19th

Chapter 2

By Yuya Matsumoto

"Escape"

Inspirasi: K-movie, 19

Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).

Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.


.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.


Sungmin's POV

Mataku tertutup oleh kain. Aku tidak tahu dimana sekarang. Sebelumnya aku merasakan tubuhku dimasukan ke sebuah kotak seukuran tubuhku, lalu selanjutnya aku merasakan getaran aneh. Aku benar-benar tidak tahu dibawa kemana oleh lima orang bedebah itu. Aku menggerakkan seluruh tubuhku, berusaha melepaskan ikatanku. Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Kau berikan saat ini? Eomma, maafkan Minnie yang tak bisa berada di sampingmu!

Tubuhku sudah lemas. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di dalam kotak ini. Sepertinya persediaan oksigen pun telah menipis, karena aku merasakan sesak di bagian dadaku. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar aku bisa cepat lepas dari kotak mungil ini dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.

KRIEEET! KREEEEK! BRAAAK!

Aku mencoba membuka mataku, walau dengan sisa tenagaku. Secercah cahaya yang menyilaukan masuk ke dalam retinaku. Aku sedikit sulit menyesuaikan cahaya itu. Kakiku langsung merebah seiring dengan kotak yang mulai terbuka di bagian bawah, dekat kakiku. Aku tersenyum lirih. 'Terima kasih, Tuhan. Kau mengabulkan doaku', batinku mensyukuri.

"Ya ampun. Dia terlihat lemas sekali. Hah! Dia pingsan", teriak seseorang sempat masuk ke dalam indra pendengaranku sebelum kegelapan menyelimutiku.

.

("^o^)/ YuyaLoveSungmin \(^_^")

.

"Argh!", ringisku saat sesuatu menyentuh beberapa luka di tubuhku. Aku merasakan sesuatu menyentuh, meraba bahkan menekan bagian-bagian tubuhku. Aku membelalakan mataku, melihat seseorang yang sedang menggerayangi tubuhku. Sontak aku terbangun, berusaha memberontak.

"Diamlah! Aku hanya berusaha mengobati luka dan memarmu", ujar Namja di hadapanku. Namja itu terlihat sangat tampan. Aku melihat kejujuran pada matanya.

Aku terduduk, memandangi seluruh tubuhku. Aku masih memakai pakaian yang terakhir aku pakai di rumah. Bercak-bercak darah terjejak di hampir seluruh sisi kain pakaianku. Aku memastikan diriku tidak disetubuhi atau dikerjai oleh orang-orang tak bertanggung jawab itu.

"Tenang saja! Sepertinya tidak ada yang menyentuhmu, apalagi melakukan hal-hal itu", ujarnya seakan menjawab semua pertanyaan dalam otakku. Aku tertegun memandangnya yang masih asyik mengoleskan cairan desinfektan dan betadhine pada kakiku. "Aku turut prihatin padamu. Pasti kamu diperlakukan dengan tidak baik oleh mereka. Bersabarlah. Aku yakin Tuhan akan membantumu!"

Aku mengangguk, mengamini perkataannya tadi. "Terima kasih", ujarku pelan.

"Ne, cheonmannayo! Aku tidak bisa membantumu lebih. Lagipula mereka tidak akan melukaimu lebih dari ini. Kamu adalah karyu AS mereka, jadi tenanglah", ucapnya lembut. Ia memasangkan beberapa perban di kakiku dengan sangat pelan seakan tak ingin menyakitiku.

Aku hanya bisa tertegun melihat perlakuannya. "Kartu AS? Maksudmu?", tanyaku takut.

"SELESAI!", jeritnya senang. Ia merapikan peralatan P3K miliknya. "Nah, tubuhmu sudah kuobati. Sekarang saatnya makan, Ya!", pintanya. Ia memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya. Ia mencoba untuk menyuapiku, namun aku menolaknya dengan sopan. Aku merasa kurang nyaman jika ada seorang Namja asing yang bersikap sangat baik kepadaku.

"Gomawo, tapi aku bisa makan sendiri. Mm… Bolehkah aku tahu siapa namamu?", tanyaku takut-takut.

Ia tersenyum, mengelus pipiku dengan sayang. "Nama tidak penting bagiku, Lee Sungmin. Suatu saat nanti kamu akan tahu siapa aku", jawabnya penuh misteri. "Sebaiknya kamu cepat makan sebelum mereka datang", katanya memperingati. Ia berdiri, melangkah keluar dari ruanganku saat ini.

Aku baru saja memperhatikan ruangan yang aku tempati sekarang. Ruangan ini tidak terlalu kecil dan juga tidak bisa dikatakan luas. Cukuplah untuk dijadikan kamar bagi sandera sepertiku. Sandera? Sepertinya sebutan itu sedikit tidak pantas, lebih tepatnya aku akan dijadikan bahan siksaan mereka. Ups! Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Apa yang kita ucapkan adalah doa. Aish! 'Tuhan, jangan amini perkataanku tadi Ya! Please!', pintaku kepada Tuhan sambil menengadahkan tanganku seperti saat aku berdoa.

BRAAAK! Pintu terbuka lebar, menghadirkan beberapa sosok Namja paruh baya yang sudah aku kenal. Bulu kudukku berdiri seketika. Rasa takutku menyerang setiap pori-pori tubuhku. Aku berusaha mencari perlindungan, memojokkan tubuhku di pinggir ranjang. Aku menyembunyikan wajahku diantara dekapan lututku.

"Sepertinya lukamu sudah sembuh, Ya! Kamu juga sudah makan! Itu artinya kamu sudah berenergi untuk melakukan tugas dari kami. Hahahaha", tawa salah satu dari Namja itu. Ia berusaha membuatku keluar dari dekapan tubuhku. Aku tetap bertahan, terlalu takut.

"Argh! Tolong, jangan sakiti aku. Aku mohon", pintaku saat beberapa orang mulai menarikku dengan paksa. Mereka menyeretku, berusaha membuatku berjalan pergi dari ruangan ini. Mereka tak segan-segan mengangkat tubuhku karena aku tidak mengikuti permintaan mereka. Aku meronta-ronta, membuat mereka sedikit kesulitan, namun mereka masih tetap saja membawaku ke suatu tempat.

BRAAAK! Mereka melemparku ke atas lantai, membuat tubuhku menghantam meja dengan keras. Aku menjerit kesakitan, namun mereka hanya tertawa senang melihatku seperti itu. "Kalian harus mendadaninya dengan baik. Boss mau bertemu dengannya. Jangan biarkan memar itu terlihat jelas di semua tubuhnya. Kami tidak ingin boss kecewa", perintah mereka kepada beberapa wanita yang berada dalam ruangan ini. Ah, boss? Aku mohon, jangan katakan aku akan menjadi… Oh tidak!

Semua wanita yang ada di ruangan ini merapikan penampilanku dengan gerutu dan hinaan untukku. Mereka terlihat tidak senang. Aku dianggap akan mengambil lahan mereka, karena jarang sekali boss memperhatikan salah satu karyawatinya. Aku di-make up sangat cantik. Sekujur tubuhku diberi foundation untuk menyamarkan luka-lukaku. Mereka memberikanku pakaian sexy, lalu memintaku memakainya. Aku risih dengan pakaian ini. Tidak pernah seumur hidupku memakai pakaian yang seminim ini. Mereka juga menata rambut, sederhana dan elegan. Tak selesai sampai situ, aku diminta mengenakan sepasang high heels mewah dengan hak dua belas senti.

Tak beberapa orang-orang itu sampai di ruangan ini, mereka memaksaku ikut ke suatu tempat. Kali ini aku benar-benar pasrah. Aku saja tidak tahu keberadaanku ini dimana. Tidak mungkin rasanya kabur dari pengawalan yang seketat ini. Ah, aku benar-benar pasrah! Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan kebahagiaan untuk Eomma-ku. Aish! Eomma! Tanpa kusadari aku menangis dalam diam. Aku benar-benar merindukan Eomma!

"Kami sudah membawanya, boss!", ujar salah satu Namja yang membawaku.

Aku hanya menunduk, tak berani menatap orang yang mereka panggil boss itu. Aku masih menangis, walau tanpa isakan. Seseorang memintaku duduk di sebuah sofa besar yang terlihat sangat empuk itu. Aku duduk di atasnya, benar memang sangat lembut dan empuk, jelas ini adalah sofa mahal. Rokku tersibak ke atas, membuat pahaku nampak lebih jelas lagi. Aku berusaha menutupi kulit putih pahaku dengan kedua lenganku, memendamkan wajahku di atasnya.

"Kenapa menyembunyikan wajahmu?", tanya seseorang yang aku yakini sebagai boss mereka. Kata-katanya lembut, tak ada perintah atau bentakan di dalamnya. Ia menarik daguku perlahan, membuatku terpaksa mengangkat wajahku. Aku menelan ludahku saat mata kami saling bertemu. Oh, Tuhan! Diakah boss yang akan menyiksaku? Wajahnya sangat tampan, tidak terlihat seperti seorang penjahat. Aneh! Kenapa aku berdebar seperti ini?

Tiba-tiba aku merinding setengah mati saat tatapan matanya berubah menjadi sangat mengerikan. Air mataku sudah berhenti mengalir, berganti dengan rasa takut yang berlebihan. Tangannya terjulur menjauh. Aku menutup mataku. Oh Tuhan! Selamatkan aku!

BRAAAAK! Tubuhku bergetar. Aku bisa merasakan peluh membanjiri keningku. Eh? Aku tidak merasakan pukulan apapun di tubuhku. Aku membuka mataku, melihat meja kaca yang pecah karena sebuah benturan yang aku yakini sebagai tendangan dari Namja itu. Ruangan yang tadinya rapi, terlihat berantakan sekarang.

"Aku sudah bilang kepada kalian. JANGAN SAKITI DIA! Apa yang kalian lakukan hingga ia menangis seperti itu?", teriak Namja tadi dengan suara keras yang menyeramkan.

Aku menelan ludah. Tubuhku bergetar. Namja yang terlihat lembut dan tampan itu telah berubah menjadi Namja mengerikan. Ia mencengkram kerah seorang bawahannya. Beberapa pukulan ia layangkan ke wajah, perut, kaki dan beberapa bagian tubuh lainnya. Ia memukul semua bawahannya dengan membabi buta, seakan terhipnotis oleh bisikan setan. Aku menutup telingaku, tak tega mendengar jeritan kesakitan Namja-Namja yang kemarin menyakitiku itu dan bentakan kasar Namja boss itu.

Sebuah sentuhan membuatku bergidik. Aku tak berani menengadahkan kepalaku. Napasku memburu, sesak. Aku takut, benar-benar tak berani menghadapi pembantaian yang ada di hadapanku. Tangan itu semakin menyentuh bahuku, sedikit menggoyangkan tubuhku. Sungguh aku tak mampu. Tolong!

"Hei, neo Gwenchana?", panggilnya dengan suara lembutnya, lagi. "Tenang saja! Kamu aman bersamaku", lanjutnya. Sebuah pelukan hangat mendarat di tubuhku. Tubuhku yang semula bergetar ketakutan kini sudah kembali tenang. Aku bisa bernapas dengan normal. Aku membalas pelukan itu, sebuah pelukan yang telah kurindukan bertahun-tahun lamanya. Tangisanku membludak. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Namja asing yang begitu aneh ini. Aku juga tak mengerti ada apa dengan diriku, tapi aku merasa nyaman bersamanya.

==================(^.^) YuyaLoveSungmin (^.^)===================

Siwon's POV

Aku masih belum bisa mencerna semua peristiwa yang terjadi saat ini. Aku sudah berada di Frankfurt, Jerman. Saat kami sedang berada di terminal B bandara, aku melihat sebuah patung Johann Wolfgang von Goethe. Aku sempat terkesima melihat patung yang posisinya juga sangat berseni itu. Aku memang pernah membaca tentang Goethe Café, tapi melihatnya secara langsung benar-benar berbeda. Aku meminta Appa untuk mampir ke café itu, karena aku memang sedikit lapar. Syukurlah Appa menyetujuinya. Kami duduk di meja terdekat dari patung Goethe itu.

Siapakah Johann Wolfgang von Goethe? Tidak banyak orang mengetahui nama orang tersohor ini, padahal dia itu setara dengan William Shakespeare, mungkin jauh lebih hebat. Aku masih ingat beberapa informasi tentang Namja hebat itu. Goethe adalah salah satu dari tokoh terpenting dalam dunia sastra Jerman dan Neoklasisisme dan Romantisme Eropa pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Ia adalah pengarang Faust dan Zur Farbenlehre (Teori Warna), serta merupakan inspirasi bagi Darwin dengan penemuan terpisahnya terhadap tulang rahang pramaksilia manusia dan fokusnya kepada evolusi. Pengaruh Goethe tersebar di sepanjang Eropa, dan selama seabad ke depan karyanya merupakan sumber inspirasi utama dalam musik, drama, dan puisi. Dia merupakan novelis, sastrawan, humanis, ilmuwan, dan filsuf Jerman, serta bekerja di pemerintahan dengan jabatan tinggi. Aku benar-benar kagum dengan kehebatannya.

Saking terpesonanya dengan patung yang ada di hadapanku ini, aku tidak memperhatikan perkataan Appa. Diacuhkan memang menyebalkan, wajar Appa memukul kepalaku dengan keras. Aku hanya bisa meringis pelan, daripada mendapatkan bentuk 'kasih sayang'nya lagi.

"Kamu mendengarkan Appa atau tidak sih?", marah Appa padaku. Aku hanya memberikan senyumku kepadanya. "Setelah ini, kita akan segera beristirahat di Hotel yang sudah Appa pesan, lalu kita akan melakukan berbagai macam meeting. Kamu harus belajar dengan tekun, agar mendapatkan pengalaman terbaikmu di sini", ujar Appa panjang lebar.

Aku hanya mengangguk-angguk sebagai tanda mengerti. Lagipula apa yang bisa aku lakukan selain menuruti semua perkataannya. Berusaha kabur darinya? Hallo, ini Jerman! Bukan Seoul. Aku bisa menjadi gelandangan di sini, lebih parahnya mati kelaparan. Aku hanya bisa membatin sambil melahap dengan 'ganas' makanan di depanku: Salmon Flammkuchen (pizza tipis dengan salmon dan kentang) dan secangkir coklat panas.

.

("^o^)/ YuyaLoveSungmin \(^_^")

.

Aish! Ternyata Appa memang seorang workaholic. Sejak awal sampai di Jerman, hingga dua hari keberadaan kami di sini, hanya diisi oleh jadwal meetingnya yang membludak. Aku heran dengannya, tak sedikitpun peluh terlihat di wajahnya. Kami menghadiri meeting yang satu ke meeting yang lainnya, dari berbagai tempat. Tugasku hanya mendengarkan, lalu setelah meeting Appa akan menjelaskan semua hal yang tadi didiskusikan dalam meeting. Sebenarnya aku tidak bermasalah dengan semua materi itu, karena semua telah kupelajari dengan baik di kampus.

"Sudah menunggu lama? Maaf. Aku ada sedikit urusan tadi", ucap seorang klien Appa yang baru saja datang. Ternyata Namja paruh baya itu adalah orang Korea, lumayan membuatku sedikit bernapas lega karena aku bisa mengerti ucapan keduanya.

Aku menyambut tangan Mr. Kim yang terulur di depanku. Mereka berdua berbincang tentang bisnis, kehidupan pribadi dan hal-hal lainnya. Sepertinya Mr. Kim adalah sahabat jauh Appa. Aku sedikit bosan dengan topik pembicaraannya itu. Aku pamit kepada kedua Namja paruh baya itu untuk pergi ke toilet sebentar.

==================(^.^) YuyaLoveSungmin (^.^)===================

Kyuhyun's POV

Aku sempat tergolak kaget saat sampai di bandara Frankfurt, Jerman. Selain karena aktivitas bandara yang sangat sibuk ini, ada hal lain yang membuatku kaget sekaligus lucu. Hari ini aku berangkat dari Korea pukul sepuluh pagi. Kami membutuhkan sebelas jam untuk sampai di Frankfurt, Jerman. Seharusnya kami sampai pukul sembilan malam, namun karena perbedaan waktu Jerman dan Korea adalah delapan jam, maka kami sampai di Jerman pukul satu siang. Lucu kan? Kami seperti naik mesin waktu. Semua jadi singkat. Hahaha… Untung saja selama di pesawat aku habiskan dengan tidur, jadi sekarang aku punya energi ekstra untuk aktivitasku.

"Ya ampun, Kyu! Jadwal Study tour padat sekali! Kita akan segera mengunjungi berbagai tempat, baru setelahnya kita akan merapikan barang-barang di hotel. HAAAH!", kata CL panik. Dia terlihat sangat lelah, sepertinya ia terlalu senang, sehingga tidak memanfaatkan waktu dengan baik.

"Salahmu. Siapa suruh kamu nggak tidur aja. Think smart! Seharusnya kamu memperkirakan semua ini. Hahaha!", tawaku bangga.

PLAAAK! CL memukul kepalaku dengan keras. Aish!

"Jangan sok! Aku tahu kamu itu tidur karena semalaman main games kan! Kamu pikir aku tidak tahu kebiasaanmu itu, Kyu", bantah Lee Chae Rin atas kejeniusanku ini. Sebenarnya apa yang ia bilang itu benar, aku sendiri tidak tahu masalah lama penerbangan dan perbedaan waktu dengan Jerman ini. Hahahahaha! Keberuntungan bagiku untuk tidur sepanjang penerbangan kami.

Aku hanya bisa memberikan senyuman menggoda kepada sahabatku itu. Aku merangkul bahunya agar ia diam sejenak. Ya, cukup berhasil walau terkadang aku masih bisa mendengar gumaman kesal seorang CL. "Sudah! Sudah! Jangan berisik! Kamu seperti nenek-nenek menjelang masa menopause, tahu!", ledekku, semakin mengeratkan rangkulanku pada bahunya. Aku menahan pergerakan CL, sebelum ia membalas ucapanku dengan penyiksaan dari tangannya itu.

Melakukan Study tour adalah hal paling membosankan, terutama jika tempat Study tour dilaksanakan adalah Jerman, salah satu negara maju di Eropa. Negara ini lebih baik dijadikan tempat untuk berlibur, bukannya berkunjung dari satu museum ke tempat-tempat mengerikan lainnya. Sekarang aku sedang berjalan-jalan di Universitas Ruprecht Karl Heidelberg, tujuan utama dari Study tour ini.

Universitas Ruprecht Karl Heidelberg adalah universitas yang berlokasi di Heidelberg Jerman. Universitas ini merupakan universitas tertua di Jerman dan didirikan pada tahun 1386 oleh raja-raja Pfalz. Pada mulanya terdiri dari empat fakultas: Teologi, Hukum, Kedokteran dan Filsafat. Baru pada tahun 1890 berdiri fakultas ilmu-ilmu alam sebagai fakultas kelima pada universitas tersebut. Pada tahun 1969 Universitas Heidelberg telah memiliki 16 fakultas. Banyak sekali orang terkenal dan penting yang pernah belajar atau pun mengajar di Universitas ini, terutama fakultas Kedokteran.

Banyak orang menjuluki Heidelberg sebagai kota paling romantis di Jerman. Lokasinya tak jauh dari Frankfurt am Main. Yang paling terkenal dari sisa bangunan tua istana dan jembatan kuno di atas Sungai Neckar, kota tua, serta universitas tertua di negeri ini.

"Kyu, aku pikir dosen kita semua itu bodoh atau memang kesempatan?", tanya CL membuatku menghentikan kegiatanku, mengetik tugas penelitian penyakit di Jerman.

Aku melemparkan pandanganku kepada Yeoja di depanku itu. Ia sedang asyik mengerucutkan bibirnya sambil mengaduk-aduk cappucino miliknya. Matanya sibuk menjelajahi setiap sudut kota Heidelberg yang memang antik dan terkesan romantis ini. "Maksudmu apa sih? Kita ke sini hanya untuk melakukan riset dan study banding. Tak ada hal lain", balasku, masih sibuk meng-edit beberapa hasil laporan yang keliru.

SREEEET! CL menarik laptopku menjauh, membuatku tersontak kaget. "Ya! Apa-apaan kau!", teriakku histeris. Aku sudah sangat lelah mengerjakan tugas kami. Waktunya sangat singkat dan aku perlu menyelesaikannya secepat mungkin.

"Berhentilah sejenak, Kyu! Kamu tidak lihat di sekeliling kita. Begitu banyak hal-hal romantis, tapi kita tidak bisa menikmatinya sedikit pun", keluh CL. Ia membentangkan tangannya seakan menikmati udara siang ini yang sejuk.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, melihat sikap kekanak-kanakkannya. "Terus? Ya sudah! Ajak saja kekasihmu lain kali ke sini. Tugas kita itu banyak, CL. Jangan bermain-main!", tolakku, berusaha menjawab selogika mungkin. Aku meneruskan kegiatanku, mumpung CL tidak mengganggu laptopku lagi.

BRAAAK! CL membanting tubuhnya di atas kursi café. Lagi-lagi ia mengerucutkan bibirnya. Ia membuka laptopnya, nampaknya ia sudah mulai bosan merengek di depanku. "Coba kamu pikirkan. Berada jauh dari Korea, terlepas dari semua urusan les-mu yang keterlaluan itu. Kamu bebas sekarang, Kyu. Tidakkah terbersit rencana kabur dari rumah? Setelah Study tour selama dua minggu ini, kita semua bebas. Kita memiliki libur kuliah selama dua bulan. Jangan belajar terus, Kyu! Tidakkah kamu bosan? Kamu memang sangat menyebalkan!", jelas CL panjang lebar sambil mengetik laptopnya dengan keras.

Aku sedikit merenungkan kata-kata CL. Dia benar, namun aku tidak bisa. Kalau aku kabur, bagaimana perasaan Eomma-ku? Tapi kembali ke Korea, lalu menemui semua jadwal padatku? Aish! Aku bingung.

.

("^o^)/ YuyaLoveSungmin \(^_^")

.

"Kamu yakin Kyu? Tidak mau ikut aku ke Perancis? Kamu benar akan langsung kembali ke Korea? Setidaknya biarkan dirimu istirahat sejenak, Kyu", tanya CL sangat khawatir.

Kami telah menyelesaikan Study tour, sedang bersiap kembali ke Korea. Beberapa mahasiswa memutuskan untuk berjalan-jalan, seperti yang telah mereka konfirmasi sebelumnya di Korea, jadi mereka tidak ikut kembali ke Korea bersama dosen. CL adalah salah satunya. Ia memutuskan untuk pergi ke Perancis, tempat salah satu kerabatnya. Sedangkan aku sudah memutuskan kembali ke Korea.

"Tidak bisa, CL. Aku tidak mau membuat Eomma khawatir", jawabku berat. Sebenarnya aku juga tidak ingin pulang, namun apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Aku tidak mampu. Aku hanyalah seorang anak mami.

CL menepuk bahuku pelan. "Aku mengerti Kyu. Semoga liburanmu menyenangkan di Korea. Kalau kamu ada waktu kunjungi aku di Perancis ya, aku sudah menyimpan alamatnya di agendamu. Don't forget to call me", ucapnya. Ia mengecup kedua pipiku dengan lembut. Aku bisa melihat matanya yang berat meninggalkanku, sama seperti diriku sendiri.

Aku menarik napas panjang. Aku harus kuat. Keputusanku ini adalah keputusan paling tepat. Aku harus menjadi anak penurut. Jangan membuat Eomma bersedih. Aku harus kembali. Aku berusaha mendokrin pikiranku agar hatiku tak kembali bimbang.

Author's POV

"Wanita jalang itu pantas kita beri pelajaran. Dia itu sangat menyebalkan. Selama satu minggu ini bersembunyi di bawah ketiak boss. Sikap boss pun berubah kepada kita. Aku ingin Yeoja itu merasakan penyesalan seumur hidupnya", ujar seorang pria paruh baya yang menjadi komplotan dalam penculikan Sungmin delapan hari lalu dari Korea.

"Aku setuju. Bagaimana kalau kita gang rape? Aku rasa dia memiliki tubuh yang nikmat", usul salah seorang yang sedang duduk di atas meja dengan rokok di mulutnya.

"HAHAHA! Aku setuju! Membayangkannya saja sudah membuat 'adik'ku berdiri. Aku yakin permainannya di atas ranjang benar-benar memuaskan. Boss saja bertekuk lutut di hadapannya", balas seorang lainnya. Ia terlihat sibuk merenggangkan celananya yang mulai sesak.

"Ayolah! Kapan?", tanya seorang lagi terburu-buru.

"Malam ini saja. Boss sedang pergi!", usul pria terakhir. Mereka semua mengangguk setuju. Akhirnya perbincangan itu diakhiri dengan rencana-rencana mesum mereka.

Tanpa mereka ketahui, seorang Namja tengah mendengarkan perbincangan mereka dari luar. Namja itu mengepalkan jari jemari tangannya, mencetak bekas kemerahan di sana. Tanpa membuang waktu Namja itu bergegas menuju satu ruangan yang mungkin akan menjadi tempat paling traumatis bagi Lee Sungmin. Ia mengambil beberapa dokumen penting dan hal-hal lain yang mungkin diperlukan oleh Yeoja itu, dimasukkan ke dalam sebuah tas selempang kecil.

CEKLEK! Namja itu membuka pintu kamar Sungmin dengan kunci cadangan miliknya. Ia melihat Sungmin sedang asyik menata dirinya di depan cermin. Namja itu segera menarik tangan Sungmin. Tidak ada waktu lagi, pikirnya.

"Ada apa ini? Kenapa kamu menarikku?", tanya Sungmin kebingungan.

"Pakai sepatu kets-mu! Cepat! Jangan buang waktu lagi!", ujar Namja itu tergesa-gesa. Ia benar-benar ketakutan, jika ia tidak bisa menyelematkan Yeoja ini. Semua rencana dan pengorbanannya akan sia-sia saja.

"Iya. Sabar! Memang ada apa sih?", tanya Sungmin lagi, namun ia menuruti permintaan Namja itu. Ia merasakan ada hal yang aneh akan terjadi. Sungmin bisa merasakan pancaran ketakutan yang terkuar dari dalam mata Namja itu.

Tak perlu waktu lama bagi Sungmin untuk merapikan dirinya. Namja itu tidak menjawab pertanyaan Sungmin satu pun. Ia hanya fokus ke dalam otaknya penuh dengan rencana-rencana melarikan diri. Namja itu memberikan tas selempangannya kepada Sungmin. Ia memaksa Sungmin berlari dan terus berlari, menembus berbagai ruangan yang tak pernah Sungmin lalui. Selama beberapa hari ini, Sungmin hanya tahu ruangan boss dan ruangan kamarnya. Sungmin tak pernah tahu bahwa di dalam gedung bertingkat dua puluh itu ada berbagai macam ruangan. Ruang bar, diskotik, kamar-kamar pribadi, kantor dan banyak ruangan rahasia lainnya, selebihnya gedung itu hanyalah gedung perkantoran biasa.

Siapa yang menyangka bahwa penjagaan di kantor itu begitu ketat. Mereka memang berhasil lolos, namun mereka menjadi kejaran lima orang Namja yang curiga saat mereka tak menemukan sungmin di dalam kamarnya itu. Mereka berlari menyusuri kota Frankfurt yang sepi. Satu tujuan Namja itu, stasiun kereta bawah tanah. Peluh sudah membasahi kedua orang itu. Rasa takut pun menyerang dada keduanya.

Siwon baru saja kembali dari toilet, yang hanya alasan klasik baginya itu. Sebelum sampai di meja Appa-nya, Siwon mendengar sebuah perbincangan yang menelusuk masuk ke dalam gendang telinganya. Pembicaraan serius yang menyakut masa depannya.

"Aku yakin sekali Siwon akan mencintai anak gadismu. Dia adalah Namja bertanggung jawab, pintar dan sopan. Jika kita menjadi besan, aku rasa selain keluarga kita bersatu, perusahaan kita akan menjadi lebih maju dari sebelumnya", kata Appa, membuat Siwon terbelalak kaget.

"Jadi ini alasannya Appa membawaku ke Jerman. Ia ingin menjodohkanku dengan Yeoja yang tidak kukenal. Appa ingin mengikatku dengan keinginannya itu. Ah! Aku sudah benar-benar muak dengan semua keputusan Appa. Aku sudah tidak tahan lagi", bisik Siwon pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Rasa kecewa merasuki hatinya. Ia sangat sedih, karena Appa-nya masih bersikap tidak adil kepadanya.

Siwon bergegas ke dalam kamarnya, mengambil passport dan beberapa uang kecil yang Appa-nya selipkan di laci sebagai uang dadakan. Tidak ada lagi yang ia bawa. Hanya dirinya dan passport sebagai pengenalnya. Ia sudah tak memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ia kabur. Pikirannya saat ini hanyalah pergi menjauh dari kehidupan Appa-nya diktator itu. Toh selama ini Siwon hidup gelandangan di jalanan Korea, mengais uang dengan keringatnya sendiri.

"Selamat tinggal, Appa! Biarkan aku mencari jalan hidupku sendiri tanpa terbayang-bayang dirimu", bisik Siwon terakhir kali, seakan ia mengucapkan ini di depan Appa-nya.

Drrrt! Drrt! Ponselku bergetar. Aku mengangkat telepon itu dengan hela napas panjang. Appa is calling. "Yoboseyo, Appa"

"Yoboseyo, Kyu! Kamu hari ini pulang ke Korea kan?", tanya Appa antusias.

"Ne. Wae, Appa?", tanyaku sedikit khawatir.

"Aniya. Pulanglah dengan selamat. Kami menunggumu. Eomma sudah menyiapkan berbagai macam makanan yang kamu suka. Selain itu banyak hal yang ingin Appa diskusikan denganmu", balasnya sangat lembut.

"Masalah apa, ya Appa?", tanyaku bingung. Aku merasakan sesuatu yang mencurigakan di sini.

"Janjimu kepada Appa untuk menjalankan bisnis Appa di samping kamu mengurus klinik di rumah"

JEEDUUUAR! Bagaikan disambar petir di siang hari, mendengar penuturan Appa membuatku mengingat semua pelajaran tambahan yang diberikan Appa. Kasih sayang Eomma-Appa yang menyiksa batinku, berputar dalam ingatanku. Oh, tidak! Tidak! Tidak!

"KYU! ARE YOU THERE?", teriak Appa dari seberang telepon. Aku tersentak mendengar bentakan itu.

"Eh? Ne, Appa! I'm sorry", jawabku seadanya. Otakku masih tidak bisa berpikir jernih.

"We'll wait you here, son!", jawab Appa mengakhiri perbincangan singkat kami.

Badanku bergetar hebat. Ada rasa takut yang mendobrak pertahananku. Aku tidak bisa lagi meyakinkan diriku bahwa aku akan menikmati liburan langka selama dua bulan itu. Aku tak mampu berpikir. Panggilan untuk penumpang pesawat menuju Korea telah tersiar, membuatku semakin menggila. Aku, aku, aku… Aku tak bisa berpikir. Keringat dingin mendesak keluar dari pori-poriku, seakan mereka tak sanggup lagi berada di dalam tubuhku. Oh Tuhan!

"KYUUUU!", teriak seseorang memanggilku, saat kakiku sudah berlari membawa tubuhku keluar bandara itu.

Eomma, mianhae! Kyu sudah tak sanggup lagi, Eomma!

Sebuah kereta listrik sedang berhenti di stasiun itu. Sungmin dan Namja itu baru saja masuk ke dalam stasiun. Mereka masih berlari, menghindari puluhan bawahan boss itu. Pintu kereta listrik itu mulai menutup. Namja itu mendorong Sungmin masuk ke dalam kereta yang mulai bergerak laju.

HUP! Sungmin berhasil masuk ke dalam kereta listrik itu bersamaan dengan bunyi pintu kereta yang tertutup.

"Tolong jaga dia!", ucap Namja itu kepada seorang Namja tinggi tegap yang meraih tangan Sungmin dan membantu Sungmin masuk ke dalam kereta listrik tadi.

Sungmin melempar pandangan kepada Namja penyelamatnya, yang tak berhasil ikut masuk bersamanya. Ia memeluk Namja tinggi tegap itu, menyalurkan kesedihannya karena meninggalkan penyelamatnya yang entah bagaimana nasibnya. Terakhir Sungmin melihat para bawahan boss itu sudah mengepung sang Namja. Sungmin hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Namja itu baik-baik saja.

"Neo nan Gwenchana?", tanya pria tegap yang baru menyelamatkannya.

"Ne", jawab Sungmin pelan, melepas pelukannya.

"Choi Siwon imnida", kata pria tegap itu memperkenalkan diri.

"Lee Sungmin"

.

.

\(T.T)…::TBC::…(O.o)7

.

.


TERIMA KASIH untuk semua pembaca yang REVIEW atau pun yang nggak, apalagi sampai ada yang ngeADD aku di FB

Sekarang aku mau menjawab beberapa pertanyaan kalian.

CHECK THIS OUT!

#

Q: FFmu di FB pair siapa aja? Ada Kyu nggak?

A: di FBku banyak FF. Disana ada yang PAIR atau juga Personal FF. FFku itu ada yang Inspirative FF (u/ moral) dan Imaginative (hanya u/ dibaca sbg hiburan), tapi rata2 semua FFku punya pesan penting di dalamnya. Soal PAIR, ada HanChul, YunJae, SiBum, EunHae, KyuMin dll.

#

Q: FFnya dilanjut di sini atau di FB?

A: Sebenarnya aku ingin melanjutkan di sini, tapi aku akan PINDAH sedangkan aku nggak tau KONEKSI INET di sana Bagus atau nggak. Jadi sebagai antisipasi aku pindahin ke FB. Hanya saja AKU TETAP USAHAKAN UPDATE DI SINI, walo di FB pasti lebih dulu update-nya

#

Q: Nanti bakal COUPLE ya? WonKyu atau KyuMin?

A: hmm... Tenang! PETUALANGAN mereka belum dimulai, karena siapa tahu aja mereka akan bertemu dengan member SUJU atu member GB / BB lainnya di perjalanan. Siap2 aja! Tapi aku jamin ada NUANSA CINTA di sini. Masalah COUPLEnya yg mana, kalian tebak aja deh sendiri.

#

Q: Kenapa NOTES di FBku nggak keliatan?

A: Ah, masa? Aku jg nggak ngerti. soalnya temen / bukan temen bisa baca kok, mereka sering komen tuh baru deh jadi temenku. Mmm... kalo emang kalian susah nyarinya. Message aja aku. Nanti aku bantu kasih LINKnya ya~

#

Q: pindah? nggak bisa selese'in dulu ff ini disini?

A: pindah itu maksudnya pindah kota, tempat tinggal. Jadi semua itu tergantung INET di sana aja.

#

Sekian jawabanku. Semoga berkenan dan bisa menjawab keingintahuan kalian.

TERIMA KASIH udah mau membaca FF ini

Oh ya, saat ini aku sedang sakit. Jadi minta DOAnya ya, biar cepet sembuh

Semoga hari kalian menyenangkan

Annyeong~