Sungmin, Siwon dan Kyuhyun menjelajahi kota Heidelberg, Jerman. Apakah mereka akan bertemu?
LET'S READ! PLEASE, LEAVE COMMENT!
19th
Chapter 3
By Yuya Matsumoto
"New Meeting"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Eka Cloud Elf'Suju as Shin Hee Yeon (Yeoja)
Anggita Kania as Angie (Yeoja)
Nova Scotia as Scotia Kimberly (Yeoja)
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(w)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
"Tidak ada yang pernah bisa menebak rencana Tuhan terhadap hamba-Nya. Yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik dan menerima semua keputusan-Nya dengan rasa syukur"
.
.
Setelah satu jam berada di kereta, Sungmin dan Siwon memutuskan untuk turun. Mereka tidak tahu harus kemana dan apa yang mereka akan lakukan. Untuk saat ini, mereka hanya ingin ketenangan.
Mereka sedikit melakukan penjelajahan di kota asing itu. Sebuah bangunan besar menyambut mereka. Dua menara dengan sebuah gerbang besar menjadi bangunan paling menonjol di depan mereka, berada di atas sebuah sungai jernih yang mengalir di antara kota itu. Heidelberg, nama yang terpampang di salah satu papan besar tepat di atas gerbang. Suasana klasik dan kuno mendominasi tempat ini. Mereka berdua tidak pernah menyangka bahwa mereka tersesat di salah satu kota paling romantis di Jerman.
Sungmin menghentikan langkahnya di alun-alun kota. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding sebuah gedung, mendudukkan tubuh lelahnya. Ia sudah tak peduli dengan debu yang akan mengotori pakaiannya. Ia hanya butuh istirahat sejenak. Siwon tersenyum wajar melihat raut wajah Sungmin yang kelelahan. Siwon ikut duduk di samping Sungmin. Ia menghapus beberapa peluh yang membasahi kening Sungmin. Sungmin menggembungkan pipinya, menaruh kepalanya pada bahu bidang Siwon.
"Capek, ya Min?", tanya Siwon sambil merapikan beberapa surai rambut Sungmin yang menutupi wajahnya. Sungmin mangangguk-angguk manja.
Jangan heran melihat kedua orang asing ini nampak sangat akrab. Selama perjalanan di kereta, mereka membagi kisah. Seakan merasa satu nasib, mereka saling membutuhkan dan merasa sudah mengenal sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Sungmin mendekap lengan berotot milik Siwon, mencari kehangatan dari namja tampan itu. "Dingin, Wonnie~", rajuknya manja.
Jelas saja Sungmin kedinginin. Udara malam di Eropa memang menusuk setiap pori-pori tubuhnya, membuatnya harus sekuat tenaga menahan gemertak giginya. Beberapa warga Heidelberg ataupun sekedar wisatawan asing begitu iba melihat kedua orang yang terlihat lusuh dan kedinginan itu. Tak ayal mereka meletakkan beberapa koin Euro di dekat kaki Sungmin dan Siwon. Sungmin tidak mempedulikan sikap orang-orang asing itu, yang terpenting bagi dirinya adalah kehangatan dan kenyamanan saat ini. Sebenarnya Siwon sedikit tersinggung, namun setelah ia pikir uang itu lumayan jika digunakan untuk minum atau makan.
"Min-ah, ireona!", ucap Siwon kepada Sungmin yang mulai terlelap di bahunya. Sungmin menggeliat risih, merasa terganggu dengan suara Siwon. "Ireona. Ayo, kita perlu menghangatkan diri dulu", tutur Siwon lembut sambil mengelus pipi kanan Sungmin.
Akhirnya Sungmin mengikuti kata-kata Siwon. Ia hanya mengikuti Siwon yang menggenggam tangannya dengan erat. Jujur, Sungmin mulai merasa tergantung dengan namja gagah itu. Entah apa yang akan terjadi padanya, jika ia terpisah dari Siwon. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk bisa merasakan kehangatan di salah satu café yang ada di kota itu.
.
("X.X)/ YuyaLoveSungmin \(T.T")
.
"Oh my god!Warumsind siehier? (Ya Tuhan! Kenapa mereka di sini?)", jerit seorang yeoja yang baru saja keluar dari café miliknya.
Terlihat dari mimik wajahnya bahwa yeoja itu sangat khawatir dan panik. Bagaimana tidak? Ada dua orang manusia yang terlelap di salah satu meja café-nya yang berada di luar. Ia hanya takut kalau saja mereka mati kedinginan, berhubung cuaca memang tak mendukung.
Yeoja itu mendekati tubuh Siwon dan Sungmin, yang sudah membeku. Ia berteriak-teriak tak jelas, seperti memanggil seseorang dari dalam café-nya. Tak selang beberapa lama muncullah seorang yeoja mungil, putih, manis, berperawakan eropa, dari dalam café. Wajahnya tak kalah paniknya saat mendengar sahabatnya memanggil dengan nada ketakutan, apalagi suara melengkingnya terdengar sampai ujung dapur café.
"Was ist passiert? Warum sprichst du so laut? (Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak?)", tanya yeoja tadi.
Yeoja sebelumnya, yang memiliki wajah oriental dan tubuh putih-mungil, menunjuk ke arah dua orang remaja yang terkapar tak berdaya. Apa yang terjadi sekarang? Mereka berdua sama-sama panik dan bingung akan melakukan apa. Saking bingungnya, mereka hanya terpaku menatap Siwon dan Sungmin. Diam seribu bahasa.
"Angie, müssen wir ihnen helfen! (Angie, kita harus membantu mereka!)", ujar yeoja berwajah oriental itu, memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.
.
—Day 1, Hiedelberg—
.
.
(*.*")a Kyuhyun P.O.V
.
"Hoaaam!". Aku menggeliat manja di atas kasur empuk yang telah mengantarkan aku dalam tidur panjang semalam. Aku menghirup udara dingin AC dengan satu tarikan napas panjang. Oh Tuhan, I love my life now!
Sejak acara kabur kemarin, aku hanya bisa melakukan satu hal, yaitu menikmati kehidupanku yang bebas tanpa aturan dan kekangan eomma-appa. Aku bisa dikatakan sebagai anak durhaka, karena membangkang kedua orang tuaku, but what must I do? Aku hanya ingin sesekali merasakan kenyamanan atas diriku sendiri, bukannya mengikuti seluruh keinginan mereka. Kalau saja aku tahu kebebasan itu sangat menyenangkan, mungkin sejak dulu aku sudah melarikan diri. Hehehe… Babbo Kyuhyun!
Aku berjalan-jalan di kota kecil, Heidelberg, yang terkenal sebagai salah satu kota paling romantis di Jerman. Kenapa aku memilih kembali ke tempat awal aku melakukan study tour? Aku hanya teringat kata-kata CL sebelumnya. Aku menyunggingkan senyum kecilku, menikmati pemandangan eksotik kota ini.
Kota ini penuh dengan arsitektur kuno dan tua, menambah aksen klasik pada setiap sudut kota yang tersuguhkan dengan rapi. Saat memasuki kota ini aku sudah bisa merasakan keunikan kota ini, terlihat dari jembatan tua yang berada di atas Sungai Nacker. Sebenarnya daya tarik kota ini terletak pada Universitas tertua di Jerman. Universitas itu berada di atas bukit, menambah daya tarik kota ini jika dilihat dari atas udara. Aku sudah pernah memasuki universitas itu. Satu kata, WOW! Siapapun wajib datang ke kota ini. Udaranya segar dan sejuk. Suasananya penuh kehangatan. Penduduknya yang ramah dan penuh senyum. Semua keindahan ini terlewati begitu saja saat aku asyik mengikuti study tour kemarin. Haaah~ Benar kata CL!
Sedikit merasa lelah setelah seharian menjelajahi kota kecil ini, aku memilih untuk menyesap secangkir cappucino di salah satu café pada pusat kota. Gasthaus Hackteufel terletak di belakang jalan utama Heiliggeist Kirche. Café ini terkenal memiliki makanan khas Jerman yang luar biasa enak. Aku menjamin itu, karena memang makanannya tidak dideskripsikan dengan kata-kata. Menurutku, semua orang wajib mengunjungi café ini. Rasakan kenikmatannya sendiri!
Aku memperhatikan sekelilingku. Aku baru sadar, kalau di kota ini jarang sekali ada kendaraan bermotor. Orang-orang lebih asyik berlalu lalang atau pun naik sepeda dan becak. Yah, di sini ada becak! Setahuku becak itu adalah kendaraan roda tiga yang berasal dari Indonesia. Hmm… Sayang, aku belum pernah menaikinya. Nanti aku mau tanya, kalau di sini becak disebut apa ya. Hehe…
"Execuse mich! Kann ich hier sitze? (Permisi! Boleh aku duduk di sini?)", tanya seorang yeoja tinggi dengan rambut panjang sepunggung. Ia terlihat sangat cantik dan manis. Aku hanya terpaku melihat penampilannya yang sederhana, namun tetap menampilkan kecantikan alaminya.
"Pardon!", interupsinya sekali lagi, membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang ia katakan sebelumnya.
Aku menyesap cappucino-ku yang mulai tiris dari cangkirnya, kembali memandangi orang-orang yang berlalu lalang.
"Können Sie sprechen Deutschland? (Bisa berbahasa Jerman?)", tanya yeoja itu, membuatku harus mengalihkan pandanganku.
Aku menggeleng pelan. Sumpah ya! Aku tidak mengerti kata-kata yeoja di hadapanku. Sudah berbaik hati memberikan tempat untuknya duduk, sekarang dia malah cerewet sekali. Aku tarik kata-kataku kalau dia itu cantik dan manis. Yang benar adalah dia itu cerewet dan mengganggu.
"I'm sorry. Do I disturb you?", tanyanya sekali lagi. Aku hanya memicingkan mataku, tanda setuju. "My name is Scotia Kimberly. You can call me Kim"
Aku menyambut uluran tangannya. "Kyuhyun", jawabku singkat.
"Kyuhyun? Are you from Asia? Korea?", tanya yeoja yang bernama Kim itu lagi.
Aku hanya mengangguk-angguk. Jujur aku tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Oh, God! Lepaskan aku dari yeoja ini. Benar-benar mengganggu hariku yang tenang.
"Annyeong. Aku sangat senang bisa bertemu dengan salah seorang Korea sepertimu. Aku ini keturunan Korea-Perancis-Jerman-Itali. Hanya saja Appa-ku asli dari Jerman. Hehe", lanjut Kim dengan antusias. Kim berbicara bahasa Korea dengan aksen Eropa-nya yang sangat kental.
Aku membelalakkan mataku saat mendengar berbagai nama Negara yang baru saja ia sebutkan tadi. "Mwo? Jinjja?", tanyaku tak percaya.
"Hem!", angguknya mantap. "Haraboji adalah orang Korea. Sejak kecil ia sering membicarakan keindahan negaranya. Berbagai kisah tradisional, makanan khas Korea dan hal-hal menarik tentang Korea. Haaah~ Aku benar-benar ingin ke negara gingseng itu bersama Haraboji. Sayangnya, haraboji meninggal saat aku berumur sepuluh tahun", ceritanya panjang lebar.
Aku hanya mendengarkan Kim bersenandung mengenai kisah hidupnya yang penuh warna itu. Ternyata gadis cantik ini adalah seorang ekstrovert yang tidak malu-malu mengutarakan pendapat dan kisah pribadinya kepada orang yang baru dikenalnya. Hmm… sepertinya aku harus mengubah cara pandangku kepada gadis ini. Lagipula ia terlihat memiliki wawasan yang luas.
"Aku pernah melakukan pelarian dari rumah. Rencanaku adalah menjelajahi Korea sendirian", lanjutnya tanpa malu-malu.
Eh, pelarian? Kabur, maksudnya? Seperti aku sekarang?
"Lalu apa yang kamu lakukan? Apa yang terjadi?", tanyaku penasaran.
.
(+o+") Author P.O.V
.
"Kyaaaaa~", jerit Sungmin saat ia melihat Siwon berada di dalam satu selimut yang sama dengannya.
Suara Sungmin menggema di seluruh sudut ruangan itu, membuat Siwon terbangun karena kaget.
"Waeyo, Minnie-ah?", tanya Siwon pelan seperti tak terjadi apa-apa. Ia masih menggeliatlan tubuhnya, mencoba membuka matanya sepenuhnya. Sebenarnya Siwon belum sadar dari tidurnya yang nyenyak semalam. Ia benar-benar merasa letih, sehingga ia sangat menikmati mimpi-mimpi indahnya semalam.
"Was ist los? (Apa yang terjadi?)"
"Was ist passiert? (Ada apa?)"
Dua sosok asing masuk ke ruangan itu dengan langkah yang terburu-buru dan mimik wajah cemas.
"NUGUSEYO?", teriak Siwon dan Sungmin berbarengan, karena mereka sama sekali tidak mengenal dua orang di hadapan mereka itu.
"Ya! Pelankan suara kalian! Ini masih pagi", ucap seorang yeoja berwajah oriental dengan bahasa Korea yang sangat fasih.
Sungmin dan Siwon saling pandang bingung, lalu kembali menatap kedua yeoja tadi. "Maafkan kami. Jadi kenapa kami ada di sini?", tanya Sungmin dengan nada lebih lembut. Ia tidak ingin membuat masalah, terutama dengan dua orang baru itu. Sepertinya Sungmin harus mengucapkan terima kasih, karena bisa tidur di tempat senyaman ini.
"Ne, cheonmannayo! Kemarin kalian tertidur di depan café kami. Kami pikir kalian mati kedinginan, jadi kami membawa kalian ke rumah kami", jelas yeoja oriental itu. Sedangkan yeoja satunya hanya bisa melempar pandangan bingung kepada tiga orang itu. Jelas sekali terpatri di wajahnya bahwa ia tidak mengerti bahasa Korea.
Siwon dan Sungmin berdiri, mendekati kedua yeoja itu. "Sungmin/Siwon imnida", ucap keduanya sambil menjabat salah satu yeoja itu masing-masing.
"Shin Hee Yeon / Angie", jawab kedua yeoja itu saling berkenalan.
"bekommen sie zu essen (Ajak mereka makan)", kata Angie, yeoja berperawakan Eropa dengan nada pelan sambil menyenggol bahu Hee Yeon pelan. Hee Yeon hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Angie.
"Hmm… Lebih baik kita mengobrol di ruang makan saja. Aku tahu kalian lapar", ajak Hee Yeon pada akhirnya.
Mereka berempat pergi ke ruang makan bersama-sama, menikmati hidangan khas Jerman yang sangat menggugah selera itu. Di atas meja makan tersaji; Bauernomelette (omelet isi irisan daging asap, sosis dan jamur), Erbsensuppe (sup kacang polong), dan Apfelschoerle (sari buah apel dengan campuran air soda). Tanpa basa-basi, Siwon dan Sungmin melahap semua sajian yang diberikan kepada mereka. Makanan lezat khas Jerman, gratis, siapa yang mau nolak. Hehehe…
"Jadi bagaimana ceritanya sampai-sampai kalian tertidur di café kami?", tanya Hee Yeon sambil mengesap Erbsensuppe-nya.
Dimulailah kisah kedua insan ini. Mulai dari awal mengapa mereka berada di Jerman, hingga mereka terkapar di atas salah satu meja café. Mimik kedua pemilik rumah itu berubah seiring cerita yang terlontarkan. Terkadang Angie menangis tersedu-sedu mendengar kisah Sungmin. Ia memeluk tubuh Sungmin yang lebih mungil darinya dengan sangat erat.
Tak akan pernah ada yang menyangka, orang asing akan menjadi dekat seperti saudara kandung. Inilah hidup penuh dengan lika-liku dan kejutan. Just take it and do the best for us!
.
("X.X)/ YuyaLoveSungmin \(T.T")
.
Byuuur! Sebuah coffee late yang cukup panas jatuh dari nampan yang dipegang oleh Sungmin.
"Ya! Appo!", jerit seorang namja yang tanpa sengaja terkena siraman coffee late tadi.
"Jeosonghamnida, ahjussi!", balas Sungmin tak sadar bahwa ia telah menggunakan bahasa Korea-nya, sama halnya dengan namja tadi.
"Mwo? Ahjussi?", bisik namja itu sarkastik saat mendengar dirinya dipanggil ahjussi oleh Sungmin.
"Maaf, tuan. Aku akan segera membersihkannya", ujar Sungmin sambil beberapa kali menundukkan tubuhnya. Ia berusaha merapikan cangkir yang terjatuh dan membersihkan sisa-sisa noda di baju namja itu.
Saat Sungmin berdebat dengan namja itu, yang menolak Sungmin untuk membantunya, ia melihat beberapa sosok orang yang mencurigakan. Dua sosok namja dengan jas hitam, tubuh kekar dan perawakan yang benar-benar Sungmin kenal. Tanpa peduli apapun, Sungmin berlari ke dalam café, memberitahu Siwon dan kedua teman barunya. Satu hal yang ada di pikirannya, melarikan diri.
"Siwonnie, ayo lari!", ajak Sungmin dengan wajah paniknya.
"Lari? Waeyo?", tanya Siwon balik.
Angie dan Hee Yeon menghampiri mereka, karena dua yeoja itu merasakan firasat buruk.
"Penjahat itu di luar café. Mereka mencari kita. Mereka sudah ada di sini. Ayo, kita harus lari secepatnya", paksa Sungmin ketakutan. Ia tak ingin lagi terkurung di dalam tempat yang tak jelas. Belum tentu ia bisa menyelematkan diri lagi.
"Pergilah, Sungmin! Bawa tasmu dan passport Siwon di dalamnya. Aku sudah menaruh beberapa Euro di sana. Cepat. Pergilah! Kami akan membantu mengalihkan perhatian mereka", perintah Hee Yeon sambil memberikan Siwon tas selempang Sungmin. Sesekali yeoja itu melirik ke luar café-nya dimana dua orang berjas hitam tengah terlihat mencari seseorang. Sedangkan Angie sendiri pun sudah mendekati kedua pria itu, berusaha mengalihkan perhatian mereka, sehingga Sungmin dan Siwon bisa kabur secepatnya.
Tak mau berlama-lama, Siwon dan Sungmin berlari melalui pintu belakang café. Mereka menyusuri jalanan kota Heidelberg yang mulai ramai di senja hari. Satu tujuan mereka, stasiun kereta. Mereka harus pergi ke sana barulah mereka memutuskan akan pergi kemana.
"Haaah! Haaah! Haaah!". Suara napas yang tercekat, membuat Siwon dan Sungmin mengalihkan pandangan mereka ke satu sosok baru yang sedaritadi terlupakan. "Bisakah kalian berhenti? Aku lelah!", pinta namja itu. Ya, dia adalah namja di café yang tanpa sengaja tersiram oleh Sungmin dan tertarik ikut karena Sungmin terlalu panik.
"Hehehe! Cho Kyuhyun imnida", ujar namja itu dengan senyum polos yang masih kelelahan.
"MWO?", jerit Sungmin dan Siwon bersamaan. Mereka tak pernah menyangka kalau petualangan mereka ditambah oleh satu peserta lagi.
.
.
….::TBC::….
.
.
..::Cuap2 AUTHOR::..
NO EDIT! SORRY FOR TYPOS...
Hai, readerdeul! Yuya kembali.
Chapter ini dikerjakan saat aku sakit, jadi maaf jika kurang berkenan oleh kalian.
3 orang yeoja ini adalah teman-teman di FBku yang aku masukan tanpa meminta persetujuan mereka. Hanya sekedar kejutan, untung mereka suka.
oh ya, 3 orang YEOJA itu nanti akan membantu mereka di adegan2 lainnya. Tunggu aja kehadiran mereka kembali.
NEXT CHAP, RENCANAnya YUYA akan menampilkan dari sisi orang2 selain tiga TOKOH UTAMA ini. Hmmm... Gimana ceritanya? Tunggu aja selanjutnya.
Sekian aja... Kebanyakan omong~ Yuya MINTA MAAF karena CHAP 3 ini tidak memuaskan. Maafkan Yuya~ Semoga nanti kalo aku SEMBUH, aku bisa mengetik dengan lebih baik lagi~
Terima kasih untuk semua READERS yg masih setia baca FFku.
TERIMA KASIH DAH MAU BACA, MENINGGALKAN JEJAK KALIAN. AKU SANGAT MENGHARGAINYA
_YLS_
NB: Yuya masih mau mengingatkan. Yuya akan pindah jadi Yuya tidak bisa berjanji akan MENAMATKAN FF di sini. Kalau mau mencari Yuya, di FACEBOOK: LEE YEOMIN HA! Let's be friend... Kalo perlu apa2 bilang aja ya, hhe~ biar aku tahu! Annyeong~
