Choi Siwon adalah anak ke dua dari tiga saudara. Terlahir di tengah saudara yang sempurna, membuat dirinya terasingkan. Perlakuan kedua orang tua Siwon dianggap berbeda kepadanya. Dapatkah Siwon bertahan di keluarga itu ketika suatu masalah muncul di permukaan?
LET'S READ! LEAVE COMMENT, PLEASE!
19th
Chapter: Prolog 2
By Yuya Matsumoto
"Robellion, Choi Siwon"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Siwon
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu. Still Prolog. Siwon's Side. RnR please
.
.
\(^3)/~ Happy Reading ~\(^.^a)
.
.
BUUUG! BUUUG! BRAAAAK!
"Bangun kau pemalas. Mau sampai kapan tidur terus", teriak Appa dari luar kamar.
Appa mengetuk pintu dengan keras, terakhir aku yakin ia menendang pintu tak bersalah itu. Appa memasuki kamarku. Aku bersembunyi di bawah meja belajarku, takut Appa menemukanku. Tubuhku bergetar hebat saat mataku bertemu pandang dengan mata Appa. Sorot kebencian terkuar dari dalam pupil matanya. Ia menarikku keluar dari tempat persembunyian. Aku berusaha menahan tubuhku, namun rasa takut itu lebih menguasaiku. Appa menyeret tubuhku keluar kamar. Aku hanya pasrah ketika kulitku beradu dengan dinginnya lantai.
Eomma hanya bisa menghela napas beberapa kali. Aku tahu eomma sudah sangat bosan dengan acara tiap pagi antara aku dan Appa. Namun eomma tetap diam dan memilih untuk menata meja makan dengan sangat rapi. Appa sudah duduk di singgasananya dengan koran di tangannya dan kopi siap tersaji di atas meja. Aku duduk bersama dengan kakak dan adikku. Eomma duduk di samping Appa. Kami mulai menyantap sarapan pagi ini. Aku tidak berselera, lebih memilih memandang kedua namja yang duduk di dekatku. Ada rasa iri bergejolak dalam tubuhku.
Kakakku sudah memakai seragam kebanggaannya. Ia adalah seorang polisi dengan jabatan bagus di kepolisian Seoul. Sedangkan adikku asyik melahap makanannya dengan rakus. Biarpun sikapnya begitu, ia adalah salah satu dari anak Appa yang disayang. Adikku seorang jenius fisika dengan segudang medali yang ia raih dan juga atlit timnas sepakbola Korea Selatan. Kakakku, Seung Hyun dan adikku, Minho. Mereka adalah anak kebanggaan Appa dan Eomma. Setiap hal hanya berkutat kepada mereka. Setiap kemauan mereka selalu dituruti, sedangkan aku bukanlah siapa-siapa.
Aku hanya seorang anak gagal milik eomma dan appa. Appa selalu menyalahkan eomma atas kehadiranku. Tidak ada satu hal yang bisa ia banggakan atasku. Jikalau bukan karena aku memang darah dagingnya, appa pasti sudah menendangku ke jalanan. Berkali-kali ia lontarkan hal itu kepadaku. Setiap katanya merobek jantung hingga tak bersisa. Rasanya pilu tak tertahankan. Aku memang tak berguna.
"Apa yang sedang kau lamunkan Siwon-ah?", tanya eomma dengan sangat lembut. "Makanlah. Kamu sudah terlalu kurus sekarang", lanjutnya sambil meletakkan sepotong daging ke atas piringku.
Aku menatap sendu eommaku. Aku melihat goresan-goresan letih di wajahnya. Rasa sayangnya tak pernah berkurang kepadaku. Eomma berkali-kali melindungiku, namun kekuasaan Appa mengalahkan seluruh usahanya.
Aku memandang potongan daging yang eomma berikan. Aku benar-benar terharu. Eomma begitu menyayangiku.
HAP! Sepotong daging yang penuh cinta eomma hilang dari atas piringku. Daging itu masuk ke dalam kerongkongan Minho. Ia mengunyah dengan terburu-buru. Aku memandang adikku itu dengan tatapan garang. Aku menarik leher Minho, lalu membuka lebar-lebar mulutnya. "Ya! Keluarkan daging itu! Dasar kau menyebalkan!"
"Uhuk… Uhuk!". Minho tersedak. Ia memukul-mukul dadanya. Terlihat ia sulit bernapas.
"CHOI SIWON! APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH! KAU INGIN MEMBUNUH ANAKKU?", teriak Appa saat ia melihat Minho kesakitan.
Aku tetap menarik-narik leher Minho. Tetap berusaha agar Minho mengeluarkan daging yang mungkin sudah diproses dalam lambungnya. Aku tidak mempedulikan suara Appa yang mulai berteriak-teriak karena aku menyakiti salah satu anak kesayangannya. "Biar saja! Ia sudah memakan daging kesukaanku"
"Appo, hyung!", teriak Minho saat aku berhenti menarik lehernya. Aku tidak ingin menambah kekacauan di dalam rumah ini.
"Aku selesai. Nih", ucap Seung Hyun-hyung sambil menyingkirkan piringnya yang sudah kosong. Seung Hyun-hyung memberikan segelas air kepada Minho, lalu menundukkan badannya di hadapan eomma dan appa. "Aku berangkat, eomma, appa. Annyeong", lanjutnya dengan ekspresi datar yang biasa ia lontarkan.
"Hyung, jahat! Aku pikir hyung tidak akan memakan daging itu. Lagipula untuk apa hyung hanya memandangi daging itu. Wee", ledek Minho. Ia menjulurkan lidahnya, lalu melanjutkan makan sarapannya.
Aku akan menjitak kepala bocah nakal itu, namun tangan appa menginterupsi kegiatanku. "Diam kau, bedebah", ujar appa sarkastik. Aku terdiam. "Kelakuanmu tidak berubah, ya Choi Siwon. Argh! Apakah kamu masih bisa pantas menyandang nama itu. Ck! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kuliah tidak pernah selesai. Apa maumu hah?", tanya Appa garang.
Aku menaruh sendok di atas piringku. Aku menghela napas panjang. "Appa sudah tahu kan kalau aku mau bermusik. Aku sudah menuruti keinginan appa untuk belajar di bidang bisnis. Aku sudah berusaha keras, namun itu memang bukan bidangku. Maafkan aku, appa. Aku sudah berusaha yang terbaik", jelasku dengan suara yang kupaksa lembut. Aku takut emosiku tak terkontrol. Aku berdiri, lalu membungkuk di hadapan eomma dan appa.
"Ya! Mau kemana kau?", teriak appa padaku yang mulai melangkah keluar ruang makan.
"Sudahlah yeobo", ucap eomma menenangkan appa. Selalu itu yang eomma lakukan untukku. 'Terima kasih, eomma', batinku.
"Dia bilang usaha. Usaha darimana. Dia terlalu sering bolos kuliah. Argh! Anak menyebalkan! Jangan tiru hyung-mu itu, Minho", teriak appa sambil memperingati adikku.
Aku tidak peduli. Aku terlalu muak. Aku hanya ingin pergi dari sini, menghilangkan penatku untuk sesaat.
.
\("^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^.^")/
.
"Bolos kuliah lagi?", tanya Jiyong lembut padaku.
Saat ini aku sedang berada di studio musik milik namja manis di depanku ini. Aku memang sering ke sini. Menghabiskan waktu dengan bermain drum dan mengarang lagu. Jiyong adalah kekasih hyung-ku. Ya, mereka sedikit abnormal. Biarkan saja, aku tidak peduli selama itu tidak mengusikku. Jelas appa tidak mengetahui hubungan terselubung mereka. Appa terlalu sibuk dengan segala bisnisnya dan perusahaan besarnya itu. Jika appa tahu, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa wajahnya nanti. Aku bisa saja jahat dan membeberkan semua rahasia hyung, tapi aku tidak mau appa sakit karena stress memikirkan kelainan anaknya itu.
"Hei, apa yang kau pikirkan?", tanya Jiyong-hyung sekali lagi. Ia memberikan sekaleng coke dingin kepadaku.
"Gomawo, hyung!", jawabku. "Hari ini materi apa yang sedang kau kerjakan, hyung? Adakah artis baru yang sedang membuat album?", tanyaku padanya, mengalihkan pembicaraan.
Jiyong-hyung hanya tersenyum. Ia mengelus rambutku pelan, lalu duduk di kursi sebelahku. Kami sama-sama memandang ke dalam ruang rekaman yang kosong. "Ada masalah lagi di rumah ya? Hei, jangan terlalu bertingkah. Kasihan appa-mu. Ia sangat menyayangimu. Kau harus tahu itu", ujarnya sambil meneguk coke miliknya.
Aku mengerucutkan bibirku. Aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari namja manis ini. "Kau menyebalkan, hyung. Aku tidak akan pernah bisa berbohong darimu"
"Hahahaha… Itulah hebatnya seorang Kwon Jiyong", ujarnya membanggakan diri. "Jadi apa lagi yang terjadi di rumah?", tanya Jiyong-hyung, benar-benar tidak memberiku celah untuk berkutik. Sial!
"Tadi pagi aku mencekik leher Minho karena seenaknya memakan daging yang diberikan eomma", jawabku santai.
"OMMO!"teriak Jiyong-hyung di depan wajahku. Ia memutar kursiku hingga aku bisa menatap mata besarnya yang sedang terbelalak.
Aku memalingkan wajahku. "Biasa saja hyung!"
"Kamu kasar sekali kepada adikmu. Itu tidak boleh, Wonnie. Begitu juga dia kan adikmu satu-satunya. Kamu harus sayang kepadanya", nasihat Jiyong-hyung panjang lebar.
Aku berdiri dari dudukku. Aku melangkah keluar dari ruang studio itu. "Hyung semakin menyebalkan saja", kataku kesal.
Langkahku terhenti ketika seorang namja dengan tubuh tinggi, tegap dan wajah datarnya memasuki ruang studio. Ia menahanku, lalu memintaku duduk di sofa dekat pintu. Aku mendengus pelan diperlakukan seperti itu. Namja itu mendekati Jiyong-hyung. Ia mencium bibir Jiyong-hyung dengan sangat lembut. Ciuman itu dibalas oleh Jiyong-hyung. Mereka mulai saling melumat bibir. Desahan semi desahan mulai keluar dari mulut mereka.
"EHEM! YA! JANGAN MESUM DI DEPANKU", teriakku. Teriakanku membuat sang namja, yang sering kupanggil Seung Hyun-hyung, menghentikan belaian tangannya ke dalam kaos Jiyong-hyung. "Aku mau pergi saja. Lanjutkanlah, hyung! Huh! Menyebalkan sekali", lanjutku. Aku mulai sebal dengan semua orang yang ada dalam kehidupanku. Mereka memuakkan.
"Berhenti, Siwon! Duduklah. Hyung mau bicara denganmu", perintah Seung Hyun-hyung dengan wajah datarnya. Rasanya ingin sekali aku ganti wajahnya itu. Adakah yang tahu dimana membeli stok wajah?
Aku menjatuhkan diriku di atas sofa itu, melipat kedua tanganku di dada. Seung Hyun-hyung mengambil sebuah bangku, lalu duduk di hadapanku. Jiyong-hyung berdiri di belakang Seung Hyun-hyung sambil memegang bahu hyung-ku itu. Aku tahu tujuan Jiyong-hyung, agar Seung Hyun-hyung tidak memarahiku.
"Dengarkan aku, saeng", kata Seung Hyun-hyung lembut. Aku mengangguk. "Dewasalah. Berhenti membuat appa mengkhawatirkanmu"
"Appa tidak sayang kepadaku, hyung. Ia hanya sayang hyung dan Minho saja. Dia membenciku, hyung", bantahku. Sebenarnya aku sudah muak dengan tema pembicaraan ini.
"Kalau ia membencimu, sudah pasti sejak dulu kau dibuang ke jalanan". Aku tersentak mendengar ucapan Seung Hyun-hyung. Aku juga pernah memikirkan hal ini. Seung Hyun-hyung menggenggam tanganku. "Dengarkan aku, Siwonnie. Appa paling menyayangimu, makanya ia bersikap terlalu protektif kepadamu. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Buatlah appa bangga. Selesaikan kuliahmu lalu lanjutkan perusahaan appa", mohon Seung Hyun-hyung.
Aku menepis tangan Seung Hyun-hyung. Aku berdiri. Aku sudah sangat kesal menanggapi keegoisan semua anggota keluargaku. "Dengar ya, hyung. Appa bukan menyayangiku. Dia hanya ingin melampiaskan semua ego-nya. Appa malu memiliki anak sepertiku hingga ia terus membentukku menjadi yang ia mau. Kenapa bukan Hyung atau Minho saja? Biarkan aku bebas, hyung! Kalau kau mau berbakti pada appa, lakukanlah apa yang ia inginkan. Jangan justru menimpakan semua ini kepadaku"
Aku meninggalkan kedua hyungku itu. Sayup-sayup aku mendengar suara Jiyong-hyung yang menenangkan Seung Hyun-hyung. Biarkan saja, aku tidak peduli. Mereka terlalu membuatku pusing. Tidak bisakah mereka membiarkan aku menjalani hidup sesuai yang aku sukai? Huh!
Aku duduk di salah satu bangku yang selama ini kubenci. Aku membuka bukuku. Aku lebih memilih diam, memandangi langit daripada suara usang namja separuh baya di depan kelas. Ya, aku sedang berada di kelas, tepatnya aku sedang belajar. Aku bukannya sering bolos kuliah, aku hanya malas mendengarkan ucapan menyebalkan dosen-dosen itu.
TUUK! Sebuah buku mengenai kepalaku. Tidak keras tapi cukup membuat kepalaku berdenyut sakit. Aku menolehkan pandanganku kepada sang pelaku yang minta dihajar.
"Annyeong, Hyung!", sapa seorang namja tinggi berkarismatik dengan senyuman menawannya.
Aku menatap malas namja di depanku. Ia mengaitkan tangannya pada lenganku. Aku melepaskan kaitannya dengan sangat keras. Ia sedikit meringis, namun ia tersenyum lagi. "Hyung, maafin aku ya tadi pagi! Janji nggak akan nakal lagi deh, Hyung", rayunya padaku.
"Apa yang kamu inginkan kali ini, Choi Minho?", tanyaku to the point. Jarang sekali Minho mau datang ke kampusku, apalagi untuk meminta maaf soal kenakalannya.
Minho menunjukkan sederet gigi putih rapi miliknya. Ia tertawa cengengesan. "Hyung temani aku ke toko kaset ya! Please", mohonnya padaku.
"Andwae! Aku tidak punya uang", tolakku. Aku mengambil tasku, kemudian melangkah keluar kelas.
Entah sejak kapan mata kuliah membosankan itu selesai. Syukurlah! Aku jadi bisa sedikit bersantai. Minho masih saja mengejarku. Aku bosan sekali dengan kelakuannya. Ia memang senang memintaku membelikannya barang-barang, tapi kali ini aku sedang kesal dan memang aku tidak memiliki uang sepeser pun. Aku meninggalkan Minho yang masih saja merengek padaku.
"Awas kau, Hyung! Menyebalkan!", teriak Minho di belakangku.
Aku bergegas menuju kelas mata kuliah selanjutnya. Hari ini aku memiliki jadwal yang sedikit padat. Lelah juga sih. Tapi benar kata Appa, aku harus mulai serius. Kalau aku tidak lulus dalam waktu dekat berarti aku harus betah berkutat dengan mata kuliah yang membuatku pusing. Oh tidak! Tidak!
.
\("3) YuyaLoveSungmin (^0^')/
.
Hari ini aku pulang lebih malam dari biasanya. Jadwal kuliahku selesai jam tiga sore tadi. Sedangkan selanjutnya aku harus bekerja menjadi pelayan di salah satu café di tengah kota Seoul. Pemilik café ini sangat baik kepadaku. Aku sudah bekerja selama dua tahun di sana. Waktu itu aku kabur dari rumah. Aku tidak punya tujuan, tidak ada tempat berteduh dan juga tidak membawa sepeser pun uang. Aku bertemu dengan pemilik café ini karena ketidaksengajaan. Malam itu hujan, aku berteduh di depan cafenya yang akan tutup. Sebelum pulang, ia melihatku masih menggigil di bawah canopy. Dengan berbaik hati ia membantuku selama satu bulan. Aku juga dinasehatinya sehingga aku mau pulang. Ah sungguh aku menyukai kehangatan café dan pemiliknya itu.
Aku melangkahkan kakiku lebih cepat. Ini sudah sangat malam. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.20 pm. Artinya tempat yang sedang kutuju sudah akan tutup. Aku berlari kencang menembus anginnya malam. Sesampainya di depan sebuah toko, aku melihat sebuah namja paruh baya yang sedang mengunci tokonya.
"Mianhae, Soo Man ahjussi. Apakah aku masih bisa membelinya?", tanyaku penuh harap.
"Kau lama sekali, Siwon-ssi! Aku sampai berkeriput karena menunggumu", ketus Soo Man ahjussi.
"Yah, ahjussi! Berarti aku terlambat donk?", tanyaku pasrah.
"Aniyo. Ini yang kau butuhkan. Aku sudah membungkuskannya untukmu", ujar Soo Man ahjussi membuatku berbinar-binar menatap bingkisan yang ada di tangannya itu.
Aku mengambil bungkusan plastik yang ia sodorkan padaku, lalu aku membayarnya. Aku mengucapkan terimakasih berulang kali kepada Soo Man ahjussi, karena ia dengan sangat berbaik hati mau membiarkan aku membeli itu.
Aku menolak Minho tadi siang karena memang aku belum memiliki uang. Appa jarang sekali memberiku uang saku. Aku harus bekerja dahulu untuk dapat membeli CD Album girlband kesayangannya, F(x). Minho itu penggemar berat Luna. Walau kesukaan Minho terhadap girlband itu ditentang keras oleh appa, ia tetap mengikuti berita terbaru Luna secara diam-diam. Dibalik karismanya ia akan berubah menjadi orang lain jika sudah dihadapkan oleh sang pujaan hatinya. Argh! Kenapa aku masih melamun? Aku harus cepat sampai rumah sebelum jam 11.00 pm atau siap-siap tidur di luar rumah. No way! Dingin!
"Aku pulang", ujarku sedikit pelan saat memasuki rumah. Keadaan rumah sudah sepi. Aku melangkah pelan ke dalam kamarku. Aku membuka pintu kamarku, lalu menaruh bungkusan itu di atas meja. Lebih baik aku memberikannya kepada Minho besok saja.
BUUUG!
Sebuah pukulan keras mengenai wajah tampanku. Bau anyir darah tercium oleh indra penciumanku. Aku menyentuh pipiku yang memang mengeluarkan sedikit darah. Aku merasakan nyeri pada pipiku itu. Seorang namja yang selama ini selalu kubenci tapi tetap kuhormati, sedang berdiri di hadapanku dengan tatapan garangnya. Aku menghela napas panjang. Bosan sekali dengan kegiatan ini. Siap-siap Siwon! Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Aku hanya diam berdiri di depannya.
PLAAAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipiku yang satunya. Bukan tamparan kecil, karena aku tersungkur setelah mendapatkannya. Appa mengangkat tubuhku. Ia menatap mataku tajam, seakan merobek-robek dinding pertahananku.
"Apa aku sebegitu miskinnya hingga kau mencuri sesuatu dengan hinanya? Kamu yang bilang bisa hidup mandiri, tapi apa buktinya? Kamu mencemarkan nama keluarga Choi dengan menjadi seorang pencuri di sebuah toko CD", bentak appa di depan wajahku.
Aku membelalakan mataku. Apa? Aku mencuri? Di toko CD?
"Apa maksud appa? Aku tidak mengerti", tanyaku bingung.
Appa menjatuhkan tubuhku, lalu ia menendang perutku. Tidak sekeras biasanya, namun rasa lelah dan pukulan appa sebelumnya, telah meruntuhkan pertahananku. Aku terduduk lemas. Appa mensejajarkan tubuhnya di depanku. Ia berjongkok.
"Ini!". Appa melempar sebuah plastik merah ke atas tubuhku. "Hyung-mu sangat malu mendapati nama adiknya sebagai pencuri, apalagi ia yang diberitahu langsung oleh bawahannya. Apa lagi yang akan kamu lakukan untuk mempermalukan keluargamu?". Aku melihat pancaran kekecewaan dari dalam mata Appa.
Appa berdiri, lalu membuka pintu kamarku. "Entah apa yang harus aku lakukan agar kamu sadar, Siwonnie?", ucap appa sebelum ia menutup pintu kamarku di belakangnya.
Aku membuka plastik merah yang appa berikan padaku. Hatiku hancur menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah CD album terbaru F(x) terpampang indah dalam genggamanku. Kenapa bisa? Kenapa? Apa maksud dari semua ini? Sehina itukah aku di hadapan appa?
Aku membungkus kembali CD itu lalu menaruhnya berdampingan dengan CD yang kubeli di atas meja belajarku. Aku mengganti bajuku, lalu mengompres pipiku yang membengkak. Aku sudah muak dengan perlakuan mereka padaku. Ditambah lagi ketidakpercayaan mereka padaku. Lihatlah, Appa! Aku benar-benar akan berontak sekarang.
.
.
L(^o^L)..:: T.B.C ::.. ('w)9
.
.
…::: Cuap2 Author :::..
Alhamdulillah prolog Siwon selesai. Aneh? Maaf ya! Di tengah gelapnya malam, karena mati lampu tak kunjung selesai, aku berhasil menyelesaikannya.
Satu prolog lagi, Sungmin's side… sabar ditunggu ya!
GOMAWO sudah mau baca. Kunanti Review-nya….
KLIK REVIEW, lalu ketik SARAN dan KRITIK kalian. Itulah yang Yuya butuhkan.
Nb: Yuya akan Pindah jadi Yuya akan AKTIF DI FACEBOOK: LEE YEOMIN HA. Di sana banyak FF baru Yuya. Jadi kalau pun Yuya nggak UPDATE di sini, Yuya akan UPDATE di sana!
