19th
Chapter 12
By Yuya Matsumoto
"She Goes Home"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Farkha Shin as Shin Ha Chan (Sleeping beauty)
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
.
.
#at Seoul Hospital, South Korea#
[Someone's side]
.
.
"Jadi dimana dia?", tanya seorang namja paruh baya tak sabar. Ia menatap sosok wanita yang sedang tidur di atas ranjang dengan gelisah. Namja itu memutuskan untuk keluar dari ruang perawatan, sebelum suara marahnya membangunkan istri tersayangnya itu.
"…."
"Kerjamu cepat sekali ya. Aku baru saja memblokir semua kartu kreditnya. Sekarang kamu sudah bisa menemukannya. Good job.", puji —nama namja paruh baya itu—kepada seseorang di seberang sambungan teleponnya.
"…."
"Hahaha… Iya juga sih. Kadang Kyuhyun memang bodoh, tapi otak jeniusnya tetap bekerja. Setidaknya ia telah menguras habis seluruh tabungannya. Cho muda itu benar-benar niat melarikan diri, membuat seluruh keluarganya susah, bahkan membuat ibunya jatuh sakit. Dasar Cho bodoh!", kata Mr. Cho sarkastik. Ia mengepal tangannya kesal, menyadari kenakalan anak semata wayangnya itu.
"….."
"Cepat jemput dia pulang atau jangan harap kamu bisa datang ke rumah kami lagi.", ancam Mr. Cho sungguh-sungguh.
"…."
"Aku tahu kamu bisa membawanya pulang. Kamu satu-satunya orang yang sangat ia hargai selain aku dan ibunya.", ucap Mr. Cho percaya diri. Senakal apapun seorang anak, pasti ia masih menghormati kedua orang tuanya, bukan?
"….."
"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu selanjutnya. Hati-hati!", kata Mr. Cho mengakhiri pembicaraan singkat itu. Ia memandang ke arah lorong rumah sakit yang sepi namun masih menyisakan pemadangan sibuk dari para perawatnya. Mr. Cho menghela napas panjang. "Maaf, Kyu. Kamu harus menghentikan semua petualanganmu sekarang. Eomma membutuhkanmu, nak.", ucap Mr. Cho pada udara kosong di hadapannya. Ia membalikkan badannya, berjalan masuk ke dalam ruang perawatan istrinya selama beberapa hari ini.
.
.
#Kanonia Hostel, Warsawa#
[Day 8, WonKyuMin's Side]
.
.
Di sebuah kamar penghuninya sedang sibuk membuat kegaduhan di sana-sini. Matahari masih enggan menyapa bumi, namun ketiga orang remaja itu sudah sibuk dengan semua urusan mereka. Seorang yeoja sibuk memasukan masakan buatannya ke tempat makan kecil miliknya. Dua orang namja sibuk merapikan pakaian dan peralatan pribadi mereka. Seorang yeoja lainnya masih sibuk menata impian dalam tidurnya. Suara gaduh terdengar nyaring di setiap sudut ruangan itu. Semoga saja penghuni kamar lain tidak terganggu dengan aktivitas mereka.
"Aku sudah siap.", kata Sungmin memecahkan keheningan di antara ke empatnya. Kyuhyun dan Siwon menutup ketiga tas ransel mereka. Sepertinya keduanya juga sudah siap. "Sekarang bangunkan yeoja itu!", perintah Sungmin kepada kedua namja di hadapannya.
Siwon hanya diam, mengalihkan pandangannya kepada 'sleeping beauty' itu. Kyuhyun memandang yeoja cantik itu jengah. "Biarkan saja ia tertidur. Kita akan kesulitan jika ia mengamuk saat bangun. Aaah~ Biarkan saja!", kata Kyuhyun malas, sambil mengangkat ketiga tas ransel besar mereka ke dekat pintu kamar.
"Ya sudahlah. Biarkan Kyuhyun yang menggendong yeoja itu sampai rumahnya.", kata Siwon pelan sambil melemparkan pandangan remeh kepada Kyuhyun.
Kyuhyun membalikkan badannya, shock mendengar pernyataan Siwon. "Mwo? Shireo!".
"Lalu kamu pikir siapa yang mau menggendongnya sampai kita naik kereta? Aku? Oh, terima kasih, tuan Cho yang terhormat.", sindir Siwon dengan nada sinisnya. Sungmin menggeleng lemah, sepertinya ini akan menjadi 'olahraga' pagi yang merepotkan lagi. Daripada menonton perdebatan tanpa akhir dari Kyuhyun-Siwon, Sungmin memilih untuk melakukan hal lain.
"Lihat di cermin! Badanmu besar berotot seperti kuli panggul di pasar. Menggendong yeoja itu bukan hal sulit bagimu kan?", ucap Kyuhyun mencari alasan. Sebenarnya dia juga tak ingin menggendong yeoja itu. Memangnya yeoja itu siapa? Seenaknya saja.
"Apa urusannya? Yeoja itu urusanmu. Kamu membawanya masuk ke kamar kita. Seharusnya kamu tinggalkan saja dia di depan kamar.", bela Siwon tidak terima.
"Dia akan mati kalau aku tinggal di udara luar seperti itu. Bersikap lebih berprikemanusiaan sedikit saja, bisa kan?"
Siwon mendelikkan matanya. Ia merasa terhina kali ini. "Ya! Maksudmu apa? Dengar ya pendeta agung Cho Kyuhyun. Tidak semua hal itu seperti dongeng di buku. Berakhir indah tanpa masalah. Ini kehidupan. Siapa yang kuat, dialah yang menang.", kata Siwon sambil mendorong bahu Kyuhyun.
Kyuhyun membetulkan letak kacamatanya yang miring. "Jika semua orang berpikir sepertimu, maka tidak akan pernah ada perdamaian di dunia ini.", jawab Kyuhyun singkat dan padat, namun menghantam sisi baik Siwon.
"Kapan kita akan berangkat? Kami sudah siap!", tanya Sungmin, menghentikan tangan Siwon yang hampir saja melayang di wajah tampan Kyuhyun.
Kedua namja itu mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa tak percaya dengan penglihatan mereka saat ini. Di hadapan mereka saat ini, Sungmin dan Shin Ha Chan sedang berdiri menunggu keduanya. Ha Chan menunduk takut di samping Sungmin, memainkan ujung roknya. Sungmin tersenyum ke arah dua namja yang sedang terbengong itu. "Ayo berangkat! Ha Chan sudah tidak sabar untuk pulang.".
.
FLASHBACK
.
"Yeobo, sebenarnya ada apa dengan Ha Chan?.", tanya Nari cemas, sambil memandang ke arah anak perempuannya yang tertidur pulas. "Sebelumnya ia selalu diam dan terus-terusan mengeluh kepalanya terasa sakit. Ia juga merasa tak enak badan. Ia hanya menderita flu biasa kan?".
Shindong merengkuh tubuh mungil Nari, mengelus pelan bahu istrinya itu. "Aku tidak tahu, chagiya. Ha Chan terlihat sangat aneh. Ia selalu merasa lelah dan mengantuk. Kepala Sekolahnya mengeluhkan kebiasaan barunya itu. Ia sering sekali tertidur di sekolah dan mengigau saat ia tidur. Aku tidak tahu harus berbuat apa.", kata Shindong bingung.
Airmata mengalir di atas pipi putih Nari. "Aku takut Ha Chan menderita penyakit yang parah. Apa harus kita bawa saja ke rumah sakit?".
Shindong dan Nari membawa anak semata wayang mereka ke rumah sakit di daerah Gwangju, berharap mendapat kepastian tentang penyakit anak mereka. Di rumah sakit itu, dokter mengatakan tidak tahu pasti apa yang menimpa Ha Chan, tapi mungkin dapat dipicu faktor hormonal. Mereka kembali menemukan jalan buntu. Keduanya pasrah merawat Ha Chan, walau masih tetap mencari informasi yang mungkin dapat membantu penyembuhan Ha Chan.
Sejak itu Ha Chan sering tertidur sampai sepuluh hari. Dia bisa tertidur selama 22 jam, kemudian orangtuanya harus berjuang keras memberinya makan dan mengantarnya ke toilet. Setelah itu, Ha Chan akan kembali tertidur. Yeoja cantik itu tidak bisa berbuat apa-apa selain tidur. Sulit sekali membangunkannya. Orangtuanya akan memaksanya makan, minum atau pun ke kamar mandi saat ia terjaga dari tidurnya. Itu pun jarang sekali terjadi. Ha Chan sering mengigau dan melakukan hal tak masuk akal. Pernah suatu hari Ha Chan berjalan dan berbicara saat orangtuanya berusaha membangunkannya. Setelah sepuluh hari tertidur, ia tidak bisa mengingat kejadian itu.
Shindong dan Nari sudah sangat frustasi menghadapi pola tidur anaknya itu, hingga akhirnya keduanya membawa Ha Chan ke rumah sakit Seoul. Di rumah sakit itu, seorang konsultan memastikan kalau gadis cantik ini mengidap Kleine-Levin Syndrome. Konsultan itu menyarankan kepada Shindong dan Nari untuk membawa Ha Chan ke salah satu rumah sakit di Eropa yang sedang menyelidiki penyakit ini lebih dalam.
Akhirnya kedua orang dewasa itu mengambil keputusan penting dalam hidup mereka. Keduanya memberanikan diri meninggalkan tanah air, hanya untuk membuat anaknya kembali sehat seperti dulu. Mereka tidak peduli jika harus kembali beradaptasi di suatu negara yang mungkin jauh berbeda dari Korea Selatan. "Cepatlah sembuh, nae aegya!", ujar Nari pelan sambil mengelus rambut Ha Chan sayang.
.
FLASHBACK END
.
.
(^o^)9…::YuyaLoveSungmin::…L(*,*)
.
Seorang yeoja cantik terduduk diam di jok belakang taksi yang ia tumpangi. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Sesekali matanya tertutup karena merasa lelah. Ia ingin sekali mengistirahatkan sejenak tubuhnya, namun yeoja imut di sampingnya selalu memaksanya untuk terjaga. Terkadang yeoja itu menjerit frustasi, karena keinginannya terbantahkan. Yeoja imut—Lee Sungmin—tidak hilang akal, ia selalu berhasil membuat yeoja cantik—Shin Ha Chan—terdiam. Sungmin memberikan permen, boneka atau pun mengajak yeoja cantik itu berbincang. Mereka terlihat seperti ibu-anak yang saling menyayangi.
"Kamu belum menjelaskan pada kami. Apa penyakit yang diderita oleh yeoja itu?", kata Siwon sambil melihat ke arah Sungmin dan Ha Chan yang sedang berbincang.
Sungmin menatap wajah Siwon, lalu segera mengalihkan pandangannya kepada Ha Chan. Sungmin sepertinya ingin mendengarkan penjelasan Kyuhyun tanpa harus membuat Ha Chan tersinggung atau teralihkan perhatiannya dari boneka digenggamannya. Saat ini Ha Chan seperti anak kecil berumur empat tahun yang sangat manja dengan boneka teddy-nya.
Kyuhyun membalikkan badannya sehingga ia bisa melihat Siwon yang duduk tepat di belakang joknya. Namja tampan itu menghela napas pelan.
"Sindrom Kleine-Levin adalah penyakit syaraf yang langka dimana penderitanya tidak bisa mengontrol rasa kantuknya. Penderita bisa bangun hanya untuk makan atau pergi ke toilet. Penderita akan selalu merasa capek dan lelah. Ketika penderita bangun, ia akan bertingkah seperti anak kecil karena sebagian memori ingatannya terhapus pada saat penderita tertidur. Ia hanya akan bangun beberapa jam sehari dan merasa ketakutan tiap kali bangun. Wajahnya bagaikan kaca, tanpa ekspresi, kaku dan mudah marah. Dia banyak bicara, ekspresif dan emosional. Tingkahnya seperti anak berusia empat tahun, memeluk teddy-nya, menghisap jari, dan menangis, mengira ia akan mati. Saat ia tertidur panjang, penderita terjebak dalam horor, kadang disertai mimpi menakutkan. Ketika tidur, mimpinya terasa nyata. Sebaliknya ketika terjaga, ia merasa berhalusinasi dan tidak terasa nyata.", jelas Kyuhyun panjang lebar.
Sungmin mengerjapkan matanya berkali-kali, merasa takjub dengan pengetahuan namja di hadapannya itu. Siwon mengernyitkan dahinya, penasaran dengan penyakit yang belum pernah didengarnya itu. Ha Chan terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan sang supir taksi sibuk dengan kendaraannya. Kemungkinan namja paruh baya itu tidak mengerti dengan ucapan para panumpangnya.
"Apa penyebab penyakit aneh itu, Kyu?", tanya Siwon.
Kyuhyun membalikkan tubuhnya, memposisikan dirinya menghadap kaca depan taksi. Ia rasa penjelasannya tidak akan berhenti sampai disitu. Kyuhyun memutuskan untuk mencari posisi paling nyaman untuknya.
"Penyebab pasti KLS masih belum diketahui. Sebagian penelitian di Amerika Serikat mempercayai penyebab KLS adalah mutasi gen atau DNA yang dibawa oleh orangtuanya. Dari penelitian pada 108 penderita didapatkan lebih sering pada jenis kelamin laki-laki. Faktor ras ternyata berpengaruh. Frekuensi KLS enam kali lebih sering pada ras Yahudi daripada ras Kaukasia.", jawab Kyuhyun mendetail.
Siwon mengangguk-angguk seakan mengerti dengan ucapan namja jenius itu. "Pengobatan apa yang bisa dilakukan?", tanya Siwon masih penasaran.
Kyuhyun memutar bola matanya jengah. Ia menghela napas, berusaha sabar untuk menjelaskan penyakit itu kepada Siwon. "Belum ada pengobatan definitif untuk penyakit ini. Beberapa dokter memberikan obat stimulan pada pasien agar tetap terjaga, namun pengobatan ini tidak berhasil pada semua penderita. Menurut para dokter, penyakit ini sering menyerang remaja berusia antara 8 hingga 12 tahun. Dengar-dengar, sindrom itu bisa hilang dengan sendirinya.".
"Kamu yakin penyakit ini bisa hilang sendirinya?", tanya Siwon sambil mencengkram bahu Kyuhyun kuat. Ia benar-benar ingin tahu tentang semua itu.
"Ya! Aku tidak tahu! Berhenti bertanya yang tidak-tidak, Choi Siwon!", bentak Kyuhyun merasa terganggu dengan cengkraman Siwon yang kuat itu.
Tanpa mereka sadari, taksi yang mereka tumpangi telah berhenti di depan sebuah apartment. Sungmin mengalihkan perhatiannya dari pembicaraan kedua namja itu ke pemandangan yang terpampang di luar jendela taksi. "Kita sudah sampai!", ucap Sungmin memecahkan suasana tegang di dalam taksi itu.
Kyuhyun mememastikan keberadaan mereka saat ini. Ia menanyakan kepada beberapa penduduk yang sedang lewat di sekitar mereka. Siwon membantu merapikan tas-tas mereka, sedangkan Sungmin sibuk menyeret Ha Chan keluar dari dalam taksi.
"Shirreo, eomma! Ha Chan takut.", jerit Ha Chan berkali-kali. Mimik wajahnya menyiratkan ketakutan yang besar. "Ha Chan takut sama ular. Banyak ular, eomma.".
Sungmin menghela napas kesal. Ia berdiri diam di samping taksi, mengabaikan jeritan-jeritan dari yeoja cantik itu. Bibir mungilnya sudah mengerucut sedaritadi. Sungmin telah bosan dengan semua halusinasi yeoja cantik itu. "Siwonnie, tolong keluarkan dia dari sini. Aku kesal!", pinta Sungmin tak tertahankan. Ia melangkah pergi, memilih untuk duduk di salah satu anak tangga apartment itu.
Siwon menggelengkan kepalanya pelan. Ia mendekati Ha Chan, mengecup pipi yeoja itu lembut. "Chagiya, kamu harus turun. Kita sudah sampai di rumah. Ha Chan sayang appa, kan?", rayu Siwon dengan jiwa kebapakan yang kental.
Ha Chan menangis dalam diam. Ia menggelengkan kepalanya, bersikeras dengan keinginannya. Siwon membisikkan pelan sesuatu kepada Ha Chan. Tanpa disangka, Ha Chan menuruti permintaan Siwon. Ia turun dari dalam taksi, walau dengan bahu yang terus bergetar hebat. Ha Chan memejamkan matanya, berharap ular-ular itu tak menyerang tubuh mungilnya.
"Sabar, Minnie. Ia sedang berhalusinasi lagi.", ucap Kyuhyun sambil menepuk bahu Sungmin pelan. "Hmm…", gumam Sungmin, tak berniat menanggapi apapun.
'Dia itu kenapa sih? Aku belum pernah melihat Sungmin membenci seseorang sampai seperti ini.', batin Kyuhyun bertanya-tanya.
"Yes. Hello. Who are you? And whom do you want to meet?", tanya seorang yeoja paruh baya dari layar intercall apartment itu. Sebelumnya Kyuhyun sudah menghubungi nomor apartment yang ditulis di dalam kertas alamat itu.
"Is it Mr. Shin's apartment? Can we meet Mr. Shin? There is Shin Ha Chan here.", jawab Kyuhyun to the point.
"Shin Ha Chan?", jerit yeoja itu dari dalam sambungan intercall. CTEEEK! Sebuah pintu kaca terbuka. "Go up at floor 12th.", lanjut yeoja itu memberitahu.
Sungmin dan Kyuhyun membawa ransel mereka dengan tangan Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin. "Tersenyumlah, Minnie. Kamu akan terlihat manis jika tersenyum.", bisik Kyuhyun sebelum mereka melangkah masuk ke dalam ruangan berpintu kaca itu.
Sungmin menghela napas panjang, membuang semua rasa kesalnya yang tak beralasan. "Ne, kamsahamnida, Kyuhyun-ssi!", balas Sungmin dengan senyuman termanis yang ia miliki.
"HA CHAAAAN!", teriak yeoja paruh baya yang tadi menjawab intercall.
Siwon, Sungmin dan Kyuhyun kaget mendengar jeritan itu, karena mereka baru saja menekan bell apartement nomor 126 itu. Yeoja itu langsung menghambur ke tubuh mungil milik Ha Chan. Tangisannya pecah seketika. Rasa hangat menjalar ke dalam relung hati Sungmin. Ia sangat senang melihat keakraban ibu-anak itu. Sebersit rasa bersalah mengusik pikirannya. 'Kenapa aku bisa berpikir jahat kepada anak ini sebelumnya?', tanya Sungmin pada dirinya sendiri.
Ketiga remaja itu duduk di atas sofa dalam ruang tamu kecil milik keluarga itu, sementara ibu tadi membawa Ha Chan ke dalam kamarnya. Siwon telah menjanjikan kasur yang empuk kepada yeoja cantik itu sebagai imbalan jika ia ingin turun dari taksi. Tanpa disadari ketiganya, ada sepasang tangan yang masih bertaut sejak tadi. Sungmin dan Kyuhyun masih berpegangan tangan, menyalurkan kehangatan masing-masing.
BRAAAAK! Pintu masuk apartment itu terbelalak lebar, menampilkan dua sosok manusia yang langsung masuk ke dalam apartment tergesa-gesa. Keduanya tidak menghiraukan tiga orang lainnya di dalam ruang tamu yang sedang melongo bingung melihat pemilik rumah. Tak selang beberapa lama yeoja, yang menjawab intercall mereka sebelumnya, keluar dari dalam kamar Ha Chan. Ia menawarkan minuman kepada ketiganya yang disambut dengan gembira oleh mereka.
"Jadi kalian yang menemukan Ha Chan?", tanya seorang namja bertubuh bongsor, memecahkan keseriusan ketiga remaja itu saat meneguk minuman mereka.
Siwon hampir saja tersedak minumannya. "Jeosonghamnida. Maaf, aku mengejutkan kalian. Namaku Shin Donghee, appa Ha Chan. Aku lihat wajah oriental kalian kental sekali nuansa Korea, jadi aku menggunakan bahasa Korea. Sekali lagi maaf. Aku hanya terlalu senang.", jelas namja bertubuh tambun itu.
Sungmin dan Kyuhyun hanya tersenyum kaku, menanggapi semua ucapan Shindong yang cepat bagaikan kereta itu. "Kalian sedang berlibur di sini atau akan menonton pertandingan EURO bulan Juni nanti?", tanya Shindong lagi, tanpa mempedulikan tatapan takjub dari ketiga orang di depannya.
"Kami sedang jalan-jalan, ahjussi. Terlalu lama untuk menunggu pertandingan EURO nanti, mungkin kami sudah ada di Korea.", jawab Siwon pada akhirnya. Ia merasa tidak enak jika mengacuhkan tuan rumah.
"Eh, jangan panggil aku ahjussi. Aku masih muda, tahu. Panggil aku Hyung!", pinta Shindong sedikit membuat ketiganya mengernyitkan dahi, tanda kurang setuju. "Sudah berapa lama kalian berada di sini?", tanya Shindong, sambil mengesap kopi yang baru saja diberikan oleh yeoja di intercall tadi.
"Baru saja, oppa. Sebelumnya kami tinggal di Warsawa.", jawab Sungmin kali ini.
"APA? JADI KALIAN MENEMUKAN HA CHAN DI WARSAWA?", jerit Nari mengagetkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Nari bergegas duduk di samping suaminya, ingin mengetahui kepastian informasi yang baru ia dapat. "Maaf.", lanjut Nari merasa tidak enak dengan sikapnya, setelah diberi death glare oleh Shindong. "Dimana kalian menemukan Ha Chan?".
"Ha Chan tertidur di depan kamar kami. Karena tidak tega, kami membiarkannya menginap di dalam kamar kami.", jelas Kyuhyun yang langsung mendapat cubitan pelan di pinggangnya. Saat ini Sungmin dan Kyuhyun duduk bersebelahan dalam satu sofa, sedangkan Siwon duduk di single sofa. Sudah dapat dipastikan cubitan 'pedas' dan death glare itu berasal dari yeoja kelinci di sampingnya. "Sakit tahu!", bisik Kyuhyun pelan di telinga Sungmin.
Sungmin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasa kesal itu menggerogoti hatinya. Ia tidak tahan mengingat kejadian malam disaat Kyuhyun merasakan bibir merah merekah milik Ha Chan. "I don't care", ucap Sungmin tak peduli.
"Kami tahu alamat rumah ini dari kertas yang berada di dalam liontin Ha Chan.", jelas Siwon ikut membuka suara. "Tanpa sengaja kami menemukan kertas itu saat Ha Chan mengigau dan melempar liontinnya semalam. Kami segera datang ke sini agar Ha Chan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.".
Nari menangis tersedu-sedu. "Kamsahamnida. Jeongmal kamsahamnida. Aku tidak tahu harus memberikan apa untuk membalas jasa kalian. Saat Ha Chan menghilang, rasanya aku seperti mati. Dia oksigenku. Sebagai ibu, aku telah gagal mengurus nae aegya.". Shindong memeluk tubuh Nari, membiarkan istrinya menenggelamkan isak tangisnya di dalam dada besar Shindong.
"Anak kita pasti selalu dilindungi Tuhan. Setidaknya anak kita sudah kembali, chagiya. Bagaimana pun kamu adalah ibunya. Ha Chan menyayangimu, jadi ia pasti akan selalu kembali padamu.", ucap Shindong menenangkan.
'Uljima, chagiya. Eomma di sini. Jangan menangis. Dengarkan eomma. Selama Minnie sayang eomma, maka Tuhan pasti akan mengembalikan Minnie kepada eomma, karena aku adalah ibumu.'.
Sebuah memori terbersit di dalam otak Sungmin. Suara itu begitu nyata terdengar pada indera pendengarannya. Sentuhan itu masih dapat ia rasakan. Senyuman lembut itu terpampang jelas di hadapannya. Memori ini begitu nyata, membuat Sungmin menyadari kehampaannya selama ini. "Eomma.", lirih Sungmin pelan, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
"Sejak kapan Ha Chan menderita Kleine-Levin Syndrome?", tanya Kyuhyun dengan nada serius. Ia ingin tahu banyak tentang yeoja cantik itu.
Shindong bergumam pelan, menjernihkan tenggorokannya yang sedikit tercekat karena mendengar pertanyaan Kyuhyun. "Darimana kamu tahu soal penyakit ini?".
"Dia itu calon dokter hebat di masa depan. Jadi sejak kapan, hyung?", tanya Siwon, segera mengembalikan topik pembicaraan mereka.
"Tiga tahun lalu. Seorang konsultan menyarankan kami untuk ke Eropa. Jadi selama tiga tahun ini kami jauh dari keluarga, berusaha menyembuhkan Ha Chan sebisa kami.", jawab Shindong singkat. "Kami bukan berasal dari keluarga kaya, jadi hidup di negara orang perlu perjuangan hebat. Aku bekerja sebagai penjual es krim keliling dan Nari bekerja sebagai guru TK di sekitar sini. Yeoja tadi itu adalah tetangga yang biasa menjaga Ha Chan selama kami bekerja.".
Perbincangan itu berlanjut. Mereka seperti sebuah keluarga yang sudah lama berpisah. Tanpa mereka sadari seorang yeoja sedang menunduk sedih, mengurung kerinduan yang besar kepada ibunya. Yeoja itu—Lee Sungmin—hanya bisa diam seperti boneka, menanggapi semua perbincangan tanpa arti baginya itu. Ketika Nari membawa ketiganya ke dalam kamar Ha Chan untuk melanjutkan kisah tentang masalah Ha Chan, Sungmin menatap rindu pada belaian Nari itu. Sudah hampir satu bulan ini ia meninggalkan ibunya tanpa berita. 'Eomma baik-baik saja kan?', batinnya cemas.
"Terima kasih atas jamuannya, Shindong-hyung. Kami sangat senang bisa berkenalan dengan Anda. Sepertinya kami harus segera pergi. Perjalanan kami masih panjang. Terima kasih atas segalanya.", ujar Kyuhyun penuh sopan santun.
Saat ini ketiganya sudah berada di depan pintu apartment No. 126 itu. Mereka memutuskan untuk melanjutkan kisah perjalanan mereka tanpa harus menginap atau menyusahkan orang lain lagi. Shindong bersikeras mengajak mereka untuk menginap, namun ditolak halus oleh kedua namja itu. Sungmin sendiri masih dalam aksi diamnya, walau ia merespon hampir semua sikap ke empat orang itu.
Sungmin tersentak kaget. Nari mengelus pipinya lembut. "Jangan khawatir. Ia pasti baik-baik saja, karena ia adalah ibumu.", kata Nari singkat.
Setetes air bening meluncur pelan dari pelupuk mata foxy itu. "Wae?".
Nari tersenyum sangat manis. "Walau kecil-kecil begini, aku adalah seorang ibu. Instingku mengatakan kamu merindukan ibumu. Benarkan?".
Sungmin mengangguk pelan. Nari kembali menyungging senyumnya. "Jangan menangis. Ia akan bersedih kalau kamu sedih. Tersenyumlah, chagiya!".
'Jangan menangis, sayang. Aku akan sedih kalau kamu menangis. Tersenyumlah, chagiya'. Suara itu terngiang di telinga Sungmin. Suara ibunya. Sungmin mengangkat wajahnya, tersenyum lebar kepada Nari. "Eum! Aku akan terus tersenyum, eonni!", angguk Sungmin setuju.
Siwon menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakkan Sungmin yang telah kembali. Kyuhyun mengacak pelan rambut yeoja terkasihnya. "Menggemaskan.", ucap Kyuhyun pelan, namun masih bisa didengar namja tinggi di sebelahnya.
"Annyeong, eonni-hyung. Sampai berjumpa lain kali. Terima kasih.", ucap Siwon mengakhiri sesi perpisahan yang tak pernah berakhir itu.
"Ne. Hati-hati ya.", balas Shindong sambil melambai ke arah tiga remaja itu. "Mereka remaja hebat, ya yeobo!", lanjut Shindong pelan, merengkuh bahu istri tercintanya.
Nari tersenyum. "Ne, yeobo. Aku senang Ha Chan ditemukan oleh remaja sehebat mereka.", ujar Nari, menarik suaminya itu masuk kembali ke dalam apartment kecil milik mereka.
.
($o$)7…::YuyaLoveSungmin::…\(^.^)
.
Ketiga remaja itu asyik menjelajahi kota Krakow di Polandia. Secara umum, ada tiga objek wisata dan budaya yang sangat menarik di Krakow, yaitu Pusat kota Krakow, Tambang garam Wieliczka dan Kamp Konsentrasi Autschwitz. Sayangnya kota ini tidak bisa dinikmati hanya dalam satu hari. Wisatawan atau penduduk butuh waktu tiga hari untuk menyesap aura Eropa Timur yang indah, namun menyimpan sejarah mencengangkan itu.
Krakow disebut-sebut sebagai salah satu kota terindah di Eropa Timur. Old Town dan Kazimierz adalah suatu distrik dengan banyak bangunan yang indah dan bersejarah, sedangkan Wawel Castle adalah istana raja-raja Polandia zaman dahulu yang luasnya minta ampun. Semua ini terletak di pusat kota Krakow. Sungmin, Kyuhyun dan Siwon asyik berjalan menikmati sore hari di sekeliling pemandang indah itu. Mereka tak pernah lupa untuk menyimpan kenangan itu ke dalam bentuk foto.
"Kyu! Wonnie!", rajuk Sungmin, menarik tangan kedua namja itu agar berhenti berjalan. "Ayo kita menginap di sini lebih lama. Aku dengar banyak tempat wisata disini.", pinta Sungmin dengan jurus puppy eyes miliknya. Ia tetap berusaha menahan langkah panjang kedua namja itu, walau ia tahu sekali kekuatannya tak sebanding dengan mereka.
SREEEET! Sungmin ikut tertarik oleh gerakan kedua namja itu. Langkah keduanya semakin pasti untuk menuju stasiun kereta. Mereka tetap butuh bergerak agar tidak ditemukan oleh siapa pun. Garis bawahi kata siapapun. Ketiganya memang layak dikatakan buronan. Tiga orang buronan yang melarikan diri untuk menemukan kebebasan dan jati diri mereka. Terdengar lucu, namun itu lah kenyataan yang ada.
"Ayolah, Min. Bersikap dewasa sedikit. Kita berada di sini bukan untuk bersenang-senang.", ketus Siwon, masih setia menarik kakinya yang sama sekali tak dapat ditahan oleh tubuh mungil itu.
Sungmin melepas genggamannya, mengerucutkan bibirnya. Aksi ngambek. "Kalau begitu aku mau pulang ke Seoul".
Kyuhyun dan Siwon sweatdrop mendengar penuturan mendadak itu.
.
.
[Other's Side]
.
.
Seorang namja sedang asyik memakan beberapa makanan jalanan khas Polandia dengan rakus. Tubuh tingginya sebanding dengan orang-orang Polandia, walau namja ini masih bisa dikatakan memiliki tinggi di atas rata-rata. Ia sudah lupa dengan tujuannya di negara itu. Saat ini tujuannya adalah menghabiskan semua jenis makanan yang ada di tempat itu. Namja itu sudah tidak peduli berapa banyak uang yang akan dihabiskan. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan perutnya.
"Tapi… Aku mau pulang. Ya! CHO KYUHYUN! Biarkan aku pulang bertemu ibuku!", teriak seorang yeoja di dekat namja tinggi itu. Sebenarnya jarak antara mereka cukup jauh yaitu lima ratus meter namun pendengaran tajam namja itu sedikit membantunya.
GLEEEK! "Uhuk… Uhuk…!", batuk namja itu tersedak. Ia segera menyeruput habis segelas air putih di atas mejanya. "Eh? Cho Kyuhyun? Dimana?", tanya namja itu pada dirinya sendiri.
Namja itu segera berdiri dari duduknya. Ia menajamkan pendengarannya. Suara merengek itu masih bisa ditangkap olehnya. Ia melihat tiga orang sedang berdebat keras di pinggir peron. Dua orang namja menarik tubuh yeoja itu agar mau masuk ke dalam gerbang kereta. Ia mempercepat langkahnya, setelah matanya melihat kulit putih pucat itu. Hanya ada satu orang yang memiliki kulit seputih hantu, yaitu Cho Kyuhyun.
"KYUHYUN! KYU!", teriak namja itu berulang kali. Sebentar lagi ia sampai di hadapan Kyuhyun, hingga…
DAAAAK! Pintu gerbang menutup secara otomatis. Kereta mulai melaju dengan sangat cepat. Namja itu berusaha menggedor pintu kereta agar dapat masuk ke dalam. Usahanya sia-sia. Walau begitu ia tetap berlari, mencari perhatian Kyuhyun. "KYUHYUUUUUUUUN!", lengking namja itu terakhir kali, sebelum kecepatan kereta melebihi kekuatan kakinya.
Namja yang dipanggil itu merasa ada sesuatu yang aneh, ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Matanya terbelalak kaget, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Shim Changmin?".
.
.
…::TBC::…
.
.
