Let's Start The Game
Genre: Romance
Rated: T
Warning: overOOC, Typoo's, pasaran, DLDR, dll
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Let's Start The Game©Yara Aresha
Chapter Two
Setelah mengganti pakaiannya, Uchiha Sasuke melepaskan headphone yang terpasang di kepalanya dengan kasar dan melemparkannya ke atas kasur―saat ia baru saja sampai di kediamannya. Kemudian ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar dengan nuansa biru tua itu. Hari ini benar-benar menjengkelkan bagi bungsu Uchiha. Targetnya menantangnya, bukan tergila-gila padanya. Ditambah lagi, laki-laki bernama Gaara dan Sasori seakan menghalangi jalannya untuk mendapatkan targetnya. Menyedihkan, selama hidupnya hal ini adalah yang pertama kali. Oh, ayolah Haruno Sakura, Uchiha Sasuke itu laki-laki paling beruntung, ia memiliki wajah yang rupawan, harta yang bergelimang, keluarga yang disegani dan dihormati seantero Tokyo, cerdas, jago olahraga, apa yang kurang darinya, sehingga gadis musim semi itu tidak tertarik padanya? Ah, tentu saja sifatnya yang menyebalkan itu, player.
Sasuke menghentikan langkahnya ketika mendengar mesin penghisap debu dinyalakan, ia melirik jam yang terpajang di dinding kamarnya, menunjukan pukul 17.55, sepertinya ibunya sedang bersih-bersih di luar sana, kebiasaan sang ibu jika sudah mendekati waktu makan malam adalah bersih-bersih. Merasa ketenangannya―meskipun sebenarnya ia tidak tenang sama sekali―terganggu, ia mengenakan kembali headphone dan memperbesar volume musiknya untuk meredam bunyi berisik itu.
"Haruno Sakura, tunggu saja, kau pasti akan aku taklukkan," gumam Sasuke dengan seringaian liciknya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya dan memejamkan kedua matanya.
.
.
Sementara Sasuke terpejam, bunyi decitan pintu menggema. Perlahan seorang pria berusia 23 tahun melangkahkan kakinya memasuki kamar Sasuke. Pantas saja kehadirannya tidak membuat Sasuke bergeming, Sasuke sudah terlelap memunggunginya, ditambah dengan headphone yang menutup kedua telinganya.
"Otouto, bangun!" pria yang tidak kalah tampan dari sang adik itu akhirnya membuka suara.
Tidak ada jawaban. Sasuke tetap terpejam tanpa menoleh sedikitpun pada anikinya tersayang yang ada di belakangnya.
"Hey, ayo bangun! Tou-san dan Kaa-san sudah menunggumu di bawah," pria itu mengguncang tubuh adiknya dengan keras.
"Ck, Itachi," balas Sasuke dengan nada dinginnya, ia menatap kakaknya dengan tajam.
Pria bernama Itachi itu sudah menduga bahwa respon inilah yang akan diberikan oleh adiknya itu. Seorang anak laki-laki paling keras kepala yang pernah ia temui selama eksistensinya di dunia. Ia tahu, meskipun ia adalah kakak satu-satunya yang dimiliki Sasuke, namun Sasuke tidak akan semudah itu menuruti perkataannya.
"Makan malam sudah siap, ayo turun," ujar Itachi kembali.
"Katakan pada Kaa-san, aku tidak lapar," katanya seraya membalikan badannya lagi memunggungi Itachi.
Itachi mengerutkan dahinya. "Eh? Kau sedang sakit? Ada masalah? Kau terlihat tidak bergairah Sasu-chan."
"Hn. Berisik. Pergi sana, nanti aku akan makan kalau aku lapar."
Itachi mendesah dan memutuskan untuk membiarkan adiknya, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar perut sang adik berbunyi. Ia tersenyum jahil.
"Aah~ benar kau tidak lapar Sasu-chan?"
Shit!
Baiklah, Sasuke akan turun dan makan. Lagipula ia tidak bisa jika tidak melahap masakan ibunya yang enak itu. Mungkin setelah makan masakan Mikoto, ia akan menjadi lebih tenang... dan melupakan tentang si pink yang sedari tadi berlarian di dalam kepalanya.
"Baka! Aku akan turun!"
Itachi terbahak-bahak sambil berlari kecil menuruni anak tangga ketika Sasuke mengambil ancang-ancang untuk melemparnya dengan sebuah bantal. Sasuke mendesah dan ikut turun ke lantai bawah untuk makan malam.
Sesampainya di lantai bawah, Sasuke mengambil sebotol air mineral di dalam kulkas, menenggaknya hinga habis, kemudian duduk di ruang makan, dimana ayah, ibu dan kakaknya sudah menunggunya.
"Jadi, apa yang membuat anak Kaa-san yang tampan ini malas untuk makan, hm? Kau bertengkar dengan kekasihmu? Eh, tapi apa Sasu-chan sudah punya kekasih?" ucap Mikoto saat putera bungsunya duduk di sampingnya.
Sasuke menatap ibunya dengan bosan. "Aku tidak punya kekasih."
"Ehem, tidak ada suara saat makan," suara berat pria paruh baya menginterupsi. Mikoto memberikan suaminya cengiran.
"Ah, kau terlalu kaku sayang. Sekali-kali perbincangan di meja makan itu tidak apa-apa 'kan?"
.
.
Acara makan malam dikediaman Uchiha pun telah usai beberapa jam yang lalu, waktu menunjukan pukul 23:00 sekarang, namun Sasuke masih saja terjaga, padahal keluarganya sudah menuju alam mimpi sedari tadi. Kini Sasuke tengah berada di ruang keluarga yang luas dan rapi. Pendingin ruangan tidak lupa ia nyalakan, mengingat udara malam hari di musim panas akan meningkat. Ruang keluarga itu dilengkapi dengan sofa besar yang empuk, dua kursi berlengan, dan meja rendah dari kayu di tengah-tengah ruangan. Lantainya berlapiskan karpet tebal. Di sudut ruangan terdapat rak yang dipenuhi berbagai jenis buku, kebanyakan buku olahraga, mengingat bahwa hampir seluruh anggota keluarga Uchiha merupakan penggemar olahraga, bahkan sang kepala keluarga, Uchiha Fugaku merupakan atlet yang berjaya di masanya dahulu. Sasuke melirik piano hitam yang diletakkan di sisi lain ruangan. Piano itu dalam keadaan terbuka, partitur-partitur musik penuh coretan berserakan di sekitarnya, di atas piano, di bangku piano, bahkan di lantai pun ada. Itu pasti ulah Itachi. Kebiasaannya jika sedang stress memikirkan materi musiknya yang baru. Berbeda dengan keluarga Uchiha yang lain, sang kakak lebih memilih menekuni bidang musik dibandingkan dengan olahraga.
"Kukira kau sudah tidur," suara Itachi tiba-tiba saja terdengar dari arah belakang.
"Belum, aku tidak bisa tidur, Aniki," sahut Sasuke dengan suara rendah. Ia menoleh kearah kakaknya yang berjalan ke arah piano.
Alis Itachi terangkat. "Ada hal yang mengganggumu?" tanyanya, kemudian duduk di bangku piano.
Sasuke mendesah dan menegak kopinya yang hampir habis. Ia mengalihkan pandangannya kearah sang kakak yang kini menempatkan jari-jarinya di atas tuts piano, memainkan beberapa nada ringan, agar tidak mengusik orangtua mereka yang tengah terlelap.
"Di sekolahku ada murid baru." Itachi menghentikan gerakan jarinya dan menoleh ke arah Sasuke. Itachi menatapnya bingung, ada apa dengan murid baru?
Sasuke berjalan mendekati kakaknya dan duduk disampingnya. "Dia seorang perempuan. Dia tidak tertarik padaku," katanya lesu.
Itachi mengerutkan keningnya, kemudian terkikik geli. "Aah~ ada juga yang tidak mempan dengan kharisma seorang Uchiha."
"Yeah, dan kau tahu? Dia itu gadis termanis, ter-sexy, tercantik, ter―"
"Kau jatuh cinta padanya?" potong Itachi, Sasuke membelalakan onyx-nya, ia tersedak oleh salivanya sendiri.
"APA? Kau bercanda, dia yang akan jatuh cinta padaku. Aku hanya penasaran saja," balas Sasuke. Itachi mengangkat bahunya, dan kembali menyentuh tuts pianonya.
Itachi tersenyum kecil. "Lihat saja sampai kau termakan ucapanmu sendiri, Sasuke. Kau hanya perlu mengalah dengan egomu itu. Maksudku... apa kau tidak lelah mempermainkan perasaan orang? Aku tidak mengerti alasanmu apa, tapi ini tidak benar."
"Tidak," gumam Sasuke. Ia tidak berani memandang Itachi, malah memberenggut menatap partitur-partitur musik milik kakaknya. "Aku tahu ini tidak benar, tapi entahlah... Intinya, aku pasti akan mendapatkan gadis itu," Sasuke menyeringai dan jemarinya bergerak lincah diatas tuts piano, mengimbangi permainan sang kakak.
Itachi mengerjap. "Tch, dasar player. Rasakan saja saat kau mendapatkan balasan atas perbuatanmu," komentarnya.
Sasuke tidak menjawab.
Masa bodoh! Baginya karma itu tidak berlaku.
.
.
Pagi ini, ketika sang mentari baru saja menyembul di kening bebukitan, suara alarm jam weker menjerit-jerit meminta dimatikan. Sakura masih meringkuk malas di bawah selimut sambil menggerutu. Dengan mata setengah terbuka, ia julurkan tangannya untuk meraih jam wekernya. Setelah ia berhasil meraihnya, ia mematikan tombol yang ada di atas jam weker dan melemparnya ke sembarang arah.
"Och, Sakura!" perlahan kelopak Sakura terangkat sepenuhnya, samar-samar wajah Gaara yang kesakitan memantul dalam emerald-nya. Ia terkejut dan bangun dari posisi tidurnya dengan cepat.
"Ah, gomen-gomen~ kau sih, masuk tiba-tiba ke dalam kamarku," ujar Sakura, ia menghampiri Gaara dan mengelus kening Gaara yang tampak memerah.
"Tck, aku sudah mengetuk pintu beberapa kali. Cepat mandi, kita bisa telat masuk sekolah. Semuanya sudah menunggumu untuk sarapan. Hari ini, kita dan Sasori akan pergi bersama," balas Gaara.
Sakura mengangguk dan memberinya cengiran, kemudian melesat menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu. Saat ini, di Tokyo, Sakura tinggal di kediaman Sabaku untuk sementara.
Sakura melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia membiarkan tubuhnya terguyur percikan air shower. Ia memejamkan matanya, kemudian mendesah lesu saat ia membayangkan bagaimana kelanjutan kisah hidup SMA-nya di Konoha High. Sakura harap hari ini lebih baik dari kemarin. Pasalnya, ia baru mengingat bahwa ia dan laki-laki player itu―Uchiha Sasuke―telah hanyut dalam sebuah permainan.
"Yeah, kita lihat Uchiha Sasuke. Aku pasti akan menjadi cinta pertamamu, jika kau memang belum pernah jatuh cinta sebelumnya."
.
.
Teng Teng Teng
Bel yang menunjukan waktu istirahat pun berdering nyaring seantero Konoha High. Saat ini Sakura, Sasori dan Gaara memutuskan untuk menyantap makan siang mereka bersama-sama di kantin sekolah. Sakura berjalan di samping Sasori. Sakura terkikik geli ketika lengan milik Sasori menyimpul di sekitar pinggangnya, sedangkan Gaara berjalan di sisi Sakura yang lain.
Emerald Sakura menangkap objek yang sangat ingin ia hindari saat ini, Uchiha Sasuke. Ia berjalan bersama kedua temannya, senyuman mengambang, menghiasi wajah tengilnya.
'Hm, aku pikir mereka kembar?' gumam Sakura dalam hatinya, ketika melihat dua teman Sasuke yang belum pernah ia lihat sebelumnya, tentu saja karena mereka berbeda kelas.
"Naruto!" Gaara memanggil laki-laki pirang itu dan melambaikan tangannya. Naruto, bersama dengan Sasuke dan kembarannya―Menma―menghentikan langkahnya, kemudian berjalan mendekati tempat Gaara, Sakura dan Sasori.
Setelah Gaara menyapa Naruto, Gaara tersenyum dan menjabat tangan Sasuke dan Menma, kemudian berbincang-bincang bersama ketiganya. Pandangan Sasuke beralih kearah dimana Sakura dan Sasori berdiri, rasanya aneh ketika onyx itu menatap emerald Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejenak, tatapannya terlihat kosong dan tajam menusuk sang emerald, namun dengan cepat seringaian licik muncul di bibir Sasuke. Sakura meneguk salivanya dengan gugup, ia menggigit bibir bawahnya. Dan Sasori lah yang pertama kali menyadari gelagat aneh dari gadis itu.
"Sakura, kau baik-baik saja? Ayo, ucapkan salam pada mereka!" Sasori tersenyum lembut. Sakura merasakan penyesalan dengan permainan yang telah ia sepakati bersama dengan Sasuke.
"Hey," sapa Sakura.
Menma menatapnya dengan pandangan yang menurut Sakura sama dengan semua laki-laki yang pernah bertemu dengannya, entahlah tatapan itu seakan mengintimidasinya.
"Hey, Saku-koi," ujar Sasuke seraya meraih tangan kanan Sakura dan mengecupnya.
Gaara menatap Sasuke dengan tajam, dengan cepat Sakura menarik kembali tangannya.
"Aku menang," gerutu Sasuke.
"Menang apa?" tanya Sasori, Gaara masih tetap memikirkan ucapan Sasuke 'Saku-koi' dan kecupan ditangan Sakura.
"Eh, bukan apa-apa. Sasori-kun, aku lapar, bisakah kita makan sekarang? Makanan apa yang terkenal enak disini?" ujar Sakura dengan gusar.
Sasuke terkekeh, seringaian kembali menghiasi wajah tampannya. Sedangkan Gaara masih terpaku di posisinya semula, saat Sakura dan Sasori telah berjalan menuju stand makanan. Tidak lama kemudian, Gaara tersadar dari lamunannya dan segera berlari menyusul Sakura.
.
.
"Apa maksudnya ini?" tanya Gaara, nada suaranya memberat dan iris yang senada dengan Sakura itu berkilat.
"Apa maksudmu, Gaara?" Sakura berpura-pura untuk tidak mengerti arah pembicaraan Gaara.
"Jangan berpura-pura bodoh! Kau gadis pintar. Sekarang, jelaskan padaku kenapa Sasuke memanggilmu dengan Saku-koi? Mengecup tanganmu dan dia mengatakan 'aku menang'?!" Gaara menatap Sakura tajam, sebelah tangannya menyentuh bahu Sakura dan mencengkramnnya sedikit kasar. "Satu lagi, Sasori bisakah kau tidak selalu memeluk pinggangnya?"
Semburat merah langsung saja menjalar ke seluruh permukaan wajah Sasori. Dengan perlahan ia melepaskan lengannya dari pinggang Sakura. Sakura acuh dan tetap memakan saladnya dengan tenang.
"Aku tidak mengerti dengan yang kau bicarakan," ujar Sakura tegas.
"Ck, jangan bertingkah bodoh dan seolah kau tidak mengerti, Nona! Katakan padaku apa yang terjadi! Bukankah aku sudah mengatakan padamu, untuk menjauhinya?" Gaara menautkan alisnya, terlihat begitu marah.
Sasori menatap Sakura dengan tatapan penuh tanya. "Katakan padaku Sakura!" pinta Gaara lagi, ia mengetuk meja di depannya dengan tidak sabar.
"Kami melakukan taruhan, cukup?" pekik Sakura.
"Taruhan?" tanya Sasori yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan kedua sepupu itu. Ia tidak yakin dengan apa yang Sakura ucapkan, sama halnya dengan Gaara yang tiba-tiba terpaku.
"Ya, taruhan. Aku bilang padanya, bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta pada laki-laki sepertinya, kalian tahu 'kan dia bukan tipeku? Lalu dia bilang, karena hanya aku yang tidak terpengaruh dengan pesonanya, dia ingin memberiku tes, ck omong kosong. Dan, yah kami melakukan taruhan, dengan berpura-pura seperti sepasang kekasih, yang kalah adalah dia yang jatuh cinta pertama kali," Sakura menggigit bibir bawahnya.
Raut wajah Sasori berubah muram, ia bangkit dari kursi dan meninggalkan kantin begitu saja. Sakura memanggilnya dan hendak menyusulnya, namun Gaara meraih lengannya dan menyuruh Sakura untuk duduk kembali.
"Sakura! Aku tidak ingin kau melakukan ini. Tugasku adalah untuk menjagamu! Kau bukan hanya sepupu bagiku, kau adalah adik perempuanku! Jika kau jatuh cinta padanya, maka aku akan menghajarnya. Kau tidak akan tahu bagaimana caranya cupid bodoh itu menusukkan panahnya padamu! Batalkan taruhan itu, sekarang!" teriak Gaara, membuat semua yang tengah menyantap makan siangnya di kantin itu menoleh kearah mereka. Tapi, ia tidak peduli.
Sakura tersenyum tipis, dan mencoba menenangkan Gaara. "Gaara, aku janji, aku tidak akan jatuh cinta padanya."
"Tidak, ini tidak benar. Batalkan! Atau kau akan terluka," ucap Gaara dengan suara rendah, kedua tangannya menyentuh bahu Sakura. Sepupu laki-laki itu, lebih merepotkan daripada kakak laki-laki, sungguh.
"Aku tidak bisa..."
"Apa maksudmu kau tidak bisa?" Gaara mengguncangkan bahu Sakura, wajahnya tampak kecewa dan begitu marah.
"Jika aku melakukan itu, sama saja dengan aku yang kalah, dan aku akan menjadi yang ke 201. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku, aku akan membuatnya jera."
"Sakura! Bagaimana bisa... kenapa kau begitu keras kepala? Kau harus mendengarkanku dan menjauh darinya! Kenapa kau... Gadis bodoh!"
Dalam sekejap, raut muka Gaara berubah menjadi lebih pucat dan muram. Ia tidak pernah berteriak kepada Sakura sebelum ini.
"Maafkan aku, Gaara," gumam Sakura.
"Kau akan kalah. Tunggu saja Sakura, kau akan terluka setelah ini. Dan kau tahu apa yang akan aku lakukan? Dengan senang hati aku akan menghajar Uchiha Sasuke sampai babak belur, langsung di depan matamu. So, Let's start the game, Saku..." Iris viridian itu berkilat merah.
Jika tatapan bisa membunuh, maka siapapun yang berada dalam radius 1 meter dari Gaara akan merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan.
Gaara benar, permainan telah dimulai.
.
.
to be continued
AN: Makasih yang udah review di chap kemaren, udh aku bales lewat pm ya.. buat yg ga log-in juga makasih banyak :D review kalian sangat membangun... semoga ceritanya bisa diterima :D sampai ketemu di next chap... sengaja update cepet, mumpung ada pulsa modem -_-
