruk!' tubuh Mitsunari langsung terhuyung ke lantai kayu.
Kemudian boneka yang kini kutempati kuupayakan untuk bergerak. Mengundang setiap pasang mata tambah terheran karena ulahku.
"Izinkan aku memperkenalkan diri, aku putra tunggal Genmei-huanghou, penguasa zaman Nara. Panggil aku Ieyasu!"
-Ieyasu POV off-
.
.
Continue?
A/N: Argh, alurnya jelek banget! Tapi syukur deh bisa update #nyengir
Oke, yang sudah me-review chap sebelumnya, ini balasannya. Saya minta maaf sebesar-besarnya karena baru sempat balas di chap ini.
Chap 1:
Shakazaki-Rikuo: Makasih banyak, Saki-san! Saya senang kamu menyempatkan me-review fict abal saya. Maaf karena saya baru bisa membalas. Kayaknya kamu lagi dihantui sama Thanatos 'ya? #soktau! Setelah saya googling dia sejenis monster gitu bukan 'sih? Oke, sekali lagi terima kasih sudah jadi pe-review pertama cerita ini ^^
lo-aruka: Ya, Rabb, ini anak! Udah saya duga kamu bakalan gebyar-gebyor tentang saya ya! tapi makasih cuk, udah ripiw. Tebakan kamu bener, niat saya mau gonta-ganti sejarah aslinya pake khayalan saya. Maaf kalo jadinya ancur. Soal tampang Mitsunari, bisa bayangin sendiri.
Porcelain-Rabbit: Terima kasih sudah review, Senpai! Saya juga bahagia akhirnya bisa buat cerita di mana tokohnya masih kecil. Btw, makasih fav story-nya^^
KuroIChio: #maaf kalo penulisan name-nya salah, tapi makasih banyak sudah di fav and follow story abal saya, Senpai ….
Dissa Chavalliana: Hai, Dissa-san? Maaf saya baru bisa balas review kamu, ini udah saya lanjut. Semoga kamu nggak eneg baca cerita saya 'ya? Oh ya, makasih banyak review-nya^^
Chap 2:
lo-aruka: Cuk, Anda juga bikin saya maso! Dan plis jangan panggil saya di sini kayak kita ngobrol biasa! Saya malu nggak nahan! Makasih juga sudah kembali review. Semoga lanjutannya nggak bikin eneg ya?
Hanami Hanajima: Halo, Hanami-san? Saya senang kamu menyempatkan review. Kayaknya tebakan kamu benar, mungkin akhir dari cerita ini bakalan angst 'ya? semoga kamu baca chap tiga ini deh, dan nggak eneg sama chap 3.
Porcelain-Rabbit: Makasih pujiannya Senpai, Anda masih bingung sama Ieyasu-nya ya? sebenernya saya bikin dia meninggal usia lima belas, tapi dikurung pake wujudnya dia umur sepuluh tahunan. –saya tahu ini aneh, dan semoga Anda nggak eneg baca lanjutan cerita ini.
Oke, sekian dari saya, salam NialCoffee X)
