19th
Chapter 6
By Yuya Matsumoto
"Berlin's tragedy"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
.
.
#At somewhere#
[Author's POV]
.
.
'Ah, aku membenci hidupku. Semua ini begitu menyiksa tubuh dan batinku.', keluh seorang yeoja paruh baya pada dirinya sendiri. Ia meneguk gelas wine sekali lagi. Entah sudah berapa botol wine yang ia habiskan malam ini. Wajahnya sudah memerah dan kesadarannya mulai memudar. Ia memang sudah mabuk. Baginya mabuk adalah kesenangan tersendiri, pelampiasan atas kekecewaannya terhadap hidupnya yang kacau.
PRAAAANG!
"Berhenti kataku! Kamu ini tidak pernah mendengarkan ucapanku sekali saja!", bentak seorang bartender paruh baya sambil menarik sebuah gelas dan botol wine dari sisi yeoja itu hingga botol wine yang masih terisi setengahnya itu hancur menghantam lantai.
"Hehehe.", tawa miris meluncur seketika dari bibir yeoja itu. Sesekali ia cegukan. Yeoja paruh baya, yang sering dipanggil Jungsoo ini masih tetap bersikeras untuk melanjutkan acara minum-minumnya malam ini. "Biarkan aku bahagia untuk sesaat Youngwoonie-ah! Aku ingin melupakan semua permasalahan hidupku. Aku muak. Benar-benar muak.", lanjutnya sambil membenamkan kepalanya di atas meja bartender. Sebenarnya ia sudah sangat lelah untuk meneguk satu tete wine lagi, namun ego menentang untuk mengaku kalah. Ia tidak ingin terlihat lemah, walau ia justru terlihat sangat menyedihkan saat ini.
Youngwoon, si bartender paruh baya, memberikan segelas air mineral untuk mengembalikan efek wine dari otak Jungsoo. Setelah menghabiskan air mineral itu, Jungsoo memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.
"Sudahlah, Woonie-ah. Hiks. Aku akan pulang. Hiks.", ujar Jungsoo sambil melangkah keluar bar itu dengan langkah gontai. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar suara cegukannya tak menarik perhatian banyak orang. Setidaknya ia tidak ingin semua orang tahu bahwa ia sedang mabuk berat.
Youngwoon memapah Jungsoo. "Biarkan aku mengantarmu ya?", tawar Youngwoon penuh perhatian. Laki-laki paruh baya ini sudah mengenal Jungsoo sejak lama, hampir sepuluh tahun tepatnya. Ia tidak ingin yeoja manis ini tersakiti karena ulahnya sendiri.
Jungsoo melepas pelukan Youngwoon dari bahunya. Ia tersenyum lemah kepada Youngwoon. "Tidak perlu repot-repot. Aku bisa pulang sendiri kok. Hiks. Lagipula rumahku tidak terlalu jauh.", tolak Jungsoo lembut. Ia mulai melangkahkan kakinya.
"Tapi…", sanggah Youngwoon tak terima dengan penolakan Jungsoo. Youngwoon menangkap tubuh Jungsoo yang hampir saja jatuh karena keseimbangannya tidak baik saat ini. Youngwoon tertegun ketika ia mendapatkan sebuah senyuman dari Jungsoo lagi. Ia tahu bahwa Jungsoo tidak ingin dibantu saat ini. Ia mengerti sekali jika Jungsoo ingin dibiarkan sendirian untuk menenangkan pikirannya. "Hati-hatilah di jalan.", ucap Youngwoon akhirnya.
"Kamsahamnida, Youngwoonie-ah!", balas Jungsoo senang.
.
.
(T_T') …::YuyaLoveSungmin::… ('X.X)
.
.
"Annyeong, eomma. Nanti Hana bawain oleh-oleh ya!", teriak seorang yeoja mungil berumur tujuh tahun itu dari kejauhan. Ia melambaikan tangannya kepada sang eomma yang ikut membalas senyuman itu.
"Hati-hati, Hana! Jadilah anak baik ya!", balas sang eomma. 'Oh Tuhan, lindungilah anakku. Amin.', batinnya berdoa. Ada rasa takut dan gelisah saat ia harus melepas anaknya pergi ke pulau Jeju untuk berlibur bersama teman sekolahnya. Ia cemas, namun demi melihat senyuman indah dari si mungil, ia membuang jauh kegelisahannya itu.
PLAAAAAK!
Sebuah tamparan mengenai wajah cantik ibu muda itu. Rasa nyeri telah menerpa saraf permukaan kulitnya. Ia memegang pipi yang sedikit membiru itu.
"Kenapa kamu membiarkan Hana pergi? Kamu membunuh Hana! Kamu pembunuh! Kamu membuat Hana mati di sana. Semua kesalahanmu, biadab!", maki sang suami sambil memberikan tamparan-tamparan ke wajah istrinya itu. Ia sudah peduli jika luka itu akan membekas dalam raga dan hati wanita itu.
Yeoja cantik itu meratapi nasibnya dan merutuki semua kesalahannya. Ia tenggelam dalam keputusasaan. Segala sakit telah kebas dari sensor sarafnya. Satu hal yang masih mampu ia rasakan, yaitu penyesalan dalam hatinya.
Sesosok yeoja kecil mendekati ibu muda itu. Wajahnya pias, terlihat tanpa kehidupan. Airmata mengalir dari pelupuk matanya. Ia mendekat ibu muda itu dengan perlahan, membiarkan isak tangisnya yang kian mengeras. Pakaiannya terlihat basah dan warna merah darah mendominasi seragam sekolahnya. Yeoja kecil itu terlihat sangat mengerikan sekaligus menyedihkan. Tak bisa terpungkiri wajahnya yang kesakitan dan luka di sekujur tubuhnya, menambah iba setiap orang yang memandangnya.
"Eomma.", panggil yeoja kecil itu kepada ibu muda yang sedang tertunduk, menahan sakit. "Eomma.", panggilnya lirih sekali lagi.
Merasa dipanggil, ibu muda itu mendongakkan kepalanya. Ia memandang sosok yeoja kecil di hadapannya. CKIIIT! Dadanya seakan dihunus pedang katana. Perih. Sakit. Sungguh menyiksa. Airmatanya tak mampu ia bendung tatkala yeoja kecil itu merengkuh tubuhnya dengan lembut.
"Jangan menangis, eomma. Hana baik-baik saja.", bisik yeoja kecil itu tepat di telinga sang ibu. Yeoja kecil itu melepas pelukannya, memandang wajah ibunya lekat-lekat. Jari-jemarinya menelusuri setiap aliran air yang membasahi pipi putih itu. Sebuah senyuman manis terukir pada kedua pipinya. "Hana sayang eomma."
Ibu muda itu memeluk anak kesayangannya dengan posesif, seakan tak ingin anak itu pergi dari dirinya lagi. "Hana. Hiks. Jangan tinggalkan eomma lagi. Hiks. Hiks. Jebal, chagiya.", mohon sang ibu, masih setia memeluk tubuh mungil di hadapannya.
"Jeosonghamnida, eommanim.", balas yeoja kecil itu dengan lirihan pelan, hampir tak terdengar oleh gendang telinga siapapun.
"Hana. Hiks. Hana. Hiks. Hiks. Hana. Chagiya. Hiks.", isak ibu muda itu semakin keras. Perlahan tapi pasti, sosok yeoja kecil itu kian memudar, menghilang dari pelukan erat sang ibu. "HANAAAAA!", teriak ibu muda itu, saat ia hanya memeluk udara kosong. Ia membuka matanya, meyakinkan bahwa anaknya masih ada di hadapannya. Nihil. Hana telah menghilang.
"PARK HANAAAA!"
"bist du in Ordnung? (Apakah anda baik-baik saja?)", tanya seseorang yang duduk tak jauh dari Jungsoo. Ia menggoyangkan tubuh Jungsoo berkali-kali, berusaha membangunkan yeoja yang sedang bermimpi buruk itu.
"Hah?", ucap Jungsoo seketika ia membuka matanya. Nafasnya memburu. Ia melihat sekelilingnya yang sedang memberikan seluruh perhatian mereka kepada dirinya. "I am okay.", ujarnya memberitahu semua orang di kereta malam itu. Seketika seluruh perhatian itu telah kembali kepada pemiliknya masing-masing. Jungsoo menghela napasnya. Ia bersyukur itu hanyalah mimpi buruknya. "Hana.", lirihnya pelan sebelum airmatanya kembali membasahi pipi tirusnya.
.
.
[DAY 3, HAMBURG]
#Muller's Apartment#
~MORNING~
.
.
"Are you sure want to go now?", tanya Mr. Muller kepada tiga orang remaja di hadapannya.
Kyuhyun mengangguk mantap. "Yes, sir. We can't stay in same place for long times. Beside of it, we need to return this wallet.", jelas Kyuhyun sambil merapikan piring-piring bekas mereka makan.
"But, what should I say to Angie?", tanya Mr. Muller merasa tidak enak jika harus membiarkan ketiga tamunya pergi begitu saja. Setidaknya ia harus bertanggungjawab kepada Angie, jika yeoja manis itu menanyakan keadaan temannya.
"We are so sorry, Mister. We must do it. Thank you for everything. You give us a lot.", ujar Kyuhyun sambil menunduk memberi hormat.
Mr. Muller menghela napas panjang. Ia sudah tak tahu harus berbuat apa. "Okay. Be save. Take care yourself, guys. If you need something, just tell us, we will help you", kata Mr. Muller.
Namja paruh baya itu memeluk ketiga remaja itu satu per satu. Hanya dalam waktu semalam, ia sudah mampu menyayangi ketiganya seperti menyayangi Franz, anaknya. Setiap pertemuan pasti berakhir dengan perpisahan. Mau ataupun tidak, itulah yang sudah digariskan Tuhan pada setiap kehidupan. Yang dapat kita lakukan adalah memberikan kesan terbaik pada setiap pertemuan dan memandang ke depan pada setiap perpisahan. Ketiga keluarga Muller itu melepas ketiga tamunya dengan doa di setiap hati mereka. 'Lindungilah ketiga remaja ini, Tuhan! Berilah mereka petunjuk agar hidup mereka penuh dengan makna.'
"Jadi setelah ini kita mau kemana?", tanya Sungmin dengan polosnya. Ia membetulkan letak tas ranselnya dan tas selempang mungil miliknya. Sebelumnya Kyuhyun memutuskan untuk membelikan sebuah tas ransel untuk Sungmin, agar ia tidak kesulitan membawa beberapa barang.
Siwon tersenyum mendengar ucapan Sungmin. Ia mengacak rambut Sungmin dengan lembut. "Ikuti saja kami. Jangan sampai tertinggal ya.", ujar Siwon sambil menunjukkan kedua lesung pipinya. Sungmin membalas senyum Siwon dengan senyum paling menggemaskan yang ia miliki.
"Cih!", umpat Kyuhyun kesal saat melihat kedua temannya itu saling berpegangan tangan. Bahkan Sungmin mengapit lengan Siwon dengan mesra. 'Apa-apaan mereka itu?', batinnya kesal.
Siwon dan Sungmin duduk di sebuah café dekat stasiun kereta. Mereka sedang mengecek semua kebutuhan mereka dengan teliti. Ini akan menjadi pelarian serius. Mereka harus mempersiapkannya dengan baik. Jangan sampai kesalahan sebelumnya terulang.
"Aku sudah mengambil semua uang yang ada di tabunganku dan uang dari kartu kredit pemberian Appa. Aku harap uang ini cukup untuk kita bertiga.", jelas Kyuhyun sesaat kembalinya dari atm terdekat. Ia memberikan semua uang itu kepada Sungmin. "Aku rasa kamu bisa mengatur pengeluaran kita dengan baik. Kamu kan wanita."
Siwon mengambil uang dari genggaman tangan Sungmin. Wajahnya menunjukkan ketidaksetujuannya. Ia segera menghitung uang itu. "Mwo? Seratus ribu euro?", kaget Siwon, masih dengan suara pelan. Ia bukan orang bodoh yang akan membahayakan keselamatan mereka dengan meneriakkan uang sebanyak itu di hadapan semua orang.
"Ne, waeyo?", tanya Kyuhyun ringan sambil menyeruput minumannya.
Sungmin hanya memiringkan kepalanya. Ia tidak mengerti dengan ekspresi kedua orang di hadapannya. 'Memangnya berapa sih seratus ribu euro itu?', tanya Sungmin pada dirinya sendiri.
Wajar jika Siwon kaget melihat uang yang begitu banyak dalam genggamannya itu. Seratus ribu euro setara dengan 145.300.000 won atau setara dengan rupiah. Itu bukanlah uang kecil yang bisa dibawa-bawa dengan bebas. Kepala Siwon mendadak berat. Ia merasa sangat pusing. Ia bingung bagaimana harus menyimpan uang sebanyak itu.
'Aish! Anak ini memang sangat beruntung', umpat Siwon dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat wajah santai Kyuhyun. Entahlah namja dihadapannya mengerti atau tidak arti seratus ribu euro ini. Siwon menghela napas, memutuskan untuk berhenti memikirkan tindakan dan ekspresi Kyuhyun. "Min-ah, tolong belikan kami satu kotak amplop dan peralatan tulis ya!", perintah Siwon kepada Sungmin yang asyik melahap sandwich miliknya.
Tanpa bertanya apapun, Sungmin bergegas melaksanakan permintaan Siwon. Ia membelikan semua hal yang dibutuhkan Siwon tanpa harus membuang waktu lama. Siwon segera melakukan tugasnya. Tidak ada ruginya kuliah di jurusan bisnis, setidaknya Siwon menjadi ahli mengatur keuangan.
"Baiklah. Kita memiliki seratus ribu euro yang telah aku bagi menjadi tiga. Masing-masing dari kita membawa 33.000 euro. Aku juga telah membagi uang itu menjadi uang kebutuhan dan uang dadakan. Uang dadakan terdiri dari beberapa amplop yang masing-masing menyimpan 3.250 euro. Jadi setiap orang memiliki uang kebutuhan sebesar 20.000 euro. Sungmin menggunakan uang kebutuhan untuk membeli makanan. Uang kebutuhanku untuk membeli barang-barang keperluan seperti pakaian atau pun alat mandi dan lainnya. Sedangkan kamu, Kyu, gunakan uang itu untuk menyewa penginapan. Uang seribu euro aku berikan kepada Sungmin agar ia bisa mengaturnya lebih baik lagi.", jelas Siwon panjang lebar. "Apakah kalian mengerti?", tanya Siwon sekali lagi.
"Aku mengerti. Terima kasih, Siwon-ah.", jawab Sungmin. Ia sudah terbiasa mengatur keuangan seperti ini di rumah. Sungmin segera meletakkan amplop uang dadakan di beberapa tempat berbeda.
"Sudahlah. Penjelasanmu itu terlalu memusingkan.", ucap Kyuhyun masih asyik menatap PSPnya. Ia tidak menyentuh amplop yang sudah diberikan oleh Siwon.
PLAAAAK! Siwon memukul kepala Kyuhyun dengan sangat keras. Kyuhyun melemparkan death glare miliknya, namun keberaniannya ciut saat melihat wajah Siwon yang jauh mengerikan dibandingkannya. Kyuhyun tak pernah menyangka jika Siwon bisa setegas ini.
"Simpan di tempat yang aman dan berbeda. Lalu gunakan buku ini untuk mencatat semua pengeluaranmu. Aku ingin semuanya jelas. Awas kalau sampai kamu bertindak gegabah! Kamu akan merasakan pukulan yang lebih keras dariku", ancam Siwon sungguh-sungguh.
Kyuhyun menelan lidahnya kecut. Ia mengangguk takut-takut, segera melakukan semua perintah Siwon. Sungmin hanya bisa membelalakan matanya. Bulu kuduknya merinding seketika. 'Inikah sosok Siwon sebenarnya?', batin Sungmin bertanya-tanya.
Siwon, Sungmin dan Kyuhyun segera bergegas menuju kereta yang akan membawa mereka ke Berlin pagi ini. Kyuhyun sudah meletakkan dompet yang akan ia kembalikan di tempat yang aman dan mudah dijangkau. Entahlah apa penyebab namja tampan itu sangat gigih ingin mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya. Hanya saja Kyuhyun merasa yeoja itu penuh misteri dan Kyu sangat menyukai tantangan. Let's see what will happen!
Sepanjang perjalanan dari Hamburg menuju Berlin, Siwon sibuk menulis semua keuangan mereka. Sungmin tertidur di bahu Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun sendiri berusaha mengatur detak jantungnya yang tak beraturan. Kyu ingin sekali menyingkirkan kepala Sungmin dari bahunya, namun ia tak ingin mengganggu tidur yeoja manis itu. Tanpa Kyuhyun sadari, Siwon melirik mereka berdua, lalu tersenyum kecil melihat keakraban mereka.
.
.
v(^o^)…::YuyaLoveSungmin::…(^.^)a
.
.
"Yoochun-ah, STOP!", teriak seorang yeoja cantik dengan balutan blazer yang pas dengan tubuhnya. Suara melengkingnya membuat semua orang sontak memberikan hormat kepadanya. Ia tidak mempedulikan orang lain. Ia hanya ingin mengejar seorang namja yang sudah berjalan cepat meninggalkannya. "Chunnie-ah! Tunggu! Chunnie! Listening me, please.", jeritnya sekali lagi dengan suara melengking bak lumba-lumba itu. Kakinya sudah lelah melangkah, terlebih ia memakai high heels duabelas senti.
"ARGH!", teriak yeoja cantikku itu saat kakinya keseleo. Ia terjatuh di atas lantai marmer hotel mewah itu. Kakinya terasa sangat sakit dan membengkak. Matanya memandang sedih kepada sosok punggung namja yang telah menghilang di antara keramaian kota itu. "Yoochun-ah, saranghaeyo!", lirih yeoja cantik itu.
Laki-laki bernama Yoochun itu berjalan menembus keramaian kota. Tampangnya berantakan. Urat-urat wajahnya menegang. Sepertinya namja itu sedang dibawah kendali emosinya. Ia ingin sekali sampai di rumah, melampiaskan semua perasaannya tanpa sisa.
BRAAAAK! Pintu rumah sederhana itu terbuka dengan keras. Yoochun tidak peduli jika ia akan merusakkan pintu itu untuk kesekian kali. Indra penciumannya menerima bau sedap yang terkuar dari arah dapur. Seseorang sedang memasak di sana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya tatkala ia menemukan satu sosok yang ia inginkan saat ini.
"Aaah!", lenguh yeoja manis yang berada dalam dekapan Yoochun saat ini. Ia tersentak kaget saat sebuah tangan meremas dadanya dengan kasar. Yeoja itu menoleh, menatap pelaku utama pagi itu. Menemukan sosok suaminya di belakang tubuhnya, membuat yeoja manis itu menghela napas panjang. Ia melanjutkan acara memasaknya yang tertunda. Jungsoo menggigit bibir bawahnya, menahan desahan miliknya.
Yoochun menyeringai semakin lebar. Ia merasa dirinya mendapat lampu hijau dari sang istri, Park Jungsoo. Ia memanfaatkan tangan kirinya untuk mencari bagian paling favoritnya. Yoochun menyelipkan tangan kirinya di balik celana dalam milik Jungsoo yang hanya tertutup apron. Tangan kanannya tidak tinggal diam, masih asyik meremas dan menarik putting payudara Jungsoo. Yoochun meletakkan kepalanya di bahu Jungsoo, menyesap aroma tubuh Jungsoo yang menaikkan libidonya.
"Aaah… Ah… Ah… Hmm…", gumamnya pelan saat kedua daerah sensitifnya disentuh kasar oleh suaminya sendiri. Jungsoo memiringkan lehernya ke kanan, memberikan ruang untuk Yoochun menyesap leher jenjangnya. "Hngh… Hm… Aaah! Yooh-chun… Mm… Hen-tikhaaan… Aaah!", desah Jungsoo tak tertahan lagi. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan serangan demi serangan dari suaminya di seluruh tubuh tersensitifnya.
Yoochun membalikkan tubuh Jungsoo. Ia melirik sekilas ke atas penggorengan. Ia tidak peduli sarapannya pagi ini gosong, karena ia memiliki sarapan yang lebih nikmat. Yoochuun mematikan kompor di belakang tubuh Jungsoo yang sudah basah itu.
"Baguslah. Kamu sudah mandi. Aku menyukai aromamu hari ini.", bisik Yoochun dengan sedikit mendesah sambil menjilat telinga Jungsoo. Park Jungsoo melenguh panjang. Ia benar-benar lemas.
"HUP!". Yoochun menggendong Jungsoo ala bridal style. Ia membawa Jungsoo ke dalam kamar mereka berdua. BRAAAK! Yoochun melempar tubuh Jungsoo dengan keras ke atas ranjang, tanpa mempedulikan apakah wanita itu merasa kesakitan atau tidak. Satu hal yang pasti baginya saat ini adalah melampiaskan semua amarahnya kepada sosok yeoja manis di bawahnya itu.
"Bersiap-siaplah menjadi tawananku hari ini, Park Jungsoo. Park Yoochun tidak akan melepaskanmu sedetik pun sebelum amarah ini menguap. Hehe. Aku memiliki trik baru untukmu, chagiya. So enjoy our game.", ucap Yoochun dengan suara datar dan berat. Matanya menyipit. Bibirnya menyeringai. Aura setan terkuar dari setiap sela tubuhnya.
Jungsoo bergetar di bawah Yoochun. Ia menelan ludah kecut, tahu secara pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. 'Selamatkan aku dari iblis ini, Tuhan', batin Jungsoo berdoa. Ia memejamkan matanya, memasrahkan tubuhnya untuk seseorang yang pernah menahan hatinya beberapa tahun lalu.
.
.
[DAY 3, BERLIN]
WonKyuMin's side
.
.
"Aaaah! Akhirnya sampai juga di Berlin.", ucap Kyuhyun penuh syukur. Ia memijit bahu kirinya yang terasa kebas, karena digunakan oleh Sungmin selama hampir dua jam itu. CTAAAK! Kyuhyun menyentil kening Sungmin. "Besok-besok carilah tempat lain untuk bersandar. Jangan menyusahkanku seperti itu."
"Eh?", tanya Sungmin bingung. "Mwo? Maafkan aku Kyuhyun-ah! Maaf. Maaf.", ujar Sungmin saat menyadari kesalahannya. Sungmin menundukkan kepalanya berkali-kali berharap Kyuhyun memaafkannya.
"Sudahlah. Sudah, tak perlu dipermasalahkan lagi. Ayo kita berjalan-jalan. Setidaknya kita harus menemukan pemilik dompet itu sebelum menjelajahi kota ini.", ucap Siwon bijak.
"Cih! Sok bijak sekali! Lebih baik kita berkeliling dulu, sekalian mencari tahu. Sekali lempar, dua burung kena sasaran.", bantah Kyuhyun, tak setuju dengan pendapat Siwon.
"YA! Tapi lebih nyaman jika kita selesai mencari wanita itu dulu, baru berjalan-jalan.", bentak Siwon tak mau kalah.
Siwon dan Kyuhyun mulai melemparkan tatapan mematikan masing-masing. Aura mencekam pun terasa di sekitar mereka. Sungmin merinding sendiri melihat perkelahian mereka berdua.
"Berhenti! Tolong berhentilah!", teriak Sungmin, berusaha mengakhiri perdebatan keduanya. Namun Sungmin kalah tinggi sehingga keduanya tak juga berhenti. "YAAAA! Jika kalian tidak berhenti, aku PERGI!"
Sungmin melangkah pergi meninggalkan kedua namja kekanak-kanakkan itu. Ia menghentak-hentakkan kakinya, mengerucutkan bibirnya, mengekspresikan kekesalannya. Siwon dan Kyuhyun menyadari kepergian Sungmin, segera mengejar yeoja manis itu yang sudah mulai menjauh dari hadapan mereka.
"YA! LEE SUNGMIN, TUNGGU!", teriak mereka bersamaan.
Mereka berjalan menuju Kaiser Wilhelm Memorial Church yang terletak hanya satu blok dari stasiun. Menara gereja yang rusak karena bom yang dijatuhkan pada Perang Dunia II sengaja dipertahankan dalam bentuk aslinya sebagai monumen peringatan. Empat bangunan yang merupakan gereja baru berdiri mengelilingi puing menara tersebut. Suasana yang sunyi di pagi hari semakin menambah kesan kelam dari puing tersebut. Mereka menyusuri sepenggal jalan Kurfürstendamm atau Ku'damm yang dipenuhi oleh butik, hotel dan restoran tetapi karena masih pagi belum terlihat banyak aktivitas.
Dengan menggunakan U-Bahn, mereka menuju Sophie-Charlotte-Platz kemudian melanjutkan jalan kaki menuju Charlottenburg Palace. Istana yang bergaya Baroque tersebut berdiri dengan megah.
"Aduh! Aku mau pipis.", celetuk Siwon tiba-tiba. Ia memegangi bagian bawah ter-private miliknya. Sepertinya Siwon tidak bisa menahan rasa ingin pipisnya.
"Minta izin penjaga aja.", usul Sungmin sambil menunjuk penjaga istana.
PLAAAK! "Tidak mungkin kan pipis di istana.", ketus Kyuhyun. Sungmin mengerucutkan bibirnya, menahan sakit di kepalanya.
Siwon bergerak cemas. Ia mondar-mandir mencari tempat yang sesuai untuk mengeluarkan pembuangannya itu. Siwon melihat sekeliling komplek yang luas dan tidak menemukan tanda-tanda toilet umum. Yang terlihat hanya pohon-pohon rindang di halaman istana. Timbul ide nekad dalam hati Siwon.
"Siwon-ah! Mau kemana?", teriak Sungmin memanggil Siwon yang tiba-tiba pergi dari hadapan mereka.
Kyuhyun membekap mulut Sungmin. "Ssst… Diam saja. Kita tunggu dia di sini.", bisik Kyuhyun sambil menarik Sungmin ke bangku taman terdekat.
Siwon berpikir pohon-pohon yang berbaris rapi tersebut cukup besat untuk menutupi badan Siwon dari mata penjaga. Siwon pun bergegas menuju taman dengan pohon-pohon tersebut. Setelah cukup jauh dari gerbang istana dan yakin tidak akan terlihat, Siwon melaksanakan 'panggilan alam' di salah satu pohon besar.
"Aaaah! Legaaaa!", syukur Siwon saat semua hasratnya telah terpenuhi. Ia menoleh ke kanan-kiri, berharap tak ada yang memergoki dirinya mengotori taman istana dengan air seninya.
"Ah gila kamu, Won!", jerit Kyuhyun was-was.
Siwon hanya menyengir lebar. Sungmin menatap jijik ke arah Siwon. "Nih! Tissue basah! Iiih~ Wonnie jorok!", keluh Sungmin sambil menjauh dari Siwon.
'Wonnie?', batin Kyuhyun merasa terusik dengan panggilan sayang Sungmin untuk Siwon.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis ke Tiergarten, taman kota yang besar. Di salah satu halte mereka turun dan masuk ke dalam taman tersebut. Betul-betul taman yang luar biasa. Puas melihat tempat tersebut mereka melanjutkan perjalanan ke Kulturforum kemudian beristirahat di Postdamer Platz. Saat itu hari sudah siang. Mereka membuka bekal roti yang mereka beli di stasiun untuk mengisi perut.
"Nyam… Nyam… Nyam… Uenaaak!", kata Sungmin masih mengunyah roti miliknya.
Siwon dan Kyuhyun menggelengkan kepala pelan, melihat tingkah Sungmin yang hobby makan itu.
PLUUUK! Sesuatu terjatuh di atas roti Sungmin. "Buahahahahaha!", tawa Siwon dan Kyuhyun membahana. Mereka terlihat puas melihat penderitaan Sungmin, karena roti kesayangannya itu mendapat selai tambahan dari tai burung.
"Huaaaaa… Jahat sekali! Rotiku kan masih banyak!", rengek Sungmin sedih. Ia tidak bisa memakan roti miliknya yang sudah kotor itu.
"Nih!", tawar Siwon dan Kyuhyun bersamaan. Mereka berdua langsung saling pandang, karena tak menyangka akan sama-sama menawarkan roti mereka untuk Sungmin.
"GOMAWO!", jerit Sungmin bahagia. Tanpa malu-malu ia melahap kedua roti itu. Haha…. Dasar Lee Sungmin!
Mereka melihat beberapa bus wisata yang lalu lalang termasuk beberapa bus wisata yang menawarkan layanan hop-on hop-off. Mengingat masih lumayan banyak tempat yang ingin mereka lihat pada hari ini yang terletak berjauhan, mereka akhirnya memutuskan untuk membeli tiket bus hop-on hop-off.
Tempat berhenti pertama yang mereka pilih adalah Museumsinsel (Museum Island). UNESCO memasukkan kawasan yang terdiri dari beberapa museum termasuk Berliner Dom (Katedral Berlin) tersebut dalam daftar World Heritage pada tahun 1999. Mereka hanya memasuki Berliner Dom karena tidak memiliki banyak waktu. Katedral tersebut memiliki lantai bawah tanah yang digunakan sebagai makam. Peti-peti indah bergaya gothic yang berasal dari abad ke-16 sampai abad ke-12 memenuhi lantai tersebut.
"Hush! Minnie, kalau kita diizinkan menginap di sini gratis, kamu mau nggak?", tanya Kyuhyun sambil sedikit menggoda Sungmin.
"Aniya! Aku takut.", jawab Sungmin jujur. Ia mendekatkan tubuhnya kepada Siwon, bersembunyi di belakang tubuh namja tegap itu.
"Dasar penakut!", ledek Kyuhyun.
"Memangnya kamu berani menginap sendirian di sini?", tanya Siwon menantang.
Kyuhyun tertawa remeh. "Hahaha… Kamu bertanya kepadaku?", ujarnya sok. Siwon mengangguk mantap. Ia menuntut jawaban Kyuhyun saat itu juga. Kyuhyun melangkah pergi. "Tentu saja tidak.", katanya pelan, namun masih bisa didengar oleh kedua temannya itu.
"Kyu juga penakut.", kata Sungmin kepada Siwon.
"Iya. Kalian sama-sama penakut.", balas Siwon sambil tersenyum meledek.
"Huuuh! Siwon jahat!"
Tempat berikut yang mereka kunjungi menggunakan bus wisata adalah Kreuzberg. Di tempat ini mereka menyaksikan kekejaman Nazi lewat foto-foto yang dipamerkan di Topography of Terror. Tidak jauh dari tempat tersebut terbentang sisa tembok Berlin yang menjadi saksi bisu sejarah. Mereka juga tidak melewatkan Checkpoint Charlie yang terkenal yang merupakan pos penjagaan untuk menyeberang dari sisi Timur ke Barat dan sebaliknya.
Bus wisata tersebut juga melewati Nikolaiviertel, Alexanderplatz dan gerbang besar Berlin yang terkenal indah, Branderburger Tor (Bradenburg Gate). Sangat disayangkan renovasi sedang berlangsung di tempat tersebut sehingga mereka tidak mendapat kesempatan untuk melihat gerbang yang sedang ditutup dengan papan yang bergambar gerbang itu sendiri. Mereka sempat turun di Reichstag dan beristirahat di taman sambil menikmati angin sore.
Ketika mereka kembali ke kawasan Ku' Damm, kawasan tersebut terlihat padat dan hidup di malam minggu. Mereka menghabiskan sisa waktu di Erotik-Museum yang menampilkan banyak koleksi dari Beate Uhse, mantan pilot wanita Jerman pada Perang Dunia II yang mendirikan toko alat-alat sex pertama di dunia.
"Lapaaaar!", keluh Sungmin sambil memegang perutnya yang sudah berdisko sedari tadi.
"Belilah makanan!", suruh Kyuhyun sambil mencari duduk di salah satu tempat makan di jalanan itu.
Sungmin mengerucutkan bibirnya. Ia sangat sebal jika Kyuhyun memerintahnya seperti itu. "Shirreo!"
"Ayolah, Min. Kamu kan yang memegang uang belanja makanan.", ujar Siwon menenangkan.
Sungmin tetap ngambek. Ia tidak mau lagi diperintah oleh siapapun. Mereka menyebalkan. Siwon menghela napas melihat yeoja manis itu tetap diam seribu bahasa. Siwon mengelus rambut Sungmin, memberikan senyuman paling tampan miliknya.
"Aku temani ya.", ajak Siwon sambil menarik tangan Sungmin. "Tolong jaga barang-barang ya.", pinta Siwon kepada Kyuhyun yang sudah asyik memainkan PSPnya.
Siwon dan Sungmin menuju tempat pemesanan. Mereka memesan beberapa makanan yang sekiranya cocok pada perut Asia mereka. Siwon menepi ke pojok depan café, memandangi situasi ramai kota itu. Banyak mobil lalu-lalang dan orang-orang yang beraktivitas. Matanya tertuju pada seorang namja paruh baya yang akan menyebrang. Sebuah kilat cahaya dari kejauhan mengusik penglihatan Siwon. Oh no!
CKIIIIT! BRAAAK!
"SIWONNIEEEEE!", teriak Sungmin saat ia melihat sosok Siwon berlari ke arah jalanan yang ramai.
Sebuah mobil melaju dengan sangat cepat ke arah Siwon dan namja paruh baya itu. Tubuh keduanya terpelanting. Keadaan seketika semakin ramai. Semua orang berlarian menuju tempat kejadian, memastikan apakah ada yang selamat atau tidak.
"Hiks. Siwonnie! Huaaaa… Siwon-ah!", jerit Sungmin ketakutan saat ia melihat kedua orang itu tergeletak di jalanan. Tangisnya tak bisa berhenti keluar dari pelupuk matanya.
"Mwo? Siwon?", kaget Kyuhyun yang baru tersadar dari imajinasi permainannya.
.
.
(O.o) …::TBC::… (o.O)
.
Yuya langsung UPDATE 2 CHAPTERS...
Smoga berkenan ya!
Terima kasih
