Kyuhyun hampir saja melupakan tugas penelitiannya, tapi dia BENAR-BENAR melupakan janjinya kepada ayahnya sebelum dia pergi. Siwon menyelesaikan semua masalahnya dengan tenang, namun dirinya tak bisa tenang saat ia melihat ayahnya duduk di dalam ruang administrasi kampus. Sungmin baru saja memasuki alam mimpinya sebelum MIMPI BURUK mulai menghujam KEHIDUPANNYA. Apa yg terjadi?
LET'S READ! PLEASE LEAVE RCL!
19th
Chapter 1
By Yuya Matsumoto
"Destination"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(w)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
Kyuhyun P.O.V
"Kyu, bagaimana hasil tugas penelitianmu?", tanya Lee Chae Rin kepadaku.
Aku mengalihkan pandanganku dari buku modul kepada wajah manis di depanku. "Eh?"
"Jangan bilang kau melupakan tugas penelitian itu, Kyu! Kau tahu kan tugas itu dikumpulkan minggu ini. Kamu lupa kalau kita harus ikut kunjungan ke Universitas Ruprecht Karl Heidelberg minggu depan?", jelas CL membuatku tercekat.
"APA?", teriakku histeris. Aku membetulkan letak kacamataku yang sedikit miring.
PLAAAK!
CL memukul kepalaku dengan buku modul kedokteran yang super tebal itu. Aish! Bisa benjol deh kepalaku. Yeoja manis yang memiliki selera fashion berbeda ini, sedang asyik membuka agenda miliknya. "Babbo namja! Lihat ini! Jadwal kamu tuh besok! Aish! Memangnya kamu mau dimarahi dr. Han lagi? Kau ini memang selalu membuat gara-gara ya Kyu!", ujar CL frustasi.
Aku terkikik pelan melihat sikapnya. Yeoja tomboy di depanku ini adalah sahabatku dari kecil. Dia ini berbakat sekali. Talentanya dalam kesenian melebihi semua orang yang pernah aku kenal. Aneh juga saat mengetahui ia memilih menjadi dokter dibandingkan entertainer. Ayahnya adalah seorang fisikawan dan juga penulis cerita anak-anak. Mungkin alasan itulah yang membuatnya memutuskan kuliah di jurusan kedokteran, padahal keluarganya membebaskannya untuk memilih masa depannya. Berbeda halnya denganku. Aish! Sudahlah!
PLAAAK! Lagi-lagi CL memukul kepalaku, membuat rasa nyeri menyerang tengkorakku ini. Jika ia terlalu sering melakukan itu, aku jamin aku akan jadi namja bodoh.
"Bengong jorok ya? Kyu seriuslah sedikit! Ini demi masa depanmu!", ceramah CL panjang lebar.
Belum sempat menanggapi omelan CL, ponselku berdering dengan keras. Tanpa perlu melihat id caller, aku mengangkat sambungan telepon itu. "Yoboseyo, eomma".
"Chagiya, where are you now?", tanya eomma lembut di seberang telepon. CL menggidikkan bahunya, bertanya 'siapa yang menelepon'. Aku menjawab 'eomma' dengan gerakan bibirku.
"Di kampus. Waeyo, eomma?"
"Ya! Kamu lupa ada management class dengan Mr. Lee?", ujar eomma dengan suara melengkingnya.
Aku menampar keningku. Oh, my! Aku lupa! "Mianhae. I forgot, eomma!"
"Ya! Cepat pulang! Mr. Lee sudah menunggumu sejak tadi. Jangan buat dia kecewa", omel eomma. Ia segera menutup telepon tanpa menunggu jawaban apapun dariku.
Aku menghela napas panjang. Yah, rutinitas mencekik harus kembali dimulai. Aku membereskan semua modul dan buku-buku kedokteran serta laptopku yang masih menayangkan sebuah file tugas.
"Kamu mau pulang, Kyu", tanya CL sambil membantuku. Aku hanya mengangguk. "Pelajaran apalagi sore ini?", tanyanya dengan nada khawatir.
"Class of management", jawabku seadanya. Aku tidak ingin menjelaskan lebih banyak lagi. Benar-benar bosan dan letih.
CL memberikan sebuah buku kedokteran terakhir yang akan aku bawa. "Thanks", ujarku sebelum meninggalkannya bersama puluhan orang yang masih berkutat dengan buku di perpustakaan kampus.
"SEMANGAT, CHO KYUHYUN!", teriak CL dari kejauhan, membuat semua orang di ruangan ini memandang tajam dirinya. Tanpa perlu melihat ekspresinya, aku sudah tahu dia tidak akan peduli dengan pendapat orang lain. Ia hanya terlalu bebas berekspresi. Ckckckck…
.
\("^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^.^")/
.
"Selamat malam, yeobo", sapa Appa yang baru saja sampai di rumah. Ia mencium kedua pipi eomma dengan sayang. Aku sendiri hanya bisa tersenyum kecil melihat kemesraan mereka.
"Duduklah, yeobo. Mau makan apa?", tawar eomma kepada Appa. Ia mengambil tas kerja appa, meletakkannya di meja terdekat.
"Apapun, chagiya. Aku suka semua masakanmu", rayu Appa.
Jujur, aku sering merasa jengah melihat kemesraan dua orang yang sudah bisa dibilang tidak muda lagi itu. Hanya saja kemesraan mereka ini sedikit memberikan kehangatan dalam rumah besar ini. Biarkan sajalah, asal mereka bahagia, aku pun ikut senang.
"Ouch! It's hurt, daddy", keluhku manja. Appa baru saja mencubit pipiku dengan keras.
Appa tersenyum sangat tampan. "What are you laughing at? Hahaha… I know what's in your mind, Little Kyu", ujar appa memperingati. Ia sedikit memberikan senyuman kepada eomma yang telah menyiapkan sepiring makan malam untuk Appa.
"Ya! Appa, I'm an adult now. Don't call me Little Kyu again!", tolakku sedikit ngambek. Aku paling sebal selalu dianggap anak kecil oleh appa dan eomma. Aish!
Eomma mencubit pipiku. "Hahahahaha… You'll always be our Little Kid. Looks at you face! Why you look so shy?", goda eomma yang segera disambut tawa oleh appa.
Aish! Mereka paling senang menggodaku. Menyebalkan sekali!
"Kyu, sebentar lagi kamu lulus kedokteran", jeda appa yang segera aku balas dengan anggukan. Saat ini aku sedang bermain games di ruang keluarga, lumayan senggang harus kumanfaatkan sebaik mungkin. Hehehe…
"Setelah lulus, appa ingin kamu bekerja di kantor appa, sepulangnya kamu bisa membuka praktik di rumah. Appa akan membuatkan klinik untukmu, Kyu!", lanjut Appa lagi. Aku tidak terlalu memperhatikan arah pembicaraan appa karena aku terlalu asyik mengalahkan boss musuh.
"Kyu! Are you listening me?", marah appa sambil sedikit mengguncang bahuku, membuat konsentrasiku buyar.
"Iya, appa! Terserah appa saja. Aku ikut", balasku cepat agar Appa tak lagi-lagi mengganggu keasyikanku. Jarang sekali aku bisa terbebas dari segala kegiatan yang membuat aku penat, so please give me time for privacy.
Suara ponselku berdering dengan nyaring, mencetak sebuah kalimat 'GAME OVER' pada layar LCD TV milikku. Aku membanting stick dengan kesal, mendapatkan gelengan kepala dari eomma dan appa yang lagi-lagi sedang bercengkrama.
"Yoboseyo", jawabku sedikit kesal.
"Ya! Kyu cepat selesaikan penelitianmu atau kamu akan mendapatkan hukuman super berat dari dosen 'kesayangan'mu itu", teriak seorang yeoja dari seberang telepon.
CLICK! Sambungan terputus begitu saja, sebelum aku sempat mencerna kata-kata cepat dari yeoja itu. Eh, yeoja? Aku segera melihat id caller yang baru saja meneleponku. CL! OMMO! Tugas penelitian dr. Han! Tanpa pikir panjang dan tanpa perlu membereskan sisa-sisa permainanku di lantai, aku segera bergegas ke dalam kamar. Oh TIDAAAAK!
.
\("^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^.^")/
.
Tok! Tok! Tok!
"My sweety angel! Please, wake up now!", teriak eomma dengan nada khawatirnya.
Aku menutup telingaku dengan tangan, tak mempedulikan teriakan demi teriakan yang dilontarkan eomma. Aku menenggelamkan diriku ke dalam selimut, merapatkan semua celah yang mungkin membawa suara ke dalam gendang telingaku. Mataku masih enggan untuk terbuka, terlebih tubuhku letih semua. Rasanya aku tidak mau berpisah dari ranjang kesayanganku ini.
BRAAAAK! BRAAAK!
"Cho Kyuhyun! WAKE UP NOW OR YOU'LL BE LATE FOR YOUR FLIGHT!", teriak Appa kali ini. Ia menggedor pintu kamarku dengan sangat keras. Jelas Appa marah saat ini. Tunggu dulu! Flight?
Aku sontak terbangun dari tidur. Entah rasa kantuk itu menguap kemana. Satu hal yang paling penting harus aku lakukan adalah bersiap-siap mengejar penerbanganku. Untung saja aku sudah menyiapkan semua peralatan yang aku butuhkan semalam. Wejangan eomma-pun sudah masuk ke dalam memori otakku.
Setelah mandi ala cowboy dan mengingat semua kebutuhan agar tidak ada satu pun yang tertinggal, aku segera berangkat ke bandara bersama kedua orang tuaku. Eomma sudah menangis. Ini adalah pertama kalinya bagiku untuk tinggal cukup jauh dari eomma selama satu bulan. Wajar eomma menangis sangat keras. Supir kami juga hanya tersenyum geli melihat drama antar keluarga kami, yang sudah sering sekali terjadi.
"Ya! Cho Kyuhyun! Lama sekali sih!", teriak CL yang sedaritadi masih menungguku di pintu depan keberangkatan.
"Sorry! Sorry! I forgot", balasku seadanya. Aku membantu supirku mengambil koper dan tas ranselku.
Aku berpamitan kepada eomma dan appa. Tangis eomma semakin tumpah. Appa berusaha menenangkan eomma sebelum eomma membuat malu dirinya dan keluarga besar Cho. Aku jadi sedih melihat eomma seperti itu. Aish! Kasihan eomma!
"Panggilan terakhir untuk penerbangan CK137 menuju Frankfurt, Jerman. Kepada seluruh penumpang diharap segera masuk ke dalam pesawat. Terima Kasih", panggil operator mengingatkan melalui pengeras suara.
CL menarik tanganku dengan keras, membuat acara perpisahan antara anak dan ibu harus berakhir sekarang juga. "Come on, Kyuhyun! Hurry up or we will be late!".
"Bye, eomma-appa! I'll be fine! Please, don't worry!", ucapku untuk terakhir kali sebelum aku benar-benar terseret oleh kekuatan super seorang CL.
"Stay healthy, Little Kyu! Don't forget to pay your promise after come back here!", teriak Appa dari kejauhan.
Aku sedikit mengerutkan keningku. Janji? Janji apa ya?
==================(^.^) YuyaLoveSungmin (^.^)===================
Siwon
"Mau pergi kemana kamu?", tanya Appa dengan suara membentaknya.
Pagi ini semua anggota keluarga sedang bercengkrama di ruang makan. Aku baru saja turun dari kamarku, tak berniat sedikit pun mampir ke ruangan nista itu. Appa memanggilku beberapa kali, tapi aku tak menghiraukannya sekali pun. Aku harus segera menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Aku tidak mau namaku tercoreng dimana pun.
Kemarin aku sempat melihat bungkusan plastik CD album itu, jadi pagi ini juga aku harus segera mengklarifikasikan semua masalah itu. Aku tahu ini memang terlalu pagi untuk mendatangi sebuah toko CD, namun aku memiliki seorang kenalan di sana. Ia pasti bisa menjelaskan duduk perkara yang sedang terjadi saat ini. Tak lupa aku membawa CD, barang bukti, untuk aku kembalikan.
"Chakkaman!", teriak seseorang sebelum aku membuka pintu toko itu.
Toko memang belum dibuka, namun pegawai sudah membersihkan semua peralatan mereka. Semua itu terlihat jelas dari dinding kaca. Aku menghentikan langkahku, menatap kepada orang yang menghentikan gerakanku. Aku memicingkan mataku. Gotcha! Bukannya berhenti, aku semakin memasukkan tubuhku ke dalam ruangan penuh album itu.
"Chakkaman, hyung! Aish!", teriak orang itu lagi. Ia terpaksa mengikutiku ke dalam toko.
"Eh, Siwon-ah! Ada apa ke sini?", tanya salah satu pegawai yang aku kenal dengan baik. Ia dulu sempat menjadi partnerku saat kerja part time di mini market.
Aku mengulurkan bungkusan CD album yang masih tertata rapi kepadanya. "Aku mau mengembalikan ini dan meluruskan semua kesalahpahaman", ujarku tanpa basa-basi.
"Ne, Won-ah! Aku tahu bukan kamu pelakunya", balasnya sambil melihat seorang namja yang tengah berdiri di sampingku. Ia tersenyum dengan gelagat yang sangat aku mengerti. "Aku tidak mempermasalahkannya kok. Aku minta maaf, karena boss-ku telah salah paham kepadamu. Ia segera menelepon polisi. Aku benar-benar tidak tahu, sebelum melihat rekaman CCTV sore itu. Jelas sekali itu bukan kau. Iya, kan Choi Minho?", lanjutnya sambil memberikan seringai mematikan kepada saeng-ku yang sudah bergetar ketakutan di belakangku.
"Ne , Kamsahamnida, Joon! Lalu bagaimana dengan boss-mu?", tanyaku sedikit khawatir.
"Oh tenang saja. Aku sudah menjelaskannya kok. Dia tidak terlalu peduli, bahkan dia merasa bersalah. Sayang hari ini dia tidak masuk kerja. Sudah jangan dianggap pusing. Boss berjanji akan menghapus laporannya nanti, sekalian saja kamu datang bersama kami ke kantor polisi", jelasnya membuatku sangat tenang.
Ia berjalan ke belakangku, menepuk bahu Minho. "Jangan pernah berbuat hal seperti ini lagi. Siwon itu menyayangimu. Berhentilah menakalinya!"
Aku melirik Minho yang masih bersembunyi di punggungku. "Terima kasih banyak, Joon! Aku tidak tahu harus membalas ini dengan apa", ujarku basa-basi.
"Hahahaha! Traktir aku minum saja", usulnya membuat aku tertawa keras/
Syukurlah masalah selesai dengan mudah tanpa harus bersitegang dengan orang lain. Minho masih mengekoriku. Aku tidak ada niat sedikitpun memulai pembicaraan kepadanya. Biarkan saja dia merenungi semua kesalahannya.
"Jeongmal mianhae, hyung! Aku menyesal. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi", ucapnya meredam semua keheningan yang terkuar di antara kami.
Aku berhenti, mendekati namdongsaeng-ku yang telah berdiri diam jauh di belakangku. Aku menepuk bahunya pelan. "Bagaimana bisa seorang Choi Minho menyesal seperti ini?"
Ia mendongakkan kepalanya. Jelas sekali terpatri di wajahnya kalau ia kesal mendengar kata-kataku. "Aku melihat CD album yang hyung belikan. Aku pikir hyung tidak mau membelikanku. Maaf, aku salah paham", jawabnya tulus, kembali menundukkan kepalanya.
Aku mengacak surai rambutnya, tanda aku menyayanginya. "Ne, gwenchana. Jangan diulangi ya!". Ia mengangguk mantap. Matanya bersinar senang. Ia langsung menubrukkan tubuhnya padaku. "Sekarang berangkatlah ke sekolah. Jangan sampai terlambat!"
"Um… Terima kasih, hyung! Annyeong!", ucapnya penuh semangat. Ia segera melesat meninggalkan aku yang hanya tertawa melihat tingkah kekanak-kanakkan Minho. Dia memang masih seorang adik kecilku. Seandainya Appa tidak membedakan kami, aku pasti akan lebih menyayanginya.
Aku melangkahkan kakiku menuju studio milik Jiyong-hyung, sepertinya aku mendapatkan sedikit inspirasi untuk membuat sebuah lagu. Hmm… Lagipula aku punya sedikit waktu sebelum kuliah nanti siang. Sepanjang perjalanan aku memikirkan keluargaku yang sebenarnya cukup harmonis, hanya saja appa terlalu memaksakan kehendaknya kepadaku. Aku iri kepada hyung dan saeng-ku karena mereka mendapatkan begitu banyak perhatian dari appa.
Aku melenggang masuk ke dalam studio dengan mudah karena Jiyong-hyung memberikanku sedikit keleluasaan sehingga aku mempunyai kunci cadangan studio ini. Di pagi hari studio ini memang sepi, pasti akan sangat nyaman menyenandungkan sebuah musik baru di sini.
"Tidak kuliah, Siwon-ah?". Sebuah suara menginterupsiku saat aku baru saja melangkah masuk. Aku terkejut melihat sosok namja gagah yang sudah duduk di atas sofa dengan menawan itu.
Aku mengacuhkan pertanyaan hyung-ku, memilih untuk duduk di depannya. Aku menghela napas panjang saat aku mendapatkan tatapan tajam dari hyung-ku itu. "Jadwal kuliah nanti siang, hyung. Kenapa kamu bisa ada di sini? Mau bertemu dengan Jiyong-hyung?"
"Bukan. Aku mencarimu. Tebakanku benar. Kamu pasti bersembunyi di sini". Aku sedikit tersentak saat mendengar kata 'bersembunyi' keluar dari bibir hati milik hyung-ku. "Kamu pergi kemana tadi pagi? Kamu membuat Appa marah besar. Bisakah kamu bersikap sedikit dewasa. Kalau kamu—"
"Sudahlah, hyung! Berisik sekali. Aku tahu apa yang aku perbuat", potongku sebelum Seung Hyun-hyung melanjutkan ceramah membosankan itu. Aku melenggang masuk ke dalam ruang rekaman, memainkan drum. Ini terasa lebih menyenangkan daripada berkutat dalam masalah keluarga yang tak pernah berakhir itu.
.
\("^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^.^")/
.
Akhirnya semua mata kuliah hari ini selesai juga dengan lancar. Sejujurnya aku bosan mendengarkan khotbah para seonsaengnim itu di depan ruang. Kalau bukan karena yeoja tak berkepri-kepala-an, aku pasti sudah terlelap dengan tenang. Hari ini aku harus segera menuju tempat kerjaku. Sudah sangat sore, aku pasti sudah terlambat. Syukurlah boss-ku pengertian sekali. Hhe…
"Siwon-ah!", panggil yeoja yang sedari tadi tak pernah mau membuat hidupku tenang.
"Wae, Minzy-ssi?", jawabku formal, sebelum ia melakukan kekerasan kepadaku, lagi.
"Kau dipanggil pihak administrasi. Katanya ada urusan penting", jelasnya singkat. Ia melenggang pergi, tapi sebelumnya memberikan cubitan 'pedas' pada lenganku.
Aku berjalan menuju ruang administrasi dengan kepala yang dipenuhi berjuta pertanyaan. Selama ini aku jarang sekali dipanggil dosen ataupun petugas administrasi. Appa selalu bisa mengurus hal-hal administrasi tanpa masalah. Lalu kini apa?
"APPA!", teriakku saat aku melihat namja paruh baya yang sangat kukenal sedang duduk manis di atas sofa ruang administrasi.
"Sepertinya anak saya sudah datang. Terima kasih atas pengertiannya", ucap appa kepada petugas administrasi sambil saling berjabat tangan.
Appa menyeretku keluar dari ruangan itu, masih dalam keadaan melongo. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang akan dilakukan appa saat ini. Tidak ada penjelasan keluar dari bibir appa. Ia hanya menarikku agar bisa mengikutinya dengan baik. Lebih tepatnya pada akhirnya aku hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Keputusan appa adalah mutlak. Aku tak tahu keputusan apa lagi yang telah ia ambil. Semoga saja bukan masalah penting.
"Jalan! Sesuai perintahku sebelumnya", perintah appa kepada Park-ahjussi, supir pribadi appa. Park-ahjussi segera menjalankan mobil setelah menggangguk sebagai jawabannya.
Aku melontarkan tatapan penuuh tanya kepada Appa, namun ia tidak sedikitpun mengalihkan pandangan datarnya kepadaku. Haaah! Aku menghela napas, sebelum memutuskan menatap pemandangan di luar jendela.
"Keluar", perintah appa membuat lamunanku buyar.
Aku menuruti perkataannya. Mataku terbelalak lebar saat pemandangan di luar mobil tersuguh di depanku. Suasana ramai. Beberapa orang berlalu lalang dengan terburu-buru membawa koper. Beberapa lagi sedang bercengkrama dengan orang terdekatnya sambil mendorong trolly yang penuh tas-tas besar. Mataku tak terlepas kepada beberapa orang asing yang nampak asyik keluar masuk pintu bandara. APA? BANDARA?
"Bantu aku membawa trolly ini, Siwon!", ujar appa, lagi-lagi melenyapkan lamunanku.
Aku berjalan berdampingan dengan appa. Kepalaku masih kosong. Aku tak mampu berpikir. Aku hanya bisa mengikuti beberapa perintahnya. Sebenarnya ada apa ini? Aku mengalihkan pandanganku kepada dua koper besar yang ada di atas trolly. Aku tercekat saat melihat koper berwarna kuning terpampang jelas di depanku.
BRAAAAK!
"Ya!! Kenapa kamu berhenti?", marah appa karena ia menabrak punggungku.
"Appa, kita mau kemana?", tanyaku masih bingung. "Kenapa appa memintaku mengantar ke bandara? Biasanya appa berangkat sendiri"
"Karena kamu akan ikut appa. Kita akan menghadiri pertemuan bisnis di Jerman", jelas appa santai sambil mendorong tubuhku agar bergegas masuk ke dalam bandara.
APA? JERMAN? PERTEMUAN BISNIS? OH NOOOO!
==================(^.^) YuyaLoveSungmin (^.^)===================
Sungmin
BRAAAK! Pintu depan rumah terbanting dengan keras. Aku yang baru saja tertidur, segera berlari ke arah depan. Aku melihat lima orang bertubuh kekar dan wajah menyeramkan sudah berada di dalam rumah. Mereka menunjukkan seringai lebar kepadaku. Bulu kudukku berdiri seketika. Firasat buruk menguasai otakku.
"Si-siapa ka-kalian?", tanyaku terbata-bata. Lidahku kelu dan kakiku kaku. Aku tak bisa bergerak. Ketakutan telah menjalar ke setiap persendianku. Oh Tuhan, selamatkan aku!
"Lee Sungmin! Kami menuntut pembayaran atas seluruh hutang Appa-mu. Kami yakin kamu sudah tahu jelas berapa hutangnya", jelas seorang namja paruh baya dengan jas hitam, terlihat seperti pimpinan kelompok itu.
Aku menelan ludah, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang aku miliki. Tubuhku bergetar hebat. "Jangan meminta aku untuk melunasinya. Ia bukan Appa-ku lagi. Ia sudah pergi, jadi aku tidak ada sangkut pautnya dengan seluruh hutang yang ia miliki", tolakku. Jantungku berdegup dengan kencang saat aku mengucapkan sederet kalimat itu. "PERGI KALIAN!", usirku dengan suara lantang. Aku benar-benar muak dan tidak ada pemikiran logis yang masuk ke otakku. Aku hanya ingin terlepas dengan semua tanggungjawab yang seharusnya tak membebaniku.
Pria berjas hitam itu menyeringai penuh kemenangan. "Kamu yakin bisa mengusir kami?", tanyanya dengan desis tertahan yang terdengar sangat mengerikan.
BRAAAAK!
Tubuhku terjatuh ke atas lantai, hanya bertumpu pada lututku. Punggungku terasa sangat kaku dan sakit yang luar biasa. Seseorang telah menendangku dengan sangat keras, namun aku masih bisa sedikit mempertahankan tubuhku agar tidak tersungkur di atas lantai.
"AAAARGH!", teriakku kesakitan. Aku berusaha menggapai tangan yang sedang menarik rambutku dari belakang. Benar-benar sakit! Perih! Aku bisa merasakan beberapa helai rambutku tercabut dari kepalaku. Genggaman pria itu tidak jua terlepas dari rambutku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga melepasnya, tapi gagal.
BUUUUG!
Tubuhku oleng ke samping. Pipiku berdenyut perih. Kepalaku pening seperti berputar-putar dan sangat berat. Aku melihat sebercak darah yang mengotori keramik lantai rumahku. Aku menyentuh sudut bibirku yang nyeri. Telapak tanganku penuh dengan darah. Sial! Tendangan pria itu membuat diriku terluka.
Jambakan di rambutku tak sedikit pun mengendur, sedangkan pria lain yang tadi menendangku kini mensejajarkan wajahnya di depanku. Ia memegang daguku, berusaha membuatku menatapnya. Aku tetap mencoba menolak melihat wajahnya yang menjijikan menurutku.
"Look at me, bitch! Kalau kau tidak mau diam, aku akan menggoreskan pisau ini ke wajahmu", ancamnya dengan menyentuhkan pisau dingin itu di pipi kiriku.
"Cuih!". Aku meludahi wajah pria itu. "Lakukan saja jika kamu mampu", tantangku.
"AAARGH!". Jambakan di rambutku semakin kencang. Aku melupakan bahwa masih ada seorang lagi yang setia menggenggam rambutku tanpa belas kasih.
BUUUUG! Pria yang aku ludahi, meninju wajahku, menyebabkan memar yang semakin perih di pipiku. Aku melontarkan tatapan tajam kepadanya. Rasa takutku sudah menguap entah kemana. "Kau memang harus diberi pelajaran ya!", ucap pria itu sambil mengangkat tinggi-tinggi pisau yang ada di tangannya.
Aku menutup mataku. Jujur, aku takut melihat pisau tajam itu akan merobek kulitku. Selang beberapa lama, aku tidak merasakan apapun menyentuh wajahku. Secara perlahan, aku memberanikan diri membuka mataku. Aku melihat tangan pria itu ditahan oleh pimpinannya.
"Hentikan tindakan bodohmu! Jangan kau lukai wajahnya itu! Dia tidak akan berharga lagi, jika wajahnya cacat!", bentak pimpinan itu, membuat pria tadi terdiam.
"Hancurkan saja wajahku sampai kalian puas. Ayo! Ayo! Lakukan!"
BRAAAAK!
Aku terpelanting menghantam lantai. Pukulan dari pimpinan itu berkali lipat lebih keras daripada pria sebelumnya. Rasa sakit menyerang kepalaku. Aku tidak mampu lagi menggerakkan tubuhku, hingga kegelapan benar-benar menyelimutiku.
.
\("^.^)/ YuyaLoveSungmin \(^.^")/
.
Aku membuka mataku perlahan. Rasa sakit masih menyerang seluruh tubuhku. Aku berusaha menggerakan tubuhku namun gerakanku terkunci. Aku berteriak, tapi hanya gumaman yang keluar dari bibirku yang terkunci rapat. Aku menghentak-hentakan kakiku ke lantai, menimbulkan suara berisik yang mengganggu.
Tak beberapa lama seorang namja paruh baya yang malam itu membuat keonaran di rumahku, menghampiriku dengan wajah garang. Ia menarik rambutku, membuatku sedikit mendongak menatapnya.
"Apa kau wanita jalang berisik?", marahnya padaku.
"Mmph… mmph… mmph", gumamku sambil menggoyangkan tubuhku. Aku hanya ingin minta ia melepaskan aku. Suatu permintaan kecil yang mungkin tidak akan pernah aku dapatkan.
Ia menarik rambutku semakin kencang. "Kenapa? Kau ingin dilepaskan?"
Aku menggangguk cepat.
"Tidak akan pernah! Tenang saja! Nikmatilah perjalanan ini, sebentar lagi kamu akan sampai di Frankfurt, Jerman!", lanjutnya. Ia menghempas tubuhku ke atas bangku yang sedaritadi telah kududuki.
Aku membelalakan mataku. Apa? Jerman? Eomma!
.
.
…::TBC::…
.
...::Cuap2 Author::...
Hai chingudeul, aku kembali. Hehehe... Kangen~
Ini CHAP 1 hadir juga. Maaf kalo nggak seru, tadinya mau dipanjangin tapi ntar kepanjangan dan jadi makin nggak seru. hhe~
Chap 2 udah ada di FBku LEE YEOMIN HA
TERIMA KASIH atas perhatiannya, udah mau baca, udah ngeLIKE, bahkan udah COMMENT.
Baca FFku yg lain ya~
Nb: aku akan PINDAH, jadi cari aku di FACEBOOK: LEE YEOMIN HA. Aku AKTIF di sana. Aku nggak tahu akan melanjutkan FF ini di sini atau nggak. Pesanku sama kayak sebelum2nya. LET'S BE FRIENDS THERE. siapapun bisa baca FFku disana. klo ada kesulitan tanya aja ya~ gomawo!
