-Ieyasu POV-

"Izinkan aku memperkenalkan diri, aku putra tunggal Genmei-huanghou, penguasa zaman Nara. Panggil aku Ieyasu!" ujarku memperkenalkan diri.

Tatapan heran dari setiap inasni malah yang kudapati. Oh, ayolah… jangan tatap aku seakan aku adalah hantu!

Hening… yang terdengar hanya rintikan hujan, dan juga…

-BLAAARRR!

"GYAAA!" beberapa di antara anak-anak itu berteriak.

"ROH JAHAAATT!"

Bagus, aku sudah salah dialog di hadapan mereka. Kalau mata kaca boneka ini bisa kuputar jengah, akan kulakukan.

Satu hal, aku benci dengan julukan roh jahat yang diperuntukan padaku. Haruskah aku kembali pada tubuh Mitsunari? Tidak, itu bukan ide cemerlang!

Begini saja, apa kira-kira mereka akan mendengarkan aku jika aku menceritakan kisah fantasi? Oh, Tian, kuharap begitu.

"Tenang anak-anak!" Matsu menengahi.

"Okaa-san, aku dan Masamune-dono akan melindungi Okaa-san! Ayo Masamune-dono, kita usir roh itu dari rumah ini!"

"Good idea, Sanada!"

Yukimura berlari ke belakang sejenak mengambil sesuatu.

Firasatku tidak bagus.

"Aku juga setuju! Ayo usir dia!"

Ow, sepertinya aku harus menghindari ketiga anak bernama Masamune, Yukimura, dan Motochika yang sudah siap dengan kuda-kudanya.

"AYAYAYAYAAA! BERBURU ROH JAHAAAATT!"

Kurasa… lebih baik aku pindah ke tubuh Mitsunari sekarang, atau pilihan terburuknya aku harus lari-lari menghindari serangan mereka dengan tubuh lunglai boneka ini.

'BLETAK!' bunyi itu langsung terdengar dari tongkat kayu yang diayunkan Yukimura.

Mitsunari, kumohon maafkan aku sekali lagi!

-Ieyasu POV off-

-o0o-

The Curse of Mirror

-o-o-o-

Disclaimer: SenBasa punya Capcom

Warning: AU, OOC, typo(s), Bad EYD –Oh YEAH!-, GaJe, de-el-el

-o0o-

-Normal POV-

'Jrssshh….'

Nyanyian hujan membungkam petang. Dari matahari tepat di kepala hingga kini, tangis langit tak kunjung mati, laksana memberi orkes kesedihan dari sebuah hati tersakiti, tak lain duka era Toyotomi.

'Klak… klak….'

Tiba-tiba nyanyian langit yang berselang guntur bertambah satu pion.

'Klak… klak….'

Intonasinya berjeda, terdengar berbeda dari cepatnya melodi semula.

'Klak… klak….'

Namun jeda itu perlahan memberat.

Dari kejauhan nampak sebuah siluet kecil yang tengah beradu angkuh seraya membelah hutan.

'Klak… klak….'

Samar….

Akhirnya mengabu dan nampaklah pemilik siluet mungil yang tengah membopong sosok lain di punggungnya.

Dan ternyata, bunyi 'Klak' itu berasal dari sandal kayu mahoninya.

'Klak… klak….'

Sandal kayunya masih membising, berjeda akibat tubuh anak yang dibopongnya.

'Klak….'

Sosok itu berhenti.

BLAAARR!

Sejurunya terdengar teriakan langit yang membuat matanya terpejam.

'Bruk'

Akhirnya tubuhnya terjatuh ̶ termasuk tubuh anak di punggungnya.

Poni panjang dari surai coklat terang miliknya terjatuh menutupi matanya. Kepalanya tertunduk, air matanya turun guna mengusir sesak di hatinya.

BLAAARR!

Langit kembali berteriak, membuat anak itu memejam matanya lagi. Lalu dialihkan pandangnya pada sosok yang tadi digendongnya. Isakan mulai terdengar dari bibirnya seiring tangisnya yang semakin menjadi.

"Gomenna, Ieyasu-sama," pekiknya. Namun sosok yang ia eluhkan itu bungkam. Matanya terpejam, wajahnya nampak damai tak seperti dirinya.

"Aku janji akan mengistirahatkanmu di tempat yang layak," ujarnya, sambil menganggunkan senyum di bibir kecilnya.

Diraihnya jemari lunglai sosok yang ia panggil Ieyasu-sama itu, ia masih terisak sembari tertunduk.

"Kami-sama, kumohon bantu aku mencari tempat berteduh di hutan ini," ia berdoa.

Satu alasan kuat yang membuat ia beradu nyali dengan cuaca adalah sosok mungil di hadapannya.

Dia hanyalah seorang pelayan kecil yang mencoba melakukan tugas terakhir sebelum akhirnya ikut pergi dari dunia ini. Dan tugas terakhir itu adalah memakamkan tuan mudanya dengan damai.

-Normal POV off-

-o0o-

-Ieyasu POV-

"HEYYAAH!" gantian Masamune mengayunkan tongkatnya. Tapi bisa kuantisipasi serangan sembrononya.

"Jangan menggunakan tubuh Mitsunari-sama!" ketus Motochika. Ia memutar rantai di tangannya dengan angkuh seakan ada bandul bola besi di ujungnya. Kemudian diayunkannya rantai buta itu ke arahku–ke arah Mitsunari.

"Keluar kau roh jahaaaatt!" seru Yukimura, ia mengayunkan kembali tongkat panjang di tangannya, namun serangan seperti itu tak berarti apa-apa buatku.

Perlu 'kah aku beri salah satu dari mereka pelajaran seni bela diri? Sepertinya boleh saja, sudah bertahun-tahun aku tak berkelahi.

'BLETAK!' Yukimura menggertakkan tongkatnya. Sejurusnya Masamune ikut menyerang sisi samping, diikuti Motochika yang melayangkan rantainya.

Yah, beginilah jadinya. Harus kuakui aku tak bisa memukul tiga anak yang mencoba menyerang diriku. Sedikit membuat mereka bertambah marah, aku hanya menghindari serangan mereka yang terbilang tak terlatih sama sekali.

"HIYAA!" tongkat Yukimura datang lagi. 'Plok!' kutangkap ujung tongkat kayu itu dengan kepalan tangan Mitsunari, membuat anak berwajah manis itu terhenyak.

'Syut!' saat mata Yukimura sibuk menatap senyum sarkartis yang kuupayakan di bibir Mitsunari, kutarik tongkat di tangannya hingga terjungkal tubuh kecilnya ke depan.

Tidak, aku takkan kuasa menyakiti anak ini. Walau peluangku begitu banyak untuk melakukan serangan balasan. Jadi kutahan Yukimura dengan posisi tidak enak dilihat, tubuhnya nyaris terhuyung ke depan.

"Gerakanmu masih jelek," ucapku, berbisik tepat di telinga anak itu setelah kutarik lagi tongkatnya hingga tubuhnya dekat pada sosok Mitsunari.

"Ugh! Jangan menghina permainan orang lain!" ketus Yukimura, membuatku tertawa pelan.

Dengan tangan mungilnya ia menarik tongkat ini, kurasakan amat kencang ia memberikan gaya hingga kembali tubuhnya ke posisi semula.

"Kau pernah merasakan terbang di udara?" ujarku sambil menyeringai, Yukimura nampak terbelalak. "Baiklah sepertinya kau ingin merasakannya."

'Syuut!' aku mengangkat tongkat yang dipegang erat oleh Yukimura ini ke atas.

'Bruk!' dan ia jatuh tepat posisi wajahnya duluan.

Kutatap angkuh dua anak lain yang masih menantangku. "Masih mau dilanjutkan?" aku bertanya.

"Shut up!" erang Masamune. Anak berjulukan Dokunganryuu itu maju sambil memutar-mutar tongkatnya.

'Jdug!' tak mau terkena tongkat yang ia ayunkan, terburu aku menyelengkat kaki kanannya hingga tersungkurlah Masamune dengan bunyi berdebum keras. Langsung anak itu terlumpuh akibat menahan sakit di kakinya.

"Payah kalian! Biar aku yang hadapi dia!" tegas Motochika, ia maju dengan beringas masih memutar-mutar rantai itu di udara. Aku memandanginya kalem, kira-kira serangan apa yang bagus untuk langsung menjatuhkan anak itu?

'TRAK!' dengan mudah kuhindari rantai itu. Sementara rantai itu sendiri membuat retakan tak berarti di lantai kayu.

"Kuat juga kau 'ya?" pujiku. "Jangan menghinaku, roh jahat!" ia memekik.

'Syut!' kembali rantainya ia ayunkan ke arahku. "Jangan menghindar!" keluh Motochika.

"Aku tidak akan menghindar, tenang saja!" balasku.

'Grap!' dengan enteng kudapatkan ujung dari rantai itu. Kulilit rantai itu pada tangan Mitsunari sedikitnya, lalu kutarik paksa rantai itu hingga membuat Motochika terseret di lantai.

Anak berhelai putih itu kalah kuasa olehku, baiklah kurasa pertarungannya selesai.

"Aku menang!" kataku.

Motochika meringis, segera kubantu dia berdiri.

"Sudah hentikan kalian semua!" Matsu kembali bersuara. Kini kualihkan pandangku pada wanita tersebut. Matsu terlihat cemas, dan kutebak naluri keibuannya langsung tak bagus mendapati anak-anak mereka kulumpuhkan dalam sekejap.

"How strong you are!" Masamune berdecih, Kojuuro langsung membantu ia berdiri.

"Kalian nggak dengar 'ya? dia bukan roh jahat, tapi putra Permaisuri Genmei!" Keiji bersuara. Diikuti anggukan dari anak berambut pendek di belakangnya.

"Aku tak percaya! Kau pasti roh jahat yang ingin menguasai tubuh Mitsunari-sama, 'ya kan?" bentak Yukimura. "Danna…," Sasuke mencoba menenangkan.

"Oh jadi begitu, ternyata dongeng penghantar tidur itu sungguhan ya, Ieyasu?" sontak aku menoleh pada sosok penasihat yang masih terduduk di posisinya. Ia terkekeh, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arahku.

"Dongeng penghantar tidur?" ulangku, apa maksudnya… itu kisahku?

"Saat aku anak-anak dulu, aku sering dengar kisah fantasimu, dan tak kusangka kau sungguhan, bukan mitos," kata Hanbei.

"Pantas saja kau bisa berbahasa mandarin, kupikir semua itu Mitsunari yang melanturkannya. Karena setahuku Mitsunari payah sekali menangkap setiap materi yang kuberikan," tutur si penasihat, membuat ia jadi pusat perhatian.

"Apa kalian pernah dengar juga tentang kisah pewaris tunggal permaisuri zaman Nara yang terperangkap di cermin?" tanya Hanbei pada setiap anak Matsu. Beberapa di antaranya ada yang mengangguk, sebagian terbingung sambil mendecih angkuh.

"Kurasa akan menarik jika kau menceritakannya, Hanbei-sama," saranku. Ia menatapku ambigu lalu tertawa pelan. "Boleh saja," lanjutnya.

"YEAYH!" dan entah mengapa Sasuke bersorak riang, membuat anak-anak lainnya menatapnya dengan maksud, "Hah?"

"Ayo buat lingkaran!" seru Keiji, anak-anak lain mengikutinya mau tak mau.

Dengan kompak anak-anak itu membuat lingkaran secara serempak, aku mengikutinya dan duduk di antara Kojuuro dan Sasuke.

"Jadi begini," dan Hanbei mulai bercerita.

"Tunggu sebentar!" Kojuuro berpekik, ia berlari keluar dari lingkaran hendak mengambil sesuatu, tak lama kembalilah ia dengan sebuah lilin yang berdiri di dalam gelas mungil, lalu ia meletakannya di tengah-tengah lingkaran.

"Kau pikir kita mau uji nyali?" Masamune mencemooh.

"Hampir malam, Masamune-sama, jadi kunyalakan saja," balas Kojuuro, mampu membungkam Masamune yang hendak berdalih.

-Ieyasu POV off-

-o0o-

-Normal POV-

Anak berhelai coklat terang itu kini berdiri di antara dua pohon cemara besar. Matanya yang layu akhirnya membulat sempurna ketika mendapati sebuah rumah di cakrawalanya.

"Akhirnya," ada jeda. "Aku bisa beristirahat sejenak," katanya sambil melirik sosok tuannya di punggungnya.

Terburu ia berjalan, setengah berlari agar cepat-cepat bisa mengetuk pintu rumah tersebut.

Sesampainya di depan pintu, dengan lihai ia mengetuk, sambil berharap rumah itu mau menerimanya malam ini.

-Normal POV off-

-o0o-

-Ieyasu POV-

"…dan pada akhirnya anak laki-laki itu terkurung di dalam cermin selamanya, sebenarnya ia bisa keluar dari sana asal mampu memenuhi satu syarat," Hanbei masih jadi pusat perhatian. Gestur yang ia gunakan dalam pencitraan cerita tersebut membuatku ikut terlarut bersama anak-anak ini. Setengah dari anak-anak yang bahkan telah tahu cerita itu, mau tak mau jadi ikut terbawa suasana.

"Apa syaratnya?" Yukimura membuka suara, diikuti anggukan dari Masamune yang sepertinya juga belum mengetahui akhir cerita itu.

"Anak itu harus menemukan tubuh seseorang yang cocok dengannya," jawab Hanbei, mengakhiri cerita.

Hening… entah mengapa mereka semua terbungkam.

"Tunggu dulu, kalau syaratnya adalah menemukan tubuh seseorang yang cocok dengannya, apa itu artinya…" Sasuke membuka suara, jeda sebentar, ia menatapku yang memegang kendali tubuh Mitsunari agak ngeri. "Apa tubuh Mitsunari-sama kini telah menjadi miliknya?" tanyana berlagak horror.

Tatapan ngeri kudapati dari beberapa anak lainnya, aku sampai dibuat canggung. "Tidak, aku tidak akan mengambil tubuh kaisar kalian," jelasku.

"Bisakah kami percaya?" anak bernama Motonari angkat bicara, tatapannya sinis menatapku, kuakui dia tipikal anak yang pasif, namun sekalinya bicara bisa membuat terperangah dengan intonasi ucapannya.

"Tadinya aku mau bersemayam di tubuh boneka Keiji, tapi kalian malah menyerangku duluan," tuturku.

"Pokoknya kau harus keluar dari tubuh Mitsunari-sama!" pekik Yukimura. Diangguki oleh beberapa anak di antara mereka.

"Kalau aku bisa menemukan tubuh baru, kujanji akan langsung pindah," ucapku.

Ow, sepertinya aku salah dialog lagi. Dengan marah mereka menatapku tak suka. Terpaksa kuputar jengah mata ini sambil menghela napas dengan keras.

'Tok… tok… tok…' tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar. Sontak kami sama-sama menoleh pada titik yang sama.

"Ada seseorang," kata Matsu, ia bangkit berdiri hendak membukakan pintu rumahnya.

"Jangan!" Hanbei berseru. "Bisa saja itu jendral dari pihak musuh," lanjutnya.

Matsu terbelalak. "Tapi bisa saja dia orang baik 'kan?" bela wanita itu.

"Masih adakah orang baik setelah Toyotomi dibantai habis? Tak mungkin itu terjadi!" pekik Hanbei setengah membentak.

'Tok…' terdengarlah ulang ketukan pintu itu, membuat perdebatan Matsu dan Hanbei terhenti.

"Seorang jendral takkan mengetuk pintu sepelan itu, kau tahu?" Matsu membantah.

"Dari mana kau tahu? Bisa saja dia hanya membuat taktik agar kau membukakan pintunya."

Matsu terdiam. Diselingi bunyi ketukan pintu yang terdengar lagi.

"Jangan berkelahi, Okaa-san! Lebih baik kita sembunyikan Hanbei-sama dan Mitsunari-sama di kamar!" kata Kojuuro menyarankan.

Matsu menatap Kojuuro dalam diam, lalu mengangguk dan beralih menatap aku-Mitsunari dan Hanbei.

"Lakukan rencanamu!" titah Matsu. Kojuuro mengangguk, ia pun membimbing kami memasuki ruangan lebih dalam di rumah ini.

'Krieet…' bunyi pintu rumah berderit, setengah penasaran aku menoleh ke belakang, namun sayang tak dapat kulihat siapa sosok yang mengetuk pintu.

-Ieyasu POV off-

-o0o-

-Normal POV-

Anak yang mengetuk pintu itu tersenyum semanis yang ia bisa.

Matsu yang mendapati kehadiran dirinya terperangah mendapati senyumnya yang anggun.

Oh, Kami-sama, ternyata di hadapannya berdiri seorang anak berparas lugu, membantah tebakan Hanbei semenit yang lalu.

"Bolehkah aku bermalam di sini bersama tuanku? Aku janji besok kami akan pergi," ia memohon.

Matsu mengelus pipi sang anak yang dingin akibat diguyur hujan seharian. "Tentu saja, masuklah!" kata wanita itu sambil membukakan pintu rumahnya lebih lebar.

"Terima kasih banyak, Nyonya…." Masuklah dia masih dengan membopong tuannya.

Mata anak itu langsung mendapati sosok anak-anak sebayanya yang memandanginya dengan hangat seakan menyambut dirinya.

"Kimono-mu bagus, pasti kau anak orang kaya," puji Motochika, membuat anak itu tersentak.

"Rambutmu juga tertata rapih walau basah, kau dari keluarga jendral atau seorang bangsawan, 'ya kan?" lanjut Motonari.

Anak itu tersenyum mengiyakan, lalu berujar "Terima kasih, sebenarnya aku hanya seorang pelayan."

"Sama seperti Kojuuro, What's your name?" Masamune gantian bertanya.

"Tadatsugu," jawabnya.

"Hey, kalian! Harusnya kita berikan dia pakaian bersih dulu! Jangan langsung mengerumbuninya begitu!" Keiji berseru, ketiga anak yang berdiri di dekat pintu itu mendecih sebal sebagai respon.

"Tidak perlu! Aku hanya akan di sini semalam saja, besok aku akan pergi," lerai Tadatsugu, tatapan tak suka langsung dihadiahi buatnya.

"Tche, Okaa-san itu orang yang baik. Kau bisa selamanya di sini bersama kami," ujar Sasuke.

"Asal kau mau membantu kami mengambil air di danau, dan berburu bersama kami," lanjut Yukimura. Anak berparas manis itu langsung diberi tatapan maut dari teman-temannya.

"Tidak masalah, tapi… satu hal, aku harus memakamkan tuanku dulu, baru aku bisa tinggal bersama kalian!" kata Tadatsugu, membuat anak-anak itu menoleh pada sosok tuannya yang tertidur di punggungnya.

"Ara… ara… jadi kau membawa-bawa orang mati di tengah hutan?" Keiji bertanya sok horror.

"Iya, maafkan atas kelancanganku, tapi kumohon izinkan aku menyimpan tubuhnya semalam atau setidaknya sampai hujan berhenti," kata Tadatsugu setengah berlirih.

"Ah, kau tidak perlu memakamkannya!" tiba-tiba Motonari menjentikkan jarinya, membuat anak-anak lain menoleh padanya.

"Kita punya roh yang bisa mengisi tubuh tuanmu, yaah itu terserah padamu saja, Pelayan!" kata Motonari, terlihat jelas ia menyeringai atas sugestinya.

"Kau selalu lebih pintar dariku, Nari-chan!" puji Motochika, setengah iseng dengan julukan yang ia berikan.

"Aku memang terlahir jenius, Chika-chan!" balas Motonari sarkartis.

"Maaf tapi aku tidak mengerti maksud kalian," Tadatsugu masih terbingung.

Seringai tajam langsung didapatinya dari beberapa sosok mungil di hadapannya. "Nanti kau akan tahu," kata Masamune mengakhiri permasalahan sang pelayan kecil.

Sementara Tadatsugu sendiri terdiam sambil bertanya pada dirinya mengenai maksud sugesti Motonari.

Ah, sesegeranya dia akan tahu, tenang saja!

-Normal POV off-

.

.

Continue?

A/N: Hadeeeh, saya telah update 'ya? kayaknya cerita ini bakalan ditinggal pembaca karena keteledoran saya. Apalagi chapter ini nggak bagus sama sekali.

Special thanks, untuk semua orang yang menunggu apdetan cerita ini. Nanti dikasih silver queen sama Ieyasu deh….

Ieyasu: Masih jaman aja itu silver queen… (_ _!)

Oke, ini balasan review-nya.

lo-aruka: Wat de? Adegan Hide mati kayak tikus modar tengah jalan? Entah kenapa saya baru nyadar pas Anda ripiw. Btw, makasih ripiwnya arukaaaa….

Shakazaki-Rikuo: Saya udah nanya dengan yang bersangkutan soal si Thanatos, kayaknya nggak seburuk yang Anda bayangkan #digetok. Btw, makasih review-nya….

Rick de power2: Makasih fav story-nya, Senpai….

Porcelain-Rabbit: Um… Saya masih jauh di bawah Anda. Kayaknya itu cuma dongeng penghantar tidur(?), alur ngaco plus apdet ngaret begini nggak layak dibilang jago. Btw, makasih review-nya.

Makasih juga untuk silent reader (kalo ada). Semoga chap depan nggak ngaret lagi…