Shift Malam

.

Chapter 2


Hari kedua bekerja di kafe itu, Anko tiba dengan pakaian yang basah kuyup.

Itachi, yang menyambutnya di pintu dengan pandangan ingin tahu, menatapnya sekilas dari atas ke bawah sebelum kemudian masuk lagi ke dalam dan keluar lagi dengan handuk di tangannya.

"Ini."

Anko menerima handuk itu segera, lalu melepas ikatan rambutnya dan membungkus kepalanya yang basah dengan handuk. Itachi, yang sejenak tampak ragu, memperhatikannya sekali lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam.

"Terima kasih, Uchiha."

Anko, yang kepalanya masih terbungkus handuk, melangkah masuk ke dapur dan menggantung sweater-nya di balik pintu. Itachi yang saat itu tengah memanaskan sesuatu, menoleh dengan senyum kecil di wajahnya.

"Sama-sama, Anko-san."

Gadis itu menaikkan alis. "Anko saja."

Itachi tampak ragu sejenak, namun tidak mengatakan apapun. Anko, yang sudah terbiasa dengan sikap tak banyak bicara dari pemuda itu, hanya meliriknya sekilas sebelum kemudian menyusun gelas yang baru dicuci di rak.

"Anko-san…"

Suara Itachi yang agak serak mengagetkannya. Ia menoleh, dan mendapati pemuda itu yang tengah menyodorkan setelan pakaian kering padanya.

Anko menaikkan alis.

"Bajumu basah, Anko-san," pemuda itu menjelaskan dengan ekspresi tak berubah. "Sebaiknya kau mengganti bajumu.

Anko terdiam, lalu tertawa hangat. "Oh, kau baik sekali, Uchiha," ia mengambil baju itu, mengucapkan terima kasih, dan berlalu ke kamar mandi.

Ia keluar sepuluh menit kemudian.

"Ini… bajumu?"

Itachi, yang tengah merebus spageti di panci, menoleh dan memberikan anggukan kecil.

Anko memandangi pakaian yang dikenakannya—kaus lengan panjang berwarna abu-abu dengan tulisan 'keep calm and don't lie' di dadanya, serta celana panjang berbahan denim yang agak pudar. Ia tersenyum, merasa penampilannya cukup keren, lalu menaruh bajunya yang basah di dekat jendela.

Gadis itu tak tahu bahwa pemuda di belakangnya diam-diam memperhatikanya dengan senyuman bersahabat di mata hitamnya.


Tak banyak pelanggan yang datang malam itu. Selepas jam sepuluh dan beberapa kekacauan kecil seperti es teh yang rasanya asin atau pancake yang agak gosong—kafe itu sepi sepenuhnya.

Anko, yang tengah menganggur dan hanya duduk memandangi sekeliling kafe itu di meja konter, mengangkat alisnya sebelum kemudian menoleh ke Itachi yang sedang mengeringkan piring.

"Hei, Uchiha?"

Pemuda itu menghentikan kegiatannya sesaat, dan menoleh.

"Hm?"

"Kau lihat orang yang duduk disana?"

Itachi menoleh ke luar, terdiam sejenak, lalu mengangguk.

"Ia belum pergi dari sini sejak jam setengah sembilan tadi."

Itachi memandangi gadis itu dengan iris hitam kelam yang menyiratkan sorot bingung.

"Ada apa, Anko-san?"

Anko menggelengkan kepalanya, lalu mendecakkan lidahnya pelan. "Kau tahu? Kurasa ia sengaja berlama-lama disini untuk internetan gratis…" ia melempar pandangannya ke depan sekilas, dan memutar bola matanya. "Ia membuka situs porno, Uchiha."

Itachi memandangnya dengan mata hitam yang melebar, ekspresinya tampak seperti gabungan antara perasaan konyol dan terkejut sedikit.

"…Oh?"

Anko mendecakkan lidahnya sekali lagi. "Kemarin aku melihatnya dengan buku Icha-Icha yang setengah terbuka di meja," ia menjelaskan dengan nada rendah pada rekan kerjanya yang tampaknya agak terlalu polos itu. "Kau tahu Icha-Icha, kan?"

Itachi menggeleng.

Anko mengangkat alisnya, memasang ekspresi tidak percaya. "Hah? Oh, oke," ia mengibaskan tangannya, memutuskan untuk tak mempermasalahkan hal itu. "Jadi, Icha-Icha itu adalah semacam majalah dewasa, Uchiha."

Itachi memandanginya lama, sebelum kemudian mengangguk perlahan.

"Nah. Kau tahu kenapa orang itu mengenakan masker?" Anko menunjuk pelanggan berambut perak yang tengah menatap layar laptop-nya serius. "Itu untuk menutupi ekspresi mesumnya, Uchiha."

Itachi, yang tampak ingin segera menyudahi pembicaraan itu namun diam-diam merasa penasaran juga, melirik pelanggan berambut perak itu sedikit.

"Aku mengerti…. Anko-san."

Anko tak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, hanya memandangi pelanggan yang duduk di meja paling pojok itu dengan dahi berkerut dan jari yang diketuk-ketukkan pelan ke meja.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah satu, dan mereka berdua saat itu tengah tenggelam dalam keheningan yang diisi dengan suara jangkrik dari jendela yang berhadapan dengan jalan.

Anko, yang tengah menuangkan air panas ke termos untuk menyeduh kopi, melirik Itachi yang sedang diam menengadah memandangi langit-langit—tenggelam dalam pikirannya sepenuhnya. Ia memutuskan untuk tak menghiraukan hal itu, dan mengambil dua buah cangkir untuk membuat kopi.

Selesai menambahkan gula, krimer, dan mengaduknya rata, lalu menyerahkan secangkir untuk rekan kerjanya.

Itachi, yang segera tersadar dari lamunannya, mengambil kopi itu dengan ekspresi lega.

"Terima kasih, Anko-san,"

Anko mengangguk, lalu menyesap kopinya. Mereka berdua tenggelam dalam keheningan yang tenang setelah itu—sebelum kemudian suara Itachi yang agak serak memecah kesunyian.

"Aku punya seorang adik."

Anko, yang saat itu tengah menambahkan krimer lagi ke kopinya, menoleh dengan alis terangkat. Ia tak membalas, merasa bahwa pemuda itu akan meneruskan kalimatnya segera.

"Ia... berbeda usia lima tahun denganku," katanya lagi, suaranya pelan seakan tengah berbicara pada dirinya sendiri. Mata hitamnya yang tampak tak fokus memandangi kopinya dengan ekspresi serius.

"Hm ehm," Anko membalas seraya bergumam singkat. Sejurus kemudian, Itachi mengangkat wajahnya, dan menatap Anko dengan iris hitam yang sekilas tampak menyiratkan harapan.

"Aku merindukannya, Anko-san."

Anko meletakkan cangkirnya perlahan, dan menatap jendela dengan senyum tertahan untuk beberapa saat. Ah ya, pada jam-jam seperti ini biasanya adalah waktu yang tepat untuk melakukan nostalgia. Atau memikirkan hal-hal yang menghanyutkan perasaan. Gadis itu tersenyum samar, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke rekan kerjanya lagi.

"Kenapa kau tidak meneleponnya saja, Uchiha?"

Itachi, yang saat itu kembali melamun menatap langit-langit, segera tersadar dari pikirannya dan menatap Anko dengan alis yang berkerut. Sejurus kemudian, ia menggeleng.

"Tidak bisa… Anko-san."

Anko memiringkan kepalanya, mata cokelatnya menyipit dengan ingin tahu. "Memangnya kenapa, Uchiha?"

Itachi menghela napas panjang, lalu menyesap kopinya. Sejenak, ia tampak begitu sendirian.

"Ia membenciku, Anko-san."

Gadis itu hanya memandangi pemuda berambut hitam itu lama, ekspresinya tak berubah. Lima detik kemudian, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri rekan kerjanya.

Sebuah tepukan pelan menyentuh pundak Itachi.

Pemuda itu, yang tampak terkejut sedikit, menegakkan posisi duduknya tiba-tiba—sebelum kemudian ekspresinya berubah rileks lagi. Ia menyesap kopinya perlahan.

"Kami sudah setahun tidak saling berkomunikasi," jelasnya dengan suara serak. Anko, yang berdiri di sampingnya, menaikkan alis dengan pandangan bertanya.

"Kenapa kau tidak mencoba berbicara dengannya? Kalian tinggal serumah, kan?"

Itachi menggeleng. "Tidak. Aku tinggal di flat dekat kampusku," ia melempar pandangannya ke jendela, lalu menghela napas tanpa suara.

"Selain itu… aku tak yakin apakah ia akan menjawab kalau aku meneleponnya."

Anko meletakkan gelasnya ke meja dengan bunyi 'tuk' pelan, lalu mengambil krimer lagi dari dalam lemari, dan menambakannya ke kopinya.

"Kau belum mencoba."

Itachi menghela napas panjang. "Tidak apa-apa," ia menggeleng, lalu menyesap kopinya. "Aku memang merindukannya," ia mengatakan kalimat itu dengan nada rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi hal itu tak terlalu menggangguku."

Anko menaikkan alisnya, lalu menaruh toples berisi krimer yang dipegangnya dan menghampiri pemuda itu.

Ia hanya menepuk pundak pemuda itu pelan tanpa mengatakan apapun, sebelum kemudian menunjuk ke tulisan yang ada di kausnya dengan kening berkerut.

Itachi terdiam, mata hitam itu memandanginya dengan bingung.

"Dengar, Uchiha," ia mengetukkan jarinya ke tulisan 'keep calm and don't lie' yang ada di kausnya seolah itu adalah slogan kampanye, "kau berbohong waktu kau bilang kalau hal itu tidak mengganggumu. Jelas sekali kau sangat ingin berbicara dengan adikmu itu."

Itachi hanya diam ,tak membalas apapun selama beberapa detik. Namun sejurus kemudian, mata hitam itu kembali menatap langit-langit dengan pandangan yang menyiratkan sorot redup.

"Aku tahu."


Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua ketika Anko mengenakan lagi sweater-nya, bersiap-siap untuk pulang. Namun pandangannya berhenti pada kalender yang ada di balik pintu.

"Sudah tahun 2014?" ia menggumam dengan pandangan tak percaya.

Itachi, yang tengah menutup daftar penjualan hari itu, menoleh dengan alis terangkat. "Ya, Anko-san," balasnya singkat, "sekarang tahun 2014."

Gadis itu mendecakkan lidahnya "Aneh," ia mengancingkan sweater-nya perlahan, pandangannya tak lepas dari kalender itu. "Seingatku, sekarang masih tahun 2012."

Itachi menaruh buku itu di lemari, lalu memandangi gadis di depannya dengan sorot bingung. "Ada apa, Anko-san?"

Anko, yang pandangannya tampak termenung sejenak, menoleh pada rekan kerjanya—sebelum kemudian tersenyum lembut .

"Tidak. Tak apa-apa, Uchiha."


.

.

Bersambung.