19th
Chapter 9
By Yuya Matsumoto
"Which Love"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
.
.
#Jungsoo's house#
[Jungsoo's POV]
.
.
Aku melirik ke jam dinding. Ah, sebentar lagi aku terlambat. "Kamu mau minum apa?", tanyaku basa-basi, berharap yeoja ini segera pergi dari rumahku.
Ia menyilangkan kakinya, duduk senyaman mungkin di atas sofa. "Ice lemon tea, please.", jawabnya sok dengan gaya seperti boss besar. Rasanya ingin kutinju wajahnya sekarang juga.
Aku menyiapkan lemon tea yang yeoja itu inginkan. Yoochun sangat menyukai ice lemon tea sehingga aku selalu menyediakan satu teko besar lemon tea siap minum. Tak butuh waktu lama, setelah aku menuangkan ice lemon tea ke dalam gelas, aku segera menghampiri yeoja itu. Aku melihatnya sedang asyik memandangi foto-foto keluarga di atas lemari kaca pajangan. TREEEK! Aku menaruh gelas di atas meja. Yeoja itu terlihat kaget.
"Minuman Anda sudah siap.", kataku seakan ia adalah majikanku.
Yeoja itu duduk kembali di atas sofa. Ia mengambil gelas itu dengan sangat anggun. "Hmm... Lumayan. Oh ya. Jangan sungkan. Panggil saja aku Junsu.", ucapnya dengan dagu yang terangkat tinggi. Aish! Yeoja ini benar-benar congkak. Ia menganggapku seperti bawahannya saja. Argh!
"Jadi apa yang ingin Anda katakan?", tanyaku berusaha sabar. Aku memberikan senyuman semanis mungkin, walau pada kenyataannya aku sangat membenci sikap basa-basi ini.
"Jadi benar, kamu adalah istri Park Yoochun?", tanya Junsu sambil menaruh gelas itu pelan.
Aku mengangguk pelan. 'Ada apa ia membicarakan Yoochun?', tanyaku dalam hati.
"Tolong, tinggalkan dia. Ia adalah kekasihku. Kami akan segera menikah, karena aku sedang hamil. Anaknya.", ucap Junsu sambil mengelus perutnya.
Aku berdiri, kaget dengan penuturannya. "Apa?".
"Apa kamu tuli? Aku hamil. Ini adalah anak Yoochun.", ujar Junsu dengan senyum puas, seakan ia telah memenangkan sesuatu dariku.
BYUUUR! Ice lemon tea itu membasahi rambut dan pakaian mewah Junsu. Aku meletakkan gelas dengan kasar ke atas meja. Junsu berdiri. Wajahnya memerah karena emosi. Tanpa menunggu lama, aku segera mendorong tubuh yeoja centil itu ke pintu depan.
"Ya! Apa-apaan kau!", teriaknya tak terima dengan sikapku.
"Pergi dari sini. Jangan bicara macam-macam di rumahku, PELACUR!", bentakku tak sabar. Aku semakin mendorong tubuhnya yang memberat karena ia menahan gerakanku. Kami saling dorong. Yeoja ini terlihat sangat marah dengan sikapku. 'Huh! Dia pikir bisa menginjak-injak harga diriku di rumahku sendiri. Jangan harap.'.
BRAAAK! Aku menutup pintu rumahku tepat di depan wajahnya. Aku segera mengunci pintu rumah agar ia tidak bisa masuk kembali. Buuuk! Buuuk! Buuuk! Yeoja itu tak mau menyerah. Ia menggedor pintuku dengan membabi buta.
"Ya! Buka pintunya! Aku belum selesai berurusan denganmu!", teriak yeoja itu lantang dengan suara melengkingnya yang mirip lumba-lumba itu.
"Pergilah. Jangan mengganggu rumah tanggaku. Cari lelaki lain di luar sana, wanita jalang.", balasku penuh emosi.
Aku meninggalkan pintu depan rumah, tak ingin mendengar jerit frustasi wanita murahan itu. Aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar. 'Sepertinya menenangkan di kamar lebih baik', pikirku. Aku menjatuhkan bokongku di atas sisi ranjang.
Tes!
Tes!
Tes!
Aku menengadahkan telapak tanganku di depan wajah. Airmataku terus mengalir, mengekspresikan rasa pilu yang menyayat hatiku. Aku tahu saat ini pasti akan datang. Selama ini aku tahu Yoochun 'bermain' di luar sana. Aku selalu berusaha menahan rasa sakitku setiap Yoochun mengkhianatiku. Aku berusaha tersenyum cerah saat ia kembali untuk melampiaskan amarahnya pada tubuhku. Setidaknya aku merasa bahagia ketika melihat dirinya tertidur pulas di sampingku. Saat-saat itulah Yoochun-ku kembali seperti dulu, terlihat sangat tampan dan mempesona.
"Hiks... Hiks... Hiks...", isakku tak tertahankan.
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha meredam suara tangisku yang menyedihkan. Ah! Aku tersentak kaget saat menyadari waktu sudah beranjak malam. Aku menyeka airmataku dengan kasar, menepuk pipiku berkali-kali.
"Yosh! Semangat!", ucapku menyemangati diri sendiri. Aku bergegas ke pintu depan. Sedikit melirik lubang pintu, aku memastikan apakah yeoja murahan itu masih di depan rumah atau tidak. Syukurlah! Ia sudah pergi. Aku keluar rumah, berangkat untuk bekerja.
.
[Jungsoo's POV END]
.
.
(o.O)...::YuyaLoveSungmin::...(ToT)
.
Ting! Tong! Ting! Tong!
Sungmin segera membuka pintu apartment sederhana itu, tak ingin membuat orang di luar sana menunggu lama. Mata Sungmin terbelalak kaget saat wajah namja paruh baya itu terpampang jelas di hadapannya. Sungmin ingin menutup pintu depan itu kembali namun ditahan oleh orang itu. Bulu kuduk Sungmin seketika berdiri.
"Chakaman.", kata namja paruh baya itu. "Aku harus berbicara denganmu. Aku janji tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar.", jelas namja itu dengan pancaran mata teduhnya.
Sungmin mengangguk pelan. "Appa, Minnie pergi ke taman sebentar ya!", teriak Sungmin, memberitahu Youngwoon yang berada di ruang makan.
"Ne. Hati-hati, aegya. Jangan pulang terlalu malam!", balas Youngwoon, lalu melanjutkan kunyahannya.
Sungmin dan Yoochun—namja paruh baya itu—berbincang di taman dekat apartment Youngwoon. Mereka duduk di salah satu bangku taman, memandangi anak-anak yang sedang asyik bermain. Suasana canggung menyelimuti keduanya. Sungmin tersenyum senang, melihat kearah wajah-wajah imut yang sedang giat bermain. Yoochun terlihat begitu tegang dan cemas. Ia asyik memainkan jari-jemarinya.
"Ehm...", gumam Yoochun, membersihkan tenggorokannya. "Aku Park Yoochun.", ujar Yoochun memperkenalkan diri.
Sungmin mengalihkan pandangannya. "Lee Sungmin imnida.", balas yeoja manis itu. Sungmin memilih untuk diam, mendengarkan kata-kata pria di sampingnya itu.
Hening. Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Suasana canggung kembali mendominasi kedua insan itu. Sungmin terlihat mulai jengah. Ia akan segera beranjak dari sana, namun gerakannya tertahan saat bola mata kelinci itu menangkap gerakan aneh dari Yoochun. Suara isakan mulai terdengar kala punggung namja paruh baya itu bergetar dengan hebat.
"Gwenchana?", tanya Sungmin khawatir.
Isakan tangis itu makin lantang. Sungmin bingung harus berbuat apa. Ia ingin sekali memanggil seseorang untuk menghentikan namja asing di hadapannya. Langkah Sungmin terhenti saat lengannya tercekal dengan keras.
"Hana.", rintih Yoochun pelan.
"Mianhae, ahjussi. Aku bukan Hana.", balas Sungmin bosan.
Yoochun menggenggam pergelangan tangan Sungmin dengan erat. Ia tetap tak menghiraukan gadis itu, asyik menatap kosong ke bawah kakinya. "A-aku tahu. Kamu bukan Hana, nae aegya."
Sungmin kembali mendudukkan dirinya di samping namja paruh baya itu. Ia memutuskan untuk mendengar semua keluh kesah Yoochun.
"Aku dan keluargaku baru saja pindah dari Korea ke Jerman untuk memenuhi tugasku sebagai Manager di sebuah cabang perusahaan besar. Hidup kami sedikit demi sedikit terbiasa dengan budaya di sini, walau pada awalnya kami kesulitan untuk berteman dengan para tetangga. Enam bulan terlewati dengan usaha keras, namun tanpa kami sadari takdir berkata lain. Hana mengikuti acara study tour ke Denmark bersama teman sekolahnya. Aku sudah melarang Jungsoo tapi ia tetap membiarkan anak kami satu-satunya itu pergi. Kapal yang mereka tumpangi kecelakaan di laut lepas. Jasad Hana tidak ditemukan bersama beberapa orang lainnya. Aku shock berat. Aku tidak mampu berpikir rasional lagi. Rasanya hidupku hancur setelah kepergian Hana. Hiks… Hiks… Hiks…", jelas Yoochun terhenti oleh isak tangisnya yang membuncah dari hatinya itu.
Sungmin memeluk Yoochun, berharap kehangatan tubuhnya bisa mencairkan suasana dingin yang merasuk kalbu namja itu.
Yoochun menarik napas panjang. "Semua jadi berantakan. Aku kehilangan pekerjaanku. Tetangga mencibirku. Tak ada lagi yang percaya kepadaku. Aku hancur seketika. Terutama setelah dokter mengatakan bahwa aku mandul. Kehilangan satu anak sudah sangat memukul perasaanku. Sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan lain. Aku… Aku benci Jungsoo. Ia membuatku seperti ini. Ia membunuh Hana. Ia pembunuh. Aku membencinya!"
PLAAAK!
Sungmin menampar wajah Yoochun sekeras amarahnya yang meluap-luap. "Berhenti menjadi pengecut! Ini semua bukan kesalahan siapapun. Semua ini TAKDIR Tuhan! Kamu pikir istrimu tidak terpukul dengan kejadian ini. Ia mengandung Hana selama sembilan bulan, merawatnya dari masih merah hingga berumur tujuh tahun, lalu Anda menyalahkannya? Hah! Anda memang pengecut! Bukan salah Jungsoo jika Anda menjadi lemah dan hancur seperti ini. Andalah penyebab semuanya. Sekarang Anda menyakiti istri Anda, apa manfaatnya? Hana pasti sedih melihat kelakuan ayahnya seperti ini. Kalau ia mampu, ia pasti akan membawa ibunya pergi dari Anda.", bentak Sungmin, tak lagi memikirkan bahwa bahasa yang ia pakai terlalu formal saat ini. Amarahnya sudah tak bisa dibendung lagi. Kalau saja ia mampu, ia pasti akan menghajar namja di depannya ini hingga babak belur dan membuatnya bersujud memohon ampun pada istrinya itu.
Yoochun mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia memandang wajah Sungmin yang memerah. Setiap kata-kata Sungmin menusuk hatinya. 'Apakah aku sejahat itu?', batin Yoochun bergejolak.
Sungmin menghentakkan kakinya dengan keras. Sungguh ia sudah tak sanggup melihat wajah namja menyebalkan di hadapannya saat ini. Ia sudah terlalu kesal.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?", tanya Yoochun pelan sebelum Sungmin melangkah jauh dari tubuhnya.
Sungmin membalikkan tubuhnya, menatap kepada Yoochun yang masih menundukkan kepalanya. Namja itu terlalu takut untuk melihat wajah murka seorang Lee Sungmin. "Lakukan sesuai hatimu berbicara. Berikan kebahagiaan kepada istrimu. Bertanggungjawablah atas semua kesalahanmu. Aku yakin istrimu pasti akan memaafkanmu. Mulailah kehidupan baru, karena aku yakin Ahjussi akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini.", nasihat Sungmin sebelum pergi meninggalkan Yoochun sendirian di bangku taman itu.
Setelah kepergian Sungmin, Yoochun mengambil batang rokoknya, menikmati satu batang rokok itu sambil menatap langit. "Hana, berbahagialah. Appa akan bahagia di sini, chagiya. Mianhae. Jeongmal mianhamnida.", lirih Yoochun saat airmatanya kembali mengalir dari sudut matanya.
Sungmin menelan ludahnya pahit saat sepasang bola mata besar memandangnya dengan tajam. Bulu kuduknya seketika berdiri diiringi dengan keringat dingin di sudut pelipisnya. "Kemana saja? Lama sekali?". Kerongkongan Sungmin terasa terbakar. Ia sulit mengucapkan satu patah kata pun. "Appa tanya, kamu kemana?".
"A-Aku… Aku…", jawab Sungmin terbata-bata.
"Kamu bertemu dengan ahjussi mesum itu lagi.", celetuk Kyuhyun membuat tubuh Sungmin kaku seketika. "Aku melihatmu berbicara dengannya di taman.", lanjut Kyuhyun santai.
Sungmin melemparkan pandangan sebal ke arah namja itu. Seakan tidak peduli, Kyuhyun tetap asyik menyesap minuman soda di tangannya itu. Youngwoon membelalakkan matanya saat mendengar penuturan Kyuhyun. Ia menepuk sofa di sebelahnya seraya meminta Sungmin untuk duduk di sampingnya. "Coba jelaskan kepada Appa, chagi. Kenapa kamu mau bertemu dengan ahjussi pervert itu?", tanya Youngwoon dengan suara yang sudah melembut.
Sungmin memainkan jari-jemarinya di samping Youngwoon. Ia tidak berani menjawab pertanyaan itu dengan lantang. Rasa bersalah berdesir di hatinya. "Mi-mianhae, a-appa. Minnie hanya merasa, merasa kasihan padanya. I-ia terlihat sangat, sangat depresi.", jawab Sungmin terbata-bata.
Youngwoon mengangguk-angguk seakan mengerti posisi Sungmin saat itu. Namja paruh baya itu mengelus rambut anak kesayangannya. Sungguh ini pertama kali baginya untuk merasakan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada anaknya. "Hm... Jadi apa yang membuatmu kasihan padanya?".
Sungmin menolehkan wajahnya ke hadapan Youngwoon. "Appa tidak marah?", tanya Sungmin tak percaya.
Youngwoon mengangguk pasti. "Ne, jadi ceritakanlah."
Sungmin mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa senang atas balasan sikap dari Youngwoon. "Appa, ternyata namja itu kehilangan anaknya yang meninggal karena kecelakaan. Ia merasa aku mirip dengan anaknya itu. Selama bertahun-tahun ia depresi, sehingga hidupnya rusak.", jelas Sungmin antusias.
'Seperti tahu tentang kisah ini.', terka Youngwoon dalam hati.
"Namja ini terus menyalahkan istrinya karena dianggap telah membunuh anaknya. Appa, istri namja ini sungguh kasihan. Ia disiksa lahir batin oleh namja ini. Brr... Menyeramkan!", lanjut Sungmin penuh penghayatan. Yeoja imut ini tidak menyadari bahwa Youngwoon berpikir keras tentang kisah ini. Youngwoon merasa kisah ini tidak berbeda dengan kisah seseorang.
"Min, apa kamu tahu nama anak dan istri namja itu?", tanya Youngwoon takut-takut. Ia berharap dugaannya salah.
Sungmin mengangguk mantap. "Ne. Namanya Ha-"
"MWOOOO? Okay. Okay. We will go there now!", teriak Kyuhyun dari dapur. Namja tampan itu segera menghampiri ayah-anak itu, memotong pembicaraan keduanya.
Youngwoon dan Sungmin terlihat penasaran saat mendapati mimik wajah Kyuhyun yang panik dan cemas. Perasaan buruk menyentuh hati nurani keduanya. "Siwon membuat keributan di bar!", jelas Kyuhyun, membuat keduanya menjerit kaget.
.
(o.O)...::YuyaLoveSungmin::...(ToT)
.
BRAAAK!
BUUUK!
DAAAK!
SREEET!
PRAAANG!
Suara-suara berisik mendominasi suasana di dalam Danke Bar. Kondisi bar ini sudah sangat berantakan. Meja dan kursi dimana-mana. Pecahan kaca—entah dari botol minuman, gelas, piring atau pajangan kaca lainnya—menghiasi lantai bar ini. Beberapa host wanita meringkukkan tubuh mereka di pojok ruangan, menjerit-jerit saat beberapa barang lagi-lagi hancur berantakan menghantam barang lainnya. Terlihat jelas bahwa yeoja-yeoja itu ketakutan, berharap ada yang menolong mereka dan membawa mereka pergi dari tempat itu.
Seorang namja tengah berada di dalam perkelahian ini. Ia berada di antara puluhan orang yang mengepungnya. Namja gagah itu melakukan Ap Chagi (Tendangan depan ke arah perut menggunakan kaki depan) pada seorang lawannya, membuat lawannya tersungkur di atas lantai. Siwon—namja yang tengah berkelahi—melakukan Hengek (menunduk) dibarengi oleh Dollyo Chagi (Tendangan dari arah samping) saat dua orang lawannya menyerang dari arah belakang dan sampingnya. Syukurlah refleks tubuh namja ini sangatlah baik, sehingga ia tidak mendapatkan ancaman yang terlalu berbahaya.
BRAAAK!
Siwon mengeluarkan semua jurusnya; Momtong Jireugi (Pukulan Mengarah ke Tengah Ulu Hati), Are Jireugi (Pukulan ke bawah), Oreon Jireugi (Pukulan Dengan Tangan Kanan Yang Dilakukan Sambil Menendang), Eolgol Jireugi (Pukulan Mengarah ke Kepala), dan sebagainya. Napasnya mulai tersengal-sengal. Seluruh tenaganya terkuras karena terlalu banyak lawan yang harus ia lumpuhkan. Apalagi jika lawan-lawan itu mulai menyentuh yeoja yang ia lindungi di belakang tubuhnya itu. Sebagai pemegang sabuk hitam, ini masih terlalu sulit untuk diselesaikan.
BUUUG! Sebuah jurus Twieo Yeop Chagi (Tendangan samping yang dilakukan sambil melompat) mengenai punggung Siwon, membuat namja tegap itu tersungkur ke atas lantai di depannya.
"Aargh!", jerit seorang yeoja. Seorang namja kekar menarik rambut yeoja manis itu.
Siwon mengerang kesal. Ia tidak tega melihat yeoja itu harus disakiti dan dilecehkan seperti itu. BRAAAK! BUUUG! Tubuh Siwon ditendang berkali-kali oleh dua orang lawannya. Pukulan pun tak lepas dari wajah namja tampan itu. Memar dan darah menghias di setiap inchi tubuh kekarnya. Siwon bergetar. Ia terlalu lelah untuk melawan lagi. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya menahan pergerakannya, terutama lawan-lawannya tanpa henti memberikan pukulan pada namja itu. Mereka memanfaatkan kondisi terlemah milik Siwon.
Seorang yeoja cantik dengan pakaian mewahnya sedang tersenyum senang di pojok ruangan. Ia hanya menatap kekacauan itu dengan hati senang. Seringaian bak iblis itu membuat semua orang yang melihatnya pasti merinding setengah mati.
TAK!
TAK!
TAK!
Yeoja itu melangkah ke dekat pemeran utama dari drama yang telah ia ciptakan. Yeoja cantik itu mengelus pipi sang yeoja manis dengan tatapan menusuk seakan ingin membunuh yeoja di hadapannya itu. "Bagaimana Jungsoo? Apa kamu masih akan mempertahankan suamimu itu? Sudahlah menyerah saja.".
"Aku tidak akan pernah menyerahkan orang yang paling aku cintai. Terlebih lagi kepada yeoja jahat sepertimu, Junsu.", balas Jungsoo dengan nada sinis yang tak kalah menakutkan.
Junsu mencengkram kedua pipi Jungsoo dengan keras, tak membiarkan yeoja manis itu berkutik dari ancamannya. "Apa kau bilang? Kamu masih berani melawanku?".
Jungsoo menyeringai. "Cuih!". Tanpa diduga oleh Junsu, yeoja manis itu meludah ke wajah cantiknya. Junsu terlihat sangat geram. Ia tidak akan bersikap sabar lagi. CTAK! Sebuah pisau lipat teracung di depan wajah Jungsoo. "Sepertinya kematian adalah hal terbaik yang kamu inginkan, ya Park Jungsoo.", bentak Junsu lantang.
"NO WAAAAY!", teriak Siwon, memberontak. Kedua tangan Siwon dicengkram dengan sangat kuat, membuat namja itu tidak bisa bergerak sama sekali. "Tolong, jangan lakukan itu!", pinta Siwon dengan nada memohon secara tulus.
"Kau pikir aku akan mendengarkanmu, bocah!", tolak Junsu dengan wajah iblis yang telah melekat pada dirinya. Ia sudah tidak ingin membuang waktu. Satu hal yang ingin ia lakukan saat ini, melenyapkan Jungsoo dari kehidupan Yoochun secepatnya. SREEEET! Junsu mengangkat pisau lipat itu tinggi-tinggi, bersiap-siap untuk menusuk perut Jungsoo hingga mati.
JLEEEEB!
"Arrgh!".
.
.
FLASHBACK
[Siwon's POV]
.
.
Aku berdiri termangu, menatap kosong ke depanku. Aku masih memikirkan masalah Sungmin. Kasihan sekali yeoja itu. Tangannya memar karena dicengkram oleh namja mesum yang menyangkanya sebagai anak namja itu. Aku penasaran. Aish! Apalagi Kyuhyun yang menjadi pahlawannya siang itu. Ah, kenapa bukan aku yang menolongnya? Aku tersenyum kecil. Ehm... Sebelumnya mereka berciuman di rumah. Hhe... Romantis sekali. Kapan-kapan aku juga ingin merasakan bibir plump merah itu. Sungmin pasti tak akan menolakku. Jelas-jelas ia menyukaiku. Kamu akan kalah oleh pesonaku, Kyu.
TRAAAK!
Aku terbangun dari lamunan mesumku. Astaga Tuhan! Aku tak tahu jika ada seorang yeoja di bar-ku sedang menangis tersedu-sedu. Aku melihat ke sekelilingku, bingung harus melakukan apa.
"One glass of vodka!", pinta yeoja itu sambil membanting gelasnya di atas meja bar.
Aku menyiapkan minuman yang dibutuhkan. Yeoja itu meneguk seluruh isi gelas itu tanpa rasa canggung atau menyekat di tenggorokannya. Ia terlihat sudah sangat terbiasa dengan minuman itu. Eh? Tadi dia minta apa? Vodka? Ommo! Setahuku, vodka memang terbuat dari bahan dasar kentang, walau akhir-akhir ini sering dibuat dari padi-padian atau gandum (bahan dasar whisky). Tapi Vodka Russia klasik memiliki kandungan alkohol murni sebesar 80% dari isinya. Oh my! Yeoja ini... Aku tidak bisa berkata apa-apa selain HEBAT.
"Hik... Ah... Hik... Hik...". Suara cegukan terdengar dari bibir yeoja itu. Ia terlihat sangat mabuk saat ini. "Aku kesaaaaaal!", jeritnya mulai tak terkontrol.
Oh, Tuhan! Jangan katakan aku akan bermasalah dengan yeoja ini.
"Aku kesal, Siwonie!", ucapnya memanggil namaku. Ya, yeoja ini adalah salah satu host bar kami. Ia adalah satu-satunya host yang hanya menemani pelanggan minum, tanpa harus mendesah di bawah selangkangan para namja stress itu. Wajar sekali jika ia mengenalku, karena kami sudah saling berkenalan sebelumnya.
"Siwonnie!", rajuknya seperti anak kecil. Ia terlihat seperti Sungmin kalau begini. Aku hanya bergumam sebagai jawabannya. "Dengarkan curhatanku ya?".
"Ne.", jawabku singkat, masih asyik membersihkan gelas-gelas minum.
"Suamiku berselingkuh!". BRAAAK! Yeoja itu memukul-mukul meja dengan gelas di genggamannya. Aku menarik gelas itu sebelum pecah berantakan. Bisa gawat kalau yeoja ini memecahkan satu gelas berhargaku. Siapa pula yang akan membayar. Menyusahkan.
"Ia menghamili seorang yeoja pelacur. Ia benar-benar bejat. Aku benci padanya.", curah yeoja itu tak peduli dengan keadaan bar yang memang selalu ramai ini.
Hening.
Tidak ada pembicaraan apapun.
Eh, apakah ia sudah selesai melakukan sesi curhatnya?
"Hiks... Dia menghamili yeoja itu. Dia... Dia menghamili yeoja itu. Aku... A-aku... Hiks... Merasa telah gagal memuaskannya. Hiks... Yoochun menyebalkan. Huaaa... Setiap malam ia selalu pergi menikmati kehidupannya. Ia memaksaku menjajakan diri selama ia bersenang-senang. Ia... Ia akan datang kepadaku jika ia kesal dan kesepian.", lanjut yeoja itu sambil menangis, namun terdengar amarah yang besar dari cara bicaranya. BRAAAK! Kali ini ia hanya mengantamkan lengannya di atas meja bar. "Yoochun menyebalkan. Ia selalu memakaiku dengan kasar. Ia melukai tubuh dan batinku. I-ini... Semua ini bukan salahku. Bukan aku yang membunuh Hana. Ke-kenapa... Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa Yoochun menyiksaku seperti ini? Hiks... Hiks...", lanjut yeoja itu penuh amarah, penyesalan, sakit hati dan kesedihan yang bercampur jadi satu. Aku sulit menggambarkan suasana hatinya secara tepat. "Aku sudah lelah hidup seperti ini", lirihnya sangat pelan, namun masih bisa aku dengar dengan jelas.
Kasihan sekali yeoja ini. Apakah seberat itu penderitaannya? Aku benar-benar merasa hidupnya sangat menyulitkan dirinya. Aku ingin membantu, tapi membantu apa?
"Lihat ini Siwon! Ini Hana. Anakku berusia tujuh tahun.", kata yeoja itu sambil menunjukkan foto seorang anak perempuan yang memakai liontin berbentuk lotus dengan batu zamrud berwarna hijau di tengahnya. Aku hanya mengangguk seakan mengerti dengan ceritanya. Yeoja itu memeluk foto anaknya dengan penuh kasih sayang. Terlihat jelas bahwa ia merindukan yeoja kecil itu.
"Siwon, could you clean up table number three?", pinta manajer sambil menunjuk sebuah meja yang tak berpenghuni itu. Ah, apakah host itu sudah berhasil pindah ke kamar 'private' mereka? Hehe…
"Okay, sir!", jawabku sigap. Aku mengambil beberapa peralatan bersih-bersih, meninggalkan yeoja itu dengan beberapa namja-yeoja yang juga masih asyik dengan kegiatan mereka di meja bar itu.
"Aah... Ouch! Tholong, janghan tuanh... Mm... Please, stop! Aah!".
Aku mendengar desahan-desahan aneh di dekat meja bar-ku, saat aku hendak mengembalikan semua peralatan kebersihan. Aku bergegas menuju wilayah jajahanku itu, sebelum sebuah masalah menjadi besar. Mataku terbelalak kaget. Yeoja itu tengah dijamah oleh tiga orang sekaligus. Seorang namja meremas payudara yeoja itu. Seorang namja lainnya asyik menjilati leher jenjang yeoja itu. Terakhir, namja lainnya sedang asyik melumat bibir bengkak yeoja itu. Sedangkan korban mereka sudah menggeliat antara nikmat dan risih karena perlakuan ketiganya. Tanganku mengepal keras. Ini pelecehan seksual. Argh! Aku tak tahan membiarkan hal ini terjadi di hadapanku.
BUUUG! PLAAAK! BRAAAAK! Aku memukul ketiga namja itu dengan seluruh tenaga yang aku milik. Ketiganya terdorong jauh, mengusap bagian tubuh mereka yang terkena bogem mentah milikku. "Kalian dengar kan kalau ia minta kalian berhenti. Ia tidak suka dengan sikap kalian, brengsek!", bentakku kesal.
Yeoja itu terlihat mengatur napasnya yang terputus-putus. Sepertinya tiga namja itu sudah terlalu lama melakukan tindakan mesum mereka, sampai-sampai membuat paru-paru yeoja itu kosong.
"MINUM!", perintahku pada yeoja yang sedang hangover itu. Aku memberikan satu gelas ramuan khas Polandia yang sering digunakan untuk mengatasi mabuk. Sebenarnya intinya sama, yaitu menggunakan cairan asam untuk menetralisirkan efek alkohol. Aku hanya memberikan jus acar yang dicampur dengan vinegar atau cuka apel. Hm... Nampaknya sedikit berguna, karena yeoja itu tidak terlihat semabuk sebelumnya. Yah, siapa sih yang bisa menahan gejolak vodka pada tubuhnya sebelum mempersiapkan diri mereka? Ckckck... Yeoja ini benar-benar gila!
BRAAAAK! Tubuhku terhuyung menabrak sebuah meja di depanku. PRAAAANG! Gelas dan botol di atas meja itu berhamburan, tatkala tubuhku ditarik ke belakang. BUUUG! Sebuah pukulan mengenai perutku. Ah ini mulai serius. Ayolah!
.
.
FLASHBACK END
[Siwon's POV END]
.
.
"Aargh!", jerit seseorang saat pisau itu menusuk ke dalam tubuhnya.
"Jangan berbuat bodoh, Kim Junsu!", cegah Youngwoon. Sayangnya Youngwoon datang di waktu yang tidak tepat. Junsu sudah mengerahkan semua tenaganya pada pisau lipat itu. Youngwoon tidak bisa menghentikan tindakan Junsu sehingga pisau itu tetap menusuk tubuh seseorang. Untungnya bukan tubuh Jungsoo, tapi tubuh salah satu orang bayaran Junsu. Beruntungnya, namja itu hanya tersusuk di pahanya, bukan di perutnya.
PLAAAAK! Youngwoon menampar wajah sepupu tersayangnya hingga pipinya berwarna merah. Youngwoon sangat menyesali sikap Junsu. Ia benar-benar kesal karena sepupunya itu telah menyakiti yeoja yang ia cintai. Ia tidak habis pikir kenapa yeoja cantik itu bisa menjadi sejahat ini.
"Oppa?", ucap Junsu pelan sambil memegang pipinya yang berdenyut nyeri. Rasa bersalah melesak masuk ke dalam hati kecilnya.
"Ck... Berantakan sekali.", keluh Kyuhyun saat ia menjejakkan kakinya di dalam Danke Bar. Kyuhyun sibuk memandang ke sekelilingnya, memperhatikan kondisi bar yang sangat buruk itu.
"Ommo! Siwonnie!", jerit Sungmin, mendapati Siwon yang terduduk lemas—masih dikelilingi oleh orang-orang bayaran Junsu. Sungmin ingin sekali mendekap namja babak belur itu—jelas sekali namja itu sudah tidak setampan biasanya—tapi ia dihalangi oleh orang-orang besar itu. Sungmin terus berusaha mendekati Siwon, walau mereka juga kekeuh melarang yeoja itu.
BRAAAK! "Akh!".
Tubuh Sungmin terpelanting cukup jauh, hingga membentur sisi meja. Pelipisnya terluka. Kyuhyun yang sedang membantu para host melarikan diri, bergegas ke sisi Sungmin. Youngwoon yang berdiri di dekat tempat Sungmin terjatuh, segera membantu yeoja imut itu untuk berdiri. Ia memapah Sungmin agar yeoja itu duduk bersama Jungsoo di sofa sudut ruangan. Youngwoon terperajat kaget saat mengetahui Sungmin terluka. Youngwoon menyeret kakinya ke arah para namja pelaku utama dari luka Sungmin. Kyuhyun sendiri sibuk memperhatikan luka Sungmin dan Jungsoo. Calon dokter muda itu mencari beberapa obat P3K yang mungkin bisa ia gunakan.
"Katakan! Siapa yang memukul anakku?", tanya Youngwoon posesif. Ia menarik kerah salah satu orang bayaran Junsu.
Tak ada jawaban.
"Cepat katakan siapa yang melukai anakku?", tanya Youngwoon sudah di puncak amarahnya.
BUUUG! "Aku! Rasakan sakit seperti anakmu itu, ahjussi pincang!", hina seorang namja bayaran Junsu. Youngwoon terjatuh dengan keras.
PLAAAK! PLAAAK! PLAAAK! PLAAAK! PLAAAK!
Bunyi tamparan yang keras saling sahut menyahut ketika yeoja cantik itu melayangkan jari tangannya ke atas pipi namja-namja bayarannya itu. "Jangan pernah sakiti oppa-ku. Apalagi menghinanya seperti itu. Kalian akan mendapatkan ganjarannya. Camkan itu!", bentak Junsu tak terima melihat kakaknya dihina dan disakiti seperti itu. Ia berusaha membantu Youngwoon untuk berdiri, lalu membiarkan Siwon ikut bergabung dengan Sungmin, Jungsoo dan Kyuhyun.
"Kita harus bicara!", ajak Youngwoon, menarik Junsu menjauh dari keempat orang lainnya. Junsu hanya menurut perintah sang kakak dengan wajah pucatnya. Ia sudah tahu jelas bahwa Youngwoon akan sangat marah kali ini.
.
(^.^)/ …::YuyaLoveSungmin::… \(^.^)
.
CKIIIT! Suara mobil direm terdengar sangat nyaring, membuat penumpangnya hampir menabrak dasbor di depannya.
"Bisakah kamu membawa mobil dengan benar?", marah Yoochun sambil menatap sang supir yang hanya tersenyum lebar menanggapi 'kicauan'nya.
"Nah, Yoochun. Kamu memang harus menentukan siapa yang harus kamu pilih, istrimu atau calon anakmu itu.", usul namja itu sambil mengganti gigi mobil ke posisi netral.
"Aku saja tidak tahu itu anakku atau bukan. Jangan-jangan ia tidur dengan namja lain.", tuduh Yoochun tak beralasan.
PLAAAK! Sebuah jitakan mendarat dengan sempurna di atas jidat lebar Yoochun. "Jangan asal bicara. Kamu bilang dia pemilik hotel itu. Sudah pasti dia yeoja baik-baik. Hanya saja ia tertipu dengan wajah mesummu itu.", sindir namja itu lagi.
"Ya! Yunho! Jangan menghinaku! Sialan kau!", bentak Yoochun tak terima.
BRAAK! Yunho menutup pintu mobilnya, yang kemudian diikuti oleh Yoochun. "Sudahlah. Sekarang kamu pikirkan, mana yang lebih baik. Setidaknya kamu harus bertanggungjawab. Jangan siksa wanita terus-menerus. Kamu akan kena batunya nanti. Hiii… Kalau nanti kamu jadi kakek mesum miskin yang sudah nggak bisa apa-apa dan ditinggal oleh semua orang, aku pasti ikut meninggalkanmu. Ih, anggap saja kita tidak pernah kenal. Ogaaah!", ledek Yunho sambil menjulurkan lidahnya kepada Yoochun.
"Ya! Jung Yunhoooo!", teriak Yoochun tak terima, sambil mengejar Yunho yang mulai menghilang ke dalam Danke Bar.
DUUG! Yoochun menabrak punggung Yunho dengan keras. "Ada apa ini?", tanya Yunho tak percaya dengan penglihatannya. Salah satu bar miliknya telah berubah menjadi puing-puing tak berharga, dimana semua barang tidak pada tempatnya, apalagi beberapa orang tergeletak tak sadarkan diri. Kepala Yunho terasa panas. Ia tidak terima jika bar miliknya menjadi seperti ini. Tanpa mempedulikan Yoochun yang juga bingung, Yunho bergegas menuju ruangan manajernya. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Yoochun melangkahkan kakinya pelan menuju pusat masalah malam ini. Ia terlihat cemas, mengkhawatirkan seorang yeoja yang sampai detik ini masih sangat ia sayangi. Mata Yoochun terbelalak kaget saat ia melihat Jungsoo terduduk lemas di salah satu sofa.
"Jungsoo-ah, gwenchana?", tanya Yoochun cemas. Ia benar-benar khawatir kali ini. Yoochun mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh pipi tirus istrinya itu.
Jungsoo menepis tangan Yoochun sebelum namja itu sempat menyentuhnya. "Jangan sentuh aku, biadab. Aku sudah lelah menjadi budakmu. Aku… Aku… Aku masih mencintaimu, Chunnie. Tapi kenapa kamu terus menyakitiku? Kenapa?", ujar Jungsoo penuh kepedihan hatinya. Ia sudah tak mampu lagi menampung semua rasa sakitnya selama ini. Ia harus mengeluarkannya sebelum rasa sakitnya ini membusuk bersamanya di dalam tanah.
Dada Yoochun terasa sesak. Baru sekarang ia mendengar kata penolakan dari istrinya yang manis. Jungsoo menangis keras, membuat hati Yoochun tercabik-cabik. Ia bingung harus berbuat apa.
"Peluklah. Utarakan apa yang ahjussi rasakan. Semoga berhasil.", bisik Sungmin memberi kekuatan kepada Yoochun. Sungmin membantu Kyuhyun untuk memapah Siwon agar mereka bisa memberika privasi kepada dua insan ini.
Yoochun mengikuti saran Sungmin. Ia mendekap Jungsoo dengan erat, berusaha tidak mempedulikan Jungsoo yang meronta-ronta. Yoochun mengelus punggung Jungsoo, membagi perasaannya kepada yeoja manis itu. "Mianhae. Jeongmal mianhae, chagiya.", ucap Yoochun dengan tulus.
Jungsoo tertegun mendengar kata-kata Yoochun. Ini pertama kalinya untuk sekian tahun ia mendengar panggilan sayang secara tulus dari Yoochun-nya. Tanpa Jungsoo sadari, ia membalas pelukan suaminya itu, menangis terharu.
"Maafkan semua kesalahanku. Aku terlalu bodoh karena terus-menerus menyalahkanmu. Seharusnya aku ikut menguatkanmu, Jungsoo-ah. Tolong maafkan aku.", mohon Yoochun dengan merendahkan dirinya serendah mungkin. Ia benar-benar merasa bersalah sekali.
Jungsoo melepas pelukannya, melemparkan pandangannya ke dalam retina mata Yoochun. Jungsoo mendapati kejujuran di sana. Ia mengangguk berkali-kali, menjawab permohonan maaf suaminya itu.
Yoochun tersenyum senang. "Jinjja?", tanyanya tak percaya. Jungsoo mengangguk lagi. "Aku senang sekali. Jeongmal kamsahamnida. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan selalu membahagiakanmu. Aku… Hmmph!"
Ucapan Yoochun terpotong oleh kecupan dari Jungsoo. Keduanya memagut bibir pasangannya dengan penuh cinta, tanpa napsu, hanya ada perasaan kasih yang selama ini mereka pendam masing-masing. Yoochun melumat bibir atas Jungsoo yang disambut oleh lumatan pada bibir bawahnya. Keduanya berbagi saliva saat lidah Yoochun berhasil masuk ke dalam mulut Jungsoo. Desahan Jungsoo membuat Yoochun tersenyum senang. Sudah sangat lama bagi namja ini untuk mendengarkan kembali desahan seksi dari bibir indah istrinya itu.
"Aaaah…", desah Jungsoo setelah ia menarik tubuhnya menjauh dari Yoochun. Jungsoo harus mengakhiri ciuman menggairahkan itu, sebelum mereka terbawa napsu dan mempermalukan dirinya sendiri. CUP! Jungsoo mengecup bibir Yoochun sekilas. "Berhentilah membuat janji. Lebih baik kita mulai dari awal lagi ya.", ujar Jungsoo bijak.
Greeep! Yoochun memeluk tubuh Jungsoo. Ia mengangguk dalam pelukannya. "Ne. Gomawo. Jeongmal gomawoyo!", ucapnya penuh rasa syukur.
"Jungsoo/Yoochun!".
Sepasang suami-istri itu segera melepas pelukan mereka saat nama mereka dipanggil. Keduanya terlihat sangat canggung saat orang lain memergoki kemesraan mereka. Jungsoo mengernyitkan dahi seketika, bersamaan dengan tatapan tajam yang ia layangkan kepada Junsu.
"Aku akan bicara dengan Junsu sebentar.", bisik Yoochun kepada Jungsoo. Ia mengecup pipi Jungsoo sebelum melangkah menghampiri Junsu. "Tolong jaga istriku sebentar.", ucap Yoochun kepada Youngwoon.
Youngwoon segera mengajak Jungsoo pergi, meninggalkan kedua orang itu untuk menyelesaikan masalah mereka. "Aku tidak mau. Biarkan aku mendengarkan pembicaraan mereka.", tolak Jungsoo. Saat ini Jungsoo sangat membenci yeoja itu. Ia tidak ingin yeoja genit itu mengambil Yoochun dari sisinya. Ia tidak akan pernah rela.
"Ayolah. Biarkan mereka bicara. Beri mereka waktu, Jungsoo.", ucap Youngwoon bijak. Ia sedikit menarik tangan Jungsoo agar mau berdiri. Beberapa tarikan paksa dari Youngwoon dan tatapan memohon dari Yoochun, membuat Jungsoo menyerah. Ia pasrah mengikuti keinginan kedua namja itu.
"SUNGMIN!", panggil Youngwoon kaget saat matanya menemukan sosok gadis muda yang sangat ia sayangi itu.
"Appa!", jawab Sungmin, sambil membalikkan tubuhnya, menghampiri Youngwoon. Sungmin membantu Youngwoon dan Jungsoo berjalan ke sofa mereka.
Youngwoon mengalihkan pandangannya ke arah Siwon yang tergeletak tak berdaya. "Ommo! Cepatlah pulang. Siwon terlihat tidak baik. Pulanglah lebih dulu. Nanti appa pulang menyusul.", perintah Youngwoon tak tega.
"Baiklah. Aku akan memanggil taksi dulu.", usul Kyuhyun yang keluar bar terlebih dahulu. Tak selang beberapa lama Kyuhyun telah kembali dengan wajah sumringah. Sepertinya ia berhasil mendapatkan taksi dengan mudah di tengah malam seperti ini.
"Hati-hati ya! Tolong jaga Siwon dengan baik.", kata Youngwoon sebelum Kyuhyun dan Sungmin memapah namja kekar itu keluar bar.
"Tidakkah Sungmin terlihat seperti Hana, Jungsoo-ah?", tanya Youngwoon sedikit penasaran. Ia sadar bahwa namja mesum sebelumnya itu Yoochun.
"Eh?", kaget Jungsoo karena tiba-tiba ditanyai perihal anaknya lagi. Jungsoo mengangguk pelan. "Sedikit mirip, tapi aku tidak merasakan getar apapun dalam hatiku. Hana adalah gadis mungil dengan pipi tembamnya, kulit putih, dan mata sipit jernih. Aku rasa ia bukan Hana, anakku. Aku masih percaya bahwa Hana masih hidup. Bantulah aku untuk ikut percaya, Woonie.", ujar Jungsoo bijaksana. Sekarang ia tidak ingin menanggapi persoalan ini dengan hati kalut lagi, ia tidak ingin masalah ini kembali menjadi runyam. Ia hanya ingin kembali bersama suaminya tercinta.
Youngwoon menggenggam tangan Jungsoo, ingin menyalurkan rasa percayanya kepada yeoja manis itu. "Ne. Aku selalu percaya.", jawabnya tegas. "Jungsoo-ah.", panggil Youngwoon pelan. Terdengar keraguan dalam suaranya.
"Hem…", jawab Jungsoo tidak terlalu fokus.
"Apakah kamu akan kembali bersama dengan Yoochun dan melupakan semua perasaanku?", tanya Youngwoon memerlukan kepastian.
"Hah?". Jungsoo melemparkan pandangan terkejut dan bingung kepada Youngwoon.
"Mianhae, appa! Aku butuh kunci apartment appa.", potong Sungmin. Yeoja itu tidak tahu bahwa sepasang manusia ini sedang membicarakan masalah perasaan yang sangat serius. "Eh, maaf aku memotong pembicaraan kalian. Kyuhyun sudah marah besar. Ia khawatir dengan kondisi Siwon.", lanjut Sungmin saat mendapati kedua wajah paruh baya itu terlihat canggung dan tegang.
'Aduh, Sungmin. Kamu menghancurkan moment-ku.', batin Youngwoon menyesal. "Ini", katanya singkat sambil memberikan kunci kepada Sungmin. Mood namja paruh baya ini sudah hilang entah kemana.
"Makasih, appa! Annyeong! Oh, ya lanjutkan lagi pembicaraan serius kalian ya. FIGHTING APPA!", teriak Sungmin sambil berlari keluar bar itu. Sungmin tersenyum kecil. 'Semoga berhasil mendapatkan hati yeoja impianmu, appa.', doa Sungmin dalam hatinya.
BRAAAAK!
Sungmin menabrak seseorang, membuat orang itu terjatuh di atas lantai luar bar. "Ah, maaf. Maaf! Maaf!", ujar Sungmin sambil menundukkan kepalanya berkali-kali.
"Ya! Kalau jalan lihat-lihat dong.", marah orang itu. Ia berusaha bangun dari posisi tidak elitnya.
Sungmin mengulurkan tangannya, berusaha membantu orang itu berdiri.
"Sungmin/Boss?", kaget keduanya saat baru menyadari siapa yang mereka tabrak sebelumnya.
Bulu kuduk Sungmin berdiri seketika. Ia menelan ludah kecut. Napasnya memburu. Satu kata yang terpikir dalam otaknya, LARI. Sungmin segera berlari dari hadapan Yunho, membuka pintu depan taksi dengan tergesa-gesa. "Just go now!", perintahnya pada supir taksi itu. Ia tidak peduli bahasa inggrisnya berantakan ataupun Kyuhyun yang terus bertanya ada apa. Sungmin berdoa dalam hati agar ia tidak tertangkap lagi.
"Ah, Sungmin!", sadar Yunho saat Sungmin mulai menghilang dari hadapannya. Yunho segera mengejar Sungmin namun taksi itu sudah melaju dengan kecepatan tinggi. "Ah sial! Mobilku ada di parkiran!", kesal Yunho sambil menatap sendu taksi yang sudah menjauh itu.
Yunho tak habis akal. Ia mengeluarkan ponselnya. "Lee Sungmin masih berada di Berlin. Cepat cari dia sekarang sampai dapat!", perintah Yunho pada orang di seberang telepon itu. "Aku harus mendapatkanmu, Lee Sungmin. Tunggu saja pembalasanku!".
BRAAAK! Kyuhyun membanting pintu apartment itu tanpa peduli jika ia bisa saja mengganggu orang lain di kawasan apartment itu. Kyuhyun dan Sungmin segera memapah Siwon ke sofa terdekat. Kyuhyun mengambil persediaan obat-obatan yang mereka miliki, sedangkan Sungmin segera masuk ke dalam kamar.
"Siwon, kamu harus kuat! Aku yakin kamu bisa. Malam ini kita harus kabur dari sini. Sungmin ditemukan oleh boss preman itu.", jelas Kyuhyun pelan-pelan agar Siwon dapat memahami setiap patah kata yang ia ucapkan.
Siwon mengangguk pelan. "Aku mengerti Kyu. Tolong jangan anggap aku seperti orang lemah. Perban saja semua lukaku dengan baik, lalu berikan aku analgesik-antipireutik (Obat penghilang rasa nyeri). Aku yakin aku bisa melewatinya dengan baik kok. Tenang saja, Kyu.", ucap Siwon tegar. Ia memang tidak banyak mengeluh. Benar-benar seorang namja yang tangguh.
"Aku sudah siap, Kyu!", teriak Sungmin setelah keluar dari dalam kamar dengan tiga tas ransel besar milik mereka. "Aku juga sudah membuat surat kepada Kangin-appa. Semoga ia mengerti keadaan kita.", lanjut Sungmin dengan nada sedih. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan seorang appa baik hati seperti Youngwoon, tapi apa boleh buat. Keadaan memaksa mereka harus melarikan diri lagi.
"Aku yakin ia mengerti, Min. Cepat taruh surat itu, lalu rapikan sedikit apartment ini. Aku akan mengganti pakaian Siwon dulu.", kata Kyuhyun sambil membuka beberapa kancing pada seragam bartender Siwon yang sudah berlumuran darah.
"Huaaa… Iya! Tolong, jangan menelanjanginya di depanku!", jerit Sungmin dengan semburat merah di wajahnya.
Setelah semuanya siap dan rapi, ketiga remaja ini meninggalkan apartment sederhana itu dengan berat hati. 'Maafkan Minnie, appa!', batin Sungmin merasa bersalah.
"Ayo, Minnie! Bantu aku!", panggil Kyuhyun yang sedikit kesulitan memapah Siwon dengan dua tas ransel besar di punggungnya.
"Ah, Mianhae!", jawab Sungmin, segera membantu memapah Siwon di sisi lainnya.
.
.
(x.x) …::TBC::… (O.o)
.
.
#Thanks to:
Karin, eunhae25, bunny's kyumin, yolyol, wonnie, aul, lil-larry, winda1004, I'm Mr.X, , Farchanie, Evilbungsu137, anonim, minnie-minnie-mine, farchanie01, chaoes seth, farkha, choihyekyung, Hikari Hoshigawa, risa-sparkyumin, cho soo ah, anakKyuMin, momimichi, Cho Kyuri Mappanyuki, Anchovy3424, Lee Shurri, Asahi, K my name, SparKyu and Pumkins, icha, hae rin, dan...
SIDERS semuanya#
~mohon diREVIEW ya FFku ini~
Terima Kasih
Annyeong~
