19th

Chapter 14

By Yuya Matsumoto

"Decision"

Inspirasi: K-movie, 19

Cast: Kyuhyun, Siwon, Sungmin and Others

Desclaimer: Sungmin is always MINE… forever

Warning: Terinspirasi dari K-movie, namun semua alur dan plot murni hasil kreatifitas Yuya. 19 (K-movie) diperankan oleh T.O.P dan Seungri (Big Bang).

Summary: Kisah tiga orang remaja berumur 19 tahun untuk menemukan jati diri. Tiga orang dengan latar belakang dan permasalahan berbeda. Bersatu.

.

.

\(^w^)/~ Happy Reading ~\(^0^)9

.

.


.

.

FLASHBACK

[Changmin's POV]

.

.

Aku sedang asyik ber'kencan' dengan kekasihku tercinta saat suara ponselku mengganggu kesenanganku. Aku terpaksa meninggalkan 'kekasih'ku itu, mengangkat telepon. Mataku terbelalak kaget. Nama Tuan Cho terpampang di layar ponselku.

"Yoboseyo!", jawabku.

"Yoboseyo. Changmin-ah! Kamu harus membantuku.", ujar Mr. Cho di seberang telepon dengan nada gusar.

"Ne, Aboji. Ada apa?".

Mr. Cho adalah ayah dari sahabat kecilku, Cho Kyuhyun. Mereka berasal dari keluarga kaya raya, namun memiliki sifat rendah hati. Kenapa aku bilang seperti itu? Karena keluarga ini masih mau menerimaku yang hanya seorang anak supir mereka. Mereka menyekolahkanku dan memperlakukanku seperti anak kandung mereka. Aku benar-benar menghormati keduanya.

"Datanglah ke rumah sakit sekarang!", pinta Mr. Cho dengan nada memerintahnya yang khas. Aku tahu sekali jika saat ini dia sangat cemas. Ada apa sebenarnya? Jarang sekali Mr. Cho terdengar seperti ini, terlebih meminta bantuanku.

"Mianhae. Aku harus pergi, chagiya. Aku pasti akan menjamahmu saat aku kembali nanti. Sabar ya!", kataku kepada 'kekasih'ku yang kini masuk ke dalam singgsananya di dalam kulkas. Aku harus rela meninggalkan makanan tercintaku. Kalau bukan Mr. Cho, aku pasti akan memakan habis semua kekasihku itu. Ya sudahlah!

"Mwo? Jinja, Aboji?", tanyaku tak percaya dengan pendengaranku.

Mr. Cho menunduk lesu. "Benar. Kyuhyun kabur. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran namja itu. Bisa-bisanya ia kabur begitu. Ibunya jatuh pingsan setelah mendengar berita ini. Aish! Aku bingung. Hanya kamu yang bisa aku mintai bantuan saat ini. Tolong cari Kyuhyun! Beri pengertian kepadanya. Aku mohon, Changmin-ah!", jelas Mr. Cho memelas.

Aku mengernyitkan dahiku. Selama ini Kyuhyun dikenal sebagai namja manja dan sangat penurut kepada kedua orangtuanya. Kyuhyun itu pemalu, lebih sering berdiam diri dibandingkan harus bergumul dengan orang-orang baru. Kedua orangtuanya membentuk Kyuhyun menjadi seorang namja penuh tata krama dan serba bisa, sehingga ia tumbuh menjadi namja jenius. Tidak ada satu hal pun yang tidak mampu ia lakukan.

Kyuhyun memiliki satu sisi dalam dirinya yang belum banyak diketahui oleh orang lain. Ia memiliki pemikiran yang terkadang tak bisa dicerna oleh siapapun. Sisi Evil yang hanya ditunjukkan kepadaku. Kami berdua senang sekali menjahili teman, guru atau pun orang yang tidak kami kenal. Ia sering bersikap egois dan mengesalkan. Hanya di hadapanku, Kyuhyun bisa menjadi dirinya sendiri.

Sekarang dia pergi seorang diri, melakukan sesuatu yang telah membebani dirinya selama ini. Apa ia ingin memberontak? Kyuhyun tak pernah mengatakan hal ini kepadaku. Apa dia bisa membangkang kepada kedua orangtuanya? Aish! Tidak bertemu selama beberapa bulan ini telah merubah Kyuhyun begitu banyak.

"Ya! Shim Changmin! Apa yang kamu pikirkan?".

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, terkaget atas bentakan Mr. Cho. "Aniyo, Aboji.".

Mr. Cho menggenggam tanganku. "Aku mohon segera temukan Kyu. Aku tidak ingin istri dan anakku terjadi sesuatu.".

Aku hanya bisa mengangguk. Ternyata Mr. Cho benar-benar menyayangi Kyuhyun sampai seperti ini. Kyuuuu~ Cepat kembalilah!

.

.

FLASHBACK END

[Changmin's POV END]

.

.

"Execuse me. Boleh aku bergabung?".

Siwon dan Kyuhyun membelalakan matanya, tak percaya pada penglihatan mereka. Bagaimana bisa dunia begitu sempit dan membuat mereka kembali bertemu? Sedangkan Sungmin dan Changmin memandang Kibum—yeoja itu—dengan tatapan bingung.

"Can I?", tanya Kibum sekali lagi. Ia menjinjing tas laptop beserta berkas perusahaan appa-nya. Kibum menyunggingkan killer smile-nya, membuat seorang namja di meja itu sesak napas. Tanpa satu orang pun sadari, namja itu meremas dadanya yang nyeri, merasakan debaran jantungnya yang seakan ingin keluar dari dalam rusuk.

"Boleh kok. Boleh.", balas Changmin memecahkan keheningan di sekitar mereka.

"Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu mengikuti kami ya?", tanya Kyuhyun datar. Pikiran dan hatinya sedang bergejolak, ia hanya tak ingin ada masalah baru yang menambah runyam pikirannya.

"Mwo? Kamu?", kaget Kibum terkesan dibuat-buat. Ia menyunggingkan seringaian, membuat Changmin sedikit curiga dengan yeoja di hadapan mereka ini. "Sebenarnya aku tidak sengaja bertemu dengan kalian. Tadi aku baru saja menyelesaikan presentasi dengan klien Appa. Lalu aku melihat kalian sedang berbincang serius. Aku lihat aku mengenal beberapa dari kalian, seperti Mr. Cho dan Tuan Sok Tahu.", jelas Kibum, menunjuk Kyuhyun dan Siwon bergantian.

"Mwo? Tuan Sok Tahu? Apa maksudmu Nona muda?", ujar Siwon tak terima. Dahinya berkerut dan tangannya terkepal. 'Apa-apaan yeoja ini. Baru saja kenal sudah berucap lancang.', kesal Siwon dalam hatinya.

Kibum tersenyum manis. Bahunya bergetar pelan, dilanjutkan oleh suara tawa khas yeoja muda itu. "Hahahahaha… Tidak usah bermuka seperti itu, Tuan. Ini balasan atas sikap acuhmu yang asal mengoreksi laporanku lalu pergi begitu saja. Itu tidak sopan.", ucap Kibum dengan wajah serius pada akhirnya.

Changmin melemparkan pandangannya dari Siwon kepada Kibum, begitu seterusnya. "Chakkaman! Dimana kalian saling kenal?", tanya Changmin tak sabar. Ia sangat bingung dengan semua keadaaan di sekitarnya ini.

Kyuhyun tak begitu memperhatikan perkelahian Siwon dan Kibum ataupun kebingungan Changmin. Ia masih asyik berkutat dengan pikirannya. 'Kalau aku pulang ke Korea, bagaimana dengan Minnie? Apa aku ajak saja ia pulang lalu memperkenalkannya sebagai calon istriku? Ah, Babbo! Mana mungkin Minnie mau!', batin Kyuhyun penuh dilema. Kyuhyun melirikkan pandangannya ke arah Sungmin yang duduk di sebelah Siwon. Sungmin terlihat memandang kosong ke depannya, memperhatikan Kibum di sampingnya. Kyuhyun tahu Sungmin pasti juga sama sepertinya.

"Annyeong haseyo. Choneun Kim Kibum imnida. Bangapseumnida.", kata Kibum memperkenalkan diri, sambil menundukkan badannya.

"Shim Changmin. Bangapseumnida.", balas Changmin yang duduk di samping kiri Kibum. Namja itu menunjukkan gummy smile-nya yang terkesan kekanak-kanakkan.

"Namaku Choi Siwon, bukan Tuan Sok Tahu.", kata Siwon sengit. Ia masih belum terima dengan nickname dari Kibum sebelumnya.

Kibum menutup mulutnya, berusaha menyembunyikan tawanya. "Mianhae. Jangan tersinggung ya, Siwon-ssi. Friends?", tanya Kibum mengulurkan tangannya kepada Siwon yang duduk di hadapannya.

Siwon memalingkan wajahnya, bersikap sok acuh. "Okay. Friends.", jawabnya, menyambut uluran tangan itu.

"Oh iya. Namamu siapa?", tanya Kibum, membuyarkan lamunan Sungmin.

"Lee Sungmin.", jawab Sungmin singkat, sedikit malu karena ketahuan bengong.

"Okay. Semua sudah mengenalku, termasuk Kyuhyun. Jadi aku sudah menjadi teman kalian kan?", tanya Kibum yang langsung dijawab anggukan oleh keempat orang lainnya di meja bundar itu.

.

(^o^)…::YuyaLoveSungmin::…(^.^)

.

Hungaria, yang sempat dikuasai Turki antara tahun 1526-1686 ini, memiliki tatanan kota yang benar-benar memperlihatkan keseriusan pemerintahannya. Hungaria memiliki ibukota yang bernama Budapest, yang merupakan perpaduan antara wilayah Buda dan Pest yang dipisahkan oleh Sungai Danube (Duna). Sungai ini terkenal sebagai sungai terpanjang dalam Kesatuan Eropa dan terpanjang kedua setelah Sungai Volga.

Di negeri ini tidak terlihat gedung-gedung yang tinggi di atas 10 lantai, khususnya di area Budapest. Salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan citra bangunan bersejarah dan beraristektur tinggi khas Eropa. Di kota Buda dan Pest juga tidak memiliki selokan karena saluran air tertata rapi di bawah jalan. Setiap orang dapat minum air yang disalurkan ke apartment dan juga dengan mudah menikmati aliran gas untuk memasak yang langsung ke dapur apartment. Benar-benar tertata rapi.

Malam ini Kibum mengajak teman barunya ke acara Indonesian Day and Charity Bazaar di KBRI, Budapest. Sebagai anak salah satu pemilik perusahaan besar di seluruh Eropa, Kibum mendapat undangan khusus untuk mengunjungi acara ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Sales Mission to Center Europe, yang mencakup Siberia, Hungaria dan Republic Cheska (Ceko). Sebuah misi memperkenalkan budaya dan pasriwisata Indonesia.

"Kamu orang penting di sini ya?", tanya Changmin heran saat beberapa orang menyapa Kibum dengan sopan. Keempat orang itu memakai pakaian casual, cukup membuat mereka menjadi pusat perhatian.

"Ah, tidak juga. Aku sama kok seperti kalian.", jawab Kibum merendah.

"Minnie, kenapa diam saja?", tanya Kyuhyun, sedikit khawatir dengan keadaan Sungmin yang terlihat pucat.

Sungmin menggelengkan kepalanya. "Aniyo. Aku hanya memikirkan eomma, Kyu.".

"Kamu ingin pulang? Pulanglah bersamaku!", ajak Kyuhyun, membuat Sungmin menatap namja di hadapannya itu dengan pandangan tak percaya.

"Aku…". Sungmin bingung harus berkata apa. Ia masih belum bisa memutuskan apapun.

SREEEET! Tiba-tiba tangan Sungmin ditarik paksa oleh Siwon, membuat Sungmin berlalu dari hadapan Kyuhyun. 'Aish!', umpat Kyuhyun dalam hati.

"Ada apa, Wonnie?", tanya Sungmin, berusaha menyamakan langkah kaki Siwon.

"Coba! Coba! Enak loh!", kata Siwon sambil menyodorkan klepon ke mulut Sungmin. "Nih lagi! Beda rasanya sama yang sebelumnya. Padahal namanya sama, hanya berbeda wilayah asalnya saja. Kok bisa beda rasanya ya?", jelas Siwon antusias.

Sungmin hanya bisa menerima suapan Siwon dengan sabar. Ia akui memang makanan di mulutnya ini punya sensasi nikmat yang menggoyang lidahnya. Sungmin memandang berkeliling. 'AAAAH~ SURGA DUNIA!', jeritnya dalam hati saat pandangannya bertemu kue-kue manis di sekitarnya. Satu hal yang sama juga dipikirkan oleh seorang Shim Changmin.

"Kamu tidak menyerbu 'kekasih-kekasih'mu itu, Min?", tanya Kyuhyun kepada Changmin yang hanya diam menikmati permainan gamelan di atas panggung.

"Jaga wibawa, Kyu. Berpakaian seperti ini saja sudah memalukan, apalagi kalau aku menjamah 'kekasih'ku itu. Bisa-bisa aku dilempar ke luar. Tenang saja, nanti aku akan membawa pulang semua makanan itu.", kata Changmin sambil menahan air liur di sudut bibirnya, memilih fokus dengan pentas di depannya.

"Hahahahahaha… Jaim sekali sih!", tawa Kyuhyun lepas.

"Akhirnya kamu tertawa juga, Kyu. Jadi bagaimana keputusanmu? Apakah kamu akan pulang?", tanya Changmin serius.

Kyuhyun terdiam, menggaruk tengkuknya, gelisah. "Aku tidak tahu. Aku bingung sekali. Di lain sisi eomma sakit, tapi aku tidak bisa meninggalkan petualangan kami.".

Changmin mengangguk mengerti. "Aku mengerti alasanmu, Kyu.", katanya sambil melirik ke arah Sungmin dan Siwon yang asyik menjamah 'kekasih'nya itu. "Aku akan membiarkan kamu berpikir dulu. Soal dia, biarkan aku yang mengurusnya.", lanjut Changmin menyeringai, sambil mengalihkan pandangan ke arah Kibum yang asyik berbincang dengan Maruli Tua Sagala, Duta Besar Indonesia. Entahlah apa yang sedang direncanakan oleh namja jangkung itu.

"Besok aku akan menjemputmu. Tentukan pilihanmu, Cho Kyuhyun!", ujar Changmin, sebelum melangkah ke arah 'kekasih'nya yang hampir menghilang dari dunia ini ke dalam perut Siwon dan Sungmin.

Kyuhyun menghela napas. Ia memilih duduk, menikmati tari Pendet yang disajikan di atas panggung di hadapannya.

.

(^o^)…::YuyaLoveSungmin::…(^.^)

.

Seorang yeoja muda memasuki Varosliget Hotel dengan senyuman termanis miliknya. Ia mengetuk pintu kamar bernomor 1012 itu, berharap seorang namja membukakan pintu baginya. Senyumannya memudar saat orang yang tidak diharapkannya membukakan pintu untuknya. "Annyeong. Sungmin-ah ada?", tanya Kibum kepada namja di hadapannya.

"Ada. Silakan masuk. Maaf berantakan.", jawab namja tinggi itu mempersilakan Kibum masuk. Namja itu memanggil Sungmin yang asyik memandang sebuah benda segipanjang berwarna hitam. "Sungmin, Kibum mencarimu!".

"Hai, Sungmin.", sapa Kibum ramah.

"Hai. Ada apa?", tanya Sungmin bingung. Ia meletakkan benda itu di atas meja, menghampiri Kibum yang berdiri di dekatnya.

Kibum menggaruk tengkuknya. Semburat merah menghiasi pipinya, membuat seseorang gemas melihat ekspresi yeoja ini. "Aku hanya ingin kamu temani ke Spa. Selama ini aku jarang memiliki teman perempuan yang bisa aku ajak pergi. Mau kan, Min?".

Sungmin tersenyum lebar. Mumpung ia sedang bergundah hati, ia tidak akan melewati kesempatan emas ini. "Ayo!", balas Sungmin senang. Kibum sumringah. Akhirnya keduanya pergi ke salah satu Spa terkenal di kota itu.

Salah satu aset pariwisata terkenal di Hungaria adalah Spa atau Thermal Baths. Di Budapest terdapat sekitar 123 tempat Spa. Tidak heran jika Budapest dikenal sebagai 'The Spa Capital' atau ibukota Spa. Kalau berkunjung ke negara ini, jangan pernah melewatkan layanan Spa di kota ini. Nyaman dan fresh!

"Bagaimana? Nyaman?", tanya Kibum kepada Sungmin saat mereka di dalam kolam pemandian air panas.

Sungmin mengangguk. "Aku sudah lama tidak merasakan rasa nyaman seperti ini. Gomawo, Kibum-ssi!".

"Ani… Ani… Ani…", kata Kibum sambil mengibaskan tangannya berkali-kali. "Jangan panggil aku seformal itu. Aku ini temanmu, bukan? Jadi panggil aku Bummie saja.", pinta Kibum, mencubit pipi tembam Sungmin.

"Ouch! Sakiiit…", jerit Sungmin tertahan, berusaha melepaskan tangan Kibum dari pipinya. Sungmin mengerucutkan bibirnya, tanda bahwa ia ngambek.

Kibum melepas cubitannya, tertawa sangat lepas. "Hahahaha… Mianhae. Aku hanya bercanda, Minnie-ah. Kau tahu, selama ini aku belum pernah bisa merasakan tawa selepas ini. Aku sulit bersosialisasi. Teman setiaku hanya buku-buku. Aku terlalu jenuh dengan orang-orang yang mendekatiku karena embel-embel atas nama appa. It's sucks, you know!", curhat Kibum dengan wajah menunduk sedih.

Sungmin mengernyitkan dahinya, merasa tidak percaya dengan ucapan Kibum. "Jangan bercanda. Jelas-jelas kamu supel dan easy going. Kamu mudah sekali akrab dengan kami. Saat di acara malam lalu, kamu juga terlihat sangat santai dan rileks. Aku tidak percaya ucapanmu tadi".

"Sudah. Sudah. Aku tidak ingin membicarakan hal itu.", tolak Kibum secara halus. "By the way, kemana Kyuhyun? Aku tidak melihatnya di kamar tadi.", tanya Kibum penuh selidik, pasalnya ia merasa kehilangan jika tidak bisa melihat namja itu lagi.

Sungmin menunduk lesu. "Dia pulang ke Korea siang ini.", jawab yeoja manis itu lirih.

.

.

FLASHBACK

.

.

Changmin mendekati Sungmin yang asyik mencicipi makanan tradisional khas Indonesia. Siwon sibuk melihat instrumen musik dari daerah Papua di sudut ruangan itu. Seakan sedang berkompetisi dengan Sungmin, Changmin mengambil berbagai jenis makanan dengan jumlah berlebihan. Terlihat sekali ia tidak ingin tertandingi oleh siapa pun.

"Sungmin-ssi, bagaimana perasaanmu pada Kyuhyun?".

Sungmin membelalakan matanya. Mulutnya terbuka lebar hampir menumpahkan makanan di dalamnya. "Mwo? Apa maksudmu?", tanya Sungmin setelah sadar dari loading otaknya yang lambat.

"Kamu menganggap Kyu apa?", tanya Changmin serius, tapi masih asyik mengambil makanan ke atas piringnya.

Sungmin mengangguk, mengerti dengan alur pembicaraan ini. "Dia orang baik, sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku bangga mengenal orang sepertinya.", ucap Sungmin, sambil melanjutkan acara makannya.

Changmin sweatdrop. 'Kasihan sekali kau, Kyu!', batin Changmin penuh sesal. "Kyuhyun adalah anak tunggal. Orangtuanya sangat menyayangi namja itu. Sekarang ibu Kyu sakit keras. Ia terlalu shock karena kepergian Kyu. Menurutmu, Kyu harus pulang atau tetap di sini bersama kalian?", tanya Changmin melemparkan pandangan tajam ke arah Sungmin.

Yeoja manis itu menelan ludah kecut, menundukkan kepalanya, tak ingin menerima tatapan Changmin. "Soal itu...".

"Kamu tahu kan apa rasanya ditinggal orang yang kita sayang? Ibu Kyu bisa saja meninggal, jika Kyu tetap di sini. Kyuhyun yang termasuk anak mami, pasti akan merasa terpukul. Mungkin dia bisa jadi gila.", tutur Changmin panjang lebar.

Sungmin menggigit bibir bawahnya, menggenggam ujung bajunya. Matanya terasa panas. Dadanya sesak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang merasa kehilangan. Sungmin membayangkan jika harus menjalani hidup kelam kembali. Ia belum sanggup.

"Tolong pikirkan kembali. Aku tahu kamu bukan yeoja egois.", ujar Changmin, menepuk bahu Sungmin pelan, lalu pergi meninggalkan yeoja kelinci itu.

Malam semakin larut. Ketiga remaja itu memutuskan untuk kembali ke hotel mereka, sedangkan Changmin dan Kibum pulang bersama. Jarak antara apartment dan hotel mereka lumayan dekat. Kyuhyun dan Siwon asyik berbincang tentang banyak hal. Sungmin hanya termenung di samping Siwon. Ia terus memikirkan ucapan Changmin. Sebenarnya ia tidak mengerti kenapa Changmin berbicara seperti itu seakan Sungminlah yang menahan kepergian Kyuhyun.

Yeoja manis itu menarik napas panjang, memilih untuk mengambil sebuah keputusan terbaik. Sungmin memeluk lengan Siwon secara posesif, membuat Siwon tersentak kaget. "Kyu, pulanglah ke Korea. Eomma-mu membutuhkanmu.".

Kyuhyun dan Siwon menghentikan langkah mereka, terkaget dengan ucapan Sungmin. "Apa maksudmu, Minnie?", tanya Kyuhyun tak percaya dengan pendengarannya.

Sungmin menguatkan hatinya. "Pulanglah. Aku tahu kamu mengkhawatirkan eomma-mu. Jangan pikirkan kami di sini. Aku yakin kamu bisa kembali ke sini, melanjutkan petualangan kita. Aku akan baik-baik saja bersama Siwon. Iya kan, Wonnie?".

Siwon menatap Sungmin bingung. Ia tidak mengerti apa jalan pikiran yeoja satu ini. Apa sebenarnya hubungan kedua insan di sebelahnya ini? Sungguh membingungkan. 'Ouch!', keluh Siwon dalam hati saat jari mungil Sungmin mencubit pinggangnya. "Iya, Kyu. Kami pasti menunggumu. Kamu tidak akan melewati satu petualangan pun di sini.", jawab Siwon seadanya.

Kyuhyun menarik tangan Sungmin pelan, menahan gejolak perasaan yang mengukung hatinya. Selama ini ia sudah lelah melihat yeoja yang dicintainya mendekat dengan namja di sampingnya itu. Ia tidak mungkin meninggalkan Sungmin di sini bersama Siwon. Hatinya akan hancur jika keduanya memang menjalin cinta. "Pulanglah bersamaku, Minnie. Eomma-mu juga pasti merindukanmu.", ajak Kyuhyun, usaha terakhirnya.

Sungmin menepis tangan Kyuhyun pelan, memeluk kembali lengan Siwon. "Tidak, Kyu. Aku yakin eomma baik-baik saja di sana. Kamu lupa alasanku terus berlari? Aku pasti tidak akan sanggup kabur dari incaran para rentenir di Seoul. Menghindar dari satu rentenir di Eropa saja sudah membuatku kewalahan, apalagi appa punya banyak hutang di berbagai rentenir.".

Hati Kyuhyun terkoyak mendengar jawaban Sungmin. Sekali lagi ia merasakan sebuah penolakan dari gadisnya. Matanya iritasi melihat yeoja manis itu memeluk lengan Siwon posesif seakan tidak ingin pergi jauh dari namja itu. Kyuhyun berusaha menahan rasa perih di dadanya yang telah menjalar sampai ke saraf-saraf matanya. "Baik. Aku akan pulang ke Korea.", jawabnya pelan sebelum melangkah cepat, meninggalkan kedua orang itu. Ia tidak ingin Sungmin melihatnya menitikkan airmata karena sikap yeoja itu.

.

.

FLASHBACK END

.

.

.

.

#Ferihegy Airport, Hungaria#

[Day 10, WonKyuMin's Side]

.

.

"Kamu tidak ingin memasukkan tas ranselmu ke dalam bagasi, Kyu?", tanya Changmin memecahkan lamunan Kyuhyun. Changmin hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat sikap temannya yang seperti mayat hidup itu.

"Tidak perlu. Aku akan membawanya ke kabin pesawat.", jawab Kyuhyun singkat. Kyuhyun mencari PSPnya di dalam tas ranselnya, namun hasilnya nihil. PSP tercintanya tertinggal di kamar mereka. Haruskah ia kembali hanya dengan alasan mengambil PSP? Jarak bandara Ferihegy ke Budapest itu sekitar 22 Km. 'Lebih baik kau menyerah saja, Kyu!', batin Kyuhyun pasrah.

Changmin baru saja menyelesaikan urusan check in. Ia melihat Kyuhyun sedang asyik berkutat dengan pulpen dan kertas. "Kamu sedang menulis apa, Kyu?", tanya Changmin, duduk di sebelah Kyuhyun.

"Aniya.", jawab Kyuhyun singkat, menaruh amplop kertas itu di dalam saku jaketnya. "Kapan kita akan berangkat?".

Changmin menatap jam tangannya. "Sebentar lagi. Sekitar setengah jam. Waeyo? Kamu ingin kembali mengejar yeoja-mu itu?", kata Changmin dengan nada meremehkan.

Kyuhyun melemparkan death glare kepada namja jangkung itu. "Berhenti bicara hal konyol seperti itu. Dia bukan yeoja-ku.".

"Tapi kamu mencintainya, kan?", tanya Changmin sontak membuat Kyuhyun menunduk lesu atas kenyataan ini. "Pergilah kalau kamu ingin menggapainya. Aku tidak melarangmu sekarang. Kamu sudah dewasa. Bisa memilih prioritas utama dalam hidupmu. Sungmin atau eomma? Mana yang lebih berharga untukmu.", lanjut Changmin bijak.

Kyuhyun terdiam, memikirkan apa yang harus ia putuskan saat ini. "Aku akan tetap pulang. Sepertinya eomma lebih membutuhkanku sekarang.", ujar Kyuhyun singkat penuh keyakinan. 'Mungkin ini memang yang terbaik.', batin Kyuhyun.

Suasana kabin pesawat menjadi ramai oleh para penumpang yang sedang mencari kursinya atau pun sedang merapikan barang bawaannya. Changmin sedang berusaha mencari bagasi kabin yang masih kosong di saat semua bagasi di sekitar kursinya penuh. Pramugari memberitahu sisi bagasi kabin yang masih kosong, yaitu di bagian paling depan. Changmin merutuki dirinya yang masuk melalui pintu paling belakang. Kyuhyun sudah duduk dengan tenang di kursinya, memilih untuk meletakkan tas ranselnya di bawah kursi penumpang.

"Yoboseyo. Ne. Aku ada urusan mendadak, jadi aku akan kembali ke Seoul untuk beberapa waktu. Kamu harus tetap mencari yeoja itu".

Suara seseorang membuat perhatian Kyuhyun sedikit teralihkan. Suara namja itu terdengar jelas. Kyuhyun melemparkan pandangannya ke segala arah, berusaha mencari asal suara mengganggu itu.

"Ya! Kamu harus segera menemukannya. Aku dengar ia menginap di Varosliget Hotel. Kalau bukan karena urusan mendadak dan penting ini, aku akan mencarinya. Dengar! Cari Lee Sungmin sekarang! Lalu seret dia ke hadapanku. Aku sudah muak mengejarnya selama ini.".

"Lee Sungmin?", lirih Kyuhyun tak percaya dengan pendengarannya.

Kyuhyun berdiri dari kursinya, mencari sosok pelaku yang baru saja menyebutkan nama Sungmin. Pandangannya terpaku pada sosok namja muda dengan setelan jas hitam berkulit cokelat dengan mata sipit dan bibir berbentuk hati.

"Sepertinya aku pernah melihat namja itu. Jangan-jangan! Ommo! Sungmin!", kata Kyuhyun panik. Ia memakai tas ranselnya, mengeluarkan secarik kertas, pulpen dan sebuah amplop. Kyuhyun menuliskan sebuah pesan singkat, lalu menaruhnya di atas meja Changmin.

"Ya! Kyuhyun mau kemana?", teriak Changmin melengking, saat matanya menemukan sosok Kyuhyun yang sedang tergesa-gesa menerobos orang di lorong kabin pesawat itu. Beberapa penumpang menutup teliinganya, merasa terganggu dengan suara Changmin.

"Aku harus pergi, Min! Titip salam untuk eomma!", teriak Kyuhyun, bergegas keluar dari dalam pesawat sebelum take off.

Changmin memandang punggung Kyuhyun yang sudah menghilang di balik kerumunan orang. Namja tinggi itu menghela napas panjang. "Aish! Ada-ada saja. Siapkan dirimu dengan amarah Mr. Cho, Shim Changmin.", kata Changmin pelan pada dirinya sendiri.

Changmin mengambil secarik kertas dan sebuah amplop di atas mejanya. Ia membaca tulisan singkat itu. 'Mianhae. Aku harus pergi. Sungmin dalam bahaya. Titipkan salamku pada eomma. Nanti aku akan meneleponnya. Jangan cemas. Annyeong. —CK—' . Changmin menaruh amplop itu ke dalam saku kemejanya. Ia menyenderkan kepalanya, memilih untuk tidur. 'Good luck, baby Kyu!'.

.

.

r(o.O)…::TBC::…(O.o)a

.

.