Shift Malam
.
Chapter 4
Hari ini hari kesebelas semenjak Anko bekerja di kafe itu.
Itachi membereskan stok bahan makanan yang ada di hari itu dan mengecek persediaan, lalu menutup tempat penyimpanan. Ia terdiam sejenak, memeriksa apa ada lagi tugas yang harus dikerjakan, dan ternyata semuanya sudah beres. Diliriknya jam yang ada di dinding.
Jam delapan. Anko belum datang juga.
Itachi duduk di dekat konter, mata hitamnya mengawasi pintu masuk kafe itu dengan sedikit tak sabar. Tak biasanya rekan kerjanya itu datang terlambat. Biasanya ia selalu tiba disini tepat waktu, kalaupun telat itu tak pernah lebih dari setengah jam—dan selalu dengan alasan yang jelas. Rasa waswas yang samar muncul perlahan di dadanya, entah kenapa. Anko biasanya mengabarinya lebih dulu kalau ia akan datang terlambat atau semacamnya lewat sms—mereka telah bertukar nomor ponsel di hari kedua gadis itu bekerja disini. Namun ketika ia mengecek ponselnya sepuluh detik yang lalu, tidak ada pesan yang masuk sama sekali.
Pemuda itu melirik jam sekali lagi—sebelum kemudian menghela napas tanpa suara dan kembali menunggu, berusaha menghiraukan perasaan khawatir yang muncul dalam hatinya.
Kafe itu bukanlah sebuah kafe yang besar. Kapasitas tempat duduk yang ada di dalamnya hanya bisa untuk memuat dua belas orang pengunjung, dan di jam-jam saat shift-nya berlangsung biasanya pengunjung yang datang tak seramai pada siang hari. Kafe itu hanya menyediakan minuman dan kue-kue kecil, tidak ada makanan berat di daftar menunya. Pengunjung yang datang ke kafe itu pasti bukan bertujuan untuk makan malam, melainkan untuk duduk-duduk mengobrol bersama teman atau sekadar bersantai saja.
Karena kapasitas pengunjung yang tidak banyak itulah, Itachi merasa tidak kewalahan hanya melayani pesanan sendirian saja. Ia bisa menangani pesanan yang datang dengan baik, dan tidak kerepotan karena Anko yang hingga saat ini belum datang juga.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh.
Itachi melirik jam sekali lagi, sebelum kemudian melanjutkan membilas piring yang sedang dicucinya. Ia mulai mengira jangan-jangan rekan kerjanya itu memang tidak masuk hari ini. Namun ketika ia mengecek ponselnya tadi, tidak ada juga pesan yang masuk. Ia merasa yakin kalau gadis itu pasti akan memberi kabar jika ia tidak bisa datang hari ini.
Itachi mematikan keran, lalu mengelap piring yang baru dicucinya tadi satu kesatu sebelum kemudian menaruhnya di rak. Suasana kafe itu terasa sepi—padahal ada pengunjung yang sedang duduk di depan saat ini, dan beberapa di antaranya sedang mengobrol. Sejurus kemudian, ia menyadari kalau ia mulai merasa akrab dengan kehadiran rekan kerjanya, dan suara ceria darinya yang selalu terdengar konstan memecah kesunyian di dapur itu.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
Pintu kafe terbuka mendadak dengan ayunan kasar—sebelum kemudian, seseorang yang mengenakan jaket dengan retsleting yang dikaitkan hampir menutup dagu dan hoodie yang menutupi sebagian wajahnya masuk ke dalam. Sejenak Itachi mengira kalau orang yang berpakaian tertutup rapat itu adalah seorang pengunjung, namun ternyata itu adalah rekan kerjanya.
Gadis itu masuk ke dapur dengan langkah sedikit terhuyung, lalu menutup pintunya kasar dan bersandar di dinding tanpa mengatakan apapun. Kepalanya masih tertutupi hoodie yang juga menutupi sebagian wajahnya, sehingga Itachi tidak bisa melihat ekspresi gadis itu dengan jelas.
"Anko-san…?"
Gadis itu tidak merespon. Itachi dapat mendengar napasnya yang terengah-engah, seakan ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat melelahkan.
Ia melihat keadaan di luar sebentar lewat konter, sebelum kemudian berpaling lagi ke rekan kerjanya. Gadis itu kini menundukkan wajahnya sedikit, tangan kanannya terangkat menutupi bagian bawah wajahnya—dan setelah menundukkan pandangannya sedikit, Itachi dapat melihat kalau gadis itu mengenakan masker.
Sejenak ia mengira kalau rekan kerjanya itu tidak akan merespon—namun tiga puluh detik kemudian, gadis itu mengangkat wajahnya perlahan, dan menurunkan maskernya.
"Hai, Uchiha," gumamnya santai, suaranya serak dan terdengar agak sengau. Tidak seperti… biasanya. "Aku terlambat lama sekali, ya?"
Itachi menatap gadis itu dengan mata hitam yang melebar. Tidak, bukan perubahan pada suaranya yang membuatnya terkejut—melainkan noda merah yang ada di sudut bibir dan dagu gadis itu.
Itu darah yang telah mengering.
Diturunkannya pandangannya ke masker yang menggantung di leher rekan kerjanya, dan mendapati bahwa ada warna merah kecokelatan yang menodai masker berwarna biru tua itu. seperti… bukan, ia yakin kalau itu adalah noda darah yang telah mengering. Itachi mengalihkan pandangannya ke wajah gadis itu lagi, hanya untuk menemukan ada garis kemerahan yang melintang di pipinya. Kulit di bagian itu terkelupas, menampilkan jaringan berwarna merah muda yang ada di bawahnya.
Itachi menahan napas. Itu kelihatan seperti luka goresan yang disebabkan oleh benda tajam.
"Anko-san…?" ia memanggil sekali lagi, dan terkejut sedikit dalam hati ketika gadis itu mengelap pipinya yang berdarah dengan punggung tangan, senyum melintas di bibir pucatnya yang terkelupas di beberapa bagian. Rekan kerjanya itu tampak tidak ambil pusing sama sekali pada kondisinya sekarang.
"Oh, jangan memasang wajah panik seperti itu," tawa renyah meluncur dari mulut rekan kerjanya itu. Itachi berjengit sedikit mendengar suara Anko yang serak dan sedikit berdeguk, berbeda sama sekali dengan suara ringannya yang biasa. Gadis itu menurunkan hoodie-nya, menampakkan rambut hitamnya yang acak-acakan dan ikatannya hampir lepas.
"Anko-san, apa yang terjadi padamu?" tanya Itachi, nada cemas terselip jelas dalam suaranya. Pemuda itu merogoh saku celana panjangnya terburu-buru, dan mengeluarkan selembar sapu tangan yang terlipat rapi lalu menyerahkannya ke rekan kerjanya.
Anko menggumamkan 'makasih' dengan samar, sebelum kemudian mengelap mulutnya dengan saputangan itu. "Eh, tidak apa-apa kalau saputanganmu berdarah, Uchiha?" tanya gadis itu sembari mengelap noda darah yang ada di dagunya.
Itachi menggeleng. "Tidak apa-apa, pakai saja," ia menatap gadis itu lekat-lekat. "Anko-san, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
Anko menurunkan saputangannya sebentar, sebelum sebelum kemudian terkekeh serak. "Terlalu perhatian seperti biasa, ya?" gumamnya sekenanya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Hanya kecelakaan sedikit, Uchiha. Bukan hal yang parah, kok."
Itachi menaikkan alisnya, pandangannya menyipit dengan kentara.
Anko melihat hal itu. "Ah, baiklah," ia menurunkan saputangannya, lalu menatap pemuda itu dengan mata cokelat gelap yang mendadak kehilangan sorot humor sama sekali. "Aku ketahuan. Ini akibatnya."
Itachi mengernyitkan keningnya, rona keterkejutan melintas jelas di matanya.
"Apa maksudmu, Anko-san?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan, sebelum kemudian melempar pandangannya ke jendela seraya tertawa pelan. "Aku pernah bilang padamu kalau ada seseorang yang ingin kubunuh, kan?"
Itachi mencengkeram ujung bajunya tanpa sadar.
"Kau…" Pemuda itu tampak seolah kehilangan kata-katanya. "Anko-san, apakah kau telah…"
Ia tak melanjutkan kalimatnya lagi.
Anko mengangkat bahu, lalu tersenyum—kilatan geli muncul di mata cokelat gelapnya, dan entah kenapa hal itu membuat Itachi berjengit tidak nyaman dalam hati. "Aku tidak bilang kalau aku habis membunuh orang, Uchiha," katanya seraya mengibaskan tangannya santai. "Fufu, kau panik sekali kelihatannya..."
Itachi melirik sebentar ke konter, mendapati kalau kafe itu tengah sepi sepenuhnya—lalu menghela napas panjang seraya mengusap dahinya. "Anko-san…" ia memalingkan pandanganya sejenak ke arah wastafel, "sebaiknya kita bersihkan dulu luka di pipimu." Pemuda itu berbalik dan mengambil sesuatu di ranselnya, lalu kembali dengan satu pak tisu di tangannya.
Anko menaikkan alisnya sedikit, sebelum kemudian tertawa dan menggeleng perlahan. "Kau ini memang orang baik, ya," komentarnya seraya berjalan ke wastafel, lalu menyalakan keran. Ia membasuh wajahnya dengan air begitu saja, lalu membasahi pipinya yang terluka dan mengusapnya pelan dengan punggung tangan.
Itachi menghampiri gadis itu, lalu menyerahkan tisu untuk mengeringkan wajahnya. "Maaf aku tidak punya obat merah, Anko-san," katanya. Anko hanya tertawa.
"Tidak apa-apa, Uchiha," ia mengambil tisu dari tangan pemuda itu. "Terima kasih."
Itachi mengangguk, lalu menghela napas pendek hampir tanpa suara. "Kau habis diserang seseorang, Anko-san?"
Anko melepas maskernya yang berdarah, lalu membasahinya dengan air dan memerasnya asal. "Tidak. Sebenarnya aku yang menyerang duluan, sih."
Itachi terdiam.
"Orang itu selalu mempunyai bodyguard, ia terlindungi dengan baik. Pengecut. Aku tidak takut pada bodyguard, Uchiha. Aku berhasil mendekat ke orang itu, bodyguard-nya kutipu dengan mudah. Tapi ketika aku sedang fokus sepenuhnya ke orang itu, ada bodyguard lain yang masuk dan yah—yasudah, hasilnya aku dan dia terpaksa berkelahi sedikit, deh."
Itachi menahan napas tanpa sadar, sebelum kemudian memandangi gadis itu dengan mata hitam yang melebar. "Anko-san… kau tidak apa-apa, kan?"
Anko terdiam,sebelum kemudian mencondongkan tubuhnya dan meninju sedikit pundak pemuda itu dengan gestur bersahabat. "Duh, jangan khawatir begitu," ia memandangi Itachi lekat-lekat dengan senyuman ringan di matanya. "Aku baik-baik saja, Uchiha."
Itachi menatapnya lama selama beberapa detik, sebelum kemudian menghela napas panjang hampir tanpa suara. "Jangan ke tempat orang itu lagi, Anko-san," katanya sungguh-sungguh.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, sebelum kemudian berbalik dan menghampiri kulkas untuk mencari sesuatu. "Kenapa tidak?" katanya samar, sebelum kemudian terkekeh kecil dan berjalan ke meja tempat rak piring dengan botol air dingin di tangannya.
Kenapa tidak?
.
Sejenak Itachi ingin sekali meraih tangan gadis itu dan mengatakan padanya 'jangan, jangan' seraya menggenggam tangannya erat—karena ia khawatir padanya,dan ia memiliki firasat bahwa rekan kerjanya itu pasti akan menantang bahaya lagi dalam waktu dekat ini.
.
Tapii sebagai gantinya, ia hanya diam dan memperhatikan gadis itu menuang air dingin ke dalam gelasnya, lalu meminumnya dengan santai. Ketika ia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi, ia mendapati kalau di lengan jaket gadis itu terdapat noda merah pada bagian lengan atasnya.
Itachi mengernyitkan keningnya tanpa mengatakan apapun, sebelum kemudian menghela napas panjang dalam hati.
.
.
Bersambung…
