Lee Sungmin hidup dalam keluarga dengan ekonomi cukup. Kehidupannya berangsur-angsur penuh dengan problema. Sungmin harus bertahan dari satu masalah ke masalah lain. Ibunya sakit, Ayahnya bertingkah. Bisakah Sungmin bertahan?
LET'S READ! LEAVE COMMENT!
19th
Chapter: Prolog 3
By Yuya Matsumoto
"Pure Heart, Lee Sungmin"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Sungmin (Genderswitch)
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu. Still Prolog. Sungmin's Side. RnR please
.
.
\(^3^)/~ Happy Reading ~\(^.^a)
.
.
"Selamat pagi, eomma!", sapaku kepada sesosok yeoja paruh baya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rawatnya. Ia benar-benar terlihat lemah dan kesakitan. Bulir-bulir air bening membasahi keningnya, padahal udara dingin AC begitu terasa di dalam ruangan ini.
Aku menghapus keringat dari pelipisnya. Hatiku teriris perih menatap penderitaan orang yang paling aku sayangi ini. Jika aku bisa memilih, lebih baik aku yang menggantikan eomma. Biar aku saja yang merasakan sakit yang merasuki dirinya. Tuhan, sampai kapankah luka ini menghinggapi keluarga kami? Tanpa aku sadari, airmataku sudah menganak sungai di atas pipiku. Aku tidak bisa menahan isak tangis yang keluar dari bibirku. Eomma menggeliatkan tubuhnya, tanda bahwa ia terusik dengan tangisanku.
BRAAAK!
Aku menabrak seorang perawat yang baru saja masuk ke dalam ruang eomma. Aku sudah tidak bisa menahan semua perih yang menghujam jantungku ini. Aku tidak mau eomma mendengar tangisan piluku, terpaksa aku keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru. "Mianhae", lirihku.
Aku menutup pintu ruangan itu, jatuh terduduk di depan pintu. Aku merengkuh dadaku yang terasa sakit. Dadaku sesak. Pandanganku kabur karena tertutup embun airmataku. Oh Tuhan, sampai kapan aku harus menahan semuanya? Dosa apa aku sampai-sampai Engkau mengujiku begitu berat?
"Pagi, nyonya Lee", sapa perawat tadi kepada eomma. Sepertinya eomma memang terbangun.
"Anakku sudah datang, sus?". Aku mendengar sayup-sayup suara eomma yang terdengar lemah. Airmataku mengalir semakin deras.
"Sudah, bu. Ini bunga Lily dari anak ibu. Baru saja ia pergi, sepertinya ada urusan mendadak", jawab perawat ala kadarnya.
"Cantik ya bunganya, seperti anak saya? Dia itu anak tercantik dan terbaik di dunia ini, sus. Aku bangga memiliki anak sepertinya", ucap Eomma pelan, namun masih bisa aku dengar dari luar ruangan.
Rasa sakit di dadaku semakin menjeratku, menenggelamkanku ke dalam memori yang ingin aku lupakan. Sebuah memori yang merusak batinku dan juga raga eomma-ku.
.
Flashback
.
Aku membuka pintu rumahku. Tidak ada satu orang pun yang menyambutku. Aku sudah terbiasa dengan suasana rumah bagai kuburan ini, hening seperti tak berpenghuni. Saat aku hendak naik ke lantai dua, kamarku berada, aku mendengar suara-suara dari arah kamar eomma dan appa. Sepertinya mereka sedang beradu argumen. Aku berdiri di depan kamar, mendengarkan pertengkaran mereka yang entah sudah berapa ratus kalinya.
"Bisakah Appa berhenti bersikap memalukan seperti ini? Malu, appa!", teriak eomma terdengar sangat frustasi.
"Ya! Jangan memerintahku, jalang! Urusanku mau berbuat apa!", sahut Appa tak kalah nyaring.
"Tapi Appa, tetangga dan orang-orang membicarakan keluarga kita. Tindakan Appa benar-benar memalukan!", teriak eomma lagi.
BRAAAAK!
"ARRGH! APPO!", teriak eomma terdengar kesakitan.
Aku membuka pintu kamar orangtuaku. Eomma terduduk di dekat ranjang. Pelipisnya terluka. Bau alkohol menyeruak dari tubuh Appa.
"Diam, kau wanita jalang! B*tch! Jangan sok memerintahku!", bentak Appa sambil melangkahkan kaki dengan gontai keluar kamar.
Aku membantu eomma berdiri. Ini bukan pertama kalinya Appa berbuat semena-mena kepada kami. Sudah tak terhitung berapa banyak luka yang Appa torehkan pada tubuh dan hati kami. Aku ingin sekali melawan Appa, namun eomma selalu melarangku dan membela laki-laki yang ia cintai itu.
Appa-ku pernah terlilit masalah pencucian uang nasabahnya di kantor, lalu ia menggunakan bahan haram, narkotika, di selingan waktu senggangnya. Setelah Appa sempat bangkit dari keterpurukannya, Appa kembali menyalahgunakan wewenangnya dengan menggunakan kartu kredit para nasabahnya di kantor yang berbeda. Ketergantungan Appa terhadap obat-obatan kembali merenggut kebebasannya sebagai manusia yang penuh akal sehat. Appa dilaporkan oleh berbagai kalangan karena kelakuannya yang melanggar hukum. Lagi-lagi karena rasa cinta Eomma yang besar, Appa dikeluarkan dari penjara dengan jaminan.
Sekarang Appa kembali lagi berulah. Aku benar-benar sudah tak tahan menanggapi lelaki yang sudah tak pantas kupanggil Appa. Bukanlah seorang Appa yang patut aku teladani dan aku banggakan. Aku justru malu dengan kelakuannya yang kasar, bertindak seenaknya dan mengganggu lingkungan sekitarnya. Tidak sedikit warga dan orang-orang terdekat yang mengeluhkan sikapnya itu. Tapi sekali lagi, Eomma terlalu mencintai Appa. Cinta itu benar-benar membutakan akal sehat.
Malam harinya, aku mendengar suara gaduh dari lantai satu. Aku bergegas menuruni tangga. Mataku terbelalak lebar saat Appa sudah mengacungkan pisau ke arah Eomma. Dengan gerakan cepat, aku berusaha melindungi Eomma, menjadi tameng atas dirinya.
"Appa! Sudah cukup! Hentikan! Jangan sakiti kami! Apa mau Appa sebenarnya?", tanyaku mulai jengah dengan tingkah Appa yang keterlaluan.
BRUUUUK!
Appa mendorong tubuhku hingga tersungkur di atas lantai. "Aku ingin membunuhmu, dasar anak haram!", teriak Appa dengan kilatan mata yang menyeramkan.
Hatiku tercekat. Benar-benar menusuk relung jiwaku. "Ap-apa yang Appa katakan?", tanyaku terbata-bata.
"DIAM KAU! DASAR BER*NGSEK! BEDEBAH SIALAN!", bentak Appa semakin keras, sekeras hujaman yang ia lontarkan kepadaku, sekencang tendangan yang ia tujukan padaku dan setajam pisau yang mengiris kulitku.
Badanku sakit, perih dan ngilu, tapi rasa ini tak seburuk apa yang aku rasakan dalam hatiku. Batinku terkoyak kata-kata pedas Appa. Ia bisa membentakku dan menghinaku apa pun, selain mengatakanku sebagai anak haram. Itu sama dengan artinya Appa tak mengakuiku sebagai anaknya. Otakku kosong. Aku tak lagi merasakan apa yang sedang Appa lakukan sebagai siksaan bagiku. Aku benar-benar terpukul.
"Sudah cukup, Appa! Jangan siksa Sungmin lagi. Aku mohon!", pinta Eomma di bawah kaki Appa. Eomma mencengkram kaki Appa dengan kuat sehingga Appa tak mampu mengangkat kakinya untuk memberikan tendangan kepadaku lagi.
"AAH! APPO, APPA!", teriakku histeris, saat Appa menjambak rambutku.
Appa mendekatkan wajahnya padaku. "Kamu akan merasakan siksaan atas batinku yang terluka! Aku tak akan pernah membiarkanmu hidup tenang untuk selamanya!", desis Appa tepat di telingaku.
BRAAAAAK!
Punggungku mencium ujung kursi tamu yang terbuat dari kayu jati. Ngilu yang teramat sangat menyebar dari tulang punggungku, tepat setelah hantaman itu terjadi. Aku terbatuk darah saat untuk terakhir kalinya Appa menendang perutku dengan keras, sebelum ia pergi meninggalkan rumah. Sekujur tubuhku sudah kaku. Entah berapa banyak luka yang telah ia lukiskan di atas lekuk tubuhku. Aku bahkan tak mampu menggerakkan badanku sedikit pun. Benar-benar perih.
Aku tersenyum miris saat mataku bertemu pandang dengan mata Eomma. Tak banyak berbeda keadaanku dengan Eomma saat ini, tapi Eomma masih bisa menegakkan tubuhnya. Lagi-lagi malam ini kami habiskan di atas ranjang, ditemani sekotak P3K. Nasibmu sungguh tragis, Sungmin-ah!
.
Flashback End
.
Krieeet!
Pintu ruang rawat Eomma terbuka, memaksaku untuk beranjak dari dudukku. Perawat itu tersenyum padaku. "Anda tidak ingin masuk? Eomma anda menunggu di dalam", ujarnya memberitahu.
"Ne, terima kasih", jawabku seadanya. Aku menatap bayanganku yang terefleksikan dari pintu yang berwarna silver itu, mencoba merapikan diriku yang terlihat berantakan. Aku menarik nafasku panjang, meyakinkan diriku bahwa aku siap berakting di depan Eomma.
"Annyeong haseyo, Eomma", sapaku saat aku baru memasuki ruangan yang telah menjadi tempat setia Eomma-ku beberapa bulan ini.
Ya, Eomma-ku dirawat di rumah sakit sejak dua bulan yang lalu. Bertahun-tahun hidup dalam kukungan problematika hidup, membuat Eomma mengalami stress yang berkepanjangan. Eomma-ku adalah wanita yang tegar, tapi siapapun tidak akan pernah bisa terus bertahan melawan penderitaan yang mengikis kesehatannya waktu demi waktu. Berbagai penyakit telah menggerogoti dirinya hingga ia tak mampu lagi menahan semua kesakitannya.
Stress menyebabkan Eomma mengalami gangguan pernapasan, sehingga ia harus rela menggunakan selang bantu pernapasan yang membatasi pergerakannya. Eomma juga mengalami masalah endokrin sehingga ia harus rela menerima dirinya menjadi penderita diabetes tipe dua. Hampir setiap malam Eomma mengalami mimpi buruk yang menimbulkan sedikit gangguan pada sarafnya. Eomma didiagnosa dokter mengalami dissociative disorder, namun masih belum jelas gangguan apa yang ia miliki. Selain itu Eomma juga mengalami hipertensi dan beresiko besar terjadi stroke. Ya Tuhan, rasanya aku tak dapat menjejakkan kakiku di atas bumi saat mendengar rentetan penyakit yang Eomma idap saat ini. Kalau aku bisa, aku ingin menanggung semua beban hidupnya.
"Sungminnie? Gwenchana? Kenapa kamu melamun seperti itu?", tanya Eomma membuyarkan semua lamunanku.
Aku melangkahkan kakiku, mendekati sisinya. Aku memeluk tubuh ringkih itu dengan lembut, seakan Eomma tercipta dari porselin yang mudah pecah. "Ne, eomma. Gwenchana! Eomma suka dengan Lily yang aku bawa?", tanyaku kepada yeoja paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu.
"Ne, cantik sekali. Darimana kamu tahu aku suka Lily?", tanya Eomma dengan wajah kebingungan.
Aku memeluk tubuh Eomma semakin erat. Tak terasa airmataku sudah mengalir deras. Oh Tuhan, katakanlah ini sebagai mimpi burukku dan biarkan aku terbangun saat ini juga.
.
Flashback
.
"Appa, jangan katakan kalau Appa akan meninggalkanku dan Sungmin, anak kita!", teriak Eomma membuatku terkaku di depan pintu rumah.
Aku baru saja pulang kuliah, saat aku mendengar jeritan histeris yang keluar dari dalam rumah. Beberapa tetangga sudah keluar dari dalam rumah mereka, karena terusik oleh perkelahian orang tuaku. Bisik-bisik pun terdengar mendominasi adegan di dalam sana. Aku tidak peduli dengan pandangan dan perkataan mereka, karena hatiku sudah hancur tak berkeping. Sepertinya keluargaku benar-benar tak lagi mampu dipertahankan. Aku hanya tak bisa mendengar Eomma-ku menjerit penuh derita.
BRAAAK!
Pintu rumah terbuka lebar. Tatapan mata Appa yang tajam membuat bulu kudukku berdiri. Aku menundukkan kepalaku, tak sanggup menantang kilatan matanya yang menusuk. Appa menarik bajuku, memaksaku memandang wajahnya.
"Urusi ibumu, sana! Kalian memang wanita jalang tak tahu diuntung! Aku muak melihat wajah kalian! Cuih!". Appa meludahi wajahku, lalu pergi dengan santainya, meninggalkan rumah kami. Entah ia akan kembali lagi atau tidak seperti biasanya.
Aku menghembuskan napasku berat, mengelap sisa-sisa saliva yang menempel pada wajahku. BRUUUK! Suara sesuatu terjatuh menginterupsi pikiranku yang melayang jauh bersama Appa. Aku melihat Eomma tergeletak lemah di atas lantai rumah, tepat di ambang pintu.
"Eomma!", teriakku histeris merengkuh tubuh Eomma yang sudah tak sadarkan diri itu.
Beberapa tetangga membantuku mengantar Eomma ke rumah sakit. Semoga Eomma baik-baik saja.
.
Flashback End
.
Matahari sudah enggan menampakkan dirinya. Udara dingin mulai menyeruak masuk ke dalam sela pori-pori tubuhku, membuatku merapatkan jaketku. Aku melirik jam dinding yang terus berdetak menemani kesunyian malam ini. Entah sudah berapa kali aku menguap, melepas rasa lelah yang membebani bahuku.
"Hari yang melelahkan, Minnie?", tanya Soyeon sambil meletakkan beberapa barang pada tempatnya. "Hari ini kamu bekerja sambilan lagi dari pagi, Min-ah?"
Aku menghitung uang yang ada di kasir, setelah menutup pintu mini market tempatku bekerja sekarang. "Aku harus kerja ekstra keras untuk membiayai semua kebutuhan eomma-ku. Belum lagi kamu tahu, kalau aku harus melunasi semua hutang Appa. Tidak ada waktu untuk bermain-main sekarang", jawabku masih konsentrasi dengan jumlah uang yang aku hitung.
"Kamu ini manusia super kali ya. Pagi udah nganterin susu dan koren di perumahan yang berbeda. Setelah itu kamu menjenguk ibumu dan membereskan semua urusan rumah. Siangnya jadi pelayan café sampai sore. Dari sore sampai malam kerja di mini market kecil begini. Setelah ini kamu juga akan bekerja di bar. Aish! Kapan kamu istirahat?", dikte Soyeon. Terdengar nada khawatir dalam getaran suaranya.
"Hehehe!", balasku malu sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Hari ini aku tidak akan ke bar kok. Aku diberi liburan oleh manajer. Dia memang pengertian"
"Ommo! Chukkae! Sudah sana pulang saja. Biar sisanya aku yang bereskan", usul Soyeon sambil memberikan tas ranselku. Ia mendorong tubuhku dengan paksa, mengeluarkan aku dari dalam mini market.
"Eh, eh, tapi—", tolakku terbata-bata.
"Aku tidak mau dengar kata tapi. Bye, Sungmin-ya! Istirahat, ya!", ujar Soyeon sambil melambaikan tangannya dari depan pintu mini market. Aku membalas lambaiannya dengan senyuman. Benar-benar teman yang baik!
.
\("^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^.^")/
.
Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku, berusaha mengalirkan panas ke sela-sela jemariku yang beku. Malam ini benar-benar dingin. Suasana pun sudah sepi. Aku berjalan sendiri hanya ditemani oleh sinar lampu jalan yang temaram. Suara kukukan burung hantu memeriahkan malam yang sunyi. Aku sudah terbiasa dengan semua suasana malam yang tiap hari menemani kepulanganku.
Otakku dipenuhi berbagai macam dilematika hidup yang kian kusut, tak bisa aku luruskan. Masalah datang satu per satu, tanpa pernah membiarkan aku bernapas lega. Bahkan satu masalah pun belum ada yang berhasil aku selesaikan. Pikiranku bercabang, memikirkan keadaan eomma, kondisi rumah dan hutang yang tak pernah ada habisnya. Aku baru saja pulang dari rumah sakit, membuatku semakin pusing atas semua ujian yang Tuhan tujukan padaku.
.
Flashback
.
Eomma sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Wajahnya begitu menggambarkan tempaan pahitnya kehidupan yang ia jalani. Kulitnya sudah tak secerah dahulu. Rambutnya telah memutih. Tubuhnya kurus tak terurus. Keadaannya benar-benar kontras dengan masa-masa jayanya sewaktu muda. Tak ada lagi mata sumringah yang penuh kehangatan. Tak ada lagi senyuman yang selalu ia sunggingkan. Bahkan kepedihan hidup tetap mengejarnya masuk ke dalam alam bawah sadarnya, tak menyisakan sedikitpun tempat bagi privasinya untuk tenang.
Aku melangkahkan kakiku ke ruangan dokter, karena perawat memberitahuku untuk menemui dokter setelah aku selesai menjenguk eomma. Aku harus menguatkan batinku untuk menerima segala berita dari bibir dokter itu. Semoga bukan berita buruk!
Sebuah senyuman menawan menyambut kedatanganku ke dalam ruang penuh aroma obat ini. Senyuman yang begitu damai namun menyimpan sejuta misteri di dalamnya. Aku menarik kursi di depan meja sang uisanim. Dokter mengulurkan tangannya, ingin sedikit menyalurkan ketenangan ke dalam hatiku yang gelisah. "Apa kabar, Sungmin-ssi?"
Aku tahu ini hanya rentetan basa-basi yang selalu ia berikan kepada semua keluarga pasiennya. Ia ingin menguapkan semua kecemasanku yang justru semakin bertambah oleh perlakuannya. "Katakan, uisanim. Apa yang terjadi dengan eomma?", tanyaku tanpa basa-basi.
Dokter menghela napasnya. "Kau sudah tahu seperti apa komplikasi yang eomma-mu derita", ujar uisanim memberikan pernyataan yang terdengar seperti pertanyaan bagiku.
"Saya dan beberapa dokter telah melakukan observasi terhadap penyakit eomma Anda. Selama ini kita hanya tahu bahwa ia mengidap dissasociative disorder. Setelah proses observasi kami menyimpulkan Nyonya Lee mengidap depersonalisasi. Orang dengan gangguan depersonalisasi mengalami persepsi yang menyimpang pada identitas, tubuh, dan hidup mereka yang membuat mereka tidan nyaman, gejala-gejala kemungkinan sementara atau lama atau berulang untuk beberapa tahun. orang dengan gangguan tersebut seringkali mempunyai kesulitan yang sangat besar untuk menggambarkan gejala-gejala mereka dan bisa merasa takut atau yakin bahwa mereka akan gila"
Rasanya seperti dihempas ke dalam jurang yang tak terhingga. Bagaikan kehilangan ragaku, aku tak mampu berpikir lagi. Aku hanya terpaku menatap gerakan bibir uisanim yang masih dengan sabar menjelaskan segala penyakit eomma. Aku tidak memahami semua ucapan dokter. Yang aku mengerti hanyalah kondisi eomma yang semakin buruk.
"Sungmin-ssi! Lee Sungmin-ssi!", panggil uisanim membuatku tersentak dari lamunanku. "Gwenchana?", tanyanya khawatir.
Aku menelan ludahku pahit, menarik napasku berat. "Ne. Gwenchana, uisanim. Lalu apa yang harus saya lakukan, dok?"
Dokter memandangi file status Eomma yang sejak tadi menjadi acuannya dalam memberikan penjelasan. Ia menutup file status yang sudah melebihi kapasitas tempatnya itu. "Anda hanya perlu memberikan perhatian lebih kepada Nyonya Lee, sedangkan kami akan melakukan upaya pengobatan semaksimal mungkin. Saya minta agar Anda dapat bersabar dan terus berdoa untuk kesembuhan Nyonya Lee", kata uisanim memberikan pengertian kepadaku.
Aku mengangguk. "Ne, Kamsahamnida, uisanim", ujarku mengakhiri perbicangan kami.
"Chakkaman! Jeosonghamnida, Sungmin-ssi! Saya diminta menanyakan hal ini kepada Anda", ujar uisanim membuatku terduduk kembali ke atas. Aku memusatkan perhatianku kepada ucapan dokter untuk terakhir kali. "Anda diminta untuk segera menyelesaikan masalah administrasi"
.
Flashback End
.
Aku menendang kerikil di jalan, sebagai penghibur kegundahan hatiku. "Dimana aku harus mencari uang lagi untuk melunasi semua pengobatan eomma?", ucapku lirih kepada angin yang berhembus. Seandainya saja ada orang yang mengirimkan uangnya ke rumahku karena ia sudah bingung untuk menghabiskan uangnya. Seandainya saja ada hujan uang hanya di pekarangan rumahku. Seandainya saja… Aish! Berhenti mengkhayal, Sungmin-ah!
Tak terasa aku sudah berada di depan rumahku. Masih sama seperti malam-malam sebelumnya, rumahku tetap terlihat sunyi-senyap seperti tak berpenghuni. Rumah yang terlihat seperti kuburan, tapi tempat bersembunyiku yang paling nyaman. Aku memasukkan kunci pada panel pintu. Eh? Tidak terkunci. Aku langsung masuk ke dalam rumah, menyalakan saklar lampu yang berada tepat di samping pintu.
Ileon mabsosa! Rumahku terlihat sangat berantakan. Semua barang-barang berserakan di atas lantai. Bingkai foto tak lagi di tempatnya. Pecahan kaca dimana-mana. Aku harus berhati-hati setiap melangkah ke dalam rumahku. Sebuah kertas terpampang manis di depan pintu kamarku.
Annyeong haseyo, Sungminnie.
Ini Appa. Terima kasih atas uang simpananmu yang tidak seberapa itu. Kamu benar-benar miskin rupanya. Apa kabar dengan wanita jalang berpenyakitan itu? Ups, wanita yang sering kau panggil eomma itu. Aku harap dia cepat sembuh dari penyakitnya untuk selamanya. Kalau perlu cepat-cepat beristirahat di dalam bumi bersama cacing.
Aku hanya ingin memberitahukan bahwa aku sudah menikah dengan seorang wanita cantik yang lebih baik dari eomma-mu itu. Aku tahu kamu pasti turut berbahagia mendengar berita ini. Hahaha~ Aku pasti akan bahagia.
Kamu tidak perlu mengirimkan hadiah atau ucapan selamat kepadaku. Uangmu memang belum cukup, tapi terima kasih karena kamu mau melunasi semua hutangku. Oh iya, jika ada yang datang ke rumah, layani dengan baik. Jangan sampai mereka mempercantik rumah kumuhmu itu. Hutangku tidak banyak kok! Hanya 50 juta won saja. Hahaha~
Aku akan pergi. Jangan merindukanku ya! Sampai berjumpa lagi, Sungminnie!
Salam bahagia,
—Appa—
Aku meremas kertas yang menjadi hal paling buruk satu hari ini. Andai saja lelaki menyebalkan itu ada di hadapanku sekarang, aku yakin dia tak akan pernah bisa merasakan kenikmatan dunia lagi. Apa katanya? Melunasi hutang-hutangnya, lagi? Aish! Aku berdoa dia pergi selama-lamanya, enyah dari permukaan bumi.
Nyeri menyerang urat-urat saraf otakku, membuatku tak mampu menegakkan tubuhku. Biarkanlah keadaan rumah sehancur ini untuk sementara. Aku sudah tak mampu lagi menghadapi masalah pelik ini. Aku hanya ingin merebahkan tubuhku di atas kasur, mengalirkan kehangatan ke setiap sisi tubuhku dan pikiranku yang lelah. Semoga esok hari mentari masih bersinar indah untukku dan semua masalah ini hanyalah mimpi buruk yang menghantui tidurku. Semoga saja! Amin.
.
.
L(^o^L)..:: T.B.C ::.. ('^w^)9
.
.
…::: Cuap2 Author :::..
Alhamdulillah prolog Sungmin selesai. Sungmin memang dibuat paling menderita di sini. Aku memang ingin mempermainkan perasaan ketiga orang itu; Kyuhyun, Siwon dan Sungmin. Akhirnya ketiga Prolog selesai juga. Cukup lelah menyelesaikan prolog ini karena harus mencari berbagai referensi dan juga harus rela menyiksa Sungmin.
Oh ya, kisah Appa Sungmin itu terinspirasi dari kisah nyata teman SD papa-ku. Jadi prolog ini sedikit nyampur kisah nyata. Cuma temen papa-ku akhirnya menikah dengan orang lain, meninggalkan mantan suaminya yg 'hebat' itu. hhe~ Semoga kisah ini ga pernah terjadi pada siapapun lagi. AMIN.
Kisah ini belum berakhir loh! Mau tau lanjutannya? REVIEW YA!
Klo chap ini reviewnya lebih sedikit, aku nggak akan publish! Makanya Review ya para READERS. SiDers bertaubatlah. Review kalian penting bgt loh. Yuya menerima siapapun untuk review.
GOMAWO sudah mau baca. Kunanti Review-nya….
KLIK REVIEW, lalu ketik SARAN dan KRITIK kalian. Itulah yang Yuya butuhkan.
Nb: BTW, Yuya akan PINDAH jadi Yuya akan AKTIF di FACEBOOK: LEE YEOMIN HA. Di sana ada berbagai macam FF baru milikku. Aku mungkin nggak akan UPDATE disini, tapi di FACEBOOK, aku AKAN SELALU UPDATE (setidaknya lebih aktif daripada di sini). So meet you there, guys!
