19th
Chapter 13
By Yuya Matsumoto
"New member"
Inspirasi: K-movie, 19
Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others
Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever
Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).
Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.
.
.
\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9
.
.
.
.
#at Choi's Home, South Korea#
[Someone's side]
.
.
"Kenapa appa membiarkan uri aegya di negara asing seperti itu?", tanya Mrs. Choi cemas. Jika ia bisa, saat ini pasti yeoja paruh baya itu pergi ke Jerman untuk membawa anaknya pulang. Tapi ia tidak bisa, suaminya pasti akan melarangnya habis-habisan.
Mr. Choi melepas dasinya kasar, merasa kesal dengan penuturan istrinya. "Kamu masih menganggap dia sebagai anakmu? Bullshit. Bahkan dia telah mempermalukan aku di depan klienku, Mr. Kim. Dia kabur. Biarkan saja dia mengemis di luar sana.", ucap Mr. Choi penuh emosi. Ia mengambil beberapa baju ganti untuk dirinya.
"Tapi dia tetap anak kita. Kamu terlalu bersikap tegas kepadanya. Siwonnie bukan anak yang bodoh. Ia hanya menyukai musik dan ia sudah menuruti semua keinginanmu dari kecil. Kenapa kamu selalu mengacuhkannya?", tanya Mrs. Choi kesal. Yeoja paruh baya itu sudah tidak bisa lagi menahan amarah dan kesedihan yang ia bendung selama ini. Kesabarannya sudah pada titik akhir. Mrs. Choi hanya ingin Siwon mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
PLAAAK! Mr. Choi menampar pipi Mrs. Choi keras sehingga rona biru menghias sisi pipinya. "Diam kau! Jangan banyak bicara! Aku tahu harus berbuat apa! Dia anakku jadi dia HARUS jadi seperti yang kumau.", bentak Mr. Choi sebagai keputusan akhirnya. Namja paruh baya itu melangkah ke pergi ke dalam kamar mandi, mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya yang lelah setelah sampai dari Jerman.
Suara isak tangis membahana di dalam ruangan sepi itu. Mrs. Choi menangisi nasibnya dan anaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk memberikan kebahagiaan kepada Siwon. Mrs. Choi hanya bisa berdoa agar Siwon menemukan kebahagiaannya dan selalu sehat di negera asing itu.
Siapa yang menyangka bahwa seseorang telah mendengar pertengkaran itu? Seorang namja segera pergi dari depan kamar kedua orang tuanya. Ia melangkah masuk ke dalam kamarnya, segera menekan tombol nomor telepon seseorang di ponselnya. Sepertinya namja itu memiliki sesuatu yang harus dilakukannya.
"Yoboseyo, hyung!", ucap namja itu saat sambungannya tersambung dengan orang di seberang sana.
"Hem… Ah… Ne… Waeyo, saeng?", jawab orang itu dengan suara desahan tertahan.
"Aku harus bicara hal penting kepadamu. Ini soal Siwon-hyung."
"Hmm… Yes… Ouch! Katakan sahja sehkarang… Aaah!", balas namja itu membuat sang adik mengerutkan dahinya.
"Ya! Seung Hyun-hyung! Hentikan dulu kegiatanmu!", pinta sang adik—Choi Minho—yang merasa kesal dengan desahan dan jeritan di seberang telepon itu.
"Aaaah… Yes… There, chagiya!", teriak seseorang dari dalam sambungan telepon. "Faster… Hmmm… Enak… Ouh! You're good… Oooh…".
"Hmmm… Tanggung, saeng! Katakan saja… Yeah! Aaaah… Hooo! Nikmat sekali Jiyong-chagiya!", sahut Seung Hyun disambut dengan bunyi kecipak dan derit benda dengan lantai. Sepertinya Minho menelepon di waktu yang kurang tepat.
"Aish! Aku telepon lagi nanti. Selesaikan saja dulu urusanmu.", kata Minho kesal, lalu menutup ponselnya dengan kasar. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya.
"Siwon-hyung, tunggu saja. Aku akan datang untuk mengganggu semua kesenanganmu. Kamu tidak boleh bersenang-senang sendirian.", desis Minho sebelum menutup matanya.
.
.
#Budapest, Hungaria#
[Day 9, WonKyuMin's Side]
.
.
Siwon mengibaskan tangannya di depan wajah Kyuhyun yang termangu menatap ke luar jendela kamar hotel mereka. Siwon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun ke langit pagi yang masih gelap berawan, lalu kembali ke Kyuhyun, begitu seterusnya. Namja besar ini bingung dengan sikap Kyuhyun, walau Kyuhyun memang sering sekali berdiam diri.
'Kenapa Changmin bisa di Polandia? Tidak mungkin ia berlibur tanpa mengajakku. Ah! Pasti appa yang menyuruhnya mencariku. Aish! Changmin, kenapa kamu berbalik menyerangku? Tiang listrik itu pasti akan memaksaku pulang. Shirreo! Aku tidak mau sampai kapan pun, sebelum petualanganku selesai.', batin Kyuhyun bergejolak.
Sedangkan di atas ranjang, Sungmin juga melakukan hal yang sama. Bahkan yeoja manis itu terlihat sangat shock dan sedih. Hatinya berperang dengan pikirannya. Ia merasa bersalah dan merutuki semua sikapnya selama ini. Bagaimana ia bisa menganggap perjalanan ini sebagai liburan dan terus-menerus bersenang-senang di atas penderitaan ibunya? Bagaimana ia bisa lupa bahwa awalnya ia berada di tempat ini karena penculikan? Bagaimana ia bisa menjadi sebodoh ini? Bagaimana bisa… Ah, terlalu banyak rasa sesal yang ia miliki sekarang!
Siwon mendesah pelan, menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Siwon tidak tahan menghadapi dua orang yang membatu seperti patung, sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Namja gagah itu meneguk segelas air dengan cepat, berdiri dari duduknya dengan kasar. "YA! APA-APAAN KALIAN BERDUA!", teriak Siwon, tak peduli jika mengganggu penghuni kamar yang lain. Ia sudah terlalu bersabar dengan sikap keduanya selama perjalanan ke Hungaria kemarin.
Kyuhyun dan Sungmin menutup telinga mereka, tersentak kaget dengan suara bass itu. "Bersikaplah dewasa, Siwon-ssi. Ini masih terlalu dini untuk membuat keributan.", tegur Kyuhyun dengan sarkastik.
"Maafkan aku, Siwonnie.", polos Sungmin, merasa bersalah.
Siwon menggaruk rambutnya, frustasi. "Argh! Diam kau, Mr. Cho! Kamu sudah seperti patung busuk di tepi jendela itu, membuat aku iritasi. Dan kau, Lee Sungmin, BERHENTI MENANGIS. Jika kamu memang ingin pulang, cepatlah pulang sekarang. Sikap manjamu membuatku ingin muntah. AKU LELAH DIPERLAKUKAN SEPERTI SAMPAH TAK BERGUNA DI SINI!".
BLAAAAM! Siwon membanting pintu kamar, meninggalkan kedua orang di dalam kamar yang terbengong-bengong atas sikap Siwon. Selama ini Kyuhyun dan Sungmin mengenal Siwon sebagai namja dewasa yang sangat pengertian dan bijak. Mereka tak pernah melihat sisi 'lain' Siwon yang kasar dan penuh kekerasan seperti itu. Ternyata mereka belum mengenal Siwon yang sebenarnya.
Namja bertubuh kekar itu melangkahkan kaki jenjangnya tak tentu arah. Sebuah negara baru yang belum pernah ia kunjungi, jelas ini akan menjadi pengalaman baru baginya. Rasa kesal di hatinya membuat namja itu pergi ke mana pun agar ia bisa merasa tenang. Setelah berjalan cukup jauh, Siwon mendudukkan dirinya di atas bangku taman, memandang warna langit yang mulai kemerahan.
SREEEEK! TRAAAAK! Sebuah kertas terbang melewati pandangan Siwon, membuat namja tampan itu refleks mengambil kertas itu. Kertas itu penuh dengan angka-angka. Laporan Keuangan? Siwon mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari pemilik kertas ini. Di sudut taman seseorang sedang sibuk mengambil kertas-kertas yang berserakan di atas tanah.
"May I help you?", tanya Siwon menawarkan bantuan.
"It's okay. I can handle it by myself.", tolak orang itu yang ternyata seorang yeoja. Ia masih sibuk mengambil kertas-kertas miliknya tanpa tahu kalau Siwon ikut membantunya.
Yeoja muda itu membelalakkan matanya saat pandangannya bertemu dengan tubuh kekar Siwon yang baru saja selesai membantunya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, mengagumi sosok di hadapannya. "Ommo! Tampan.", lirih yeoja itu pelan.
"Eh? Apa?", tanya Siwon kaget karena sepertinya ia mendengar yeoja itu mengucapkan kata dalam bahasa Korea.
BLUSH! Yeoja muda itu bersemu merah, malu, seakan ketahuan mencuri. Ia nampak salah tingkah dengan menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Are you Korean? Here it is. I tried to help you.", ucap Siwon berusaha memecahkan ketegangan yang terjadi di antara keduanya.
Yeoja itu mengambil kumpulan kertasnya dari tangan Siwon. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Siwon. "Kamsahamnida.", ujarnya sopan.
Siwon mengulas senyum menawannya. "Boleh aku tahu, apakah ini laporan keuangan?", tanya Siwon sok tahu. Yeoja muda itu mengernyitkan dahinya, menatap ke arah kertas di genggamannya. Ia mengangguk. "Banyak kesalahan di dalam perhitungannya. Coba kamu ulangi lagi.", lanjut Siwon sebelum meninggalkan yeoja itu yang terbengong-bengong.
"Terlalu banyak orang Korea di dunia ini, seakan aku tidak pernah pergi dari negara itu. Aish! I need fresh air!", gumam Siwon kesal. Ia melangkah pergi, entah kemana, tanpa tujuan.
.
.
#Heroes Square, Hungary#
[Someone's P.O.V]
.
.
"Apa-apaan itu? Dia pikir dia orang hebat apa? Walau ia benar, tapi aku tidak terima ditinggal seperti ini. Menyesal beranggapan dia namja tampan.".
Seseorang tengah duduk di tengah alun-alun berbentuk semi sirkular yang sangat terkenal dengan nama Heroes Square di Budapest. Ia menggoreskan pensilnya dengan kesal. "Argh!", teriak orang itu sebal sambil mengoyak kertas di buku sketsa miliknya. Ia melempar gulungan kertas itu asal.
"Ouch!", teriak orang lain, membuat orang itu mengalihkan pandangannya, mencari asal suara. "Siapa sih yang membuang kertas sembarangan. Tidak tahu tata krama.", omel sang korban.
Glep! Aigoo! Aku melangkah pelan ke arah namja yang baru saja menjadi korban atas lemparan kertasku tadi. Ya Tuhan, semoga saja ia tidak marah. Eh? Dia melihat ke arahku sambil menimang-nimang kertas itu. Ia tersenyum. Bukan. Lebih tepatnya sebuah seringai. Bulu kudukku berdiri kaku. Mati kau, Kim Kibum!
"Sorry. I didn't mean to hurt you.", kataku meminta maaf sambil membungkuk dalam.
"HUAHAHAHAHAHA!". Sebuah suara tawa lepas terdengar dari bibir namja di depanku. Aku memicingkan mataku, merasa kesal karena ditertawakan seperti itu. "Wae?", tanyaku dengan bahasa Korea. Ini sudah kebiasaanku jika kesal akan menggunakan bahasa ibu pertiwi.
"Ah, maaf! Maaf! Aku hanya lucu saja melihatmu yang sangat panik. Hei, aku tidak akan mati hanya dengan kertas kecil ini.", kata namja itu meminta maaf dengan suara tertahan karena belum bisa menghentikan tawanya dengan benar.
Aku melirik buku sketsa yang ada di atas pangkuannya. Ia menggambar alun-alun ini dengan goresan halus yang terlihat sangat nyata dan rapi. Aku mengalihkan pandanganku ke sekitarnya. Tidak ada penghapus. Wow! Hebat sekali. Wajahnya tampak sangat serius saat mencoret bukunya dengan goresan seni miliknya. Aku merasa teracuhkan, bahkan seperti tidak pernah terjadi perbincangan singkat sebelumnya. Aura dinginnya terkuar dari tubuhnya. Aku pikir dia sama sepertiku, dingin luar dalam, namun membutuhkan kehangatan seseorang. Aish! Aku berpikir macam-macam.
"Ehem…", gumamku berusaha mendapatkan perhatiannya. Gotcha! Ia memandangku. "Kamu suka menggambar?", tanyaku basa-basi, mengambil duduk di sampingnya.
Ia hanya mengangguk pelan. "Sejak kapan?", tanyaku masih penasaran dengan namja di sampingku ini. Ia memiliki bakat melukis yang luar biasa dan aku akui aku merasa iri terhadapnya.
Ia memandangku, tersenyum kecil. "Perlukah aku memberitahu segalanya kepadamu? Kalau kamu memang ingin tahu, cari tahulah. Ini alamatku. Kamu bisa tanya orang-orang di sana.", ucap namja itu sinis, memberikan kartu namanya kepadaku.
Aku membaca kartu nama milik namja itu. Cho Kyuhyun? Oh jadi dia orang korea juga ya? Di kartu nama itu tertulis nama, alamat, dan nomor telepon miliknya. "Eh, kamu tidak takut memberikan kartu ini kepada orang asing?", tanyaku pada namja itu. "EEEH?". Aku terbelalak kaget. Namja itu sudah menghilang, entah pergi kemana. Aish! Aku ditinggal lagi. Menyebalkan!
.
.
[Someone's P.O.V END]
.
.
Mata Sungmin mengerjap berkali-kali, memandang takjub Monumen di hadapannya. Monumen Millennium, yang dibangun oleh arsitek Albert Schichedanz dan pematung Gyorgy Zala tahun 1896, berbentuk sebuah tugu setinggi 36 meter dengan patung Malaikat Jibril berdiri dipuncaknya, dan arkade-arkade indah yang dihiasi patung-patung dari para raja dan pangeran Hungaria di sisi kiri-kanannya. Monumen Millennium ini berhasil memenangkan sebuah Grand Prix di Paris Expo 1900.
Sebelumnya Sungmin memutuskan untuk menenangkan pikirannya sejenak setelah Siwon dan Kyuhyun meninggalkannya di kamar cukup lama. Matahari pun sudah mulai beranjak dari singgasananya, menampakan dirinya kepada dunia. Yeoja manis itu hanya termenung, entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia hanya memandang kagum pada benda di hadapannya itu. Hati dan pikirannya terbelah dua, antara ibunya dan kedua sahabatnya itu. Sahabat? Ya. Sungmin sudah menganggap Siwon dan Kyuhyun sebagai sahabatnya. Perjalanan beberapa hari ini membuatnya merasakan pentingnya sosok keduanya di dekatnya.
"Hiks… Hiks…". Tangis Sungmin pecah. Ia berjongkok, meredam sakit di dalam dadanya. Yeoja itu tidak peduli lagi pada tatapan orang di sekitarnya. Biarkanlah semua orang menganggapnya cengeng, karena semua ini terlalu sulit untuk ia pilih. Ia merasa bersalah karena bersikap egois dengan meninggalkan ibunya, namun di sisi lain ia merasa ketakutan saat kedua namja itu tidak ada di dekatnya. Mendapatkan perhatian dari Siwon dan Kyuhyun selama ini, telah membuat Sungmin bergantung kepada mereka. "Wonnie… Kyu… Eoddiga?", lirihnya.
Sebuah tangan menepuk bahu bergetar milik Sungmin. "Sungmin-ah, nan gwenchana?", tanya orang itu.
Sungmin menengadahkan kepalanya, menengok ke arah orang yang menyapanya dengan takut-takut. Matanya terbelalak kaget. Sontak gadis itu langsung menubrukkan tubuhnya kepada dada bidang namja di hadapannya. "Wonnie…", rengeknya manja.
Siwon tersenyum mendapati sikap manja Sungmin lagi. Setidaknya kali ini ia sudah dapat meredam amarahnya dan berpikir logis lagi. "Ne. Uljima.".
"Wonnie sudah nggak marah sama Minnie kan?", tanya Sungmin dengan mata kelincinya yang penuh airmata dan bibir M yang mengerucut, membuat siapapun ingin mengecup bibir itu.
Siwon mengacak rambut Sungmin pelan. "Ne. Aku minta maaf karena bersikap kasar tadi ya! Sudah jangan menangis lagi.", ucap Siwon, mengelap jejak airmata di kedua pipi Sungmin.
Sungmin tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya. Ia memeluk Siwon semakin erat, benar-benar tak ingin kehilangan sosok namja di dekapnya itu. "Eh? Dimana Kyuhyun?", tanya Sungmin tiba-tiba melepas pelukannya.
Siwon mengendikkan bahunya. "I don't know".
.
(^o^)…::YuyaLoveSungmin::…(^.^)
.
Di sebelah kiri alun-alun Heroes Square berdiri Museum Seni Rupa dan di kanannya Gedung Pameran Seni Kontemporer. Museum Seni Rupa ini adalah salah satu yang terbaik di Eropa. Koleksi lukisan-lukisan paling berharga dari museum ini, antara lain adalah karya pelukis-pelukis top seperti: Leonardo da Vinci, Rembrandt, Durer, Monet, Renoir dan Picasso. Seorang namja bermarga Cho sedang menikmati berbagai lukisan yang terpajang rapi di dalam museum itu. Ia menjinjing buku sketsanya, meyakinkan dirinya untuk bisa menciptakan lukisan seindah di hadapannya. Bagi Kyuhyun, inilah surganya. Memandangi lukisan karya sang maestro selalu membuat tubuhnya merasakan sensasi tertentu.
"Akhirnya aku menemukanmu, tuan muda Cho!". Sebuah suara membuat Kyuhyun bergidik ngeri. Ia sangat mengenal suara ini. Tanpa mencari tahu siapa orang yang menyebut namanya, Kyuhyun berlari menghindari orang itu. Sayangnya langkah Kyuhyun kalah panjang dari sang pelaku utama, Shim Changmin. "Jangan kabur! Aku butuh bicara Kyu!".
Kyuhyun mengalah, merasa lelah harus selalu kabur dari pengejaran orang lain. Keduanya langsung menuju restoran Nimrod, sebuah restoran 'Chinese-Hungarian' di wilayah Pest untuk makan siang. Nimrod adalah salah satu restoran terbaik di Pest. Changmin tidak akan pernah mau melewatkan satu hal pun tentang wisata kuliner dimana pun ia berada. Tak dipungkiri restoran ini menyajikan masakan Cina yang telah mengalami reformasi cita rasa, membuat lidah Changmin tak dapat berhenti mencicipi setiap makanan yang ada.
"Bagaimana kamu bisa menemukanku?", tanya Kyuhyun mulai jengah dengan sikap Changmin, sahabatnya dari kecil, yang mengacuhkannya. Changmin terlihat lebih tertarik dengan segala jenis makanan di hadapannya itu.
"Nyam… Nyam… Em… Begyini Kyu… Nyam…", gumam Changmin tak jelas.
"Ya! Selesaikan dulu acara makanmu, baru kita bicarakan dengan baik!", kata Kyuhyun menyarankan. Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Changmin ini. Bagaimana pun Changmin tak akan bisa diajak bicara serius saat ia sedang berkencan dengan 'kekasih'nya itu.
.
.
#still in Nimrod Restaurant#
[The Other Table]
.
.
Seorang yeoja bermarga Kim sedang melakukan presentasi di depan para kliennya. Ia sedang berusaha memenangkan tender besar untuk perusahaan ayahnya sekaligus untuk menyelesaikan salah satu tugas kuliahnya. Kalau bukan karena kedua hal itu, mana mungkin yeoja bernama Kim Kibum itu mau merusak liburan kuliahnya untuk hal seperti ini. Ia pasti lebih memilih tenggelam dalam lautan imajinasi buku-buku di perpustakaan apartment-nya. Tanpa yeoja itu sadari, seorang namja memperhatikannya dari kejauhan, menitipkan kekaguman pada sosok yeoja itu sendiri. Siapa yang tidak terpesona jika melihat seorang yeoja muda melakukan presentasi sulit di depan orang-orang yang terlihat jauh lebih tua dan lebih profesional darinya? Pasti semua orang akan terkagum-kagum padanya.
"Thanks, Ms. Kim. Your dad will be so proud of you. We will call you later. We must learn it again. Thanks for your excellent presentation.", puji seorang klien Kibum, merasa sangat puas dengan penjelasan yeoja itu atas rencana perusahaan keduanya.
"You're welcome. It's my pleasure. Thanks. See you later!", balas Kibum, mengucapkan salam perpisahan kepada beberapa kliennya yang beranjak pergi dengan salinan laporan di tangan ketiganya.
Kibum merebahkan tubuhnya yang lelah di kursi. Ia merasa lega bisa menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik, setelah ini Kibum ingin menjalani sisa-sisa liburannya dengan tenang. Yeoja itu memesan beberapa makanan, tanpa peduli dengan laptopnya yang masih menyala.
"Ah, Siwon!", panggil Sungmin membuat Siwon kaget. Perihalnya kedua orang itu baru saja memasuki sebuah restoran untuk makan siang. "Itu Kyuhyun. Ayo ke sana!", lanjut Sungmin antusias menarik lengan Siwon.
"Aaah~ Kenyang!", kata Changmin penuh syukur setelah melahap habis semua makanan yang tadi memenuhi meja mereka. Changmin membersihkan mulutnya dengan serbet, sedangkan Kyuhyun masih setia menunggu Changmin menyelesaikan ritualnya.
"Aboji memintaku untuk mencarimu. Mudah bagiku untuk menemukanmu, apalagi kamu telah menggunakan kartu kreditmu dengan membabi buta di Hamburg. Babbo! Kemarin aku sempat kehilanganmu, tapi kemudian aku menemukan informasi menarik tentang Hungaria. Sebuah museum seni rupa yang tak mungkin kamu lewatkan. Hehehe… Gotcha! I got you!".
Kyuhyun mendengus kesal mendengar penjelasan Changmin. "Jadi kamu mau membawaku pulang?".
Changmin mengangguk mantap. "Nih. Hubungi aboji supaya ia bisa menjelaskan kenapa kamu harus pulang.", kata Changmin menyodorkan ponselnya kepada Kyuhyun.
"Aniya! Aku nggak mau menghubunginya. No way!", tolak Kyuhyun mentah-mentah.
"Ayolah, Kyu! Eomma-mu sakit. Kamu harus pulang.", rayu Changmin.
Eomma sakit?
Deg!
"Eomma-mu sakit, Kyu!", jerit Sungmin membuat beberapa orang menatap mereka, merasa terganggu dengan jeritan Sungmin. Terbersit rasa bersalah di relung hati Sungmin. Eomma mereka berdua sakit dalam konteks yang berbeda.
"Duduklah, Min. Kau membuat kita malu.", pinta Siwon.
Changmin tersenyum manis kepada Sungmin yang kemudian mendapat pukulan kasar di bahunya. "Hentikan senyum mesummu kepadanya!", bisik Kyuhyun posesif.
"Cih! Posesif sekali kau! Jelas-jelas kamu bukan siapa-siapanya.", balas Changmin masih dengan bisikan.
"Ehem!". Siwon bergumam membuat kedua evil itu menghentikan perdebatan mereka. "Bisa kamu kenalkan pada kami siapa dia?".
"Annyeong haseyo. Shim Changmin imnida. Bangapta. Aku sahabat kecil Kyuhyun.", kata Changmin langsung memperkenalkan diri.
"Dan aku menyesal telah mengenalnya dari kecil.", lanjut Kyuhyun sarkastik. Changmin melemparkan death glare pada Kyuhyun.
"Ibumu sakit, Kyu. Apakah kamu akan kembali ke Korea?", tanya Sungmin memastikan.
Kyuhyun mengangkat bahunya. "Mollayo. Kamu tahu bagaimana keadaanku kan?".
"Tapi Kyu, ibumu sakit. Seharusnya kita sebagai anak berbakti kepada mereka. Jangan membuat mereka cemas seperti itu.", lanjut Sungmin yang langsung ditanggapi anggukan oleh Changmin.
"Ah, aku bingung, Minnie. Aku takut terkekang lagi di rumah itu.", balas Kyuhyun, mengacak rambut ikal almond miliknya.
"Jadi sampai kapan kamu akan lari? Masalah itu tidak bisa diselesaikan jika kamu selalu berlari. Justru masalah baru yang akan datang.", kata Changmin bijak.
Kyuhyun mengerjapkan mata beberapa kali. "Sejak kapan kamu jadi sebijak ini?", tanya Kyuhyun heran.
"Sejak berteman dengan namja setan sepertimu.", balas Changmin, memberikan jitakan kepada Kyuhyun.
Sungmin dan Siwon menundukkan kepala mereka. Kata-kata Changmin barusan telah menusuk hati mereka. Selama ini mereka selalu kabur dari masalah mereka. Apakah mereka harus berhenti sekarang? Atau…?
"Execuse me. Boleh aku bergabung?", tanya seorang yeoja membuat keempat orang di meja itu memandangnya.
.
.
TBC
.
.
Annyeong, Chingudeul!
Masih ingat dg FF Abal ini? Hari ini koneksi internet sedang sangat bagus. Entah kenapa bisa buka FFn lagi. SO, karena Yuya lagi baik, maka Yuya langsung UPDATE 4 Chapter sekaligus.
Yuya tahu FF ini makin hancur dan melenceng, jadi Yuya minta REVIEWS sebanyak2nya ya!
FYI, berhubung Yuya sudah pindah dan koneksi INET disini kacau, maka Yuya tidak bisa UPDATE di FFN seperti sebelumnya.
Yuya akan UPDATE di FB [Lee Yeomin Ha]. FF ini di-PRIVATE. Jadi dimohon PM aku biar bisa aku TAGin langsung. hhe...
SEKIAN
GOMAWO
SEMOGA BERKENAN
^.^
Annyeong!
