Shift Malam
.
Chapter 3
Hari ketiga bekerja, Anko tiba di kafe dengan raut gusar.
Ia segera memasuki dapur, melepas ransel dan menggantung sweater-nya terburu-buru. Ditaruhnya buku teks tebal yang dibawanya dengan bunyi keras ke meja, menghiraukan Itachi yang menatapnya dengan bingung. Pemuda itu melirik buku yang ditaruh gadis itu di meja sekilas.
'Theories of Developmental Psychology – Patricia Miller'.
Ia mengerjapkan matanya sekali, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke Anko yang tengah melepas ikatan rambutnya asal-asalan dengan ekspresi kesal.
"Anko-san…?"
Yang dipanggil hanya melirik sekilas, sebelum kemudian membetulkan ikatan rambutnya sekenanya. "Menyebalkan sekali hari ini," tukasnya tanpa menoleh, seolah tengah berbicara pada dirinya sendiri.
Itachi, yang saat itu tengah mengelap piring yang baru selesai dicuci, menatapnya dengan alis terangkat. "Ada masalah di kampus, Anko-san?"
Anko mendecakkan lidahnya, lalu tertawa sarkastis. "Tak ada yang mengenaliku sama sekali di kampus, Uchiha."
Itachi menghentikan kegiatannya sebentar.
"Maksudmu…?"
Anko menghela napas panjang, lalu mengangkat bahunya tak acuh. "Orang-orang yang kutemui di kelas… aku baru pertama kali melihatnya. Sepertinya mereka juniorku."
Pemuda berambut hitam itu memandangi rekan kerjanya heran, namun Anko segera melanjutkan keluhannya lagi.
"Aku juga tak bertemu dengan teman-teman seangkatanku sama sekali."
Itachi mengernyitkan keningnya. "Mungkin kau salah masuk kelas tadi?"
Anko menggeleng. "Tidak… tak mungkin," katanya serius. "Kelas yang aku masuki sesuai dengan mata kuliahnya, yang berbeda hanya… orang-orang yang ada disana."
Itachi melanjutkan kegiatan mengelap piringnya lagi. "Hm. Itu aneh, Anko-san."
Anko membuka kulkas, mencari-cari air dingin. Sejurus kemudian, ia mengangkat wajahnya tiba-tiba—dan menatap rekan kerjanya dengan sorot termenung.
"Oh… ya. Aku bertemu teman seangkatanku, Yugito. Tapi sewaktu kutanyai, ia bilang ia ke kampus hanya untuk mengurus surat rekomendasi untuk beasiswa S2… yang akan diambilnya…" nada suaranya memudar perlahan. Gadis itu mengeluarkan botol air, lalu menuang sebagian isinya ke gelas.
Itachi menghentikan kegiatannya lagi, kali ini dengan sorot heran di matanya.
"Yugito melihatku dengan bingung," Anko melanjutkan ceritanya, lalu mengernyitkan keningnya seraya memandangi langit-langit. "Ia bilang, 'Anko? Lama tidak melihatmu. Kukira kau sudah pindah jurusan waktu itu…'"
Malam itu, pelanggan yang datang ke kafe tidak banyak. Anko tidak tahu apakah harus kecewa atau senang karena hal itu.
Itachi, yang baru saja kembali lagi ke dapur setelah membawakan pesanan ke pelanggan, memberitahukan pesanan yang baru datang lagi padanya. Ia mengangguk bersemangat, dan mulai membuat minuman yang dipesan—sementara Itachi membuat makanannya. Setelah tiga hari bekerja di kafe itu, ia mulai hafal letak bahan-bahan untuk membuat minuman dan apa saja yang perlu dilakukan dengan baik—sehingga tingkat kesalahan bisa diminimalisir.
Rekan kerjanya sepertinya menyadari hal itu. Namun Anko berpura-pura tak melihat ketika Itachi memandanginya dengan pandangan hangat yang menyiratkan pujian.
Pemuda itu mungkin lupa berapa jumlah pesanan yang dikacaukan olehnya pada hari pertama ia bekerja waktu itu.
Anko, yang tengah menambahkan sirup ke punch yang dibuatnya, tersenyum dalam hati—memutuskan kalau ia menikmati memiliki seorang Uchiha Itachi sebagai rekan kerjanya.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas ketika kafe itu sepi sepenuhnya.
Anko, yang saat itu tengah mengolesi bibirnya dengan lipstik berwarna cokelat kemerahan tanpa menggunakan cermin, menoleh ke arah rekan kerjanya untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Ia mendapati Itachi tengah bersandar di wastafel, tangannya menggenggam sebuah ponsel lipat yang dibuka tutup berulang-ulang.
Anko memasukkan lipstiknya lagi ke ransel, dan memandangi pemuda itu dengan sorot ingin tahu.
"Kelihatannya lagi ada yang kau pikirkan."
Itachi segera tersadar dari lamunannya, lalu menatap gadis itu dengan mata hitam yang lelah.
"Tidak..."
Anko mengangkat alis.
Rekan kerjanya menurunkan ponsel yang sedang dipegangnya, lalu menghela napas panjang. "Aku tak tahu… Anko-san."
Gadis itu menegakkan posisi duduknya, dan tertawa samar. "Oh, ya?"
Itachi memandanginya dalam diam.
"Kalau begitu, biar kutebak," Anko menyandarkan punggungnya ke dinding, dan mengeluarkan suara menggumam ceria. "Hm… hmm…"
Pemuda berambut hitam itu mengangkat alis, namun tak mengatakan apapun.
"Kau pasti sedang memikirkan adikmu."
Nah. Tepat sasaran.
Anko memandangi rekan kerjanya yang seakan baru saja terkena tepukan keras di bahu secara tiba-tiba.
"Ah…" pemuda itu memalingkan wajahnya segera, namun respon yang diberikannya sudah cukup sebagai jawaban untuk Anko.
"Telepon saja kalau kau memang sebegitu kangennya," tukas gadis itu blak-blakan. Itachi, yang tampak terkejut, memandangi Anko dengan mata hitam yang melebar.
"Darimana… Anko-san tahu kalau aku menyimpan nomornya?"
Gadis itu hanya melirik sekilas ke arah langit-langit, lalu tertawa.
"Aku tak bilang kalau aku tahu kau punya nomornya," balasnya cuek seraya mengangkat bahu. "Nah, kalau kau punya nomornya, kenapa tidak telepon saja?"
Itachi hanya terdiam, memandangi layar ponselnya dengan sorot tak terbaca.
"Ia…" gumamnya serak, lalu melirik ke samping dengan enggan, "ia pasti tak akan menjawab kalau tahu aku yang meneleponnya."
Anko mengangkat alis.
"Kau yakin?"
Itachi mengangguk.
Gadis itu menyeringai lebar. "Ya sudah, aku saja yang bicara kalau begitu," tukasnya ringan.
Itachi mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya, memandangi gadis itu dengan sorot terkejut. "Eh? Tidak… tidak usah, Anko—"
.
.
Namun gadis itu sudah keburu merebut ponsel di tangannya dengan kecepatan seorang pencopet profesional.
Anko berlari ke sudut lain ruangan itu, matanya mendapati bahwa layar ponsel yang tak dikunci itu tengah menampakkan sebuah kontak yang terbuka, 'Sasuke' tertulis di bagian nama. Pas sekali. Pasti ini nomor adiknya.
Tanpa menghiraukan tatapan horor dari Itachi yang masih terpaku di sudut ruangan, ia menekan tombol dial.
Nada sambung terdengar.
"Halo?" dua detik kemudian, sebuah suara menyahut dari seberang.
"Halo, ini dengan Uchiha Sasuke? Kau mendapat salam dari ka—"
Namun Anko tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Itachi keburu merebut ponsel itu dari tangannya.
"Eh…?"
Pemuda itu segera menutup ponselnya tanpa mengatakan apapun, dan berjalan keluar dapur dengan langkah gusar.
Anko tidak mengejarnya.
Itachi baru masuk lagi ke dapur ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas.
Ia mendapati Anko sedang mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, lalu memasukkan benda yang dipegangnya lagi ke dalam begitu melihat dirinya.
"Ah, Uchiha," gumamnya seraya tersenyum dengan terburu-buru. "Maaf ya, untuk yang tadi."
Pemuda itu hanya menatapnya tanpa suara, sebelum kemudian menghela napas panjang. "Aku tidak marah, Anko-san."
Anko menaikkan alisnya dengan ekspresi skeptis, namun hanya mengangkat bahu dan tak mempermasalahkan hal itu lebih jauh.
Saat itu, Itachi menyadari kalau rekan kerjanya tampak begitu pucat. Selain itu, ia tampak seperti orang kurang tidur.
"Anko-san," ia menghampiri gadis itu, "kau mau minum kopi?"
Mata gadis itu berbinar samar, dan segera mengangguk. Ia segera membuka lemari untuk mengambil kopi instan dan krimer, lalu membuatkan kopi untukdua orang.
Diserahkannya secangkir pada gadis itu, yang diterima dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Uchiha," Anko berkata riang, lalu menyesap kopinya. Ia hanya membalasnya dengan anggukan kecil seraya tersenyum.
Mereka berdua duduk dalam keheningan yang menyenangkan setelah itu.
.
"Hei, Uchiha?" sepuluh menit kemudian, gadis itu memecah kesunyian—seraya menatapnya dengan sorot bertanya. Ia mengangkat wajahnya perlahan, dan balas menatap gadis itu.
"Ada apa, Anko-san?"
Gadis itu memandangi gelasnya, sebelum kemudian menghela napas tanpa suara.
"Kalau misalnya ada orang yang kau kenal ditangkap polisi, apa yang akan kau lakukan?"
Ia menaruh gelasnya, lalu terdiam selama beberapa detik. "Hm…" ia tercenung sebentar. "Aku akan pergi ke kantor polisi untuk memastikan kalau ia tak bersalah."
Anko tersenyum tipis, lalu menatap pemuda itu dengan sorot geli di matanya.
"Bagaimana kalau ia benar-benar bersalah?"
Ia mengangkat alisnya, tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. "Aku akan menanyakan padanya apa yang telah ia lakukan hingga menyebabkan polisi menangkapnya."
Anko terdiam sebentar.
"Anggap saja… ia telah melakukan tindak kriminal."
Ia mengernyitkan dahi sesaat, lalu menjawab dengan pasti. "Aku akan menanyakan apa tindak kriminal yang dilakukannya."
Anko tertawa pelan, sebelum kemudian menghirup kopinya tanpa suara—ekspresi wajahnya tak terlihat karena tertutupi gelas kopi.
"Bagaimana kalau jawaban yang diberikannya membuatmu takut, Uchiha?"
.
Itachi terdiam. Ada sesuatu di nada gadis itu—yang membuatnya lehernya terasa dingin begitu mendengarnya mengucapkan kalimat tadi.
.
.
Bersambung.
