19th

Chapter 5

By Yuya Matsumoto

"Travelling"

Inspirasi: K-movie, 19

Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others

Zio Panz as Franz Muller (Namja)

Slight! Nova Scotia as Scotia Kimberly (Yeoja)

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).

Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.

.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.

.

.

#In Train, on the way to somewhere#

[Author's POV]

.

.

"Jadi kamu melarikan diri dari rumah, Kyu?", tanya Sungmin masih tidak percaya dengan cerita yang baru saja dilontarkan oleh Kyu.

Kyuhyun mengangguk pelan. "Tepatnya memanfaatkan keadaan, Sungmin-ah", jawab Kyu polos dengan senyum lebar seakan tidak mempunyai salah apapun.

"Yeah, ceritamu tak berbeda denganku, Kyu. Hanya saja kau terlalu dimanja, sedangkan aku terlalu dikekang. Sebelas-duabelaslah", sanggah Siwon sambil menatap langit-langit kereta.

"Memang kisahmu seperti apa?", tanya Kyu antusias.

Sebuah kisah kembali terlantun dengan merdu dari bibir mereka. Kyuhyun, Sungmin dan Siwon saling membagi kisah dan gejolak hati mereka. Bagaikan saudara yang lama berpisah, mereka tak malu-malu mengungkapkan semua kisah manis atau pun buruk yang mereka alami. Kegiatan ini sedikit membuat beban mereka terbang terbawa angin. Setidaknya mereka jadi sadar bahwa hidup mereka tak lebih buruk dari orang lain. Selalu ada hal baik yang terjadi dalam kehidupan ini, tergantung dari sisi mana kita dapat mensyukurinya. Kekurangan dan kelemahan itu bisa tertutup begitu saja dengan rasa syukur yang luar biasa.

Sungmin duduk dengan gelisah, membuat Kyu dan Siwon menghentikan perbicangan mereka. Kedua namja itu menatap wajah cantik Sungmin dengan bingung. "Sungmin, waeyo?", tanya Siwon yang duduk tepat di sebelah Sungmin.

"A-ani… Aniyo, Siwon-ah!", jawab Sungmin terbata-bata. Ia masih duduk dengan gelisah. Ia menggerakan pinggangnya kesana-kemari, tak juga diam.

"Ya! Lee Sungmin, cepatlah ke toilet! Atau kamu akan ngompol!", bentak Kyuhyun yang sudah tidak tahan melihat tingkah Sungmin.

Sungmin tersenyum malu. Wajahnya memerah. Sebuah senyum tak berdosa tersungging di kedua pipi chubby yeoja itu. "Tapi aku takut, Kyu", jawab Sungmin lemah.

"Mau aku temani, Min?", ujar Siwon menawarkan bantuan.

Sungmin tersenyum riang. "Tidak, tidak! Biarkan dia pergi sendiri. Sungmin sudah tua, seharusnya dia berani. Tuh! Toiletnya di sana!", usir Kyuhyun, membuat senyuman manis itu sirna dari bibir Sungmin.

Sungmin menatap Siwon seakan membujuk namja tampan itu. "Mianhae, Min-ah. Sepertinya kamu memang harus pergi ke toilet sendiri", ucap Siwon sambil melirik ke arah Kyuhyun seakan berkata 'Kau lihat setan itu. Ia lebih menakutkan daripada iblis. Aku sendiri takut melawannya'. Sungmin hanya bisa pasrah saja karena memang aura tubuh Kyuhyun mengerikan sekali. Ia segera bergegas pergi ke toilet sebelum semuanya menjadi bencana bagi dirinya.

"Siwon, apakah kamu tahu isi tas itu?", tanya Kyuhyun penuh selidik. Matanya tak jemu melihat tas yang sekarang ada di pangkuan Siwon.

"Entahlah. Aku belum pernah membuka tas ini", jawab Siwon singkat. Ia nampak tak tertarik dengan pertanyaan Kyu. Siwon lebih senang melihat ke dinding-dinding stasiun kereta yang mereka lewati. Dinding tiap stasiun kereta di Jerman memiliki ciri khas dan sangat menarik untuk diperhatikan. Sayang sekali jika dilewatkan hanya untuk hal-hal tak penting seperti itu.

SREEET! Kyuhyun merebut tas Sungmin dari pangkuan Siwon. Tanpa menunggu waktu lama, ia mengeluarkan isi tas selempang itu. Sebuah dompet, dua buah passport dan sebuah surat dalam amplop. Rasa penasaran Kyuhyun membuatnya meneliti semua barang-barang itu. Dompet berisi beberapa lembar uang Euro. Passport milik Sungmin dan Siwon. Terakhir, ia membaca surat dalam amplop itu.

Siwon dan Sungmin, kami tahu pasti ada saatnya kalian harus pergi. Aku minta kalian pergi ke alamat ini. Berikan surat ini kepada pemilik rumah. Aku akan menjenguk kalian setelahnya. Jaga diri kalian baik-baik.

Hallo,Herr und FrauMüller.

How are you?Wir brauchen dringendIhre Hilfejetzt. Sie sind unsere Freunde. Wirbitten Sie um Hilfe, damit sie in Ihrer Wohnungbleiben können, während. Kontakt mit uns auf, nachdem Sie diesen Brieferhalten, damit wirdie Details deraktuellenSituation zu erklären.bitte helfen. Danke*

(Hi, Mr dan Mrs Muller. Apa kabar? Kami sangat membutuhkan bantuan Anda sekarang. Mereka adalah teman-teman kami. Kami meminta bantuan sehingga mereka dapat tinggal di rumah Anda sementara waktu. Hubungi kami setelah Anda mendapatkan surat ini, sehingga kami dapat menjelaskan rincian dari situasi saat ini. Kami mohon. Terima kasih)

Signed,

Angie and Hee Yeon

Siwon dan Kyuhyun terbelalak kaget setelah membaca surat itu.

"Kita bisa minta tolong kepada mereka. Setidaknya kita tidak perlu menjadi gelandangan di Jerman", ucap Kyuhyun penuh antusias.

"Tapi dimana stasiun Hamburg itu?", tanya Siwon bingung. Siwon bangkit dari duduknya, memutuskan untuk bertanya pada seorang penumpang.

"Pardon. Sir, Could you tell me where is Hamburg's station?", tanya Siwon dengan seorang pria tua yang duduk paling dekat dengannya. Gerbong kereta yang mereka tempati sepi, karena hari sudah malam dan jarang orang menggunakan kereta di waktu seperti ini.

"Hah? Hah?", tanya bapak tua itu sepertinya tidak mendengar pertanyaan dari Siwon.

"Where is Hamburg's station?", tanya Siwon lebih kencang lagi.

"What?". Rasanya Siwon ingin memukul kepalanya sendiri karena sedaritadi bapak tua itu tidak mendengar ucapannya.

"Where is Hamburg's Station?", tanya Siwon sekali lagi dengan penekanan di setiap katanya. Ia berkata cukup lantang di telinga bapak itu.

"Oh, Hamburg's station? Hmmm… Where it is?", tanya bapak tua itu kepada dirinya sendiri. Ia memandang keluar jendela kereta memastikan keberadaan mereka saat ini.

SREEET! TING! Sebuah suara terdengar di sepanjang gerbong kereta. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jerman. Sepertinya mereka tiba di sebuah stasiun kereta yang cukup besar.

"Ah! Here is. It is Hamburg's station!", jerit bapak tua itu memberitahu Siwon.

.

.

(T.T;)a ::: Sungmin P.O.V:::

.

"Ah, Kyuhyun menyebalkan. Ternyata dia menyeramkan sekali. Aku tidak tahu kalau namja kutu buku itu bisa bersikap menyebalkan seperti itu", gumamku pelan, saat melangkah dari toilet kereta di bagian belakang.

"Aku ini kan wanita. Seharusnya ia bersikap baik kepadaku. Aish! Dia memang menyebalkan. Kenapa aku harus bertemu dengan namja sepertinya?", gerutuku sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai kereta.

"HUAAAA!", jeritku kaget saat aku menabrak kaki seseorang hingga aku…

BRAAAAK! Terjatuh di pangkuan seorang namja tampan berwajah khas Eropa.

"Autsch! Du tust mir weh! Raus hier! (Aduh! Kau menyakitiku. Pergi dari sini!)", jerit namja itu sambil mendorong tubuhku dari atas tubuhnya.

BRUUUK! Aku terjatuh ke atas lantai kereta.

"Ya!". Aku tidak terima diperlakukan seperti ini oleh seorang namja asing. "Kenapa kamu seperti itu? Sakit tahu!", bentakku tak terima.

"Was er sagte? Seltsam! (Apa yang ia katakan? Dasar aneh!")", ucap namja itu dengan bahasa planetnya. Aku tidak mengerti apa yang ia katakan, tapi aku benar-benar kesal. Bukan membantuku untuk berdiri, ia hanya pergi dari hadapanku.

Aish! Menyebalkan!

"Ya! Sungmin-ah! Apa yang kau lakukan? Ayo, turun!", teriak Siwon dengan wajah paniknya. Ia menarik tanganku untuk segera mengikutinya. Hah? Ada apa ini?

"HAP! Syukurlah kita berhasil di detik terakhir", ujar Siwon saat kami baru saja keluar dari dalam kereta. Sedangkan kereta yang tadi kami tumpangi sudah bergegas ke stasiun berikutnya.

"Kenapa kita turun di sini?", tanyaku bingung sambil memperhatikan stasiun tua yang cukup besar ini.

"Nih!", ujar Kyuhyun sambil memberikan tas selempangku.

Siwon mengelus rambutku pelan. Hmm… Dia memang selalu baik kepadaku. Aku suka caranya memperhatikanku. Siwon-ah, saranghae! Mwo? Aku bilang apa tadi? Ani… Aniya!

"Waeyo, Sungmin-ah?", tanya Siwon yang masih berdiri di sampingku.

Aku menggeleng kepala pelan sambil tersenyum canggung pada namja tinggi itu.

"Angie dan Hee Yeon meminta kita untuk ke rumah salah seorang kerabatnya. Ia menuliskan alamat dan suratnya tadi di dalam tasmu. Untung saja Kyuhyun memaksa untuk menggeledah tasmu itu", jelas Siwon.

Aku mengerucutkan bibirku saat melihat wajah sok milik Kyuhyun karena ia dianggap sebagai pahlawan oleh Siwon. Cih! Aku tidak sudi! Seenaknya membuka tasku. Eh? Tapi memangnya ada apa di tasku ini ya?

Aku membuka satu persatu barang yang ada di dalam tas, sementara kami bertiga berjalan menyusuri kota ini. Surat berisikan alamat itu sudah ada di tangan Siwon dan Kyuhyun. Aku hanya sekedar mengekori mereka saja.

Eh, dompet? Passport? Kenapa semuanya ada di sini? Jangan-jangan namja itu? Ah, bagaimana kabarnya ya? Semoga dia baik-baik saja! Lindungilah ia, Tuhan!

.

.

#At Hamburg, Germany#

[Author's POV]

.

.

Hamburg adalah kota pelabuhan terbesar di Jerman. Banyak artis Jerman tinggal di sini. Kota ini merupakan kota berpenduduk terpadat kedua, setelah Berlin, dan salah satu kota tersibuk di dunia. Hamburg tidak terlihat sebagai kota metropolitan yang sibuk seperti Tokyo atau Jakarta, yang pongah dengan gedung-gedung tinggi menjulang langit. Bangunan tertinggi di Hamburg adalah menara televisi (230 meter). Penduduknya masih bisa menikmati matahari yang hanya sebentar singgah di setiap tahunnya, tidak harus terhalang oleh pencakar langit.

Malam ini udara di kota ini sangatlah dingin, walau pun ini bukanlah musim dingin. Sungmin, Siwon dan Kyuhyun berjalan kaki, membelah kota Hamburg yang megah, cantik namun tetap terlihat klasik itu. Mereka bertiga sudah berkali-kali bertanya kepada beberapa orang tentang alamat yang ada. Kaki mereka sudah sangat letih. Peluh pun beberapa kali menetes dari pelipis mereka.

"Ma'am, do you know where is this address?", tanya Kyuhyun pada seorang wanita paruh baya yang lewat di hadapan mereka.

"Yes. That building!", tunjuk wanita itu ke sebuah gedung berlantai empat yang terlihat mewah dan cantik, tepat di hadapan mereka.

Siwon dan Sungmin yang sedang beristirahat, langsung berdiri tegak. Mereka bertiga saling pandang, mengungkapkan rasa syukur melalui tatapan masing-masing. Ah, akhirnya mereka bisa menemukan alamat itu. Syukurlah!

Ting Tong! Bel apartement berdentang cukup keras di koridor itu. Mereka sudah menanyakan kepada petugas keamanan, jadi mereka yakin tidak salah tempat. Setelah menunggu agak lama, seorang pria paruh baya menyambut mereka di depan pintu. Wajahnya nampak mengantuk dengan piayama yang membalut tubuh tingginya. Sepertinya ketiga remaja ini sudah datang di waktu yang tidak tepat.

"Was willst du? Wem wollen Sie erfüllen? Franz schon schlafen (Ada apa? Kalian ingin bertemu dengan siapa? Franz sudah tidur!)", ucap pria itu sambil mengusap matanya yang lelah.

Ketiga remaja itu hanya bisa terbengong menatap pria di hadapan mereka. Sungguh mereka tidak mengerti apa yang diucapkannya.

"Pardon, sir. We are Angie and Hee Yeon's friend. They give it for you", ujar Siwon mengambil alih kebingungan mereka. Ia segera memberikan surat dari dua gadis di Heidelberg itu. Siwon sangat tidak ingin membuang waktunya percuma. Ia sudah terlalu lelah untuk menunggu di luar dalam keadaan kedinginan.

Pria itu membuka suratnya, mengumpulkan seluruh kesadarannya untuk membaca kata demi kata. "Please, come in!", ajaknya setelah membaca surat dari kerabatnya itu. Pria itu mempersilakan mereka duduk di sofa ruang tamu. Ia meminta istrinya untuk membuatkan minuman, sedangkan ia menelepon Angie dan Hee Yeon.

"Kamu yakin mereka mau membiarkan kita tidur di sini?", bisik Sungmin pada Siwon. Ia sangat terlihat gelisah dan cemas.

"Tenangkan dirimu, Min-ah! Jangan sampai tuan rumah melihat gelagat aneh kita. Lagipula kita tidak akan menginap untuk selamanya", balas Siwon sambil menahan paha Sungmin yang bergetar hebat.

"Sudah tenang aja!", desis Kyu di telinga Sungmin, membuat Sungmin merinding setengah mati. Sungmin memalingkan wajahnya ke arah Kyu yang duduk tepat di sebelahnya. Ia memicingkan matanya, membuat penyerangan balik kepada namja tampan itu. "Dasar anak kecil!", ledek Kyu sambil mengacak rambut Sungmin, yang kemudian disambut oleh cemberut dari bibir merah cherry itu.

"Angie have told me everything. So you can live here for a while. We only have one guest room, so could you sleep together there?", ucap pria itu, yang ternyata bernama Muller.

Sungmin baru saja akan memprotes perkataan sang tuan rumah, namun ditahan oleh Kyu. "Of course. Thank you so much. Sorry for disturbing you!", kata Kyuhyun sambil menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormatnya.

"It's okay. Dear, please let them go to guest room! Good night, everyone!", ucap pria itu, membiarkan istrinya yang mengantar mereka ke kamar tamu.

.

.

[DAY 2, HAMBURG]

.

.

"Good morning!", sapa Mr. Muller kepada seorang pria muda yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

Ruang makan itu sudah dipenuhi oleh tuan rumah, Siwon, Sungmin dan Kyuhyun. Mereka sudah bersiap untuk menyantap hidangan pagi itu, namun mereka sedang menunggu penghuni apartment itu seorang lagi, Franz Muller, anak dari pasangan Muller. Pagi ini Mr. Muller sudah banyak menceritakan mengenai keluarga dan anaknya. Ia adalah pria yang ramah, sama seperti istrinya, bahkan ketiga orang baru itu seakan merasa di rumah mereka sendiri. Keluarga ini sangat hangat dan penuh kekeluargaan.

Franz Muller adalah anak laki-laki seumuran Siwon, Sungmin dan Kyuhyun. Namja ini sangat tinggi, mungkin sekitar 180 sentimeter, atau setinggi Siwon. Kulitnya putih bersih, sama seperti kedua orang tuanya. Wajahnya tampan dengan garis wajah yang kentara. Rambutnya cokelat kemerahan, nampaknya beberapa kali dicat olehnya. Matanya bulat dan berwarna biru. Satu kata, tampan! Siapapun pasti akan sangat tertarik dengan namja ini, termasuk…

"Mwo? Kamu?"

"Was? Du?"

Sungmin dan Franz menjerit seketika mereka dapat melihat wajah mereka masing-masing. Keduanya memalingkan wajah, mengerutkan dahi. Aura peperangan tercetak jelas dari tubuh mereka. Keempat orang lainnya hanya bisa saling pandang kepada dua remaja itu. Mereka memutuskan untuk tidak membahas apapun di meja makan saat ini. Setidaknya mereka akan menunggu hingga acara makan pagi ini selesai. Pagi ini menu sarapan mereka adalah Schnitzel (daging yang dilapisi dengan tepung roti kemudian digoreng). Crunchy! Sangat enak dimakan di pagi hari begini. Bukan makanan yang terlalu 'berat', namun memiliki kadar energi yang sesuai untuk aktivitas seharian nanti.

Setelah sarapan, Sungmin membantu Mrs. Muller untuk membersihkan meja makan. Para namja berada di ruang tengah, berbincang-bincang. Mr. Muller meminta Franz untuk mengajak mereka bertiga berkeliling kota. Awalnya, Franz sangat keberatan karena ia tidak mau bersinggungan dengan Sungmin, namun akhirnya ia menyerah karena Mr. Muller terus memaksanya.

Apartment keluarga Muller terletak di kawasan elit kota Hamburg. Daerah ini terlihat sangat tertata rapi, dengan berbagai bunga yang indah. Bunga-bunga rosa sinensis (bunga kertas) merah, pink dan perpaduan keduanya dalam pot bentuk mangkuk mie besar di pinggr jalanan yg nyaman dan bersih. Salah satu bunga terkenal di Hamburg adalah Hydrangea. Bentuk bunga ini seperti mahkota. Jika dilihat dari jauh nampak seperti bunga kertas atau bunga anggrek, tergantung dari jenis dan warnanya.

Franz mengajak mereka bertiga keliling kota Hamburg. Mereka menaiki bus wisata yang bagian atasnya terbuka, sering disebut sebagai bus hop-on-hop-off. Bus ini biasanya memang digunakan untuk turis berkeliling kota. Udara sejuk di kota ini membuat setiap orang sangat menikmati perjalanan mereka.

"Franz, where is shopping centre? We need to buy few things", ujar Kyuhyun meminta Franz segera membawanya ke tempat belanja. Entah apa yang ada di pikiran namja jenius itu, sepertinya dia akan belanja banyak hal.

Alster Arkaden adalah salah satu tempat paling indah untuk wisata belanja di Hamburg. Pertokoan dengan pedestrian lebar terbentang dari Stasiun pusat atau Hauptbahnhof hingga tepi danau Alster. Mall, pertokoan jaringan, retail hingga counter-counter merk mahal tertata dipadu cafe dan restoran. Hauptbahnhof adalah stasiun pusat yang semalam mereka turun dari kereta, sebuah stasiun kereta besar yang tua.

Kyuhyun menarik Sungmin, Siwon dan Franz dari satu toko ke toko lain, membuat ketiga orang itu merasakan lelah tiada tara. Urusan berbelanja Kyuhyun masih ada alasannya. Ia meminta kedua temannya untuk membeli pakaian. Tidak mungkin mereka hanya menggunakan pakaian itu terus seharian atau bahkan bulanan, hingga petualangan ini berakhir. Koper Kyuhyun terbawa sampai Korea di bagasi pesawat. Ia hanya membawa tas ransel kecilnya yang berisi beberapa barang penting pribadi miliknya. Jadi mereka memang sangat membutuhkan pakaian saat ini.

Selain membeli baju, Kyuhyun juga membeli PSP, camera digital, mp3 player dan masih banyak hal. Semua bisa ia beli dengan credit card pemberian sang appa. Hmm… Sepertinya sifat pangeran dan anak mami masih melekat pada diri Kyuhyun. Setidaknya ini sedikit membuat nyaman mereka semua.

Setelah asyik berbelanja, keempat remaja itu kembali menjelajah kota Hamburg. Hari ini ada sebuah festival hamburger yang digelar di pusat kota itu. Jalan-jalan begitu ramai dan berbagai jenis Hamburger tersedia di sana. Franz mengajak mereka ke sebuah stand Hamburger yang katanya dari sebuah toko paling terkenal di kota itu.

Hamburger berasal dari kata Ham, namun sebenarnya nama itu berasal dari kota Hamburg, Jerman, tempat makanan ini berasal. Dari kota ini, banyak penduduknya yang berimigrasi ke Amerika dan menyebarkan pembuatan burger di sana. Hanya sebuah kebetulan bahwa kata "Ham" yang diambil dari bahasa Inggris berarti daging asap memiliki bunyi hampir serupa dengan Hamburger. Faktanya Hamburger tidak mengandung Ham, meskipun ada restoran yang menambahkan irisan Ham pada burger mereka sebagai penambah cita rasa.

"Mashita!", teriak Sungmin senang karena baru kali ini ia merasakan sebuah burger yang sangat lezat.

Sungmin selalu mencicipi hampir semua burger dari setiap stand di festival ini. Mulutnya sudah belepotan oleh saus dan berbagai bumbu burger. Franz tertawa terbahak-bahak melihat pola imut Sungmin. Tanpa mereka sadari, kecanggungan diantara mereka terhapus begitu saja. Bahkan Franz mencubit pipi Sungmin setelah ia membersihkan bibir Sungmin dengan tissue. Sungmin tersipu malu diperlakukan seperti itu oleh Franz. Siwon tersenyum melihat kedua orang itu, sedangkan Kyuhyun memalingkan wajahnya yang memerah.

"Berhenti bersifat kekanak-kanakkan, Min. Kau sangat memalukan", cibir Kyuhyun sebelum ia bergegas ke salah satu stand.

Sungmin hanya cemberut, menjulurkan lidahnya ke arah punggung Kyu yang menjauh. "Dia itu kenapa sih?", tanya Sungmin pada Siwon.

Siwon menghardikkan bahunya. "Entahlah. Mungkin mulai ada 'sesuatu' yang merasukinya"

Sungmin gemetar, mendengar ucapan Siwon. "Hiii… Seram!", balasnya sambil merengkuh kedua bahunya. Ia mendekatkan dirinya pada Siwon dan Franz, takut mengeluarkan aura kejahatan dari tubuh namja evil di depan sana.

Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan. Saat mereka sedang asyik memandang tatanan kota yang indah dari atas bus hop-on-hop-off, Siwon menarik Franz. Ia meminta Franz untuk mengajaknya ke sebuah tempat yang menarik perhatiannya itu.

Gereja St Michaelis adalah penanda wilayah Hamburg. "Michel", sebagaimana penduduk lokal suka menyebutnya, dibangun antara tahun 1648-1661 dan merupakan gereja paling terkenal di Jerman Utara. Gereja ini juga dilengkapi sebuah menara setinggi 132 meter. Pemandangan kota dan pelabuhan yang indah bisa terlihat dari menara itu.

Siwon memasuki gereja tua nan megah itu dengan pandangan takjub tak terkira. Gereja ini memang tidak semegah katedral milik katolik. Dari luar gereja ini nampak tua dan tak terawat, seakan diabaikan. Temboknya dari bata merah yang memang menjadi trademark kota Hamburg.

"Waaah! Cantik sekali!", decak kagum terlantun dari bibir Sungmin. "Hei, Kyu. Kau tidak kepanasan?", sindir Sungmin kepada Kyuhyun yang juga terlihat takjub pada bagian dalam gereja itu.

Siapa yang akan menduga, jika gereja tua itu memiliki interior klasik yang megah. Saat memasuki gereja itu, mereka disambut oleh nuansa putih-emas yang mendominasi. Atapnya menjulang tinggi dengan pillar yang kokoh. Kesan megah tampak jelas di gereja ini, terlebih lagi lukisan dan patung Yesus yang terpampang tinggi dengan warna emas. Siwon berjalan menuju mimbar itu, seakan hanya ada dirinya sendiri. Ia begitu khusyuk menghadap Yesus, memanjatkan berbagai doa yang sudah lama ia pendam.

Sungmin dan Franz memutuskan untuk duduk di salah satu bangku dekat mimbar. Sungmin tersenyum menatap Siwon yang terdiam dalam untaian doanya. Tak selang beberapa lama, seseorang ikut bersimpuh di samping Siwon. Sungmin terkejut, karena melihat seorang evil berubah menjadi malaikat. Ya, orang itu adalah Kyuhyun.

"Kalian berdoa apa sih? Sampai-sampai terdiam begitu lama. Terlebih kamu, Kyu. Kok bisa kamu bertaubat seperti itu?", tanya Sungmin dengan nada sengit, setelah mereka selesai dengan rutinitas agamis itu.

Kyuhyun memasang wajah datarnya. "Aku memang sering ke gereja kok", jawab Kyuhyun singkat, lalu melangkah pergi bersama Franz. Namja itu memilih untuk berbincang dengan Franz dibandingkan harus bergelut dengan Sungmin.

"Aku jarang sekali ke gereja. Rasanya rindu. Gereja ini begitu menawan bagiku. Aku belum pernah melihat gereja secantik ini. Aku ini tidak sebaik yang kamu pikirkan, Min. Jangan pernah menilai orang dari luarnya, ya", ucap Siwon tanpa menatap Sungmin sama sekali.

Sungmin hanya terbengong menanggapi kedua pernyataan dari namja-namja yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu. Ia mengangkat kedua tangannya, tanda pasrah. Akhirnya ia melangkahkan kakinya lebih cepat untuk mengejar ketiga namja tinggi yang mulai menghilang bersama bayangan kota.

Malam menjelang, mereka berempat pun sudah terlihat lelah. Franz mengajak ketiga remaja itu untuk berkeliling Reeperbahn. Franz menyatakan dirinya adalah penggemar The Beatles bersama ayahnya. Mereka pun berkunjung ke Beatles-Platz, sebuah café yang dibangun di persimpangan Reeperbahn dan Grosse Freiheit. Sebelum terkenal, grup band asal Inggris itu sering ngamen di beberapa klub yang ada di Reeperbahn.

"It's like John Lennon said, 'I might have been born in Liverpool, but I grew up in Hamburg'", ujar Franz sambil mengenang salah satu idolanya.

Drrt! Drrt! Ponsel Kyuhyun bergetar. Appa's calling. Kyuhyun bingung harus berbuat apa. Ia bergetar hebat, sulit memutuskan untuk mengangkat telepon atau tidak. Ia menatap ketiga temannya yang asyik mendengarkan live music.

"Yoboseyo, Appa", sapa Kyuhyun dengan suara pelan bergetar. Sekujur tubuhnya kaku. Keringat mengalir di pelipisnya. Ia sungguh ketakutan saat ini.

"YA! CHO KYUHYUN! Dimana kamu? Cepat pulang!", teriak sang appa di seberang telepon. Appa Kyu terdengar marah dan putus asa.

"Tapi appa, aku tidak mau mengurus perusahaanmu. Aku masih harus kuliah, appa. Masih lama bagiku untuk mengurus semua", ujar Kyuhyun cepat tanpa jeda sedikitpun. Ia mengatakan semua beban hatinya hanya dalam satu tarikan napas. Ini benar-benar membuat Kyu lega karena bisa mengutarakan pendapatnya.

"Kyuhyun, cepatlah pulang. Jangan buat eomma-mu stress begini. Appa tidak akan memintamu mengurus perusahaan sekarang. Kamu masih harus kuliah 4-5 tahun lagi, selanjutnya kita bicarakan di rumah", balas appa Kyu terdengar cemas.

"Tidak, appa. Aku tidak ingin pulang. Aku mau berlibur di sini. Aku ingin bebas. Biarkan aku bebas, appa!", teriak Kyuhyun mengakhiri sambungan telepon itu. Ia tidak mau mendengar satu patah kata dari sang appa.

"Waeyo, Kyu?", tanya Sungmin khawatir karena ia melihat napas Kyu memburu dan wajah Kyu terlihat pucat, terlebih lagi teriakan frustasi tadi.

"Tidak ada apa-apa", jawab Kyu singkat. Saat ini ia hanya ingin menenangkan dirinya.

Jalan yang paling terkenal di Hamburg adalah Reeperbahn, jalan hiburan legendaris kota sekaligus distrik Red Light. Distrik Red Light adalah sebuah istilah yang digunakan untuk sebuah wilayah industri seks, dimana seks merupakan hal yang legal. Di malam hari jalan ini akan sangat padat dan ramai dengan banyaknya bar dengan campuran elektrik, restoran, dan teater yang berdiri berdampingan dengan toko-toko seks dan museum erotis.

BRAAAAK! Tanpa sengaja Kyuhyun menabrak seorang yeoja cantik berwajah oriental dengan pakaian sexy. Yeoja itu terjatuh, membuat Kyuhyun membantunya berdiri.

"Are you okay?", tanya Kyuhyun khawatir.

"Yes. I am", jawab yeoja manis itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu bergegas meninggalkan Kyuhyun yang bingung.

"Yeoja aneh!", gumam Kyuhyun saat yeoja itu berlari meninggalkannya.

Sungmin, Siwon dan Franz menghampiri Kyuhyun yang baru mereka sadari tertinggal di belakang mereka.

"Gwenchana?", tanya Siwon. Kyuhyun hanya terdiam memandangi satu sisi jalan yang ramai. Ia masih menatap kepergian yeoja tadi yang telah menghilang dibalik ribuan orang.

"Ne, gwenchana!", jawab Kyuhyun. "Ayo pulang!", ajak Kyuhyun karena hari sudah sangat larut.

Mereka memutuskan untuk pulang setelah seharian berkeliling kota. Mereka mengunjungi pusat perbelanjaan di Alster Arkaden, berjalan-jalan di sekitar pelabuhan Hamburg dan pasar ikan, asyik menikmati ribuan bunga indah di Planten un Blomen, tak lupa juga menatap takjub Rathaus (kantor dewan kota Hamburg yang cantik) serta mengenal suasana malam di Reeperbahn. Walau tidak ada banyak hal yang bisa mereka lakukan di Reeperbahn—karena usia mereka yang tergolong muda—, mereka tetap menikmati kunjungan mereka itu. Hari sudah semakin larut. Mereka harus kembali ke Hafencity, tempat apartment Muller berada.

"Eh?", celetuk Sungmin cukup lantang, membuat ketiga namja itu berbalik menatapnya. "Ini apa? Milik siapa?", tanya Sungmin lebih kepada dirinya sendiri. Sungmin memberikan dompet itu kepada Franz.

"Park Jungsoo? Berlin? Hmm… I don't know", ucap Franz setelah melihat identitas yang ada di dalam dompet itu.

Mendengar sebuah nama Korea dari mulut Franz, Kyuhyun segera menarik dompet itu ke sisinya. Sebuah foto terpampang jelas di sana. Foto seorang yeoja manis, yang baru saja ditabraknya. Kyuhyun ingat wajah ketakutan itu. Entah apa yang ada di pikiran Kyuhyun, ia hanya ingin bertemu lagi dengan yeoja itu untuk mengembalikan dompet itu.

"Ada apa Kyu?", tanya Siwon yang aneh melihat mimik wajah Kyu.

"Kita harus mengembalikan dompet ini. Aku rasa ada sesuatu dengan yeoja ini. Barusan aku menabraknya", jelas Kyuhyun masih menimang-nimang dompet itu dalam genggamannya.

"We must return it to police. Don't make mess with any girl from here", ucap Franz memperingati. Ia sepertinya mengerti jalan pikiran Kyuhyun. Franz tidak ingin mereka terlibat suatu masalah.

"But… I don't care. I'll keep it!", paksa Kyuhyun tak peduli. Namja tampan itu menyimpan dompet itu ke dalam sakunya, lalu bergegas pulang ke apartment Muller.

'I hope everything will be fine for us', doa Franz dalam hati.

.

.

[Late Night]

#At Muller's Apartment#

[Kyuhyun ]

.

.

Aku, Sungmin dan Siwon sudah sampai di apartment keluarga Muller. Kami sedang membereskan semua barang-barang yang tadi kami beli. Kami tidak membeli banyak barang, hanya beberapa pakaian, alat mandi, parfum, dan beberapa barang elektronik untuk membantu perjalanan kami semakin menyenangkan. Sialnya, aku meninggalkan PSPku di koper, jadi aku harus membeli PSP baru. Camera digital untuk menambah kebutuhan kami berfoto, walau aku sudah membawa camera digital-ku sendiri. Aku membelikan sebuah tas ransel untuk dibawa oleh Siwon. Setidaknya kami harus membagi barang bawain di tas kami masing-masing.

Siwon dan Sungmin adalah orang yang menyenangkan dan tidak banyak mengeluh. Setidaknya itulah penilaianku selama satu hari ini. Aku harap kami bisa menikmati perjalanan lebih menyenangkan lagi. Amin.

"Kyu", panggil Siwon saat kami sudah akan tidur.

"Ne", jawabku singkat.

"Siapa yang menelepon tadi?", tanya Siwon, membuatku menelan ludah kecut. "Appa?", tanya Siwon sekali lagi.

Aku mengangguk pelan. "Ia memintaku untuk pulang", jawabku lesu.

"Pulanglah. Jangan membuat orangtuamu khawatir", ujar Siwon lagi membuatku semakin merasa bersalah.

"Tapi aku ingin bebas. Aku ingin merasakan kebebasan walau untuk sesaat, Siwon-ah!", bantahku.

"Tahukah kamu? Kamu sudah melakukan banyak kesalahan hanya dengan mengangkat telepon dan menggunakan credit card milikmu", ujar Siwon membuatku bingung.

.

FLASHBACK

.

"Satu hal yang perlu diingat oleh seorang pelarian. Jangan menggunakan credit card, telepon atau alat komunikasi lainnya. Semua itu bisa dilacak oleh pihak lain. Sekali menggunakan hal-hal itu, selesailah sudah seluruh petualangan kita", ujar Kim menjelaskan kepadaku.

Aku mengernyitkan keningku, menyesap coffee latte milikku. "Jadi apa yang harus dilakukan?", tanyaku penasaran.

"Mempersiapkan semua hal yang kamu butuhkan. Barang-barang pribadi seperti pakaian dan sebagainya. Oh ya! Uang! Selalu siapkan uang untuk keperluan dadakan. Selain itu jangan boros. Itu aja sih", jelas Kim sekali lagi. Yeoja ini memang memiliki sebuah rencana matang. Aku benar-benar kagum. Aku harus mengingat seorang Scotia Kimberly sebagai salah seorang teman baruku. Awesome!

.

FLASHBACK END

.

"Ah, iya! Ya ampun. Aku ceroboh banget!", teriakku saat menyadari kebodohanku. Aku menepuk jidatku. Aish!

"Ssst… Jangan berisik! Jangan mengganggu keluarga Muller, Kyu!", bisik Siwon sambil membekap bibirku. "Yah, kita nikmati saja perjalanan kita ini, Kyu. Mungkin ada petualangan seru. Ya, nggak?", lanjut Siwon, membangkitkan semangatku.

Aku mengangguk-angguk antusias. "Haaah~ Aku tak bisa membayangkan berapa banyak hal indah lagi yang akan kita temui!", ucapku sambil merebahkan tubuhku di atas ranjang.

Siwon ikut berbaring di sebelahku. Kami berdua asyik membayangkan berbagai tempat indah yang akan kami kunjungi. Membayangkan saja sudah membuatku penasaran, bagaimana jika aku benar-benar di sana?

"Hei, kalian sedang apa? Senang sekali", kata Sungmin yang baru selesai dari urusannya di kamar mandi.

Ia mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk. Mataku tak bisa berpaling dari sosok yeoja cerewet itu. Segar sekali melihatnya sudah mandi seperti itu. Apalagi air masih membasahi rambut, jatuh ke wajahnya yang manis, terus ke pipinya yang chubby, terus ke bibir M yang imut, lalu ke leher jenjangnya. Aish! Apa yang kamu pikirkan, Cho?

"Eh, Kyu! Kenapa kamu menatapku seperti itu? Ada yang salah?", tanya Sungmin sontak membuatku kembali ke alam sadarku.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Lidahku kelu hanya untuk sekedar mengucap sebuah kata.

"Hmm… bagaimana nasib dompet itu? Apa kamu akan mengembalikannya, Kyu?", tanya Sungmin sambil duduk di pinggir ranjang. Ia masih asyik mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Oh iya!", ujar Siwon, terbangun dari posisinya. "Kyu, kita tidak boleh menetap terlalu lama di suatu tempat. Bisa-bisa Appa kita dan preman itu menemukan keberadaan kita", lanjutnya seakan baru sadar dari posisi kami sebagai pelarian.

"Jadi maksudmu…", ucapku menggantung.

Aku, Sungmin dan Siwon saling bertatapan, seakan kami memiliki satu pemikiran yang sama.

"Besok kita ke Berlin! Mengembalikan dompet itu!", teriak kami bersama, tanpa sadar.

"Sssst…", bisik Sungmin memperingati suara kami yang menggelegar.

"Hahahahaha…". Kami tertawa bersama.

Sebuah petualangan baru akan dimulai. Selamat tinggal, Hamburg! Selamat datang, Berlin! Haaah… Kami harus istirahat, setidaknya kami pasti membutuhkan banyak energi untuk menjelajah ibukota itu. Semangat!

.

.

\(^0^)/ …:::TBC:::…\(^.^)/

.

.


Annyeong~ Yuya kembali.

Jeongmal Mianhae karena sebelumnya sudah memutuskan untuk memindahkan FF ini ke FB. Karena beberapa orang mengeluhkan kepergian Yuya dan sulitnya membuka atau mencari Notes di FB, maka Yuya masukin lagi FF ini di sini,,, semoga kalian berkenan...

Maaf jika banyak kesalahan di sana-sini~

Terima kasih atas perhatiannya~

Please, Leave comment!

Annyeong~