Sungmin bertemu dengan namja mesum yang menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Kyuhyun bertemu dengan seorang yeoja cantik yang kamudian mencurahkan hatinya kepada Kyuhyun. Apa yang sedang terjadi?
19th
Chapter 8
By Yuya Matsumoto
"Berlin's Tragedy 2"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
"Annyeong. Selamat pagi.", sapa Kyuhyun kepada Siwon yang baru saja sampai di apartment Youngwoon.
"Hmm... Pagi.", balas Siwon malas. Ia melangkah gontai ke dalam apartment. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Jelas sekali ia mengantuk, karena semalaman harus melayani pelanggan dan host wanita yang merayunya. Tanpa perlu menyapa anggota lainnya dalam apartment itu, Siwon masuk ke dalam kamar untuk memejamkan matanya.
"Ada apa dengan Wonie, Kyu?", tanya Sungmin bingung sambil menuangkan omelet buatannya ke atas piring.
'Wonie? Cih! Sebutan itu lagi. Menjijikan!', umpat Kyuhyun dalam hati. "Nggak tahu tuh.", ketus Kyu tidak peduli.
"Siwon pasti lelah. Ia kan menggantikanku bekerja.", jelas Youngwoon. "Hmm... Mashita! Kamu memang pandai memasak, Min.", puji Youngwoon setelah melahap masakan buatan Sungmin.
'Hmmm... Memang enak!', puji Kyu dalam hati.
"Kenapa, Kyu? Enak, ya?", tanya Sungmin yang mempergoki Kyuhyun mengangguk berkali-kali.
"Uhuk... Uhuk...". Kyuhyun tersedak karena kaget. Ia memukul-mukul dadanya setelah meminum sedikit air untuk mendorong makanan yang tersangkut di tenggorokannya. "Ya! Berisik sekali. Jangan kepedean ya.", marah Kyu kepada Sungmin.
Sungmin mengerucutkan bibirnya, memutuskan untuk melanjutkan sarapannya. Youngwoon tersenyum melihat tingkah keduanya di pagi hari. "Kyu hanya malu mengakui kehebatanmu, Min. Ia itu mengagumimu.", ucap Youngwoon dengan menekankan kata 'mengagumimu' sambil memberikan tatapan mengejek kepada Kyu. Digoda seperti itu membuat Kyuhyun salah tingkah. Youngwoon semakin puas tertawa.
Sebuah dering ponsel menginterupsi suasana hangat di ruang makan. Youngwoon menghentikan acara makannya. Sebelum Youngwoon sempat berdiri untuk mengambil ponselnya di dalam kamar, Sungmin sudah mengambilnya terlebih dahulu. Memang anak yang sigap ya!
"Gomawo, Minnie.", ucap Youngwoon.
'Su-ie is calling'
"Yoboseyo?", jawab Youngwoon atas panggilan teleponnya.
"Hiks... Hiks... Hiks...", isak tangis terdengar dari seberang telepon.
"Yoboseyo? Su-ie? Gwenchana?", tanya Youngwoon khawatir.
"Oppa. Oppa! Hiks... Hiks... Oppa.", jawab yeoja itu terbata-bata. Terdengar jelas kepedihan di dalam suaranya.
"Tunggu aku di sana. Tenanglah, Su-ie. Aku akan datang.", ucap Youngwoon tegas. Ia menutup ponselnya. Mimik wajah Youngwoon terlihat panik dan khawatir.
"Ada apa, appa?", tanya Sungmin ikut cemas.
Youngwoon membersihkan bibirnya dengan serbet, lalu meninggalkan meja makan. Ia memakai mantel, bersiap pergi. "Tenang saja, chagi. Appa ada urusan penting sebentar ya.", ucap Youngwoon sambil mengelus pipi Sungmin lembut.
"KYU!", bentak Youngwoon, membuat Kyuhyun hampir saja menjatuhkan piring yang sedang ia cuci. "Jaga rumah dengan baik. Awas saja kalau kamu melakukan hal macam-macam kepada Sungmin.", ancam Youngwoon, membuat Kyuhyun sweatdrop sendiri.
"Ba-baiklah, appa.", jawab Kyuhyun takut. Ia menelan ludah kecut.
Sungmin menjulurkan lidah ke arah Kyuhyun. "Rasain.", ujarnya dengan gerakan bibir tanpa suara.
"Awas kau ya.", balas Kyuhyun pun tanpa suara. Kyu melanjutkan kegiatan mencuci piringnya dengan kesal.
"Annyeong, Min.", kata Youngwoon berpamitan.
"Annyeong, appa. Hati-hati!", balas Sungmin sambil membalas lambaian tangan Youngwoon.
Sungmin menatap kepergian Youngwoon hingga namja paruh baya itu menghilang di persimpangan jalan. Kemudian Sungmin kembali ke dalam rumah. Ia melihat Kyuhyun sudah asyik menonton televisi. Tanpa peduli mengganggu keasyikan namja itu, Sungmin menghempaskan bokongnya di atas sofa, tepat di samping Kyuhyun.
"Apa sih yang kamu tonton, Kyu?", tanya Sungmin ingin tahu.
"Entahlah. Aku tidak mengerti bahasa planet ini.", jawab Kyu cuek sambil mengganti saluran acara berkali-kali dengan remote.
"Kyu~", panggil Sungmin manja. Ia membalikkan tubuhnya, menatap wajah Kyuhyun dengan sesakma.
"Hm...", jawab Kyu tidak peduli. Ia masih sibuk dengan remote-nya.
"Kyu!", bentak Sungmin sambil menarik Kyuhyun agar menatapnya.
Kyuhyun memalingkan wajahnya, mengikuti tangan Sungmin yang menariknya. Deg! Wajah putih bersih nan chubby milik Sungmin terukir jelas di hadapan Kyuhyun. Jantung Kyuhyun berdebar keras, membuat wajah Kyuhyun mulai memerah karena malu. Kyuhyun mengalihkan pandangannya kembali ke layar televisi, takut jika Sungmin menyadarinya salah tingkah.
"Kemarin kamu ke rumah yeoja itu bersama ahjussi?", tanya Sungmin antusias.
"Ne, wae?", tanya Kyu datar.
"Dia cantik?", tanya Sungmin sedikit merajuk.
"Adakah pertanyaan yang lebih berbobot, Min?", tanya Kyuhyun merasa kesal dengan pertanyaan basa-basi itu.
Sungmin mengerucutkan bibirnya. "Ah, baiklah. Jadi apa ada keganjilan dari yeoja itu saat kamu bertemu dengannya?".
Kyuhyun menghentikan pergerakannya pada remote. Ia terlihat sedikit berpikir, lalu mengangguk. "Ne, tubuhnya penuh perban, Minnie. Sepertinya perbuatan suaminya. Aku sangat prihatin dengan kondisinya.".
"Kenapa kamu tertarik sekali dengan yeoja itu? Bukankah kamu tidak mengenalnya?", tanya Sungmin penuh curiga.
Kyuhyun menghela napas panjang. "Saat aku bertemu dengannya untuk pertama kali di Hamburg, aku melihat pancaran kesedihan, seakan meminta bantuan kepadaku. Sejak saat itu aku penasaran dengan yeoja itu, Min.", jelas Kyuhyun, sambil menerawang kembali memorinya dulu.
"Oooh.". Sungmin meletakkan kepalanya ke atas bahu Kyuhyun, memejamkan matanya.
"Ah, oh! Ah, oh! Jangan seenaknya dong.", keluh Kyuhyun, merasa terganggu dengan sikap Sungmin. Kyuhyun mendorong kepala Sungmin agar menjauh dari dirinya.
Bukannya meminta maaf atau menghentikan sikap manjanya, Sungmin justru memeluk lengan Kyuhyun, lalu kembali meletakkan kepalanya di bahu Kyuhyun. "Sekali saja, Kyu. Bersikap baiklah padaku.", pinta Sungmin dengan suara lembut, tanpa menatap wajah Kyuhyun.
Merasa perlawanannya tak berguna, Kyuhyun membiarkan Sungmin bermanja-manja padanya. Ia menatap pucuk kepala yeoja manis itu. "Ah, sudahlah. Aku membiarkanmu kali ini.", pasrah Kyuhyun.
Sungmin tersenyum, semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Kyuhyun. Sungmin memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang disalurkan oleh tubuh Kyuhyun. Kyuhyun sendiri hanya menghela napas, pasrah atas sikap Sungmin. Ia memegang dadanya yang berdetak tak beraturan itu.
'Kalau begini terus aku akan terkena serangan jantung. Kamu membunuhku pelan-pelan, Min.', keluh Kyuhyun, sambil memandang acara televisi yang entah menayangkan apa. Kyuhyun pun tidak dapat berkonsentrasi. Jika orang yang kamu cintai berada di sampingmu, kamu pasti tidak bisa berkonsentrasi. Di pikiranmu hanya ada dia. Itulah yang Kyuhyun pikirkan, namun ia masih belum mau mengakui debaran hatinya yang begitu keras setiap bersama Sungmin. Oh my! You need a lot of romance scenes to realize it, Kyu.
.
.
#At Diamond Hotel#
.
.
Youngwoon menyeret kakinya lebih cepat kala matanya menangkap sosok yeoja yang tadi meneleponnya sedang menangis. Youngwoon sudah tahu dengan jelas dimana ruang pribadi yeoja itu di hotel ini. Walau Youngwoon jarang berhubungan dengan sepupunya ini, namun ia tetap menyayangi yeoja itu. Sudah sepantasnya Youngwoon merasa khawatir dengan keadaan sepupunya.
"Su-ie, waeyo?", tanya Youngwoon sambil mendekati yeoja cantik yang duduk di sofa pojok ruang itu.
Yeoja cantik itu menghamburkan dirinya di dalam dada bidang Youngwoon, saat ia mendengar suara Youngwoon. "Oppa. Hueee~", tangisnya pecah semakin keras.
Youngwoon memeluk tubuh rapuh itu. Ia mengiring Su-ie ke sofa terdekat. "Ssst... Tenanglah dulu. Ceritakan padaku pelan-pelan.", ujar Youngwoon menenangkan.
Kim Junsu, sering dipanggil Su-ie, mengatur napasnya yang tersengal. Ia menghapus jejak airmata di pipinya, berusaha untuk bersikap tegar. "Kekasihku mencampakkanku, oppa.", ucap Junsu pada akhirnya.
Rasanya Youngwoon hampir menjatuhkan dirinya karena terlalu shock mendengar penuturan Junsu. Ia pikir sepupunya itu mempunyai masalah serius yang sangat mengguncang hatinya. Ternyata ia hanya dicampakkan oleh kekasihnya. Terbersit rasa syukur di dalam hati Youngwoon. Namja tampan ini hanya membiarkan Junsu mengeluarkan semua gundahnya. Ia diam, begitu konsentrasi dengan setiap kata yang terlontar dari bibir yeoja ini.
"Aku sangat... Sangat mencintainya. Ia satu-satunya namja yang bisa menggetarkan hatiku.", tutur Junsu sambil menyelam ke masa lalunya.
.
FLASHBACK
[Kim Junsu's POV]
.
Aku adalah seorang yeoja muda berumur 23 tahun yang memiliki kehidupan sempurna. Secara fisik, aku cantik, tinggi, imut, langsing, manis, ah sempurna. Dilihat dari kemampuan, aku ini gesit, cekatan, telaten, dan otakku cemerlang. Tidak salah jika di usia semuda ini aku sudah menjadi seorang Manager Utama di Hotel ternama di Berlin, Jerman. Keluargaku berasal dari keluarga kaya raya dengan marga Kim yang tersohor. Di dunia ini tidak ada satu orang pun yang tidak mengenal keluargaku. Seluruh aset keluarga tersebar luas di dunia. Hotel berbintang lima, restaurant, pelayaran kapal pesiar, cafe, dan berbagai bentuk bisnis lainnya yang tidak mungkin aku sebutkan satu per satu. Siapapun percaya bahwa hidupku ini sempurna dan mereka pasti iri denganku.
Aku hidup di Berlin sudah hampir lima tahun, sejak aku berkuliah di salah satu universitas kota ini. Aku hidup mandiri, tidak pernah dimanja oleh keluargaku. Hampir semua pekerjaan sampingan telah aku lakoni. Bekerja di Hotel bintang lima—hotel milik keluargaku sendiri—tetap kujajaki dari level pekerjaan paling bawah, yaitu cleaning service. Tidak satu pun karyawan yang mengetahui bahwa aku adalah anak tunggal dari pemilik hotel ini. Aku benar-benar menyukai pekerjaanku sebagai pengurus hotel. Ini sangat menyenangkan, hingga pada akhirnya aku terbentuk menjadi seorang workaholic.
Walau diriku sangat sempurna, aku tidak memiliki teman dekat. Aku menutup diriku begitu kuat, tidak ingin hatiku tergores sedikit pun oleh urusan tidak penting berasaskan suatu hubungan akrab. Kim Youngwoon, biasa kupanggil Kangin, adalah sepupuku, satu-satunya menjadi orang yang paling aku percaya. Aku dekat dengan namja ini. Ia sangat tegar, melebihi anggota keluarga Kim lainnya. Walau Kangin-oppa diacuhkan di keluarga—karena kecacatannya dari lahir—, ia tetap bisa berprestasi di sekolah dan memilih hidup mandiri di negara ini. Aku begitu terharu dengan kegigihannya. Kangin-oppa tidak pernah mau menerima bantuan dariku, tetap berusaha sebaik mungkin walau hidup dalam keterbatasan. Aku telah menjadikannya role model, panutanku sejak kecil.
"Mister, please don't make any mess here.", teriak seseorang membuat kegaduhan di Lounge depan.
Aku sedang meneliti semua dokumen di Front Desk, merasa terganggu dengan suara-suara bising itu. Aku tutup semua berkas yang belum sempat kuteliti dengan sesakma. 'Ada apa ini?', tanyaku dalam hati, lalu melangkah ke tempat perkara.
Dua orang satpam dan satu orang karyawan sedang bergumul menghadang satu sosok pria. Pria itu menggeliat di dalam cengkraman kedua satpam, mengumpat berbagai makian dalam bahasa Korea. Bau alkohol terkuar dari tubuh pria itu. Aku menggelengkan kepalaku, merasa pusing dengan aroma ini. Tiga orang bawahanku merasa kaget saat menyadari keberadaanku di dekat mereka. Aku meminta mereka untuk melepas pria itu.
BRAAAK! Pria itu terjatuh bersimpuh, sepertinya terlalu lelah memberikan perlawanan. Tubuhnya bergetar hebat. "Hahahahaha!", tawanya begitu kencang, memenuhi lounge besar ini. Aku hendak menyentuh bahunya untuk menanyakan keadaannya, namun gerakanku terhenti. Pria itu mendongakkan kepalanya tiba-tiba. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali tatkala pandangan matanya yang tajam mengintimidasiku.
"Kalian!", tunjuk pria itu kepadaku. Saking kagetnya, aku spontan ikut menunjuk diriku sendiri. "Kalian wanita keji. Tidak tahu perasaan. Kalian seenaknya merusak kehidupanku, menyiksa batinku, menghempaskanku ke dalam kenistaan. Kalian. Aku berjanji tidak akan pernah menghargai makhluk tuhan yang berwujud seorang wanita. Di dunia ini wanita itu sama. Sosok iblis berbentuk indah. Cuih! Aku benci kalian.", makinya dengan penuh kebencian.
Tubuhku terasa kaku. Bulu kudukku berdiri semua. Aku merasa sedang dikutuk, bahkan oleh seorang namja yang asal-usulnya saja tidak kuketahui. "Kkk-ka-kau...", ucapku parau terbata-bata. Keringat dingin keluar dari setiap pori-pori tubuhku. "Ke-keluar ddd-dari si-si-sini.", perintahku dengan suara bergetar.
Pria itu menyeringai. "Kamu akan menyesal.", desisnya di telingaku, sebelum berjalan pergi dari hadapanku.
Aku masih bisa melihat jelas jejak airmata di pipinya itu. Matanya yang memancar kebencian, terpatri kuat dalam ingatanku. Aku terasuki oleh sosok itu. Sosoknya menghantui diriku setiap malam. Oh, tidak! Aku memang telah dikutuk oleh dirinya.
Pria itu ternyata pelanggan tetap hotelku. Ia sering membawa berbagai wanita untuk menginap di sini. Remaja, ibu muda, tante genit sampai dengan anak di bawah umur. Entah apa tujuannya membawa semua wanita itu. Wajah setiap wanita itu selalu berseri-seri setiap kembali dari acara malam mereka. Aku sangat penasaran dengan pria ini. Ia tidak pernah memesan kamar dengan namanya, selalu menggunakan nama orang lain. Sebenarnya siapa dia? Seenaknya saja menghina dan mengutuk diriku seperti itu.
Entah sejak kapan aku mulai merasa risih setiap saat mempergoki dirinya membawa wanita lain ke hotel ini. Tanganku terkepal kuat. Dadaku berdesir sakit. Mataku menyipit tajam. Aku ingin sekali menerkam semua wanita itu dan menjadikannya satu-satunya milikku. Ah, aku tidak bisa membiarkan diriku seperti ini.
"Jadilah pacarku!", pintaku secara berani di depan namja yang selama ini sudah mengukung pemikiran rasionalku.
Ia hampir saja tersedak minumannya. "Hah?"
"Jadilah pacarku!", pintaku sekali lagi. Seumur hidup aku tidak pernah mempermalukan diri seperti ini. Jujur, aku belum pernah jatuh cinta, apalagi menyatakan perasaan kepada seorang pria. Oh, itu tidak ada dalam kamusku, setidaknya dulu.
TREEEK! Namja itu meletakkan cangkirnya di atas meja. "Kamu serius?". Aku mengangguk mantap. Ia berdiri, mensejajarkan diri kami. "Jangan bermimpi.", ujarnya sambil tersenyum. Ia menepuk pelan pucuk kepalaku, sebelum pergi dari hadapanku.
Aku termangu, tak pernah menyangka bahwa ia akan memberikan senyuman menawannya padaku, terlebih lagi ia menyentuh rambutku. Aku ingin sekali berjingkrak kesenangan saat ini juga, namun aku harus tetap menjaga wibawaku. Aku segera membalik tubuhku, mendapatkan sosoknya masih berada tak jauh dariku. "Hei, lihat saja! AKU AKAN MENJADIKAN DIRIMU KEKASIHKU!"
"Terserah.", jawabnya, tanpa membalikkan tubuhnya.
Ini adalah pengalaman cinta pertamaku dan aku HARUS mendapatkannya.
Aku melakukan berbagai hal di luar nalar untuk mencuri hatinya. Butuh waktu lama dan kesabaran hingga ia setuju menjadi kekasihku. Sejak awal ia menekankan bahwa ia tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untukku, namun aku tidak peduli. Aku hanya terlalu mencintainya, hingga aku rela memberikan seluruh milikku yang berharga kepadanya. Kami melakukan 'itu' sepanjang waktu dimana kita saling membutuhkan kehangatan masing-masing. Aku menganggap ini hal paling romantis yang pernah kurasakan. Park Yoochun, nama namja itu. Ia tak pernah menyakitiku, selalu bersikap baik dan bertindak lembut kepadaku. Ah, aku bahagia bersamanya.
.
FLASHBACK END
[Junsu's POV END]
.
"Apa? Siapa nama kekasihmu itu?", tanya Youngwoon tak percaya dengan pendengarannya.
"Park Yoochun.", jawab Junsu singkat sambil melemparkan tatapan bingung.
'Park? Yoochun?', selidik Youngwoon dalam hatinya. Sepertinya ia pernah mendengar nama ini.
"A-aku ha-hamil dan ia mencampakkanku, oppa.", tangis Junsu kembali pecah. Ia memeluk tubuh besar di sampingnya itu.
'Ah, aku tahu. Tidak mungkin.'
PLAAAAK! Youngwoon menampar Junsu. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. "BABBO YEOJA!", bentak Youngwoon tak peduli jika ia menyakiti sepupu kesayangannya itu. Ia tidak habis pikir, kenapa sepupunya yang hebat ini bisa terjebak dengan namja bejat seperti itu.
"Oppa.", lirih Junsu sambil memegang pipinya yang memerah. Ia tahu pasti bahwa dirinya pantas diperlakukan seperti ini. Kakak macam apa yang tidak kecewa saat mendengar berita buruk adiknya seperti ini.
"Kenapa kamu bisa memberikan seluruh tubuhmu untuk orang macam itu? Apa kamu tidak tahu jika ia sudah memiliki istri? Hah?", kesal Youngwoon atas kebodohan sepupunya itu.
Junsu menggeleng lemah. Ia menundukkan kepalanya, mencengkram ujung rok mininya dengan kuat. Sungguh Junsu tidak pernah tahu apapun tentang Yoochun.
Youngwoon menghela napas, meredakan semua emosinya. Ia merengkuh tubuh sang adik sepupu, merasa bahwa kemarahan bukanlah solusi yang tepat. "Su-ie, kamu harus mempertanggungjawabkan semua kesalahanmu ini. Yoochun juga. Kalian harus bisa menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya menjadi runyam. Tolong, jangan cemari nama keluarga kita dengan tragedi ini.", saran Youngwoon lembut, sambil mengelus perut Junsu yang masih datar.
Junsu mengangguk patuh. "Oppa, bagaimana kamu tahu tentang istri Chunnie?", tanya Junsu heran.
"Hmm...", gumam Youngwoon, bingung harus memulai darimana. "Aku memiliki teman sekantor bernama Park Jungsoo. Ia sudah berkeluarga. Aku pernah mendengar nama suaminya sekali. Kalau aku pikir Chunnie-mu itu pasti orang yang sama dengan suami Jungsoo. Bayangkan. Berapa banyak orang Korea di Berlin, terutama bermarga Park seperti dia?"
Junsu tampak berpikir. "Benar juga ya, oppa. Tapi bisa saja kan orang lain.", keukeuh Junsu, tak ingin berpikiran negatif.
"Kemungkinan itu terlalu tipis, Su. Ah sudahlah. Lebih baik kamu selesaikan masalah kalian. Jangan lupa untuk terus menjaga kondisi anakmu itu. Jangan sampai kamu mengacuhkannya karena appa-nya tidak juga peduli kepadanya.", petuah Youngwoon. Ia merasa pusing dengan semua permasalahan ini. Rasanya ia ingin menghajar namja bernama Yoochun karena telah menyakiti dua orang yang paling dicintainya itu.
"Mau kemana, oppa?", tanya Junsu kaget karena Youngwoon beranjak keluar ruangan.
"Pulang. Aku pusing memikirkanmu.", jawab Youngwoon jujur. Ia sudah lelah.
"Annyeong. Hati-hati, oppa.", balas Junsu sambil merebahkan tubuhnya di sofa kembali. Setidaknya perasaannya sudah sedikit lega, setelah menceritakan semua ini kepada sepupunya itu.
.
(o,O)...::YuyaLoveSungmin::...(T''T)
.
"Ya! Apa yang kalian lakukan?", bentak Siwon saat ia keluar dari dalam kamar. Siwon mendapati kedua temannya sedang asyik tertidur saling berpelukan di atas sofa.
Kyuhyun dan Sungmin yang masih terlelap dalam mimpi, tersentak kaget. Sungmin yang merasa dirinya mendekap seseorang, melepas dekapannya. Ia mendongakkan kepalanya, melihat sosok yang ia peluk sedaritadi. Kyuhyun yang panik, memandang yeoja yang ada dalam dekapannya. Ia takut mengganggu tidur yeoja manis itu.
Cup! Bibir Kyuhyun dan Sungmin beradu.
Satu detik. Sunyi. Tak ada yang bergerak.
Tiga detik. Kyuhyun dan Sungmin mengerjapkan mata berkali-kali.
Sepuluh detik. Siwon hanya tersenyum malu, melihat adegan tak terduga di hadapannya.
Dua puluh lima detik. Siwon sudah mulai jengah, karena Kyuhyun dan Sungmin masih terlarut dalam dunia mereka.
Empat puluh tiga detik. "Ehem.", gumam Siwon, namun kedua orang itu masih terdiam.
Semenit. "EHEEEEM!", teriak Siwon tepat di hadapan wajah keduanya.
"HUAAAAA!", teriak kedua orang itu sambil melepas dekapan masing-masing, menjauhkan diri.
"Ya! Apa-apaan kau, Kyuhyun! Berbuat mesum kepadaku.", bentak Sungmin tak terima jika ciuman pertamanya diambil oleh namja seperti Kyuhyun. 'Ah, sial! Kenapa bukan Siwon? Hueee... Mimpi apa aku semalam?', rutuk Sungmin di dalam hatinya.
Kyuhyun yang ditunjuk-tunjuk Sungmin dengan kasar, hanya bisa terdiam. Sepertinya Kyuhyun masih ada dalam dunia bawah sadarnya. 'Ciuman pertamaku.', batin Kyuhyun sambil memegang bibirnya yang tebal. Ia tidak pernah menyangka, jika ciumannya akan diberikan kepada Sungmin.
"Akuilah Kyu, jika kamu menyukainya.", bisik Siwon—entah sejak kapan berada di belakang tubuh Kyu.
Kyuhyun menoleh ke sumber suara. Bibirnya mengerucut tatkala wajah Siwonlah yang tersaji di depannya. "Siapa bilang? Jangan sok tahu kau, Siwon!", bentak Kyuhyun salah tingkah.
"Kemana kamu, Kyu?", tanya Sungmin kesal saat Kyuhyun berdiri tepat di depan pintu keluar.
"Pergi. Menenangkan pikiran.", jawab Kyuhyun seadanya. Ia tak peduli saat ia pergi telah menabrak Youngwoon dan membuat pemilik apartment itu bingung.
"Kenapa dia?", tanya Youngwoon, minta penjelasan.
Siwon mengangkat bahunya, sedangkan Sungmin menghempaskan tubuhnya kembali ke atas sofa. Keduanya tidak menjawab pertanyaannya. Daripada berpusing-pusing ria memikirkan masalah dua remaja ini, Youngwoon memilih untuk tidur.
.
.
#At Supermall Berlin#
[Kyuhyun's side]
.
.
Setiap saat Kyuhyun merasa perlu menenangkan diri, hanya satu tempat yang ia tuju, yaitu toko buku. Kyuhyun memang menyukai permainan, namun berkutat dengan PSP tidak pernah membawanya ke dalam ketenangan. Kyuhyun rela berdiri berlama-lama hanya untuk mendapatkan buku yang ia inginkan. Ia pasti akan melupakan waktunya jika sudah bergumul dengan tumpukan buku yang menyuguhkan berbagi pengetahuan tak berbatas untuknya.
"Ommo! Kyeopta!"
Kyuhyun mencari asal suara yang terdengar dekat darinya. Seorang yeoja berdiri tepat di belakang Kyuhyun. Ia mendekati yeoja muda itu dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya. Setidaknya jarang sekali ada orang Korea di negara asing ini.
"Annyeong haseyo. Apakah kamu orang Korea?", tanya Kyuhyun sopan, takut menyinggung yeoja di depannya.
Yeoja itu asyik membuka buku-buku kedokteran. Ia tertegun melihat Kyuhyun. "Ne. Annyeong.", jawabnya sambil menundukkan kepala.
Kyuhyun tersenyum lega, setidaknya dugaannya benar. "Senangnya. Choneun Kyuhyun imnida.", sapa Kyuhyun percaya diri.
Yeoja itu terkikik melihat sikap ramah Kyuhyun. "Junsu imnida. Bangapseumnida.", balasnya.
Junsu kembali berkutat dengan buku-buku yang ia perhatikan, buku kehamilan. Wajahnya berseri-seri saat melihat foto-foto bayi. Ia juga sangat bersemangat saat membaca rangkaian informasi baru mengenai kehamilan. Pola tingkah Junsu membuat Kyuhyun sedikit tertarik dengan yeoja itu.
"Kamu sedang hamil muda?", tanya Kyuhyun jujur, tanpa basa-basi.
Semburat merah menghias pipi yeoja cantik itu. Ia mengangguk malu. Junsu mengelus perut datarnya dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat mencintai aegya-ku ini. Selamanya.", ucap Junsu keibuan.
Jiwa dokter muda kembali bangkit di dalam diri Kyuhyun. Ia ingin tahu lebih banyak lagi tentang kehamilan Junsu. "Jadi sudah berapa minggu kehamilanmu?"
Junsu tersentak kaget. Jarang sekali ada orang yang menanyakan usia kehamilan dalam bentuk minggu, bukannya bulan. Junsu menyadari jika namja di sampingnya ini seseorang yang mengerti tentang kesehatan. "Sepuluh minggu."
"Oooh... Jadi belum merasakan pergerakan apapun ya?", tanya Kyuhyun memastikan.
Junsu mengangguk. Kini pembicaraan mereka mengalir dengan ringannya. Kyuhyun memberikan beberapa pengetahuan mengenai kehamilan, apa yang harus dilakukan, dimakan ataupun yang dihindari. Junsu memperhatikan setiap perkataan Kyuhyun dengan sesakma. Junsu sangat kagum dengan semua pengetahuan Kyuhyun, padahal namja itu berusia jauh di bawahnya.
Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah berbincang selama hampir dua jam. Keduanya sudah berada di taman kota, memilih tempat yang lebih nyaman dibandingkan toko buku.
Bukan hanya membahas tentang kehamilan, namun mereka juga membahas masalah pribadi terutama masalah Kim Junsu. Kyuhyun hanya bisa memberikan pendapat terbaiknya. Ia berusaha bersikap bijak dan rasional, entah apa yang akan ditangkap oleh penalaran yeoja itu sendiri. Kyuhyun menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Ia harus segera kembali ke apartment sebelum semua penghuninya mengamuk.
"Mianhamnida. Junsu-ssi, aku pergi dulu ya. Semoga lain waktu bisa bertemu lagi.", ucap Kyuhyun mengakhiri perbincangan. Jika Kyu tidak berhenti bicara, maka Junsu akan terus menyekapnya dalam kisah dan pertanyaan yang melelahkan otaknya. Sejujurnya Kyuhyun sudah ingin bertemu dengan bantalan empuk, merebahkan tubuh agar otaknya bisa sedikit beristirahat.
Junsu berdiri, bersikap sopan atas permintaan maaf Kyu. Ia menundukkan badan hormat. "Ne. Kamsahamnida. Lain waktu kita berbincang lagi ya, Kyu."
Kyuhyun membalas perkataan Junsu dengan cengiran paksa. 'Jangan sampai!', jeritnya dalam hati. Kyuhyun segera melangkahkan kakinya pergi dari sana. Ia sudah tidak betah diajak ngobrol oleh yeoja cerewet seperti itu. 'Eomma, selamatkan Kyu!', teriaknya berkali-kali dalam hati setiap yeoja itu mulai mengganti topik dan pertanyaan.
"Ada ya yeoja yang lebih mengerikan daripada Sungmin?", tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri.
.
(^o^) YuyaLoveSungmin (^.^)
.
"Yakin pergi sendiri?", tanya Siwon cemas.
Sungmin mengangguk berkali-kali. "Aku yakin. Jangan cemas, oppa.", ujar Sungmin meyakinkan.
Siang ini Sungmin memutuskan untuk pergi ke salah satu supermarket terdekat. Ia memaksa untuk pergi sendiri. 'Memangnya aku anak kecil yang harus dikawal setiap waktu?', umpat Sungmin setiap yeoja itu ditanya oleh Siwon. 'Ah, mereka terlalu cemas. Menyebalkan.', keluhnya lagi.
Sungmin mengambil semua barang yang mereka butuhkan untuk makan keempat orang itu. Sudah pasti Sungmin memperhitungkan harga dan kualitas makanan. Walaupun hampir semua label barang berbahasa Jerman, Sungmin masih bisa memperkirakan bahan-bahan yang mungkin ia perlukan. Sepanjang aktivitasnya berbelanja, sesekali ia mengumpat kedua namja yang terlalu overprotective terhadapnya.
"Mereka pikir di Korea aku hidup berfoya-foya? Aku ini melakukan semuanya sendiri. Ah, kesal!", ucap Sungmin penuh amarah. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal. Sungmin tidak peduli saat semua orang-notabene berwarga negara Jerman—memandang gadis itu aneh.
Semua belanjaan dirasa telah tercukupi, Sungmin membayarkan semua barang di kasir. Yeoja ini termasuk yeoja teliti. Ia memanfaatkan semua uang dengan sangat cermat dan hemat. Saat Sungmin akan beranjak pulang dengan beberapa kantung belanjaan di kedua lengannya, seseorang menarik lengan Sungmin.
"Wait, please.", panggil orang itu. Sungmin hampir saja jatuh, karena tarikan kasar namja paruh baya itu. "Hana?"
"Eh?". Sungmin tertegun. "You're wrong, Sir.", sanggah Sungmin. Yeoja itu merasa ketakutan karena namja paruh baya itu terus menarik lengannya tanpa ampun.
"Kamu Hana. Kamu pasti Hana, nae aegya.", ucapnya bersikeras. Namja paruh baya, bernama Yoochun itu, menarik Sungmin ke dalam pelukannya.
Braaak! Kantung belanja Sungmin terjatuh. Sungmin memberontak, berusaha lepas dari pelukan erat Yoochun. "Lepaskan aku, ahjussi mesum!", maki Sungmin. Napasnya mulai tersengal. Ia kesulitan untuk menarik oksigen ke dalam paru-parunya. Jika terus seperti ini, Sungmin bisa mati kehabisan udara.
Buuuuk!
"Lepaskan yeoja itu, ahjussi gila!", bentak seorang namja. Ia memukul wajah Yoochun, hingga namja paruh baya itu jatuh tersungkur di aspal.
Sungmin bernapas lega. Ia mengatur napasnya sedikit demi sedikit. Sungmin segera merapikan belanjaannya yang sempat terjatuh. Untung saja barang-barang itu tidak berceceran di aspal.
Yoochun mengusap sudut bibirnya yang pecah. 'Sialan. Siapa namja brengsek ini?', tanya Yoochun dalam hati. Ia berusaha bangkit lagi, membalas pukulan namja muda itu.
"Menyingkirlah!", bentak namja itu pada Sungmin agar Sungmin menghindar dari perkelahian mereka.
Sungmin melangkah takut ke belakang—jauh di belakang tubuh namja muda itu. Ia mengerucutkan bibirnya, sambil memperhatikan keduanya. 'Cih! Lagi-lagi dia sok memerintahku!'
Braaak! Buuuk! Taaak!
Pukulan demi pukulan terlempar ke arah kedua namja itu. Yoochun berhenti, karena lelah. Ia menundukkan badannya, mengatur napas yang sesak. Sebenarnya namja muda itu tidak membalas pukulan-pukulan Yoochun. Ia hanya menepis dan sedikit mendorong tubuh Yoochun berkali-kali. Namja paruh baya itu hanya terlalu lelah dengan pergerakannya sendiri.
"Hei, ahjussi mesum. Berhenti menggoda yeoja itu.", ujar namja muda itu sambil menunjuk Sungmin yang kaget karena dirinya ditunjuk-tunjuk. "Dia itu kekasihku.", lanjutnya pelan, namun masih bisa didengar oleh Yoochun, Sungmin, dan beberapa orang yang berlalu lalang di jalan itu.
Yoochun mengangkat wajahnya kaget. "Aku tidak mesum. Dia itu Hana. Anakku yang hilang. Anakku yang dikabarkan meninggal sepuluh tahun lalu. Yeoja itu anakku.", jelas Yoochun sambil menekankan kata 'anakku' pada akhir perkataannya.
Namja muda itu sontak memandang Sungmin yang ikut melemparkan pandangan bingung kepadanya. "Benar itu, Minnie?", tanya namja itu tak percaya.
Sungmin mendekati keduanya, masih tetap memegang kantung belanjaan di kedua lengannya. "Tidak. Aku bukan Hana. Namaku Lee Sungmin. Sejak kecil aku lahir dan besar di Korea.", jelas Sungmin.
Namja muda itu menghela napas, berusaha berpikir jernih. "Ahjussi, sebenarnya anakmu usianya berapa saat hilang? Jangan tertipu dengan wajah imutnya. Dia itu sudah uzur. Umurnya sudah sembilan belas tahun.", jelas namja muda bermarga Cho itu, sedikit mencibir Sungmin.
"Tidak. Aku pasti benar. Buktinya ia orang Korea.", ucap Yoochun gigih.
Yoochun menarik lengan Sungmin lagi. Kyuhyun melepas cengkraman jemari Yoochun pada pergelangan tangan Sungmin. "Saya sudah katakan bahwa ia kekasih saya. Ia bukan seperti orang yang Anda maksud. Jadi tolong berhenti bersikap gegabah. Saya bisa bertindak kasar kepada Anda.", ancam Kyuhyun penuh penekanan. Aura iblis terkuar dari setiap pori-pori tubuh namja muda ini. Sungmin merinding, merasakan aura membunuh dari Kyuhyun.
Yoochun membelalakan mata sempurna. Ia sedikit takut, saat Kyuhyun memberi death glare kepadanya. "Ah, mungkin aku yang salah.", pasrah Yoochun sambil mengeluarkan bungkus rokok yang baru ia beli di supermarket. Namja paruh baya itu meninggalkan kedua remaja itu.
Sreeek! Kyuhyun menarik beberapa kantung belanjaan itu dari tangan Sungmin. Ia melangkah maju, meninggalkan Sungmin yang takut dengan sikap Kyuhyun itu. Saat ini Kyuhyun kesal sekali. Ia ingin memukul wajah seseorang.
.
.
#At Youngwoon's Apartment#
.
.
Kyuhyun meletakkan semua barang bawaannya ke atas meja di dapur. Ia meneguk sebotol minuman air mineral dingin, berusaha meredam amarahnya. "Kenapa kamu bisa kembali bersama Sungmin, Kyu?", tanya Youngwoon.
"Tidak sengaja bertemu saat aku akan kembali ke sini.", jawab Kyuhyun singkat. Ia sedang tidak ingin diinterograsi saat ini.
"Ada masalah apa? Sepertinya kamu sedang kesal.", ucap Youngwoon penasaran.
"Tanya saja pada Sungmin.", jawab Kyuhyun ketus. Ia mengambil PSPnya yang sedang ia charge di kamar. Ia memilih untuk memainkan permainannya dibanding harus menjawab pertanyaan dari Youngwoon.
Youngwoon menghampiri Siwon dan Sungmin yang sedang bercengkrama. Matanya menuju satu titik yang menyita perhatiannya sejak awal, bekas merah memar. Tanpa pikir panjang, Youngwoon menarik tangan Sungmin. "Kenapa tanganmu seperti ini?", tanya Youngwoon cemas.
"Tidak apa-apa, Appa.", bohong Sungmin sambil menarik tangannya.
"Jangan bohong. Katakan ada apa sebenarnya tadi.", paksa Youngwoon mulai emosi.
Siwon memandang keduanya dengan heran. Ia mengelus punggung Sungmin yang mulai bergetar. "Katakanlah, Min. Kami hanya cemas padamu.", kata Siwon berusaha menenangkan.
Akhirnya Sungmin menceritakan semua masalah yang terjadi di depan Supermarket itu. Youngwoon terlihat sangat kesal dan siap menghajar ahjussi mesum yang Sungmin maksud. Sedangkan Siwon sibuk memperban luka Sungmin.
.
(O.O")...::YuyaLoveSungmin::...("*.*)
.
Jungsoo sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja di Danke bar, tempatnya bekerja bersama Youngwoon. Ia sudah memakai make up yang lumayan tebal untuk menutupi luka memar di wajahnya. Tak lupa ia memakai pakaian yang sedikit tertutup walau masih membentuk tubuh moleknya yang seksi. Makan malam sudah ia siapkan untuk Yoochun, jika tiba-tiba namja ini pulang dan kelaparan. Rumah juga sudah sangat rapi. Semua sudah Jungsoo lakukan dengan baik, sehingga ia bisa bekerja tanpa harus cemas.
Ting! Tong! Ting! Tong! Bel rumah Jungsoo berbunyi nyaring. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan tamu. Jadi siapa yang malam-malam begini ingin berkunjung ke rumahnya? Jungsoo melirik tempat kunci yang biasa Yoochun gunakan untuk meletakkan kunci cadangan. Kosong. Jadi tidak mungkin tamunya adalah Yoochun. Jungsoo segera melangkahkan kakinya cepat ke pintu depan. Ia tidak ingin membuat tamunya menunggu lama.
Seorang yeoja cantik melepas kacamata hitamnya ketika ia mendapati sang tuan rumah membukakan pintu untuknya. "Annyeong. Selamat malam."
"Ne, malam. Maaf, Anda siapa ya?", tanya Jungsoo ramah.
Yeoja cantik itu mengulurkan tangannya kepada Jungsoo. "Kim Junsu imnida.".
"Park Jungsoo.", balas Jungsoo canggung. Ia menyadari ada sesuatu dengan yeoja di hadapannya ini.
Yeoja cantik itu menyeringai. "Saya ingin berbicara tentang hal yang sangat penting kepada Anda.", ucap Junsu penuh ketegasan. "Boleh saya masuk?".
"Eh? Iya. Silakan. Silakan.", tawar Jungsoo sedikit panik. Ia membiarkan yeoja cantik itu memasuki rumah sederhananya, rumahnya bersama Yoochun.
.
.
…::TBC::…
.
.
#Thanks to all READERS#
Please, leave review for SUPPORTING me
Annyeong~
^.^v
