Sebuah CHAPTER yang mengisahkan berbagai sudut pandang dari orang-orang selain tokoh utama. Terungkap juga kenapa Kyuhyun bisa ikut bersama Sungmin dan Siwon. Penasaran? Ayo dibaca!

LET'S READ! PLEASE LEAVE COMMENT!


19th

Chapter 4

By Yuya Matsumoto

"The Other Side"

Inspirasi: K-movie, 19

Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).

Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.


.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.


.

# Frankfurt, Germany #

.

.

Sebuah Bugatti Veyron SuperSport berwarna putih membelah jalanan kota Frankfurt yang masih sepi. Setiap orang pasti akan terpesona melihat mobil yang memiliki predikat sebagai mobil termahal dan tercepat di dunia itu. Hanya orang sangat kaya saja yang mau menghabiskan uang sebanyak 2,6 juta dollar ( 23, 5 miliar rupiah ) hanya untuk sebuah mobil. Sayangnya mobil ini sepertinya hanya akan enak dipandang jika terparkir atau terjebak macet di jalan, karena kecepatan mobil ini adalah 431.072 km/jam atau bisa menempuh 100 km dalam 3 detik. Bisa bayangkan? Beruntung jalanan masih sepi karena penduduk Frankfurt masih terlelap dalam mimpi sehingga Namja ini bisa mengendarai mobil sport-nya dengan kecepatan luar biasa.

Namja tampan itu bergegas kembali ke kota Frankfurt, meninggalkan segala urusan pentingnya di Berlin, saat mendengar berita buruk malam itu. Ia tidak bisa menunggu lama-lama. Pikirannya kalut. Amarahnya memuncak. Kepalanya berdenyut sakit, sesakit degupan jantungnya yang terus memberontak di dalam rusuknya. Wajah manis itu terus terbayang di dalam otaknya, membuatnya sulit berkonsentrasi pada setiap hal yang ia kerjakan. Sungguh ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan seorang yeoja yang ia sayang sekali lagi.

.

# FLASHBACK #

.

Seorang Namja tampan sedang memimpin sebuah rapat dengan perusahaan besar yang akan menjadi klien-nya kali ini. Ia melakukan sebuah presentasi luar biasa mengagumkan bagi seorang Namja muda seumur dirinya. Semua mata memandangnya dengan takjub. Tak jarang decakan kagum dan pujian melantun sepanjang presentasi siang hari itu.

Namja tampan itu sesekali mengumbar senyum bangganya. Sudah bisa dipastikan ia akan memenangkan kontrak kali ini. Namja tampan itu yakin seratus persen. Saat ia akan mengakhiri presentasinya, ponselnya berbunyi beberapa kali hingga ia harus mengangkat telepon itu dengan terpaksa.

"Yoboseyo! Aku sudah bilang padamu. Jangan ganggu aku di rapat penting seperti ini", bisik Yunho dengan suara pelan namun masih terdengar sangat tegas. "Telepon aku dua jam lagi!", lanjutnya sambil menutup sambungan telepon itu dengan tidak peduli pada orang di seberang sana.

Namja tampan itu benar-benar tidak ingin diganggu konsentrasinya sedikitpun sebelum ia pasti mendapatkan kontrak yang ia impikan sejak lama ini. Walau Namja ini bisa bersikap seprofesional mungkin, ia tetap memikirkan masalah telepon itu. Konsentrasinya terbelah dua; kontraknya dan masalah telepon itu.

"Saya sangat senang bekerja sama dengan anda. Saya harap kerja sama ini akan menghasilkan keuntungan melebihi harapan kita", ucap salah satu kepala perusahaan, klien-nya, kepada Namja itu. Mereka berjabat tangan, sebagai simbol bahwa kontrak telah mereka sepakati.

"Yoboseyo! Waeyo? Ada masalah apa hingga kamu mengganggu rapatku?", tanya Namja itu kepada orang di seberang sambungan telepon, yang merupakan salah satu asisten pribadinya.

"Jeosonghamnida, sajangnim. Lee Sungmin melarikan diri", jawab orang itu dengan nada bergetar, menahan takut.

"APA? JANGAN BERCANDA!", teriak Namja itu. Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa bisa yeoja itu melarikan diri dari penjagaan ketatnya.

"Ada seseorang yang membantunya, sajangnim. Hal ini pacu oleh ancaman yang akan diterima oleh yeoja itu", jawab asisten Namja itu dengan pelan dan terkesan terburu-buru. Tentu saja ia takut bossnya itu akan memecatnya seketika itu juga.

"Ancaman? Ancaman apa maksudmu?"

.

# FLASHBACK END#

.

BRAAAAK! Sebuah pintu terbuka dengan hentakan keras dari sang pelaku utama. Ia tidak peduli telah membuat pintu itu rusak karena ulahnya. Baginya satu hal, mendapatkan informasi yang telah meresahkannya sejak tadi.

Ruangan besar itu hening seketika. Semua penghuninya yang sejak tadi telah menunggu kedatangan sang boss, terdiam dengan getaran pada bulu kuduk mereka. Tercetak jelas di setiap wajah itu, ketakutan yang teramat sangat. Kalau saja mereka tak kuat, mungkin jantung mereka akan enggan untuk berdetak memacu darah ke setiap celah tubuhnya lagi.

Namja tampan yang sedang murka itu, seketika duduk di kursi kebesarannya yang empuk. Urat-urat saraf di wajahnya menegang. Gelora amarah telah mendidih di setiap aliran darahnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya begitu saja, membiarkan rasa rileks menghujam tubuhnya. Namja itu mengaitkan kedua jari jemarinya, meletakkan di atas meja, berpikir sejenak dengan memejamkan matanya.

"Jadi jelaskan kepadaku, bagaimana kronologis peristiwanya?", tanya Namja tampan itu dengan suara lembut dan bijak. Ia berhasil meredam seluruh emosinya, menjaga wibawanya di depan para bawahannya.

Salah seorang bawahan maju ke depan meja Namja tampan itu. Ia menelan ludahnya kecut, berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Ada seseorang yang membantunya melarikan diri, tuan! Kami sudah berusaha mengejar, namun ia berhasil kabur dengan kereta listrik. Mereka yang pertama kali melihat yeoja itu kabur", jelas bawahan itu sambil menunjuk lima orang pria menyeramkan yang menculik Sungmin dari Korea.

Namja tampan itu mengangguk pelan. Ia meminta ke lima pria itu maju ke hadapannya. "Jelaskan padaku!", perintahnya dengan nada bicara yang meninggi.

Kelima pria itu saling memberikan tatapan seakan melemparkan perintah itu ke orang lain. BRAAAK! Namja tampan itu menggebrak mejanya karena emosinya tersulut kembali.

"Kam-kami tidak tahu, tuan. Saat kami akan mengecek keberadaannya di kamar, kami melihat yeoja itu berlari dengan seorang Namja", jelas salah satu pria dengan sedikit terbata-bata, menundukkan kepalanya.

"Apa yang ingin kalian lakukan di kamar Sungmin-ku?", tanya Namja tampan itu sambil mengangkat wajah pria tadi. Ia memberikan tatapan tajam pada mata yang ketakutan itu.

"Aniya, tuan. Kami hanya ingin mengecek keberadaannya saja", bela pria lainnya dengan tubuh yang bergetar.

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Namja tampan itu menampar pipi kelima pria itu satu persatu dari ujung ke ujung, lalu ia mengulangi sekali lagi hingga kedua pipi mereka merah dibuatnya.

"Kalian pikir aku bodoh! Aku tahu apa yang akan kalian lakukan pada Sungmin-ku. Kalian ingin memperkosanya kan? Kalian tahu, Sungmin itu milikku. Kalian selalu membuat gara-gara kepadanya. Jika kalian tidak bisa menemukan Sungmin secepatnya, kepala kalian yang akan menjadi koleksiku selanjutnya! Ingat! Aku mempunyai mata dimana pun, jadi jangan pernah memiliki niat untuk MENGKHIANATIKU!", marah Namja itu sambil menunjuk pajangan kepala rusa miliknya di dinding.

BRUUUK! Namja tampan itu merebahkan tubuhnya lagi di atas kursinya. "KELUAR! AKU INGIN SUNGMIN DI SINI SECEPATNYA! TANPA LUKA SEGORES PUN!", perintah Namja itu, membuat seluruh bawahannya membungkuk padanya sebelum meninggalkan ruangan itu.

Namja tampan itu mengacak rambutnya frustasi. Ia menenggelamkan kepalanya di atas meja. Benar-benar merasa frustasi.

"Jung Yunho-sajangnim, meeting akan segera dimulai!", ujar seorang yeoja yang baru saja memasuki ruangan itu.

Namja tampan, yang bernama Jung Yunho itu, menganggukkan kepalanya. Ia menarik napas kembali, mencoba melupakan kegundahan dan kekesalannya hari ini. Ia tidak ingin merusak meeting dan bisnis besarnya. "Kamu akan menerima pembalasanku, Lee!", desis Yunho pelan sambil mengelus bingkai foto di atas mejanya. Terpancar kesedihan di mata Yunho saat ia memandang lima wajah dalam bingkai kaca itu. "Jung So Min, I miss you!"

.

.

# Seoul, South Korea #

.

.

TING TONG! Suara bel menggelegar memenuhi dinding rumah mewah itu. Seorang yeoja paruh baya segera menghampiri pintu depan rumahnya. Senyuman terukir indah di kedua pipinya. Ia benar-benar bahagia saat ini. Mrs. Cho sudah sangat merindukan buah hati satu-satunya yang sudah pergi selama dua minggu ini. Ia benar-benar ingin memeluk aegya-nya itu.

Senyum yang terus mengembang di pipi chubby itu, memudar tatkala bukan anaknya yang ia lihat di depan pintu. Dua orang dewasa dengan penampilan rapi sewajarnya, tersenyum kepada Mrs. Cho yang kemudian disambut senyuman kecut oleh yeoja itu.

"Jeosonghamnida. Kami mengganggu anda, nyonya. Bolehkah kami masuk?", tanya seorang Namja paruh baya yang menjadi tamu di rumah mewah keluarga Cho itu.

"Silakan", jawab Mrs. Cho ramah. Ia mempersilakan kedua tamunya masuk, lalu meminta pelayan untuk menyiapkan minuman untuk mereka bertiga.

"Begini nyonya", jeda yeoja paruh baya, tamunya yang satu lagi. "Kami ingin menyampaikan sesuatu mengenai anak anda, Cho Kyuhyun", lanjutnya dengan ekspresi serius.

Mrs. Cho tercekat mendengar nama anaknya disebut. Dadanya nyeri. Terbersit rasa takut dan cemas di dalam hatinya. 'Jangan katakan terjadi hal yang buruk padanya', batin Mrs. Cho curiga.

.

# FLASHBACK #

.

"Ayo, berkumpul! Kami akan mengabsen kalian sekali lagi sebelum masuk ke dalam pesawat", ujar seorang Dosen memberi komando pada anak didiknya.

Rombongan Cho Kyuhyun dan temannya sedang berada di waiting room, menunggu panggilan menuju pesawat mereka. Suasana di ruangan itu sangat ramai karena didominasi oleh mahasiswa kedokteran dari kampus Kyuhyun. Banyak dari mereka asyik mengobrol, membeli beberapa souvenir dan ada juga yang asyik memainkan ponsel atau PSP mereka. Salah satu dosen mulai memanggil nama mereka satu per satu, sedangkan dosen yang lain memperhatikan dan mengecek keberadaan mahasiswa mereka.

"Park Min Young?"

"Hadir!

"Lee Soo Kyu?"

"Hadir"

"Seo Youngmin?"

"Hadir"

"Cho Kyuhyun?"

"…"

"Cho Kyuhyun?"

Seorang Namja tampan sedang asyik termangu dengan pikirannya sendiri. Ia masih memikirkan perkataan sahabatnya, CL, sebelum mereka berpisah di hotel. Sebuah tangan menyenggol bahu Kyuhyun dengan keras, membuatnya tersadar dari lamunannya.

"Kau dipanggil", ujar teman di sebelahnya memberitahu.

"YES, I AM!", teriak Kyu spontan saat namanya untuk ketiga kali dipanggil. Semua mata tertuju padanya. Mereka tertawa melihat kebodohan Namja bermarga Cho itu.

Tak beberapa lama, Kyuhyun mendapatkan telepon dari appa-nya. Sebuah telepon yang menepis seluruh keraguannya. Kyuhyun memutuskan melarikan diri di saat seluruh rombongannya sibuk masuk ke dalam pesawat. Di saat-saat merepotkan itu tidak ada yang memperhatikan kepergian Kyuhyun, kecuali satu orang yang melebarkan seringai kepada bayangan Kyuhyun.

"Semoga kamu menikmati petualanganmu, Kyu! I'll keep it as our secret", bisiknya pelan pada dirinya sendiri dan udara yang berhembus sore itu.

Rencana melarikan diri milik Kyuhyun tidak diketahui oleh para dosen, hingga mereka mengabsen setiap mahasiswanya di Korea.

.

# FLASHBACK END #

.

"Kami tidak menyadari bahwa Kyuhyun tidak ikut dalam penerbangan bersama kami. Kami sudah menghubungi bandara Frankfurt. Staff mengatakan tidak ada Namja bernama Cho Kyuhyun yang mengeluhkan ketinggalan pesawatnya", terang sang dosen pria.

"Ja-jadi… Jadi maksudmu… Kyuhyun menghilang?", tanya Mrs. Cho terbata-bata.

"Iya, nyonya. Maafkan kami", mohon kedua dosen itu dengan sangat menyesal.

"Ah, ah! CHO KYUHYUUUUUN!", jerit Mrs. Cho frustasi.

BRAAAK! Mrs. Cho pingsan. Ia terjatuh ke atas lantai.

"YEOBOOOO!", teriak Mr. Cho yang baru saja pulang dari kantornya. "Yeobo! Ireona", jeritnya panik dan ketakutan.

Kedua dosen itu ikut takut melihat keadaan Mrs. Cho yang tak sadarkan diri. Keringat dingin membasahi kening mereka. Mr. Cho menatap mereka berdua dengan tatapan paling mengerikan yang pernah diterima dua orang itu seumur hidup.

"Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku pastikan kalian tidak bisa hidup tenang", desis Mr. Cho dingin.

Dua dosen itu terpaku di tempat. 'Selamatkan kami, Tuhan', jerit mereka dalam hati.

.

.

# Frankfurt, Germany #

[Siwon's dad side]

.

.

'Kemana anak ini? Kenapa dia tidak juga kembali? Padahal ini sudah satu jam sejak ia pamit ke belakang. Aish! Benar-benar menyusahkan', pikir Mr. Choi resah.

Beberapa kali ia melihat ke berbagai arah, berharap bisa menemukan sosok anaknya itu. Mr. Choi benar-benar tidak dapat duduk tenang. Ia gelisah karena sudah kehilangan berbagai topik untuk klien yang akan menjadi besannya itu. Sang klien juga nampak risih melihat sikap Mr. Choi yang tak wajar itu. Sudah terlalu lama ia menunggu, namun Siwon tetap tidak kembali padahal ia ingin mengenal Namja itu lebih dekat.

"Mr. Choi, where's your son?", tanya sang klien karena sudah tak sabar menunggu. Ia melihat jam tangannya untuk ke sekian kalinya.

"Mm.. Itu-itu aku juga kurang mengerti Mr. Kim. Aku tidak tahu kemana dia sebenarnya", jelas Mr. Choi jujur.

"Begini ya, Mr. Choi. Anda tahu alasan kita melakukan pertemuan ini, agar aku bisa mengenal anak anda. Aku ingin mengetahui kepribadiannya. Apakah pantas untuk anakku atau tidak. Sepertinya aku tidak bisa menunggu lagi. Aku merasa dipermainkan oleh anakmu, Mr.", keluh Mr. Kim, klien appa Siwon. Wajahnya menunjukkan kekecewaan besar. Sungguh ia merasa dipermalukan oleh seorang anak kecil, baginya.

"Jeosonghamnida, tuan. Aku benar-benar tidak tahu kemana ia pergi. Aku mohon jangan salah paham. Ia anak yang baik kok", bela Mr. Choi tentang sikap anaknya yang keterlaluan itu.

"Aku jadi enggan menikahkan anakku pada anakmu, Mr. Choi", ucap Mr. Kim lagi. Ia mulai berdiri, bersiap pergi dari restoran hotel itu.

Suara ponsel berbunyi. Mr. Choi mengangkat ponselnya. "Apa? Kamu diare? Kamu baik-baik saja? Baik. Baik. Aku akan sampaikan pada Mr. Kim. Istirahatlah", ujar Mr. Choi pada siapapun yang berada di seberang sambungan teleponnya.

Mr. Kim mengerutkan dahinya, mendengar perkataan Mr. Choi yang nampak khawatir.

"Maaf, tuan Kim. Siwon sedang tidak enak badan. Ia mengalami diare, sehingga tidak bisa kembali bersama kita. Ia meminta maaf kepada tuan. Mungkin lain waktu kita bisa lanjutkan perbincangan kita mengenai perjodohan ini", jelas Mr. Choi panjang lebar.

"Oh, baiklah. Semoga Siwon cepat sembuh. Ya, aku tunggu kabar selanjutnya. Maaf, aku harus segera pergi karena ada rapat lain yang harus aku lakukan", pamit Mr. Kim dengan sopan.

Setelah Mr. Kim menghilang dari hadapan Mr. Choi, sebuah tanduk secara imajinatif keluar dari kepalanya. Ia sangat murka terhadap kelakuan anaknya. Seandainya saja ia tidak segera mendapatkan ide cemerlang, mungkin Mr. Kim tidak akan mau menjalin kerja sama lagi dengannya. Untung saja Mr. Choi pandai bersandiwara di depan Mr. Kim tadi dan lebih untung lagi, Mr. Kim percaya dengan aktingnya. Argh! Mr. Choi ingin segera menerkam anak bandelnya itu sekarang juga.

Mr. Choi bergegas ke dalam kamarnya. Ia memanggil nama anaknya itu, namun hanya udara kosong yang menjawabnya. Tak ada seorang pun di setiap sudut kamar itu. Namja paruh baya itu semakin murka tatkala ia melihat secarik kertas di atas meja kerjanya.

Mianhae, Appa! Aku harus pergi. Aku sudah tidak tahan menjadi boneka appa. Aku ingin bebas. Aku tidak ingin dijodohkan dengan siapapun. Maaf, tadi aku tidak sengaja mendengarnya. Aku harap Appa tidak marah. Aku hanya butuh waktu, Appa! Maaf kan aku.

Signed,

Choi Siwon

"YAAA! CHOI SIWON! Dasar bedebah! Awas saja kalau kamu pulang! Aku akan menghukummu seberat mungkin!", teriak appa Siwon sambil meremas surat terakhir dari Siwon.

.

.

[Still in…]

# Frankfurt, Germany #

[Kyuhyun P.O.V]

.

.

Aku tertawa mendengar kisah-kisah yang dilontarkan oleh Kim. Ia benar-benar gadis pemberani. Aku salut dengan kegigihan dan kemandiriannya. Entah sudah berapa juta pujian yang aku lontarkan padanya. Ia memang mengagumkan.

"Oh, my god! I'm sorry! I must go, Kyu! Don't forget to call me later!", ucap Kim setelah melihat jam tangannya dengan panik. Ia berjalan keluar dari café ini dengan langkah panjangnya, sepertinya ia sedang sangat terburu-buru.

Ah, benar-benar pengalaman yang luar biasa. Belum lama berpetualang, aku sudah mendapatkan teman yang menarik. Ini toh rasanya kebebasan! Huaaah! Menyenangkan! Aku merentangkan kedua tanganku ke udara, berusaha menikmati udara Jerman yang menyejukkan.

Byuuur! Sebuah coffee late yang cukup panas jatuh dari nampan yang dipegang oleh waitress. Sayangnya kopi panas itu jatuh tepat di pakaianku, membuat dadaku panas.

"Ya! Appo!", jeritku kesakitan. Rasanya kulitku melepuh terkena panas. Aish! SIAL!

"Jeosonghamnida, ahjussi!", balas waitress itu, tak sadar bahwa ia telah menggunakan bahasa Korea-nya.

"Mwo? Ahjussi?", bisikku itu sarkastik. Apa dia buta? Wajah semuda dan setampan aku dipanggil Ahjussi? Apa?

"Maaf, tuan. Aku akan segera membersihkannya", ujar waitress itu sambil beberapa kali menundukkan tubuhnya. Ia berusaha merapikan cangkir yang terjatuh dan membersihkan sisa-sisa noda di bajuku. Aku sebenarnya tidak tega melihat wajah memelas yeoja ini, namun rasa panas ini membuatku jengah. Aku tidak tahan. Dia memang harus bertanggung jawab.

Aku berdebat panjang lebar dengan yeoja manis ini, hingga tiba-tiba tanganku ditarik olehnya. Ia tampak sangat panik dan terburu-buru, seakan sedang menghindar dari kejaran penjahat. Ada apa sebenarnya?

Yeoja ini masuk ke dalam café, masih tetap menggenggam pergelangan tanganku. Aku berusaha melepas genggaman tangan itu, tapi ia terlalu kuat. Argh! Aku mulai merasakan nyeri di tanganku. Aish! Yeoja ini benar-benar merepotkan.

"Siwonnie, ayo lari!", ajak waitress ini dengan wajah paniknya.

"Lari? Waeyo?", tanya seorang Namja tinggi, sepertinya teman baik yeoja ini.

Dua orang yeoja menghampiri kami bertiga. Wajah mereka sama paniknya. Hei, ada apa sebenarnya ini?

"Penjahat itu di luar café. Mereka mencari kita. Mereka sudah ada di sini. Ayo, kita harus lari secepatnya", paksa yeoja ini ketakutan. Ia menarik baju Namja tinggi itu berkali-kali, tanpa sedikit pun melepas genggaman tangannya padaku.

"Hei, kalian! Lepaskan aku", jeritku memohon, tapi tak ada yang mendengarkan seolah aku memang tidak terlihat bagi mereka.

"Pergilah, Sungmin! Bawa tasmu dan passport Siwon di dalamnya. Aku sudah menaruh beberapa Euro di sana. Cepat. Pergilah! Kami akan membantu mengalihkan perhatian mereka", perintah salah seorang yeoja sambil memberikan Namja tinggi itu sebuah tas selempang.

Tak mau berlama-lama, kami bertiga berlari melalui pintu belakang café. Kami menyusuri jalanan kota Heidelberg yang mulai ramai di senja hari. Aku benar-benar tidak tahu mereka berdua akan membawaku kemana. Untuk lepas saja, aku tak sanggup apalagi harus menanyakan pada mereka. Hah! Mungkin inilah salah satu petualangan baru yang Kim sebutkan tadi.

Aku sudah tidak kuat. Ini sudah sangat melelahkan bagiku. Entah sudah seberapa jauh kami berlari. Aku tidak mampu lagi. Dadaku sesak. Aku butuh istirahat.

"Haaah! Haaah! Haaah!". Aku berusaha mengatur napasku yang tersengal. "Bisakah kalian berhenti? Aku lelah!", pintaku, lebih tepatnya aku memohon kepada mereka.

Yeoja dan Namja itu menatapku dengan wajah kaget. Sepertinya mereka benar-benar tidak sadar telah membawaku ikut serta dalam pelarian mereka. Oh, God! Nasib banget deh!

"Hehehe! Cho Kyuhyun imnida", ujarku dengan senyum sepolos mungkin sambil menahan rasa lelah yang mendera tubuhku.

"MWO?", jerit yeoja dan Namja itu bersamaan. Yeah, aku ini memang tidak sengaja terbawa arus petualangan mereka. Semoga kami selamat sampai tujuan kami. Entah itu dimana.

.

.

L(^o^L)..:: T.B.C ::.. ('^.^)9

.

.


Gomawo untuk semua readers yg udah mau baca FFku ini.

Maaf karena FF ini msh belum layak untuk dibaca kalian...

hhe~ aku masih tahap belajar dan akan terus belajar.

PENGUMUMAN: FF ini tidak akan dilanjutkan di sini, karena sepertinya tidak banyak memiliki reader (aku menghitung dari jumlah komennya)

jadi aku akan BENAR2 PINDAH ke FB (LEE YEOMIN HA) atau WP (yuyalovesungmin . wordpress . com)

Silakan cari update FF di sana!

Jika membutuhkan bantuan, hub. aku aja di FB ya~

Terima Kasih banyak

Annyeong~